KERJA SAMA INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA − TURKI DALAM PENGEMBANGAN
MODERN MEDIUM WEIGHT TANK
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Arif Yanfa Nugroho 11151130000006
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata I di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil plagiat dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI
Dengan ini, pembimbing skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:
nama : Arif Yanfa Nugroho NIM : 11151130000006
program studi : Ilmu Hubungan Internasional telah menyelesaikan skripsi dengan judul
KERJA SAMA INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA − TURKI DALAM PENGEMBANGAN MODERN MEDIUM
WEIGHT TANK
dan telah memenuhi syarat untuk diuji.
Jakarta, 2 September 2020
Mengetahui, Menyetujui,
Kaprodi Hubungan Internasional Pembimbing, FISIP UIN
Jakarta,
M. Adian Firnas, M.Si. NIP:
Mengetahui,
Kaprodi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta,
M. Adian Firnas, M.Si.
NIP. 197102111999031002
Menyetujui, Pembimbing,
M. Adian Firnas, M.Si.
NIP. 197102111999031002
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
SKRIPSI
KERJA SAMA INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA − TURKI DALAM PENGEMBANGAN MODERN MEDIUM WEIGHT TANK
Oleh
Arif Yanfa Nugroho 11151130000006
telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 21 Desember 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu
syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos.) pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional.
Ketua, Sekretaris,
M. Adian Firnas, M.Si. Irfan R. Hutagalung, S.H., LL.M.
NIP. 197102111999031002 NIP.
Penguji I, Penguji II,
Mutiara Pertiwi, M.A. Khoirun Nisa, MA. Pol.
NIP. 198011292009122002 NIP. 198503112018012001
Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 22 Februari 2021.
Kaprodi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta,
ABSTRAK
Uzurnya Alutsista yang dimiliki Indonesia, terutama kendaraan lapis baja, membuat pemerintah Indonesia harus bekerja sama dengan negara lain untuk memodernisasi sistem persenjataannya demi pemenuhan minimum essential force yang optimal. Tank kelas medium bernama “Harimau” merupakan bukti keberhasilan dari kerja sama industri pertahanan antara Turki dengan Indonesia.
Selain Turki, sebenarnya Jerman juga menawarkan kerja sama pengembangan tank kelas menengah ini. Sehingga, perlu diketahui apa alasan pemilihan Turki sebagai mitra kerja sama. Tujuan dari penelitian ini selain untuk mengetahui dasar pemilihan Turki, juga untuk mengetahui kemampuan industri pertahanan Indonesia dan Turki dalam memproduksi modern medium weight tank.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder dengan metode penelitian kualitatif. Konsep World-System Analysis dari Wallerstein, diparalelkan dengan konsep klasifikasi industri militer dari Bitzinger menjadi kerangka pemikiran penelitian ini. Dikarenakan keterbatasan sumber daya penelitian, analisis skripsi ini tidak mengikutsertakan aspek fakta imbal dagang, offset, dan kandungan lokal sebagaimana menjadi faktor penentu tambahan dalam pendekatan World-System Analysis. Karenanya, argumentasi yang dikemukakan bersifat spesifik pada peluang reposisi Indonesia secara politik dan teknis.
Penelitian ini menjelaskan bagaimana kerjasama politik dan teknis dapat meningkatkan peluang Indonesia sebagai negara semiperiphery dengan level 2b untuk menjadi setara dengan Turki di level 2a. Dalam bidang pengembangan industri pertahanan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, faktor-faktor tersebut mengarahkan Indonesia agar memilih Turki dalam pengembangan modern medium weight tank.
Kata kunci: industri pertahanan, modern medium weight tank, alutsista, Turki, Indonesia, World-System Analysis
KATA PENGANTAR
Bismillah, prakata karya ilmiah skripsi ini dimulai dengan mengutip ayat populer dari Surah Ar-Rahman: “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. Ayat ini dimunculkan karena manusia, termasuk peneliti sendiri, sering lupa terhadap nikmat Allah yang sudah diterimanya sebelum turun berbagai masalah dan cobaan.
Maka, hal pertama dan utama yang patut peneliti lakukan adalah mengucapkan hamdalah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang pasti menambahkan nikmat-Nya bagi hamba-hamba yang bersyukur.
Kedua, peneliti memohon maaf kepada siapapun yang merasa tidak nyaman atas keterlambatan penyelesaian skripsi ini, serta mengakibatkan tertundanya kelulusan peneliti sebagai mahasiswa. Skripsi ini dibuat dengan tujuan memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sosial di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Bahasan dalam karya ini berisi tentang analisis pengembangan Modern Medium Weight Tank sebagai bentuk kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dengan Turki.
Tak lupa, peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu terbitnya skripsi ini:
1. Muhamad Adian Firnas, S.IP., M.Si. selaku Ketua Program Studi Hubungan Internasional sekaligus dosen pembimbing skripsi.
2. Kedua orang tua peneliti, Sri Haryanto dan Faizah, yang senantiasa mencurahkan hal-hal terbaik bagi anak-anaknya serta selalu mengingatkan
peneliti bahwa durasi kuliah sudah terlalu lama. Saudara-saudara peneliti:
Bayu Altair, Annisa Fauziah, Aulia Azzahra Haryato Putri, yang turut mewarnai hidup peneliti.
3. Rahmi Fitriyanti, M.Si. dan Kiky Rizky, M.Si. selaku dosen di FISIP UIN Jakarta serta Denik Iswardani Witarti, Ph.D yang turut membantu memperluas wawasan bagi peneliti dalam menyusun skripsi.
4. Andi Rahadian, Kasubdit IV Direktorat Eropa III Kementerian Luar Negeri.
Asril Tanjung, Wakil Komisi I DPR RI dan Reza Andhika sebagai staf. Serta Kapusalpalhan Baranahan Kemhan selaku narasumber yang telah membantu memberikan jawaban terhadap pertanyaan peneliti.
5. Melissa Hadinata yang turut menemani peneliti sejak awal pencarian data hingga proses penyusunan supaya skripsi ini dapat terbit secepatnya.
6. Teman-teman dekat peneliti; Shabrina Aufar, Astrid Haura, Winda Shabrina Adani, Putri Cahya Arimbi, Trio Suci-Ve-Nabila, Denis, para pria The Dank A Team, yang kerap menjadi lawan pikir peneliti semasa kuliah.
7. Rekan-rekan Sekretariat Indo Defence dan segenap staf PT Napindo Media Ashatama yang kerap mengingatkan peneliti agar segera lulus sidang skripsi.
Semoga skripsi ini bermanfaat kepada setiap pembacanya. Kritik dan saran yang membangun sangat peneliti harapkan, bagaimanapun juga, karya ini masih memiliki banyak kekurangan sehingga banyak yang harus disempurnakan.
Hormat saya,
Arif Yanfa Nugroho
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
DAFTAR SINGKATAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Pernyataan Masalah ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Tinjauan Pustaka ... 8
E. Kerangka Pemikiran ... 12
F. Metode Penelitian ... 17
G. Sistematika Penulisan ... 19
BAB II KEMANDIRIAN INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA ... 22
A. Kebijakan Pertahanan dan Industrinya ... 22
1. Kebijakan Pertahanan ... 24
2. Revitalisasi Industri Pertahanan Nasional ... 28
3. Alokasi Anggaran ... 36
B. Profil PT Pindad (Persero) ... 43
1. Riwayat PT. Pindad (Persero) ... 43
2. Produk Unggulan Pindad ... 45
C. Upaya Pengembangan Modern Medium Weight Tank ... 47
A. Kiprah Militer Turki ... 56
B. Industri Pertahanan Turki ... 58
1. Motivasi Turki Memajukan Industri Pertahanan ... 58
2. Profil FNSS Savunma Sistemleri A.Ş ... 66
BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBUAT INDONESIA MENGGANDENG TURKI SEBAGAI MITRA KERJA SAMA DALAM PENGEMBANGAN MODERN MEDIUM WEIGHT TANK ... 73
A. Faktor Politis ... 76
B. Faktor Teknis ... 85
C. Reposisi Industri Pertahanan Indonesia ... 89
BAB V PENUTUP ... 92
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1: Grafik Statistik Anggaran Kementerian Pertahanan RI ... 37 Gambar II.2: Grafik Nilai Ekspor Alutsista Indonesia... 38 Gambar II.3: Grafik Dana Impor Senjata Indonesia ... 39 Gambar III.1: Grafik Nilai Ekspor Tahunan di Sektor Pertahanan dan
Kedirgantaraan Turki 2003-2018 ... 64
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Transkrip Wawancara ... xiii
DAFTAR SINGKATAN
MEF = Minimum Essential Force
Alutsista = Alat Utama Sistem Persenjataan TNI = Tentara Nasional Indonesia APC = Armoured Personnel Vehicle MMWT = Modern Medium Weight Tank AKP = Adalet ve Kalkinma Partisi MoU = Memorandum of Understanding RMA = Revolution in Military Affairs
Alpalhankam = Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan BUMN = Badan Usaha Milik Negara
BUMNIS = Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis APBN = Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara FNSS = FMC – Nurol Savunma Sanayii
DICM = Defense Industry Cooperation Meeting NATO = North Atlantic Treaty Organization OKI = Organisasi Kerja Sama Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pernyataan Masalah
Kekuatan Pokok Minimum atau yang lebih dikenal dengan sebutan minimum essential force (MEF) disebut secara spesifik di dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2008 Tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.
