• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merupakan bagian akhir dari penulisan hukum yang berisi beberapa simpulan dan saran berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya.

commit to user

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Umum tentang Perjanjian

a. Pengertian Perjanjian atau Kontrak

Penulisan perjanjian dalam penulisan hukum disini adalah mengacu pada kontrak, maka terminologi perjanjian yang digunakan oleh penulis adalah konsepsi kontrak. Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakaan sesuatu hal. Dari perjanjian tersebut maka timbulah perikatan. Perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu (Subekti, 2002:1).

Pengertian perjanjian atau kontrak diatur dalam Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal tersebut berbunyi:

“Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.

Menurut Salim H.S., definisi perjanjian dalam Pasal 1313 ini adalah:

1) Tidak jelas, karena setiap perbuatan dapat disebut perjanjian; 2) Tidak tampak asas konsensualisme;

3) Bersifat dualisme (Salim H.S., 2007:7).

Tidak jelasnya definisi ini disebabkan di dalam rumusan tersebut disebutkan perbuatan saja, sehingga yang bukan perbuatan hukum pun disebut dengan perjanjian. Dengan demikian, definisi itu perlu dilengkapi dan disempurnakan. Menurut Salim H.S. (2007:9), kontrak merupakan hubungan hukum antara subjek hukum yang satu dengan subjek hukum yang lain dalam bidang harta kekayaan, di mana subjek hukum yang satu

commit to user

berhak atas prestasi dan begitu juga subjek hukum yang lain berkewajiban untuk melaksanakan prestasinya sesuai dengan yang telah disepakatinya.

Unsur-unsur yang tercantum dalam definisi yang terakhir ini adalah:

1) Adanya hubungan hukum

Hubungan hukum merupakan hubungan yang menimbulkan akibat hukum. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban. 2) Adanya subjek hukum

Subjek hukum, yaitu pendukung hak dan kewajiban. 3) Adanya prestasi

Prestasi terdiri atas melakukan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu.

4) Di bidang harta kekayaan.

b. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian

Syarat sahnya kontrak diterapkan Pasal 1320 KUH Perdata, yang menyebutkan bahwa untuk syarat sahnya suatu perjanjian harus memenuhi 4 (empat) unsur, yaitu:

1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3) Suatu hal tertentu; dan

4) Suatu sebab yang halal.

Syarat yang pertama dan kedua adalah mengenai subjeknya atau pihak-pihak dalam perjanjian sehingga disebut sebagai syarat subjektif, sedangkan syarat ketiga dan keempat disebut syarat objektif karena mengenai objeknya suatu perjanjian.

Dalam hal ini harus dibedakan antara syarat subjektif dengan syarat objektif. Dalam hal syarat objektif tidak terpenuhi, maka perjanjian itu batal demi hukum. Artinya, dari semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada suatu perikatan. Tujuan para pihak yang

commit to user

mengadakan perjanjian tersebut untuk melahirkan suatu perikatan hukum adalah gagal. Dengan demikian, maka tidak ada dasar untuk saling menuntut di depan hakim.

Dalam hal syarat subjektif tidak terpenuhi, maka perjanjian bukan batal demi hukum, melainkan salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta supaya perjanjian itu dibatalkan. Pihak yang dapat meminta pembatalan itu adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberikan sepakatnya secara tidak bebas. Jadi, perjanjian yang telah dibuat itu mengikat juga, selama tidak dibatalkan (oleh hakim) atas permintaan pihak yang berhak meminta pembatalan tadi.

c. Asas-Asas Hukum Kontrak

Menurut Mariam Darus Badrulzaman (1994:42), asas-asas dalam hukum kontrak antara lain:

1) Asas Konsensualisme

Asas ini dapat ditemukan dalam Pasal 1320 dan Pasal 1338 KUH Perdata di dalamnya ditemukan istilah “semua”. Kata-kata “semua” menunjukkan bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk menyatakan keinginannya (will), yang rasanya baik untuk menciptakan perjanjian. Asas ini sangat erat hubungannya dengan asas kebebasan mengadakan perjanjian.

