• Tidak ada hasil yang ditemukan

Judul Skripsi : PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KITAB “ADABUL ‘ALIM WAL MUTA’ALIM” KARYA K.H HASYIM ASY’ARI - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Judul Skripsi : PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KITAB “ADABUL ‘ALIM WAL MUTA’ALIM” KARYA K.H HASYIM ASY’ARI - Test Repository"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KITAB

“AD

ABUL

‘ALIM WAL MUTA’ALIM”

KARYA

K.H HASYIM ASY’ARI

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Disusun oleh

Fitriyanti Wahyuni 111 13 088

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)
(3)

iii

DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

Apabila di kemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup mempertanggung jawabkan kembali keaslian skripsi ini di hadapan sidang munaqosah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, 24 Juli 2017

Penulis

Fitriyanti Wahyuni

(4)
(5)

v

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi saudara :

Nama : Fitriyanti Wahyuni NIM : 111 13 088

Fakultas / Progdi : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan / Pendidikan Agama Islam (PAI)

(6)

vi

“ADABUL ‘ALIM

WAL MUTA’ALIM”

KARYA

K.H HASYIM ASY’ARI

Disusun oleh:

FITRIYANTI WAHYUNI NIM: 111 13 088

Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada tanggal 29 Agustus 2017 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Susunan Panitia Penguji

Ketua Penguji : Imam Mas Arum, M.Pd. Sekretaris Penguji : Mufiq, S,Ag., M.Phil. Penguji I : Siti Rukhayati, M.Ag. Penguji II : Drs. Ahmad Sultoni, M.Pd.

Salatiga, 29 Agustus 2017 Dekan Fakultas Tarbiyah dan

Ilmu Keguruan (FTIK)

Suwardi, M.Pd.

(7)

vii MOTTO

“Sebaik-baik kamu yaitu yang paling baik keadaan akhlakny

“Dunia itu adalah sebagai satu hiasan, dan sebaik-baik

hiasan dunia itu adalah

wanita yang baik

(8)

viii

PERSEMBAHAN

“Sebagai Ungkapan Rasa Syukurku dan tanda Bakti Kepada Kedua

Orang Tuaku”

Tugas Akhir ini saya persembahkan kepada

Pertama

Kedua orang tuaku tercinta Ibundaku “Wasiyah” dan Ayahandaku “Mujiran” yang senantiasa membimbing, mendorong, mendukung dengan

penuh kesabaran, keikhlasan, kegigihan dan tidak henti-hentinya

mendo’akan anak-anaknya supaya menjadi orang yang sholih, solihah

bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa Amin Yaa Robbal alamiin

Taklupa kepada Adik-adiku tercinta dan yangku sayang Ahmmad

Sayfullah dan Syamsul Arifin

Ke-dua

Kiyai saya KH. Abdul Rosyyid al-Hamid, Alm KH. Zumri RWS, Ibu

Nyai Hj Siti Basiro, Ibu Nyai Hj Latifah Guru-guruku, Ustad ustazah

Pondok pesantren Sabilull Huda, dan Pondok pesantren Al-Falah yang

selalu mendo’akan dan memberi nasehat-nasehatnya yang sangat

bermanfaat untuk saya

Ke-tiga

Penyemangatku Kang Mas Muhammad Zubaidi yang selalu

mendo’akan, memberi semangat, memberi nasehat-nasehatnya dan

teman-temanku seperjuangan di pondok Al-Falah angkatan 2013 (mb Risa

Rosiana, mb Novita Intan) yang ikut serta memberi dorongan, semangat

dan do’anya dalam menyelesaikan tugas akhir ini

Ke-empat

Yang terakhir Almamaterku FTIK (Fakultas tarbiyah dan ilmu

keguruan) S1 Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negri

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan taufiqnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menuntun umatnya ke jalan kebenaran dan keadilan.

Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Adapun jugul skripsi ini adalah “PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KITAB “ADABUL ‘ALIM WAL MUTA’ALIM” KARYAK.H HASYIM ASYARI”

.

Penulisan skripsi ini tidak lepas dari berbagai pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materi. Dengan penuh kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga.

3. Bapak Mufiq, S.Ag., M.Phil., selaku Dosen Pembimbing yang telah berkenan secara ikhlas dan sabar meluangakan waktu serta mencurahkan pikiran dan tenaganya memberi bimbingan dan pengarahan yang sangat berguna sejak awal proses penyusunan dan penulisan hingga terselesaikannya skripsi ini. 4. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Kajur Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

IAIN Salatiga.

5. Ibu Maslikhah, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik.

(10)
(11)

xi ABSTRAK

Wahyuni, Fitriyanti. 2017. Pendidikan Karakter Dalam Kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim Karya K.H.Hasyim Asy’ari. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Mufiq, S.Ag, M. Phil.

Kata Kunci: Pendidikan Karakter menurut K.H Hasyim Asy’ari

Penelitian ini membahas tentang pendidikan karakter menurut K.H Hasyim Asy’ari. Fokus Penelitian yang akan dikaji adalah: 1. Bagaimana pendidikan karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari; 2. Bagaimana relevansi Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari dalam konteks kekinian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan library research yaitu suatu penelitian kepustakaan murni. Dengan demikian pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi yang mencari data mengenai hal-hal atau variabel-variabel yang berupa catatan seperti buku-buku, majalah, dokumen, artikel, perkataan-perkataan, notulen harian, catatan rapat dan sebagainya. Penulis menggunakan teknik analisis dekduktif induktif dengan cara menemukan pola, tema tertentu dan mencarihubungan yang logis antara pemikiran tersebut. Kemudian mengklasifikasikan pemikiran sang tokoh sehingga dapat dirumuskan dalam pendidikan karakter yang sesuai. Langkah terakhir yaitu merumuskan hasil penelitian yang dilakukan penulis.

Hasil penelitian bahwa pendidikan karakter dalam kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim karya K.H Hasyim Asy’ari bisa dilihat dalam integritas/ integral terbukti sesuai dengan kondisi sekarang ini. Pemikiran-pemikiran K.H Hasyim Asy’ari yang telah dituangkan dalam kitabnya yang tidak terlepas dari praktek pendidikan yang dialaminya. Seperti ketika hendak membaca atau hendak menulis buku atau kitab beliau selalu bersuci dan mengawalinya dengan membaca basmalah. Kebiasaan beliau pada saat itu masih terlaksana pada saat ini seperti, sebelum memulai pembelajaran setiap sekolah membuka pembelajaran dengan membaca do’a, membaca surat-surat pendek dan membaca asmaul husna. Pendidikan karakter dilakukan dengan cara memasukkan pelajaran PKN, Akidah Ahlak dan sebagainya. Pendidikan karakter ini dinyatakan dalam publikasi pusat kurikulum yang berfungsi mengembangkan potensi dasar Agama, memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultural, meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif. Agar tercapainya generasi bangsa Indonesia yang berakhlakul karimah yang menjadikan generasi masa depan unggul, inovatif, kreatif, mandiri sesuai dengan kemajuan zaman.

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN BERLOGO ... ii

HALAMAN DEKLARASI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... iv

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... vi

MOTTO... vii

PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... x

ABSTRAK ... xiii

DAFTAR ISI ... ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian ... 6

E. Metode Penelitian ... 7

1. Library Research... 7

2. Teknik Analisis Data... 7

F. Telaah Pustaka ... 8

(13)

xiii

BAB II BIOGRAFI K. H HASYIM ASY’ARI

A. Riwayat Hidup K.H Hasyim Asy’ari ... 13

B. Pendidikan K.H Hasyim Asy’ari ... 18

C. Mendirikan Pesantren Tebuireng... ... 24

D. Pemikiran K.H Hasyim Asy’ari Dalam Bidang Pendidikan... 31

E. Nasehat-Nasehat K.H Hasyim Asy’ari... 37

1. Tentang Pendidikan... 37

2. Tentang Akhlaq... 40

3. Tentang Kesuksesan Murid... 42

F. Karya-Karya K.H Hasyim Asy’ari... 44

BAB III PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KITAB “ADABUL ‘ALIM WAL MUTA’ALIM” KARYA K.H HASYIM ASY’ARI A. Pendidikan Karakter Secara Umum... 47

B. Pandangan K.H Hasyim Asy’ari tentang Pendidikan Karakter... 56

1. Etika yang harus dimiliki oleh pelajar terhadap dirinya sendiri... 60

2. Etika pelajar terhadap gurunya... 61

3. Etika pelajar dalam proses pembelajaran dan apa yang harus dilakukan di hadapan guru serta tujuan belajar... 62

4. Etika alim (guru)untuk dirinya sendiri... 63

5. Etika seorang guru terhadap pelajarannya... 65

(14)

xiv

7. Etika terhadap kitab... 66

BAB IV RELEVANSI PEMIKIRAN PENDIDIKAN KARAKTER K.H HASYIM ASY’ARI A. Relevansi Pemikiran... 73

B. Tujuan Pendidikan Karakter... 81

C. Nilai-Nilai Karakter... 83

D. Pentingnya Pendidikan Karakter... 84

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan... 86

B.Saran... 89

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah

Era informasi dan pengetahuan yang ditandai oleh penempatan teknologi informasi dan pengetahuan intelektual sebagai modal utama dalam berbagai bidang kehidupan, teryata, di sisi lain memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan karakter bangsa. Semakin hari degradasi moral, sikap dan perilaku semakin terasa di berbagai kalangan masyarakat. Ada kecenderungan bahwa watak atau karakter anggota masyarakat Indonesia mengalami kemunduran.

