• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP 10.1. Kesimpulan

Dalam dokumen BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang (Halaman 147-152)

Dalam rangka memperoleh efek pengganda, strategi pemberdayaan perempuan akan menjadi salah satu instrumen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, baik pembangunan nasional dan daerah maupun antara daerah dan sektor serta mancanegara sebagai alat perjuangan untuk kepentingan nasional, diselenggarakan melalui pengarusutamaan gender dalam setiap proses dan tahapan perencanaan pembangunan daerah di rasakan belum sempurna, sehingga kesetaraan dan keadilan gender dimasa mendatang dapat lebih optimal.

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kaitan statistik gender bertujuan untuk mengidentifikasi jenis data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan masalah sosial, sekaligus untuk membangun jaringan system informasi yang diperlukan antara lain meningkatkan fungsi koordinasi yang terpadu dalam penyediaan informasi yang benar dan bertanggung jawab serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan data dan informasi pembangunan melalui multi media agar proses sosialisasi, advokasi, dan praktek-praktek terbaik dapat terwujud serta diharapkan tercipta kemampuan masyarakat untuk menyeleksi informasi, agar tercipta rasa saling percaya serta menjaga kesenjangan informasi yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.

Peningkatan kualitas hidup perempuan diharapkan menjadi bagian dari keluarga yang merupakan basis utama terbentuknya generasi sekarang dan masa yang akan datang, oleh karena itu pengkajian kebijakan

pembangunan diperlukan dalam rangka mencari alternative-alternative kebijakan yang efektif, terutama memperkuat dan mendorong kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi yang sama terhadap pemberdayaan perempuan,

10.2. Rekomendasi

Statistik Gender merupakan kegiatan dari fungsi management yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan, pelaksanaan, dan Monev. Kesemuanya saling melengkapi dan masing-masing memberi umpan balik artinya perencanaan yang telah disusun dengan baik, tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan. Demikian juga sebaliknya setiap pelaksanaan tidak akan berjalan lancar jika tidak didasarkan kepada perencanaan yang baik. Untuk itu evaluasi menjadi penting, mulai tahap perencanaan (ex-ante evaluation, tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan saat program/kegiatan selesai (ex-post evaluation).

Dengan demikian program di bawah ini merupakan rekomendasi untuk lebih memperkuat peran masyarakat dan kelembagaan dalam pembangunan pemberdayaan perempuan, untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yakni ;

1). Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan

Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan sebagai mahluk individu yang merupakan insan dan sumberdaya pembangunan, sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi sekarang dan masa mendatang.

Di bidang pendidikan, program ini secara khusus bertujuan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan, dan membenahi materi bahan ajar, proses pembelajaran, dan pengelolaan pendidikan, baik di lingkungan pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dipersiapkan adalah: a).Peningkatan peran aktif perempuan dalam seluruh proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program pembangunan pendidikan; b). Penurunan angka buta huruf, dan peningkatan partisipasi perempuan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, termasuk bidang-bidang kejuruan, keahlian, dan pendidikan yang selama ini lebih dianggap cocok untuk laki-laki; c). Evaluasi dan penataan materi bahan ajar agar lebih peka gender di seluruh jenjang dan jenis pendidikan, serta pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan jender pada lembaga-lembaga penataran guru dan pendidikan penjenjangan; d). Pengembangan metoda dan pendekatan pembelajaran baik intra maupun ekstra kurikuler yang lebih berwawasan jender; e). Sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender dalam pendidikan, melalui berbagai media, terutama bagi para perencana dan pengambil keputusan—termasuk orang tua, guru, kepala sekolah, dan masyarakat; dan f). Pada daerah-daerah terpencil, dalam situasi konflik, dan darurat, program pendidikan harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan khusus yang memungkinkan penduduk usia sekolah, baik perempuan maupun laki-laki, tetap dapat berpartisipasi dalam pendidikan.

2. Penegakan Hukum dan Hak Azasi Manusia bagi Perempuan ; Tujuan program ini adalah untuk mendukung terciptanya sistem hukum nasional yang tidak diskriminatif dan berkeadilan gender, baik dalam hal substansi, struktur maupun budaya hukumnya; serta menegakkan hak azasi manusia (HAM) yang merugikan perempuan yakni ; a). Peningkatan peran aktif perempuan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan hukum dan HAM; b). Pembuatan UU dan peraturan-peraturan yang diperlukan dalam upaya menegakkan hak-hak perempuan, seperti UU Anti Kekerasan; d). Perumusan dan penerapan kebijakan dan tindakan khusus bagi upaya promosi aparat penegak hukum perempuan serta penanganan kasus-kasus perempuan; e). Peningkatan akses masyarakat, terutama perempuan untuk memperoleh informasi dan sumberdaya hukum, seperti bantuan hukum, dana, bantuan pendampingan dan pemulihan/kompensasi bagi korban; f). penciptaan sistem komunikasi dan kerjasama antara institusi penegak hukum dengan organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi perempuan dalam rangka penegakan hukum, terutama dalam penyelesaian masalah-masalah khusus perempuan; g). Ratifikasi Konvensi PBB tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Anak; h). Sosialisasi "budaya damai" agar perempuan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan; i). Perbaikan sistem dan perangkat hukum yang dapat menunjang penegakan hak azasi perempuan antara lain melalui pemberian hukuman semaksimal mungkin bagi para pelaku kejahatan serta memberikan pelayanan dan kompensasi bagi para korban kejahatan; j).Penciptaan sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja; k) Penciptaan sistem perlindungan dan

penanganan khusus bagi perempuan dalam situasi konflik maupun kerusuhan yang bersifat penanganan segera, efektif dan menyeluruh; 1). Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi pekerja kemanusiaan dan pelapor tindak pelanggaran HAM; dan m). Pembentukan tim khusus pelanggaran HAM terhadap perempuan

3. Penguatan Peran Masyarakat dan Pemampuan Kelembagaan Tujuan program ini adalah untuk memperkuat peran aktif masyarakatl, meningkatkan kapasitas dan kemampuan institusi-institusi pemerintah dalam melakukan gender mainstreaming dalam setiap tahap dan proses pembangunan, meningkatkan peran dan kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan, termasuk organisasi perempuan, serta mewujudkan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yakni ; a). KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) mengenai kesetaraan dan keadilan jender di lingkungan lembaga-lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, termasuk TNI dan Kepolisian RI, serta masyarakat secara keseluruhan; b). Peningkatan kemampuan dan kapasitas institusi-institusi pemerintah untuk melakukan gender mainstreaming dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pembangunan, melalui peningkatan keterampilan dan keahlian serta pembentukan unit gender mainstreaming di setiap instansi pemerintah; c). Pengembangan berbagai alat dan metode, termasuk pengembangan materi dan bahan KIE untuk gender mainstreaming; d). pengembangan sistem informasi jender, antara lain melalui penyediaan data dan informasi yang dibedakan menurut jenis kelamin; e). Intensifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan tentang masalah-masalah jender,

termasuk pemanfaatan dan pendayagunaan hasilnya; f). Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan, termasuk organisasi-organisasi perempuan yang ada di pusat maupun di daerah, melalui peningkatan keterampilan dan keahlian untuk lebih dapat menemukenali dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan, serta bersama-sama pemerintah merumuskan kebijakan dan program pembangunan; dan g). Penciptaan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan.

Dalam dokumen BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang (Halaman 147-152)

Dokumen terkait