Menurut peraturan ini (Yudhoyono 2008), MEF merupakan tingkat kekuatan yang diperlukan untuk mampu mengatasi ancaman keamanan serta menjamin kepentingan strategis yang mendesak. Sebelumnya, MEF juga diperkenalkan dalam Buku Putih Pertahanan Indonesia tahun 2003 dengan istilah Minimum Required Essential Force (Djalil 2003: 12).
Pelaksanaan MEF dibagi ke dalam tiga tahapan Rencana Strategis (Renstra). Renstra yang pertama berlangsung pada 2010 – 2014, kemudian Renstra kedua dilanjutkan pada 2015 hingga 2019, dan yang terakhir Renstra ketiga pada 2020 – 2024 (Eksa 2019: 4). Pemenuhan MEF menjadi penting karena Indonesia secara geografis bersinggungan dengan arena potensi konflik antara kekuatan-kekuatan tempur besar Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan India. Secara kuantitas maupun kualitas Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) yang dimiliki oleh Indonesia pun masih tertinggal jauh dari ketiga negara tersebut (Hanifan 2017:2).
Dilansir dari Global Fire Power, sebuah situs yang memaparkan informasi pertahanan secara statistis, anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) aktif ada
sebanyak 400.000 personil. Jumlah personil tersebut didukung oleh adanya 1300 kendaraan tempur lapis baja, 315 tank, serta 533 artileri yang terdiri dari berbagai jenis.
Kemudian, kekuatan udara Indonesia didukung oleh 451 pesawat yang terdiri dari 41 pesawat tempur, 65 pesawat pengebom dan ground attack force, 62 pesawat angkut, dan 104 pesawat latih, kemudian ditambah lagi dengan 192 helikopter namun hanya 8 diantaranya yang merupakan helikopter serang. Dari aspek kekuatan laut, Indonesia memiliki 139 kapal patroli, 24 korvet, 11 kapal pemburu ranjau, 8 fregat, dan 5 kapal selam (Global Fire Power 2019).
Kecilnya kuantitas alutsista yang dimiliki oleh TNI diperparah dengan usia pakai yang sudah terbilang tua dengan rata-rata usia di atas 25 tahun (Tempo 2012). Anggapan bahwa alutsista TNI sudah uzur dibuktikan pada 2014 melalui kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman ke markas Batalyon Kavaleri 9 / Penyerbu di Serpong. Budiman melihat temuan tank AMX- 13 sudah rusak termakan usia. Dari total 60 tank buatan Perancis tahun 1950-an tersebut, 13 unit di antaranya rusak berat, 20 unit rusak ringan, dan hanya 27 unit yang berfungsi dengan baik (Simatupang 2014).
Selain itu, insiden kecelakaan turut membuktikan bahwa usia alutsista TNI sudah sampai pada tahap pergantian dan bukan peremajaan, misalnya insiden yang terjadi pada 3 Februari 2008, saat armoured personnel vehicle (APC) amfibi pendarat milik Marinir TNI Angkatan Laut (AL) berjenis BTR-50 P yang dibeli dari Uni Soviet tahun 1963 tenggelam di laut Situbondo dalam latihan Armada
Jaya XXVII di bawah kendali TNI AL. Setidaknya 6 prajurit marinir tewas dalam insiden tersebut (detikNews 2008).
Dari matra udara, TNI AU melalui Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriatna melarang C-130B Hercules untuk terbang pasca insiden jatuhnya pesawat sejenis bernomor A-1310 di Medan pada 2015. Hal tersebut diputuskan untuk menghindari kecelakaan serupa dari pesawat yang sudah berusia 55 tahun tersebut. TNI AU juga mengandangkan pesawat-pesawatnya yang sudah uzur, di antaranya Hawk Mk53 pabrikan BAE Systems yang didatangkan ke Indonesia pada September 1980, serta F-5 Tiger yang juga sama-sama dibeli oleh Indonesia pada 1980-an (Tempo 2015).
Keterbatasan ini menunjukkan bahwa pemenuhan MEF menjadi kebutuhan yang mendesak dalam memperkuat kapabilitas sistem pertahanan negara. Dalam rangka memenuhi MEF serta membangun sistem pertahanan negara, salah satu dari tiga penerapan strategi pertahanan adalah pengembangan teknologi dalam mendukung alutsista. Dua penerapan strategi pertahanan lainnya adalah peningkatan profesionalisme prajurit TNI − dari ketiga angkatan yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), serta Angkatan Udara (AU) − dan pengembangan kekuatan rakyat (Ryacudu 2015:51).
Sebelum disahkannya Undang-Undang (UU) Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, dominasi pengadaan alutsista dilakukan dengan cara impor. Data yang dikutip dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa dari tahun 1950 hingga 2011 total alutsista yang diimpor ke Indonesia berjumlah 14.572 buah dari 32 negara (SIPRI 2019). Semua
pengadaan itu bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas militer serta mengembangkan pembangunan postur pertahanan negara.
Tujuan dari diselenggarakannya pembangunan postur pertahanan darat, laut, dan udara Indonesia adalah untuk mewujudkan kekuatan maritim regional yang disegani di kawasan Asia Pasifik dengan prinsip defensif aktif dalam rangka menjamin kepentingan nasional (Ryacudu 2015:38). Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan industri pertahanan yang dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan penguasaan teknologi (Kemenperin RI 2018).
Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan tercapainya kemandirian produksi senjata bagi kebutuhan TNI tanpa bergantung pada negara lain pada 2029 (Safitri 2013). Industri pertahanan yang mandiri mutlak diperlukan karena peralatan militer dan alutsista memiliki harga yang mahal dan menguras anggaran negara. Dana impor senjata sebesar 15,4% dari total anggaran pertahanan tahun 2017. Jika industri pertahanan kian mandiri serta teknologi militer dapat dikuasai, maka volume impor diharapkan dapat ditekan dan dapat mengurangi pengeluaran (Roosyana 2019).
Selain untuk mengurangi impor, penguasaan teknologi tinggi dalam mendukung pengembangan alutsista juga bertujuan untuk mengamankan diri dari ketergantungan teknologi yang rawan oleh embargo negara-negara besar produsen senjata. Embargo militer pernah dialami Indonesia saat dituduh melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia dengan menembaki demonstran di Timor Timur pada 12 November 1991. Indonesia diembargo Amerika Serikat (AS) pada 1995 hingga 2005 yang menyebabkan kekuatan tempur udara Indonesia melemah. AS
menyetop penjualan senjata serta enggan memasok suku cadang yang diperlukan Indonesia untuk meremajakan pesawat-pesawat TNI yang dibeli dari AS, bahkan Inggris yang merupakan sekutu AS turut mengembargo Indonesia (CNN Indonesia 2016).
Di tengah upaya pemerintah Indonesia meningkatkan postur pertahanan negara, Turki pada tahun 2010 mengundang Indonesia melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk meningkatkan kerja sama di bidang politik, ekonomi, budaya, dan pariwisata. Salah satu hasil kunjungan Presiden SBY ke Turki adalah dimulainya kerja sama di bidang pertahanan antara kedua negara (Kusumaputera 2010).
Kerja sama di bidang industri pertahanan antara pemerintah Indonesia dan Turki ditandai dengan penandatangan Perjanjian Kerja Sama Industri Pertahanan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan ke Turki pada 2010 (Kemlu RI 2012). Kemudian, Protocol Defence Industry Cooperation between Indonesia and Turkey juga telah ditandatangani pada April 2011 di Jakarta saat Presiden ke-11 Turki, Abdullah Gul, melakukan kunjungan balasannya (Kemhan RI 2018; KJRI Istanbul 2015).
