Bab ini menjadi jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan. Jawaban disimpulkan setelah dianalisis melalui pendekatan World-System Analysis yang
dipadukan dengan klasifikasi kemajuan industri pertahanan ala Bitzinger.
Kombinasi ini membantu penulis dalam mengidentifikasi alasan Indonesia bekerja sama dengan Turki di bidang industri pertahanan dalam pengembangan modern medium weight tank.
BAB II
KEMANDIRIAN INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA
A. Kebijakan Pertahanan dan Industrinya
Pada periode pasca Perang Dingin perkembangan teknologi dalam industri pertahanan kian maju. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari pasar persenjataan dan alat pertahanan yang kian kompetitif sehingga para pelaku produsen senjata, yakni industri-industri pertahanan, gencar untuk mempromosikan produk- produknya. Beberapa perusahaan bekerjasama untuk menyiasati permintaan senjata dunia yang menurun, karena tidak ada lagi perseteruan antara Blok Timur dan Blok Barat (Darwanto 2015: 3).
Negara-negara besar mengutamakan persenjataan yang telah dikembangkan dengan teknologi canggih sebagai produk industri pertahanan mereka. Kondisi seperti ini lahir mengingat adanya liberalisasi industri pertahanan serta munculnya Revolution in Military Affairs (RMA) atau sering disebut di kalangan militer Indonesia sebagai Revolusi Krida Yudha (Widjajanto 2012).
RMA sendiri merupakan sebuah revolusi yang mengkombinasikan antara teknologi militer, komando dan struktur organisasi militer, doktrin militer, dengan konsep operasional yang baru dalam ruang lingkup peperangan (Hundley 1999;
Sloan 2008).
Adanya pembebasan terhadap industri pertahanan dan perubahan yang dramatis dalam operasi militer akibat kemajuan teknologi serta RMA, menjadikan berbagai sistem senjata berbasis teknologi tinggi yang diproduksi oleh industri-
negara-negara Barat yang mayoritas telah lebih dulu mengadopsi RMA (Hundley 1999).
Teknologi canggih yang diterapkan dalam sistem persenjataan modern diinginkan oleh setiap angkatan bersenjata selaku pengguna (user), untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan nasional dalam menangkal ancaman- ancaman kontemporer atau meningkatkan posisi tawar untuk kepentingan politik luar negeri suatu negara.
Pada era digital kini, kapabilitas pertahanan masih menjadi simbol kekuatan dan sarana untuk menggapai kepentingan nasional. Efektivitas pertahanan negara diperngaruhi kemampuan industri pertahanan dalam memenuhi pengadaan dan pemeliharaan alutsista secara mandiri. Presiden SBY melihat stagnansi industri pertahanan nasional dan memberi arahan agar segera merevitalisasi industri pertahanan pada tahun 2004. Setelah itu, Kemhan RI, TNI, dan perusahaan produsen alutsista dalam negeri segera menyatu untuk membangkitkan kekuatan industri pertahanan nasional (Sjamsoeddin 2012).
Kemajuan industri pertahanan Indonesia tidak diperoleh dalam waktu yang singkat. Perkembangan industri pertahanan nasional dicapai melalui proses yang panjang dan berbagai dinamika kondisi dalam negeri serta politik internasional.
Setidaknya, ada beberapa hal yang turut menggerakkan industri pertahanan Indonesia, yakni kebijakan pertahanan Indonesia, kebangkitan industri pertahanan nasional, dan anggaran yang dialokasikan oleh negara.
1. Kebijakan Pertahanan
Di awal masa Orde Baru, kebijakan pertahanan diliputi sentimen anti- komunis yang ditandai dengan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca peristiwa G30S. Operasi TNI − saat masih bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) − didominasi oleh penumpasan anggota dan simpatisan PKI, serta melawan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) dan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) yang berhaluan ideologi komunis. Pada era tersebut, Angkatan Darat melakukan tiga pola dalam operasi militernya, yakni operasi tempur, operasi intelijen, dan operasi teritorial (Widjajanto dan Prasetyono 2006).