Konsensual artinya perjanjian itu terjadi sejak adanya kata sepakat antara para pihak. Perjanjian tersebut dinyatakan sah dan mempunyai akibat hukum sejak terjadinya kesepakatan antara para pihak mengenai isi dari perjanjian yang dimaksudkan. Pasal 1320 KUH Perdata menyebutkan kata sepakat merupakan salah satu syarat sahnya suatu perjanjian, sehingga antara para pihak haruslah sepakat melakukan suatu perjanjian.

commit to user 2) Asas Kepercayaan

Seorang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain, harus dapat menumbuhkan kepercayaan di antara kedua pihak bahwa satu sama lain akan memenuhi prestasinya di kemudian hari. Tanpa adanya kepercayaan, maka perjanjian itu tidak mungkin akan diadakan oleh para pihak. Dengan kepercayaan ini, kedua pihak mengikatkan dirinya kepada perjanjian yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai undang-undang.

3) Asas Kekuatan Mengikat

Terikatnya para pihak pada apa yang diperjanjikan dan juga terhadap beberapa unsur lain sepanjang dikehendaki oleh kebiasaan dan kepatuhan, dan kebiasaan akan mengikat para pihak. Asas kekuatan mengikat (asas pacta sunt servanda) dapat ditemukan di dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yaitu:

“Setiap perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.

4) Asas Keseimbangan

Asas ini menghendaki kedua pihak untuk memenuhi dan melaksanakan perjanjian itu. Asas keseimbangan ini merupakan kelanjutan dari asas persamaan. Kreditur mempunyai kekuatan untuk menuntut pelunasan prestasi melalui kekayaan debitur, namun kreditur memikul pula beban untuk melaksanakan perjanjian itu dengan itikad baik. Dapat dilihat di sini bahwa kedudukan kreditur yang kuat diimbangi dengan kewajibannya untuk memperhatikan itikad baik, sehingga kedudukan kreditur dan debitur seimbang.

5) Asas Kepastian Hukum

Perjanjian sebagai suatu figur hukum harus mengandung kepastian hukum. Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikat perjanjian itu, yaitu sebagai undang-undang bagi para pihak.

commit to user

d. Teori-Teori tentang Saat Terjadinya Kontrak

KUH Perdata tidak menyebutkan secara jelas tentang saat-saat terjadinya kontrak. Pasal 1320 KUH Perdata hanya menyebutkan cukup dengan adanya konsensus para pihak. Menurut Salim H.S (2007:25)., teori-teori yang membahas saat-saat terjadinya kontrak antara lain:

a. Teori Pernyataan (Uitings Theorie)

Menurut teori ini, kontrak telah ada/lahir pada saat atas suatu penawaran telah ditulis surat jawaban penerimaan. Dengan kata lain kontrak itu ada pada saat pihak lain menyatakan penerimaan/akseptasinya. b. Teori Pengiriman (Verzending Theori).

Menurut teori ini saat pengiriman jawaban akseptasi adalah saat lahirnya kontrak. Tanggal cap pos dapat dipakai sebagai patokan tanggal lahirnya kontrak.

c. Teori Pengetahuan (Vernemings Theorie).

Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat jawaban akseptasi diketahui isinya oleh pihak yang menawarkan.

d. Teori penerimaan (Ontvang Theorie).

Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat diterimanya jawaban, tak peduli apakah surat tersebut dibuka atau dibiarkan tidak dibuka. Yang pokok adalah saat surat tersebut sampai pada alamat si penerima surat itulah yang dipakai sebagai patokan saat lahirnya kontrak.

2. Tinjauan Umum tentang Kontrak Elektronik

a. Pengertian Kontrak Elektronik

Menurut Pasal 1 ayat (17) UU Nomor 11 Tahun 2008, kontrak elektronik adalah perjanjian para pihak yang dibuat melalui Sistem Elektronik. Sedangkan yang dimaksud dengan Sistem Elektronik seperti yang tertuang dalam Pasal 1 ayat (5) UU Nomor 11 Tahun 2008 adalah Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis,

commit to user

menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik.

Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik

(electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda,

angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Menurut Mariam Darus Badrulzaman, kontrak elektronik digunakan dengan istilah kontrak dagang elektronik (KDE), yaitu kontrak dagang yang mempergunakan elektronik dan mempunyai tempat di dunia maya (Mariam Darus Badrulzaman dkk, 2001:283).

Sedangkan menurut Rosa Agustina, kontrak elektronik adalah setiap perjanjian yang dilahirkan dengan perantaraan alat-alat elektronik atau teknologi informasi serta dimuat dalam dokumen elektronik atau media elektronik lainnya. Kontrak di internet saat ini, dapat terbentuk secara elektronik dengan berbagai macam cara. Terbentuknya dapat dengan cara misalkan melalui korespondensi e-mail, dengan mengunjungi website dan melakukan penerimaan dari sebuah program komputer penawaran online oleh agen elektronik(Rosa Agustina, 2008:7).

b. Pengertian Tanda Tangan Elektronik

Menurut pengaturan Pasal 1 ayat (12) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, tanda tangan elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas Informasi Elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentifikasi.

