BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Implementasi Metode Ummi dalam Pembelajaran membaca Al
M selaku Kepala Sekolah, menuturkan terkait metode yang sekarang digunakan dalam pembelajaran membaca Al Quran pada SMP IT Izzatul Islam.
“Kita kerjasama dengan ummi foundation dari surabaya, sebelumnya kita siapkan selama hampir 6 bulan sebelumnya dengan kafaah dari masing-masing SDM dan memiliki latar belakang pendidikan Al Qur’an begitu. Alhamdulillah berjalan, sekaligus ada monitoring dari ummi foudetion untuk penjagaan kualitas mutu membaca anak-anak begitu”(wawancara, M. 12/05/2016)
Selanjutnya senada dengan pendapat DP selaku guru pengampu metode ummi, menuturkan terkait metode yang sekarang digunakan dalam pembelajaran membaca Al Quran pada SMP IT Izzatul Islam.
“Menurut kami metode ummi secara sistem lebih baik, karena ketika kita ingin menerapkan metode ummi di sekolah kami, kemudian langsung dibimbing dan dilatih yang memiliki metode ini, sebelum kita menerapkan terlebih dahulu para guru Al Qur’an sekolah singkat yang diadakan dari ummi fondetion surabaya.
Jadi kita ditahsin terlebih dahulu tentang kualitas bacaan Al Qur’annya, kemudian kita diajarkan bagaimana pembelajaran dan tahapan-tahapannya ummi, baru kemudian kalau kita dinyatakan lulus (sertifikasi guru Al Qur’an dari ummi fondetion) boleh mengajarkan, sedangan buku-buku bacaannya tidak dijual dipasaran.
Jadi hanya lembaga-lembaga yang memang sudah mejalin kerjasama dengan metode ummi yang hanya bisa menerapkan metode ini, tidak semua lembaga serta merta menggunakan metode ini”(wawancara, DP. 12/05/2016)
Hal senada menurut IA selaku guru pengampu metode ummi, menuturkan terkait metode yang sekarang digunakan dalam pembelajaran membaca Al Quran pada SMP IT Izzatul Islam.
“Menurut saya sendiri metode tersebut memang sangat efektif karena ada kerja sama dari dua belah pihak baik dari ummi foudetion sendiri dengan kita. Sana juga senantiasa memantau setiap kurang lebih 3 bulan sekali mereka datang untuk merevisi dan melakukan pengawalan sampai benar-benar tuntas sampai siswa siswi kita ini lulus dari tahap pembelajaran tersebut”(wawancara, IA. 12/05/2016).
Untuk memperjelas tentang metode ummi, penulis bertanya kepada Mtentang tanggapan beliau mengenai metode ummi yang sekarang diterapkan dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada SMP IT Izzatul Islam.
“Kita sangat optimis begitu dengan metode ini. Rasanya akan lebih baik, karena melalui pengkajian (melalui seleksi guru) begitu, karena di ummi foundetion kan ada sertifikasi atau guru-guru pengampu sertifikasi artinya ada standar mutu yang diberikan (standar milimal) yang harus dipenuhi oleh seorang pengajar ummi begitu. insyaAllah kita sudah memiliki SDM yang berstandarkan itu”(wawancara, M. 12/05/2016).
Senada dengan DP tentang tanggapan beliau mengenai metode ummi yang sekarang diterapkan dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada SMP IT Izzatul Islam.
“Jadi metode ummi sebenarnya sama dengan metode-metode lainnya dibagi beberapa jilid, hanya saja untuk pengajarannya itu kami dilatih langsung bagaiamana mengajarkannya jilid per jilid, bahkan tidak hanya itu setiap 3 bulan sekali tim dari ummi fondetion surabaya dari pusat itu berkunjung dua hari karena akan melihat langsung bagaimana pembelajaran ummi diterapkan di sekolah tersebut.
Mungkin bahkan akan meningkat karena 3 bulan sekali kita evaluasi juga tambahan ditekankan kembali hal-hal yang kurang dari kami, tentang bacaanya yang kurang kuat, makhorijul huruf yang harus dilatih ditrampilkan lagi supaya mendekati yang terbaik.