Komando Teritorial yang dijalankan mulai dari tingkat Komando Daerah Militer hingga Komando Rayon Militer memiliki tugas dan tanggung jawab di sektor kewilayahan, yaitu mengontrol dan memelihara stabilitas teritori. Pada dasarnya, manajemen teritorial yang dilakukan oleh ABRI mengarah pada pengkondisian geografi, demografi, dan sosial untuk memperoleh kekuatan wilayah demi mempertahankan kedaulatan dan kepentingan negara. Pada era Orde Baru, satuan dalam Komando Teritorial dijadikan sarana bagi ABRI agar dapat masuk ke dalam aspek sosial, politik, dan ekonomi rakyat sipil. Sehingga, kebijakan ini memberikan peluang lebih kepada tentara untuk dapat berpolitik praktis dan menjalankan Dwifungsi ABRI (Matanasi 2018).
Sentimen anti-komunis ini tak hanya berlangsung di dalam negeri, namun juga sampai ke hubungan diplomatik antar negara. Pasca peristiwa G30S, Presiden Soeharto menghentikan semua kerja sama dengan negara-negara yang
berhaluan komunis seperti Rusia. Sehingga, Indonesia harus menerima sanksi embargo militer dari Rusia, dampaknya banyak pesawat tempur canggih pada masanya seperti MIG-21 dan pesawat bomber TU-16 harus dikandangkan akibat kosongnya suku cadang (Pratomo 2016).
Akhir masa Orde Baru diwarnai dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia, sehingga TNI absen dalam memperkuat postur militernya hingga masa- masa Reformasi. Hal ini dibuktikan dengan tidak terealisasinya usulan pembelian kapal selam pabrikan Korea Selatan, tidak terlaksananya rencana program peningkatan sistem radar pertahanan udara yang dilakukan akhir tahun 1999, serta gagalnya rencana pengadaan enam pesawat NC-212 Maritime Patrol Aircraft dan tiga helikopter NBO-105 CB produksi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara / PT Dirgantara Indonesia (Sulistyo 2014).
Indonesia baru mulai bisa memperkokoh kemampuan pertahanan nasionalnya pada 2003 dengan membeli jet tempur dari Rusia yakni Su-27 dan Su-30 masing-masing dua unit. Pembelian Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) dari Rusia itu pun terjadi karena Indonesia masih terkendala sangsi embargo senjata oleh AS akibat insiden Santa Cruz yang dilakukan oleh TNI (Pratomo 2016; Sulistyo 2014). Di masa ini, pemerintah berusaha menunjukkan bahwa Indonesia tidak mudah ditekan secara politis melalui pemantapan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif.
Pada tahun 2004, Indonesia mulai berupaya untuk merevitalisasi industri pertahanan hingga menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam jangka waktu lima tahun ke depannya. Hal ini termaktub dalam Buku Putih Pertahanan
tahun 2003 di mana Dephan dan TNI mendorong kerja sama industri pertahanan dengan lembaga pelaku Ilmu Pengetahuan dan Teknologi lain, seperti perguruan tinggi dan industri nasional lainnya. Pada tahun 2010, wacana kemandirian pengadaan alutsista baru terlihat secara nyata saat PT Pindad berhasil mensuplai 33 unit kendaraan tempur jenis panser APS-2, cikal bakal panser Anoa, kepada TNI AD sebanyak 20 unit dan 13 unit sisanya digunakan oleh TNI dalam misi UN Peacekeeping Operation di Lebanon (Sulistyo 2014).
Kebijakan-kebijakan pertahanan negara lain yang akan diselenggarakan pada rentang tahun 2015 hingga 2019 diatur dalam Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 19 Tahun 2015 dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Adapun kebijakan-kebijakan tersebut di antaranya; Kebijakan Pembangunan Pertahanan Negara, Kebijakan Pemberdayaan Pertahanan Negara, Kebijakan Pengerahan Kekuatan Pertahanan Negara, Kebijakan Regulasi Bidang Pertahanan, Kebijakan Anggaran Pertahanan, dan Kebijakan Pengawasan (Ryacudu 2015b).