Degradasi moral ditandai oleh mundurnya sikap santun, ramah, serta jiwa kebhinnekaan, kebersamaan, dan kegotongroyongan dalam masyarakat Indonesia. Di samping itu, perilaku anarkisme dan ketidak jujuran marak di kalangan peserta didik, termasuk mahasiswa. Di sisi lain banyak terjadi penyalahgunaan wewenang oleh para pejabat negara sehingga korupsi semakin merajalela di hampir semua instansi pemerintah. Perilaku seperti itu menunjukkan bahwa bangsa ini telah terbelit oleh rendahnya moral, akhlak, atau karakter (Zuchdi, 2011:2).

(16)

2

Suatu bangsa pasti tidak ingin menjadi bangsa yang tertinggal atau terbelakang. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk kemajuan bangsanaya. Guna untuk menghadapi kecanggihan teknologi dan komunikasi yang terus berkembang, perbaikan sumber daya manusi yang cerdas, terampil, mandiri, dan berakhlak mulia (Wiyani, 2013:20).

Tidak ada yang menyangkal bahwa karakter merupakan aspek yang penting untuk kesuksesan manusia dimasa depan. Karakter yang kuat akan membentuk mental yang kuat. Sedangkan mental yang kuat akan melahirkan sepirit yang kuat, pantang menyerah, berani mengarungi proses yang panjang, serta menerjang arus badai yang bergelombang dan berbahaya. Karakter yang kuat merupakan prasyarat untuk menjadi seorang pemenang dalam medan kompetisi.

Pentingnya karakter yang kuat. Jika karakter bangsa ini lemah maka bangsa Indonesia dijadikan budak negara-negara maju yang pandai dalam bidang pengetahuan dan teknologi, mampu membuat trobosan progresif di segala bidang. Negara ini akan semakin tertindas di dalam dan luar Negeri, menjadi buruh di negara sendiri, yang akhirnya dijajah sumber daya alam dan manusianya secara eksploitatif dan tidak manusiawi.

(17)

3

masyarakat yang cerdas, pandai, berjiwa demokritis serta berkarakter mulia.

Dasar hukum pendidikan karakter: 1. Undang-Undang Dasar 1945.

2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Asmani,2013:41).

Pendidikan karakter, menurut Ratna Megawangi (2004:95), “Sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil

keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya”.

Menurut pandangan di atas pendidikan karakter dapat dipahami bahwa suatu usaha masyarakat untuk membina dirinya menjadi peribadi yang baik serta memiliki ilmu yang luas. Agar mereka mampu menyesuaikan diri dengan cita-cita masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.

(18)

4

Pada dasarnya pendidikan karakter dimulai dari hal yang terkecil dalam mewujudkannya. Melalui bimbingan akhlak sebagai modal utama. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam surat An-Nahl

Artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”(Q.S An-Nahl 125).

Nabi Muhammad diutus kebumi oleh Allah SWT untuk menyempurnakan ahlak. Beliau berkata:

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu’adzib bin Jabal ra., keduanya berkata, Rosulullah saw. Bersabda:

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan berbuat baik, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji”(H.R Tirmidzi).

(19)

5

Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh atau pemikir Islam klasik di

Indonesia membawa pemikiran tentang kemajuan. Merekalah yang disebut kaum pembaharu yang telah dinantikan. Tujuannya tidak hanya menentang pengaruh barat dari segi sosial dan budaya tetapi juga menghimbau agar mereka kembali pada dasar-dasar pokok Islam melalui pendidikan karakter. Sebagaimana pendidikan karakter dalam kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” karya K.H Hasyim Asyari. Perjalanan pendidikan harus

melalui peroses yang pada akhirnya akan bermuara pada tumbuhnya kreatifitas dan inovasi. Berdasarkn dari berbagai realitas seperti yang telah dijabarkan di atas, penulis ingin melakukan penelitian mengenai pendidikan karakter dengan judul “Pendidikan Karakter Dalam Kitab

“Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya K.H Hasyim Asy’ari”.

B.Fokus Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan, maka dalam penelitian ini fokus masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimana Pendidikan Karakter Dalam Kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya K.H Hasyim Asyari?

2. Bagaimana relevansi Pendidikan Karakter Dalam Kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya K.H Hasyim Asyari dalam konteks kekinian?

C. Tujuan penelitian

(20)

6

K.H Hasyim Asyari” maka tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui Pendidikan Karakter Dalam Kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya K.H Hasyim Asyari.

2. Untuk mengetahui relevansi Pendidikan Karakter Dalam Kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya K.H Hasyim Asyari dalam

konteks kekinian. D.Kegunaan Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat baik secara teoritik maupun praktik.

1. Teoritik dalam arti: Sebagai salah satu sumbangan pemikiran untuk pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan Indonesia secara umum dan khususnya dalam bidang pendidikan Islam.

2. Secara praktis dalam arti: Memberikan informasi ulang kepada praktisi tentang pendidikan karakter Dalam Kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya K.H Hasyim Asyari.

a. Untuk dijadikan sebagai rujukan dalam pelaksanaan pendidikan Karakter di sekolah.

b. Untuk dijadikan bahan penyusunan kurikulum pendidikan Islam yang berkarakter.

E. Metode Penelitian

(21)

7

ini termasuk penelitian literatur yang berfokus pada referensi buku. Penelitian literatur lebih difokuskan kepada setudi kepustakaan. Adapun pengertian metode dalam penelitian ini adalah suatu cara untuk memperoleh bahan-bahan penopang dalam penelitian. Dalam penulisan skripsi penulis menggunakan metode:

1. Library Research

Untuk memperoleh data yang valid dalam penelitian ini, penulis menggunakan library research yaitu penelitian perpustakaan, dengan metode ini peneliti mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengumpulkan buku yang ada relevansinya dengan kajian permasalahan.

b. Mengidentifikasikan semua permasalahan yang berkaitan dengan penelitian.

c. Menarik suatu kesimpulan sebagai hasil kesimpulan suatu penelitian tentang pokok permasalahan (Komaruddin, 1988:145).

2. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah:

a. Deduktif

(22)

8

mengerucut pada peroses pengambilan kesimpulan yang bersifat khusus.

b. Induktif

Metode induktif adalah metode berfikir yang berangkat dari fakta-fakta peristiwa khusus yang bersifat umum (Sutrisno Hadi, 1981:42). Metode ini digunakan untuk membahas tentang sejumlah data pendidikan karakter dalam kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” karya K.H Hasyim Asyari.

F. Telaah Pustaka

K.H Hasyim Asyari ini merupakan pendiri (NU) Nahdlatul Ulama. Kepemimpinanya sangatlah penting didalam tubuh Nahdlatul Ulama tidak hanya itu beliau sosok yang dikenal aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan pendidikan maupun dakwah sekaligus entrepreneur yang cukup sukses. Di ranah pendidikan K.H Hasyim Asyari terkenal sebagai seorang yang tenang, sabar dan tidak keburu nafsu. Ia selalu menghadapi segala persoalan dengan dada yang lapang, tidak terseret perasaan. Itulah sebabnya, ia mampu memecahkan masalah-masalah yang berat dalam situasai yang sulit, dengan hasil yang tepat dan memuaskan (Santoso, 2007:19). Sistem pendidikan yang dibangun yang berorentasi pada pendidikan ala santri deangan menggunakan sistem pendidikan klasikal.

Adapun buku yang telah terbit mengenai beliau diantaranya:

(23)

9

2. Ditulis oleh Ai-Madyuni, dengan judul “Sang Kiai Tiga Generasi”. Diterbitkan oleh Pustaka Al-Khumul pada tahun 2013.

3. Ditulis oleh Mukani, dengan judul “Biografi dan Nasehat Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari”. Diterbitkan oleh Pustaka

Tebuireng pada tahun 2015.

4. Ditulis oleh Masyamsul Huda, dengan judul “Guru Sejati K.H Hasyim Asyari pendiri pesantren Tebu Ireng yang mengakhiri era kejayaan Kebo Ireng dan Kebo Kecak”. Diterbitkan oleh Tim Pustaka Inspirasi

pada tahun 2014.

