Pada bab ini diuraikan simpulan umum atas capaian kinerja Inspektorat Jenderal KESDM tahun 2016 serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
2.1. VISI INSPEKTORAT JENDERAL
Visi Pembangunan Nasional untuk tahun 2015 - 2019 adalah
“Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.
Dengan memperhatikan visi pemerintah tersebut dan mempertimbangkan kondisi umum dan permasalahan Inspektorat Jenderal KESDM, maka Visi Inspektorat Jenderal KESDM adalah:
“Menjadi Unit Pengawas Internal yang Profesional dan Berintegritas untuk Mendukung Terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, Bersih,
Transparan Dan Akuntabel di Lingkungan KESDM”
Dengan visi tersebut akan memberikan inspirasi merubah perilaku dan tekad bersama dari aparat Inspektorat Jenderal untuk dapat menjadi teladan dan mampu berperan dalam mencegah dan pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme bersih serta menjadikan Unit Pengawas Internal yang profesional dan berintegritas.
2.2. MISI INSPEKTORAT JENDERAL
Untuk mencapai misi tersebut Inspektorat Jenderal mengemban misi yang harus dilaksanakan yaitu :
1. Mewujudkan Pengawasan Internal secara Profesional dan Independen;
2. Mewujudkan Penerapan Sistem Pengawasan Intern Pemerintah di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;
3. Mewujudkan pengelolaan tugas dan fungsi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dilakukan secara efektif dan efisien serta patuh terhadap peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan Misi tersebut lahirlah Sasaran Target Kinerja Inspektorat Jenderal yakni:
1. Mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang profesional dan independen;
2. Mengimplementasikan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah pada setiap jenjang organisasi di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; 3. Terwujudnya Good and Clean Government;
4. Mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi di Lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
2.3 PERJANJIAN KINERJA INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016
Tabel 2.1
Sasaran Target Kinerja Inspektorat Jenderal Tahun 2016
Sasaran Indikator Kinerja Utama Target 2016
Mewujudkan Aparat
Pengawas Internal
Pemerintah yang profesional dan independen
Level Internal Audit - Capability
Model (IA-CM) Level 2
Persentase pegawai yang mengikuti pengembangan kompetensi pegawai paling sedikit 35 (tiga puluh lima) jam per tahun
60%
Mengimplementasikan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah pada setiap jenjang organisasi di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jumlah Unit Utama, Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribuasian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional yang memperoleh Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dengan predikat A
2 Unit
Jumlah Unit Utama, Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribuasian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional yang telah memiliki Peta Risiko
Sasaran Indikator Kinerja Utama Target 2016
Terwujudnya Good and Clean Government
Opini Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
WTP
Presentase Penyelesaian Tindak
Lanjut Hasil Pengawasan 45%
Mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi di Lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jumlah Satuan Kerja yang telah memperoleh Wilayah Bebas Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani
2/0 Satker
Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang profesional dan independen merupakan salah satu sasaran yang ditetapkan Inspektorat Jenderal KESDM yang selaras dengan misi yang telah ditetapkan.
Untuk melihat apakah peran tersebut telah diterapkan pada pelaksanaan pengawasan intern oleh APIP, perlu adanya alat yang dapat melihat kondisi dimaksud. Oleh karena itu perlu juga disusun model peningkatan kapasitas (capacity building)/road map peningkatan kapabilitas yang sesuai dengan kondisi setiap APIP. Inspektorat Jenderal menggunakan indikator Peningkatan Level Internal Audit -Capability Model (IA-CM) serta Persentase Pegawai yang Mengikuti Pengembangan Kompetensi Minimal 35 Jam per Tahun.
Internal Audit Capability Model (IA-CM) merupakan suatu model yang bersifat universal yang didesain untuk membangun internal audit yang efektif dan profesional di sektor publik dan sebagai road map bagi perbaikan kapabilitas secara bertahap. Target level 2 yang ditetapkan menuntut Inspektorat Jenderal KESDM menjadi profesional dan independen sehingga telah mampu untuk menjamin proses tata kelola sesuai dengan peraturan dan telah mampu mendeteksi terjadinya korupsi.
