• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen Disusun Oleh RANI WAHIDRA PUTRI (Halaman 38-145)

Bab ini merupakan penutup dari penelitian yang berisi kesimpulan dan saran. Diakhir penulis memasukan daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

23 BAB II

TINJAUAN TEORIS

Pada bab ini menjelaskan tentang teori yang digunakan dalam penelitian.

Teori yang dipakai adalah teori peran yang menekankan penelitian ini pada peran Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam pemanfaatan pekarangan rumah. Kemudian teori pemberdayaan yang menekankan pada pembinaan sikap dan mental sehingga nantinya bisa menciptakan petani yang mandiri dan terampil pada kelompok.

A. Teori peran

Di dalam KBBI peran adalah sesuatu yang memegang pimpinan yang utama. Teori peran pengembang masyarakat menurut (Jim Ife dan Frank Tesoriero, 2014: 558) adalah mengembangkan kapasitas masyarakat sehingga mampu mengorganisir dan menentukan sendiri berbagai upaya yang dilakukan dalam memperbaiki kehidupan usaha mereka. Teori peran (Role Theory) adalah teori yang merupakan perpaduan antara teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran berawal dari sosiologi dan antropologi (Sarwono, 2013: 215). Dalam ketiga ilmu tersebut, istilah

“peran” diambil dari dunia teater. Dalam teater, seorang aktor harus bermain sebagai seorang tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh ia diharapkan untuk berperilaku secara tertentu. Posisi aktor dalam teater (sandiwara) kemudian dianologikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat. Sebagaimana halnya dalam Kelompok Wanita Tani, posisi orang dalam masyarakat memiliki peran serta tangung jawabnya masing-masing untuk keberhasilan program dalam kelompok tersebut, yaitu bahwa perilaku yang diharapkan daripadanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam kaitan dengan adanya orang-orang lain yang berhubungan dengan orang dalam Kelompok Wanita Tani. Dari sudut pandang inilah disusun teori-teori peran.

Terdapat beberapa interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari seorang auditor yang terjadi sekaligus. Dalam interaksi tersebut, dua kelompok yang berperan sebagai aktor dan target dilibatkan (Gratia, 2014). Beberapa interaksi sosial tersebut antara lain :

24

1. Interaksi sosial antara auditor sebagai karyawan (individu) dengan KAP tempat auditor bekerja (organisasi).

2. Interaksi sosial antara auditor sebagai karyawan (individu) dengan organisasi profesi yang menaunginya, yaitu IAPI (organisasi).

3. Interaksi sosial antara auditor (individu) dengan klien (individu dan/atau organisasi) saat auditor melaksanakan tugasnya.

4. Interaksi sosial antara auditor (individu) dengan rekan kerjanya, atasan, dan dengan bawahannya (individu).

5. Interaksi sosial antara auditor (individu) dengan keluarga dan lingkungan masyarakat (individu dan/atau organisasi)

Melihat banyaknya peran yang harus dijalankan oleh akuntan publik dalam kehidupan sehari-hari, teori peran dapat diterapkan untuk menganalisis setiap hubungan dalam interaksi sosial yang melibatkan auditor. Pada praktiknya, kehidupan nyata seseorang dihadapkan pada berbagai peran yang harus dijalankan (Robbins dan Judge, 2008: 372). Setiap peran yang dijalankan akan menjadi berbeda, bergantung pada lingkungan individu itu berada. Peran individu saat berada dalam lingkungan pekerjaan tentu akan berbeda saat individu tersebut berada dalam lingkungan keluarga, lingkungan religius, atau lingkungan kelompok komunitas.

