• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen Laporan Kerja Praktek.pdf (Halaman 17-98)

Bab ini memuat kesimpulan-kesimpulan dengan uraian yang ringkas dan  jelas dari hasil melakukan kegiatan kerja praktek lapangan yang dilengkapi dengan saran serta pertimbangan penulisan hasil laporan kerja praktek ini.

BAB II

TINJAUAN PROYEK

A. Pengertian Proyek

Proyek adalah suatu pekerjaan untuk membangun konstruksi atau diluar konstrkusi dengan satu tujuan penting yang dibatasi oleh bidang, kualitas, waktu, dan biaya. Metode pelaksanaan suatu proyek merupakan bagian yang terpenting dalam Manajemen Konstruksi, karena hal ini merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu proyek. Untuk menentukan keberhasilan proyek harus didasari dengan ide yang berasal dari metode serta latar belakang yang telah disusun. Ide dasar yang dimaksud mencakup 4 aspek penting, antara lain :

- Hubungan antara pemilik proyek dengan pelaksana (koordinator). - Jenis-jenis dan dokumen kontrak.

- Kriteria pemilihan kontraktor yang sebelumnya dilakukan dengan proses  pelelangan (tender).

- Pelaksana pembangunan. B. Data Umum

Dalam proses penyelenggaraan Proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, data umum yang akan dibahas meliputi  pemilik proyek, konsultan perencana. konsultan pengawas, kontraktor pelaksana,

nilai proyek, luas bangunan, serta jangka waktu pelaksanaan proyek. - Lokasi : Banjarbaru, Kalimantan Selatan

-  Nama Proyek : Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin

- Pemilik/Owner : Kementerian Agama RI Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan

-  Nomor Kontrak : B-74/AH.06/KS.01.1/05/2016 - Tanggal Kontrak : 17 Mei 2016

-  Nilai Kontrak : Rp

- Kontraktor Pelaksana : PT. Nindya Karya (Persero) - Konsultan MK : PT. Sangkuriang

- Konsultan Perencana : PT. Pandu Persada 1. Pemilik Proyek

Pemilik proyek adalah suatu badan hukum atau perorangan, baik swasta maupun instansi pemerintahan yang memprakarsai proyek pembangunan ini untuk kepentingan instansinya dalam memajukan mutu dan kualitas bangunan gedung Asrama Haji Embakasi Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dalam proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang terletak di jalan Jend. Ahmad Yani Km. 28 Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini yang bertindak sebagai pemilik proyek adalah Kementerian Agama RI Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. 2. Konsultan Pengawas

Konsultan Pengawas adalah pihak yang ditunjuk oleh pemilik bangunan untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan pembangunan maupun  pemeliharaan gedung tersebut dengan maksud agar pelaksanaan pembangunan

tersebut sesuai dengan perencanaan.

Pada Proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang terletak di jalan Jend. Ahmad Yani Km. 28 Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini yang bertindak sebagai pengawas teknis adalah PT. Sangkuriang, surat kontrak bernomor B-74/AH.06/KS.01.1/05/2016  pada tanggal 17 Mei 2016 dan sebagai Team Leader   adalah Ir. R. M. Taufik

Hidayat As, MT yang beralamatkan di Jl. Karang Tinggal No. 23 Telp. (022) 2031789 Fax. (022) 2031789, Sukajadi, Bandung, Jawa Barat.

3. Nilai Proyek

 Nilai Proyek merupakan besarnya jumlah dana yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu bangunan proyek dari awal hingga selesai, termasuk segala  pengeluaran kontraktor beserta pajak-pajak dan biaya lainnya. Nilai Proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang

terletak di jalan Jend. Ahmad Yani Km. 28 Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, berdasarkan data yang ada pada nilai kontraknya adalah sebesar Rp

53.749.252.000,-4. Luas Bangunan

Proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang terletak di jalan Jend. Ahmad Yani Km. 28 Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, berdasarkan data yang diperoleh memiliki luas keseluruhan bangunan mulai dari lantai 1 sampai lantai 5 atau lantai atap adalah ± 8500 m² dan luas tiap-tiap lantainya adalah ± 1700 m².

