• Tidak ada hasil yang ditemukan

8

BAB II

SEJARAH MAJALAH DI INDONESIA DAN SEJARAH

MAJALAH HAI

A. Sejarah Pers di Indonesia

Majalah muncul pertama kali di Indonesia pada abad ke-17 yang dibawa oleh orang-orang Belanda. Majalah yang pertama terbit di Indonesia adalah majalah berbahasa Belanda yang bernama Bataviasche Nouvelles yang terbit pada tahun 1744, majalah tersebut membahas tentang masalah perkebunan dan industri minyak. Pada akhir abad ke-19 pemerintah Hindia Belanda baru mulai menerbitkan majalah yang membahas dinamika politik di Hindia Belanda, Bondsblad merupakan salah satu majalah tentang politik di Hindia Belanda yang terbit pada 1897. Semenjak mesin cetak masuk ke Hindia Belanda pada abad ke-17, majalah merupakan salah satu media bagi para Indische Bond dalam menyampaikan suara mereka untuk memperjuangkan hak-hak politik mereka.10

Pada abad ke-19 muncul majalah Li Po, Kabar Perniagaan, Siang Po, dan Sin

Po yang di pelopori oleh masyarakat Tionghoa dan kemudian di ikuti oleh kaum

bumiputra untuk turut serta menerbitkan majalah.11 Majalah Bromomartani dan Slompret Melajoe merupakan majalah-majalah terbitan masyarakat bumiputra, majalah Bromomartani merupakan majalah pertama berbahasa Jawa yang terbit di

10

Kurniawan Junaedhie, Rahasia Dapur Majalah Di Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995, hal. xvii

11 Ibid.

Surakarta pada tahin 1855, sedangkan Slompret Melajoe menggunakan bahasa Melayu yang terbit di Semarang 1860.12

Pers Indonesia memiliki perbedaan dengan pers Tionghoa dan Belanda, Abdurrachman Surjomihardjo menyatakan bahwa,

“awal sejarah pers di Indonesia mempunyai ciri-ciri yang khusus, berhubung dengan keadaan masyarakat, kebudayaan, dan politik. Sejak pertumbuhannya pers di Indonesia mencerminkan struktur masyarakat majemuk, dengan adanya golongan penduduk yang terpisah satu sama lain: golongan penduduk Belanda, Tionghoa, Arab, dan India. Penduduk Indonesia sendiri pada zaman colonial berada dalam batas-batas hidup kesukuan. Dengan itu maka bahasa yang dipakai pun berbeda dan pers dipakai sebagai media pemberitaan dan pendapat yang berbeda pula, dan tidak jarang merupakan suara pendukung berbagai ideologi.”13

Akan tetapi pers Indonesia pada waktu itu masih kalah dalam pengumpulan berita dan material dibandingkan pers milik orang-orang Tionghoa dan Belanda, pers di Indonesia masih sering mengutip berita-berita lama dari pers Eropa yang sudah pernah diterbitkan.

Menurut Edward C. Smith, perkembangan pers di Indonesia masih ketinggalan jauh dari pers Belanda dan Cina, hal ini dikarenakan kurangnya tenaga kerja yang menguasai dunia jurnalistik dan masalah biaya. Selain itu tekanan dari pemerintahan Belanda juga menjadi penghambat berkembangnya pers di Indonesia. Smith menambahkan bahwa, jiwa nasionalisme yang dimiliki oleh masyarakat pribumi menjadi salah satu faktor pendukung dari berdirinya pers Indonesia.

Pada awal abad ke-20 politik etis yang dilakukan oleh Belanda mulai menunjukkan dampak positifnya, sekolah-sekolah yang dibuka untuk para anak

12

Ibid. 13

Abdulrrachman Surjomiharjo, dkk, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta: Kompas, 2002, hal. 78.

