12 BAB II
BIOGRAFI K.H HASYIM ASY’ARI
Hasyim Asy’ari merupakan orang yang istimewa di setiap langkahnya sangat disegani oleh masyarakat. Beliau adalah tokoh pejuang yang tidak kenal menyerah. Seorang pemimpin yang telah menuntun menjadi seorang yang kritis terhadap dunia pendidikan. Dari hasil pemikiran ini menghasilkan berbagai gagasan tentang pembaharuan yang meliputi masalah politik, sosial, budaya dan pendidikan. Tak hanya itu, beliau dikenal sebagai pejuang pendidik sejati yang membawa pembaharuan dalam kebudayaan Indonesia (Santoso,2007:36-37).
Beliau juga sebagai pengajar, ilmu agama yang dibawa beliau sangat mempengaruhi para peserta didik. Hasyim Asy’ari juga sangat disegani masyarakat luas karena kesederhanaannya, beliau tidak segan bergaul pada masyarakat awam, tetangga, orang-orang yang lebih tua, golongan priyayi, tokoh-tokoh agama. Beliau juga tidak segan untuk tukar pendapat. Dalam bergaul beliau tidak memandang derajat apapun. Termasuk orang-orang yang sudah mempunyai jabatan tinggi dipemerintahan. Kesederhanaan hidupnya membuat beliau mempunyai teman-teman yang semisi dan sevisi dalam dunia pendidikan. Pergerakan beliau pun mempunyai hasil yang cukup baik dalam perputaran roda pemerintahan. Segala rintangan dan halangan tak mengurangi usaha untuk mengatasi tanpa memperhatikan betapa beratnya. Sampai akhirnya beliau pun bisa mengatasinya.
13
Organisasi yang didirikan beliau mempunyai tanggapan positif di masyarakat (Sanusi,2013:264-266).
Untuk mengetahui keseluruhan tentang K.H. Hasyim Asy’ari penulis mengajak pembaca untuk membahas bersama mengenai beliau:
A. Riwayat Hidup K.H Hasyim Asy’ari
K.H. M. Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari selasa keliwon, Dzulhijah 1287 H, bertepatan dengan 14 Februari 1871 M (Madyuni,2013:2).
K.H Hasyim Asy’ari lahir dari pasangan kyai Asy’ari dan Nyai Halimah. Nama lengkap kyai Hasyim adalah Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin ‘Abdul Wahid bin ‘Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin ‘Abdurrahman (Jojo Tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya) bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Aziz bin ‘Abdul Fattah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yaqin, yang lebih populer sunan Giri (Mukani,2015:4).
K.H Hasyim Asy’ari adalah ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari pemimpin pesantren keras Jombang, dari jalur ayah nasab Kyai Hasyim bersambung kepada Maulana Ishak. Hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Bakir. Sedangkan Ibunya bernama Nyai Halimah, putri kyai Usman pendiri dan pengasuh pesantren Gedung Jawa Timur. Kyai Usman juga merupakan seorang pemimpin Thariqah ternama pada akhir abad ke- 19 M. Dari garis ibu, kiyai Hasyim merupakan keturunan ke delapan dari Jaka Tingkir (Sultan Panjang) (Mukani,2015:6).
14
Silsilah Nasab yaitu: menurut silsilah melalui sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) K.H Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasulullah dengan urutan sebagai berikut:
1. Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
2. Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Panjang) 3. Abdul Halim (Pangeran Benowo)
4. Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda) 5. Abdul Halim
6. Abdul Wahid 7. Abu Sarwan
8. K.H Asy’ari (Jombang)
9. K.H Hasyim Asy’ari (Jombang) (Madyuni,2013:2-3).
Menurut catatan Sa’adah Ba Alawi Hadramaud, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan Rasulullah sebagai berikut:
1. Husain bin Ali 2. Ali Zainal Abidin 3. Muhammad al-Baqir 4. Ja’far ash-Sadiq 5. Ali al-Uraidh
6. Muhammad an- Naqib 7. Isa ar-Rumi
15 9. Ubaidullah
10.Alwi Awwal
11. Muhammad Sahibus Saumiah 12. Alwi ats-Tsani
13.Ali Khali’ Qasam
14.Muhammad Shahib Mirbath 15.Alwi Ammi Al-Faqih 16.Abdul Malik (Ahmad Khan) 17.Abdullah (al-Azhamat) Khan
18.Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
19.Jamaluddin Akbar al Husaini (Maulana Akbar) 20.Maulana Ishaq
21.Dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) (Madyuni,2013:3).