Adapun pembagian fungsi-fungsi ruang atau penzoningan pada tiap-tiap lantai di gedung tersebut adalah sebagai berikut :

- Lantai 1 : Area pengelola dan area makan.

- Lantai 2 : Kamar tidur untuk calon jema’ah haji. - Lantai 3 : Kamar tidur untuk calon jema’ah haji. - Lantai 4 : Kamar tidur untuk calon jema’ah haji.

- Lantai 5 : Lantai atap atau ruang mesin lift dan reservoir. 5. Jangka Waktu Pelaksanaan

Untuk jangka waktu pelaksanaan Proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang terletak di jalan Jend. Ahmad Yani Km. 28 Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, berdasarkan kontrak kerjanya adalah selama 220 (Dua Ratus Dua Puluh) hari kalender kerja. C. Proses Penetapan Konsultan Pengawas

Dalam proyek atau pemborongan suatu pekerjaan terdapat kegiatan yang harus dilakukan sebelum terjadinya perjanjian pemborongan. Rangkaian kegiatan ini merupakan tahapan-tahapan sebelum kontrak yang disebut tender atau lelang.

Menurut Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 54 Tahun 2010, tentang Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah, pemilihan penyedia pekerjaan konstruksi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

1) Pelelangan Umum

Pelelangan Umum adalah metode pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang memenuhi syarat.

2) Pelelangan Terbatas

Pelelangan Terbatas adalah metode pemilihan pekerjaan konstruksi dengan  jumlah penyedia yang mampu melaksanakan dan diyakini terbatas untuk  pekerjaan yang kompleks. Pekerjaan yang kompleks adalah pekerjaan yang memerlukan bantuan teknologi tinggi, mempunyai resiko tinggi, menggunakan peralatan yang didesain khusus dan/atau pekerjaan yang  bernilai Rp. 100.000.000.000,00 (Seratus Miliar Rupiah).

3) Pelelangan Sederhana

Pelelangan Sederhana adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa lainnya untuk pengadaan yang tidak kompleks dan bernilai paling tinggi Rp. 200.000.000,00 –  Rp. 5.000.000.000,00.

4) Pemilihan Langsung

Dalam hal metode pelelangan umum dan pelelangan terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran, sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun  biaya yang diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk  penerangan umum, bila memungkinkan melalui internet bernilai paling

tinggi Rp. 200.000.000,00 –  Rp. 5.000.000.000,00. 5) Penunjukan Langsung

Penunjukan Langsung adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) penyedia barang/jasa melalui

negosiasi baik teknis maupun biaya, sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.

6) Pengadaan Langsung

Pengadaan Langsung adalah pengadaan barang/jasa langsung kepada  penyedia barang/jasa, tanpa melalui pelelangan/seleksi/penunjukan

langsung dan dapat dilakukan terhadap pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lain yang bernilai paling tinggi Rp. 100.000.000,00  –   Rp. 200.000.000,00.

Pada Proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, perusahaan atau badan usaha yang dipercayakan untuk mengawasi  pelaksanaan pekerjaan atau proyek tersebut adalah PT. Sangkuriang sebagai

Manjemen Konsultan (MK). Penetapan PT.Sangkuriang sebagai konsultan  pengawas melalui sistem Pelelangan Umum yaitu metode pemilihan penyedia  barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang memenuhi persyaratan.

Pemilik (Owner) dalam proyek ini adalah Kementerian Agama Republik Indonesia Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan yang sumber dananya  berasal dari DIPA UPT. Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin tahun anggaran

2016 yang menetapkan PT. Sangkuriang sebagai konsultan pengawas setelah memenangkan tender atau lelang, oleh sebab itu, pejabat yang berwenang segera menerbitkan Surat Penunjukan kepada konsultan tersebut atau yang terpilih.