Peran (Role) adalah aspek dinamis dari kedudukan. Jika individu melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukan maka seorang tersebut menjalankan peranan (Soekanto Soerjono, 2017: 210). Kedudukan dan peran merupakan suatu hal yang berkaitan, keduanya tidak dapat dipisahkan. Setiap orang memiliki macam-macam peran yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya, hal ini menjelaskan bahwa peran menentukan yang diperbuat bagi masyarakat serta kesempatan yang diberikan masyarakat kepadanya. Peran mengatur perilaku seseorang dan menyebabkan batasan terhadap perbuatan orang lain. Hubungan-hubungan sosial yang ada dalam masyarakat merupakan hubungan antar peranan-peranan individu dalam masyarakat yang diatur oleh norma-norma yang berlaku. Sebagai peran normatif dalam hubungannya dengan tugas dan kewajiban dinas perhubungan

25

dalam penegakan hokum mempunyai arti penegakan hokum secara total penegakan hokum secara penuh (Soekanto Soerjono, 2017: 212).

Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status) seseorang apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka orang yang bersangkutan menjalankan suatu peranan (Soekanto Soerjono, 2009: 98). Peranan yang melekat pada diri seseorang dibedakan berdasarkan pergaulan di masyarakat. Posisi seseorang dalam masyarakat (social position) merupakan unsur statis yang menunjukan individu pada suatu organisasi. Peran menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri, dan suatu proses.masyarakat biasanya memberikan fasilitas terhadap seseorang untuk melakukan perannya (role facilities). Lembaga kemasyarakatan banyak menyediakan fasilitas dan peluang untuk melaksanakan peran seseorang.

Status dan peranan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

Maka permasalahan yang terjadi antara status (status conflict) dan peranan (conflict of roles) harus dipisahkan antara individu dan peranannya yang dinamakan dengan roledistance. Permasalahan tersebut timbul karena individu merasa tertekan dan merasa bahwa diriny tidak sesuai untuk melaksanakan peranan yang diberikan oleh suatu lembaga atau masyarakat kepadanya. Setiap peranan bertujuan agar suatu individu yang melaksanakan peranan dengan orang sekitar diatur oleh nilai-nilai sosial yang diterima oleh keduanya.

Menurut Jim Ife dalam Zubaedi (2013: 5) pengembangan masyarakat merupakan sebuah proses restrukturasi masyarakat dengan pola-pola swadaya partisipatif dalam mengelola dan mengorganisasikan kehidupan sosial-ekonomi sehingga memungkinkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dibanding sebelumnya. Pada pengembangan masyarakat, peran pemberdaya tidak hanya difokuskan pada kerja sosial dan bimbingan tetapi membantu individu agar dapat beradaptasi dengan keadaan yang dialami.

Peran pengembangan masyarakat adalah membangun semangat kewarganegaraan dan memperjuangkan upaya mengentaskan kemiskinan bagi masyarakat lapisan bawah.

26

Pengembangan masyarakat difokuskan untuk membantu masyarakat lapis bawah dalam mengendalikan secara mandiri terhadap kehidupannya.

Proses ini menuntut intervensi terhadap proses dan struktur yang memfasilitasi akses dan kendali terhadap sumber daya dan mengembangkan cara berpikir dan mengerjakan sesuatu yang bisa meningkatkan kehidupan masyarakat miskin dan tidak beruntung. Peran pemberdaya adalah membantu masyarakat untuk mengidentifikasi isu dan masalah yang terjadi serta memfasilitasi upaya pemecahan terhadap isu dan masalah tersebut.

Berdasarkan penjelasan tersebut peran pemberdaya mencakup (Zebaedi, 2013: 45) :

a. Penelaah isu-isu, kebutuhan dan masalah pada masyarakat b. Persiapan kebijakan dan rumusan berdasarkan isu

c. Pengembangan dan pemeliharaan sumber daya

d. Pengembangan cara untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya dan pengambilan kebijakan

e. Pengembangan, pemeliharaan dan penilaian program f. Perencanaan strategi

g. Pengembangan, penafsiran dan pelaksanaan kebijakan

h. Pengembangan dan pemeliharaan demokrasi dan partisipori pengambilan keputusan.

i. Pengembangan dan pemeliharaan jaringan

j. Pendekatan dengan berbagai kelomppok masyarakat

k. Pengembangan, peningkatan keterampilan dan pengetahuan dalam organisasi, pengembangan sumber daya dan kesadaran budaya pada masyarakat.

l. Pemberian bantuan kepada masyarakat

Peran pemberdaya dalam pengembangan masyarakat dilakukan dalam kapasitas sebagai pendamping, bukan sebagai problem solver (pihak yang memecahkan masalah). Kegiatan pemberdayaan sebagai pendamping berpusat pada 3P yaitu: pemungkinan (enabling), pendukung (supporting), dan pelindung (protecting).