Sebagai upaya tindak lanjut penandatanganan kerja sama industri pertahanan itu, pemerintah Indonesia melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya meratifikasi Undang-Undang Kerja Sama Industri Pertahanan antara Indonesia dengan Turki dalam UU Nomor 19 tahun 2014. UU tersebut mensahkan persetujuan kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan Turki pada 29 Juni 2010 di Ankara (DPR RI 2014).
PT. Pindad ditunjuk pemerintah Indonesia untuk mengerjakan proyek pembuatan medium tank bersama dengan FNSS Savunma Sistemleri A.Ş., salah satu perusahaan yang bergerak khusus di bidang desain, manufaktur, dan penyuplai kendaraan-kendaraan tempur dari Turki. Melalui Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI), pemerintah Indonesia menyelesaikan draft Project Aggrement dalam hal pembuatan medium tank yang ditandatangani di sela-sela gelaran Indo Defence 2014 (Widodo 2014).
Turki di bawah rezim Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkinma Partisi, AKP) memang berusaha membuat sistem pertahanan yang lebih efisien, kuat dan modern agar menjadi pemimpin regional dan pemain global.
Pengembangan teknologi pertahanan merupakan salah satu perwujudan Visi Turki 2023 dalam memproduksi kebutuhan utama pertahanan nasional secara mandiri (AK Parti 2012:68).
Pemilihan Turki sebagai mitra kerja sama dalam pengembangan modern medium weight tank (MMWT) menjadi topik menarik bagi analisis skripsi ini.
Terlebih lagi, industri pertahanan Turki tidak masuk jajaran peringkat teratas perusahaan-perusahaan persenjataan terbesar di dunia (McCarthy 2017).
Sementara, perusahaan-perusahaan persenjataan raksasa dari Amerika Serikat dan Eropa Barat merajai peringkat 10 besar dari segi produksi dan penjualan, industri pertahanan asal Turki seperti ASELSAN hanya menduduki posisi ke-61 dan Turkish Aerospace Industries pada posisi ke-70 pada tahun 2017 (SIPRI 2018).
Fenomena-fenomena yang telah disebutkan dalam pernyataan masalah ini menjadi landasan bagi peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul Kerja Sama Industri Pertahanan Indonesia − Turki dalam Pengembangan Modern Medium Weight Tank
.
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka pertanyaan penelitian yang akan dibahas adalah mengapa Indonesia memilih Turki dibandingkan negara lain sebagai mitra kerja sama pertahanan terkait pengembangan modern medium weight tank?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui alasan pemilihan Turki sebagai mitra kerja sama terkait pengembangan modern medium weight tank.
2. Mengetahui kemampuan industri pertahanan Turki dan Indonesia dalam mengembangkan tank.
Penelitan ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat teoritis, diharapkan memberikan gambaran mengenai kerja sama pertahanan, lebih spesifik yakni kerja sama industri pertahanan.
2. Sebagai bahan referensi tambahan dan masukan untuk Pemerintah Indonesia khususnya para pengambil kebijakan terkait kerja sama industri pertahanan.
D. Tinjauan Pustaka
Beberapa literatur relevan untuk dijadikan bahan tinjauan pustaka karena turut membahas hal-hal terkait dengan penelitian skripsi ini. Literatur pertama adalah artikel jurnal karya Muhammad Rizki Amrullah dalam Jurnal Pertahanan Volume 6 nomor 1 tahun 2016 yang berjudul Indonesian Defense Diplomacy Toward Turkey : A Case Study of Defense Industry Cooperation. Artikel jurnal ini membahas hubungan diplomasi pertahanan antara Indonesia dan Turki. Dalam jurnal ini, kerja sama pertahanan dilakukan dalam kerangka diplomasi pertahanan.
Terdapat tiga karakter dari Konsep Diplomasi Pertahanan : pertama, diplomasi pertahanan untuk membangun hubungan baik dengan negara lain. Kedua, diplomasi pertahanan untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan negara secara militer. Ketiga, diplomasi pertahanan terkait pembangunan dan penguatan industri pertahanan suatu negara (Amrullah 2016).
Dalam jurnal ini, diplomasi pertahanan Indonesia terlihat dari kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Ankara pada tahun 2010. Kerja sama industri pertahanan dibahas dalam pertemuan kenegaraan itu. Kerja sama tersebut diwujudkan dalam memorandum of understanding (MoU) Kerja Sama Industri Pertahanan dan dilanjutkan antara perusahaan senjata kedua negara.
Persamaan penelitian artikel jurnal tersebut dengan penelitian dalam skripsi ini adalah keduanya secara konsisten membahas tentang kerja sama industri pertahanan Indonesia-Turki. Sedangkan perbedaan penelitian Jurnal
Pertahanan tersebut dengan penelitian dalam skripsi ini adalah studi kasus penelitian serta landasan teori yang digunakan.
Fokus yang ditelaah dalam artikel karya Amrullah adalah kontribusi Diplomasi Pertahanan Indonesia dengan proyek medium tank dan pembangunan alat komunikasi perbatasan sebagai bentuk kerja sama. Sementara, fokus skripsi ini terpusat pada pengembangan MMWT. Selain itu, skripsi ini menggunakan World-System Analysis, sedangkan pada artikel jurnal tersebut menggunakan konsep Diplomasi Pertahanan.
Ketika sebuah penelitian tentang kerja sama pertahanan menggunakan World-System Analysis, maka hubungan antar negara akan dilihat sebagai interaksi antara negara core - semiperiphery, core - periphery, maupun semiperiphery - periphery. Namun jika penelitian menggunakan konsep Diplomasi Pertahanan, maka kerja sama industri pertahanan dipandang sebagai instrumen kebijakan pertahanan untuk memperkuat hubungan antar negara, serta bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas militer dalam negeri dan memperkuat industri pertahanan nasional.
Tinjauan pustaka selanjutnya bersumber dari skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta karya Muhammad Imtiyaz Habibi. Skripsi ini berjudul Kerjasama Industri Pertahanan Indonesia - Turki pada Masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Periode 2009 - 2014. Seperti artikel jurnal karya Amrullah, skripsi ini berusaha menjelaskan kepentingan Indonesia membangun kerja sama industri pertahanan dengan Turki.
Kepentingan yang mendasari Indonesia membangun kerja sama industri pertahanan dengan Turki dalam karyanya yang menggunakan konsep kepentingan nasional dan keamanan nasional (Habibi 2018), tertuang dalam kepentingan- kepentingan Indonesia. Kepentingan tersebut antara lain : pertama, kepentingan meningkatkan postur pertahanan. Hal ini didasari oleh ancaman yang dialami oleh Indonesia, baik ancaman eksternal maupun ketidakmampuan internal untuk menjaga kedaulatan negara.
Kedua, kepentingan Indonesia untuk mencapai kemandirian teknologi alutsista. Kepentingan ini muncul akibat dari Indonesia yang juga tengah berupaya meningkatkan penguasaan teknologi agar dapat lepas dari ketergantungan suplai negara lain dalam penyediaan alutsista, maka Indonesia berkepentingan menjalin kerja sama dengan Turki.
Ketiga, kepentingan untuk mensejahterakan masyarakat melalui pertambahan pemasukan keuangan negara. Menurut Habibi, kegiatan ekspor oleh industri pertahanan nasional dapat meningkatkan perekonomian negara.
Diharapkan keuangan negara yang bertambah turut andil dalam menyumbang kesejahteraan masyarakat.
Secara sekilas, rumusan masalah yang diajukan oleh Habibi dengan penelitian skripsi ini terlihat sama, yakni sama-sama mencari tahu hal yang mendasari terbentuknya kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dengan Turki. Letak perbedaannya ada pada kerangka pemikiran yang digunakan sehingga memunculkan analisis yang berbeda.
Konsep-konsep yang digunakan oleh Habibie berimplikasi pada analisis kepentingan yang berbasis pertahanan-keamanan sebagai alasan utama, yakni alasan-alasan yang melatarbelakangi Indonesia membangun kerja sama, bukan alasan yang menitikberatkan pada pemilihan Turki sebagai mitra kerja sama industri pertahanan. Selain itu, skripsi Imtiyaz Habibi ini menjelaskan bentuk kerja sama meliputi pengembangan medium tank dan pembangunan alat komunikasi pertahanan di perbatasan.