dari Priyayi dan masyarakat umum, hal tersebut berdampak pada munculnya organisasi-organisasi seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij juga menjadi salah satu dampak dari politik etis. Berdirinya organisasi-organisasi tersebut justru memberikan perkembangan pada dunia pers di Indonesia, organisasi-organisasi tersebut ingin aspirasinya di sampaikan kepada masyarakat luas dengan tujuan untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memerdekakan Indonesia. Organisasi-organisasi tersebut pun mulai menerbitkan majalah yang kemudian disebar luarkan di pulau Jawa dan Sumatera, penerbitan majalah oleh organisasi-organisasi ini pun menjadi penanda perkembangan pers di Indonesia sekaligus kemunculan majalah Indonesia gelombang kedua.14

Seiring berjalannya waktu majalah di Indonesia pun mengalami perkembagan, pada awal kemunculannya majalah Indonesia lebih berisi tentang aspirasi atau suara-suara dari anggota organisasi kemerdekaan kemudian membahas tentang keadaan politik di Indonesia dan kemudian mulai pada tahun 1929 majalah di Indonesia terbit dengan isi yang terbagi berdasarkan segmennya. Majalah segmentasi pertama yang terbit di Indonesia adalah majalah Doenia Film

dan Pertjatoeran Doenia Film.15 Dua majalah ini secara segmentasi membahas tentang film yang sedang tayang dan akan tayang di Batavia pada tahun 1920, kemudian majalah Doenia Film berinovasi dengan menambahkan berita olahraga di dalamnya dan merubah namanya menjadi Doenia Film dan Olahraga.

14

Kurniawan Junaedhie, Op. Cit., hal. xvii. 15

Kemunculan majalah yang segementasi membahas tentang film ini pun berdampak pada kebangkitan film nasional pada tahun 1967.16

Pada tahun 1967 pers Indonesia kembali berkembang dengan munculnya majalah segmentasi musik, majalah Aktuil yang terbit di kota Bandung merupakan majalah pertama di Indonesia yang membahas tentang dunia musik Indonesia dan luar negeri. Majalah Aktuil juga membuka kantor perwakilan koresponden di beberapa negara seperti di Hamburg, Munich, New York, Berlin, Swedia, Stockholm, Ottawa, Tokyo, Hong Kong, dan Kowloon. Majalah Aktuil juga tercatat sering mengadakan acara-acara musik pada tahun 1975, seperti acara Kemarau di Bandung dan mengundang Deep Purple untuk bermain di beberapa kota di Indonesia.17

Semenjak berdiri pada than 1967, majalah Aktuil telah berhasil membuat jaringan internasional dengan para perusahaan-perusahaan musik dan film di Belanda, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan kantor perwakilan koresponden di beberapa kota di negara-negara tersebut.

Pada tahun 1970-an awal majalah Aktuil menjadi majalah wajib bagi para penikmat musik Indonesia, apa lagi majalah Aktuil sering memberikan bonus poster dan stiker disetiap terbitannya pada tahun tersebut. Pada tahun 1977 majalah Aktuil berhenti menyajikan berita-berita tentang musik dan merubah konsepnya menjadi majalah yang membahas topik-topik umam, hal ini membuat para penikmat musik

16

Ibid, hal. 247 17

di Indonesia menjadi kehilangan arah atau petunjuk untuk mendapatkan pengetahuan tentang musik-musik yang baru saja dirilis.18

Beberapa tahun sebelum majalah Aktuil merubah konten majalahnya di Indonesia sendiri bermunculan majalah-majalah yang ingin meniru konsep majalah

Aktuil, seperti majalah Top dan Junior. Akan tetapi usaha majalah Top dan Junior

untuk merebut pembaca majalah Aktuil tersebut gagal, hal ini dikarenakan para pembaca bosan setiap membalik halaman dari majalah Top hanya melihat orang memegang microphone.19 Majalah Top yang pertama kali terbit pada tahun 1974 harus terpaksa merubah haluan kontennya menjadi majalah pria dewasa pada tahun 1976.