Kemudian pengajaran ummi itu minimal setiap 1 minggu 3-4 kali pertemuan, mau tidak mau kalau menggunakan ummi dari pusat memberikan syarat harus terpenuhi, setiap kali pertemuan minimal 60 menit. Alhamdulillah kalau di sekolah kita sudah terpenuhi satu kali pertemuan justru 70 menit, jadi standar minimal terpenuhi”(wawancara, DP. 12/05/2016).
Hal senada menurut WRF, RMA, MEP, dan SA sebagai siswa tentang tanggapan mereka mengenai metode ummi yang sekarang
diterapkan dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada SMP IT Izzatul Islam.
“ini sangat bagus karena meningkatkan membaca Al Qur’an, menambah hafalan, dan juga tajwidnya bisa benar”(wawancara, WRF, RMA, MEP, SA. 12/05/2016).
Hal senada menurut WRF, RMA, MEP, dan SA sebagai siswa-siswi, dan tentang tanggapan mereka mengenai metode ummi yang sekarang diterapkan dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada SMP IT Izzatul Islam.
“Biasanya kita diulang oleh guru kita sampai ghorib (misalnya ana dibaca pendek tapi tulisannya panjang) gitu. Sekarang metodenya mudah dipahami,bacaanya lebih baik, mudah dimengerti panjang pendeknya, mendengung atau tidak, memakai nada ummi. Menggunakan metode ummi dari Surabaya”(wawancara, WRF, RMA, MEP, dan SA. 12/05/2016).
Selanjutnya, penulis juga menanyakan kepada M, bagaimana persiapan guru sebelum pembelajaran membaca Al Qur’an dengan metode ummi.
“Jadi ini kita kan ada semacam training begitu kan berkala. Kita awalnya pelatihan baca begitu, kemudian untuk mendapatkan sertifikasi (menurut kami satandar yang baguslah begitulah). Jadi persiapannya guru-guru sudah kami siapkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan mengajar, sesuai dengan seleksi begitu. Memang ada disana kan ada pertama seleksi kemampuan baca tulisnya, kemudian penguasaan bacaaanya, kemudian ada metode pengajarannya” (wawancara, M. 12/05/2016).
Senada dengan DP mengenai bagaimana persiapan guru sebelum pembelajaran membaca Al Qur’an dengan metode ummi
Al Qur’annya. Nanti memulainya tidak sama, yang dilid tinggi dari tinggi yang jilid rendah dari awal. Setelah kami menerapkan metode ummi ini kurang lebih satu tahun berjalan, alhamdulillah menurut kami ada hasil yang cukup memuaskan, disamping kualitas bacaan gurunya lebih bagus juga ternyata setelah pembelajaran ummi ini kualitas bacaan anak-anak juga lebih bagus, karena ummi ini pembelajarannya juga menggunakan nada, nadanya ada dua: ayat ganjil rendah ayat genap tinggi
Persiapan secara umum biasa kita dengan alat peraga, di ummi itu ada nama alat peraga pembelajaran selain buku pelajaran. Sebenarnya metodenya banyak ya di ummi itu, ada metode baca simak, jadi kan ada 1 siswa dedang membaca yang lain mungkin sibuk sendiri, kalau di ummi tidak, metodenya adalah baca simak 1 siswa membaca yang lain menyimak seperti itu, jadi menit pertama sampai menit terahir tidak ada siswa yang punya aktifitas sendiri semua fokus pada pembelajaran baca simak, jadi meskipun 1 anak mendapat 2 baris tetapi dia juga ikut menyimak sama saja mengulang-ngulang banyak yang dibaca.
(wawancara, DP. 12/05/2016).
Hal senada dengan IA mengenai bagaimana persiapan guru sebelum pembelajaran membaca Al Qur’an dengan metode ummi.
