• Tidak ada hasil yang ditemukan

mendatang.

Lampiran, pada bab ini berisi data dukung yang diperlukan dalam penjelasan/pembahasan dari Bab I sampai dengan Bab IV.

Arahan utama Presiden yang kemudian disinkronkan dengan 7 agenda pembangunan RPJMN tahun 2020-2024, sebagaimana tertuang dalam Rancangan Awal RPJMN 2020-2024, antara lain:

1. Memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas

2. Mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan

3. Meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing 4. Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan

5. Memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar

6. Membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana, dan perubahan iklim

7. Memperkuat stabilitas Polhukhankam dan transformasi pelayanan publik

2.1. Visi

Visi didasarkan pada visi Indonesia 2045 yaitu mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, adil dan makmur. Untuk visi pembangunan nasional 2020-2024 menggunakan Visi Presiden yaitu “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong". Visi ini diartikan di mana saat Indonesia telah sungguh-sungguh berdaulat, mandiri, dan berkepribadian yang diwujudkan dengan kerja gotong royong, maka saat itulah Indonesia telah menjadi Indonesia maju sesuai pada cita-cita kemerdekaan yang tertuang pada pembukaan UUD 1945. Sedangkan visi KKP 2020 – 2024 adalah “Terwujudnya masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera dan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan” untuk mewujudkan “Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong royong”

Visi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2020 – 2024 yang sejalan dengan visi presiden, wakil presiden dan KKP adalah “Terwujudnya masyarakat perikanan budidaya yang sejahtera dan sumberdaya perikanan budidaya yang berkelanjutan” untuk mewujudkan

“Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong royong”.

2.2. Misi Presiden

Visi di atas dapat diwujudkan dengan pelaksanaan Misi Presiden dalam Nawacita II, antara lain:

1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia, melalui peningkatan daya saing SDM dan pengembangan inovasi dan riset kelautan dan perikanan;

2. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing, melalui peningkatan kontribusi ekonomi sektor kelautan dan perikanan terhadap perekonomian nasional;

3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan.

4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan, melalui peningkatan kelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan;

5. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.

6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga.

8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya, melalui peningkatan tata kelola pemerintahan di KKP.

Sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon bertanggung jawab untuk membantu dalam penyelenggaraan pembangunan perikanan budidaya laut di lingkup wilayah kerjanya adapun visi dan misi yang ingin diwujudkan oleh BPBL Ambon sejalan dengan visi dan misi Ditjen Perikanan Budidaya yang mengacu pada visi misi presiden dan wakil presiden 2020 – 2024. Penerapan dan pelaksanaan visi misi dilakukan secara bertanggungjawab didasari sikap gotong royong, yang saling mendukung memberi manfaat dan memberikan nilai tambah dari sisi ekonomi bagi kepentingan stakeholder perikanan budidaya.

gamababa

g

2.3. Arahan Utama Presiden

Misi Presiden di atas diimplementasikan melalui 5 Arahan Utama Presiden yang disampaikan pada Pidato Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 20 Oktober 2019, antara lain:

1. Pembangunan Sumber Daya Manusia, Membangun SDM yang pekerja keras, dinamis, terampil, menguasai IPTEK, mengundang talenta global untuk bekerjasama, mengembangkan endowment fund untuk manajemen SDM, serta optimalisasi kerjasama dengan industry

2. Pembangunan Infrastruktur, Melanjutkan pembangunan infrastruktur untuk menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, mempermudah akses ke

kawasan wisata, mendongkrak lapangan kerja baru, dan mempercepat peningkatan nilai tambah perekonomian rakyat

3. Penyederhanaan Regulasi, Kendala regulasi disederhanakan, dipotong dan dipangkas dengan pendekatan omnibus law, terutama menerbitkan 2 Undang-Undang dan UU Cipta Lapangan Kerja dan UU Pemberdayaan UMKM.

4. Penyederhanaan Birokrasi, Memprioritaskan investasi untuk penciptaan lapangan kerja, memangkas prosedur dan birokrasi yang panjang, dan menyederhanakan eselonisasi 5. Transformasi Ekonomi, Melakukan transformasi ekonomi dari ketergantungan sumber

daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

2.4. Kebijakan dan Strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan

Isu strategis dan tantangan pembangunan kelautan dan perikanan dalam lima tahun ke depan, diantaranya adalah (1) Pemberantasan perikanan ilegal, tanpa pelaporan, dan tak diatur (IUU fishing), (2) Keberlanjutan (sustainability) Sumber Daya Perikanan dan Kelautan, (3) Peningkatan kesejahteraan (prosperity) masyarakat, (4) Meningkatan daya saing industri perikanan, (5) Pengembangan SDM dan IPTEK Kelautan dan Perikanan, (6) Pembangunan Sumber Daya Kelautan (KKP 2019).

Ada 2 arahan Presiden untuk pembangunan kelautan dan perikanan, yaitu: memperbaiki hubungan dengan stakeholders dan perikanan budidaya dioptimalkan dan diperkuat lagi (KKP 2019).

