• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen bahan CTG (Halaman 20-37)

A. Kesimpulan

Dalam hal Kebidanan alat  –  alat elektronik juga menjadi suatu keharusan untuk mendukung pelayanan kebidanan yang jauh lebih baik .Selama masa kehamilan tentunya ibu selalu berharap yang terbaik untuk janin di dalam kandungan.Alat – alat elektronik pun berperan penting dalam membantu selama proses kehamilan dan pelayanan dalam ke bidanan.Dalam menyatakan kecepatan denyut jantung, yang dinyatakan dalam jumlah denyut per menit (beat per m enit – bpm). Heart rate dapat diperoleh dari EKG. Dopler adalah alat diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi denyut jantung bayi yang menggunakan prinsip pantulan gelombang elektromagnetik. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui kondisi kesehatan janin, dan aman digunakan dan bersifat non invasif. Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk mempertahankan jalan nafas sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas dengan cara mengeluarkan secret pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya sendiri. Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala

pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi. Alat Kardiotokografi (CTG) atau  juga disebut Fetal Monitor adalah alat yang digunakan untuk memeriksa kondisi kesehatan janin. Dengan mengenal alat- alat elektronik pelayanan kebidanan agar kita dapat mengetahui dan menggunakan alat

 – alat tersebut sebagaimana mestinya.

B. Saran

Kepada mahasiswa untuk lebih mengenal alat-alat elektronik kebidanan beserta fungsi dan cara kerja sehingga dapat menggunakan alat tersebut sebagaimana mestinya.

Diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan pelayanan kebidanan lebih akurat dengan dipermudah dengan alat-alat elektronik kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA

http://dikamed.com/kardiotokografi-ctg-alat-memantau-kesejahteraan-janin-yang-wajib-dimiliki-fasilitas-pelayanan-persalinan.html

KATA PENGANTAR 

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT . Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan junjungan dan suri tauladan kita Nabi besar Muhammad SAW sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Makalah Cardiotokografi.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

orang-orang yang telah berperan penting sehingga dapat terselesaikannya Makalah ini, antara lain

:

1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah kesehatan, kekuatan dan ilmu pengetahuan kepada penulis sebagai satu anugerah yang tidak ternilai harganya.

2. Kedua orang tua dan saudara-saudaraku tersayang yang senantiasa memberikan doa maupun dukungan selama penyelesaian Tugas Makalah ini.

3. Dra. Sudarwati, AMK. M.Mkes selaku dosen Ketrampilan Dasar Kebidanan II di AKADEMI KEBIDANAN DELIMA PERSADA GRESIK

Kami menyadari bahwa tugas makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami sangat mengharap segala bentuk saran dan kritik yang membangun guna penyempurnaan tugas makalah ini. Sebagai akhirkami berharap agar tugas makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi kajian bagi banyak pihak.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... ii

DAFTAR GAMBAR... iii

BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2Tujuan... 2 BAB IIPEMBAHASAN... 2 2.1Pengertian... 2 2.2Indikasi... 3

2.3 Syarat Pemeriksaan Cardiotokografi... 5

2.4 Kontra Indikasi Cardiotokografi... 5

2.5 Persiapan Pasien... 5

2.6 Cara Melakukan... 6

2.7 Cara Melakukan... 7

BAB III PENUTUP... 10

LAMPIRAN GAMBAR... 11

DAFTAR PUSTAKA... 13

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian perinatal yang disebabkan oleh penyakit penyulit hipoksia janin dalam rahim antara lain dengan melakukan pemantauan kesejahteraan janin dalam rahim. Pada dasarnya pemantauan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya gangguan yang berkaitan hipoksia janin dalam rahim, seberapa j auh gangguan tersebut dan akhirnya me nentukan tindak lanjut dari hasil pemantauan tersebut.

Hampir semua ibu hamil pasti menginginkan kehamilannya berjalan lancar, persalinan berjalan normal, dan melahirkan bayi sehat. Untuk mewujudkan keinginan tersebut tak pelak lagi dibutuhkan pemeriksaan kehamilan yang teratur.