Sasaran 1
Mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang
Profesional dan Independen
Sedangan Persentase Pegawai yang Mengikuti Pengembangan Kompetensi Minimal 35 Jam per Tahun dengan target 60% digunakan untuk memastikan telah ada pengembangan profesi pengawasan untuk individu APIP sehingga dapat memenuhi tuntutan untuk selalu bersikap profesional.
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah Proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Hal ini searah dengan misi Inspektorat Jenderal sebagai unit pengawas intern di lingkungan Kementerian ESDM.
Untuk melihat apakah sasaran tersebut telah berjalan kami menggunakan indikator berupa Jumlah Unit Utama yang memperoleh Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Jumlah Unit Utama yang telah memiliki Peta Resiko.
Gambar 2.1
Gambar 2.1
Sasaran 2
Mengimplementasikan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
pada Setiap Jenjang Organisasi di Lingkungan Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral
Peta Resiko yang ditargetkan pada 2 Unit Utama sangat berguna dalam proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian risiko yang dapat mengancam Organisasi Kerja. Fokus manajemen risiko ini adalah mengenal risiko dan mengambil tindakan yang tepat terhadap risiko, yang tujuannya adalah secara terus menerus menciptakan atau menambah nilai maksimum kepada semua kegiatan organisas Sistem manajemen pemerintahan berfokus pada peningkatan akuntabilitas dan sekaligus peningkatan kinerja berorientasi pada hasil (outcome) yang dikenal sebagai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Sistem AKIP). Dalam rangka pemantauan kinerja maka dilakukan evaluasi agar diperoleh umpan balik yang obyektif sehingga berdampak pada perbaikan akuntabilitas dan kinerja instansi pemerintah, maka Inspektorat Jenderal KESDM menggunakan Nilai A (Memuaskan) pada Penilaian AKIP untuk membuktikan apakah suatu manajemen pemerintah tersebut telah dilaksanakan dan diimplementasikan dengan baik, dengan menargetkan pencampaian pada 2 Unit Utama.
Good and Clean Government merupakan pemerintah yang taat azas, tidak ada penyelewengan dan penyalahgunaan wewenang serta efisien, efektif, hemat dan bebas KKN. Tujuan akhir dari Good and clean government adalah terwujudnya Good Governance. Good Governance pada umumnya diartikan sebagai pengelolaan pemerintahan yang baik. Kata ‘baik’ disini dimaksudkan sebagai mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Good Governance.
Inspektorat Jenderal memilih sasaran tersebut selain karena penjabaran dari misi itnspektorat sendiri yaitu pengelolaan tugas dan fungsi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dilakukan secara efektif dan efisien serta patuh terhadap peraturan perundang-undangan.
Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran tersebut adalah Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Kementerian Energi dan
Sasaran 3
Sumber Daya Mineral dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dan Persentase Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Pengawasan sejumlah 45%.
Opini Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dengan hasil Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dijadikan indikator karena Opini BPK merupakan pernyataan pendapat pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan. Kewajaran terhadap Laporan Kuangan tersebut merupakan salah satu indikasi apakah pengelolaan keuangan telah mencerminkan penyelengaraan pemerintahan secara Good and Clean Government.
Dalam upaya menegakkan fungsi pengawasan, tindak lanjut laporan hasil pengawasan menjadi sangat penting karena berhasil atau tidaknya pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dapat diketahui dari tingkat kepatuhan Unit dalam melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan, maka dibuatlah indikator Persentase Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Pengawasan sebanyak 45% untuk dapat menggambarkan berjalannya proses kegiatan pengawasan tersebut.
Mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi di Lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merupakan sasaran yang diturunkan dari misi Inspektorat Jenderal yaitu mewujudkan pengelolaan tugas dan fungsi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dilakukan secara efektif dan efisien serta patuh terhadap peraturan perundang-undangan.