5. Ditulis oleh M. Sanusi, dengan judul “Kebiasaan-Kebiasaan Inspiratif K.H Hasyim Asyari”. Diterbitkan oleh DIVA Press (Anggota IKAPI)

pada tahun 2013 di Jogjakarta.

6. Ditulis oleh Fuad Jabali and Ismatu Ropi, dengan judul “Hasyim Asyari Religious Thought and Political Activities” (1871-1947).

Diterbitkan oleh Logos Wacana Ilmu pada tahun 2000 Jakarta Selatan. 7. Ditulis oleh Santoso, dengan judul “Manusia di panggung sejarah

pemikiran dan gerakan tokoh-tokoh Islam”. Diterbitkan oleh SEGAR ARSY pada tahun 2007 di Bandung.

(24)

10

9. Ditulis oleh Mahfudz, dengan judul “BIOGRAFI 5 RAIS’AM NU”. Diterbitkan oleh PUSTAKA PELAJAR pada tahun 1995 di Yogyakarta.

10.Ditulis oleh Muhamad Sobari, dengan judul “NU DAN KEINDONESIAAN”. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2010 Jakarta.

11.Ditulis oleh KH. Abdurrahman Navis, Muhammad Idrus Ramli dan Faris Khoirul Anam, dengan judul “Risalah Ahlussunnah Wal -Jama’ah”. Diterbitkan oleh Kalista pada tahun 2012 Jawa Timur

(surabaya).

Dari beberapa sumber di atas, sejumlah pengamatan penulis masih ada kekurangan yang membahas tentang pendidikan karakter perspektif K.H Hasyim Asyari. Harapan penulis pemikiran yang akan disampaikan ini dapat melengkapi informasi yang ada sebelumnya dan menambah wacana. G. Sistematika Penulisan Skripsi

Dalam penyusunan skripsi, secara menyeluruh terdapat lima Bab untuk membahas Pendidikan Karakter Dalam Kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya KH. Hasyim Asyari. Sistem penulisan skripsi untuk

mempermudah jalan pikiran dalam memahami secara keseluruhan isi skripsi. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut:

(25)

11

Masalah, Tujuan Penelitian, Telaah Pustaka, dan Sistematika Penulisan Skripsi.

BAB II: Biografi K.H. Hasyim Asyari. Dalam bab ini memuat beberapa pembahasan seperti halnya tentang, Riwayat Hidup, Setting Sosial Politik, Karya-karya K.H Hasyim Asyari.

BAB III: Pendidikan Karakter Dalam Kitab “Adabul ‘Alim Wal Muta’Alim” Karya K.H Hasyim Asyari. Dalam bab ini penulis

memaparkan pemikiran beliau yang merupakan inti dari skripsi ini. Maka penulis mencoba memberikan penjelasan mengenai pengertian pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter, dan dasar pendidikan karakter.

BAB IV: Pembahasan. Dalam bab ini penulis menelaah pendidikan karakter K.H Hasyim Asyari secara analisis. Selanjutnya dicari relevansinya dengan konteks kekinian dan implikasinya dalam pendidikan karakter di Indonesia.

(26)

12 BAB II

BIOGRAFI K.H HASYIM ASY’ARI

Hasyim Asy’ari merupakan orang yang istimewa di setiap langkahnya sangat disegani oleh masyarakat. Beliau adalah tokoh pejuang yang tidak kenal menyerah. Seorang pemimpin yang telah menuntun menjadi seorang yang kritis terhadap dunia pendidikan. Dari hasil pemikiran ini menghasilkan berbagai gagasan tentang pembaharuan yang meliputi masalah politik, sosial, budaya dan pendidikan. Tak hanya itu, beliau dikenal sebagai pejuang pendidik sejati yang membawa pembaharuan dalam kebudayaan Indonesia (Santoso,2007:36-37).

Beliau juga sebagai pengajar, ilmu agama yang dibawa beliau sangat mempengaruhi para peserta didik. Hasyim Asy’ari juga sangat disegani

(27)

13

Organisasi yang didirikan beliau mempunyai tanggapan positif di masyarakat (Sanusi,2013:264-266).

Untuk mengetahui keseluruhan tentang K.H. Hasyim Asy’ari penulis

mengajak pembaca untuk membahas bersama mengenai beliau: A. Riwayat Hidup K.H Hasyim Asy’ari

K.H. M. Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari

selasa keliwon, Dzulhijah 1287 H, bertepatan dengan 14 Februari 1871 M (Madyuni,2013:2).

K.H Hasyim Asy’ari lahir dari pasangan kyai Asy’ari dan Nyai

Halimah. Nama lengkap kyai Hasyim adalah Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin ‘Abdul Wahid bin ‘Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin

‘Abdurrahman (Jojo Tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya)

bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Aziz bin ‘Abdul Fattah bin Maulana Ishaq bin

Ainul Yaqin, yang lebih populer sunan Giri (Mukani,2015:4).

K.H Hasyim Asy’ari adalah ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari pemimpin pesantren keras Jombang, dari jalur ayah

nasab Kyai Hasyim bersambung kepada Maulana Ishak. Hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Bakir. Sedangkan Ibunya bernama Nyai

(28)

14

Silsilah Nasab yaitu: menurut silsilah melalui sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) K.H Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan

Rasulullah dengan urutan sebagai berikut: 1. Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)

2. Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Panjang) 3. Abdul Halim (Pangeran Benowo)

4. Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda) 5. Abdul Halim

6. Abdul Wahid 7. Abu Sarwan

8. K.H Asy’ari (Jombang)

9. K.H Hasyim Asy’ari (Jombang) (Madyuni,2013:2-3).

Menurut catatan Sa’adah Ba Alawi Hadramaud, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan Rasulullah sebagai berikut:

1. Husain bin Ali 2. Ali Zainal Abidin 3. Muhammad al-Baqir 4. Ja’far ash-Sadiq 5. Ali al-Uraidh

6. Muhammad an- Naqib 7. Isa ar-Rumi

(29)

15 9. Ubaidullah

10.Alwi Awwal

11. Muhammad Sahibus Saumiah 12. Alwi ats-Tsani

13.Ali Khali’ Qasam

14.Muhammad Shahib Mirbath 15.Alwi Ammi Al-Faqih 16.Abdul Malik (Ahmad Khan) 17.Abdullah (al-Azhamat) Khan

18.Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)

19.Jamaluddin Akbar al Husaini (Maulana Akbar) 20.Maulana Ishaq

21.Dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) (Madyuni,2013:3).

Semasa kecil, K.H Hasyim Asyari sudah memperlihatkan tanda-tanda keulamaanya. Terdidik dan besar dari keluarga ulama yang tinggal di pesantren, membuat Hasyim Asy’ari kecil tidak canggung memerankan

sosok kyai, yang kelak menjadi poros ketokohannya.

(30)

16

Menurut Ishom Hadzik (2000) dalam K.H Hasyim Asy’ari: Figur Ulamak dan Pejung Sejati, Nyai Halimah dikenal sebagai wanita yang taat beribadah. Beliau berpuasa selama tiga tahun berturut-turut. Puasa pertama diniatkan untuk dirinya sendiri, puasa tahun kedua diniatkan untuk anak dan cucunya, puasa tahun ketiga diniatkan untuk santrinya agar mereka senantiasa dilindungi Allah Swt. dan sukses dalam menjalani hidup (Sanusi,2013:172-173).

Saat mengandung Nyai Halimah bermimpi pada suatu malam, bulan jatuh dari langit dan hinggap di kandungannya. Tentu saja, mimpi tersebut merupakan sebuah pertanda yang sangat baik, bahwa anak yang akan dilahirkan merupakan sosok yang istimewa di kemudian hari mempunyai kecerdasan, talenta, dan bimbingan dari Allah Swt. Hasyim Asy’ari berada

dalam kandungan ibunya kurang lebih 14 bulan(Sanusi:2013,172-173). Keyakinan terhadap keistimewaan Hasyim Asy’ari terbukti

dikemudian hari. Tidak perlu menunggu dewasa, pada usia 13 tahun. Hasyim sudah menunjukkan talentanya. Di usia ketika anak-anak lainnya masih senang bermain, Hasyim sudah terbiasa mengajar murit-muritnya, menggantikan, ayahnya, K.H Asy’ari.

(31)

17

Di pesantren inilah, Hasyim tumbuh dan berkembang dari kecil hingga dewasa. Pada saat usia sangat belia, Hasyim sudah belajar ilmu-ilmu agama kepada ayahnya.

Pada usia 13 tahun itulah, Hasyim sudah memperlihatkan kualitasnya sebagai pribadi yang istimewa. Beliau mengajar murid-murid ayahnya dengan keseriusan yang jarang diperlihatkan seorang anak seusia dirinya. Kebiasaan itu dilakukan hingga beliau berumur 15 tahun. Terbukti, ayahnya tidak salah membebani tugas mengajar kepada anak berumur13 tahun karena nantinya anak itu menjadi guru dari semua orang (Santoso,2007:21).