Sebenarnya bukan hanya untuk ibu, pemeriksaan kehamilan pun bermanfaat untuk kesejahteraan  janin. "Untuk ibu, misalnya, pemeriksaan berguna untuk mendeteksi dini jika ada komplikasi kehamilan, sehingga dapat segera mengobatinya; mempertahankan dan meningkatkan kesehatan selama kehamilan; mempersiapkan mental dan fisik dalam menghadapi persalinan; mengetahui berbagai masalah yang berkaitan dengan kehamilannya, juga bila kehamilannya dikategorikan dalam risiko tinggi, sehingga dapat segera ditentukan pertolongan persalinan yang aman kelak."

Sementara untuk bayi, pemeriksaan itu bisa meningkatkan kesehatan janin dan me ncegah janin lahir prematur, berat bayi lahir rendah, lahir m ati, ataupun mengalami kematian saat baru lahir.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui pengertian cardiotokografi

2. Mengetahui indikasi dan kontra indikasi c ardiotokografi

3. Mengetahui persiapan dan pelaksanaan pemeriksaan car diotokografi 4. Mengetahui cara menginterpretasi hasil pemeriksaan cardiotokografi

5. Mengetahui manfaat pemeriksaan cardiotokografi dalam ke hamilan dan persalinan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Kardio denyut jantung Toko kontraksi uterus

Keduanya disajikan pada waktu yang bersamaan, denyut jantung terdapat dibagian atas catatan dan kontraksi dibawahnya. Cardiotokografi adalah suatu metoda elektronik untuk memantau kesejahteraan  janin dalam kehamilan dan atau dalam persalinan.

Dilakukan untuk menilai apakah bayi merespon stimulus secara normal dan apakah bayi menerima cukup oksigen. Umumnya dilakukan pada usia kandungan minimal 26-28 minggu, atau kapanpun sesuai dengan kondisi bayi. Cardiotokografi merupakan pemeriksaan denyut jantung janin untuk menilai kesejahteraanya ( fetal-wellbeing).

Dalam Cardiotokografi terdapat 3 hal yang di catat : 1. Denyut jantung janin

2. Kontraksi Rahim 3. Gerakan janin.

Yang dinilai adalah gambaran denyut jantung janin (djj) dalam hubungannya dengan gerakan atau aktivitas janin. Pada janin sehat yang bergerak aktif dapat dilihat peningkatan frekuensi denyut jantung  janin. Sebaliknya, bila janin kurang baik, pergerakan bayi tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi denyut  jantung janin.

Jika pemeriksaan menunjukkan hasil yang meragukan, hendaknya diulangi dalam waktu 24 jam. Atau dilanjutkan dengan pemeriksaan CST (Contraction Stress Test ). Bayi yang tidak bereaksi belum tentu dalam bahaya, walau begitu pengujian lebih lanjut mungkin diperlukan.

2.2 Indikasi

Pemeriksaan Cardiotokografi biasanya dilakukan pada kehamilan resiko tinggi, dan indikasinya terdiri dari : 1. IBU a) Pre-eklampsia-eklampsia b) Ketuban pecah c) Diabetes mellitus d) Kehamilan > 40 minggu

e) Vitium cordis f) Asthma bronkhiale

g) Inkompatibilitas Rhesus atau ABO h) Infeksi TORCH

i) Bekas SC

 j) Induksi atau akselerasi persalinan k) Persalinan preterm.

l) Hipotensi.

m) Perdarahan antepartum. n) Ibu perokok.

o) Ibu berusia lanjut.

p) Lain-lain : sickle cell, penyakit kolagen, anemia, penyakit ginjal, penyakit paru, penyakit jantung, dan penyakit tiroid.

2. JANIN

a) Pertumbuhan janin terhambat (PJT) b) Gerakan janin berkurang

c) Suspek lilitan tali pusat

d) Aritmia, bradikardi, atau takikardi janin e) Hidrops fetalis

f) Kelainan presentasi, termasuk pasca versi luar. g) Mekoneum dalam cairan ketuban

h) Riwayat lahir mati i) Kehamilan ganda  j) Dan lain-lain

2.3 Syarat Pemeriksaan Cardiotokografi

1. Usia kehamilan > 28 minggu.

2. Ada persetujuan tindak medik dari pasien (secara lisan). 3. Punktum maksimum denyut jantung janin (DJJ) diketahui.

4. Prosedur pemasangan alat dan pengisian data pada komputer (pada Cardiotokografi terkomputerisasi) sesuai buku petunjuk dari pabrik.