- Pemilik Bangunan/Pemberi Tugas

Kementerian Agama RI Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan - Sumber Dana

DIPA UPT. Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin Tahun Anggaran 2016 - Konsultan Perencana

PT. Pandu Persada - Konsultan Pengawas

- Kontraktor Pelaksana

PT. Nindya Karya (Persero) D. Organisasi Proyek

Dalam suatu proyek pembangunan diperlukan suatu organisasi proyek guna tercapainya pelaksanaan pekerjaan proyek secara efektif dan efisien. Organisasi proyek bekerjasama dalam suatu wadah pengaturan tertentu untuk mencapai tujuan atau sasaran suatu proyek. Alasan mengapa organisasi proyek diperlukan ialah untuk mengatur hubungan kerja antara unsur yang terlibat dalam  proyek serta mengatur pelaksanaan pekerjaan proyek, sehingga semua rencana

dapat terealisasikan dengan baik sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Secara umum pada pelaksanaan pekerjaan proyek pembangunan terdapat unsur-unsur pelaksanaan pembangunan proyek yang terdiri dari 3 kelompok yang saling menunjang, biasanya disebut dengan “Segitiga Proyek”.

Bagan 1 Struktur Proyek Pembangunan

(Sumber : Soeharto, 1997 : 56)

1) Pemilik Proyek (Owner/Bouwher )

Pemilik proyek adalah suatu badan hukum atau perseorangan baik swasta maupun instansi pemerintah yang memprakarsai proyek  pembangunan untuk kepentingan instansinya. Dalam proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin ini yang bertindak sebagai  pemilik proyek adalah Kementerian Agama Republik Indonesia Kantor

2) Pimpinan Proyek/Pimpinan Bagian Proyek (Pimbagro)

Pada proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin ini yang bertindak sebagai pimpinan proyek/Pimbagro adalah Hj. Ir. Nurhayati, M. AP.

3) Pengelola Teknis

Pengelola teknis bertugas membantu pimpinan proyek dalam mengelola teknis proyek di lapangan melalui sejumlah tahapan.

4) Konsultan Perencana

Konsultan perencana adalah badan usaha baik perseorangan maupun tim yang dengan keahliannya memberikan jasa kepada pemberi tugas ( owner) untuk melaksanakan tugas konsultasi bidang jasa perencanaan teknis  bangunan dan jasa lain yang berkaitan dengan perencanaan. Pada proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang ditunjuk sebagai konsultan perencana adalah PT. Pandu Persada. 5) Konsultan Pengawas

Konsultan pengawas adalah suatu badan hukum atau perseorangan yang ditunjuk oleh pemilik untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan, serta memutuskan hal-hal yang bersifat kontraktual antara pemilik dan kontraktor dalam kapasitas sebagai representatif pemilik. Pada proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang bertindak sebagai konsultan pengawas adalah PT. Sangkuriang.

6) Kontraktor

Kontraktor adalah perusahaan atau badan usaha yang bergerak di bidang  jasa pemborongan yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan setelah disetujui oleh pemilik proyek. Pada proyek Pembangunan Revitalisasi Gedung Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin yang bertindak sebagai kontraktor pelaksana adalah PT. Nindya Karya (Persero) yang dipilih berdasarkan proses lelang.

STRUKTUR ORGANISASI PROYEK PEMBANGUNAN REVITALISASI GEDUNG ASRAMA HAJI EMBARKASI BANJARMASIN

Bagan 2 Struktur Proyek Pembangunan Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin

(Sumber : Konstruksi Penulis Berdasarkan Data Proyek)

STRUKTUR ORGANISASI KONTRAKTOR PT. NINDYA KARYA

Bagan 3 Struktur Organisasi PT. Nindya Karya

STRUKTUR ORGANISASI KONSULTAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

PT. SANGKURIANG

Bagan 4 Struktur Organisasi PT. Sangkuriang

(Sumber : PT. Sangkuriang)

E. Spesifikasi Teknis (Kerangka Acuan Kerja/TOR)

Spesifikasi Teknis adalah suatu uraian atau ketentuan-ketentuan yang disusun secara lengkap dan jelas mengenai suatu barang, metode atau hasil akhir  pekerjaan yang dapat dibeli, dibangun, dan dikembangkan oleh pihak lain,

sehingga dapat memenuhi keinginan semua pihak yang terkait.