Turunan dari kebijakan-kebijakan tersebut di antaranya; membangun postur pertahanan negara dan membina kekuatan militer untuk mewujudkan pemenuhan kekuatan pokok minimum atau MEF, membangun dan memberdayakan kerja sama internasional demi terciptanya kawasan yang stabil dan damai, memberdayakan potensi pertahanan yang diarahkan pada penguasaan teknologi pertahanan, membangun serta memberdayakan industri pertahanan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista secara mandiri (Ryacudu 2015b).
MEF sebelumnya pernah diperkenalkan dengan terminologi minimum required essential force pada Buku Putih Pertahanan Indonesia tahun 2003 (Djalil 2003: 12). Sederhananya, MEF dijelaskan dalam Buku Putih tahun 2003 hanya sebagai kekuatan dan kemampuan TNI yang diperlukan untuk mengatasi kondisi keamanan yang darurat. Pada aturan lain, MEF dirincikan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2008 Tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.
Menurut Perpres ini (Yudhoyono 2008), MEF merupakan tingkat kekuatan yang diperlukan untuk mampu mengatasi ancaman keamanan serta menjamin kepentingan strategis yang mendesak.
Senada dengan Perpres, dalam Buku Putih Pertahanan di tahun yang sama, pemerintah menganggap MEF sebagai standar kekuatan untuk menangkal ancaman keamanan nasional serta disegani dalam lingkup kawasan. Dephan melalui Buku Putih Pertahanan tahun 2008 juga menginginkan peningkatan jumlah dan kondisi alutsista agar TNI dapat menggapai kekuatan di atas MEF (Sudarsono 2008).
Wacana kemandirian produksi alutsista juga sudah ada dalam Buku Putih Pertahanan tahun 2003. Pertumbuhan industri pertahanan dalam negeri didorong seiring kondisi kesehatan keuangan negara (Djalil 2003). Isu kemandirian pengadaan Alpalhankam kemudian didalami dalam Buku Putih Pertahanan tahun 2008.
Ketergantungan Indonesia kepada negara lain dalam bidang teknologi militer dimanifestasikan oleh ketidakmandirian Indonesia dalam penyelenggaraan pengadaan alutsista. Ketergantungan angkatan bersenjata nasional akan produk
militer luar negeri membahayakan kesiapan tempur dan melemahkan daya tangkal serta daya gentar yang dimiliki oleh TNI. Hal ini terjadi karena secara politis, ketergantungan akan produk pertahanan luar negeri membuat Indonesia sangat rentan menerima dikte dan tekanan politik negara lain. Dampaknya, pembangunan serta pemeliharaan postur pertahanan akan terhambat (Sudarsono 2008).
2. Revitalisasi Industri Pertahanan Nasional
Industri pertahanan merupakan garda depan dalam pengembangan sistem pertahanan yang mandiri. Disahkannya Keputusan Presiden Nomor 59 tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan menjadi sebuah awal realisasi cita-cita pembangunan industri pertahanan di Indonesia (Karim 2014:97).
Padahal, pabrik senjata di Indonesia sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Constructie Winkel, demikian nama pabrik yang bermula dari bengkel senjata. Bengkel itu dibangun pada tahun 1808 dan tidak lain sebagai cikal bakal PT Pindad (Karim 2014:101). Selain itu, ada pula fasilitas mesin perkakas yang dilengkapi sarana dengan tenaga listrik terbaru yang diresmikan pada 1912 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan nama Marine Establishment. Fasilitas ini nantinya berfungsi sebagai pemeliharaan dan perbaikan armada kapal Belanda.
Seiring perjalanan, fasilitas inilah yang menjadi cikal bakal PT PAL (Persero) (Karim 2014:130).