Baru berumur 21 tahun, beliau dinikahkan dengan dengan Chadidjah, salah satu putri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.

(32)

18 B.Pendidikan K.H Hasyim Asy’ari

Sejak anak-anak kemauan keras dalam diri Hasyim Asy’ari untuk selalu belajar telah membentuk kebesaran namanya. Hal ini ditunjukkan dengan pola pengasuhan dari lingkungan keluarga yang sangat kental dengan nuansa pesantren. Sampai dengan umur 5 tahun (Mukani,2015:9).

Beliau tumbuh dan dididik dengan baik oleh orang tuanya, yaitu dengan mengajarkan Al-Qur’an dan berbagai buku agama hingga beliau mencapai kedewasaannya. K.H Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga Pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang (Siroj dan Hadi,2009:1).

Saat masih dalam masa pendidikan kakek dan ayah, Hasyim Asy’ari

banyak belajar tentang dasar-dasar ushuluddin, fiqih, tafsir, hadits bahasa arab dan sebagainya. Bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar, lebih senior ketimbang dirinya.

(33)

19

Bangkalan Madura di mana Shibul Karomah Syekh Khalil (yang dipercaya Wali Allah), kemudian beliau melakukan perjalanan ke Kota Mekah dan sekitarnya. Kemudian, beliau bermukim beberapa tahun dan belajar kepada ulama’ terkenal setempat. Beliau belajar ilmu agama

kepada Syekh Muhammad Nawawi al-Bantany, Syekh Khatib al- Minangkabawi, dan Syeh Syu’aib bin Abdurrohman. Saat menuntut ilmu,

menurut Ahmad Muhibbin Zuhri, Hasyim menerapkan filosofi Jawa yaitu: luru ilmu kanti lelaku dan santri kelana. Kedua filosofi itu menggambarkan bahwa mencari ilmu harus mengutamakan proses yang dijalani, bukan mengfokuskan diri kepada hasil yang diperoleh. Jika proses mencari ilmu dilalui dengan mematuhi rambu-rambu (laku-laku) tertentu, maka ilmu yang diperoleh akan memiliki nilai lebih (barokah) dan manfaat (Mukani,2015:9).

Beliau belajar berbagai ilmu agama yaitu; masalah Kutub Hadis al-Nabawiy beliau berguru kepada Sayyid ‘Abbas al-Maliky al-Hsaniy dan untuk ulum al-syar’iyyah, adab dan sosial beliau berguru kepada Syekh Muhammad Mahfudz bin abdulloh al-Tirmasiy. Hasyim Asy’ari memang berpindah-pindah dalam menuntut ilmu karena beliau mencari ilmu yang dicari secara khash dari pesantren yang didatangi. Kondisi ini, menurut Zamakhsyari Dhofier, disebabkan masing-masing pesantren memang memiliki ciri khas dalam pelajaran ilmu agama yang diberikan. Dari semua itulah, beliau dapat banyak pengetahuan, baik berupa ma’qul

(34)

20

Hasyim Asy’ari pindah ke Pesantren Wonokoyo di Probolinggo

selama tiga tahun kemudian meneruskan rihlah ilmiyah ke Pesantren Langitan di Tuban. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Tenggilis di Surabaya kemudian meneruskan perjalanan ke Pesantren Kademangan Bangkalan Madura. Saat itu pesantren diasuh syaikhona Kholil bin Abdul Latif.

Dari tokoh ini Hasyim Asyari menimba ilmu selama tiga tahun tentang fiqih, akhlaq, tata bahasa dan tata Arab. Saikhona Khalil berperan besar saat pendirinan NU, karena Hasyim memohon restu terlebih dulu dari tokoh ini. Syaikhona Khalil dianggap sebagai waliyulloh dan mahaguru para kyai di pulau jawa dan madura. Meski demikian syaikhona Kholill tidak sungkan berguru ke Hasyim Asyari pada bidang hadis di Pesantren Tebuireng.

Di pesantren ini, Hasyim Asyari tinggal selama tiga tahun. Segala ilmu yang diperoleh Hasyim Asy’ari teryata belum memuaskan hasrat

ingin tahu yang kemudian mendorong dirinya untuk melajutkan rihlah ilmiyahnya Kembali. Pada tahun 1891, Hasyim lalu balik ke pulau jawa, tepatnya ke Pesantren Siwalan Panji di Buduran Sidoarjo yang diasuh oleh Kyai Ya’qub (Mukani,2015:12).

(35)

21

dalam hal ini yang mendorong Kyai Ya’qub berkehendak untuk menjadikan Hasyim Asyari sebagai calon menantu. Dinikahkan dengan putrinya bernama Khadijah (Madyuni,2013:4-5).

Setelah menikah, satu tahun berikutnya Hasyim bersama istri dan mertua berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, Hasyim menetap di Mekah. Belum genap tujuh bulan di Mekkah, istri Hasyim Asy’ari wafat setelah melahirkan putra pertama, Abdullah.

Belum hilang kesedihan ditinggal Khadijah, bayi pertama Hasyim bernama Abdullah ikut meninggal dunia dalam usia 40 hari. Dua peristiwa ini mengganggu konsentrasi Hasyim dalam menimba ilmu di Mekkah. Lalu Kyai Ya’qub mengajak pulang terlebih dahulu ke Indonesia untuk beberapa waktu guna menenangkan pikiran (Mukani,2015:7).

Dikarenakan semangat menimba ilmu masih sangat tinggi dalam dirinya, pada tahun 1893 Hasyim Asy’ari berangkat kembali bersama adiknya, Anis. Hasyim kembali ke Mekkah untuk menimba ilmu setelah dinasehati Kyai Ya’qub. Kemungkinan besar, menurut Ahmad Muhibbin Zuhri, anjuran guru sekaligus mertua didasarkan adat saat itu bahwa seorang ulama belum dikatakkan cukup ilmunya jika belum mengaji di Mekkah selama bertahun-tahun.

Pada keberangkatan kedua ini, Hasyim Asy’ari lebih lama menetap di

(36)

22

karena harus ditinggal wafat adiknya. Anis ini yang setia menemani dalam menimba ilmu selama di Arab Saudi.

Hari-hari Hasyim Asy’ari lebih banyak dimanfaatkan untuk mengaji beberapa ilmu yang diajarkan oleh para ahlinya di Makkah. Di samping juga berupaya memperkuat emosi dengan cara memperbanyak wirid dan do’a di Masjid Haram maupun di Gua Hira’ yang berada di atas bukit

Jabal Nur. Hasyim selalu membawa buku-buku bacaan dan Al Qur’an untuk dikaji selama menetap di tempat itu. Ketika hari Jum’at pagi, Hasyim turun untuk melaksanakan Shalat Jum’at di kota Mekkah.

Menurut Zamkhsyari Dhofier, Hsyim Asy’ari berhasil menela’ah dengan seksama banyak literatur yang valid di bawah bimbingan para syaikh di Makkah. Guru-guru Hasyim Asy’ari di Arab Saudi sangat banyak.

Selam 7 tahun Hasyim Asy’ari menetap di Makkah untuk menimba

ilmu yang diliputi dengan semangat yang membara. Dengan memiliki prestasi belajar yang menonjol, menurut Zuhairi Misrawi, membuat Hasyim Asy’ari memproleh kepercayaan untuk mengajar di Masjidil

Haram.

Beberapa ulama terkenal dari berbagai negara pernah belajar kepada Hasyim Asy’ari. Di antaranya adalah Syaikh Sa’dullah al-Maymani

(37)

23

Hasbullah Tambak beras, KH. R.Asnawi Kudus, KH. Bisyri Syansuri Denanyar, KH.Dahlan Kudus dan KH. Saleh Tayu.

Fakta ini menunjukkan bahwa ulama asal diri sebagai ulama yang pantas untuk membagikan ilmu ke Indonesia pada masa lalu bukan hanya sekedar “murid” para ulama di Timur Tengah dan dunia islam. Namun mereka juga sebagai “guru” karena kedalaman ilmunya mendapatkan

penghormatan yang sangat banyak. Nama ulama dari Nusantara pun dicatat dengan tinta emas (Santosa,2007:36-37).

Setelah menyelesaikan belajarnya di Tanah Suci, beliau kembali ke Indonesia. Hasyim Asy’ari telah berhasil menunjukkan diri sebagai seorang ulama yang pantas untuk membagikan ilmu kepada orang lain. Hasyim Asy’ari merasa berutang jasa besar karena Mekkah telah

menjadikannya sebagai salah satu ulama yang mumpuni.

Sesampainya di Indonesia pada tahun 1883 M, berdasarkan catatan Gunsei kambu Jepang, Hasyim Asy’ari kembali lagi ke rumah orang tua

di Pesantren keras untuk mengajarkan berbagai ilmu yang diperoleh di Mekkah. Di samping juga mengajar di Pesantren mertuanya di Kemuning Kediri dan Pesantren kakeknya di Gedang Jombang.

