BAB II
PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA DALAM KETERPADUAN SISTEM
A. SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP) dibangun dalam rangka upaya mewujudkan good governance dan sekaligus result oriented government. SAKIP merupakan sebuah sistem dengan pendekatan manajemen berbasis kinerja (Performance-base Management) untuk penyediaan informasi kinerja guna pengelolaan kinerja.
Upaya penguatan sistem akuntabilitas kinerja di Kementerian Kesehatan dilakukan secara menyeluruh terutama dengan dibentuknya kelompok kerja – kelompok kerja pada 8 (delapan) area perubahan Reformasi Birokrasi, salah satunya adalah kelompok kerja Penguatan Akuntabilitas Kinerja. Kelompok kerja Penguatan Akuntabilitas Kinerja di tingkat Kementerian ini berkoordinasi dengan tim-tim penguatan akuntabilitas kinerja yang berada di unit-unit Eselon I, sebagai upaya meningkatkan dan menguatkan pada beberapa komponen, antara lain Perencanaan Kinerja, Pengukuran Kinerja, Pelaporan Kinerja, Evaluasi Kinerja, dan Pencapaian Sasaran/Kinerja Organisasi.
Dengan kata lain, SAKIP merupakan integrasi sistem secara komprehensif yang dimulai dari sistem perencanaan, penganggaran, perbendaharaan, pelaksanaan dan evaluasi, dengan demikian tidak hanya meliputi satu komponen saja sehingga penguatannya memerlukan upaya menyeluruh dari seluruh komponen yang dihasilkan dari koordinasi semua unit organisasi yang berada di lingkungan Kementerian Kesehatan.
Keterkaitan komponen-komponen dalam SAKIP yang menjadi perhatian dalam memperlihatkan suatu proses yang terintegrasi satu sama lain dapat terlihat dari gambar berikut ini:
PENETAPAN
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dalam salah satu misinya berbunyi “Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera” dengan Sasaran Pembangunan Kesejahteraan Rakyat bidang Kesehatan sebagai berikut:
a. Meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) b. Menurunnya AKI per 100.000 kelahiran hidup c. Menurunnya AKB per 1000 kelahiran hidup
d. Menurunnya prevalensi kekurangan gizi (gizi kurang dan gizi buruk) pada anak balita.
Sasaran Pembangunan bidang Kesehatan ini merupakan sasaran yang akan dicapai dengan penguatan dan peningkatan koordinasi lintas sektor. Sasaran Strategis Kementerian Kesehatan berorientasi hasil terhadap Sasaran Pembangunan Kesehatan tersebut.
Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Bidang Kesehatan periode 2010-2014 diarahkan pada tersedianya akses kesehatan dasar yang murah dan terjangkau terutama pada kelompok menengah ke bawah guna mendukung pencapaian MDGs pada tahun 2015 dengan sasaran pembangunan kesehatan yang ditekankan pada peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, antara lain ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi dan kematian ibu melahirkan.
Penetapan sasaran pembangunan kesehatan tersebut digambarkan dalam serangkaian skema berikut ini :
AGENDA PEMBANGUNAN 1.PEMBANGUNAN EKONOMI DAN
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT.
2.PERBAIKAN TATA KELOLA PEMERINTAH.
3.PENEGAKAN PILAR DEMOKRASI.
4.PENEGAKAN HUKUM DAN PEMBERANTASAN KORUPSI.
5.PEMBANGUNAN YANG INKLUSIF DAN BERKEADILAN. b.Menurunnya AKI per 100.000
kelahiran hidup c.Menurunnya prevalensi
kekurangan gizi (gizi kurang dan gizi buruk) pada anak balita.
4.Pangan
5.Energi
6.Infrastruktur
II.SASARAN PERKUATAN
PEMBANGUNAN DEMOKRASI
3.MEMPERKUAT DIMENSI KEADILAN DI SEMUA BIDANG
B. RENCANA STRATEGIS
Sesuai amanah dalam pembangunan kesehatan tersebut, Kementerian Kesehatan menyusun Rencana Strategis yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan. Dalam rencana strategis tersebut disebutkan bahwa tujuan Kementerian Kesehatan adalah “Terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya”
Untuk menunjang pencapaian Rencana Strategis tersebut disusunlah Peta Strategi Kementerian Kesehatan berdasarkan metodologi balanced scorecard yang terdiri dari empat perspektif yaitu financial perspective, learning and growth perspective, business process perspective, dan stakeholders perspective. Peta strategi tersebut terdiri dari 8 (delapan) sasaran strategis, lima sasaran strategis diantaranya merupakan bagian dari stakeholders perspective, satu sasaran strategis pada business process perspective, satu sasaran strategis pada learning and growth perspective, dan satu sasaran strategis pada financial perspective.