Semasa kecil, K.H Hasyim Asyari sudah memperlihatkan tanda-tanda keulamaanya. Terdidik dan besar dari keluarga ulama yang tinggal di pesantren, membuat Hasyim Asy’ari kecil tidak canggung memerankan sosok kyai, yang kelak menjadi poros ketokohannya.
Tanda-tanda keulamaan Hasyim Asy’ari tidak hanya terlihat saat dia berkelana dari pesantren satu ke pesantren lainnya, tetapi sudah terlihat saat beliau berusia sangat muda, usia 13 tahun. Bahkan tanda-tanda keulamaannya sudah terlihat saat beliau masih dalam kandungan ibunya, Nyai Halimah (Sanusi,2013:172).
16
Menurut Ishom Hadzik (2000) dalam K.H Hasyim Asy’ari: Figur Ulamak dan Pejung Sejati, Nyai Halimah dikenal sebagai wanita yang taat beribadah. Beliau berpuasa selama tiga tahun berturut-turut. Puasa pertama diniatkan untuk dirinya sendiri, puasa tahun kedua diniatkan untuk anak dan cucunya, puasa tahun ketiga diniatkan untuk santrinya agar mereka senantiasa dilindungi Allah Swt. dan sukses dalam menjalani hidup (Sanusi,2013:172-173).
Saat mengandung Nyai Halimah bermimpi pada suatu malam, bulan jatuh dari langit dan hinggap di kandungannya. Tentu saja, mimpi tersebut merupakan sebuah pertanda yang sangat baik, bahwa anak yang akan dilahirkan merupakan sosok yang istimewa di kemudian hari mempunyai kecerdasan, talenta, dan bimbingan dari Allah Swt. Hasyim Asy’ari berada dalam kandungan ibunya kurang lebih 14 bulan(Sanusi:2013,172-173).
Keyakinan terhadap keistimewaan Hasyim Asy’ari terbukti dikemudian hari. Tidak perlu menunggu dewasa, pada usia 13 tahun. Hasyim sudah menunjukkan talentanya. Di usia ketika anak-anak lainnya masih senang bermain, Hasyim sudah terbiasa mengajar murit-muritnya, menggantikan, ayahnya, K.H Asy’ari.
Saat itu, Ayahnya adalah pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren keras. Pesantren ini terletak di Jombang Selatan. Pesantren ini terletak di Desa Keras, maka dinamai pesantren keras. Pesantren ini didirikan pada tahun 1876, yang tanahnya merupakan hibah dari kepala desa setempat (Sanusi,2013:173).
17
Di pesantren inilah, Hasyim tumbuh dan berkembang dari kecil hingga dewasa. Pada saat usia sangat belia, Hasyim sudah belajar ilmu-ilmu agama kepada ayahnya.
Pada usia 13 tahun itulah, Hasyim sudah memperlihatkan kualitasnya sebagai pribadi yang istimewa. Beliau mengajar murid-murid ayahnya dengan keseriusan yang jarang diperlihatkan seorang anak seusia dirinya. Kebiasaan itu dilakukan hingga beliau berumur 15 tahun. Terbukti, ayahnya tidak salah membebani tugas mengajar kepada anak berumur13 tahun karena nantinya anak itu menjadi guru dari semua orang (Santoso,2007:21).
Baru berumur 21 tahun, beliau dinikahkan dengan dengan Chadidjah, salah satu putri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, beliau berangkat lagi ke tanah suci. Sejak itulah beliau menetap di Mekah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun 1899 pulang ke tanah air, Hasyim mengajar di pesantren milik kakeknya, Kyai Usman (Mahfudz,1995:3).
18 B.Pendidikan K.H Hasyim Asy’ari
Sejak anak-anak kemauan keras dalam diri Hasyim Asy’ari untuk selalu belajar telah membentuk kebesaran namanya. Hal ini ditunjukkan dengan pola pengasuhan dari lingkungan keluarga yang sangat kental dengan nuansa pesantren. Sampai dengan umur 5 tahun (Mukani,2015:9).
Beliau tumbuh dan dididik dengan baik oleh orang tuanya, yaitu dengan mengajarkan Al-Qur’an dan berbagai buku agama hingga beliau mencapai kedewasaannya. K.H Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga Pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang (Siroj dan Hadi,2009:1).