Tanda tangan elektronik ini memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah sebagaimana pengaturannya dalam Pasal 11 ayat (1) yang mengatur pemenuhan persyaratan tanda tangan elektronik. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi antara lain:

commit to user

1) Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada Penanda Tangan;

2) Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa Penanda Tangan;

3) Segala perubahan terhadap Tanda Tangan Elektronik yang terjadi setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;

4) Segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait dengan Tanda Tangan Elektronik tersebut setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;

5) Terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa Penandatangannya; dan

6) Terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa Penanda Tangan telah memberikan persetujuan terhadap Informasi Elektronik yang terkait.

Menurut pengaturan Article 2 UNCITRAL Model Law on

Electronic Signatures with Guide to Enactment 2001 yang memuat

Definitions disebutkan bahwa “Electronic signature” means data in

electronic form in, affixed to or logically associated with, a data message, which may be used to identify the signatory in relation to the data message and to indicate the signatory’s approval of the information contained in the data message;

Terjemahan bebasnya adalah “tanda tangan elektronik dapat diartikan data dalam bentuk elektronik yang berkaitan atau secara logikal berkaitan dengan pesan data, yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi si pemilik tanda tangan yang berkaitan dengan pesan data dan untuk identifikasi sebagai tanda persetujuan pemilik tanda tangan atas informasi yang terdapat di dalam pesan data tesebut”.

commit to user

Kemudian ditambahkan pula, “Data message” means information generated, sent, received or stored by electronic, optical or similar means including, but not limited to, electronic data interchange (EDI), electronic mail, telegram, telex or telecopy; and acts either on its own behalf or on behalf of the person it represents;

Terjemahan bebasnya adalah “data message berarti informasi yang dihasilkan, dikirimkan, diterima atau disimpan dengan cara elektronik, optik atau termasuk yang serupa, namun tidak terbatas pada pertukaran data elektronik (EDI), surat elektronik, telegram, teleks atau telecopy; dan bertindak baik atas nama sendiri atau atas nama orang yang diwakilinya; (http://www.uncitral.org/pdf/english/texts/electcom/ml-elecsig-e.pdf)

c. Pengaturan Kontrak Elektronik

Menurut pengaturan Bab III tentang Informasi, Dokumen dan Tanda Tangan Elektronik dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, kontrak elektronik tidak dijelaskan secara spesifik namun dapat dimasukkan ke dalam kategori dokumen elektronik. Pengaturan kontrak elektronik seperti yang tertuang dalam Pasal 5 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah sebagai berikut:

1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah;

2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia;

3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Sedangkan pengaturan kontrak elektronik menurut Article 11

UNCITRAL Model Law onElectronic Signatureswith Guide to Enactment

commit to user

agreed by the parties, an offer and the acceptance of an offer may be expressed by means of data messages. Where a data message is used in the formation of a contract, that contract shall not be denied validity or enforceability on the sole ground that a data message was used for that

purpose”.

Terjemahan bebasnya adalah “Dalam konteks pembentukan kontrak, kecuali disetujui oleh para pihak, tawaran dan penerimaan dari penawaran dapat dinyatakan dengan pesan data. Di mana sebuah pesan data yang digunakan dalam pembentukan kontrak, tidak akan ditolak keabsahan atau keberlakuan atas dasar bahwa pesan data digunakan untuk tujuan itu”(http://www.uncitral.org/pdf/english/texts/electcom/05450Ebook.pdf). Perbandingan pengaturan kontrak elektronik Indonesia dengan Singapura dan Uni Eropa dapat dilihat sebagai berikut (http://books.google.co.id/books?id=LLJt_Orx6UQC&pg=PT83&lpg=PT 83&dq=kontrak+elektronik+menurut+uncitral&source=bl&ots=x01ujdf2B D&sig=yIoG8Hr1amfN1xodkvcjWOk4ZHY&hl=id&ei=nSE1TaP_CYmx cYqE6JIH&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CCgQ6A EwAw#v=onepage&q=kontrak%20elektronik%20menurut%20uncitral&f =false):