Sama halnya dengan majalah Top. Majalah Junior juga gagal mendapatkan perhatian dari pembaca majalah Aktuil dan pada akhirnya pada tahun 1977 mengubah namanya menjadi Nova dan mengubah segmentasinya ke pembaca wanita.20

B. Sejarah Majalah Hai

Majalah Hai pertama kali terbit pada 5 Januari 1977, terbitan pertama majalah

Hai berisikan 36 halaman yang bercetak hitam putih. Kontennya pun lebih di

dominasi oleh komik hasil karya komika Indonesia dan dari luar Indonesia. Pada

18 Ibid., hal. 249. 19 Ibid. 20 Ibid, hal. 250.

awal berdiri, majalah Hai memiliki target pasar remaja di usia 15-24 tahun yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas atau SMA.21

Redupnya para peminat komik di Indonesia pada awal 1980-an membuat majalah Hai berinovasi dengan menambahkan rubrik baru yang berisi tentang kegiatan-kegiatan musik yang ada di Indonesia, review tentang film-film yang baru saja rilis di bioskop, hingga laporan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para murid SMA diseluruh Indonesia.22 Majalah Hai tidak hanya menyampaikan informasi tetapi majalah Hai juga memberikan kolom bagi para pembacanya untuk mengirimkan surat yang berisi saran, kritik, hingga pertanyaan-pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh para pembaca. Hal ini tentu saja menarik perhatian para pembacanya karena, majalah Hai hampir menjawab dan mengabulkan seluruh permintaan dan pertanyaan pembacanya.

Pada 1980-an akhir hingga 1990-an awal merupakan puncak dari kepopuleran musik rock di Indonesia, hal ini tentu saja tidak lepas dari pengaruh media-media di Indonesia dan salah satunya adalah majalah Hai yang pada setiap edisinya memberikan laporan atau ulasan tentang album baru dari band-band yang berasal dari Eropa dan Indonesia. Terkadang majalah Hai juga memberikan laporan eksklusif tentang konser dari suatu band di luar negeri hanya untuk memuaskan para pembacanya. Rubrik ulasan album baru merupakan rubrik yang sangat populer, hal ini dikarenakan majalah Hai memberikan gambaran tentang album tersebut sebelum para penikmat musik tersebut membelinya.

21

https://Hai.grid.id/about, diakses pada 7 November 2019 pukul 19.21 22

C. Rubrik-rubrik dari Majalah Hai

Dari tahun 1980-an awal hingga 1980-an akhir disetiap terbitan majalah Hai selalu berisikan oleh rubrik-rubrik seperti;

1. Hai Sayang

Rubrik ini berisikan tentang kiriman surat dari para pembaca kepada redaksi majalah Hai yang kebanyakan meminta atau menanyakan suatu informasi kepada majalah Hai, selain itu rubrik ini juga berisi tentang kritik dan saran terhadap majalah Hai itu sendiri. Pada terbitan majalah Hai edisi 21 Oktober 1980 banyak pembaca yang menginginkan majalah Hai untuk menambahkan halaman dan rubrik-rubriknya serta permintaan untuk menambahkan daftar isi, majalah Hai pun memberikan respon yang positif terhadap masukkan tersebut dan menjanjikan akan menambahkan halaman dan rubrik pada edisi berikutnya.

2. Mbak Retno

Dalam rubrik Mbak Retno majalah Hai memberikan wadah bagi para pembacanya untuk bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi oleh pembacanya dan kemudian majalah Hai mencoba memberikan solusi dan jalan keluar dari masalah-masalah pembacanya, rubrik ini bisa juga dikatakan sebagai kolom curhat antara pembaca dan majalah Hai sendiri. Pada terbitan tahun 1990 rubrik ini menghilang dan tidak diketahui alasan rubrik ini tidak lagi termasuk dalam terbitan tahun tersebut.

3. Istimewa

Rubrik ini berisi tentang profil-profil pelaku seni dari luar dan dalam negeri, terkadang rubrik ini juga memberikan laporan tentang suatu acara kesenian yang sudah atau akan digelar di Indonesia atau luar Indonesia. Rubrik Istimewa ini bisa dikatakan merupakan rubrik andalan dari seluruh rubrik yang yang ada dalam satu terbitan majalah Hai. Pada bab III dan IV skripsi ini akan dikhususkan membahas tentang rubrik ini.