Di ranah kedirgantaraan, pada tahun 1914 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Bagian Uji Terbang di Surabaya yang memiliki tugas untuk
mempelajari kinerja pesawat terbang. Lembaga yang menjadi pionir industri pertahanan matra udara ini berganti-ganti nama dan fungsi seiring waktu berjalan, hingga pada tahun 1964 menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan, tahun 1966 berubah menjadi Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio, tahun 1976 menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, tahun 1985 berubah nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Kemudian akhirnya pada tahun 2000 IPTN berganti nama baru menjadi PT Dirgantara Indonesia (Persero) seperti yang dikenal sekarang (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
PT Dahana (Persero) dipandang sebagai perintis dalam industri bahan peledak sebenarnya berawal dari Proyek Menang yang mulai diinisiasi pada tahun 1964 di Tasikmalaya. Proyek Menang adalah perwujudan hasil kerja sama antara Angkatan Udara RI (AURI) – saat TNI AU masih tergabung dalam ABRI – dan Hispano Suiza (Swiss). Proyek tersebut bertujuan membangun pabrik pembuatan misil yang mulanya diperuntukkan bagi kepentingan kampanye militer dalam operasi Trikora dan Dwikora. Kemudian Menang turut dalam pembuatan bahan peledak sebagai produk sampingannya. Pabrik yang kemudian diberi nama Dahana ini berkembang menjadi produsen bahan peledak. Produk utamanya adalah dinamit yang dimaksudkan untuk keperluan pertambangan (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
Perkembangan industri pertahanan nasional memiliki keterkaitan erat dengan dinamika pengelolaan industri strategis di mana yang menjadi sosok utama adalah presiden ketiga Indonesia, B. J. Habibie. Habibie sudah menduki
jabatan sebagai Kepala Penelitian dan pengembangan Analisis Struktur Pesawat Terbang di perusahaan kedirgantaraan Jerman, Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB), pada 1965. Pada 1968, Habibie mengajak insinyur-insinyur dari Indonesia untuk bekerja di MBB. Karena keuletan dan kepandaiannya, Habibie meraih jabatan sebagai Direktur Teknologi dan juga menjadi Penasihat Senior Bidang Teknologi untuk Dewan Direksi MBB pada 1969 hingga 1973 (Karim 2014; Marikxon 2009).
Kemudian pada 1974, Presiden Indonesia ke-2, Soeharto, meminta Habibie untuk pulang kembali ke Indonesia. Pada tahun itu pula Habibie diangkat menjadi Penasihat Pemerintah di bidang Teknologi Pesawat Terbang dan Teknologi Tinggi di bawah presiden langsung. Habibie juga membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan (Divisi ATTP) di Pertamina pada tahun 1974, divisi ini juga yang membangun kecakapan pertamina dalam aspek kemampuan teknologinya (Karim 2014:99,125).
Pengelolaan dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khususnya BUMN Industri Strategis (BUMNIS) belum dilakukan secara integratif karena pengelolaan secara teknis ada pada departemen terkait, sehingga untuk mengintegrasikan BUMNIS dalam mengelola perkembangannya dibutuhkan lembaga pemerintah non departemen yang berfungsi sebagai payung untuk menaungi operasi industri strategis dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka Keputusan Presiden Nomor 44 tahun 1989 tentang Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) (Karim 2014; Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
Daftar sepuluh industri strategis pun ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 44 tahun 1989. Kesepuluh BUMN tersebut di antaranya : PT (Persero) Industri Pesawat Terbang Nusantara, PT (Persero) PAL Indonesia, PT (Persero) Pindad, Perusahaan Umum Dahana (PERUM), PT (Persero) Krakatau Steel, PT (Persero) BARATA INDONESIA, PT (Persero) Boma Bisma Indra, PT (Persero) Industri Kereta Api, PT (Persero) Industri Telekomunikasi Indonesia, dan Unit Produksi Lembaga Elektronika Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Soeharto 1989a).