“Untuk persiapannya guru harus lulus tahsin dulu artinya sebelum mereka mengajarkan Al Qur’an siswa siswi harus melalui tahap tahsin yaitu (pembetulan/perbaikan bacaan) dan tashih (tes kelulusan/diobati penyakitnya) bahasa gampangnya seperti itu.
Mengikuti program sertifikasi dari ummi foundetion syaratnya harus sudah lulus jilid 6 dan juga ghorib tajwid (bacaan-bacan aneh yang terdapat dalam Al Qur’an misal dalam surat Yusuf, Ar-Rad bismillahi majreha), baru mereka boleh mengajarkan kepada anak-anak, kemudian dalam mengajarkanpun sebelum masuk kelas mereka membawa perlengkapan administrasi (buku, lembar nilai dll), mungkin tadi sudah dijelaskan ustad Dwi yang di buku modul”(wawancara, IA. 12/05/2016).
Untuk memperjelas proses metode ummi, Penulis menanyakan kepada M mengenai bagaimana proses metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an dengan di kelas.
“Jadi kalau dikelas kan memang ada beberapa seksi oleh para ustad disana misalnya guru menyampaiakan ada apersepsi begitu, pengenalan terhadap topik, ujian adab, membaca secara bersama-sama, model baca simak secara kelompok dan pribadi begitu.
Dan itu kan modelnya cukup berbeda dengan yang lain. Baca simak itu satu membaca yang lain menyimak secara bergantian. Jadi harapannya anak-anak bisa belajar kedua-duanya, artinya belajar membaca kemudian belajar juga menyimak ketika yang lain membaca artinya dua kali belajar dalam waktu yang sama”(wawancara, M. 12/05/2016).
Senada dengan DP,mengenai bagaimana proses metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an dengan di kelas.
“Rasio 1 guru itu maksimal 15 siswa maka dalam pembelajaran Al Qur’an itu ada tuju tahapan: pembuka, apersepsi, menanaman konsep, pemahaman konsep, ketrampilan, evaluasi, penutup. Jadi itu proses pembelajaran Al Qur’an 3 kali pertemuan, 1 pertemuan 70 menit”(wawancara, DP. 12/05/2016).
Hal senada dengan IA,mengenai bagaimana proses metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an dengan di kelas.
“Ada tahapan-tahapannya yaitu ada 7: pembukaan (5 menit), apersepsi/penanaman konsep (10 menit), pemahaman konsep/latihan (30menit), evaluasi (10menit), dan penutup (5menit). Itu waktunya adalah standarnya 60 menit. Dimulai dari jenjang yaitu tahsih itu dipetakan”(wawancara, IA. 12/05/2016).
Senada dengan WRF, RMA, MEP, dan SA, mengenai bagaimana proses metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an dengan di kelas.
“Dari salam berdoa bareng-bareng, menirukan guru, pakai alat peraga itu, baca buku ummi satu-satu, menyimak yang lain, tilawah Al Qur’an” (wawancara, WRF, RMA, MEP, dan SA. 12/05/2016).
Hal senada dengan MZA, SI, FZ dan YS mengenai bagaimana proses metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an dengan di kelas.
“Salam, menyapa anak-anaknya, alat peraga ditujuk satu-satu, guru membaca dulu baru diikuti, baca Al Qur’annya bareng-bareng baru satu-satu. Yang lain nyimak pas baca satu-satu. Menghafal surat sebelum membaca sendiri-sendiri. alat peraga digunakan diahir kalau ada yang belum lancar diulangi lagi” (wawancara, MZA, SI, FZ dan YS. 12/05/2016).
Penulis juga menanyakan tentang kepada M, bagaimana evaluasi yang dilakukan terkait dengan dengan metode ummi dalam pembelajaran dalam membaca Al Qur’an.
“Jadi guru-guru kita sudah diajari dari pihak tim dari ummi foudetion begitu, instruktur untuk cara mengajarnya, cara mengevaluasi, dan bahkan sampai pendampingan anak-anak begitu”(wawancara, M. 12/05/2016).