4. Hanya Ada di Hai

Hanya Ada di Hai merupakan rubrik yang membahas tentang informasi

yang tidak pernah tuliskan atau disampaikan oleh majalah-majalah lain, informasi yang ditulis dalam rubrik ini pun beragam mulai dari informasi tentang senjata api yang sempat diterbitkan pada edisi 2-8 April 1985 hingga informasi tentang film seri kartun yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi Indonesia.

5. Rada Istimewa

Rubrik ini biasanya membahas tentang profil seniman lokal Indonesia dan juga para tokoh-tokoh penting di Indonesia, akan tetapi pada terbitan 1980-an akhir hingga 1990-an rubrik ini lebih membahas tentang artis dan model yang baru saja muncul di dunia hiburan Indonesia. Selain membahas tentang artis-artis Indonesia, dalam rubrik ini juga membahas tentang artis-artis-artis-artis luar negeri yang baru saja terjun ke dunia hiburan dan juga membahas tentang kabar terbaru dari artis-artis lama yang tidak begitu populer di kalangan pembaca majalah

Hai. Pada bab III dan IV skripsi ini akan dikhususkan membahas tentang rubrik

ini.

6. Resensi Kaset

Pada rubrik ini majalah Hai memberikan resensi album-album yang baru saja rilis di Indonesia dan luar Indonesia, dalam setiap resensinya majalah Hai memberikan info selengkap mungkin kepada pembacanya dengan tujuan memberikan gambaran tentang lagu-lagu dalam album tersebut. Pada terbitan tahun 1980 akhir rubrik ini menghilang dan kemudian mendapatkan banyak protes dari para pembacanya di kolom Hai Sayang.

7. Musik Hai

Rubrik ini merupakan cara majalah Hai memanjakan para pembacanya, dari setiap surat yang menanyakan dan meminta berita tentang musik majalah Hai menjawab dan memenuhi permintaan pembacanya pada rubrik ini. Selain rubrik Mbak Retno dan Hai Sayang rubrik ini juga merupakan salah satu rubrik interaksi antara para pembaca dengan redaksi majalah, mengingat di tahun tersebut belum tersedianya layanan internet seperti sekarang membuat rubrik ini menjadi seperti Google musik pada era tersebut.

8. Hai Prix

Hai Prix merupakan salah satu rubrik di majalah Hai yang khusus

membahas tentang kegiatan otomotif, rubrik ini sering memberitakan tentang

profil para pembalap dari Indonesia dan luar Indonesia. Selain itu rubrik ini juga memberikan laporan tentang kegiatan yang berhubungan tentang balapan motor dan mobil yang ada di Indonesia dan luar Indonesia.

9. Cerita

Rubrik Cerita berisi tentang cerpen, cerbung, dan cerita serial hasil karya penulis-penulis Indonesia. Seperti tulisan cerita karya Surtiningsih yang berjudul Operasi Teratai, Eddy Suhendro yang berjudul Kelompok Empat dan

Nona Sekretaris , Ris Prasetyo yang berjudul Mas Kromo Piano, Yunita H. yang

berjudul Gedung Abu-abu Tercinta, Bb. Widoyo Sp yang berjudul Menyolek

Matahari, Kent yang berjudul Boneka Lilin, dan Hilman yang berjudul Lupus.

Majalah Hai Edisi 16-22 Agustus 1983

10. Kiprah Sekolah

Kirprah Sekolah adalah rubrik yang menyampaikan informasi tentang kegiatan-kegiatan yang ada di salah satu sekolah menengah umum yang ada di Indonesia, selain membahas tentang kegiatan yang menjadi unggulan dari SMU tersebut dalam rubrik ini juga membahas tentang prestasi dari sekolah tersebut. Dalam rubrik ini majalah Hai mempersilahkan pembacanya yang masih duduk dibangku SMU untuk mengirimkan laporan kegiatan atau prestasi yang pernah diraih dari sekolahnya, dengan adanya rubrik ini semakin membuktikan bahwa majalah Hai sangat dekat dengan para pembacanya.