Dengan memiliki latar belakang sebagai orang ‘alim, memiliki bakat yang baik dalam mencari ilmu dan pengalaman dalam mengajar yang cukup panjang, Hasyim Asy’ari menjadi guru terkenal di Jombang.

(38)

24

Tebu Ireng (Jombang), Pada tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1317 H. Beliau

juga mendirikan madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah di pondoknya dan memegang seluruh proses belajar mengajar di sana (Mukani,2015:18).

Kyai Hasyim bukan saja kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar, dua hari dalam seminggu, kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah beliau memeriksa sawah-sawahnya, pergi ke Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari situlah beliau menghidupi keluarga dan pesantrennya (Sanusi,2013:245-248).

C.Mendirikan Pesantren Tebuireng

Pada awalnya, menurut Abdul Basitth Adnan, niatan Hasyim Asy’ari untuk mendirikan pesantren ini mendapat tantangan keras dari keluarga. Ini dikarenakan lokasi Tebuireng sangat dekat dengan pabrik gula Tjoekir yang identik deangan dunia hitam dan kejahatan. Pendirian Pesantren menjadi tahap awal dan memberikan kesempatan bagi Hasyim Asyari untuk mengamalkan ilmu, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga masyarakat Jawa dan Nusantara (Mukani,2015:17).

(39)

25

Baik untuk tempat tinggal, shalat, mengaji dan sebagainya (Madyuni,2013:12).

Selama kurang lebih dua setengah tahun Hasyim Asy’ari tinggal bersama keluarga dan delapan santri yang ikut dari pesantren keras. Mereka harus berjuang untuk menjaga keberadaan Pesantren Tebuireng dari segala serangan dari Tokoh-Tokoh “dunia hitam” baik berupa seranga fisik, fitnah, gangguan dan sebagainya.

Dunia Tebuireng saat itu, mengutip Masyamsul Huda, terkenal dengan segala kemaksiyatan. Seperti perjudian, perampokan, pelacuran, pencurian, narkoba, minuman kersa dan sebagainya. Ini akibat yang belum terbiasanya penduduk pribumi dalam menghabiskan gaji yang terlalu tinggi dari pemerintah Belanda setelah bekerja di pabrik gula Tjoekir.

Pesantren Tebuireng didirikan pada tanggal 26 Rabi’ul Awal 1317

Hijriyah atau 1899 M dan diakui Belanda pada tanggal 6 Februari 1907 M. Dalam waktu tiga bulan, telah mampu memiliki 28 santri (Mukani,2015:18-19).

Keberhasilan ini merupakan puncak dari kegigihan Hasyim Asy’ari dalam berjuang tidak mengenal lelah. Di samping itu, kegigihan akhlaq yang ditunjukkan Hasyim Asy’ari merupakan daya tarik tersendiri dalam

menaklukkan kerasnya mental masyarakat Tebuireng saat itu. Kesabaran Hasyim Asy’ari dalam mewujudkan cita-cita, termasuk tidak

(40)

26

Hasyim Asy’ari tidak pernah membalas dengan kekerasan terhadap

berbagai kekerasan dari masyarakat sekitar. Termasuk teror dan intimidasi yang dilakukan setiap malam hari. Sebagai antisipasi, Hasyim meminta bantuan teman-temannya dari Cirebon Jawa Barat yang ahli pencak silat. Yaitu Kyai Saleh Bendakerep, Kyai Abdullah Pangurungan, Kyai Samsuri Wanantara dan Kyai Abdul Djalil Buntet (Mukani,215:19).

Selam delapan bulan, Hasyim dan para santri belajar pencak silat dari para pendekar ini dan terbukti berhasil. Pada waktu selanjutnya, para santri Tebuireng sudah berani mengadakan patroli malam hari. Ini menyebabkan daerah sekitar Tebuireng menjadi tenang dan aman.

Para perusuh dan pengacau lambat laun menyingkir dari Tebuireng. Menurut Imron Arifin, fakta ini mengakibatkan pengaruh Pesantren Tebuireng terhadap budaya masyarakat sekitar juga semakin meningkat.

Kemajuan pesat yang ditunjukkan Pesantren Tebuireng ini teryata ditanggapi negatif oleh penjajah Belanda. Hal ini dikarenakan banyak alumni Pesantren yang menjadi Tokoh agama di masyarakat. Juga memiliki jaringan kuat dengan K.H Hasyim Asy’ari. Di khawatirkan hal

ini akan menjadi “bom waktu” yang akan meledak sewaktu-waktu dan akhirnya akan mengancam Belanda di pulau Jawa.

Berbagai ancaman dan intimidasi dilakukan Belanda agar Hasyim Asy’ari menghentikan kegiatan dalam melahirkan para ulama. Termasuk

(41)

27

pengacau yang melakukan teror maupun dengan cara menggempur secara langsung bangunan Pesantren Tebuireng (Mukani,2015:20).

Tentara Belanda datang ke lokasi Pesantren dan dengan membabi buta, menghancurkan semua bangunan yang ada. Membakar banyak refrensi atau kitab-kitab kuning yang digunakan untuk mengaji dan bahkan menghajar penghuni Pesantren Tebuireng yang masih ada.

Peristiwa yang terjadi pada tahun 1913 ini, menurut Choirul Anam, tetap tidak mampu menyurutkan semangat Hasyim Asy’ari dalam melanjutkan kegiatan. Namun justru semakin mendorong para santri untuk lebih giat dalam berjuang dan semakin menunjukan bahwa Belanda memang pemerintahan yang tidak menghendaki adanya perkembangan Islam di daerah jajahannya.

Dalam periode perkembangannya, Pesantren Tebuireng telah mengalami berbagai perubahan, meskipun tokoh sentral di pesantren tersebut masih Hasyim Asy’ari. Sikap terbuka terhadap perubahan dalam

memimpin lembaga pendidikan yang ditunjukkan Hasyim Asy’ari ini merupakan pengaruh dari keadaan di Jazira Arab saat Hasyim Asy’ari

menimba ilmu di sana, yang ramai dengan kebangkitan semangat nasionalisme.

Sebagai bukti, menurut Karel A. Steenbrink, Hasyim Asy’ari setuju

(42)

28

terhadap kehadiran santri dalam mengikuti proses belajar mengajar yang dilakukan kiyai, termasuk melakukan perbaikan manajemen. Contoh lain adalah dimasukkannya pelajaran umum di madrasah, seperti matematika, geografi, sejarah, menulis huruf latin dan bahasa Belanda (Mukani,2015:22).

Hal ini merupakan “lompatan tersendiri” dari Pesantren Tebuireng

dan kemajuan yang terlalu moderen untuk jamannya. Pada masa awal, ide ini di respon negatif oleh para orang tua santri. Bahkan banyak yang memulangkan kembali anaknya, karena khawatir pemikiran anak-anak mereka diracuni oleh ilmu-ilmunya orang kafir Belanda.

Namun keputusan ini baru dirasakan ketika Jepang menjajah Indonesia, karena surat menyurat saat itu harus menggunakan bahasa latin. Di samping itu, banyak alumni Pesantren Tebuireng yang menjadi anggota Sangi Kai, sebagai dewan penasehat untuk Daerah Karesidenan, karena mereka telah di bekali ilmu pengetahuan agama dan pandai dalam menggunakan bahasa melayu.

Meski demikian, Hasyim Asy’ari seorang yang selektif terhadap

(43)

29

khawatirkan perubahan secara radikal tersebut akan memunculkan kekacauan di antara sesama pemimpin pesantren.

Hasyim Asy’ari menyetujui usul pendirian perpustakaan. Tidak hanya

menyimpan kutubus salaf, namun juga berlangganan majalah dan surat kabar umum. Seperti Panji Islam, Islam Bergerak, Dewan Islam, Adil, Nurul Islam, Berita Nahdhatul Ulama, Al- Munawarah, Panji Pustaka, Pujangga Baru, Pustaka Timur, Panjebar Semangat, dan sebagainya (Mukani,2015:23).

Pengabdian Pesantren Tebuireng kepada dunia pendidikan, terutama pada periode kepemimpinan Hasyim Asy’ari, telah melahirkan ribuan

alaumni. Pesantren Tebuireng telah menjelma menjadi “sumber penghasil” para pemimpin Pesantren di pulau Jawa dan Madura. Dari jumlah 200 alumni menjelang akhir 1910-an dan 2000 alumni pada tahun 1920-an, tepat pada tahun 1942-an, pesantren Tebuireng telah melahirkan tidak kurang 20.000 orang kyai yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Para alumni tersebut, lanjut Zuhairi Misrawi, tepat menjadikan Pesantren Tebuireng sebagai “kiblat” dalam mengembangkan diri. Hasyim

Asy’ari tetap menjadi figur sentral dalam setiap pergerakan saat itu.