Saat masih dalam masa pendidikan kakek dan ayah, Hasyim Asy’ari banyak belajar tentang dasar-dasar ushuluddin, fiqih, tafsir, hadits bahasa arab dan sebagainya. Bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar, lebih senior ketimbang dirinya.
Dengan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tepatnya pada tahun 1876. Usia 15 tahun, beliau berkelana meninggalkan kedua orang tuanya untuk “thalabul ‘ilmi” di beberapa pondok pesantren yang terkenal, dengan keterbatasan fasilitas pada masa beliau. Termasuk harus jalan kaki hingga sampai di Pesantren Wonorejo, Jombang. Mula-mula beliau menjadi santri di pondok pesantren Sona dan Siwalan (keduanya berada dikota Sidoarjo), pondok Langitan Tuban, kemudian pindah ke pondok
19
Bangkalan Madura di mana Shibul Karomah Syekh Khalil (yang dipercaya Wali Allah), kemudian beliau melakukan perjalanan ke Kota Mekah dan sekitarnya. Kemudian, beliau bermukim beberapa tahun dan belajar kepada ulama’ terkenal setempat. Beliau belajar ilmu agama kepada Syekh Muhammad Nawawi al-Bantany, Syekh Khatib al- Minangkabawi, dan Syeh Syu’aib bin Abdurrohman. Saat menuntut ilmu, menurut Ahmad Muhibbin Zuhri, Hasyim menerapkan filosofi Jawa yaitu: luru ilmu kanti lelaku dan santri kelana. Kedua filosofi itu menggambarkan bahwa mencari ilmu harus mengutamakan proses yang dijalani, bukan mengfokuskan diri kepada hasil yang diperoleh. Jika proses mencari ilmu dilalui dengan mematuhi rambu-rambu (laku-laku) tertentu, maka ilmu yang diperoleh akan memiliki nilai lebih (barokah) dan manfaat (Mukani,2015:9).
Beliau belajar berbagai ilmu agama yaitu; masalah Kutub Hadis al-Nabawiy beliau berguru kepada Sayyid ‘Abbas al-Maliky al-Hsaniy dan untuk ulum al-syar’iyyah, adab dan sosial beliau berguru kepada Syekh Muhammad Mahfudz bin abdulloh al-Tirmasiy. Hasyim Asy’ari memang berpindah-pindah dalam menuntut ilmu karena beliau mencari ilmu yang dicari secara khash dari pesantren yang didatangi. Kondisi ini, menurut Zamakhsyari Dhofier, disebabkan masing-masing pesantren memang memiliki ciri khas dalam pelajaran ilmu agama yang diberikan. Dari semua itulah, beliau dapat banyak pengetahuan, baik berupa ma’qul maupun manqul (Mukadi,2015:11).
20
Hasyim Asy’ari pindah ke Pesantren Wonokoyo di Probolinggo selama tiga tahun kemudian meneruskan rihlah ilmiyah ke Pesantren Langitan di Tuban. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Tenggilis di Surabaya kemudian meneruskan perjalanan ke Pesantren Kademangan Bangkalan Madura. Saat itu pesantren diasuh syaikhona Kholil bin Abdul Latif.
Dari tokoh ini Hasyim Asyari menimba ilmu selama tiga tahun tentang fiqih, akhlaq, tata bahasa dan tata Arab. Saikhona Khalil berperan besar saat pendirinan NU, karena Hasyim memohon restu terlebih dulu dari tokoh ini. Syaikhona Khalil dianggap sebagai waliyulloh dan mahaguru para kyai di pulau jawa dan madura. Meski demikian syaikhona Kholill tidak sungkan berguru ke Hasyim Asyari pada bidang hadis di Pesantren Tebuireng.
Di pesantren ini, Hasyim Asyari tinggal selama tiga tahun. Segala ilmu yang diperoleh Hasyim Asy’ari teryata belum memuaskan hasrat ingin tahu yang kemudian mendorong dirinya untuk melajutkan rihlah ilmiyahnya Kembali. Pada tahun 1891, Hasyim lalu balik ke pulau jawa, tepatnya ke Pesantren Siwalan Panji di Buduran Sidoarjo yang diasuh oleh Kyai Ya’qub (Mukani,2015:12).