23

BAB III

SUDUT PANDANG MAJALAH HAI TERHADAP

SENIMAN

Jika membicarakan penokohan pemusik lokal atau luar yang sempat dibahas oleh majalah Hai, nama-nama seperti Paul Mccarney, John Lennon, Yoko Ono, Makara Band, Al Di Meola, Terence Trent D’Arby, Dian Pranama Poetra, The Bangles, Yngwie Malmsteen, Blow Monkey, Europe, Skid Row, Genesis, George Michael, Def Leppard, Toto Tewel, Ian Antono, Ikang Fauzi, Guns ‘n Roses, dan Lita Ford sempat dibahas dalam rubrik Istimewa dalam majalah Hai.

Kisah yang ditulis tentang tokoh-tokoh musik tersebut pun sangat beragam mulai dari kehidupan pribadi sang musisi, cerita musisi tentang pengalaman tur meraka, pembuatan album, dan masih banyak lagi. Sebagai contoh:

A. Musisi Mancanegara:

1. Paul McCartney

Pada majalah Hai edisi HAI31/VII 16 -22 Agustus 1983, majalah Hai membahas tentang album solo terbaru Paul. Setelah bubarnya supergroup The Beatles yang dibentuk oleh Paul, John, Ringo, dan George. John Lennon yang sibuk dengan kampanye perdamaian yang dilakukan bersama istrinya Yoko Ono, George Harrison sibuk belajar tentang agama Hindu di India, dan Ringo tidak diketahui keberadaannya.

Hanya Paul yang pada saat itu masih sibuk berkecimpung dalam dunia musik dan masih produktif dalam mengeluarkan album solo, walaupun album-album solo Paul masih sangat sulit diterima oleh para fansnya. Majalah Hai

mengatakan bahwa album solo Paul tidak laku di pasaran dan Paul tidak bisa membuat musik sebaik dan sebagus ketika dirinya masih bergabung dalam The Beatles, majalah Hai juga menyatakan bahwa dalam satu album hanya terdapat satu lagu yang bisa dikatanan “lumayan” yaitu Maybe I’m Amazed.23

Memang sulit bagi Paul untung lepas dari bayang-bayang The Beatles yang membesarkan namanya itu, belum lagi perannya sebagai front-man di dalam The Beatles yang berdampingan dengan John Lennon. Majalah Hai juga menyatakan bahwa Paul hanya berharga ketika bersama The Beatles dan ketika Ia mengeluarkan

23

Anonim, “Paul Mccarney atau Billy Shears”, Majalah Hai, HAI31/VII, 16-22 Agustus 1983, hal. 6-7.

album solo majalah Hai dengan tegas menyatakan bahwa, music Paul adalah musik yang membuat orang menjadi ngantuk atau musik untuk orang yang sedang bangun tidur.24

2. Al Di Meola

Al Di Meola merupakan gitaris Italia Amerika yang memainkan musik beraliran

fusion jazz dan berasal New Jersey, Amerika Serikat. Majalah Hai menobatkan Di

Meola sebagai gitaris fusion jazz terbaik yang pernah ada, hal ini diperkuat dengan banyaknya penghargaan yang sudah diraih oleh Di Meola. Selain mengakui skill

Individual dari Di Meola, majalah Hai juga menyatakan bahwa album-album yang

dibuat oleh Di Meola merupakan album jazz terbaik pada tahun 1986.

Pada artikel yang membahas Al Di Meola ini majalah Hai lebih lengkap dalam menyampaikan informasi, seperti umur Di Meola pada waktu itu hingga alat musik pertama yang dipelajari oleh Di Meola. Hal ini sangat berbeda dengan artikel tentang Paul Mccartney yang terdapat dalam terbitan majalah Hai tiga tahun silam yang mana pada artikel mengenai Paul pembahasannya tidak selengkap seperti membahas Di Meola. Majalah Hai juga menambahkan beberapa pernyataan dari Di Meola seperti pengakuan Di Meola yang pada tahun pertamanya bermain musik Ia sempat dijauhi teman-teman seumurannya lantaran tidak dapat memainkan musik rock n roll.25

24

Ibid. 25

Pada awal 1960-an hingga akhir 1980-an aliran musik rock n roll sangat digandrungi oleh anak muda diseluruh belahan dunia. Nama-nama seperti The Beatles, Eric Clapton, The Rolling Stone, dan Cream merupakan penyebar virus rock n roll dari Britania Raya dan berhasil membawa musik rock n roll hingga Amerika Serikat.