Sejalan dengan berdirinya BPIS, Keputusan Presiden Nomor 56 tahun 1989 tentang Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS) dikeluarkan sebagai dasar terbentuknya lembaga pembina BPIS. Namun perjalanan BPIS tak selalu berjalan lancar karena terdapat perbedaan pendapat di kalangan elit pemerintah terhadap proyek-proyek strategis (Soeharto 1989b). Hingga saat terjadinya krisis moneter, lembaga pemerintah non departemen ini harus dibubarkan dan digantikan oleh PT Pakarya Industri, dan berubah lagi menjadi PT Bahana Pakarya Industri Strategis (Kementerian Badan Usaha Milik Negara 2008:342).
Perusahaan ini merupakan BUMN yang bertindak sebagai perusahaan induk (holding company) dari industri-industri strategis melalui Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1998. Melalui PT Bahana Pakarya Industri Strategis, BPIS yang semula lembaga pemerintah non departemen mencoba kembali bangkit dan bertransformasi menjadi sebuah perusahaan milik negara berbentuk perseroan terbatas (Sugiharto 2012).
Kemudian, susunan DPIS turut diperbaharui berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 40 tahun 1999 yang memasukkan Komisaris Utama PT Pakarya Industri, Direktur Utama PT Pakarya Industri, dan Ketua Kamar Dagang Indonesia. Pengelolaan di bawah naungan PT Bahana Pakarya Industri Strategis tidak membawa kemajuan teknologi yang signifikan dalam rangka mencapai kemandirian alutsista karena pasca reformasi, holding company ini harus memperbaiki masalah pendanaan yang dihadapi oleh industri strategis (Soeharto 1999).
PT Bahana Pakarya Industri Strategis pun harus dilikuidasi pada 2002 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2002. Runtuhnya PT Bahana Pakarya Industri Strategis sebagai holding company yang menjadi koordinator dan ujung tombak integrasi pengembangan BUMNIS, berdampak pada kemunduran operasi perusahaan-perusahaan milik negara berbasis teknologi. Seperti PT Dahana (Persero), industri yang bergerak di sektor bahan peledak ini harus merasakan hak istimewa BUMN tersebut, yakni seperti hak monopoli bahan peledak, dicabut oleh negara (Dahana 2013).
Setelah likuidnya BPIS, industri pertahanan dalam negeri mengalami masa krisis. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melihat kelesuan industri pertahanan nasional. Menurutnya, industri pertahanan merupakan industri yang memiliki teknologi dan kualitas sumber daya manusia yang tinggi harus digunakan dengan baik, jika tidak Indonesia akan merugi (detikFinance 2009).
Dengan demikian, SBY beserta jajaran kabinetnya melakukan manuver-manuver kebijakan untuk merevitalisasi industri pertahanan.
Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dibentuk dalam rangka mengembalikan marwah industri pertahanan nasional serta meminimalisir ketergantungan alutsista dari luar negeri. KKIP mewakili pemerintah untuk mengoordinasikan kebijakan nasional dalam perencanaan, perumusan, pelaksanaan, pengendalian, sinkronisasi, dan evaluasi industri pertahanan. KKIP memiliki fungsi untuk merumuskan dan mengevaluasi kebijakan mengenai pengembangan dan pemanfaatan industri pertahanan (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018b).
KKIP sendiri didirikan pada 2010 di masa pemerintahan Presiden SBY.
Kabinet Indonesia Bersatu jilid pertama pada era Presiden SBY mulai merevitalisasi industri pertahanan. Pemerintah kala itu mengakomodir keterlibatan pihak swasta dan memberi peluang besar bagi mereka dalam kegiatan industri pertahanan (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
Upaya ini ternyata dilanjutkan oleh Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua yang menghasilkan Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan, yang dilanjutkan dengan disahkannya Undang- undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Secara organisatoris, Ketua KKIP yakni Presiden RI menjalankan tugas dan fungsinya dibantu oleh Menteri Pertahanan selaku Ketua Harian KKIP dan Menteri BUMN selaku Wakil Ketua Harian KKIP.