1) Singapore Electronic Transaction Act (ETA) 1998 meliputi:

a) Tidak ada perbedaan antara data elektronik dengan dokumen kertas;

b) Suatu data elektronik dapat menggantikan suatu dokumen tertulis; c) Para pihak dapat melakukan kontrak secara elektronik;

d) Suatu data elektronik dapat merupakan alat bukti di pengadilan; e) Jika suatu data elektronik telah diterima oleh para pihak maka

mereka harus bertindak sebagaimana kesepakatan yang terdapat pada data tersebut.

commit to user

2) EU Directive on Electronic Commerce meliputi:

a) Setiap negara-negara anggota akan memastikan bahwa sistem hukum mereka membolehkan kontrak dibuat dengan menggunakan sarana elektronik;

b) Namun para negara anggota dapat pula mengadakan pengecualian terdapat ketentuan di atas dalam hal:

(1) Kontrak untuk menciptakan/melakukan pengalihan hak atas

real estate;

(2) Kontrak yang diatur di dalam hukum keluarga; (3) Kontrak penjaminan;

(4) Kontrak yang melibatkan kewenangan pengadilan.

c) Setiap negara harus dapat memberikan pengaturan yang relevan atas kontrak elektronik yang berlangsung.

3. Tinjauan Umum tentang Perdagangan

a. Pengertian Perdagangan

Perdagangan atau perniagaan pada umumnya adalah pekerjaan membeli barang dari suatu tempat dan suatu waktu dan menjual barang tersebut di tempat dan waktu lainnnya untuk memperoleh keuntungan.

Pada pokoknya perdagangan mempunyai tugas untuk:

1) Membawa/memindahkan barang-barang dari tempat-tempat yang berkelebihan (surplus) ke tempat yang kekurangan.

2) Memindahkan barang-barang dari produsen ke konsumen.

3) Menimbun dan menyimpan barang-barang itu dalam masa yang berkelebihan sampai mengancam bahaya kekurangan (C.S.T. Kansil, 2001:26).

Sedangkan pengertian perdagangan menurut Eddi Sopandi, yaitu kegiatan dalam bidang ekonomi yang berupa membeli barang dan menjualnya lagi atau menyewakannya dengan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan laba (Eddi Sopandi, 2003:13).

commit to user

Perdagangan adalah kegiatan tukar menukar barang atau jasa atau keduanya. Pada masa awal sebelum uang ditemukan, tukar menukar barang dinamakan barter yaitu menukar barang dengan barang. Pada masa modern perdagangan dilakukan dengan penukaran uang. Setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Pembeli akan menukar barang/jasa dengan sejumlah uang yang diinginkan penjual (http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan). Perkembangan teknologi yang pesat seperti saat ini pun mengubah perdagangan konvensional menjadi perdagangan secara online dimana perdagangan ini tidak lagi mengharuskan terjadinya tatap muka antara penjual dan pembeli.

b. Pengertian Jual Beli

Pengertian jual beli dapat dilihat dalam Pasal 1457 KUH Perdata yang menentukan: jual beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak), dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga.

Dari pengertian yang diberikan Pasal 1457 di atas, persetujuan jual beli sekaligus membebankan dua kewajiban:

1) Kewajiban pihak penjual menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli

2) Kewajiban pihak pembeli membayar harga barang yang dibeli kepada penjual (M.Yahya Harahap, 1986:181).

Perjanjian jual beli bersifat konsensual, yang berarti untuk terjadinya perjanjian jual beli cukup dengan kata sepakat saja tanpa disyaratkan bentuk-bentuk formal tertentu. Selain itu, perjanjian jual beli bersifat obligator, artinya syahnya perjanjian jual beli, baru menimbulkan kewajiban kepada para pihak (Gunawan Widjaja, 2003:9).

commit to user

c. Kewajiban Penjual

Sesuai dengan Pasal 1457 KUH Perdata seorang penjual mempunyai dua kewajiban, pertama wajib menyerahkan barang dan yang kedua wajib menanggung pemakaian atas barang yang dijual itu. Dalam kewajiban menyerahkan barang tersebut harus memenuhi persyaratan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 612 dan Pasal 613 KUH Perdata.

Pasal 612 ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa penyerahan kebendaan bergerak, kecuali yang bertubuh, dilakukan dengan penyerahan nyata akan kebendaan itu oleh atau atas nama pemilik atau dengan penyerahan kunci-kunci dari bangunan, dalam mana kebendaan itu berada. Selanjutnya, Pasal 613 ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan yang bertubuh lainnya, dilakukan dengan jalan membuat akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain. Sedangkan Pasal 613 ayat (3) menyatakan bahwa penyerahan tiap-tiap piutang dilakukan dengan penyerahan surat itu: penyerahan tiap-tiap piutang kepada penganti (atas tunjuk) dilakukan dengan penyerahan surat disertai dengan endosemen.