Apabila seluruh kegiatan dalam lingkup Kementerian dilakukan dengan patuh kepada peraturan perundang-undangan maka Inspektorat Jenderal KESDM dapat dikatakan telah berhasil dalam menjalankan fungsinya sebagai aparat pengawas intern.
Sasaran 4
Mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi di Lingkungan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Indikator yang digunakan untuk mengukur sasaran tersebut adalah 2 Unit Kerja yang telah memperoleh Wilayah Bebas Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani. Dalam salah satu Komponen hasil untuk menilai suatu unit dapat dikatakan berhasil meraih predikat tersebut berupa terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN serta terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Sehingga Inspektorat Jenderal menggunakan indikator tersebut untuk mengukur sasaran mewujudkan wilayah bebas korupsi di lingkungan Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral.
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
3.1 CAPAIAN KINERJA
Pengukuran capaian kinerja adalah kegiatan membandingkan tingkat kinerja yang dicapai dengan standar, rencana, atau target dengan menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Proses ini lebih lanjut dimaksudkan untuk menilai pencapaian setiap indikator kinerja guna memberikan gambaran tentang keberhasilan dan kegagalan pencapaian program dan kegiatan organisasi.
Sesuai dengan amanat yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, pengungkapan informasi kinerja saat ini relevan dengan perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang ditetapkan dengan mengidentifikasikan secara jelas keluaran (output) dari setiap kegiatan dan hasil (outcome) dari setiap program.
Dengan perubahan paradigma tersebut, maka pengukuran kinerja yang menjadi bagian dari Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah sebagaimana disebutkan di atas setidaknya mencakup perkembangan keluaran dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masing-masing masing-masing program sebagaimana ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja yang menjadi tolak ukur keberhasilan organisasi.
Tabel 4.1 Capaian Kinerja
Sasaran Indikator Kinerja Utama Target 2016 Realisasi 2016 Mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang profesinal dan independent
Level Internal Audit - Capability Model
(IA-CM)
Level 2 Level 3
Persentase pegawai yang mengikuti pengembangan kompetensi pegawai paling sedikit 35 (tigapuluh lima) jam per tahun
60% 60,4%
Mengimplementasikan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah pada setiap jenjang organisasi di lingkungan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jumlah Unit Utama, Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribuasian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional yang memperoleh Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dengan predikat A
2 Unit 5 Unit
Jumlah Unit Utama, Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribuasian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional yang telah memiliki Peta Risiko
2 Unit 11 Unit
Terwujudnya Good
and Clean
Government
Opini Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
WTP WDP
Presentase Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Pengawasan
Mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi di Lingkungan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jumlah Satuan Kerja yang telah memperoleh Wilayah Bebas Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani
2/0 Satker 0/0 Satker
3.2 ANALISI CAPAIAN
Analisa capaian kinerja Inspektorat Jenderal adalah sebagai berikut:
Keberhasilan pencapaian sasaran ini diukur melalui pencapaian indikator kinerja, target, realisasi dan capaian sebagaimana tercantum dalam tabel 4.2.
Tabel 4.2
Sasaran mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang Profesional dan Independen
GAMBARAN HASIL KINERJA
Sebagai APIP, berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2008 Pasal 11 Inspektorat Jenderal KESDM dengan mayoritas pegawai sebagai auditor mempunyai beberapa peran, diantaranya (1) memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan
Sasaran Indikator Kinerja Utama
Target Realisasi 2016 2016
Mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang Profesional dan Independen
Peningkatan Level Internal
Audit-Capability Model
(IA-CM)
Level 2 Level 3
Sasaran 1
Mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang Profesional dan Independen dengan Indikator Kinerja Utama Peningkatan Level Internal
dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah (anti corruption activities); dan (3) memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah (consulting activities).
Untuk melihat apakah peran tersebut telah diterapkan pada pelaksanaan pengawasan intern oleh APIP, perlu adanya tools yang dapat melihat kondisi dimaksud. Oleh karena itu perlu juga disusun model peningkatan kapasitas (capacity building)/road map peningkatan kapabilitas yang sesuai dengan kondisi setiap APIP.