STAKEHOLDERS PERSPECTIVE
SS3. Menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi gender
LEARNING & GROWTH PERSPECTIVE
SS6. Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis di DTPK
FINANCIAL PERSPECTIVE
SP4. Meningkatnya pengawasan dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan
SP2. Meningkatnya kualitas penelitian, pengembangan dan pemanfaatan di bidang kesehatan
SS4. Meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam rangka mengurangi risiko finansial akibat gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, terutama penduduk miskin
SP3. Meningkatnya koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan manajemen Kementerian Kesehatan BUSINESS PROCESS PERSPECTIVE
SP1. Terpenuhinya ketersediaan obat dan vaksin
Peta Strategis Kementerian Kesehatan
SS2. Menurunnya
Penjabaran dari Sasaran Strategis dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014, guna mewujudkan tercapainya pembangunan kesehatan, meliputi :
a. Sasaran Strategis Kesatu “Meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat” dengan indikator:
1) Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (cakupan PN).
2) Persentase cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1).
3) Persentase balita ditimbang berat badannya (D/S).
b. Sasaran Strategis Kedua “Menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular” dengan indikator:
Persentase kasus baru TB (BTA positif) yang disembuhkan.
c. Sasaran Strategis Ketiga “Menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender” dengan indikator:
1) Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan (RS dan Puskesmas) yang memenuhi standar sarana, prasarana, dan peralatan kesehatan.
2) Jumlah kota yang memiliki RS memenuhi standar kelas dunia (world class).
3) Persentase fasilitas kesehatan yang mempunyai SDM kesehatan sesuai standar.
4) Jumlah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) beroperasi.
d. Sasaran Strategis Keempat “Meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam rangka mengurangi risiko financial
akibat gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, terutama penduduk miskin” dengan indikator:
Persentase penduduk yang mempunyai jaminan kesehatan.
e. Sasaran Strategis Kelima “Meningkatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat Rumah Tangga” dengan indikator:
Persentase Rumah Tangga yang melaksanakan PHBS.
f. Sasaran Strategis Keenam “Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK)” dengan indikator :
Jumlah tenaga kesehatan yang didayagunakan dan diberi insentif di DTPK.
g. Sasaran Strategis Ketujuh “Seluruh provinsi melaksanakan program pengendalian penyakit tidak menular” dengan indikator:
Persentase provinsi yang memiliki peraturan tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
h. Sasaran Strategis Kedelapan “Seluruh Kab/Kota melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM)” dengan indikator:
Persentase kabupaten/kota yang telah menganggarkan APBD bidang kesehatan minimum 10 (sepuluh) persen dari APBD dalam rangka pencapaian SPM.
Untuk mendukung sasaran strategis sebagaimana disebutkan di atas, Kementerian Kesehatan juga menetapkan sasaran program/kegiatan dengan indikatornya sebagai berikut:
a. Sasaran Program/Kegiatan Kesatu “Terpenuhinya ketersediaan obat dan vaksin” dengan indikator:
Persentase ketersediaan obat dan vaksin.
b. Sasaran Program/Kegiatan Kedua “Meningkatnya kualitas penelitian, pengembangan dan pemanfaatan di bidang kesehatan” dengan indikator:
Jumlah produk/model/ intervensi/prototipe/standar/ formula hasil penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan.
c. Sasaran Program/Kegiatan Ketiga “Meningkatnya koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan manajemen Kementerian Kesehatan” dengan indikator :
1) Persentase provinsi dan kabupaten/kota yang memiliki bank data kesehatan.
2) Persentase produk administrasi kepegawaian yang dikelola melalui sistem layanan kepegawaian.
3) Persentase pengadaan menggunakan e-procurement.
d. Sasaran Program/Kegiatan Keempat “Meningkatnya pengawasan dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan” dengan indikator:
Persentase unit kerja yang menerapkan administrasi yang akuntabel.