Di antara alumni tersebut adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah Tambak beras, KH. Bisri Syamsuri Denanyar, KH. Manaf Abdul Karim Lirboyo, KH. Abbas Buntet Cirebon, KH. As’ad Syamsul Arifin Sukorejo

Situbondo, KH. Ma’shum Ali Seblak Jombang, KH. ‘Adlan Ali Cukir

(44)

30

KH.Abdul Muchit Muzadi yang menjadi mustasyar PBNU dan sebagainya (Mukani,2015:24).

Dukungan penuh dari keluarga merupakan salah satu faktor penting keberhasilan Hasyim Asy’ari dalam mengelola Pesantren Tebuireng. Baik ayah, maupun kakek moyang. Ini dimungkinkan karena menjadi seorang ulama tidak mudah.

Pada masa lalu, seorang ulama harus mampu melahirkan ulama-ulama yang lain. Di antaranya, dengan mendirikan pondok pesantren dan mendidik putra-putrinya dengan pendidikan keagamaan yang baik. Hasyim Asy’ari adalah salah satu potret nyata dari tradisi keulamaan Nusantara

yang latar belakang keluarga ulamanya telah mendorong untuk menjadi seorang ulama besar di kemudian hari.

Gelar keulamaan Hsyim Asy’ari sendiri semakin dikokohkan saat guru yang sangat dihormati yaitu syaikhona khalil, datang kepesantren Tebuireng untuk belajar tentang hadis. Kedatangan beliau yang Kharis matik itu seolah semakin mengukuhkan bahwa Hasyim Asy’ari kini sudah

menjadi gurunya dalam bidang hadis.

Syaikhona Khalil meski ahli dalam bidang tata bahasa Arab, sengaja datang ke Pesantren Tebuireng untuk menambah wawasan dalam bidang hadis. Terutama setelah mendengar kabar dari banyak orang yang pulang haji bahwa Hasyim Asy’ari telah menjadi ulama yang kedalaman

(45)

31

Setelah Hasyim Asy’ari wafat pada 1947, kepemimpinan Pesantren Tebuireng diserahkan kepada putra sulung, KH Abdul Wahid Hasyim (1947-1950). Dalam Profil Pesantren Tebuireng, pengasuh pondok Pesantren Tebuireng berikutnya berturut-turut adalah KH. Abdul Karim Hasyim (1950-1951), KH Achmad Baidhawi Asro (1951-1952), KH. Abdul Kholik Hasyim (1953-1965), KH. Muhammad Yusuf Hasyim (1965-2006) dan KH. Salahudin Wahid (2006-sekarang) (Mukani,2015:25-26).

D.Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Dalam Bidang Pendidikan

Tepat pada tanggal 26 Rab’ Al-Awwal 1317 H. Berepatan pada tanggal 6 Februari 1906 M, Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Oleh karena kegigihannya dan keikhlasannya dalam mensosialisasikan ilmu pengetahuan, dalam beberapa tahun kemudian Pesantren relatif ramai dan terkenal (Madyuni,2013:28).

Menurut Abu bakar Atjeh yang dikutip oleh editor buku Rais’ Am Nahdlatul Ulama hal. 153 bahwa KH. Hasyim Asy’ari mengusulkan pengajaran di pesantren diganti dari sistem bandongan menjadi sistem tutorial yang di bawah komando kyai-kyai NU.

(46)

32

samping mengajar, ia turut memikirkan dan memperjuangkan kemerdeka. Keluar masuk penjara pun menjadi resiko (Madyuni,2013:29).

Pada masa itu, beliau mengeluarkan dua fatwa yang terkenal dalam sejarah. Pertama: perang melawan Belanda adalah jihad, hukumnya wajib bagi setiap orang (fardhu ain). Kedua: melarang kaum muslimin beribadah haji menumpang kapal-kapal Belanda (Santosa,2007:37).

Pada masa penjajahan Jepang beliau pernah ditahan bersama KH. Mahfudz Siddiq, karena menolak Seikrei, sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan inisiatif dan keperibadian para santri. Namun hal ini ditolak oleh ayahnya, Asy’ari dengan alasan akan menimbulkan konflik di kalangan kyai sinior.

Pada tahun 1916-1934 Hasyim Asy’ari membuka sistem pengajaran berjenjang. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi ke dalam dua tingkatan. Tahun pertama dan tahun kedua dinamakan siffir awal dan siffir tsani yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awal dan siffir tsani itu diajarkan bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah pengetahuan Islam. Kurikulum madrasah mulai ditambah dengan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia (Melayu), matematika dan ilmu bumi, dan tahun 1926 ditambah lagi dengan mata pelajaran bahasa Belanda dan Sejarah(Madyuni,2013:30).

(47)

33

teliti dalam mengamati perkembangan tradisi ketarekatan di Pulau Jawa, yang nilai-nilainya telah menyimpang dari kebenaran ajaran Islam. Menurut Kyai Hasyim Asy’ari, beliau tetap mempertahankan ajaran -ajaran madzhab untuk menafsirkan Al-Qur’an dan Hadis dan pentingnya peraktek tarikat (Madyuni,2013:30).

Sebagaimana diketahui dalam sejarah pendidikan Islam tradisional, khususnya di Jawa, peranan Kyai Hasyim Asy’ari yang kemudian terkenal dengan sebutan Hadratu Asy-Syaikh (guru besar di lingkungan pesantren), sangat besar dalam pembentukan kader-kader ulama pimpinan pesantren. Banyak pesantren besar yang terkenal terutama yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di kembangkan oleh para kyai hasil didikan kyai Hasyim Asy’ari.

(48)

34

yang mengikuti jalan sufi menurut beliau adalah “niat yang baik dan lurus” (Madyuni,2013:31).

Salah satu karya monumental KH Hasyim Asy’ari yang berbicara

tentang pendidikan adalah kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’allim yang dicetak pertama kali pada tahun 1415 H. Sebagaimana umumnya kitab kuning, pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih ditekankan pada masalah pendidikan etika. Meski demikian tidak menafikan beberapa aspek pendidikan lainnya. Keahliannya dalam bidang hadis ikut pula mewarnai isi kitab tersebut (Madyuni,2013:31).

Belajar, menurut KH. Hasyim Asy’ari merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah, yang mengantarkan manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya belajar harus diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan hanya untuk sekedar menghilangkan kebodohan. Pendidikan hendaknya mampu mengantarkan umat manusia menuju kemaslahatan. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menurut Kiyai KH. Hasyim Asy’ari ada dua puluh etika yang harus di punyai oleh seorang guru:

pertama: selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Kedua: mempunyai rasa takut kepada Allah, takut atau Khouf. Ketiga: mempunyai sikap tenang dalam segala hal.

(49)

35

Kelima: tawadhu, tawadhu adalah dalam pengertian tidak sombong, dapat juga dapat dikatakan rendah hati.

Keenam: khusyuk dalam segala ibadahnya.

Ketujuh: selalu berpedoman kepada hukum Allah dalam segala hal.

Kedelapan: tidak hanya menggunakan ilmunya untuk tujuan duniawi semata.

Kesembilan: tidak rendah diri terhadap pemuja dunia. Kesepuluh: zuhud dalam segala hal.

Kesebelas: menghindari pekerjaan yang menjatuhkan martabat.

Kedua belas: menghindari tempat-tempat yang dapat menimbulkan ma’siyat.

Ketiga belas: selalu menghidupkan syiar Islam. Keempat belas: menegakkan sunah Rosull.

Kelima belas: menjaga hal-hal yang sangat di anjurkan.

Keenam belas: bergaul dengan sesama manusia secara ramah, melestarikan nilai-nilai kebajikan dan norma-norma islam kepada generasi penerus umat, dan penerus bangsa (Madyuni,2013:32).

Catatan menarik dan perlu dikedepankan dalam membahas pemikiran dan pandangan yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah etika

(50)

36

Betapa majunya pemikiran beliau di bandingkan dengan tokoh-tokoh lain pada zamannya, bahkan beberapa tahun sesudahnya. Dan pemikiran ini diangkat kembali oleh pemikiran pendidikan pada zaman sekarang, yaitu Harun Nasution, yang mengatakan hendaknya para dosen-dosen di Perguruan Tinggi Islam khususnya agar untuk membiasakan untuk menulis (Madyuni,2013:33).

Selain mumpuni dalam bidang agama, Kyai Hasyim Asy’ari juga ahli dalam mengatur kurikulum pesantren, mengatur strategi pengajaran, memutuskan permasalahan-permasalahan aktual kemasyarakatan, dan mengarang kitab. Pada tahun 1919, ketika masyarakat dilanda informasi tentang koperasi sebagai bentuk kerja sama ekonomi, kyai tidak berdiam diri. Beliau aktif bermuamalah dan mencarai solusi alternatif dalam pengembangan umat, dengan berdasarkan kitab-kitab Islam kelasik. Beliau membentuk badan semacam koperasi yang bernama Syirkatul Inan Li Murabathati Ahli al- Tujjar.