Selain itu, KKIP memiliki 11 Menteri dan Kepala Lembaga yang turut serta menjadi anggota, yakni Menteri Pertahanan, Menteri BUMN, Menteri Perindustrian, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Menteri
Pendidikan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas, Menteri Luar Negeri, Panglima TNI dan Kapolri (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018b).
Memiliki usia yang sudah tidak muda lagi tetap tidak menjamin kemapanan industri pertahanan dalam negeri. Hal ini tidak lepas dari permasalahan dan stigma negatif yang mengarah pada BUMN Industri Strategis (BUMNIS) yang di dalamnya termasuk industri pertahanan.
Stigma negatif tersebut di antaranya berkutat pada kualitas produk, proses pengiriman yang lambat, hingga rendahnya kemampuan dalam memberikan layanan purna jual. Masalah ini tidak lepas dari sistem pengelolaan industri pertahanan yang state-centric serta perdebatan di kalangan pemerintah era Orde Baru antara kaum teknokrat dan kubu ekonom (Karim 2014:146).
Sistem pengelolaan yang state-centric mengharuskan negara untuk mengelola industri pertahanan dari proses awal hingga akhir. Proses riset teknologi, penganggaran, hingga penggunaan, semua bersumber dari dan dilakukan oleh negara. Sekilas, tak ada masalah dengan sistem pengelolaan state- centric karena hampir semua negara menggunakan pendekatan ini, namun masalahnya Indonesia tidak memiliki desain yang komprehensif mengenai sistem industri pertahanan dalam negeri yang berbasis BUMN (Karim 2014:147).
Selain itu, perdebatan antara ekonom dengan teknokrat di kalangan pemerintahan Orde Baru didasari ketidaksepahaman tentang pentingnya pengembangan teknologi industri dan proyek strategis. Kubu ekonom berpendapat bahwa proyek-proyek strategis seperti penelitian dan pengembangan teknologi
merugi (sunk cost) karena banyak anggaran yang dikeluarkan, sementara para teknokrat beranggapan hal tersebut wajar karena manfaatnya tidak dirasakan di masa depan (Sampurno dan Kuffal 2011).
Kondisi ini berdampak pada kurangnya perhatian dan kepercayaan pemerintah hingga berujung pada tidak optimalnya industri pertahanan dalam negeri. Akibatnya, pengadaan alutsista dalam rangka pemenuhan postur pertahanan nasional dilakukan dengan mekanisme impor.
Bagi Indonesia, membatasi impor menjadi suatu hal yang dilematis.
Pasalnya, impor alutsista lebih murah dan kualitasnya terbukti telah teruji sehingga lebih efisien dibandingkan dengan produk baru hasil industri domestik yang belum tentu kualitasnya sama baik dengan produk impor. Situasi ini didukung oleh industri pertahanan nasional yang belum mampu memproduksi alutsista berteknologi canggih, namun pemerintah dituntut harus memberi kesempatan pada perusahaan domestik (Karim 2014:173).
Impor senjata dan alat khusus pertahanan sangat erat kaitannya dengan ketergantungan (Bakrie 2017). Pengaruh ketergantungan akan alutsista dari negara lain dapat membahayakan negara saat terjadi politik embargo senjata oleh negara produsen. Kekuatan pertahanan akan turun drastis sehingga akan berdampak pada berkurangnya deterrence effect dalam menjaga keutuhan kedaulatan negara.
Embargo senjata sudah dialami oleh Indonesia pada tahun 1995 hingga 2005 oleh AS. Kondisi ini menyebabkan aset pertahanan udara Indonesia yang dibeli dan bersumber dari AS, seperti setengah lusin F-16 Fighting Falcon, sejumlah F-5 Tiger, hingga C-130 Hercules yang notabenenya pesawat angkut
mengalami kemunduran hingga harus dihanggarkan (grounded) (CNN Indonesia 2016).
Bahkan, sekutu AS, Inggris, turut mengembargo Indonesia melalui Uni Eropa pada 1998. Embargo senjata tidak terbatas pada suplai saja, melainkan sampai alutsista yang sudah dibeli dan dimiliki tidak boleh digunakan oleh Indonesia. Kondisi tekanan dari luar ini membuat Indonesia tidak leluasa menjalankan prinsip politik luar negeri bebas-aktifnya (Karim 2014:73).
