BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan penulis tentang permasalahan mengenai maskapai penerbangan, penulis memberikan kesimpulan atas identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Hubungan hukum antara pihak maskapai penerbangan dengan konsumen berdasarkan pada Pasal 1320 dan Pasal 1338 KUHPerdata. Perjanjian menurut KUHPerdata memiliki akibat hukum apabila ketentuan yang terdapat dalam KUHPerdata telah dipenuhi sehingga kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian memiliki kewajiban untuk mentaati perjanjian tersebut. Pasal 1320 KUHPerdata mengatur mengenai syarat sah perjanjian, syarat sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 adalah sebagai berikut:
“ a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian; c. Suatu hal tertentu;
d. Suatu sebab yang halal.
Pasal 1338 KUHPerdata atau dikenal dengan “asas kebebasan berkontrak” yang diatur dalam Pasal 1338 adalah sebagai berikut:
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
Undang berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya;
2) Kesepakatan tersebut tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh Undang-Undang;
3) Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.
Dalam melakukan perjanjian antara pihak konsumen sebagai pengguna jasa maskapai penerbangan dengan pihak maskapai penerbangan harus memperhatikan kedua Pasal tersebut. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, hubungan hukum yang terjadi apabila tidak dipenuhi salah satu kewajiban dari salah
satu pihak maka dapat dikatakan “wanprestasi” yang diatur dalam Pasal 1243
KUHPPerdata. Penundaan keberangkatan (delay) merupakan salah satu wanprestasi yang dilakukan oleh pihak maskapai penerbangan. Oleh karena itu, pihak maskapai penerbangan harus bertanggung jawab atas terjadinya penundaan keberangkatan (delay). Dalam hukum perlindungan konsumen, hubungan hukum antara konsumen dengan pelaku usaha dilihat dari sudut pandang hukum perlindungan konsumen sangat tidak seimbang karena posisi pelaku usaha selalu lebih tinggi dibandingkan dengan posisi konsumen.
2. Tanggung jawab pihak maskapai penerbangan dalam negeri atas perikatan yang dilakukan antara pihak maskapai penerbangan dengan pihak pengguna jasa maskapai penerbangan. Adapun bentuk tanggung jawab pihak maskapai penerbangan adalah membayarkan sejumlah uang sebagai bentuk kompensasi atau ganti rugi dan/atau bentuk pelayanan lain yang sepatutnya diberikan oleh pihak maskapai penerbangan untuk para konsumen sebagai pengguna jasa maskapai penerbangan. Tanggung jawab pihak maskapai penerbangan berdasarkan Pasal 36 Peraturan Menteri Perhubungan
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
berikut:
“ a. keterlambatan lebih dari 30 (tiga puluh) menit sampai dengan 90 (sembilan puluh) menit, maskapai penerbangan wajib memberikan minuman dan makanan ringan;
b. keterlambatan lebih dari 90 (sembilan puluh) menit dampai dengan 180 (seratus delapan puluh) menit, maskapai penerbangan wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau malam dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke maskapai penerbangan lain apabila diminta oleh penumpang;
c. keterlambatan lebih dari 180 (seratus delapan puluh) menit, maskapai penerbangan wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau malam, dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan lain maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya.”
Tanggung jawab pengangkut berdasarkan Pasal 10 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Angkutan Udara adalah sebagai berikut:
“ a. Keterlambatan lebih dari 4 (empat) jam, diberikan ganti rugi sebesar Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) per penumpang;
b. Diberikan ganti rugi sebesar 50% (lima puluh per seratus) dari ketentuan angka 1 apabila maskapai penerbangan menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat dengan tujuan penerbangan akhir penumpang (re-routing) dan maskapai wajib menyediakan tiket penerbangan lanjutan atau menyediakan transportasi lain sampai ke tempat tujuan apabila tidak ada moda transportasi selain angkutan udara; dan
c. Penumpang dibebaskan dari biaya tambahan, termasuk peningkatan kelas pelayanan (up grading class) atau terjadi penurunan kelas atau sub kelas pelayanan dalam hal terjadi pengalihan ke penerbangan berikutnya atau maskapai lain, serta penumpang wajib memberikan sisa uang kelebihan dari tiket yang dibeli.”
Berdasarkan ketentuan yang mengatur mengenai tanggung jawab yang telah penulis jabarkan diatas maka tanggung jawab tersebut merupakan tanggung jawab atas dasar praduga (presumption of liabilty principle) dimana hal tersebut dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 146 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
bertanggung jawab atas kerugian yang diterima oleh konsumen pengguna jasa maskapai penerbangan.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen mengatur juga mengenai tanggung jawab pelaku usaha, tanggung jawab pelaku usaha diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen adalah :
“ a. Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti kerugian dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan;
b. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis;
c. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi;
d. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan;
e. ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.
Pihak maskapai penerbangan harus bertanggung jawab atas kerugian yang diterima oleh konsumen akibat adanya penundaan keberangkatan yang sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen.