Level IACM bersifat progresif artinya makin tinggi levelnya semakin baik kapabilitasnya dan level rendah merupakan pondasi bagi level lebih tinggi.
Dalam rangka pemenuhan kapabilitas Inspektorat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai APIP pada level 3, Inspektorat Jenderal telah merencanakan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
a. Pemenuhan infrastuktur pengawasan berupa kebijakan dan peraturan terkait manajemen sumber daya manusia dan sistem pengawasan;
b. Melakukan pemetaan/Self Assessment IACM;
c. Membuat Area of Improvement IACM dan Rencana Aksi Kegiatan IACM; d. Melakukan reviu dan penyusunan Peta Pengawasan Audit Universe, Rencana
Pengawasan 5 Tahunan dan Rencana PKPT Tahun 2017;
e. Melakukan perbaikan Manajemen Sumber Daya Manusia berupa: pelaksanaan assessment kompetensi jabatan fungsional auditor, penyusunan peta kompetensi, penyusunan rencana penyertaan pendidikan dan pelatihan bagi seluruh pegawai Inspektorat Jenderal KESDM;
f. Melakukan pembangunan system e-Pengawasan; g. Pelaksanaan telaah sejawat dan Quality Assurance; h. Mengikut sertakan diklat terkait profesi auditor.
Selama tahun 2015, Tim Peningkatan Kapabilitas APIP telah memetakan area of improvement dalam rangka meningkatkan level IA-CM Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM menjadi Level 3. Hasil pemetaan Tim diketahui bahwa dari 93 (sembilan puluh tiga) key process area (KPA) yang harus dipenuhi, sampai dengan Desember 2015 Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM telah memenuhi sebanyak 83 (delapan puluh tiga) KPA dengan status YA dan 10 (sepuluh) KPA dengan status
SEBAGIAN.
Dalam self assessment/ improvement Tahun 2015 untuk mencapai level 3 dan dari hasi validasi/verifikasi Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM yang dilakukan atas 93 (sembilan puluh tiga) pernyataan pada level 3 (integrated) menunjukkan bahwa 37 (tiga puluh tujuh), yaitu elemen 1, 5 dan 6 dari seluruh pernyataan/formulir isian sebagai parameter kapabilitas organisasi pada level 3 (integrated) telah terpenuhi, sehingga Inspektorat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah berada pada level 3 (integrated) dengan catatan. Catatan tersebut antara lain:
Elemen 2
Mengestimasi jumlah dan ruang lingkup kegiatan audit dan kegiatan pengawasan lainnya dan membandingkan dengan jumlah dan keahlian sumber daya yang tersedia.
Menyusun kerangka kompetensi setiap jabatan yang mencakup pola pengembangan karir dan kriteria penilaian kinerja.
Menyusun sistem pengembangan karir (promosi, rotasi, dan mutasi) dengan mempertimbangkan kompetensi yang dimiliki, tuntutan kompetensi pada suatu jabatan, kinerja individu dan kinerja yang diharapkan.
Menyusun pedoman pemberian penghargaan bagi tim yang berhasil menerapkan perilaku yang diharapkan.
Elemen 3
Melakukan Quality Assurance and Improvment Program (QAIP) secara periodik terkait dengan pengawasan yang dilakukan dan menyusun laporan hasil pelaksanaannya, serta mengembangkan sistem dan prosedur untuk memonitor dan melaporkan pelaksanaan program QAIP.
Elemen 4
Mengembangkan sistem informasi pengumpulan dan pengolahan data yang relevan untuk tujuan pelaporan kegiatan pengawasan intern, yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna dan para pemangku kepentingan utama secara tepat waktu dan berkala.
Mengembangkan sistem informasi biaya untuk melaksanakan kegiatan pengawasan.
Menerapkan sistem manajemen biaya pengelolaan kegiatan pengawasan intern yang selaras dengan sistem manajemen keuangan dan operasional K/L serta pelaporannya.