27

Model pendampingan dalam kegiatan pengembangan masyarakat memiliki keterkaitan dengan proses pemberdayaan masyarakat. Pertama pendamping terdiri atas pemberdaya dan yang kedua kelompok yang didampingi atau yang akan diberdayakan. Hubungan antara pendampingan dan pemberdayaan bersifat setara, timbal balik dan mempunyai tujuan yang sama. Tujuan akhir dari pendampingan adalah terjadinya tranfer kendali kepada masyarakat agar mampu memecahkan masalah-masalah kemiskinan yang diahadapinya secara mandiri dan berkesinambungan.

Dalam masyarakat peran dimaknai sebagai suatu tugas yang diberikan pada sesorang atau kumpulan orang yang bersifat statis. Dengan peran yang berbeda akan menimbulkan tingkah laku yang berbeda juga, akan tetapi tinggah laku tersebut akan berubah sesuai lingkungan dan situasi kondisi seseorang yang menjalankan peranan.

Menurut (Soerjono Soekanto, 2017: 211) dalam menjalankan peranannya seseorang mempunyai beberapa aspek yaitu :

1. Peranan yang meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peran yang dimaksudkan adalah rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat.

2. Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarak sebagai kelompok.

3. Peranan dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

Dalam menjalankan tugasnya masyarakat memberikan fasilitas kepada individu (role facilities) untuk menjalankan peranan. Selain itu lembaga masyarakat juga menyediakan peluang bagi masyarakat untuk melaksanakan peranan. Soerjono Soekanto (2017: 211), membagi unsur-unsur peranan ke dalam empat bagian, yaitu:

a. Aspek dinamis dari kedudukan.

b. Perangkat hak dan kewajiban.

c. Perilaku sosial dari pemegang kedudukan.

28

d. Bagian dari aktivitas yang dimainkan seseorang

Peran memiliki kaitan dengan tugas dan fungsi yang keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam melaksanakan pekerjaannya. Oleh sebab itu peran memiliki beberapa dimensi untuk menjalankan tugas dan fungsinya tersebut yaitu :

1. Peran sebagai suatu kebijakan. Peran ini merupakan suatu kebijaksanaan yang tepat dan baik untuk dilaksanakan.

2. Peran sebagai strategi. Peran ini merupakan suatu strategi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat.

3. Peran sebagai alat komunikasi. Peran ini merupakan instrument atau alat untuk mendapatkan masukan berupa informasi dalam pengambilan keputusan.

4. Peran sebagai alat penyelesaian sengketa. Peran ini digunakan sebagai cara untuk mengurangi dan meredam konflik melalui usaha yang dicapai dari pendapat-pendapat yang ada.

Menurut Marion dalam (Soerjono Soekanto, 2017: 213) macam peranan yang melekat pada individu dalam masyarakat penting bagi hal-hal berikut :

a. Peranan tertentu harus dilakukan apabila struktur masyarakat yang hendak dipertahankan kelangsungannya.

b. Peranan dilekatkan pada individu-individu yang oleh masyarakat dianggap mampu melaksanakannya .

c. Kadangkala dalam masyarakat ditemukan individu-individu yang tidak mampu melaksanakan perannya seperti yang diharapkan oleh masyarakat karena pelaksanaannya memerlukan pengorbanan.

d. Jika semua orang sanggup melaksanakan peranannya maka belum tentu masyarakat dapat memberikan peluang-peluang yang seimbang.