Senada dengan DP, bagaimana evaluasi yang dilakukan terkait dengan dengan metode ummi dalam pembelajaran dalam membaca Al Qur’an
“Evaluasi,anak-anak membaca kita menilai, bacaan benar nilai A+, salah 1 B+, salah 2 B, salah 3 B-, salah 4 lebih dari itu C+,C- membacanya diulangi sampai benar”(wawancara, DP. 12/05/2016).
Hal senada juga dituturkan IA,bagaimana evaluasi yang dilakukan terkait dengan dengan metode ummi dalam pembelajaran dalam membaca Al Qur’an
“Evaluasinya dilakukan setiap hari itu untuk bacaan perlembarnya kalau dia ketika membaca salah 1x 2x boleh lanjut, salah 3x mengulang hari itu juga yang salah saja, salah
Jika ternyata salah satu kelompok itu yang dibaca dihalaman yang sama semuanya dan dia sudah mencapai jilid 2 bisa dilaksanakan baca simak murni (semua membuka halaman yang sama). Jilid sama halaman berbeda (baca simak tidak murni)”(wawancara, IA. 12/05/2016).
b. Faktor-faktor pendukung dan penghambat metode ummi dalam pembelajaran Al Qur’an Izzatul Islam Getasan.
Selanjutnya penulis menanyakan kepada M tentang faktor-faktor penghambat dan pendukung metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada SMP IT Izzatul Islam.
“Yang menghambat sebenarnya sadar anak-anak memiliki besik baca Al Qur’an yang berbeda-beda, ada yang dari SD Negeri, dari SD IT ada yang dari MI dan lain sebagainya, begitu pasti kan kemampuan anak-anak berfareasi.Kemudian ya mungkin ada sarana dan prasarana misalnnya kurang, tapi Alhamdulillah ahir-ahir ini terpenuhi begitu.
Kemudian pendukungnya kita cukup yakin dengan SDM yang tersertifikasi ini. Dengan standar SDM yang menurut dari ummi foundtion dalam katagori baik begitu, kita cukup yakin. kemudian kita mengsikapi misalnya ada pembagian pengelompokan anak sesuai dengan kemampuannya begitu.
Misalnya ada kemampuan yang cukup dalam kategori kurang begitu. Akan kita bagi sesuai dengan kemampuannya, harapannya anak-anak bisa terlayani sesuai dengan kemampuannya begtu. Alhamdulillah kita ini kan kerjasama yang berkelanjutan artinya tidak dilepas begitu saja, artinya begini jadi memang kita awalnya ada pelatihan terus sampai ke tingkat terlayak mengajar ahirnya kan sambil dimonitoring begitu, jadi ada evaluasi ini kekurangannya apa begitu.
Apa yang harus kita lakukan dan Alhamdulillah barusan kemarin hari selasa rabu kita ada pendampingan dari ummi foundetion secara periodik itu dan itu terukur artinya kemampuan guru juga ter upgreat setiap saat.
Model sertifikat ummi tidak berlaku selamanya, jadi sertifikat yang diberikan dari ummi selama 3 tahun kita akan ditinjau ulang dari perkembangan lebih baik maupun kurang. Misal kurang kan ada kesempatan untuk mengevaluasi dan membenahi begitu” (wawancara, M. 12/05/2016).
Senada dengan DP, apa saja fakor penghambat dan pendukung metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada SMP IT Izzatul Islam
“Kalau penghambatnya: kualitas menyerap anak itu berbeda-beda sehingga menjadi tantangan tersendiri, kadang ada temannya yang satu dua kali bisa, ada yang masih menemukan kesulitan. Karena sebelum mereka menggunakan pembelajaran ummi sudah nyantol biasanya ‘a dibaca nga, qo harus nyekluk.Kadang kita membenarkan kemampuan anak yang keliru yang dulu membacanya terputus-putus, bacaan yang dulu masih banyak yang keliru.
Pendukungnya, ummi punya sistem yang bagus sehingga kualitas bacaan kita akan tergaja dan bisa lebuh meningkat dari gurunya entah dari pengajarannya kerena didukung sistem yang ada di ummi, monitoring 3 bulan sekali.