Melengkapi dokumen analisis variance biaya yang meliputi variansi terhadap standar, anggaran, dan best practice serta menindaklanjuti hasil analisis tersebut.
Memantau sistem manajemen biaya secara berkala dan memastikan bahwa struktur biaya masih
relevan dan informasi biaya dihasilkan/ diperoleh dengan cara yang paling efisien dan ekonomis.
Selanjutnya untuk memenuhi 10 (sepuluh) KPA yang statusnya masih sebagian telah dipenuhi di tahun 2016. Hal ini dapat dibuktikan
Berdasarkan uraian di atas dan pemetaan terhadap kapabilitas APIP Inspektorat Jenderal KESDM oleh BPKP sesuai surat Deputi Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Perekonomian dan Kemaritiman Nomor LAP – 5/D102/2016 tanggal 16 Maret 2016 hal Laporan Hasil Hasil Validasi atas Penilaian Mandiri Tingkat Kapabilitas APIP pada Inspektorat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Inspektorat Jenderal KESDM sekarang berada pada level 3 (Integrated) dengan catatan.
Sebagai tambahan, sampai dengan tahun 2016 BPKP telah melakukan terhadap Seluruh APIP pada K/L/P dan dari seluruh APIP tersebutpada level K/L hanya ada 7 K/L yang telah memperoleh capaian IACM Level 3 yaitu :
No KL Level 1 Kemenkeu 3 2 Bappenas 3 3 Kementerian KKP 3 4 Kementerian ESDM 3 5 KemenHub 3 6 BPKP 3 7 Kemendikbud 3
Keberhasilan pencapaian sasaran ini diukur melalui pencapaian indikator kinerja, target, realisasi dan capaian sebagaimana tercantum dalam tabel 4.3.
Tabel 4.3
Sasaran mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang Profesional dan Independen
GAMBARAN HASIL INDIKATOR KINERJA
Pengembangan SDM dilakukan dengan melihat profil kesenjangan antara organisasi Itjen KESDM sekarang dan yang akan datang. Kemudian di analisis gap yang tercipta dari pengaruh kesenjangan tersebut pada pelaksanaan tugas dan fungsi. Hasil dari analisa tersebut akan muncul sebagai analisa kebutuhan diklat.
Sumber daya manusia aparatur yang handal merupakan investasi berharga bagi sebuah organisasi. Karena itu perlu ditingkatkan kemampuan dan profesionalisme supaya organisasi bisa bertahan dan berkembang. Untuk dapat mempertahankan keprofesionalisme tersebut, maka sumber daya manusia aparaturnya perlu dikembangkan dan ditingkatkan.
Sasaran Indikator Kinerja Utama
Target Realisasi 2016 2016
Mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang Profesional dan Independen
Presentase pegawai yang mengikuti pengembangan kompetensi pegawai paling sedikit 35 (tiga puluh lima) jam per tahun
60% 60,4%
Sasaran 1
Mewujudkan Aparat Pengawas Internal Pemerintah yang Profesional dan Independen dengan Indikator Kinerja Utama Persentase pegawai yang mengikuti pengembangan kompetensi pegawai paling sedikit 35 (tiga puluh lima) jam per tahun
Pengembangan sumber daya manusia aparatur bertujuan untuk dapat memperbaiki kinerja karyawan-karyawannya yang bekerja secara tidak memuaskan karena kekurangan keterampilan. Selain itu tujuan diselenggarakan pengembangan sumber daya manusia aparatur diarahkan untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan potensi kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan.
Setiap aparatur perlu menyadari tujuan negara dan sadar akan masyarakatumum yang memerlukan pelayanan oleh para aparatur sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.