Hubungan antar individu dalam masyarakat dapat berkembang baik jika setiap individu bertindak sesuai dengan keahlian peranan (role skills) dan terhindar dari konflik maupun kerancuan peranannya. Keahlian peranan mengacu pada kewajiban, tugas, dan hal yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok. Dalam hal ini, terdapat tuntutan peranan yang merupakan desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranan

29

yang telah dibebankan kepadanya, dan dikenakan sanksi sosial bila individu tersebut menyimpang dari peranannya. Sementara itu, keterampilan peranan merupakan kemampuan dalam memainkan peranan tertentu yang kadang disebut sebagai kompetensi sosial (social competence).

Adanya berbagai hal dan dinamika yang terdapat di dalam masyarakat, tentunya hal tersebut akan memunculkan peluang masalah bagi penerapan peran di tengah masyarakat (Abu Ahmadi, 2007). Adapun yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah:

1. Adanya kesalahpahaman di antara masing-masing anggota masyarakat.

Kesalahpahaman tersebut dapat disebabkan oleh karena adanya ketidaksadaran seseorang bahwa dirinya diharapkan untuk mengemban suatu peran, selain itu kesalahpahaman tersebut juga dapat muncul karena adanya ketidaktauan terhadap aturan-aturan yang berlaku.

2. Ada banyak peran yang harus dijalankan dalam kehidupan. Semisal, dalam sekali waktu seseorang dituntut untuk melakukan berbagai peran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, yang mana hal tersebut pada akhirnya menimbulkan konflik dalam dirinya.

3. Adanya kebingungan atas peran yang sedang diemban. Hal ini berkaitan dengan bagaimana ketepatan sikap seseorang terhadap peran yang sedang dijalankannya.

Jenis-jenis peran dapat dibedakan menjadi tiga bagian menurut (Soerjono, 2009) yaitu :

a. Peran aktif

Peran aktif yaitu peran seseorang seutuhnya yang selalu aktif dalam tindakan di dalam organisasi. Hal ini dapat dilihat dalam konstribusi seseorang terhadap suatu organisasi.

b. Peran partisipatif

Peran partisipatif yaitu peran yang dilakukan seseorang berdasarkan kebutuhan pada saat tertentu.

c. Peran pasif

30

Peran pasif yaitu peran yang tidak dilaksanakan oleh seseorang.

Peran pasif hanya dipakai sebagai symbol dalam kondisi tertentu di dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Jim Ife & Frank Tesoriero (2008: 471), yang terdapat dalam bukunya yang telah diterjemahkan dengan judul Community Development:

Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Adapun peranan tersebut terbagi menjadi empat golongan yakni:

1. Peranan memfasilitasi (fasilitative roles)

Peran memfalitasi yaitu peran yang berkaitan dengan pemberian motivasi dan kesempatan bagi masyarakat. Peran fasilitasi untuk mendorong terciptanya kondisi mufakat dalam pengambilan keputusan sebuah program dan kegiatan yang sesuai kebutuhan kelompok. Peran fasilitasi dilakukan untuk mendorong kelompok-kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dan pengelolaan usaha secara efisien.

Pekerja sosial menjadi mediasi dalam pemanfaatan lahan dengan suatu pihak agar dapat memperluas aktivitas kerjasama dengan pihak tersebut. Memberikan motivasi yaitu mendukung untuk memperkuat, mengakui dan menghargai nilai yang dimilki oleh individu, kelompok, masyarakat dan menghargai konstribusi pada kerja. Dukungan dapat bersifat formal dan informal dalam membangun kesepakatan dengan pihak untuk melakukan kerjasama dalam pengembangan potensi idividu, kelompok, dan masyarakat dalam meningkatkan produktivitas dan pemasaran hasil produk.

Menurut Jim Ife (1995: 117) peran fasilitator mengandung tujuan utuk memberi motivasi kelompok agar dapat menciptakan perubahan kondisi lingkungan. Tujuan tersebut yaitu:

a. Animasi sosial, bertujuan untuk membangkitkan semangat, kekuatan, kemampuan, dan sasaran yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam suatu kegiatan bersama.