3. Peran pemerintah terhadap maskapai penerbangan yang melakukan penundaan keberangkatan (delay) adalah melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pihak maskapai penerbangan. Pihak maskapai penerbangan yang melakukan penundaan keberangkatan (delay) dapat dikenakan sanksi, baik itu sanksi administratif yang berupa peringatan, pembekuan izin, pencabutan izin, dan denda administratif
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
penundaan keberangkatan (delay). Aturan yang mengatur mengenai sanksi administratif yang dapat diberikan pemerintah diatur dalam dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 30 Tahun 2015 tentang Pengenaan Sanksi Administratif Terhadap Pelanggaran Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Penerbangan. Adapun sanksi administratif yang dapat diberikan pemerintah kepada pihak maskapai penerbangan adalah sebagai berikut:
“ 1. Setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dibidang penerbangan dapat dikenakan sanksi administratif;
2. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa:
a. Peringatan; b. Pembekuan; c. Pencabutan;
d. Denda administratif.
3. Jenis pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercantum dalam lampiran ini.”
B. Saran
Saran yang diberikan oleh penulis berdasarkan kesimpulan diatas adalah: 1. Saran untuk akademis
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya informasi mengenai perlindungan terhadap penumpang yang dirugikan oleh maskapai penerbangan dalam negeri yang mengalami penundaan keberangkatan. Dengan adanya penelitian ini, para akademisi dapat menambah pengetahuan mengenai perlindungan hukum terhadap konsumen yang dirugikan khususnya di bidang penerbangan.
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
maskapai penerbangan agar pihak maskapai penerbangan tidak merugikan konsumen pengguna jasa maskapai penerbangan, yang dalam hal ini konsumen dirugikan karena adanya penundaan keberangkatan (delay). Pemerintah harus melakukan pembaharuan terhadap sanksi administratif, karena tidak semua pihak maskapai melaksanakan peraturan yang mengatur mengenai sanksi. Sanksi yang harus diberlakukan terhadap pihak maskapai ketika melakukan delay seperti ketika pihak maskapai melakukan penundaan keberangkatan lebih dari 3 kali maka pemerintah harus mencabut izin operasioanal maskapai penerbangan yang melakukan penundaan keberangkatan.
3. Saran untuk masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjukan bahwa masyarakat yang dirugikan akibat adanya penundaan keberangkatan (delay) saat menggunakan jasa maskapai penerbangan mengetahui hak-haknya. Diharapkan pula masyarakat lebih bijaksana dalam mengambil tindakan ketika dirugikan oleh pihak maskapai penerbangan. Masyarakat dapat melakukan tindakan hukum atas tindakan pihak maskapai penerbangan yang melakukan penundaan keberangkatan (delay) dengan cara melakukan gugatan ke Pengadilan maupun ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA DAFTAR PUSTAKA
Referensi buku
Abdulkadir Muhammad. Arti Penting dan Strategis Multimoda Pengangkutan Niaga di Indonesia. Yogyakarta: Genta Press, 2007.
____________________. Hukum Pengangkutan Niaga. Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1998.
Acmad Ichasan. Hukum Dagang. Jakarta: Pradnya Paramita. 1993.
Adrian Sutedi. Tanggung Jawab Produk Dalam Perlindungan Konsumen. Bogor: Ghalia Indonesia,2008.
Ahmadi Miru. Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen di Indonesia. Surabaya: Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga. 2000. Ahmad Zazili. Thesis Perlindungan Hukum Terhadap Pengguna Pada
Transportasi Udara Niaga Berjadwal Nasional. Semarang: Universitas
Diponogoro. 2008.
AZ. Nasution. Pengantar Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: Daya Widya. 1999.
___________. Konsumen dan Hukum Tinjauan Sosial, Ekonomi, dan Hukum
Pada Perlindungan Konsumen Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan. 1995.
Celine Tri Siwi Kristiyanti. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: Sinar Grafika. 2009.
Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2006.
Carl Joachim Friedrich, Filsafat Hukum Perspektif Historis, Bandung: Nuansa dan Nusammedia, 2004.
David Ricardo, The Principles of Political Economy and Taxation, 1817.
Djaja S. Meliala, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Orang dan Hukum Perikatan, Bandung : Nuansa Aulia 2007.
E. Saefullah Wiradipradja, Tanggung Jawab Perusahaan Penerbangan Terhadap Penumpang Menurut Hukum Udara Indonesia, Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis Vol 25, 2006.
E. Suherman. Wilayah Udara dan Wilayah Dirgantara. Bandung: Alumni, 1984 __________. Aneka Masalah Hukum Kedirgantaraan. Bandung: Mandar Maju,
2000
Eva Novianti. Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Terhadap Produk Pangan Transgenik. Depok: Program Sarjana Universitas Indonesia. 2007.
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
G. Kartasapoetra. Segi-Segi Hukum Dalam Charter dan Asuransi Angkutan Udara, Bandung: Armico. 1982.
Gunawan Widjaja.Hukum Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 2004.