Tinjauan pustaka terakhir adalah artikel dari jurnal JOM FISIP Volume 4 Nomor 2 tahun 2017 karya Alfita Wulandari yang berjudul Kepentingan Indonesia Bekerja Sama dengan Turki dalam Industri Pertahanan (Studi Kasus : Pembuatan Tank Medium). Artikel ini membahas kepentingan Indonesia menjalin kerja sama dengan Turki dalam pembuatan tank kelas medium.
Kepentingan Indonesia dalam kasus ini menurut Alfita, Indonesia ingin memodernisasi alutsista demi meningkatkan pertahanan angkatan bersenjatanya.
Indonesia membutuhkan peningkatan kapabilitas militer dan industri pertahanan yang lebih berkembang. Kerja sama antara industri pertahanan dari negara yang berbeda memberikan dampak besar bagi perkembangan teknologi militer (Wulandari 2017).
Persamaan artikel jurnal karya Alfita tersebut dengan skripsi ini adalah kesamaan topik dan studi kasus yang diangkat, yakni kerja sama industri pertahanan dengan Turki dalam hal pengembangan modern medium weight tank yang disertai dengan transfer teknologi.
Distingsi antara kedua penelitian ini hampir sama seperti distingsi antara penelitian skripsi ini dengan skripsi karya Habibi diatas. Perbedaannya terletak pada sudut pandang permasalahan. Pada artikel jurnal tersebut permasalahan difokuskan pada kepentingan peningkatan kapabilitas militer Indonesia dan perubahan yang terjadi bila industri pertahanan nasional bekerja sama dengan industri pertahanan luar negeri. Namun dalam penelitian skripsi ini hal yang dipermasalahkan yakni alasan yang membuat Indonesia memilih Turki untuk bekerja sama dalam bidang industri pertahanan.
E. Kerangka Pemikiran
Konsep yang digunakan sebagai kerangka pemikiran untuk menganalisis pemilihan Turki sebagai mitra kerja sama pengembangan medium tank adalah World-System Analysis. Konsep ini diperkenalkan oleh Immanuel Wallerstein (1974) dalam tulisan seminarnya yang berjudul The Rise and Future Demise of the World Capitalist System: Concepts for Comparative Analysis dan diterbitkan dalam bukunya yang bernama The Modern World System I: Capitalist Agriculture and the Origins of the European World-Economy in the Sixteenth Century.
Konsep ini menggunakan perspektif kelas ala Marxisme melalui pendekatan ekonomi politik internasional. Wallerstein mempercayai perekonomian dunia sebagai pembangunan yang tidak seimbang, sehingga kondisi tersebut menciptakan tingkatan-tingkatan negara yaitu Core, Semiperiphery, dan Periphery (Wallerstein 1974: 63).
Teori Ketergantungan
Wallerstein menganggap sistem kapitalisme global dalam perekonomian dunia yang sudah diterapkan di banyak negara sebagai sebuah World-System.
Wallerstein ingin menolak segala dikotomi seperti yang diusung Teori Marxisme antara kapitalis dengan sosialis – namun tetap dengan mengadopsi analisis kelas dari Marx – atau seperti Teori Modernisasi dengan tradisional – modern, maupun seperti Teori Ketergantungan / Dependensia yang menyebutnya Core versus Periphery (Wirasenjaya 2013: 84).
Pendekatan World-System Analysis memaparkan skema pembagian kerja secara kewilayahan terkait produksi serta pertukaran barang jadi dan bahan mentah. Pembagian ini didasari oleh kekuatan ekonomi dan hubungan produksi dalam perekonomian dunia secara keseluruhan (Wallerstein 1974: 66).
Konsep ini banyak terinspirasi dari dalam
memaparkan proses pembangunan dengan mencermati hubungan eksploitatif antara negara core dan periphery. Wallerstein memandang bahwa Teori Ketergantungan terlalu pesimis melihat hubungan negara maju (core) dan negara berkembang (periphery). Menurutnya dinamika dalam sistem kapitalisme global akan dapat memberikan peluang-peluang bagi negara periphery untuk bisa memperbaiki diri atau naik kelas, atau bahkan negara core yang juga turun kelas (Wallerstein 1984: 81).
Negara-negara di dalam kategori core adalah negara -negara maju yang menang dalam Perang Dunia I atau Perang Dunia II, misalnya Amerika Serikat, Jerman, Inggris, atau negara besar seperti Rusia yang dapat memanfaatkan negara pecahan Uni Soviet. Sedangkan periphery merupakan kumpulan negara
berkembang yang sumber dayanya dieksploitasi oleh negara core (Wallerstein 1974: 100-120). Biasanya, negara – negara tersebut adalah negara Dunia Ketiga atau Post-Colonial State seperti negara-negara di Asia Tenggara atau di benua Afrika (Wallerstein 1974: 87).
Melihat adanya hubungan eksploitatif dalam system kapitalisme global, maka Wallerstein menginisiasi sebuah zona penyangga atau buffer zone yakni semiperiphery. Buffer zone ini sendiri muncul sebagai penengah dan stabilisator tensi politik di dalam World-System. semiperiphery sendiri merupakan negara yang muncul pasca Perang Dunia I dan memiliki sebagian karakteristik core dan periphery, misalnya Turki. Perbedaan mendasar dari ketiga tingkat negara ini terletak pada kekuatan ekonominya, negara core merupakan negara terkuat sedangkan negara periphery merupakan negara yang paling tereksploitasi (Wallerstein 1974: 102).
Perubahan yang ditekankan oleh Wallerstein bukanlah perubahan status negara-negara semiperiphery menjadi negara core, namun menurutnya yang paling penting adalah peningkatan dari negara periphery menjadi negara-negara semiperiphery. Karena bagi Wallerstein, arah pembangunan bersifat fleksibel dengan adanya peluang perpindahan status suatu negara dalam sistem dunia dengan cara menjadikan negara-negara yang masuk dalam kategori periphery mandiri, seperti menguasai teknologi industri (Wallerstein 1984: 81).
Penggunaan pendekatan World-System Analysis dalam penelitian ini didasari oleh kesamaan alur berpikir pada konteks hubungan produksi dan penguasaan teknologi militer dalam industri pertahanan. Richard A. Bitzinger
dalam tulisannya yang berjudul New Ways of Thinking About the Global Arms Industry: Dealing with ‘Limited Autarky’ juga membagi tiga tingkat besar dalam kemajuan industri militer. Ketiga tingkat tersebut adalah Tier 1 yang kemudian dibagi menjadi 1a dan 1b. Tier 2 yang juga dibagi lagi menjadi 2a, 2b, dan 2c.
Terakhir Tier 3 sebagai tingkat yang paling rendah (Bitzinger 2015).
Tier 1 menurut Bitzinger diduduki oleh negara yang berkapasitas untuk mengembangkan secara mandiri serta membuat senjata-senjata canggih. Tier 1 sendiri dibagi menjadi 1a dan 1b, di mana 1a merupakan negara dengan industri pertahanan skala besar, berteknologi maju, dan memiliki fokus pengembangan teknologi yang luas (broad-based) (Bitzinger 2015).
Sedangkan 1b adalah negara yang dengan industri pertahanan yang skalanya lebih kecil dibanding 1a, berteknologi maju, dan broad-based. Negara yang menempati posisi 1a menurut Bitzinger adalah Amerika Serikat dan Rusia, sedangkan 1b adalah negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia. Negara-negara Tier 1 umumnya merajai 10 besar industri pertahanan terbesar di dunia (Bitzinger 2015: 3).
Tier 2 yang kemudian dibagi menjadi 2a, 2b, dan 2c oleh Bitzinger merupakan negara-negara yang memiliki keinginan untuk meningkatkan kemandirian dalam memproduksi senjata. Tingkat 2a diduduki oleh negara yang memiliki basis industri pertahanan yang tidak terlalu besar, berteknologi maju, namun memiliki fokus pengembangan yang lebih khusus (niche-oriented). Negara yang berada pada posisi 2a di antaranya adalah Turki, Australia, Israel, Jepang, dan Swedia (Bitzinger 2015: 4).