Seorang fasilitator harus memiliki antusiasme untuk menciptakan

31

kegiatan–kegiatan yang telah direncanakan bersama kelompok, Antusiasme ini tercipta dengan komitmen bersama kelompok.

b. Mediasi dan negosiasi, bertujuan untuk meredam dan menyelesaikan konflik internal maupun eksternal yang terjadi pada kelompok.

fasilitator harus bersikap netral dan tidak memihak salah satu kelompok tertentu.

c. Support, bertujuan untuk mmberikan dukungan moril terhadap kelompok yang terlibat dalam struktur organisasi dan dalam setiap kegiatan yang sedang maupun akan dilakukan.

d. Pembangunan consensus, peran ini meliputi upaya-upaya dalam mewujudkan tujuan bersama, mengidentifikasi tujuan bersama dan upaya pemberian bantuan bagi pencapaian kensensus yang dapat diterima oleh semua masyarakat.

e. Memfasilitasi kelompok, peran ini melibatkan peranan faslitatif dengan kelompok sebaagi ketua kelompok atau anggota kelompok.

f. Memanfaatkan sumberdaya dan keterampilan local, peran ini membantu masyarakat dalam mengenal dan memanfaatkan potensi local yang belum dimanfaatkan secara optimal.

g. Pengorganisasian, peran ini mendorng terselenggaranya kegiatan bersama pada masyarakat.

2. Peranan mendidik (educational roles)

Peran mendidik yaitu peran yang berkaitan dengan pengembangan proses belajar bersama penerima manfaatnya, dalam upaya peningkatan wawasan terhadap fokus kegiatan yang dilakukan kepada masyarakat penerima manfaatnya. Peranan mendidik dilakukan dengan peningkatan kesadaran, meberikan informasi, melakukan pelatihan bagi individu atau kelompok dan masyarakat. Pekerja sosial memiliki peranan dalam penentuan agenda sehingga tidak hanya membantu pelaksanaan pada proses peningkatan produktifitas tapi juga berperan aktif memberikan masukan dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan serta pengalaman bagi individu, kelompok, dan masyarakat. Peranan mendidik

32

melibatkan peran aktif dalam proses pelaksanaan kegiatan yang sudah direncanakan bersama kelompok sesuai dengan kebutuhan.

Tugas pembelajaran: memberi masukan berupa nilai, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman kepada masyarakat (Jim Ife, 1995: 117):

a. Peningkatan kesadaran, bertujuan untuk membantu kelompok dalam mengembangkan pandangan tentang suatu alternatif dalam tataran kepentingan personel dan politis.

b. Memberikan informasi, bertujuan untuk memberikan informasi yang relevan pada masyarakat untuk penjajakan kebutuhan, perencanaan, kegiatan pembelajaran, tentang program yang ada di masyarakat.

c. Berhadapan (konfrontasi) dengan pelanggaran prinsipiil, bertujuan untuk bertindak tegas apabila diperlukan terhadap individu atau kelompok masyarakat yang melanggar suatu prinsip kerjasama (misalnya: bersifat rasis, melakukan tindakan merusak lingkungan, penyalahgunaan keuangan program, dsb).

d. Menyelenggarakan pelatihan yaitu melakukan atau menghubungkan dengan pelatih lain untuk kegiatan transfer pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.

3. Peranan representasi (representational roles)

Peran representasi yaitu peran dalam membantu peningkatan pemahaman terhadap konsep tertentu. Diketahui dengan meningkatnya kemampuan dan dapat memecahkan masalah pada masalah tertentu. Pada peranan representasi social worker bekerja sebagai agen untuk perubahan dengan membantu masyarakat untuk menyadari kondisi, mengembangkan relasi untuk dapat bekerja sama dengan pihak lain dan membantu masyarakat membuat suatu perencanaan.