(51)

37 E. Nasehat-Nasehat KH. Hasyim Asy’ari

1. Tentang pendidikan

Inti pendidikan adalah menolong orang yang tidak tahu dan membetulkan orang yang melakukan kesalahan. (Adabul ‘Alim,80)

Saat ilmu tidak dicari untuk kepentingan agama, tunggulah kehancurannya.(Risalah Aswaja, 26)

Sedikit sekali orang mendapatkan ilmu secara sempurna kecuali orang-orang yang memiliki sifat faqir, qana’ah dan berpaling dari mencari dunia dan harta benda yang fana’ ini. (Adabu ‘Alim,83)

Mengutip dari kitab Nata’ij al-Afkar al-Qudsiyyah, bahwa siapa saja yang ingin selamat di dunia dan akhirat, ketika mencari guru hendaknya mencari guru yang memiliki sifat, (1) paham sifat-sifat Allah dan para Rasul beserta dalilnya, baik’ aqly maupun naqly, (2) paham guru harus sama dengan paham ahlussunnah wal jama’ah, (3) harus mengetahui

segala hukum Islam atau fiqh, baik yang menyangkut dzahir seperti bersuci, atau yang berkenaan dengan batin, seperti syukur dan tawakkal, (4) harus mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan, terutama yang dapat melunturkan sifat adil, karena setiap guru harus memiliki sifat adil. (Risalah fi al-Aqa’id, 28-29)

(52)

38

ahli kebenaran yang bermadzhab empat, (3) guru harus alim dengan hukum-hukum Allah, baik bathiniyyah maupun badaniyyah serta lembutnya cobaan dalam beramal, (4) guru itu harus mengamalkan ilmunya, memenuhi norma ilahi, yang haram harus dijauhi, yang wajib dan sunah harus dijalani serta tidak merusak sesuatu yang dapat merusak sikap adilnya. (al-Durar al-Muntatsirah, 46-47)

Etika yang baik perlu dipelajari seoarang pelajar ketika sedang belajar, demikian juga guru perlu mengetahui etika ketika sedang mengajar, (Adabul ‘Alim, 11).

Ulama adalah orang yang dalam diri mereka ada rasa takut kepada Allah adalah sebaik-baik mahluk. Ulama juga harus mengamalkan ilmunya, karena mereka memiliki keperibadian yang baik, selalu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan berbuat apa saja untuk memperoleh ridha Allah. (adabul ‘Alim,13)

Puncak suatu ilmu adalah amal, karena amal merupakan implementasi dari ilmu itu. Pemanfaatan ilmu dalam kehidupan sehari-hari merupakan buah ilmu itu, sekaligus sebagai bekal kita kelak untuk menghadap Allah. (Adabul ‘Alim, 14)

(53)

39

Sesungguhnya ilmu adalah pelindung dan perisai dari tipu daya setan, sebagai benteng dari tipu daya orang yang hasud, dengki dan sekaligus sebagai petumjuk akal. (Adabul ‘Alim,19)

Hidupnya ulama adalah rahmat bagi umat. Kematian ulama dalam Islam akan menyebabkan Islam menjadi terguncang, karena keseimbangan sosial masyarakat Islam menjadi goyah. (Adabul ‘Alim, 21)

Mencari ilmu bukan digunakan untuk mencari keuntungan duniawi (materialistik), baik untuk mencari jabatan, mengumpulkan harta bennda ataupun berlomba-lomba memperbanyak pengikut dan murid. (Adabul ‘Alim, 22)

Ketika tujuan itu menjadi cacat, maka niat orang yang mencari ilmu itu juga menjadi rusak. Hal ini karena memakai ilmu sebagai perantara mencari kemewahan dunia yang bersifat sementara, baik untuk mengumpulkan harta benda atau mencari jabatan. Pahala mencari ilmunya benar-benar telah sirna dan amal perbuatannya juga menjadi hilang, sehingga akhirnya menjadi orang yang sangat merugi. (Adabul ‘Alim, 24)

Yang mampu memberikan kebahagiaan dan usia yang panjang pada diri manusia dan ketenangan hanya jika dia mampu membersihkan dirinya dari kebodohan ilmu dan berpegang teguh pada ilmu itu dengan kuat serta tidak melupakan untuk mengamalkan ilmu itu. (Adabul ‘Alim, 46)

(54)

40

Hendaknya memakai sopan santun dalam meletakkan sebuah buku sebagai bentuk penghormatan pada ilmu, kemuliaan atau pengarangnya serta keagungannya. (Adabul ‘Alim, 97) (Mukani,2015:49-84).

2. Tentang Akhlaq

Sehatnya hati adalah terhindar dari sifat berlebihan dan sifat sombong. (Adabul ‘Alim, 26)

Ada empat perkara yang tidak akan merendahkan posisi orang yang mulia jika melakukannya meskipun seorang raja, yaitu berdiri untuk melayani orang tuanya, ber-khidmah kepada guru yang mendidiknya, bertanya sesuatu yang tidak diketahuinya dan melayani tamu. (Adabul ‘Alim,40-41)

Salah satu cara mengobati penyakit pikiran adalah dengan berkeyakinan bahwa iri adalah suatu perbuatan yang berlawanan deangan kehendak Allah, karena semua sudah ditetapkan Allah terutama kepada orang yang di-iri-kan juga bahwa iri itu hanya akan membuat sulit dan rusaknya hati semata. (Adabul ‘Alim, 64)

Akan datang suatu zaman saat manusia berorentasi hanya kepada perut kemuliaan hanya diukur dari harta benda, wanita dijadikan kiblat dan uang dijadikan agama. Mereka ini adalah sejelek-jeleknya makhluk Allah. (Risalah Aswajah,28)

(55)

41

Nasehat adalah sebuah kata yang mengungkapkan sejumlah keinginan baik terhadap sasaran nasehat dan tidaklah mungkin mengungkapkan semua itu dengan satu kata yang dapat mencakup semuanya. Baik itu kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum awam. (al-Nur al-Mubin, 10)

Tanda orang baik beruntung itu memiliki sifat-sifat beriman, amal saleh, memberi nasehat kebenaran dan memberi nasehat kesabaran, menjalani kebaikan dan menjauhi maksiat, sabar dalam menghadapi cobaan dan bahaya. (al- Durar al Muntatsirah,51)

Akhir dari jalan menuju Allah adalah taubat dari segala dosa dan hal-hal terlarang yang bisa dilakukan, dengan jalan (1) melanggengkan keadaan suci (2) melaksanakan shalat fardhu di awal waktu secara berjama’ah, (3) melanggengkan shalat Dhuha delapan rakaat dan empat

rakaat antara shalat Mahrib dan shalat Isyak, (4) berpuasa sunnah di hari Senen dan Kamis, (5) Shalat sunah di waktu malam hari, (6) membaca Al-Qur’an (7) memperbanyak membaca istighfar dan shalawat atas atas Nabi

Muhammad Saw, (8) melanggengkan dzikir. (al-Maqashid,35)

Silaturrahmi harus dijalankan dengan baik kepada saudara-saudara yang masih berhubungan darah, baik laki-laki maupun perempuan, terutama saudara yang lebih tua. (al- Tibyan, 9)

(56)

42

Sesungguhnya seluruh kebaikan itu berasal dari tiga perkara, yaitu membenarkan ke-Esa-an Allah serta mempelajarinya secara global, menguatkan diri secara lahir dan batin dengan ajaran syariat yang mulia dan memohon pertolongan untuk melaksanakan keduanya dengan bersifat wira’i dan riyadhah, dengan menjauh dari keramaian manusia yang negatif, meminimalkan makan, mengurangi perkataan, dan mengurangi tidur. (Risalah fil al-Masa’il al-Tsalatsah, 38) (Mukani,2015:49-52).