Tingkat 2b ditempati oleh negara yang memiliki industri pertahanan dengan skala yang setingkat dengan 2a, broad-based, namun penguasaan teknologinya hanya di level menengah dan tidak semaju tingkat 2a. Negara-negara yang menempati posisi 2b adalah Indonesia, Brazil dan Korea Selatan. Sedangkan tingkat 2c diduduki oleh negara yang industri pertahanannya menguasai teknologi level menengah seperti tingkat 2b, broad-based, namun skalanya besar. Adapun negara yang menempati tingkat 2c adalah India. Terakhir Tier 3 ditempati oleh negara dengan basis industri pertahanan yang kecil, niche-oriented, dan memiliki penguasaan teknologi militer yang rendah. Negara yang menempati Tier 3 di antaranya Mesir, Meksiko, dan Nigeria (Bitzinger 2015: 4).
Meskipun negara-negara Tier 2 dan Tier 3 tetap mengembangkan teknologi militer untuk memenuhi target kebutuhannya, namun negara-negara Tier 1 kerap menawarkan alutsista usangnya ke negara-negara Tier 2 dan Tier 3 dengan harga murah dengan teknologi yang sudah ketinggalan zaman, ini merupakan bentuk eksploitasi negara Tier 1 terhadap kedua kelas di bawahnya.
Jika kategorisasi industri pertahanan yang disusun oleh Bitzinger dihubungkan ke dalam World-System Analysis-nya Wallerstein, maka Tier 1 akan setara dengan core, Tier 2 seimbang dengan semiperiphery, dan periphery akan bersanding
dengan Tier 3. Negara – negara Eropa Barat, Amerika Serikat, serta Rusia yang merajai daftar teratas pabrik senjata terbesar dunia masuk dalam kategori core.
Sementara itu Turki dan Indonesia berada di posisi semiperiphery karena berada di Tier 2.
Meski Indonesia dan Turki sama-sama berada dalam Tier 2, namun level Turki hampir menyamai Tier 1 dengan tingkat 2a, sedangkan Indonesia menempati posisi 2b. Teknologi industri pertahanan milik Turki sudah maju namun skala industrinya hanya memiliki kapasitas terbatas dibandingkan dengan perusahaan senjata di negara core. Di sisi lain, Turki telah lama mengembangkan teknologi militer dalam rangka mencapai kemandirian produksi untuk memenuhi kebutuhan alutsista negaranya sehingga penguasaan teknologinya melebihi Indonesia. Sebagai negara yang menempati posisi antara 1b dengan 2a, Turki berfungsi sebagai penyangga gap penguasaan teknologi militer antara negara core dengan semiperiphery.
Sehingga, pemilihan konsep ini akan menjadi kerangka berpikir yang akan menjadi dasar analisis faktor-faktor dibalik terpilihnya Turki sebagai mitra kerja sama pembuatan medium tank. Selain itu, dengan menggunakan World-System Analysis peneliti juga akan menganalisis apakah kerja sama ini menjadi langkah Indonesia untuk dapat meningkatkan penguasaan teknologi persenjataannya dan naik kelas di bidang industri pertahanan.
F. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Analisis data digunakan dalam penelitian ini berbentuk historis, yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau. Data sejarah tersebut diolah untuk memperoleh gambaran umum dari masa silam (Surakhmad 2003).
Contohnya, dalam penelitian ini peneliti berusaha menelisik peristiwa- peristiwa yang telah terjadi dari perkembangan industri pertahanan Indonesia dan Turki serta menganalisisnya menggunakan konsep-konsep dalam Hubungan Internasional. Hal ini ditujukan agar peneliti dapat menginterpretasikan mengapa Indonesia ingin bekerja sama dengan Turki terkait pengembangan modern medium weight tank.
Data-data dikumpulkan dengan teknik wawancara dan studi pustaka (library research), sehingga sumber data yang digunakan merupakan sumber data primer serta didukung oleh sumber data sekunder. Sumber data primer yang dimaksud dalam penelitian skripsi ini adalah hasil wawancara dari narasumber yang ikut merencanakan serta mewujudkan terbentuknya kerja sama industri pertahanan di bidang pengembangan modern medium weight tank antara Indonesia dengan Turki.
Adapun narasumber-narasumber yang diwawancarai adalah Kepala Pusat Alat Peralatan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Marsekal Pertama TNI Asfan Jauhari. Kepala Sub-Direktorat IV Direktorat Eropa III Kementerian Luar Negeri, Andi Rahadian. Serta Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Mayor Jenderal (Purn.) Asril Hamzah Tanjung.
Sumber data sekunder dalam penelitian yakni data yang berasal dari sumber yang sudah ada dalam bentuk cetak maupun elektronik, seperti laporan pemerintah, buku, artikel jurnal, artikel periodik, situs resmi dan reliable di internet, serta karya tulis ilmiah. Peneliti memperoleh berbagai literatur tersebut
dari kantor lembaga/badan pemerintah, berbagai perpustakaan, dan sumber- sumber penyedia buku serta jurnal elektronik.
Adapun kantor lembaga/badan pemerintah dan perpustakaan yang telah dikunjungi untuk memperoleh literatur adalah Kementerian Pertahanan RI, Kementerian Luar Negeri RI, Kompleks Parlemen Republik Indonesia (Gedung DPR), Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan perpustakaan lainnya yang menyediakan data serta literatur terkait dengan permasalahan yang diteliti.
G. Sistematika Penulisan
Adapun susunan penulisan skripsi ini terbagi ke dalam lima bab, sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan penelitian ini merupakan dasar dilakukannya penelitian skripsi. Terdiri atas pernyataaan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritis, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II KEMANDIRIAN INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA Bab ini berisi tentang pemaparan kebijakan pertahanan Indonesia dan revitalisasi industri pertahanan nasional. Selain itu, dibahas pula perihal anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah Indonesia di sektor pertahanan. Pada subbab
berikutnya, akan dibahas mengenai profil PT Pindad serta upaya pengembangan modern medium weight tank.
BAB III KAPABILITAS INDUSTRI PERTAHANAN TURKI
Bagian ini membahas tentang kiprah militer dan profil industri pertahanan Turki, terutama FNSS Savunma Sistemleri A.Ş. Penjelasan profil militer Turki dan industri pertahanannya berfungsi sebagai informasi yang membantu analisis pemilihan Turki sebagai mitra kerja sama industri pertahanan Indonesia dalam mengembangkan modern medium weight tank.
BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBUAT INDONESIA
MENGGANDENG TURKI SEBAGAI MITRA KERJA SAMA DALAM
PENGEMBANGAN MODERN MEDIUM WEIGHT TANK
MENGGUNAKAN WORLD-SYSTEM ANALYSIS
Bagian ini akan menganalisis kebijakan pertahanan Indonesia menjalin kerja sama dengan Turki dalam pengembangan modern medium weight tank. Berbagai faktor mulai dari faktor politis dan teknis menjadi dasar pertimbangan Indonesia dalam memilih Turki sebagi mitra kerja sama industri pertahanannya. Pendekatan World-System Analysis yang memiliki kesamaan alur pikir dengan klasifikasi tingkatan kemajuan industri militer Bitzinger, digunakan untuk menganalisis reposisi industri pertahanan Indonesia.
BAB V PENUTUP
Bab ini menjadi jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan. Jawaban disimpulkan setelah dianalisis melalui pendekatan World-System Analysis yang
dipadukan dengan klasifikasi kemajuan industri pertahanan ala Bitzinger.
Kombinasi ini membantu penulis dalam mengidentifikasi alasan Indonesia bekerja sama dengan Turki di bidang industri pertahanan dalam pengembangan modern medium weight tank.
BAB II
KEMANDIRIAN INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA
A. Kebijakan Pertahanan dan Industrinya
Pada periode pasca Perang Dingin perkembangan teknologi dalam industri pertahanan kian maju. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari pasar persenjataan dan alat pertahanan yang kian kompetitif sehingga para pelaku produsen senjata, yakni industri-industri pertahanan, gencar untuk mempromosikan produk- produknya. Beberapa perusahaan bekerjasama untuk menyiasati permintaan senjata dunia yang menurun, karena tidak ada lagi perseteruan antara Blok Timur dan Blok Barat (Darwanto 2015: 3).
Negara-negara besar mengutamakan persenjataan yang telah dikembangkan dengan teknologi canggih sebagai produk industri pertahanan mereka. Kondisi seperti ini lahir mengingat adanya liberalisasi industri pertahanan serta munculnya Revolution in Military Affairs (RMA) atau sering disebut di kalangan militer Indonesia sebagai Revolusi Krida Yudha (Widjajanto 2012).
RMA sendiri merupakan sebuah revolusi yang mengkombinasikan antara teknologi militer, komando dan struktur organisasi militer, doktrin militer, dengan konsep operasional yang baru dalam ruang lingkup peperangan (Hundley 1999;
Sloan 2008).