Tugas penghubung: membangun relasi dengan berbagai sumber, pihak dan lembaga yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dampingannya (Jim Ife, 1995: 118):

33

a. Mendapatkan sumber, bertujuan untuk menfasilitasi kerjasama dengan lembaga atau kelompok yang memiliki sumberdaya tertentu yang ada dalam masyarakat dan di luar masyarakat.

b. Advokasi yaitu menghubungkan berbagai kepentingan masyarakat (antar individu, antar kelompok, antar lembaga). Peranan advokasi mewakili kepentingan-kepentingan masyarakat dengan pendapat, dengan pemegang kekuasaan, membentuk perwakilan di pemerintah lokal atau pusat.

c. Menggunakan media, bertujuan untuk memperjelas isu, membantu mendapatkan agenda publik dan mempublikasikan kegiatan, proses, dan capaian, agar menjadi agenda komunitas .

d. Menjadi Humas, bertujuan untuk memahami gambaran-gambaran masyarakat dan mempromosikan gambaran ke dalam konteks yang lebih besar melalui publikasi dengan memberikan informasi mengenai kegiatan, proses dan capaian untuk memperoleh dukungan berbagai pihak.

e. Mengembangkan jaringan yaitu mengembangkan relasi dengan berbagai pihak, kelompok dan berupaya mendorong masyarakat dalam upaya perubahan. Peranan jaringan kerja mengembangkan hubungan dengan berbagai pihak (perorangan, lembaga) untuk mendukung program.

f. Mengembangkan proses pertukaran pengetahuan dan pengalaman, bertujuan melakukan berbagai kegiatan seperti keterlibatan dalam pertemuan formal maupun informal sepertu konferensi, penulisan jurnal, surat kabar, seminar. Peranan ini sebagai fasilitator proses pembelajaran antar pihak baik secara formal maupun informal.

4. Peranan teknis (technical roles).

Peran teknis, yaitu peran yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja seseorang. Menurut Jim Ife (1995: 120) tugas teknis: mengelola langkah-langkah atau tahap-tahap program mulai dari penjajakan kebutuhan sampai ke monitoring-evaluasi

34

a. Mengumpulkan dan menganalisa data, bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisa data serta mempresentasikan dengan baik. Peranan pengumpulan dan analisa data menggunakan metodologi pengkajian untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi bersama masyarakat.

b. Menggunakan computer, berarti mampu menggunakan computer dalam penyusunan proposal, rancangan penelitian, analisa data, penyusunan laporan keuangan, membuat selebaran, spanduk dan surat dengan menggunakan dan mengalihkan kemampuan penguasaan teknologi komputer kepada masyarakat.

c. Melakukan presentasi (tertulis atau lisan) yaitu menyampaikan gagasan kepada masyarakat dampingan dan pihak-pihak lain sehingga mampu mengekspresikan pikiran, tindakan secara langsung dan tulisan.

d. Pengelolaan program yaitu membangun struktur, nilai, prosedur dan mekanisme program yang sesuai dengan prinsip pengembangan masyarakat.

e. Pengelolaan keuangan yaitu pengelolaan (manajemen) keuangan yang sesuai dengan prinsip pengembangan masyarakat.

Selain peran-peran tersebut, pekerjaan sosial harus memahami nilai-nilai yang berkembang di masyarakat dan nilai-nilai-nilai-nilai yang berlaku umum.

Pumhrey (1961) menjelaskan tingkatan nilai-nilai sebagai berikut:

1. Nilai-nilai abstrak seperti demokrasi, keadilan, persamaa, kebebasan, kedamaian dan kemajuan sosial, perwujudan diri dan penentuan diri.

2. Nilai-nilai tingkat menengah seperti kualitas keberfungsian manusia/pribadi, keluarga yang baik, pertumbuhan, peningkatan kelompok dan masyarakat yang baik.

3. Nilai-nilai tingkat ketiga merupakan nilai-nilai instrumental atau operasional yang mengacu kepada ciri-ciri perilaku dari lembaga sosial yang baik, pemerintahan yang baik dan orang profesional yang baik.

Misalnya: dapat dipercaya, jujur dan memiliki disiplin diri.