Di Pesantren Panji, Hasyim lebih banyak menggunakan waktu untuk memperdalam pengetahuan yang dimiliki di bidang fiqih, tafsir, hadits, tauhid dan sastra Arab selama tiga tahun. Ketekunan dan kecerdasan yang dimiliki Hasyim diamati secara seksama oleh Kyai Ya’qub. Kelebihan
21
dalam hal ini yang mendorong Kyai Ya’qub berkehendak untuk menjadikan Hasyim Asyari sebagai calon menantu. Dinikahkan dengan putrinya bernama Khadijah (Madyuni,2013:4-5).
Setelah menikah, satu tahun berikutnya Hasyim bersama istri dan mertua berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, Hasyim menetap di Mekah. Belum genap tujuh bulan di Mekkah, istri Hasyim Asy’ari wafat setelah melahirkan putra pertama, Abdullah.
Belum hilang kesedihan ditinggal Khadijah, bayi pertama Hasyim bernama Abdullah ikut meninggal dunia dalam usia 40 hari. Dua peristiwa ini mengganggu konsentrasi Hasyim dalam menimba ilmu di Mekkah. Lalu Kyai Ya’qub mengajak pulang terlebih dahulu ke Indonesia untuk beberapa waktu guna menenangkan pikiran (Mukani,2015:7).
Dikarenakan semangat menimba ilmu masih sangat tinggi dalam dirinya, pada tahun 1893 Hasyim Asy’ari berangkat kembali bersama adiknya, Anis. Hasyim kembali ke Mekkah untuk menimba ilmu setelah dinasehati Kyai Ya’qub. Kemungkinan besar, menurut Ahmad Muhibbin Zuhri, anjuran guru sekaligus mertua didasarkan adat saat itu bahwa seorang ulama belum dikatakkan cukup ilmunya jika belum mengaji di Mekkah selama bertahun-tahun.
Pada keberangkatan kedua ini, Hasyim Asy’ari lebih lama menetap di Mekkah karena selalu teringat pesan dan harapan al marhumah Khadijjah. Istri pertama ini mengharap agar Hasyim menjadi orang pandai yang mampu memimpin masyarakat. Pada masa ini Hasyim kembali berduka
22
karena harus ditinggal wafat adiknya. Anis ini yang setia menemani dalam menimba ilmu selama di Arab Saudi.
Hari-hari Hasyim Asy’ari lebih banyak dimanfaatkan untuk mengaji beberapa ilmu yang diajarkan oleh para ahlinya di Makkah. Di samping juga berupaya memperkuat emosi dengan cara memperbanyak wirid dan do’a di Masjid Haram maupun di Gua Hira’ yang berada di atas bukit Jabal Nur. Hasyim selalu membawa buku-buku bacaan dan Al Qur’an untuk dikaji selama menetap di tempat itu. Ketika hari Jum’at pagi, Hasyim turun untuk melaksanakan Shalat Jum’at di kota Mekkah.
Menurut Zamkhsyari Dhofier, Hsyim Asy’ari berhasil menela’ah dengan seksama banyak literatur yang valid di bawah bimbingan para syaikh di Makkah. Guru-guru Hasyim Asy’ari di Arab Saudi sangat banyak.
Selam 7 tahun Hasyim Asy’ari menetap di Makkah untuk menimba ilmu yang diliputi dengan semangat yang membara. Dengan memiliki prestasi belajar yang menonjol, menurut Zuhairi Misrawi, membuat Hasyim Asy’ari memproleh kepercayaan untuk mengajar di Masjidil Haram.
Beberapa ulama terkenal dari berbagai negara pernah belajar kepada Hasyim Asy’ari. Di antaranya adalah Syaikh Sa’dullah al-Maymani seorang mufti di Bombai di India, Syaikh Umar Hamdan yang ahli hadits di Mekkah, al-Syihab Ahmad bin Abdullah dari Syiria, KH. Abdul Wahab
23
Hasbullah Tambak beras, KH. R.Asnawi Kudus, KH. Bisyri Syansuri Denanyar, KH.Dahlan Kudus dan KH. Saleh Tayu.
Fakta ini menunjukkan bahwa ulama asal diri sebagai ulama yang pantas untuk membagikan ilmu ke Indonesia pada masa lalu bukan hanya sekedar “murid” para ulama di Timur Tengah dan dunia islam. Namun mereka juga sebagai “guru” karena kedalaman ilmunya mendapatkan penghormatan yang sangat banyak. Nama ulama dari Nusantara pun dicatat dengan tinta emas (Santosa,2007:36-37).