Adanya pembebasan terhadap industri pertahanan dan perubahan yang dramatis dalam operasi militer akibat kemajuan teknologi serta RMA, menjadikan berbagai sistem senjata berbasis teknologi tinggi yang diproduksi oleh industri-
negara-negara Barat yang mayoritas telah lebih dulu mengadopsi RMA (Hundley 1999).
Teknologi canggih yang diterapkan dalam sistem persenjataan modern diinginkan oleh setiap angkatan bersenjata selaku pengguna (user), untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan nasional dalam menangkal ancaman- ancaman kontemporer atau meningkatkan posisi tawar untuk kepentingan politik luar negeri suatu negara.
Pada era digital kini, kapabilitas pertahanan masih menjadi simbol kekuatan dan sarana untuk menggapai kepentingan nasional. Efektivitas pertahanan negara diperngaruhi kemampuan industri pertahanan dalam memenuhi pengadaan dan pemeliharaan alutsista secara mandiri. Presiden SBY melihat stagnansi industri pertahanan nasional dan memberi arahan agar segera merevitalisasi industri pertahanan pada tahun 2004. Setelah itu, Kemhan RI, TNI, dan perusahaan produsen alutsista dalam negeri segera menyatu untuk membangkitkan kekuatan industri pertahanan nasional (Sjamsoeddin 2012).
Kemajuan industri pertahanan Indonesia tidak diperoleh dalam waktu yang singkat. Perkembangan industri pertahanan nasional dicapai melalui proses yang panjang dan berbagai dinamika kondisi dalam negeri serta politik internasional.
Setidaknya, ada beberapa hal yang turut menggerakkan industri pertahanan Indonesia, yakni kebijakan pertahanan Indonesia, kebangkitan industri pertahanan nasional, dan anggaran yang dialokasikan oleh negara.
1. Kebijakan Pertahanan
Di awal masa Orde Baru, kebijakan pertahanan diliputi sentimen anti- komunis yang ditandai dengan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca peristiwa G30S. Operasi TNI − saat masih bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) − didominasi oleh penumpasan anggota dan simpatisan PKI, serta melawan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) dan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) yang berhaluan ideologi komunis. Pada era tersebut, Angkatan Darat melakukan tiga pola dalam operasi militernya, yakni operasi tempur, operasi intelijen, dan operasi teritorial (Widjajanto dan Prasetyono 2006).
Komando Teritorial yang dijalankan mulai dari tingkat Komando Daerah Militer hingga Komando Rayon Militer memiliki tugas dan tanggung jawab di sektor kewilayahan, yaitu mengontrol dan memelihara stabilitas teritori. Pada dasarnya, manajemen teritorial yang dilakukan oleh ABRI mengarah pada pengkondisian geografi, demografi, dan sosial untuk memperoleh kekuatan wilayah demi mempertahankan kedaulatan dan kepentingan negara. Pada era Orde Baru, satuan dalam Komando Teritorial dijadikan sarana bagi ABRI agar dapat masuk ke dalam aspek sosial, politik, dan ekonomi rakyat sipil. Sehingga, kebijakan ini memberikan peluang lebih kepada tentara untuk dapat berpolitik praktis dan menjalankan Dwifungsi ABRI (Matanasi 2018).
Sentimen anti-komunis ini tak hanya berlangsung di dalam negeri, namun juga sampai ke hubungan diplomatik antar negara. Pasca peristiwa G30S, Presiden Soeharto menghentikan semua kerja sama dengan negara-negara yang
berhaluan komunis seperti Rusia. Sehingga, Indonesia harus menerima sanksi embargo militer dari Rusia, dampaknya banyak pesawat tempur canggih pada masanya seperti MIG-21 dan pesawat bomber TU-16 harus dikandangkan akibat kosongnya suku cadang (Pratomo 2016).
Akhir masa Orde Baru diwarnai dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia, sehingga TNI absen dalam memperkuat postur militernya hingga masa- masa Reformasi. Hal ini dibuktikan dengan tidak terealisasinya usulan pembelian kapal selam pabrikan Korea Selatan, tidak terlaksananya rencana program peningkatan sistem radar pertahanan udara yang dilakukan akhir tahun 1999, serta gagalnya rencana pengadaan enam pesawat NC-212 Maritime Patrol Aircraft dan tiga helikopter NBO-105 CB produksi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara / PT Dirgantara Indonesia (Sulistyo 2014).
Indonesia baru mulai bisa memperkokoh kemampuan pertahanan nasionalnya pada 2003 dengan membeli jet tempur dari Rusia yakni Su-27 dan Su-30 masing-masing dua unit. Pembelian Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) dari Rusia itu pun terjadi karena Indonesia masih terkendala sangsi embargo senjata oleh AS akibat insiden Santa Cruz yang dilakukan oleh TNI (Pratomo 2016; Sulistyo 2014). Di masa ini, pemerintah berusaha menunjukkan bahwa Indonesia tidak mudah ditekan secara politis melalui pemantapan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif.
Pada tahun 2004, Indonesia mulai berupaya untuk merevitalisasi industri pertahanan hingga menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam jangka waktu lima tahun ke depannya. Hal ini termaktub dalam Buku Putih Pertahanan
tahun 2003 di mana Dephan dan TNI mendorong kerja sama industri pertahanan dengan lembaga pelaku Ilmu Pengetahuan dan Teknologi lain, seperti perguruan tinggi dan industri nasional lainnya. Pada tahun 2010, wacana kemandirian pengadaan alutsista baru terlihat secara nyata saat PT Pindad berhasil mensuplai 33 unit kendaraan tempur jenis panser APS-2, cikal bakal panser Anoa, kepada TNI AD sebanyak 20 unit dan 13 unit sisanya digunakan oleh TNI dalam misi UN Peacekeeping Operation di Lebanon (Sulistyo 2014).
Kebijakan-kebijakan pertahanan negara lain yang akan diselenggarakan pada rentang tahun 2015 hingga 2019 diatur dalam Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 19 Tahun 2015 dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Adapun kebijakan-kebijakan tersebut di antaranya; Kebijakan Pembangunan Pertahanan Negara, Kebijakan Pemberdayaan Pertahanan Negara, Kebijakan Pengerahan Kekuatan Pertahanan Negara, Kebijakan Regulasi Bidang Pertahanan, Kebijakan Anggaran Pertahanan, dan Kebijakan Pengawasan (Ryacudu 2015b).
Turunan dari kebijakan-kebijakan tersebut di antaranya; membangun postur pertahanan negara dan membina kekuatan militer untuk mewujudkan pemenuhan kekuatan pokok minimum atau MEF, membangun dan memberdayakan kerja sama internasional demi terciptanya kawasan yang stabil dan damai, memberdayakan potensi pertahanan yang diarahkan pada penguasaan teknologi pertahanan, membangun serta memberdayakan industri pertahanan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista secara mandiri (Ryacudu 2015b).
MEF sebelumnya pernah diperkenalkan dengan terminologi minimum required essential force pada Buku Putih Pertahanan Indonesia tahun 2003 (Djalil 2003: 12). Sederhananya, MEF dijelaskan dalam Buku Putih tahun 2003 hanya sebagai kekuatan dan kemampuan TNI yang diperlukan untuk mengatasi kondisi keamanan yang darurat. Pada aturan lain, MEF dirincikan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2008 Tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.
Menurut Perpres ini (Yudhoyono 2008), MEF merupakan tingkat kekuatan yang diperlukan untuk mampu mengatasi ancaman keamanan serta menjamin kepentingan strategis yang mendesak.
Senada dengan Perpres, dalam Buku Putih Pertahanan di tahun yang sama, pemerintah menganggap MEF sebagai standar kekuatan untuk menangkal ancaman keamanan nasional serta disegani dalam lingkup kawasan. Dephan melalui Buku Putih Pertahanan tahun 2008 juga menginginkan peningkatan jumlah dan kondisi alutsista agar TNI dapat menggapai kekuatan di atas MEF (Sudarsono 2008).
Wacana kemandirian produksi alutsista juga sudah ada dalam Buku Putih Pertahanan tahun 2003. Pertumbuhan industri pertahanan dalam negeri didorong seiring kondisi kesehatan keuangan negara (Djalil 2003). Isu kemandirian pengadaan Alpalhankam kemudian didalami dalam Buku Putih Pertahanan tahun 2008.