2.4 Kontra Indikasi Cardiotokografi

Sampai saat ini belum ditemukan kontra-indikasi pemeriksaan Cardiotokografi terhadap ibu maupun janin.

2.5 Persiapan Pasien

1. Persetujuan tindak medik (Informed Consent) : menjelaskan indikasi, cara pemeriksaan dan kemungkinan hasil yang akan didapat. Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien (cukup persetujuan lisan).

2. Kosongkan kandung kencing.

3. Periksa kesadaran dan tanda vital ibu.

4. Ibu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda insufisiensi utero-plasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi oksigen 4 liter / menit.

5. Lakukan pemeriksaan Leopold untuk menentukan letak, presentasi dan punctum maksimum DJJ.

6. Hitung DJJ selama satu menit; bila ada his, dihitung sebelum dan segera setelah kontraksi berakhir..

7. Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri dan DJJ di daerah punktum maksimum.

8. Setelah transduser terpasang baik, beri tahu ibu bila janin terasa bergerak, pencet bel yang telah disediakan dan hitung berapa gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu selama perekaman cardiotokografi.

9. Hidupkan komputer dan Cardiotokograf.

10.Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung keadaan janin dan hasil yang ingin dicapai).

11.Lakukan pencetakkan hasil rekaman Cardiotokografi.

12.Lakukan dokumentasi data pada disket komputer (data untuk rumah sakit).

14. Beri tahu pada pasien bahwa pemeriksaan telah selesai.

15.Berikan hasil rekaman cardiotokografi kepada dokter penanggung jawab atau paramedik membantu membacakan hasi interpretasi komputer secara lengkap kepada dokter.

2.6 Cara Melakukan

Persiapan tes tanpa kontraksi :

Sebaiknya pemeriksaan dilakukan pagi hari 2 jam setelah sarapan dan tidak boleh diberikan sedativa. Prosedur pelaksanaan :

1. Pasien ditidurkan secara santai semi fowler 45 derajat miring ke kiri 2. Tekanan darah diukur setiap 10 menit

3. Dipasang kardio dan tokodinamometer 4. Frekuensi jantung janin dicatat

5. Selama 10 menit pertama supaya dicatat data dasar bunyi 6. Pemantauan tidak boleh kurang dari 30 menit

7. Bila pasien dalam keadaan puasa dan hasil pemantauan selama 30 menit tidak reaktif, pasien diberi larutan 100 gram gula oral dan dilakukan pemeriksaan ulang 2 jam kemudian (sebaiknya pemeriksaan dilakukan pagi hari setelah 2 jam sarapan)

8. Pemeriksaan NST ulangan dilakukan berdasarkan pertimbangan hasil NST secara individual

2.7 Cara Membaca

Pembacaan hasil : 1. Reaktif, bila :

a) Denyut jantung basal antara 120-160 kali per menit b) Variabilitas denyut jantung 6 atau lebih per menit

c) Gerakan janin terutama gerakan multipel dan berjumlah 5 gerakan atau lebih dalam 20 menit

d) Reaksi denyut jantung terutama akselerasi pola ”omega” pada NST yang reaktif berarti janin dalam

e) Pada pasien diabetes melitus tipe IDDM pemeriksaan NST diulang tiap hari, tipe yang lain diulang setiap minggu

2. Tidak reaktif, bila :

a) Denyut jantung basal 120-160 kali per m enit b) Variabilitas kurang dari 6 denyut /menit

c) Gerak janin tidak ada atau kurang dari 5 gerakan dalam 20 menit

d) Tidak ada akselerasi denyut jantung janin meskipun diberikan rangsangan dari luar

Antara hasil yang reaktif dan tidak reaktif ini ada bentuk antar yaitu kurang reaktif. Keadaan ini interpretasinya sukar, dapat diakibatkan karena pemakaian obat seperti : barbiturat, demerol, penotiasid dan metildopa.