Rencana Strategis yang berisikan Visi, tujuan, sasaran strategis serta indikator Kementerian Kesehatan ditetapkan dengan memperhatikan RPJMN dan MDGs. Dengan demikian, pencapaian kinerja indikator Kementerian Kesehatan diharapkan mendukung dan berorientasi hasil terhadap kinerja Pemerintah secara keseluruhan dengan tetap memperhatikan komitmen global. Dalam pergaulan internasional, pencapaian kinerja Kementerian Kesehatan akan memiliki dampak pada pencapaian MDGs. Hal tersebut sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini:
Kinerja Kementerian Kesehatan tersebut dicapai melalui pelaksanaan beberapa program Kementerian Kesehatan. Dalam Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014 program-program Kementerian Kesehatan dibagi kedalam dua jenis, yaitu Program Generik (Dasar) dan Program Teknis,
Program Generik:
1. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya;
Kegiatan yang akan dilakukan dalam program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya meliputi:
a. Pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan.
b. Penanggulangan krisis kesehatan.
c. Pembinaan, pengembangan, pembiayaan dan jaminan kesehatan.
d. Perumusan peraturan perundang-undangan dan pembinaan organisasi tatalaksana.
e. Pengelolaan data dan informasi kesehatan.
f. Peningkatan kerjasama luar negeri.
g. Pengelolaan komunikasi publik.
h. Perencanaan dan penganggaran program pembangunan kesehatan.
i. Pembinaan administrasi kepegawaian.
j. Pembinaan pengelolaan administrasi keuangan dan barang milik negara.
k. Pengelolaan urusan tata usaha, keprotokolan, rumah tangga, keuangan, dan gaji.
l. Peningkatan kesehatan jemaah haji.
m. Pengelolaan inteligensia kesehatan.
n. Peningkatan manajemen Konsil Kedokteran Indonesia
2. Program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan;
Kegiatan yang akan dilakukan dalam program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan, meliputi :
a. Pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan dan Sekretariat Jenderal.
b. Pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dan Inspektorat Jenderal.
c. Pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Badan Litbangkes.
d. Pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kebijakan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alkes dan Badan PPSDM Kesehatan.
e. Pengusutan dan Investigasi kasus-kasus yang berindikasi merugikan negara dan menghambat kelancaran tugas dan fungsi Kementerian Kesehatan.
f. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Kesehatan.
3. Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam program penelitian dan pengembangan kesehatan meliputi :
a. Riset operasional kesehatan dan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.
b. Penelitian dan pengembangan biomedis dan teknologi dasar kesehatan.
c. Penelitian dan pengembangan teknologi terapan kesehatan dan epidemiologi klinik.
d. Penelitian dan pengembangan teknologi intervensi kesehatan masyarakat.
e. Penelitian dan pengembangan humaniora kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
f. Desentralisasi dan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK).
g. Penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional.
h. Penelitian dan pengembangan vektor dan reservoir penyakit.
i. Dukungan manajemen dan dukungan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Program Teknis:
1. Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak;
Kegiatan yang akan dilakukan dalam program bina gizi dan kesehatan ibu dan anak meliputi :
a. Pembinaan gizi.
b. Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi.
c. Pembinaan pelayanan kesehatan anak.
d. Pembinaan, pengawasan, dan pengembangan program pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer.
e. Pembinaan upaya kesehatan kerja dan olah raga.
f. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
g. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
2. Program Pembinaan Upaya Kesehatan;
Kegiatan yang akan dilakukan dalam program pembinaan upaya kesehatan meliputi :
a. Pembinaan upaya kesehatan dasar.
b. Pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat miskin (Jamkesmas).
c. Pembinaan upaya kesehatan rujukan.
d. Pelayanan kesehatan rujukan bagi masyarakat Miskin (Jamkesmas).
e. Pelaksanaan pengelolaan pendidikan tinggi.
f. Pembinaan upaya keperawatan dan keteknisian medik.
g. Pembinaan upaya penunjang medik dan sarana kesehatan.
h. Pembinaan upaya kesehatan jiwa.
i. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pembinaan Upaya Kesehatan.
3. Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan;
Kegiatan yang akan dilakukan dalam program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, meliputi :
a. Pembinaan surveilans, imunisasi, karantina, dan kesehatan matra.
b. Pengendalian penyakit menular langsung.
c. Pengendalian penyakit bersumber binatang.
d. Penyehatan lingkungan.
e. Pengendalian penyakit tidak menular.
f. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
4. Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan;
Kegiatan yang akan dilakukan dalam program kefarmasian dan alat kesehatan, meliputi :
a. Peningkatan ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan.
c. Peningkatan pelayanan kefarmasian.
d. Peningkatan produksi dan distribusi kefarmasian.
e. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
5. Program Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Kegiatan yang akan dilakukan dalam program pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan, meliputi :
a. Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan b. Pendidikan dan Pelatihan Aparatur
c. Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
d. Standarisasi, Sertifikasi dan Pendidikan Berkelanjutan SDM Kesehatan e. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada
Program Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan
C. Penetapan Kinerja
Indikator Kinerja Utama Tingkat Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014 telah ditetapkan dengan Kepmenkes No. 1099/ Menkes/SK/VI/2011.
Sebagai penjabaran dari sasaran yang hendak dicapai dalam pembangunan kesehatan telah ditetapkan target-target sasaran IKU yang tertuang didalam Penetapan Kinerja (TAPJA) tahun 2014 yaitu:
Tabel 1
Target Perjanjian Kinerja Kementerian Kesehatan tahun 2014
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Target 2014 1. Meningkatnya status
kesehatan dan gizi masyarakat
Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh nakes terlatih (cakupan PN)
2. Menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular
Persentase kasus baru TB (BTA positif) yang
disembuhkan
88 %
3. Menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender
Jumlah kota yang memiliki RS memenuhi standar kelas dunia (world class)
Jumlah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) beroperasi
58.500 poskesdes 4. Meningkatnya penyediaan
anggaran publik untuk
5. Meningkatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat Rumah Tangga
Persentase Rumah Tangga yang melaksanakan PHBS
70 %
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Target 2014 6. Terpenuhinya kebutuhan
tenaga kesehatan strategis di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK)
Jumlah tenaga strategis yang didayagunakan dan diberi insentif di DTPK
7.020
7. Seluruh provinsi
melaksanakan program minimum 10 (sepuluh) persen dari APBD dalam rangka pencapaian SPM
100 %
9. Terpenuhinya ketersediaan obat dan vaksin
Persentase ketersediaan obat dan vaksin
100 %
10. Meningkatnya kualitas penelitian, pengembangan dan pemanfaatan di bidang kesehatan
Jumlah produk/model
intervensi/prototipe/ standar/
formula hasil penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan
53
11. Meningkatnya koordinasi pelaksanaan tugas, yang dikelola melalui sistem layanan kepegawaian
70 %
Persentase pengadaan
menggunakan e_procurement
90 % 12. Meningkatnya pengawasan
dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan
Persentase unit kerja yang menerapkan administrasi yang akuntabel
100 %
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
A. KINERJA ORGANISASI 1. PENGUKURAN KINERJA
Pengukuran kinerja merupakan bagian suatu proses dari sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai suatu tatanan, instrumen, dan metode pertanggungjawaban. Pengukuran kinerja secara khusus merupakan kegiatan memantau, menilai dan membandingkan tingkat kinerja yang dicapai dengan tingkat kinerja standar, rencana, atau target kegiatan. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja utama yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1099/Menkes/SK/VI/2011. Pengukuran kinerja ini diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi atau capaian kinerja yang berhasil dilakukan oleh Kementerian Kesehatan selama tahun 2014 dan kurun waktu 5 (lima) tahun Renstra. Kegiatan pemantauan di Kementerian Kesehatan dilakukan secara periodik melalui media yang dibangun oleh entitas unit organisasi masing-masing untuk kemudian diintegrasikan dalam aplikasi komunikasi data.
Pada awal tahun 2014 sebagai akhir tahun Renstra, Menteri Kesehatan telah melakukan penetapan kinerja sebagai pakta integritas yang harus dipertanggungjawabkan dalam mengemban visi dan misi. Dokumen penetapan kinerja tersebut memuat 13 (tiga belas) Indikator Kinerja Utama untuk mencapai 8 (delapan) sasaran strategis dan 6 (enam) Indikator Kinerja Utama untuk mencapai 4 (empat) sasaran program/kegiatan. Sasaran program/kegiatan ini mendukung tercapaianya sasaran strategis Kementerian Kesehatan, beserta target yang akan dilaksanakan pada tahun 2014.