3. Tentang Kesuksesan Murid

Murid harus mensucikan hatinya dari segala sesuatu yang memiliki unsur menipu, kekotoran hati, rasa dendam, dengki, keyakinan yang tidak baik. Ini dilakukan agar mempermudah dalam peroses penerimaan ilmu, penghapalan ilmu dan juga pemahaman makna-makna yang sulit dan yang tersirat. (Adabul ‘Alim, 24)

Murid wajib berhati-hati dalam mengambil ilmu, jangan mengambil ilmu bukan dari ahlinya. (Risalah Aswajah, 17)

Gunakan masa mudamu untuk menuntut ilmu. Gunakan waktumu sebaik-baiknya, jangan tertipu dengan menunda-nunda belajar dan terlalu banyak berangna-angan (thulul amal), karena perjalanan umur manusia seperti berputarnya waktu, yang tidak mungkin diganti, ditukar, apalagi dikembalikan. (Adabul ‘Alim,25)

(57)

43

hati agar tidak terpecah akibat berbagai macam angan agar sumber hikmah bisa masuk mengalir ke dalam hati.(Adabul ‘Alim, 25)

Murid hendaknya mencari teman bermain yang bertaqwa kepada Allah, wira’i, bersih hatinya, banyak berbuat kebaikan, sedikit berbuat kejelekan, memiliki harga diri yang baik, sedikit berselisih pada orang lain dan mengingatkan jika murid lupa berbuat salah. (Adabul ‘Alim, 28)

Seorang murid sudah harus seyogyanya berpandangan bahwa guru adalah sosok yang agung dan terhormat serta memiliki derajat yang mulia dan tinggi. Ini harus dilakukan murid agar ilmu yang diperoleh bermanfaat. (Adabul ‘Alim, 30)

Dalam suatu pertemuan pembelajaran, seorang murid harus memakai budi pekerti yang baik, selalu menghormati sahabat, memuliakan pemimpin, pejabat dan teman sejawat, karena dengan ini berarti murid sudah menghormati gurunya dan menghormati majlis pembelajaran itu. (Adabul ‘Alim,35)

Silahkan murid bertanya kepada guru tentang berbagai hal yang belum dipahami. Pakailah bahasa yang sopan dengan sebaik mungkin. Gunakan waktu pembelajaran sebaik mungkin untuk meminta penjelasan guru. Adabul ‘Alim,36-37)

(58)

44

Murid yang sejati akan memiliki cita-cita yang tinggi, sehingga tidak akan merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, karena kalau bisa mencari ilmu sebanyak mungkin. Murid tidak boleh merasa cukup hanya pada apa yang diwariskan oleh para Nabi, karena hanya sedikit, sehingga murid tidak sombong dan bodoh. (Adabul ‘Alim, 48)

Sebelum membaca kitab, murid hendaknya membaca ta’awudz, basmalah, hamdalah, dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya, kemudian mendoakan gurunya, dirinya sendiri dan kaum muslimin, meminta rahmat Allah untuk pengarang kitab yang sedang di baca. (Adabul ‘Alim, 52)

Murid harus semangat dan optimis akan berhasil di masa mendatang, yang diwujudkan dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat serta menghindari keresahan yang mengganggu. (Adabul ‘Alim, 53)

Murid hendaknya menyebar luaskan kedamaian, menunjukkan sikap kasih sayang dan penghormatan serta menjaga hak yang dimiliki oleh teman, saudara baik seagama atau seaktivitas (Adabul ‘Alim, 54) (Mukani,2015:84-93).

F. Karya-Karya KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy’ari dikenal tidak semata sebagai pendiri jam’iya

(59)

45

Tidak diragukan lagi bahwa Syekh Hasyim Asy’ari mempunyai banyak ilmu dan ahli dalam berbagai bidangnya sehingga beliau menjadi panutan bagi para ulama pada zamannya maupun setelahnya. Berdasarkan keluasan dan kedalaman ilmunya, beliau telah membuat banyak buku, di antaranya:

1. Adaabul al-‘Alim Wa al-Muta’allim, yang menerangkan hal-hal yang dibutuhkan para pencari ilmu dan para pengajar dalam proses belajar dan mengajar.

2. Ziyaadatu Ta’liiqaat

3. Al- Tanbiihaat al-Waajibaat

4. Al-Risaalah al-jaami’ah, yang menjelaskan keadaan kematian dan tanda-tanda hari kiamat dan disertai pemahaman Hadits mengenai masalah tersebut.

5. Al- Nur al Mubiin fi Mahabbati Sayyidi al- Nursaliin, yang menerangkan arti dari cinta kepada Rasulluah SAW dan tata cara mengikutinya serta meneladani beliau dalam kehidupan.

6. Hasyiyiah ‘Ala Fathi al-Rahman dan di sertai syarah Risalati al-Waliy Ruslaani karangan Syekh al-Islam Zakariyyah al-Anshariy. 7. Al-Durar al-Munqatsirah fil al-Masa’il al-Ti’i ‘Asyarah,

menjelaskan masalah Thariqah dan Kewalian dan segala sesuatu. 8. Al-Tibyan fi al Nahyiy ‘an Muqaathi’ati al-Arham wa al-Aqaarib

(60)

46

persaudaraan dan akibat yang akan diterima jika memutuskan persaudaraan.

9. Al-Risalah al-Tauhidiyyah, ini adalah buku kecil yang menerangkan perihal aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama’ah.

(61)

47 BAB III

PENDIDIKAN KARAKTER PERSPEKTIF

K.H. HASYIM ASY’ARI

A. PENDIDIKAN KARAKTER SECARA UMUM

Mengupas masalah pendidikan karakter merupakan suatu pembahasan yang menarik, karena pemahaman pemikiran tentang makna pendidikan karakter sendiri sangat beragam. Kita berbicara tentang pendidikan karakter secara umum. Pendidikan karakter ini hendaknya ditempatkan pada skala prioritas dalam membangun bangsa. Mereka hendaknya dididik agar menjadi anak bangsa yang berakhlakul karimah. Untuk menjadikan generasi masa depan yang unggul, inovatif, kreatif, mandiri sesuai dengan kemajuan zaman (Nizar,2002:107).

(62)

48

Menurut George F. Kneller, pendidikan memiliki arti luas dan sempit. Dalam arti luas, pendidikan diartikan sebagai tindakan atau pengalaman yang mempengaruhi perkembangan jiwa, watak, ataupun kemampuan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan adalah suatu proses mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan dari generasi ke generasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan (Suwarno,2006:20).

Banyaknya faktor yang menyebabkan runtuhnya bangsa Indonesia pada saat ini. Diantaranya adalah faktor pendidikan. Kita tentu sadar bahwa pendidikan merupakan mekanisme institusional yang akan mengakselereasi pembinaan karakter bangsa dan juga berfungsi sebagai arena mencapai tiga hal prinsipal dalam pembinaan karakter bangsa. tiga hal prinsipal tersebut (menurut Rajasa, 2007) adalah:

1. Pendidikan sebagai arena untuk re-aktivasi karakter luhur bangsa Indonesia. Secara historis bangsa Indonesia adalanh bangsa yang memiliki karakter kepahlawanan, nasionalisme, sifat heroik, semangat kerja keras serta berani menghadapi tantangan. Kerajaan-kerajaan Nusantara di masa lampau adalah sebagai bukti keberhasilan pembangunan karakter yang mencetak tatanan masyarakat maju, berbudaya dan berpengaruh.

(63)

49

memobilisasi potensi domestik untuk meningkatkan daya saing bangsa.

3. Pendidikan sebagai sarana untuk menginternalisasi kedua aspek diatas yakni re-aktivasi sukses budaya masa lampau dan karakter inovatif serta kompetitif, ke dalam segenap sendi-sendi kehidupan bangsa dan program pemerintah (Muslica,2011:2-3).

Mendidik dikatakan membudayakan manusia, mendidik juga dikatan memanusiakan anak manusia. Anak manusia akan menjadi manusia hanya bila ia menerima pendidikan. Anak manusia bila di besarkaan oleh seekor binatang di tengah hutan akan bertingkah seperti binatang sebab tingkah laku binatang itulah yang sempat ia tiru. Dalam hal seperti ini jelaslah ia tidak menjadi manusia baik ditinjau dari segi penampilan maupun dari segi kejiwaan. Oleh sebab itu, untuk membuat anak manusia menjadi anak manusia yang mutlak diperlukan pendidikan (Pidarta,1997:4).

(64)

50

itu terbukti harus diupayakan terus menerus, tidak boleh putus di sepanjang sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia (Samani dan Hariyanto,2011:1).

Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap bertanggungjawab setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak (Samani dan Hariyanto,2011:42).

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi pemikiran pendidikan Hasyim Asy`ari dikedua situs tentang Etika Seorang murid terhadap guru bahwa di situs pertama masih kurang mengimplementasikan

Hasyim Asy’ari mengenai etika yang harus dipedomani oleh pendidik maupun peserta didik masih sangat relevan untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar pada saat

Kesimpulan penelitian ini adalah analisa pandangan pemikiran Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy’a ri tentang etika guru dan murid dalam pembelajaran di pondok pesantren,

hasyim Asy‟ari dalam Pendidikan islam, Jurnal pendidikan Agama Islam Al-Thariqah vol.6,2 juli – Desember 2021.. Muklis Lubis, Konsep Pendidikan Menurut Pemikiran

Kesimpulan dari skripsi ini adalah konsep pendidikan karakter yang terdapat dalam kitam Ta’limul Muta’allim Thoriqot Ta’allum antara lain mensyukuri nikmat, rendah hati, tekun,

Relevansi Metode Pembentukan Pendidikan Karakter Dalam Kitab Ta'lim Muta'allim Terhadap Pendidikan Modern.. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 2016,