Pada keadaan kurang reaktif dan pasien tidak menggunakan obat-obatan dianjurkan CTG diulang keesokan harinya. Bila reaktivitas tidak membaik dilakukan pemeriksaan tes dengan kontraksi (OCT). 3. Sinusoidal, bila :

a) Ada osilasi yang persisten pada denyut jantung asal b) Tidak ada gerakan janin

c) Tidak terjadi akselerasi, janin dalam keadaan bahaya. Bila paru-paru janin matur, janin dilahirkan. Gambaran ini didapatkan pada keadaan isoimunisasi-RH.

Jika pemeriksaan menunjukkan hasil yang meragukan, hendaknya diulangi dalam waktu 24 jam. Atau dilanjutkan dengan pemeriksaan CST (Contraction Stress Test). Bayi yang tidak bereaksi belum tentu dalam bahaya, walau begitu pengujian lebih lanjut mungkin diperlukan.

4. Hasil pemeriksaan CTG disebut abnormal (baik reaktif ataupun non reaktif) apabila ditemukan :

a) Bradikardi

b) Deselerasi 40 atau lebih di bawah (baseline), atau djj mencapai 90 dpm, yang lamanya 60 detik atau lebih Pada pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan terminasi kehamilan bila janin sudah viable atau pemeriksaan ulang setiap 12-24 jam bila janin belum viable.

Hasil CTG yang reaktif biasanya diikuti oleh keadaan janin yang masih baik sampai 1 minggu kemudian (dengan spesifitas sekitar 90%), sehingga pemeriksaan ulang dianjurkan 1 minggu kemudian.

Namun bila ada faktor resiko seperti hipertensi/gestosis, DM, perdarahan atau oligohidramnion hasil CTG yang reaktif tidak menjamin bahwa keadaan janin akan masih tetap baik sampai 1 minggu kemudian, sehingga pemeriksaan ulang harus lebih sering (1 minggu). Hasil CTG non reaktif mempunyai nilai prediksi positif yang rendah <30%, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan CST atau pemeriksaan yang mempunyai nilai prediksi positif yang lebih tinggi (Doppler-USG). Sebaiknya CTG tidak dipakai sebagai parameter tunggal untuk menentukan intervensi atau terminasi kehamilan oleh karena tingginya angka positif palsu tersebut (dianjurkan untuk menilai profil biofisik janin yang lainnya).

5. Saat persalinan….

a) Hasil tekanan positif menunjukkan penurunan fungsi plasenta janin, hal ini mendorong untuk melakukan seksio sesarea.

b) Gawat janin relatif cukup banyak (14,7%) dan terutama pada persalinan, sehingga memerlukan pengawasan dengan kardiotokografi

c) Hal – hal yang diperhatikan untuk indikasi Seksio sesarea ,dilakukan bila terdapat :

Deselarasi lambat berulang

Variabilitas yang abnormal (< 5 dpm)

pewarnaan mekonium

Gerakan janin yang abnormal (<5/20 menit )

Kelainan obstetri (berat bayi >4000g, Kelainan posisi, partus > 18 j am)

BAB III

PENUTUP

NST adalah cara pemeriksaan janin dengan menggunakan kardiotokografi, pada umur kehamilan

≥ 32 minggu. Pemeriksaan ini dilakukan dengan maksud melihat hubungan perubahan denyut jantung dengan gerakan janin.

DAFTAR PUSTAKA

AbarwatiA, E R , Sunarsih,T, (2011),KDPK Kebidanan Teori & Aplikasi , Nuha Medika, Yogyakarta, Jee, Lofever, J, ( 1997 ),Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik , Edisi 6, EGC, Jakarta. http://citraabadi2010.blogspot.com/2012/02/cardiotokografi.html

Interpretasi Kardiotokografi

KARDIOTOKOGRAFI

Denyut jantung secara normal dimodulasi oleh sistem syaraf simpatik dan parasimpatik berdasarkan respon baroreseptor dan kemoreseptor. Kontrol regulator juga tergantung faktor-faktor lain sebagai  berikut:

Faktor Lokasi Cara Kerja Efek 

Divisi

Parasimpatik

dari Sistem

syaraf otonom

Serabut N. Vagus

mensuplai nodus

Sinoatrial dan nodus

atrioventrikular

Stimulasi menyebabkan

 pelepasan asetilkolin pada sinap

mioneural

Denyut jantung janin

 berkurang

Mempertahankan

variabilitas beat to beat

Divisi Simpatik

dari sistem

syaraf otonom

Terdistribusi luas

 pada miokardium

Stimulasi menyebabkan

 pelepasan nerepinefrin pada

sinaps

Meningkatkan DJJ

Meningkatkan kekuatan

kontraktilitas miokard

Baroreseptor Reseptor regang

 pada lengkung aorta

dan sinus karotis

 pada percabangan

Berespon terhadap peningkatkan

tekanan darah dengan

menstimulasi reseptor regang

untuk mengirim impuls via

nervus vagus atau

Menurunkan DJJ

Menurunkan tekanan

darah

arteri karotis interna

dan eksterna

glossofaringeal ke otak tengah,

menimbulkan respon vagal dan

menurunkan aktivitas jantung

Menurunkan output

kardiak

Kemoreseptor Perifer : badan

karotis dan aorta

Sentral : medula

oblongata

Berespon terhadap penurunan

yang bermakna O2 dan

 peningkatan CO2 di perifer.

Kemoreseptor sentral bererspon

terhadap penurunan tekanan O2

dan CO2 pada darah dan/atau

cairan serebrospinal

Bradikardia, kadang

dengan peningkatan

variabilitas

Takikardi dan

 peningkatan tekandan

darah dengna

 penurunan variabilitas

Sistem syaraf

 pusat

Korteks serebri

Hipotalamus

Medula oblongata

Berespon terhadap gerakan janin

Berespon terhadap tidurnya

anin

Mengatur dan koordinasi

aktivitas otonom (simpatik dan

 parasimpatik)

Mediasi reflek kardiak dan pusat

vasomotor dengan mengontrol

aksi jantung dan diameter

 pembuluh darah

Meningkatkan

reaktivitas dan

variabilitas

Menurunkan reaktivitas

dan variabilitas

Mempertahankan

keseimbangan

kardioakselerasi dan

kardiodeselerasi

Regulasi

hormonal

Medula adrenal

Korteks adrenal

Vasopresin

(katekolamin

 plasma)

Melepaskan epinefrin dan

norepinefrin dengan hipoksia

anin berat yang menyebabkan

timbulnya respon simpatis

Turunnya tekanan darah janin

menstimulasi pelepasan

aldosteron, penurunan output

natrium, meningkatkan retensi

cairan yang menyebabkan

meningkatnya volume darah

yang bersirkulasi

Menyebabkan vasokonstriksi

 pembuluh darah nonvital pada

fetus yang asfiksia

Meningkatnya DJJ

Meningkatnya kekuatan

kontraktilitas miokard

dan tekanan darah

Meningkatnya output

kardiak

Mempertahankan

homeostasis volume

darah

Distribusi aliran darah

untuk mempertahankan

DJJ dan variabilitas

Volume darah /

 pergeseran

cairan kapiler

Pergerakan cairan

antara kapiler dan

ruang intersisial

Berespon terhadap peningkatan

tekanan darah dengan

menyebabkan perpindarahn

Penurunan volume

darah dan tekanan

darah

dcairan keluar dari kapiler ke

ruang intersisial

Berespon terhadap tekanan

darah rendah dengan

menyebabkan cairan pindah dari

ruang intersisial ke kapiler

Peningkatan volume

dan tekanan darah

Tekanan

intraplasenta

Ruang intervilus Cairan berpindah antara darah

anin dan ibu berdasarkan

tekanan osmotik dan gradien

tekanan darah; tekanan darah ibu

sekitar 100mmHg dan janin 55

mmHg; oleh karena itu

 penyeimbangan dijaga oleh

 beberapa compensatory factor

Meregulasi volume

darah dan tekanan

darah

Mekanisme

Frank-Starling

Berdasarkan

 peregangan

miokardium dengan

 peningkatan aliran

darah vena yang

masuk ke atrium

kanan

Pada orang dewasa miokardium

diregangkan dengan peningkatan

darah masuk, menyebabkan

antung berkontraksi dengan

daya yang lebih kuat dari

sebelumnya dan memompa

keluar lebih banyak darah; oleh

karena itu orang dewasa mempu

meningkatkan output kardiak

dengan meningkatkan denyut

antung dan stroke volume;

mekanisme ini belum

 berkembang dengan baik pada

anin

Output kardiak

tergantung dari denyut

antung janin :

Penurunan DJJ =

 penurunan kardiak

oupput dan sebaliknya

Faktor lain yang dapat mempengaruhi denyut jantung janin adalah gangguan seperti takikardi akibat hipertermia dan bradikardi hipotermia.