Berikut disampaikan rekap hasil capaian indikator kinerja tahun 2014 , sebagai berikut :
Tabel 2
Capaian Realisasi dan Kinerja Indikator Kinerja Utama Kementerian Kesehatan Tahun 2014
No. Sasaran Strategis
Indikator Kinerja Target Realisasi %
1 Meningkatnya baru TB (BTA positif) yang disembuhkan
No. Sasaran Strategis
Indikator Kinerja Target Realisasi %
Jumlah Pos
7 Seluruh provinsi melaksanakan
No. Sasaran Strategis
Indikator Kinerja Target Realisasi %
8 Seluruh Kab/Kota
2. ANALISA AKUNTABILITAS KINERJA
Secara umum Capaian Sasaran Strategis dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan melalui pencapaian periode 2010 – 2014 dapat digambarkan sebagai berikut :
Start Finish
(2010) (2014)
Keterangan :
SS = Sasaran Strategis SP = Sasaran Program
Analisis capaian kinerja dari masing-masing sasaran strategis Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Sasaran Strategis “Meningkatnya Status Kesehatan dan Gizi Masyarakat”
Untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis tersebut di atas ditetapkan tiga indikator sebagai berikut:
Program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, adalah salah satu program Kementerian Kesehatan dengan
2010 - 2014
SS 5 (84,71%)
SS 1 (100%) SS 2 (100%) SS 8 (48,87%%)
SS 7 (100%)
SS 6 (100%) SP 4 (100%)
SP 3 ( 100%)
SP 2 (100%)
SP 1 (100%)
SS 3 (100%) SS 4 (100%)
upaya prioritas untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Prevalensi Kurang Gizi. Dengan indikator kinerja program terdiri dari;
Indikator Kinerja
Program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Cakupan Pn menggambarkan pelayanan kesehatan terhadap persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, cakupan KN1 menggambarkan pelayanan kesehatan pada neonatus (48 jam pertama), dan cakupan D/S gambaran motivasi/partisipasi masyarakat dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan serta kesehatan balita di Posyandu.
Capaian Kinerja Program dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3
Capaian Indikator Kinerja Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2014
Sumber: laporan Akuntabilitas Direktorat Kes Ibu, Anak dan Gizi tahun 2014
%Pn (Persalinan
STRATEGIS INDIKATOR TARGET REALISASI PENCAPAIAN
% Ibu bersalin
a. Persentase Ibu Bersalin Ditolong oleh Tenaga Kesehatan (Pn) Pertolongan persalinan merupakan proses pelayanan persalinan yang dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan. Indikator Pn diukur dari jumlah persalinan yang ditolong tenaga kesehatan dibandingkan dengan jumlah sasaran ibu bersalin dalam setahun dikali 100%. Indikator ini memperlihatkan tingkat kemampuan Pemerintah dalam menyediakan pelayanan persalinan berkualitas yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
Pada tahun 2014 capaian indikator Pn sebesar 90,89% lebih tinggi dari target 90% (capaian 100,99%), bila dibanding dengan tahun 2013 (90,99%) cakupan indikator ini meningkat namun tidak signifikan walaupun telah memenuhi target.
Secara historis sejak tahun 2010 trend capaian indikator persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 sebesar 84.80%, tahun 2011 sebesar 86.38%, sampai tahun 2014 sebesar 90.89%.
Dengan demikian bahwa target Pn sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 secara kumulatif telah tercapai. Secara kumulatif terdapat peningkatan kinerja indikator Pn dalam kurun waktu 5 (lima) tahun sebesar 6,09%
dari capaian awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang Kesehatan (2010), dengan rata-rata capaian peningkatan sebesar 1,2% per tahun.