Ketergantungan Indonesia kepada negara lain dalam bidang teknologi militer dimanifestasikan oleh ketidakmandirian Indonesia dalam penyelenggaraan pengadaan alutsista. Ketergantungan angkatan bersenjata nasional akan produk
militer luar negeri membahayakan kesiapan tempur dan melemahkan daya tangkal serta daya gentar yang dimiliki oleh TNI. Hal ini terjadi karena secara politis, ketergantungan akan produk pertahanan luar negeri membuat Indonesia sangat rentan menerima dikte dan tekanan politik negara lain. Dampaknya, pembangunan serta pemeliharaan postur pertahanan akan terhambat (Sudarsono 2008).
2. Revitalisasi Industri Pertahanan Nasional
Industri pertahanan merupakan garda depan dalam pengembangan sistem pertahanan yang mandiri. Disahkannya Keputusan Presiden Nomor 59 tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan menjadi sebuah awal realisasi cita-cita pembangunan industri pertahanan di Indonesia (Karim 2014:97).
Padahal, pabrik senjata di Indonesia sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Constructie Winkel, demikian nama pabrik yang bermula dari bengkel senjata. Bengkel itu dibangun pada tahun 1808 dan tidak lain sebagai cikal bakal PT Pindad (Karim 2014:101). Selain itu, ada pula fasilitas mesin perkakas yang dilengkapi sarana dengan tenaga listrik terbaru yang diresmikan pada 1912 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan nama Marine Establishment. Fasilitas ini nantinya berfungsi sebagai pemeliharaan dan perbaikan armada kapal Belanda.
Seiring perjalanan, fasilitas inilah yang menjadi cikal bakal PT PAL (Persero) (Karim 2014:130).
Di ranah kedirgantaraan, pada tahun 1914 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Bagian Uji Terbang di Surabaya yang memiliki tugas untuk
mempelajari kinerja pesawat terbang. Lembaga yang menjadi pionir industri pertahanan matra udara ini berganti-ganti nama dan fungsi seiring waktu berjalan, hingga pada tahun 1964 menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan, tahun 1966 berubah menjadi Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio, tahun 1976 menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, tahun 1985 berubah nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Kemudian akhirnya pada tahun 2000 IPTN berganti nama baru menjadi PT Dirgantara Indonesia (Persero) seperti yang dikenal sekarang (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
PT Dahana (Persero) dipandang sebagai perintis dalam industri bahan peledak sebenarnya berawal dari Proyek Menang yang mulai diinisiasi pada tahun 1964 di Tasikmalaya. Proyek Menang adalah perwujudan hasil kerja sama antara Angkatan Udara RI (AURI) – saat TNI AU masih tergabung dalam ABRI – dan Hispano Suiza (Swiss). Proyek tersebut bertujuan membangun pabrik pembuatan misil yang mulanya diperuntukkan bagi kepentingan kampanye militer dalam operasi Trikora dan Dwikora. Kemudian Menang turut dalam pembuatan bahan peledak sebagai produk sampingannya. Pabrik yang kemudian diberi nama Dahana ini berkembang menjadi produsen bahan peledak. Produk utamanya adalah dinamit yang dimaksudkan untuk keperluan pertambangan (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
Perkembangan industri pertahanan nasional memiliki keterkaitan erat dengan dinamika pengelolaan industri strategis di mana yang menjadi sosok utama adalah presiden ketiga Indonesia, B. J. Habibie. Habibie sudah menduki
jabatan sebagai Kepala Penelitian dan pengembangan Analisis Struktur Pesawat Terbang di perusahaan kedirgantaraan Jerman, Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB), pada 1965. Pada 1968, Habibie mengajak insinyur-insinyur dari Indonesia untuk bekerja di MBB. Karena keuletan dan kepandaiannya, Habibie meraih jabatan sebagai Direktur Teknologi dan juga menjadi Penasihat Senior Bidang Teknologi untuk Dewan Direksi MBB pada 1969 hingga 1973 (Karim 2014; Marikxon 2009).
Kemudian pada 1974, Presiden Indonesia ke-2, Soeharto, meminta Habibie untuk pulang kembali ke Indonesia. Pada tahun itu pula Habibie diangkat menjadi Penasihat Pemerintah di bidang Teknologi Pesawat Terbang dan Teknologi Tinggi di bawah presiden langsung. Habibie juga membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan (Divisi ATTP) di Pertamina pada tahun 1974, divisi ini juga yang membangun kecakapan pertamina dalam aspek kemampuan teknologinya (Karim 2014:99,125).
Pengelolaan dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khususnya BUMN Industri Strategis (BUMNIS) belum dilakukan secara integratif karena pengelolaan secara teknis ada pada departemen terkait, sehingga untuk mengintegrasikan BUMNIS dalam mengelola perkembangannya dibutuhkan lembaga pemerintah non departemen yang berfungsi sebagai payung untuk menaungi operasi industri strategis dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka Keputusan Presiden Nomor 44 tahun 1989 tentang Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) (Karim 2014; Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
Daftar sepuluh industri strategis pun ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 44 tahun 1989. Kesepuluh BUMN tersebut di antaranya : PT (Persero) Industri Pesawat Terbang Nusantara, PT (Persero) PAL Indonesia, PT (Persero) Pindad, Perusahaan Umum Dahana (PERUM), PT (Persero) Krakatau Steel, PT (Persero) BARATA INDONESIA, PT (Persero) Boma Bisma Indra, PT (Persero) Industri Kereta Api, PT (Persero) Industri Telekomunikasi Indonesia, dan Unit Produksi Lembaga Elektronika Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Soeharto 1989a).
Sejalan dengan berdirinya BPIS, Keputusan Presiden Nomor 56 tahun 1989 tentang Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS) dikeluarkan sebagai dasar terbentuknya lembaga pembina BPIS. Namun perjalanan BPIS tak selalu berjalan lancar karena terdapat perbedaan pendapat di kalangan elit pemerintah terhadap proyek-proyek strategis (Soeharto 1989b). Hingga saat terjadinya krisis moneter, lembaga pemerintah non departemen ini harus dibubarkan dan digantikan oleh PT Pakarya Industri, dan berubah lagi menjadi PT Bahana Pakarya Industri Strategis (Kementerian Badan Usaha Milik Negara 2008:342).
Perusahaan ini merupakan BUMN yang bertindak sebagai perusahaan induk (holding company) dari industri-industri strategis melalui Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1998. Melalui PT Bahana Pakarya Industri Strategis, BPIS yang semula lembaga pemerintah non departemen mencoba kembali bangkit dan bertransformasi menjadi sebuah perusahaan milik negara berbentuk perseroan terbatas (Sugiharto 2012).
Kemudian, susunan DPIS turut diperbaharui berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 40 tahun 1999 yang memasukkan Komisaris Utama PT Pakarya Industri, Direktur Utama PT Pakarya Industri, dan Ketua Kamar Dagang Indonesia. Pengelolaan di bawah naungan PT Bahana Pakarya Industri Strategis tidak membawa kemajuan teknologi yang signifikan dalam rangka mencapai kemandirian alutsista karena pasca reformasi, holding company ini harus memperbaiki masalah pendanaan yang dihadapi oleh industri strategis (Soeharto 1999).
PT Bahana Pakarya Industri Strategis pun harus dilikuidasi pada 2002 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2002. Runtuhnya PT Bahana Pakarya Industri Strategis sebagai holding company yang menjadi koordinator dan ujung tombak integrasi pengembangan BUMNIS, berdampak pada kemunduran operasi perusahaan-perusahaan milik negara berbasis teknologi. Seperti PT Dahana (Persero), industri yang bergerak di sektor bahan peledak ini harus merasakan hak istimewa BUMN tersebut, yakni seperti hak monopoli bahan peledak, dicabut oleh negara (Dahana 2013).
Setelah likuidnya BPIS, industri pertahanan dalam negeri mengalami masa krisis. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melihat kelesuan industri pertahanan nasional. Menurutnya, industri pertahanan merupakan industri yang memiliki teknologi dan kualitas sumber daya manusia yang tinggi harus digunakan dengan baik, jika tidak Indonesia akan merugi (detikFinance 2009).
Dengan demikian, SBY beserta jajaran kabinetnya melakukan manuver-manuver kebijakan untuk merevitalisasi industri pertahanan.
Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dibentuk dalam rangka mengembalikan marwah industri pertahanan nasional serta meminimalisir ketergantungan alutsista dari luar negeri. KKIP mewakili pemerintah untuk mengoordinasikan kebijakan nasional dalam perencanaan, perumusan, pelaksanaan, pengendalian, sinkronisasi, dan evaluasi industri pertahanan. KKIP memiliki fungsi untuk merumuskan dan mengevaluasi kebijakan mengenai pengembangan dan pemanfaatan industri pertahanan (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018b).