Pengalaman diembargo oleh negara lain menjadi pelajaran bagi Indonesia agar dapat melepaskan ketergantungan dan tekanan dari negara produsen senjata.
Kemandirian alutsista pun tidak sebatas diartikan sebagai dapat memproduksi secara swadaya, namun juga dapat dipahami sebagai kemandirian dalam membeli, merawat, dan menggunakan. Masalah kemandirian akan selalu menjadi tantangan bagi industri pertahanan nasional yang wajib diikuti dengan kemauan dan kemampuan untuk terus mandiri (Karim 2014:72-74).
3. Alokasi Anggaran
Pertahanan masih menjadi perhatian utama pemerintah, hal ini terlihat dari peningkatan anggaran bagi Kemhan RI yang mengalami kenaikan secara signifikan sejak tahun 2010. Data yang diolah dari Katadata bersumber dari Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan memaparkan pada 2011 anggaran Kementerian Pertahanan sebesar 51,2 triliun rupiah dari sebelumnya 42,4 triliun rupiah pada tahun 2010 (Victoria 2019).
Gambar II.1: Grafik Statistik Anggaran Kementerian Pertahanan RI
(Sumber: Katadata, Kementerian Keuangan RI)
Kemudian pada tahun 2012 anggaran pertahanan sebesar 61,3 triliun, lalu pada tahun 2013 anggaran kembali ditingkatkan menjadi 87,7 triliun, dan pada tahun 2014 mengalami penurunan dalam APBN menjadi 86,2 triliun rupiah.
Fluktuasi anggaran bagi Kemhan juga masih terjadi pada rentang tahun 2015 hingga 2019 (Victoria 2019).
Pada tahun 2015 anggaran pertahanan mencapai 101,4 triliun, sedangkan tahun 2016 anggaran ini turun menjadi 98,1 triliun, lalu tahun 2017 mengalami kenaikan tajam yakni 117,3 triliun rupiah. Pada tahun 2018 mengalami kemerosotan nilai anggaran dalam APBN menjadi 107,7 triliun dan tahun 2019 sebesar 108,4 triliun rupiah (Victoria 2019).
Pendanaan Kemhan tahun 2019 didominasi untuk program penyelenggaraan manajemen dan operasional matra laut sebesar 11,16 triliun rupiah dan matra darat 37,49 triliun rupiah, serta program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Kemhan sebesar 15,37 triliun rupiah. Anggaran untuk memodernisasi alutsista dan non alutsista (atau sarana dan prasarana), untuk matra udara 2,58 triliun rupiah, matra laut 3,6 triliun rupiah, dan matra darat 5,15 triliun rupiah (Victoria 2019).
Anggaran yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada Kemhan tidak bisa menjadi satu-satunya rujukan untuk menganalisis kemajuan industri pertahanan nasional. Data anggaran tersebut hanya dapat menjadi salah satu instrumen dalam melihat perkembangan keseriusan pemerintah untuk memprioritaskan pertahanan dalam negeri selain aksi diplomatik kenegaraan.
Dengan demikian, maka diperlukan data ekspor-impor alutsista Indonesia.
Gambar II.2: Grafik Nilai Ekspor Alutsista Indonesia
(Sumber: Katadata, Badan Pusat Statistik)
Indonesia berperan sebagai negara eksportir alutsista, khususnya kendaraan lapis baja atau dikenal dengan kendaraan tempur. Dilansir dari data BPS yang diolah oleh Katadata, Pemerintah Indonesia pada tahun 2010 berhasil
Indonesia berperan sebagai negara eksportir alutsista, khususnya kendaraan lapis baja atau dikenal dengan kendaraan tempur. Dilansir dari data BPS yang diolah oleh Katadata, Pemerintah Indonesia pada tahun 2010 berhasil