Dalam pekerjaan konstruksi, spesifikasi teknis merupakan suatu tatanan teknik yang dapat membantu semua pihak terkait dengan pekerjaan konstruksi agar satu pendapat dalam pemahaman suatu hal teknis tertentu yang terjadi dalam suatu pekerjaan sebuah proyek. Fungsi spesifikasi teknis dalam sebuah proyek adalah sebagai berikut :

- Mengurangi perbedaan pendapat atau pertentangan yang tidak perlu. - Mendorong efisiensi dan kerja sama dalam penyelenggaraan proyek. - Mengurangi kerancuan teknis pelaksanaan pekerjaan.

1. Lingkup Pekerjaan Konsultan

Peran pihak konsultan pengawas di proyek ialah melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap kualitas dan kuantitas pekerjaan sebagai berikut :

- Mengawasi semua pekerjaan, ketepatan waktu serta biaya pelaksanaan  pekerjaan konstruksi.

- Menyelenggarakan rapat-rapat di lapangan secara berkala dan membuat laporan mingguan sampai bulanan dengan masukan hasil laporan harian yang dilaksanakan oleh pemborong.

- Mengawasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik dari aspek kualitas dan kuantitas serta kemajuan volume.

- Menyusun daftar kekurangan dan kecacatan pekerjaan selama waktu  pelaksanaan pekerjaan.

- Mengumpulkan perubahan-perubahan pekerjaan di lapangan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi selama pekerjaan berlangsung. - Membantu membuat gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan

 pekerjaan (as built drawing ).

2. Data dan Fasilitas yang diberikan oleh Pemilik Proyek

Dalam pelaksanaan pekerjaan pengawasan, konsultan pengawas tidak hanya berpedoman pada Kerangka Acuan Kerja/TOR, tetapi juga terikat pada :

- Gambar-gambar kerja, termasuk gambar detail.

- Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dengan seluruh perubahannya sesuai dengan berita acara penjelasan pekerjaan.

- Semua ketentuan dan peraturan administrasi teknis yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan pengawasan.

BAB III

TINJAUAN TEORI

A. Supervisi Lapangan (Pengawasan)

Pengawasan atau Supervising   merupakan salah satu bagian dari kegiatan  pengendalian dalam suatu proyek. Menurut Ervianto (2002), pengawasan adalah interaksi langsung antara individu-individu dalam organisasi untuk mencapai kinerja dan tujuan organisasi. Kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.

Pekerjaan pengawasan merupakan peran utama keberhasilan dalam suatu  proyek pembangunan. Dalam menjalankan tugas pengawasannya, supervisi dipilih oleh pihak konsultan selaku pengawas lapangan yang bertugas mengontrol apabila ada penyimpangan atau keterlambatan dalam pelaksanaan pekerjaan. Pengawas lapangan melaporkan semua hasil pengawasannya kepada konsultan, kemudian konsultan melaporkan dan berkonsultasi dengan pimpinan proyek untuk menanggulangi masalah yang terjadi di lapangan.