KKIP sendiri didirikan pada 2010 di masa pemerintahan Presiden SBY.
Kabinet Indonesia Bersatu jilid pertama pada era Presiden SBY mulai merevitalisasi industri pertahanan. Pemerintah kala itu mengakomodir keterlibatan pihak swasta dan memberi peluang besar bagi mereka dalam kegiatan industri pertahanan (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018a).
Upaya ini ternyata dilanjutkan oleh Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua yang menghasilkan Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan, yang dilanjutkan dengan disahkannya Undang- undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Secara organisatoris, Ketua KKIP yakni Presiden RI menjalankan tugas dan fungsinya dibantu oleh Menteri Pertahanan selaku Ketua Harian KKIP dan Menteri BUMN selaku Wakil Ketua Harian KKIP.
Selain itu, KKIP memiliki 11 Menteri dan Kepala Lembaga yang turut serta menjadi anggota, yakni Menteri Pertahanan, Menteri BUMN, Menteri Perindustrian, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Menteri
Pendidikan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas, Menteri Luar Negeri, Panglima TNI dan Kapolri (Komite Kebijakan Industri Pertahanan 2018b).
Memiliki usia yang sudah tidak muda lagi tetap tidak menjamin kemapanan industri pertahanan dalam negeri. Hal ini tidak lepas dari permasalahan dan stigma negatif yang mengarah pada BUMN Industri Strategis (BUMNIS) yang di dalamnya termasuk industri pertahanan.
Stigma negatif tersebut di antaranya berkutat pada kualitas produk, proses pengiriman yang lambat, hingga rendahnya kemampuan dalam memberikan layanan purna jual. Masalah ini tidak lepas dari sistem pengelolaan industri pertahanan yang state-centric serta perdebatan di kalangan pemerintah era Orde Baru antara kaum teknokrat dan kubu ekonom (Karim 2014:146).
Sistem pengelolaan yang state-centric mengharuskan negara untuk mengelola industri pertahanan dari proses awal hingga akhir. Proses riset teknologi, penganggaran, hingga penggunaan, semua bersumber dari dan dilakukan oleh negara. Sekilas, tak ada masalah dengan sistem pengelolaan state- centric karena hampir semua negara menggunakan pendekatan ini, namun masalahnya Indonesia tidak memiliki desain yang komprehensif mengenai sistem industri pertahanan dalam negeri yang berbasis BUMN (Karim 2014:147).
Selain itu, perdebatan antara ekonom dengan teknokrat di kalangan pemerintahan Orde Baru didasari ketidaksepahaman tentang pentingnya pengembangan teknologi industri dan proyek strategis. Kubu ekonom berpendapat bahwa proyek-proyek strategis seperti penelitian dan pengembangan teknologi
merugi (sunk cost) karena banyak anggaran yang dikeluarkan, sementara para teknokrat beranggapan hal tersebut wajar karena manfaatnya tidak dirasakan di masa depan (Sampurno dan Kuffal 2011).
Kondisi ini berdampak pada kurangnya perhatian dan kepercayaan pemerintah hingga berujung pada tidak optimalnya industri pertahanan dalam negeri. Akibatnya, pengadaan alutsista dalam rangka pemenuhan postur pertahanan nasional dilakukan dengan mekanisme impor.
Bagi Indonesia, membatasi impor menjadi suatu hal yang dilematis.
Pasalnya, impor alutsista lebih murah dan kualitasnya terbukti telah teruji sehingga lebih efisien dibandingkan dengan produk baru hasil industri domestik yang belum tentu kualitasnya sama baik dengan produk impor. Situasi ini didukung oleh industri pertahanan nasional yang belum mampu memproduksi alutsista berteknologi canggih, namun pemerintah dituntut harus memberi kesempatan pada perusahaan domestik (Karim 2014:173).
Impor senjata dan alat khusus pertahanan sangat erat kaitannya dengan ketergantungan (Bakrie 2017). Pengaruh ketergantungan akan alutsista dari negara lain dapat membahayakan negara saat terjadi politik embargo senjata oleh negara produsen. Kekuatan pertahanan akan turun drastis sehingga akan berdampak pada berkurangnya deterrence effect dalam menjaga keutuhan kedaulatan negara.
Embargo senjata sudah dialami oleh Indonesia pada tahun 1995 hingga 2005 oleh AS. Kondisi ini menyebabkan aset pertahanan udara Indonesia yang dibeli dan bersumber dari AS, seperti setengah lusin F-16 Fighting Falcon, sejumlah F-5 Tiger, hingga C-130 Hercules yang notabenenya pesawat angkut
mengalami kemunduran hingga harus dihanggarkan (grounded) (CNN Indonesia 2016).
Bahkan, sekutu AS, Inggris, turut mengembargo Indonesia melalui Uni Eropa pada 1998. Embargo senjata tidak terbatas pada suplai saja, melainkan sampai alutsista yang sudah dibeli dan dimiliki tidak boleh digunakan oleh Indonesia. Kondisi tekanan dari luar ini membuat Indonesia tidak leluasa menjalankan prinsip politik luar negeri bebas-aktifnya (Karim 2014:73).
Pengalaman diembargo oleh negara lain menjadi pelajaran bagi Indonesia agar dapat melepaskan ketergantungan dan tekanan dari negara produsen senjata.
Kemandirian alutsista pun tidak sebatas diartikan sebagai dapat memproduksi secara swadaya, namun juga dapat dipahami sebagai kemandirian dalam membeli, merawat, dan menggunakan. Masalah kemandirian akan selalu menjadi tantangan bagi industri pertahanan nasional yang wajib diikuti dengan kemauan dan kemampuan untuk terus mandiri (Karim 2014:72-74).
3. Alokasi Anggaran
Pertahanan masih menjadi perhatian utama pemerintah, hal ini terlihat dari peningkatan anggaran bagi Kemhan RI yang mengalami kenaikan secara signifikan sejak tahun 2010. Data yang diolah dari Katadata bersumber dari Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan memaparkan pada 2011 anggaran Kementerian Pertahanan sebesar 51,2 triliun rupiah dari sebelumnya 42,4 triliun rupiah pada tahun 2010 (Victoria 2019).
Gambar II.1: Grafik Statistik Anggaran Kementerian Pertahanan RI
(Sumber: Katadata, Kementerian Keuangan RI)
Kemudian pada tahun 2012 anggaran pertahanan sebesar 61,3 triliun, lalu pada tahun 2013 anggaran kembali ditingkatkan menjadi 87,7 triliun, dan pada tahun 2014 mengalami penurunan dalam APBN menjadi 86,2 triliun rupiah.
Fluktuasi anggaran bagi Kemhan juga masih terjadi pada rentang tahun 2015 hingga 2019 (Victoria 2019).
Pada tahun 2015 anggaran pertahanan mencapai 101,4 triliun, sedangkan tahun 2016 anggaran ini turun menjadi 98,1 triliun, lalu tahun 2017 mengalami kenaikan tajam yakni 117,3 triliun rupiah. Pada tahun 2018 mengalami kemerosotan nilai anggaran dalam APBN menjadi 107,7 triliun dan tahun 2019 sebesar 108,4 triliun rupiah (Victoria 2019).
Pendanaan Kemhan tahun 2019 didominasi untuk program penyelenggaraan manajemen dan operasional matra laut sebesar 11,16 triliun rupiah dan matra darat 37,49 triliun rupiah, serta program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Kemhan sebesar 15,37 triliun rupiah. Anggaran untuk memodernisasi alutsista dan non alutsista (atau sarana dan prasarana), untuk matra udara 2,58 triliun rupiah, matra laut 3,6 triliun rupiah, dan matra darat 5,15 triliun rupiah (Victoria 2019).
Anggaran yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada Kemhan tidak bisa menjadi satu-satunya rujukan untuk menganalisis kemajuan industri pertahanan nasional. Data anggaran tersebut hanya dapat menjadi salah satu instrumen dalam melihat perkembangan keseriusan pemerintah untuk memprioritaskan pertahanan dalam negeri selain aksi diplomatik kenegaraan.
Dengan demikian, maka diperlukan data ekspor-impor alutsista Indonesia.
Gambar II.2: Grafik Nilai Ekspor Alutsista Indonesia
(Sumber: Katadata, Badan Pusat Statistik)