Berikut disajikan grafik trend capaian indikator persalinan oleh tenaga kesehatan sbb :
Grafik 1
Trend Capaian Indikator Pn Tahun 2010-2014
S
Sumber :LAKIP Direktorat Kesehatan Ibu tahun 2014
Walaupun indikator Pn secara nasional telah tercapai, namun masih terdapat disparitas antara wilayah dan antar provinsi. Sebagaimana terlihat pada grafik dibawah, menunjukkan bahwa pada tahun 2014 terdapat kesenjangan cakupan yang cukup lebar, yaitu tertinggi di Provinsi DIY (99,9%) dan terendah di Provinsi Papua sebesar 24,02%, serta terdapat 18 provinsi (52,94%) dengan cakupan Pn dibawah rata-rata nasional (90,89%). Artinya bahwa diperlukan upaya khusus untuk dapat meningkatkan capaian indikator Pn terutama pada wilayah-wilayah Indonesia bagian timur seperti Provinsi Papua, Papua Barat, Gorontalo, Maluku, Sulawesi Tengah.
Grafik 2
Capaian Indikator Pn Menurut Provinsi Tahun 2014
Realisasi
Target
Keberhasilan capaian persalinan oleh tenaga kesehatan patut dibanggakan, namun tidak semua persalinan dilaksanakan di fasilitas kesehatan (36% di rumah dan lainnya). Faktor yang menpengaruhi capaian indikator Pn adalah jumlah, kualitas, dan distribusi tenaga bidan penolong persalinan yang tidak merata. Jumlah bidan desa di Indonesia sebanyak 113.493 bidan dengan 62.447 (55%) bidan tinggal di desa. Dengan demikian masih banyak bidan desa yang tidak tinggal di desa, yang berdampak pada pelayanan Pn.
Gambar 1
Pelayanan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Beberapa upaya prioritas yang telah dilakukan dalam meningkatkan capaian indikator Pn, sebagai berikut:
1) Menetapkan kebijakan tentang seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dan diupayakan dilakukan di fasilitas kesehatan.
2) Memberi orientasi tenaga kesehatan sebanyak 176 orang dokter dan 176 orang bidan Puskesmas.
3) Menetapkan bidan desa harus tinggal di desa
Pemeriksaan kehamilan
Pendampingan proses persalinan
Pertolongan persalinan
4) Meluncurkan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) yang menitikberatkan pada fokus totalitas pemantauan yang menjadi salah satu upaya deteksi dini, menghindari risiko kesehatan pada ibu hamil.
5) Menyediakan akses dan pelayanan kegawat daruratan kebidanan dan bayi baru lahir dasar di tingkat Puskesmas (PONED), serta pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal komprehensif di Rumah Sakit (PONEK).
6) Pengembangan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran.
7) Penyediaan anggaran terkait dengan Jampersal dan Jamkesmas yang telah bertransformasi ke dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Pada akhirnya, bahwa keberhasilan pencapaian target indikator Pn merupakan hasil dari kerja keras dan dukungan pelaksanaan berbagai program yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat termasuk sektor swasta;
1) Faktor pendukung keberhasilan:
a. Meningkatnya komitmen dan dukungan dari pemerintah daerah setempat dalam mendukung program peningkatan Pn dan Pn di fasilitas kesehatan.
b. Adanya program Jamkesmas dan Jampersal, Kemitraan Bidan dan Dukun, serta Rumah Tunggu Kelahiran.
c. Meningkatnya peran serta dan kesadaran masyarakat untuk melakukan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
d. Menguatnya motivasi dan komitmen tenaga kesehatan setempat dalam menjalankan program.
e. Meningkatnya dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh
2) Faktor penghambat keberhasilan:
a. Belum semua bidan desa tinggal di desa; hingga saat ini hanya 62.447 (55%) bidan yang tinggal di desa dari 113.493 bidan desa.
b. Belum semua dukun bermitra dengan bidan; sampai dengan Oktober 2014, dari 107.570 dukun, dilaporkan sebanyak 82.166 (76,38%) dukun telah bermitra dengan bidan.
c. Walaupun persalinan ditolong tenaga kesehatan sudah tinggi, namun masih ada persalinan yang dilakukan di rumah dan lainnya (36%).
d. Belum semua Puskesmas dan Poskesdes memiliki sarana, prasarana, dan peralatan yang memadai untuk menolong persalinan
e. Masih ada kepercayaan sebagian masyarakat yang lebih memilih persalinan ditolong non tenaga kesehatan dan dilakukan di rumah
f. Masih kurangnya pemahaman petugas kesehatan dalam menentukan sasaran ibu bersalin dan nifas
g. Sistem pencatatan dan pelaporan belum sesuai yang diharapkan
g. Sistem pencatatan dan pelaporan belum sesuai yang diharapkan