Frekuensi Dasar

Frekuensi dasar adalah irama intrinsik dari jantung janin. Evaluasi untuk menentukan frekuensi dasar dilakukan dalam pengamatan 10

 20 menit. Secara definisi frekuensi dasar adalah irama jantung  yang terjadi ketika tidak ada stress atau stimulasi pada fetus, contohnya:

ketika pasien tidak dalam persalinan

ketika janin tidak bergerak

ketika tidak ada stimulasi pada fetus seperti pemeriksaan dalam dan pemasangan elektroda

selama interval perubahan periodik.

Frekuensi dasar diatur oleh atrial pacemaker dan diseimbangkan dengan perpaduan antara cabang syaraf otonom simpatik (kardioakselerator) dan parasimpatik (deselerator). Sebagai akibat belum matangnya sistem syaraf dan adanya dominasi simpatis, janin prematur pada usia gestasi sekitar 20 minggu menampakkan frekuensi dasar 160 dpm. Janin diatas 40 minggu dapat memiliki frekuensi antara 110

 120 dpm. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh kontrol parasimpatis yang sedikit lebih  besar. Pada janin aterm frekuensi dasar berkisar 120

 160 bpm.

Takikardi : frekuensi dasar > 160 atau lebih dari 30 dpm dari frekuensi dasar normal selama durasi 10 menit atau lebih. Takikardi dibagi menjadi moderate dan marked. Moderate jika denyut  jantung berkisar 161

 180 dpm, diasosiasikan dengan hipoksia ringan atau fetus secara progresif menjadi lebih hipoksik. Marked takikardia jika denyut jantung >180 dpm, jika terdapat pula perubahan periodik DJJ dan /atau minimal atau tidak adanya variabilitas dianggap sebagai tanda nonreassuring. Penyebab takikardi dapat berupa hipoksia janin, ibu demam, obat-obatan parasimpatolitik (contohnya atropin, skopolamin, fenotiazin), obat-obatan elicit (kokain dan metamfetamin), ibu hypertiroid, janin anemia, gagal jantung janin, disritmia jantung janin. Intervensi dapat berupa obat penurun demam (jika ibu demam), jika penyebabnya adalah oksigenasi maka diberikan oksigen 100% 8-10 L/mnt dengan masker.

Bradikardia : frekuensi dasar <120 dpm (jika usia gestasi janin >40 minggu, <110 dpm) atau turun 30 dpm dari frekuensi dasar normal selama 10 menit atau lebih. Dapat disebabkan oleh hipoksia  janin lanjut, obat-obatan beta adrenergik bloking, anestesia (epidural, spinal, pudendal), hipotensi maternal, kompresi tali pusat prolong, disritmia jantung janin, hipotermia, maternal SLE, sitomegalo virus, prolong hipoglikemia maternal, congenital heart block. Bradikardia dapat merupakan tanda nonreassuring jika disertai dengan adanya deselerasi lambat dan hilangnya  variabilitas. Bradikardia dengan variabilitas rata-rata tanpa deselerasi lambat bukan merupakan

tanda fetal distress. Bradikardia dalam jangka waktu lama yang tidak berespon terhadap intervensi menggambarkan fetal distress lanjut dan kemungkinan preterminal event. Untuk memperbaiki oksigenasi fetus dan aliran darah uteroplasental minta ibu tidur dalam posisi miring, hidrasi, koreksi hipotensi maternal, oksigen 100% 8-10 L/mnt dengan masker dan hilangkan hiperstimulasi uterus.