Dalam proses penyelesaian suatu proyek konstruksi terdapat berbagai kendala yaitu apakah sesuai dengan jadwal kegiatan, biaya yang direncanakan, dan spesifikasi yang telah ditentukan (Ervianto, 2002). Menanggapi hal ini, berarti  perlu adanya bentuk pengendalian waktu, pengendalian biaya, pengendalian mutu, serta administrasi lapangan dalam suatu pekerjaan proyek konstruksi, sehingga  proyek dalam pekerjaan dapat terlaksana sesuai dengan jadwal yang disusun dan

direncanakan (Soeharto, 1997). 1. Pengendalian Waktu

Ketepatan waktu pekerjaan merupakan salah satu sasaran utama dalam  pelaksanaan suatu proyek. Alasannya jika terjadi keterlambatan proyek akan mengakibatkan kerugian seperti penambahan biaya, kehilangan kesempatan  pemasaran, dan lain-lain. Oleh sebab itu, diperlukan pengendalian waktu agar  pelaksanaannya sesuai dengan perencanaan yang terdapat pada jadwal semula

Menurut Soeharto (1997), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam  pengendalian waktu pekerjaan yaitu jadwal kegiatan, pengelolaan tenaga kerja,  pengadaan dan pengelolaan material, serta metode pelaksanaan pekerjaan.

a. Jadwal Kegiatan (

Time Schedule

)

Jadwal kegiatan atau time schedule adalah penjabaran perencanaan proyek menjadi urutan langkah-langkah pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai sasaran. Berdasarkan uraian yang terdapat dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) umumnya meliputi :

- Uraian pekerjaan, menunjukkan jenis pekerjaan yang dilaksanakan.

- Waktu pelaksanaan, menunjukkan kapan jenis pekerjaan tersebut dimulai dan diakhiri.

- Bobot pekerjaan, menunjukkan besarnya persenan sebuah pekerjaan yang dilaksanakan dibanding dengan pekerjaan seluruhnya.

- Grafik hasil pekerjaan dan kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan.

Adapun fungsi jadwal kegiatan atau time schedule  menurut Ibrahim (1993), adalah sebagai berikut :

- Untuk mengontrol dan menilai secara langsung presentasi kemajuan  proyek dari kontraktor serta untuk penentuan pembayaran angsuran atau

termin sesuai data kontrak.

- Sebagai alat mengevaluasi kemajuan atau keterlambatan yang terjadi dalam pelaksanaan proyek.

Dalam bukunya Soeharto (1997), mengatakan bahwa jadwal kegiatan atau time schedule terbagi menjadi dua jenis, yaitu :

1) Diagram Panah ( Network Diagram)

Time schedule  seperti ini dapat digambarkan oleh tanda panah yang menghubungkan paket-paket pekerjaan. Dari diagram ini dapat diketahui  jenis pekerjaan yang harus didahulukan, pekerjaan yang dapat dilakukan secara bersamaan dan pekerjaan yang haru menunggu pekerjaan lain, ataupun pekerjaan yang harus diselesaikan tepat pada waktunya.

Gambar 1 Diagram Panah Pelaksanaan Pekerjaan

(Sumber : tugasmapro.blogspot.com)

2) Diagram Balok ( Bar Chart )

Dengan diagram ini dapat diperoleh gambaran pelaksanaan pekerjaan yang akan dilaksanakan, sedang dilaksanakan ataupun sudah dilaksanakan. Hubungan antara bobot pekerjaan dengan waktu penyelesaian pekerjaan ditunjukan oleh kurva “S”, dimana terdapat dua kur va yaitu kurva rencana dan kurva pelaksanaan. Dari kedua kurva tersebut dapat diketahui kemajuan proyek tersebut.

- Kurva “S” pelaksanaan yang berhimpitan dengan kurva “S” rencana, menunjukkan pekerjaan terlaksana sesuai dengan jadwal.

- Kurva “S” pelaksanaan diatas kurva “S” rencana, menunjukkan  pekerjaan terlaksana lebih cepat daripada jadwal yang ditentukan. - Kurva “S” pelaksanaan dibawah kurva “S” rencana, menunjukan

 pekerjaan selesai terlambat.