Ustadnya sudah lulus sertifikasi, kemudian juga gurunya itu disela-sela waktu tahsin mandiri (membaca Al Qur’an sendiri) dalam rangka menjaga kualitas membaca gurunya. Sudah membaca terus tidak membaca akan menurun kualitasnya.
Monitoring (untuk menjaga kualitas guru), sistem yang ada di ummi, motivasi siswa membaca Qur’an, karena banyak memilih SMP IT belajar tentang agama salah satunya kualitas membaca Al Qur’an yang bagus, masukan dari wali/orang tua bacaan Qur’annya makin bagus, ada alat peraga salah satu daya dukung”. (wawancara, DP. 12/05/2016).
Hal senada dengan IA, apa saja fakor penghambat dan pendukung metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada SMP IT Izzatul Islam.
“Penghambatnya kita, daya anak yang berbeda-beda cukup memperlambat perkembangan, kekurangan tenaga pendidik (guru Al Qur’an masih kurang) untuk bisa melaksanakan mengajar metode ummi punya sertifikat. Untuk pendukungnya kita didukung penuh oleh yayasan, orang tua (mau membiayayai anaknya untuk membeli buku dan lain sebagainya), untuk saat ini peralatan cukup memadai.
Pendukungnya setiap siswa wajib memiliki buku pegangan dan alat peraga sudah mencukupi semuanya, waktunyapun kita sudah bisa mengalokasikan 1 pekan sudah memenuhi syarat 1 kali tatap muka”. (wawancara, IA. 12/05/2016).
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Implementasi Metode Ummi dalam Pembelajaran membaca Al
Qur’an pada Siswa SMP IT Izzatul Islam Getasan.
Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan di lapangan. Penulis dapat menyimpulkan tentang implementasi metode ummi dalam pembelajaran membaca Al Qur’an pada siswa SMP IT Izzatul Islam. Pada dasarnya pelaksanaan kegiatan belajar mengajar membaca Al Qur’an dengan menggunakan metode ummi berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Sebelum metode ummi diberlakukan di sekolah, para guru Al Qur’an sudah mendapatkan pelatihan dari tim ummi Surabaya. Seperti yang dituturkan oleh kepala sekolah:
“Kita kerjasama dengan ummi foundation dari Surabaya, sebelumnya kita siapkan selama hampir 6 bulan sebelumnya dengan kafaah dari masing-masing SDM dan memiliki latar belakang pendidikan Al Qur’an begitu, Alhamdulillah berjalan sekaligus ada monitoring dari ummi foudetion untuk penjagaan kualitas mutu membaca anak-anak begitu”.(wawancara, M. 12/05/2016).
Secara tidak langsung apa yang disampaikan oleh kepala sekolah merupakan langkah awal untuk mensukseskan pembelajaran membaca Al Qur’an, karena sukses tidaknya implementasi metode ummi tergantung dari pemahaman guru tentang metode ummi tersebut, sehingga diharapkan setelah mendapatkan pelatihan tersebut kualitas standar mutu guru dalam mengajar membaca Al Qur’an semakin baik.
Lebih lanjut kepala sekolah menambahkan persiapan guru sangat mempengaruhi keberhasilan implementasi metode ummi :
“Jadi ini kita kan ada semacam training begitu kan berkala. Kita awalnya pelatihan baca begitu, kemudian untuk mendapatkan sertifikasi (menurut kami satandar yang baguslah begitulah). Jadi persiapannya guru-guru sudah kami siapkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan mengajar sesuai dengan seleksi begitu, memang ada disana kan ada pertama seleksi kemampuan baca tulisnya, kemudian penguasaan bacaaanya, kemudian ada metode pengajarannya”.
(wawancara, M. 12/05/2016).
Selain itu juga berdasarkan pengamatan penulis dalam proses pembelajaran bahwa implementasi proses pembelajaran Al Qu’an di kelas VII dan VIII berjalan dengan baik dan lancar. Karena semua elemen di sekolahan sudah baik dari segi fisik, non fisik, maupun sumber daya manusia yang ada.