 Variabilitas

 Variabilitas dapat dideskripsikan sebagai iregularitas normal irama jantung yang muncul akibat interaksi seimbang antara syaraf simpatik (kardioakselerator) dan parasimpatik (kardiodeselerator). Merefleksikan jalur neurologis yang intak, oksigenasi janin optimal dan menggambarkan oksigen  janin yang disimpan di jaringan. Selain itu, variabilitas intrapartum secara tidak

langsung menggambarkan toleransi janin terhadap persalinan.

 Variabilitas merupakan karakteristik denyut jantung janin yang paling penting. Fetus dengan  variabilitas normal (reassuring) mengindikasikan kapabilitas untuk mensentalisasi oksigen yang

tersedia dan akan mempertahankan kompensasi fisiologis.

Iregularitas normal lebih jauh dideskripisikan sebagai short term variability (STV) dan long term  variability (LTV).

Short Term Variability (STV) : perubahan denyut jantung janin dari satu denyut ke denyut  berikutnya (beat to beat) pada fetal EKG

Long Term Variability (LTV) : fluktuasi ritmik atau variasi siklik dengan amplitudo 6-10 dpm dari frekuensi dasar yang terjadi selama 3

 10 siklus permenit. LTV dinilai dalam observasi 5

 10

menit diantara kontraksi dan perubahan periodik serta mengeksklusi artefak. Penilaian : kurang/minimal : 0

 5 dpm, normal : 6-25 dpm, meningkata atau salsatory : > 25 dpm (AWHONN, 1993). Kategori lain adalah absen (0-2 dpm), minimal (3-5 dpm), rata-rata ( 6-10 dpm), moderate (11-25 dpm) dan marked (>(11-25 dpm).

Perubahan periodik pada denyut jantung janin danpa berupa perubahan periodik dan non periodik. Perubahan periodik adlah akselerasi atau deselerasi sementara yang selanjutnya akan kembali ke frekuensi dasar, dan biasanya merupakan respon terhadap kontraksi uterus. Perubahan non periodik adalah akselerasi atau deselerasi yang terjadi tanpa hubungan spesifik dengan aktivitas uterus, termasuk akselerasi spontan dan deselerasi variabel diantara kontraksi dan prolong deselerasi.

 Akselerasi

 Akselerasi adalah peningkatan sementara di atas frekuensi dasar dan dan dapat menyerupai bentuk kontraksi uterus. Amplitudonya biasanya 15 dpm atau lebih dan terjadi selama > 15 detik. Akselerasi dapat terjadi akibat gerak janin, pemeriksaan dalam, pemasangan elektroda, breech presentation, presentasi oksiput posterior, kontraksi uterus, tekanan fundal, palpasi abdomen. Akselerasi spontan sebagai respon gerak janin dan kontraksi uterus merupakan indikasi kewaspadaan sisten syaraf pusat  janin dan kesejahteraan janin dan merupakan tanda reassuring. Akselerasi seragan yang berulang  yang berhubungan dengan kontraksi uterus mengindikasikan respon inisial terhadap hipoksia ringan.

Deselerasi

Deselerasi dini: mulai sebelum kontraksi uterus mencapai puncak dan hilang bersamaan

dengan kontraksi uterus (berbentuk ‘mirror image’). Disebabkan oleh kompresi kepala. Umumnya

muncul pada dilatasi serviks >7 cm atau pada partus kala II. Bukan merupakan hal yang patologis.

Deselerasi lambat: deselerasi mulai pada atau setelah puncak kontraksi uterus dan menghilang setelah kontraksi uterus kembali ke nilai semula. Merupakan gambaran insufisiensi uteroplasenta. Meupakan tanda nonreassuring jika persisten dan tidak dapat dikoreksi, terutama jika disertai takikardia dan/atau variabilitas yang minimal atau absen. Insufisiensi uteroplasenta dapat disebabkan oleh hiperstimulasi uterus, hipotensi maternal, hipertensi pada kehamilan, hipertensi kronik, postmaturitas, amnionitis, janin kecil masa kehamilan (KMK), DM maternal, plasenta previa, solusio plasenta/syok maternal, regional anestesia (spinal, epidural), penyakit jantung maternal, anemia maternal, Rh isoimunisasi dan kondisi lain seperti penyakit kolagen vaskular & penyakit

Dalam dokumen bahan CTG (Halaman 20-37)

Dokumen terkait