Gambar 2 Diagram Balok Pelaksanaan Pekerjaan

b. Pengelolaan Tenaga Kerja

Faktor penentu keberhasilan penyelenggaraan suatu proyek adalah tenaga kerja, oleh sebab itu diperlukan sebuah metode perencanaan yang matang dalam  pengorganisasian tenaga kerja dan menganalisis produktivitasnya.

Menurut Soeharto (1997), mengatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan  pengawas dalam pengelolaan tenaga kerja yang dilakukan kontraktor antara lain :

1) Organisasi Pelaksana

Organisasi pelaksana akan memudahkan pengawasan kegiatan pekerjaan dikarenakan hal ini akan menjamin setiap paket pekerjaan ditangani oleh organisasi tertentu, sehingga tidak ada yang terlewatkan.

2) Kuantitas Tenaga Kerja

Pengamatan kuantitas tenaga kerja yang berkaitan dengan jumlah pada masing-masing disiplin dan keahlian, serta faktor-faktor lainnya.

3) Produktivitas Tenaga Kerja

Produktivitas tenaga kerja dapat dipantau dalam bentuk jumlah unit  pekerjaan yang diselesaikan dibagi sumber daya atau dari kemajuan  pelaksanaan pekerjaan. Untuk pengadaan tenaga kerja yang produktif oleh kontraktor, ada hal-hal yang harus diperhatikan seperti lokasi geografis, keterampilan, pengalaman, ataupun peraturan yang berlaku. Namun faktor-faktor ini sulit dilihat dan dijabarkan. Selain faktor diatas juga ada faktor lain seperti fisik lapangan, organisasi pelaksana, komposisi kelompok tenaga kerja, besar kecilnya proyek, dan lain-lain, dimana faktor tersebut dapat dilihat perkembangannya.

c. Pengadaan dan Pengelolaan Material

Dalam pelaksanaan suatu proyek, bidang pengadaan dan pengelolaan material atau peralatan ini diatur oleh bidang logistik yang melibatkan banyak  pihak dan kegiatan dalam proyek tersebut. Sumber utama informasi yang

digunakan untuk pengendalian pengadaan material adalah permintaan pembelian  barang, penawaran koutasi, pesanan pembelian dan subkontraksi, dokumen  pengiriman dan dokumen penerimaan serta faktur (Barrie, Dkk, 1990).

Kegiatan-kegiatan pada bidang logistik dalam suatu proyek meliputi : - Perencanaan atau pembelian material.

- Transportasi.

- Pembungkusan (pemeliharaan peralatan). - Gudang atau penyimpanan barang.

d. Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Metode pelaksanaan pekerjaan merupakan penjelasan terhadap langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan pekerjaan di lapangan yang meliputi  jadwal pelaksanaan, teknologi atau peralatan yang digunakan, daftar tenaga kerja

yang membantu penyelesaian pelaksanaan pekerjaan, sehingga mempengaruhi keefektifan dan keefisienan kerja.

2. Pengendalian Biaya

Anggaran biaya merupakan suatu perencanaan terinci tentang perkiraan  biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu. Anggaran disusun dalam suatu Rencana Anggaran Biaya (RAB), yaitu perkiraan  biaya yang dikaitkan dengan rencana jadwal pelaksanaan pekerjaan, volume  pekerjaan, gambar bestek, dan persyaratan spesifikasi teknis bangunan yang merupakan tolak ukur atau patokan dasar kegiatan pengendalian. Pengendalian  biaya merupakan salah satu bagian yang penting dalam memanajemen kegiatan  proyek serta suatu bentuk perencanaan yang tidak dapat dipisahkan dalam

kegiatan proyek tersebut.

Menurut Ibrahim (1993), pengertian dan fungsi Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta sistem pengendalian biaya adalah sebagai berikut :

1) Pengertian Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Rencana Anggaran Biaya (RAB) suatu bangunan atau proyek adalah  perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta  biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek.