Kitab Undang-undang Hukum Perdata menentukan bahwa untuk penyerahan benda-benda tidak bergerak harus dilakukan dengan cara balik nama-penyerahan yuridis (berdasarkan pada Overschrijvings

Ordonnantie S. 1834-27). Namun, dengan berlakunya Undang-undang

Pokok agraria No. 5 Tahun 1965 jo. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang menggantikan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961, maka segala hal yang berhubungan jual beli, penyerahan (yuridis) dan pengakuan hak atas tanah serta pendaftarannya diatur dalam dan diselenggarakan menurut Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997. Sedangkan untuk kapal laut, pengaturan mengenai penyerahan hak milik masih diatur dalam Stb. 1938-48.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyerahan kebendaan di sini meliputi penyerahan nyata (feitelijke levering) dan penyerahan yuridis (juridische levering).

Pada dasarnya, penyerahan barang harus terjadi di tempat di mana barang berada pada waktu terjadi perjanjian jual beli itu, kecuali di perjanjian sebaliknya (pasal 1477 Kitab Undang-Undang Hukum

commit to user

Perdata). Pasal 1478 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata memberikan hak kepada penjual untuk tidak menyerahkan barang yang dijual olehnya, jika pembeli belum membayar harga barangnya, namun demikian tidak menutup kemungkinan bagi penjual untuk mengijinkan penundaan pembayaran.

Kewajiban menanggung (vrijwaren) pihak penjual meliputi kewajiban menanggung penguasaan atas barang dengan aman dan damai serta kewajiban menanggung atas cacat tersembunyi (Pasal 1504 Kitab Undang-undang Hukum Perdata) (Gunawan Widjaja, 2003:9-10).

d. Kewajiban Pembeli

Kewajiban utama pembeli adalah membayar barang yang dibeli (Pasal 1513 KUH Perdata). Sesuai dengan pasal 1466 KUH Perdata pembeli berkewajiban pula untuk memikul biaya-biaya pembuatan akta jual beli dan biaya-biaya tambahan lainnya, kecuali kalu diperjanjikan sebaliknya. Berdasarkan pasal 1266 dan 1267 serta pasal 1517 KUH Perdata, jika pembeli tidak membayar harga pembelian, penjual dapat menuntut pembatalan pembelian (Gunawan Widjaja, 2003:9-10).

4. Tinjauan Umum tentang E-Commerce

a. Pengertian E-Commerce

Electronic Commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan,

pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_elektronik).

E-commerce seringkali diartikan sebagai jual beli barang dan jasa

melalui media elektronik, khususnya melalui internet. Salah satu contoh adalah penjualan produk secara online melalui internet yang dilakukan

Web Store Kompas Cyber Media. Dalam bisnis ini dukungan dan

pelayanan terhadap konsumen menggunakan e-mail sebagai alat bantu, mengirimkan kontrak melalui mail, dan lain-lain (Yahya Ahmad Zein, 2009:4).

commit to user

Electronic commerce, commonly known as e-commerce or eCommerce, consists of the buying and selling of products or services over electronic systems such as the Internet and other computer networks. The amount of trade conducted electronically has grown extraordinarily since the spread of the Internet. A wide variety of commerce is conducted in this way, spurring and drawing on innovations in electronic funds transfer, supply chain management, Internet marketing, online transaction processing, electronic data interchange (EDI), inventory management

systems, and automated data collection systems

(http://ecommerce-journal.com/articles/electronic_commerce_aka_e_commerce_history). Terjemahan bebasnya adalah “Electronic commerce, yang umum dikenal sebagai e-commerce atau eCommerce, terdiri dari pembelian dan penjualan produk atau layanan melalui sistem elektronik seperti internet dan jaringan komputer lainnya. Jumlah perdagangan dilakukan secara elektronik telah berkembang luar biasa sejak penyebaran internet. Berbagai perdagangan dilakukan dengan cara ini, memacu dan menggambarkan inovasi dalam transfer dana elektronik, manajemen suplai, pemasaran internet, proses transaksi online, elektronic data interchange (EDI), inventarisasi sistem manajemen, dan sistem pengumpulan data otomatis”.

Definisi E-Commerce menurut Laudon & Laudon (1998),

E-Commerce adalah suatu proses membeli dan menjual produk-produk

secara elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan

Dokumen terkait