Dalam menjalankan tugas dan peran tersebut aparatur diharuskan selalu melakukan pengembangan sumber daya sesuai tuntutan zaman. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di kalangan birokrasi telah disadarisebagai sesuatu hal yang sangat penting untuk mewujudkan tercapainya kondisi pemerintah yang profesional dalam kepemerintahan yang
baik. Hal ini sudah menjadi fenomena yang umum di berbagai kalangan pemerintahan. Dalam rangka peningkatan dan pengembangan kualitas aparatur pemerintah, maka salah satu upaya penting yang harus dilakukan adalah melalui Diklat guna
mewujudkan aparatur Pemerintah yang kompeten dan handal dalam mengemban tugas pemerintahan dan pembangunan. Salah satu strateginya adalah dengan meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kepribadian (attitude) melalui Pendidikan dan Pelatihan, karena Pendidikan dan Pelatihan
mempunyai peran strategis terhadap keberhasilan pencapaian tujuan instansi. Hal itu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Diklat Jabatan Pegawai Negeri Sipil, bahwa pelaksanaan Diklat Aparatur merupakan bagian Integral dari Pendayagunaan Aparatur Negara. Diklat aparatur merupakan investasi untuk mengembangkan kapasitas sumber daya manusia aparatur.
Sebagai unit yang menjadi APIP maka yang menjadi target pegawai yang mengikuti diklat pengembangan kompentensi minimal 35 jam hanyalah Auditor. Dan pada tahun 2015 presentasi auditor yang mencapai target tersebut sebanyak 66% sehingga target telah tercapai.
Berlanjut pada tahun 2016 Inspektorat Jenderal KESDM telah memperhitungkan seluruh pegawai dalam program diklat untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Selama tahun 2016, Inspektorat Jenderal telah mengikutsertakan pegawainya dalam 35 kegiatan diklat, yaitu terdiri dari Pelatihan di Kantor Sendiri (PKS), workshop, Diklat kepemimpinan, Diklat Teknis ESDM, Diklat Computer Forensik dsb. Berdasarkan rekapitulasi keikutsertaan diklat per pegawai sebagaimana matrik monitoring terlampir, sebanyak 119 pegawai telah mengikuti diklat lebih dari 35 jam pelajaran atau sebesar 60,41%.
Catatan : Total Pegawai 197 dikarenakan 3 Pegawai diperbantukan ke BPH MIGAS dan 1 Pegawai Tugas Belajar dengan dibebaskan dari pekerjaan.
119
78
PERBANDINGAN DIKLAT PEGAWAI
Pegawai yang menjalankan Diklat lebih dari 35 jam pertahun
Pegawai yang belum
menjalankan Diklat lebih dari 35 jam pertahun
Dalam pencapaian 60,4% tersebut, pengembangan SDM dilakukan dengan melihat profil kesenjangan antara organisasi Inspektorat Jenderal KESDM sekarang dan yang akan datang. Kemudian di analisis gap yang tercipta dari pengaruh kesenjangan tersebut pada pelaksanaan tugas dan fungsi. Hasil dari analisa tersebut akan muncul sebagai analisa kebutuhan diklat. Maka pada tahun 2016 kita dapat melihat Inspektorat Jenderal KESDM menyertakan untuk mengikuti diklat yang benar-benar menunjang tugas mereka dalam menghadapi tantangan kedepannya.
Beberapa Diklat yang sesuai dengan kebutuhan tersebut antara lain:
1. Pendidikan dan Pelatihan Computer Forensic I;
2. Pendidikan dan Pelatihan Teknis Perhitungan Royalti Mineral dan Batubara; 3. Pendidikan dan Pelatihan Purna Bhakti Angkatan II;
4. Pendidikan dan Pelatihan Sistem Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual Bagi Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) Kementerian/Lembaga TA 2016;
5. Workshop Metodologi, Teknik Investigasi dan Pengungkapan Kasus-Kasus Fraud;
6. Workshop Identifikasi Titik Kritis Kecurangan (Fraud) Dalam Pengadaan Barang/Jasa Sektor Publik dan Korporasi;
7. Pelatihan di Kantor Sendiri di Lingkungan Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM;
8. Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III;
9. Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Konservasi Mineral dan Batubara; 10. Seminar Peran Auditor Dalam Pemberantasan Korupsi;
11. Pendidikan dan Pelatihan Penilaian Maturitas SPIP bagi Pegawai di Lingkungan