Dalam artikel ini majalah Hai juga menuliskan pernyataan Di Meola yang merasa bangga bahwa Ia dapat memainkan gitar lebih cepat dan nada-nada yang dihasilkan olehnya juga sangat jauh berbeda dengan para musisi beraliran rock n roll yang ada di Amerika maupun Britania Raya, hal ini dikarenakan Di Meola menggabungkan antara musik jazz, klasik, dan latin yang sering Ia dengarkan di radio. Pada artikel ini, majalah Hai juga mengupas tuntas tentang kesuksesan Di Meola menjadi gitaris jazz terbaik di Amerika. Mulai dari bergabung dengan band jazz kelas kampus hingga dapat bermain gitar di band jazz professional seperti

Return to Forever band yang dapat mengembangkan talentanya hingga dinobatkan menjadi gitaris jazz terbaik di dunia.

3. Terence Trent D’Arby

Pada paragraf awal dari artikel ini majalah Hai langsung menyampaikan pernyataan dari D’Arby yang berbunyi, “tidak sampai delapan belas bulan saya akan jadi lebih beken dari Madonna. Sementara Prince dan Michael Jackson akan bergidik mendengar nama saya. Tunggu saja!”. Majalah Hai pun bertanya-tanya siapa sebenarnya D’Arby ini? Karena pada saat Ia mengeluarkan pernyataan tersebut Madonna, Prince, dan Michael Jackson sedang berada di puncak karirnya.26

Dalam artikel ini majalah Hai memberikan resensi artis pendatang baru bagi para pembacanya, kalimat pembuka yang terdengar sangat sombong bagi artis yang

26

Iwan, “Terence Trent D’Arby: Saya Nggak Takut Kena AIDS”, Majalah Hai, HAI no 42/XI, 20-26 Oktober 1987, hal. 24.

baru saja berencana mengeluarkan album malah berhasil menarik perhatian rasa penasaran para pembaca untuk mendengarkan lagu-lagu dari D’Arby. Majalah Hai memberikan gambaran bahwa D’Arby ini memiliki corak vokal gabungan antara Michael Jackson, Stevie Wonder, dan Prince. Majalah Hai juga mengupas tentang tema lirik yang ditulis pada setiap lagu D’Arby, menurut majalah Hai D’Arby sangat peka terhadap isu-isu politik yang terjadi di dunia terutama isu tentang rasialisme yang terjadi di Afrika Selatan. Ketidak sukaannya itu membuat D’Arby meninggalkan Amerika Serikat dan tinggal di Eropa, D’Arby menyatakan bahwa Ia tidak suka dengan Ronald Reagan, menurutnya Reagan tidak jauh berbeda dengan sosok Rambo yang haus akan ke kuasaan.27

Dalam artikel ini, majalah Hai juga mengupas sedikit tentang kehidupan D’Arby sebelum dirinya terjun ke dunia musik. Majalah Hai menyatakan bahwa D’Arby lahir dari keluarga yang sangat taat beragama di Manhattan, New York. Sebelum terjun ke dunia tarik suara D’Arby merupakan seorang petinju amatir, karir D’Arby di dunia olahraga tinju pun tidak begitu buruk, Ia pernah meraih penghargaan sarung tinju emas pada usianya yang baru saja menginjak dua belas tahun.28

Seperti yang digambarkan dalam film Rocky karya dari Sylvester Stallone, olahraga tinju sangat populer di kota New York khususnya district Manhattan. Penggambaran taraf ekonomi yang rendah dan angka kriminal yang tinggi juga

27

Iwan, “Terence Trent D’Arby: Saya Nggak Takut Kena AIDS”, Majalah Hai, HAI no 42/XI, 20-26 Oktober 1987, hal. 26.

28 Ibid.

membuat olahraga tinju sangat menjanjikan bagi siapa saja yang tinggal di district Manhattan dan Bronx.

4. Yngwie Malmsteen

Sosok musisi selanjutnya yang dibahas dalam rubrik istimewa majalah Hai

Dokumen terkait