2) Fungsi Rencana Anggaran Biaya (RAB)

- Untuk mengontrol dan menilai secara langsung kemajuan proyek dari kontraktor, baik dari volume maupun persentase kemajuan pekerjaan. 3) Sistem Pengendalian Biaya

Sistem pengendalian yang dilakukan konsultan pengawas berdasarkan Kerangka Acuan Kerja, pekerjaan pengawas adalah sebagai berikut :

- Melakukan pengawasan terhadap nilai kuantitas, berupa volume dan  persentase setiap tahapan pekerjaannya.

- Mencatat dan menghitung kualitas pekerjaan tambahan atau kurang,  baik dari segi volume, biaya, serta bobot pekerjaan.

3. Pengendalian Mutu

Definisi pengendalian mutu adalah bagian dari penjaminan mutu yang memberikan petunjuk dan cara-cara untuk mengendalikan mutu material, struktur, dan komponen agar memenuhi keperluan yang telah ditentukan.

1) Penjaminan Mutu

Menurut Barrie, dkk (1990), tentang rekayasa kualitas dan pengendalian kualitas meliputi :

- Penerapan standar dan prosedur untuk menjamin bahwa suatu produk atau fasilitas memenuhi kreteria yang diharapkan.

- Pendokumenan untuk memeriksa hal yang diperoleh. 2) Pengendalian Mutu

Pengendalian mutu menurut Barrie, dkk (1990), proses pengendalian mutu meliputi :

- Penetapan standar khusus untuk prestasi konstruksi, lazimnya melalui rencana dan spesifikasi.

- Pengukuran variasi (penyimpangan) dari standar.

- Pengambilan tindakan untuk memperbaiki atau meminimumkan  penyimpangan yang merugikan.

- Perencanaan untuk menyempurnakan standar agar segala sesuatunya selalu sesuai standar.

3) Area Pengendalian Mutu

dikelompokan menjadi tiga, yaitu : - Pengendalian Mutu Engineering 

Mengadakan verifikasi mengenai kesesuaian prosedur yang telah dilakukan antar disiplin.

- Pengendalian Mutu Pengadaan

Pada tahap pengadaan ini pengawas akan mengikuti, memantau, dan memeriksa pada berbagai tahapan.

- Pengendalian Mutu Konstruksi

Mengingat kualitas, identitas, dan kemungkinan kerusakan selama  pekerjaan.

4. Administrasi Lapangan

Pelaksanaan pekerjaan di lapangan memerlukan suatu administrasi agar  pelaksanaan kegiatan pekerjaan di lapangan dapat diketahui selama pekerjaannya.

Administrasi yang dimaksud seperti laporan berkala dan berita acara pekerj aan. a. Laporan Berkala

Laporan berkala merupakan laporan secara terus-menerus mengenai  pelaksanaan suatu kegiatan pekerjaan dilapangan. Laporan ini bisa berupa laporan

harian, laporan dan rapat mingguan, bulanan, serta tengah tahunan. 1) Laporan Harian

Laporan ini berisi tentang kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan, keluar masuknya bahan, peralatan yang digunakan dan jumlah tenaga kerja, serta keadaan cuaca (cerah/hujan) pada hari yang bersangkutan.

2) Laporan dan Rapat Mingguan

Laporan dari rapat mingguan berisikan tentang kegiatan operasional  jangka pendek di lapangan yang berkaitan dengan pencapaian kemajuan  proyek dalam satu minggu. Laporan ini bersifat lebih spesifik karena pada umumnya laporan ini menjabarkan tentang perencanaan pekerjaan yang akan datang, mengkaji hasil pelaksanaan minggu lalu, dan pencapaian volume, serta presentase nilai sebagian atau keseluruhan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan membandingkannya dengan dokumen kontrak.

3) Laporan dan Rapat Bulanan

Pelaksanaan pekerjaan dilaporkan dan diadakan rapat bulanan yang tujuannya untuk mendapatkan hasil kemajuan pelaksanaan pekerjaan

Dalam dokumen Laporan Kerja Praktek.pdf (Halaman 17-98)

Dokumen terkait