Hartono Hadisuorapto. Pengangkutan Dengan Pesawat Udara. Yogyakarta: UII Pers. 1987.
Hasim Purba. Hukum Pengangkutan Dilaut. Medan: Pustaka Bangsa Press. 2005. HC. Black Law Dictionary 5th . St Paul Minnesota West Publishing. 1983.
Herlien Budiono. Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 2008.
HS. Salim. Hukum Kontrak, Teori dan Penyusunan Kontrak. Jakarta: Sinar Grafika. 2006.
H. Zaeni Asyhadie dan Arief Rahman. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Raja Grafindo. 2013.
Indriyo Gitosudarmo. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2008.
Inosentius Samsul. Hukum Perlindungan Konsumen : Kemungkinan Penerapan Tanggung Jawab Mutlak. Jakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2004.
Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006.
Johannes Gunawan. Analisis Hukum Material Dalam Undang-Undang
Perlindungan Konsumen. Bandung: Makalah Dalam Penataran Nasional
Anngkatan 1 Dosen Perlindungan Konsumen. 2005
Johny Ibrahim, Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum, Surabaya: Putra Media Nusantara dan ITS Press, 2009.
K. Martono. Hukum Penerbangan Berdasarkan undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Bandung: Mandar Maju. 2009.
K. Martono. Pengantar Hukum Udara Nasional dan Internasional. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2007.
Komariah. Hukum Perdata. Malang: UMM Press. 2008.
Lestari Nigrum. Usaha Perjalanan Wisata Dalam Perspektif Hukum Bisnis. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 2004.
L.J.Van Apeldoornm, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Pradnya Paramita, 1981. Mariam Darus Badrulzaman. KUHPerdata Buku III Hukum Perikatan Dengan
Penjelasannya. Bandung: Alumni. 1983.
_______________________. Kompilasi Hukum Perikatan. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 2001.
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
Moctar Kusumaatmadja. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung: Alumni. 1999.
Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Surabaya: Bina Ilmu, 1987.
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2006. Purbacaraka. Perihal Kaidah Hukum. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 2010.
Ridwan Khairandy. Tanggung Jawab Pengangkut dan Asuransi Sebagai Instrumen Perlindungan Konsumen Angkutan Udara. Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis Vol25. 2006.
Ridwan Khairandy. Pengantar Hukum Dagang Indonesia. Yogyakarta: Gama Media. 1999
R. Subekti. Aneka Perjanjian. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 1995.
________. Aspek-Aspek Hukum Perikatan Nasional. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 1993.
________. Hukum Perjanjian. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 1987. R. Soekanto. Hukum Dagang Indonesia. Jakarta: Rajawali. 1981.
Ridwan Syarani. Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata. Bandung: Alumni. 1996.
Rustian Kamaluddin. Ekonomi Transportasi: Karakteristik Teori dan Kebijakan. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2003.
Shidarta. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: Gramedia. 2006.
Sudikno Mertokusumo. Suatu Pengantar Mengenal Hukum. Yogyakarta: Liberty. 1986.
Susanto Budi Raharjo, Paradigma Keadilan Substansif dalam Putusan
Mahkamah Konstitusi pada Perkara yang Terkait dalam Pemilihan
Umum, Jakarta: Universitas Indonesia, Fakultas Hukum. 2011
Suwardjoko Warpani. Merencanakan Sistem Pengangkutan.Bandung: Institut Teknologi Bandung. 1990.
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1986.
Syarir. Deregulasi Ekonomi Sebagai Jalan Keluar Peningkatan Perhatian Terhadap Kepentingan Konsumen. Makalah Pada Seminar Demokrasi Ekonomi dan Arah Gerakan Perlindungan Konsumen. Jakarta. 1993. Taufik Simatupang. Aspek Hukum Periklanan. Bandung: Citra Aditya Bhakti.
2004.
Wahyu Sasongko. Ketentuan-Ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen. Bandar Lampung: Universitas Lampung. 2007.
Wirjono Prodjodikoro. Asas-Asas Hukum Perjanjian. Bandung: Sumur Bandung. 1993.
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
Yahya Harahap. Segi-Segi Hukum Perjanjian. Bandung: Alumni. 1996.
Yusuf Shofie. Pelaku Usaha Konsumen dan Tindak Pidana Korporasi. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2002.
___________. Perlindungan Konsumen dan Instrumen-Instrumen Hukumnya. Bandung: Citra Aditya Bhakti. 2004.
Referensi internet
http://beritatrans.com/2013/10/18/delay-8-jam-penumpang-lion-air-mengamuk/ diunduh pada tanggal 23 September 2014.
http://www.merdeka.com/uang/6-maskapai-ini-terancam-dapat-sanksi-karena-jadi-raja-delay/merpati-nusantara.html, 14 desember 2013 diakses tanggal 3 Oktober 2014.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt54daa53705c6a/pahami-hak-dan-kewajiban-penumpang—sebelum-terbang
Referensi perundang-undangan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.
Peraturan Menteri Nomor 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan udara.
Lain-Lain