35

Dalam menjalankan profesinya seorang pekerjaan wajib menjunjung tinggi Kode Etik Profesi antara lain sebagai berikut:

1. Mengutamakan tanggung jawab untuk melayani kesejahteraan individu atau kelompok, yang meliputi kegiatan perbaikan kondisi-kondisi sosial.

2. Mendahulukan tanggung jawab profesi ketimbang kepentingan-kepentingan pribadi.

3. Pekerjaan sosial tidak membedakan latar belakang keturunan, warna kulit, agama, umur, jenis kelamin, warganegara serta memberikan pelayanan dalam tugas-tugas serta dalam praktek-praktek kerja.

4. Pekerjaan sosial melaksanakan tanggung jawab demi mutu dan keluasan pelayanan yang diberikan.

5. Menghargai dan mempermudah partisipasi kelayan.

6. Mengahrgai martabat dan hargadiri kelayan.

7. Menerima kelayan apa adanya.

8. Menerima dan memahami bahwa setiap orang itu adalah unik.

9. Tidak menghakimi sikap kelayan.

10. Memahami apa yang dirasakan orang lain/empati.

11. Menjaga kerahasian kelayan.

12. Tidak mengahdiahi kelayan dan tidak pula menghakimi

13. Pekerja sosial harus sadar akan keterbatan-keterbatasan yang dimilikinya.

B. Teori Pemberdayaan

Pemberdayaan secara bahasa adalah proses, cara, perbuatan membuat berdaya yaitu kemampuan untuk melakukan sesuatu atau kemampuan betindak hal yang berupa akal, ikhtiar atau upaya (Depdiknas, 2003). Menurut Jim Ife, Pemberdayaan yaitu memberikan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan kepada warga untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menentukan masa depannya sendiri dan berpartisipasi dalam dan mempengaruhi kehidupan dari masyarakatnya (Jim Ife dalam Zubaedi 2013: 5).

36

Secara konseptual, pemberdayaan atau pemerkuasaan (empowerment) berasal dari kata “power” (kekuasaan atau keberdayaan). Karena ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan kemampuan untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka (Edi Suharto, 2005: 58). Pemberdayaan menurut (Suhendra, 2006: 75) adalah

“suatu kegiatan yang berkesinambungan dinamis secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi yang ada secara evolutifdengan keterlibatan semua potensi”. Selanjutnya pemberdayaan menurut Jim Ife (dari buku Suhendra, 2006: 77) adalah “meningkatkan kekuasaan atas mereka yangkurang beruntung (empowerment aims to increase the power of disadvantage)”.

Menurut Wuradji yang dikutip oleh (Azis Muslim pemberdayaan adalah sebuah proses penyadaran masyarakat yang dilakukan secara transformatif, partisipatif, dan berkesinambungan melalui peningkatan kemampuan dalam menangani berbagai persoalan dasar yang dihadapi dan meningkatkan kondisihidup sesuai dengan harapanMenurut Wuradji yang dikutip oleh (Azis Muslim pemberdayaan adalah sebuah proses penyadaran masyarakat yang dilakukan secara transformatif, partisipatif, dan berkesinambungan melalui peningkatan kemampuan dalam menangani berbagai persoalan dasar yang dihadapi dan meningkatkan kondisihidup sesuai dengan harapan.

Dari beberapa definisi pemberdayaan dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan merupakan suatu usaha atau upaya yang dilakukan dalam rangka mengembangkan kemampuan dan kemandirian individu atau masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Masyarakat dapat tahu potensi dan permasalahan yang dihadapinya dan mampu menyelesaikannya (Tantan Hermansyah dkk, 2009: 31).

Berbagai definisi permberdayaan menurut para ahli diatas dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menganalisa konsep pemberdayaan masyarakat Islam. Islam adalah agama yang sempurna, Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam juga

Berbagai definisi permberdayaan menurut para ahli diatas dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menganalisa konsep pemberdayaan masyarakat Islam. Islam adalah agama yang sempurna, Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam juga

Dalam dokumen Disusun Oleh RANI WAHIDRA PUTRI (Halaman 38-145)

Dokumen terkait