Setelah menyelesaikan belajarnya di Tanah Suci, beliau kembali ke Indonesia. Hasyim Asy’ari telah berhasil menunjukkan diri sebagai seorang ulama yang pantas untuk membagikan ilmu kepada orang lain. Hasyim Asy’ari merasa berutang jasa besar karena Mekkah telah menjadikannya sebagai salah satu ulama yang mumpuni.
Sesampainya di Indonesia pada tahun 1883 M, berdasarkan catatan Gunsei kambu Jepang, Hasyim Asy’ari kembali lagi ke rumah orang tua di Pesantren keras untuk mengajarkan berbagai ilmu yang diperoleh di Mekkah. Di samping juga mengajar di Pesantren mertuanya di Kemuning Kediri dan Pesantren kakeknya di Gedang Jombang.
Dengan memiliki latar belakang sebagai orang ‘alim, memiliki bakat yang baik dalam mencari ilmu dan pengalaman dalam mengajar yang cukup panjang, Hasyim Asy’ari menjadi guru terkenal di Jombang. Didorong sejarah perjuangan ayah dan kakek yang berdakwah dengan mendirikan pesantren, Hasyim Asy’ari membangun pondok pesantren
24
Tebu Ireng (Jombang), Pada tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1317 H. Beliau juga mendirikan madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah di pondoknya dan memegang seluruh proses belajar mengajar di sana (Mukani,2015:18).
Kyai Hasyim bukan saja kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar, dua hari dalam seminggu, kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah beliau memeriksa sawah-sawahnya, pergi ke Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari situlah beliau menghidupi keluarga dan pesantrennya (Sanusi,2013:245-248).
C.Mendirikan Pesantren Tebuireng
Pada awalnya, menurut Abdul Basitth Adnan, niatan Hasyim Asy’ari untuk mendirikan pesantren ini mendapat tantangan keras dari keluarga. Ini dikarenakan lokasi Tebuireng sangat dekat dengan pabrik gula Tjoekir yang identik deangan dunia hitam dan kejahatan. Pendirian Pesantren menjadi tahap awal dan memberikan kesempatan bagi Hasyim Asyari untuk mengamalkan ilmu, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga masyarakat Jawa dan Nusantara (Mukani,2015:17).
Untuk mendirikan pesatren sendiri Hasyim Asy’ari membeli sebidang tanah dari seorang dalang wayang kulit di Tebuireng bernama Saiban. Di atasnya didirikan bangunan sederhana dari bambu (Jawa: tratak) yang terdiri dari dua bagian. Satu bagian untuk tempat tinggal Hasyim Asy’ari bersama keluarganya. Bagian satunya lagi untuk keperluan para santri.
25
Baik untuk tempat tinggal, shalat, mengaji dan sebagainya (Madyuni,2013:12).
Selama kurang lebih dua setengah tahun Hasyim Asy’ari tinggal bersama keluarga dan delapan santri yang ikut dari pesantren keras. Mereka harus berjuang untuk menjaga keberadaan Pesantren Tebuireng dari segala serangan dari Tokoh-Tokoh “dunia hitam” baik berupa seranga fisik, fitnah, gangguan dan sebagainya.
Dunia Tebuireng saat itu, mengutip Masyamsul Huda, terkenal dengan segala kemaksiyatan. Seperti perjudian, perampokan, pelacuran, pencurian, narkoba, minuman kersa dan sebagainya. Ini akibat yang belum terbiasanya penduduk pribumi dalam menghabiskan gaji yang terlalu tinggi dari pemerintah Belanda setelah bekerja di pabrik gula Tjoekir.
Pesantren Tebuireng didirikan pada tanggal 26 Rabi’ul Awal 1317 Hijriyah atau 1899 M dan diakui Belanda pada tanggal 6 Februari 1907 M. Dalam waktu tiga bulan, telah mampu memiliki 28 santri (Mukani,2015:18-19).
Keberhasilan ini merupakan puncak dari kegigihan Hasyim Asy’ari dalam berjuang tidak mengenal lelah. Di samping itu, kegigihan akhlaq yang ditunjukkan Hasyim Asy’ari merupakan daya tarik tersendiri dalam menaklukkan kerasnya mental masyarakat Tebuireng saat itu. Kesabaran Hasyim Asy’ari dalam mewujudkan cita-cita, termasuk tidak menggunakan kekerasan dalam berdakwah, telah menjadikan masyarakat menjadi insyaf dan menghentikan aksinya.
26
Hasyim Asy’ari tidak pernah membalas dengan kekerasan terhadap berbagai kekerasan dari masyarakat sekitar. Termasuk teror dan intimidasi yang dilakukan setiap malam hari. Sebagai antisipasi, Hasyim meminta bantuan teman-temannya dari Cirebon Jawa Barat yang ahli pencak silat. Yaitu Kyai Saleh Bendakerep, Kyai Abdullah Pangurungan, Kyai Samsuri Wanantara dan Kyai Abdul Djalil Buntet (Mukani,215:19).
Selam delapan bulan, Hasyim dan para santri belajar pencak silat dari para pendekar ini dan terbukti berhasil. Pada waktu selanjutnya, para santri Tebuireng sudah berani mengadakan patroli malam hari. Ini menyebabkan daerah sekitar Tebuireng menjadi tenang dan aman.
Para perusuh dan pengacau lambat laun menyingkir dari Tebuireng. Menurut Imron Arifin, fakta ini mengakibatkan pengaruh Pesantren Tebuireng terhadap budaya masyarakat sekitar juga semakin meningkat.
Kemajuan pesat yang ditunjukkan Pesantren Tebuireng ini teryata ditanggapi negatif oleh penjajah Belanda. Hal ini dikarenakan banyak alumni Pesantren yang menjadi Tokoh agama di masyarakat. Juga memiliki jaringan kuat dengan K.H Hasyim Asy’ari. Di khawatirkan hal ini akan menjadi “bom waktu” yang akan meledak sewaktu-waktu dan akhirnya akan mengancam Belanda di pulau Jawa.
Berbagai ancaman dan intimidasi dilakukan Belanda agar Hasyim Asy’ari menghentikan kegiatan dalam melahirkan para ulama. Termasuk mengirim surat teguran, menuduh Pesantren Tebuireng sebagai markas
27
pengacau yang melakukan teror maupun dengan cara menggempur secara langsung bangunan Pesantren Tebuireng (Mukani,2015:20).
Tentara Belanda datang ke lokasi Pesantren dan dengan membabi buta, menghancurkan semua bangunan yang ada. Membakar banyak refrensi atau kitab-kitab kuning yang digunakan untuk mengaji dan bahkan menghajar penghuni Pesantren Tebuireng yang masih ada.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 1913 ini, menurut Choirul Anam, tetap tidak mampu menyurutkan semangat Hasyim Asy’ari dalam melanjutkan kegiatan. Namun justru semakin mendorong para santri untuk lebih giat dalam berjuang dan semakin menunjukan bahwa Belanda memang pemerintahan yang tidak menghendaki adanya perkembangan Islam di daerah jajahannya.
Dalam periode perkembangannya, Pesantren Tebuireng telah mengalami berbagai perubahan, meskipun tokoh sentral di pesantren tersebut masih Hasyim Asy’ari. Sikap terbuka terhadap perubahan dalam memimpin lembaga pendidikan yang ditunjukkan Hasyim Asy’ari ini merupakan pengaruh dari keadaan di Jazira Arab saat Hasyim Asy’ari menimba ilmu di sana, yang ramai dengan kebangkitan semangat nasionalisme.
Sebagai bukti, menurut Karel A. Steenbrink, Hasyim Asy’ari setuju terhadap gagasan K.H. Ma’shum ‘Ali, santri sekaligus menantu, yang mengenalkan sistem madrasah di Pesantren. Gagasan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas lulusan Pesantren melalui pemantauan
28
terhadap kehadiran santri dalam mengikuti proses belajar mengajar yang dilakukan kiyai, termasuk melakukan perbaikan manajemen. Contoh lain adalah dimasukkannya pelajaran umum di madrasah, seperti matematika, geografi, sejarah, menulis huruf latin dan bahasa Belanda (Mukani,2015:22).
Hal ini merupakan “lompatan tersendiri” dari Pesantren Tebuireng dan kemajuan yang terlalu moderen untuk jamannya. Pada masa awal, ide ini di respon negatif oleh para orang tua santri. Bahkan banyak yang memulangkan kembali anaknya, karena khawatir pemikiran anak-anak mereka diracuni oleh ilmu-ilmunya orang kafir Belanda.
Namun keputusan ini baru dirasakan ketika Jepang menjajah Indonesia, karena surat menyurat saat itu harus menggunakan bahasa latin. Di samping itu, banyak alumni Pesantren Tebuireng yang menjadi anggota Sangi Kai, sebagai dewan penasehat untuk Daerah Karesidenan, karena