Kebijakan pokok pembangunan kelautan dan perikanan diarahkan untuk mewujudkan industrialisasi kelautan dan perikanan yang dapat menyerap lapangan pekerjaan dan meningkatkan devisa negara, yaitu melalui delapan kebijakan-kebijakan sebagai berikut:

1. Peningkatan SDM yang unggul

2. Pemberdayaan dan perlindungan usaha 3. Pengelolaan SDKP yang berkelanjutan 4. Peningkatan pengawasan SDKP 5. Industrialisasi kelautan dan perikanan 6. Peningkatan usaha dan investasi

7. Penguatan kebijakan dan regulasi berbasis data, informasi, pengetahuan yang faktual dan komunikasi dengan stakeholders

8. Reformasi birokrasi (KKP 2019).

Untuk melaksanakan kebijakan diatas maka strategi yang berkaitan dengan perikanan budidaya adalah sebagai berikut :

1. Pemberdayaan dan perlindungan usaha

2. Pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan

 Pengelolaan kawasan perikanan budidaya berkelanjutan

 Optimalisasi produksi perikanan budidaya

 Penyediaan sarana dan prasarana perikanan budidaya 3. Peningkatan usaha dan investasi KP

4. Penguatan kebijakan regulasi berbasis data dan informasi 5. Reformasi Birokrasi

Rumusan rencana strategis ini dimaksudkan untuk dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsi BPBL Ambon. Penetapan tujuan adalah hal yang penting sebagai dasar penentuan arah strategis dan perubahan serta perbaikan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang, yaitu mewujudkan visi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan BPBL Ambon adalah sebagai berikut :

1. Meningkatnya produksi perikanan budidaya secara berkelanjutan, khususnya di wilayah kerja BPBL Ambon, mencakup kegiatan produksi calon induk, benih dan rumput laut kultur jaringan unggul.

2. Tersedianya paket teknologi budidaya laut yang mampu diterapkan oleh masyarakat pembudidaya;

3. Terselenggaranya kegiatan pengendalian hama dan penyakit ikan dalam menunjang pengembangan kawasan budidaya laut yang menerapkan system usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Gambar 5. Peta Strategis BPBL Ambon

2.5. Sasaran Strategis dan IKU BPBL Ambon

Mengacu pada sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya 2015 – 2019 sebagai penjabaran visi dan misi pembangunan kelautan dan perikanan ditetapkan melalui tahapan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dan arah kebijakan yang terbagi menjadi empat perspektif dalam bentuk peta sasaran strategis BPBL Ambon.

Tabel 1. Sasaran strategis dan IKU BPBL Ambon

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA

 Meningkatnya Ekonomi sektor perikanan budidaya laut

 Nilai PNBP Lingkup BPBL Ambon

 Peningkatan produksi perikanan budidaya BPBL Ambon

 Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup BPBL Ambon

 Jumlah bantuan benih ikan laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Ekor)

 Jumlah bantuan bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Kg)

 Jumlah bantuan sarana prasarana kebun bibit rumput laut kultur jaringan lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Paket)

 Jumlah Bantuan sarana prasarana produksi ikan hias laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Paket)

 Jumlah Bantuan sarana prasarana produksi ikan system bioflok lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (Paket)

 Jumlah produksi calon induk ikan yang dihasilkan BPBL Ambon sesuai standar (Ekor)

 Jumlah Paket Teknologi Perekayasaan Bidang Budidaya Laut lingkup BPBL Ambon (Paket)

 Terselenggaranya

pengendalian dan

pengawasan sumberdaya perikanan budidaya yang partisipatif

 Terselenggaranya pelayanan Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan lingkup BPBL Ambon yang sesuai standar (Sampel)

 Tata kelola pemerintahan lingkup BPBL Ambon yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan priman

 Indeks profesionalitas ASN lingkup BPBL Ambon;

 Persentase unit kerja yang menerapkan system manajemen pengetahuan yang terstandar (%)

 Nilai rekon kinerja lingkup BPBL Ambon

 Nilai WBK lingkup BPBL Ambon

 Persentase jumlah rekomendasi hasil pengawasan lingkup BPBL Ambon yang dokumen tindak lanjutnya telah tuntas (%)

 Persentase penyelesaian LHP BPK lingkup BPBL Ambon

 Nilai kinerja anggaran lingkup BPBL Ambon

 Nilai kinerja pelaksanaan anggaran lingkup BPBL Ambon

2.6. Penetapan Kinerja (PK)

Perjanjian Kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu, dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelola. Tujuan khusus perjanjian kinerja adalah untuk:

 Meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja aparatur sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dengan pemberi amanah;

 Sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi;

 Menciptakan tolak ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja. Penetapan Kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon tahun 2020, secara rinci sabagai berikut:

2.7. Pengukuran Kinerja

Dalam rangka mengukur capaian indikator kinerja tahun 2020, BPBL Ambon menerapkan pengelolaan kinerja berbasis Balanced Scorecard (BSC). Pengukuran capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) ditetapkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:

1. Data yang dimasukkan sebagai pencapaian kinerja merupakan data yang telah diverifikasi oleh tim Strategic Management Office (Tim Pengelola Kinerja BPBL Ambon) sebagai data mutakhir yang diambil dari sumber data yang tepat;

2. Status capaian IKU yang ditunjukkan dengan warna merah/kuning/hijau, ditentukan oleh Indeks Capaian IKU.

3. Angka maksimum indeks capaian setiap IKU ditetapkan sebesar 120%.

Gambar 6. NPSS Triwulan III per tanggal 21 Oktober

Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung persentase pencapaian target indikator kinerja terdiri dari 3 jenis, yaitu:

1. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Maximize.

Indeks Capaian = realisasi

target x 100%

IKU yang memiliki polarisasi stabilize, merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja diharapkan berada dalam suatu rentangtarget tertentu.Apabila hasil perhitungan nilai capaian IKU melampaui target, akan menghasilkan

nilai maksimal 110%. Karena IKU stabilize mengharapkan capaian dalam rentang tertentu di sekitar target, maka capaian yang dianggap paling baik adalah capaian yang tepat sesuai dengan target.

3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)

Pengukuran capaian IKU, bab ini menguraikan tentang indikator kinerja kegiatan, penjelasan tentang capaiannya, kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian indikator kinerja kegiatan dan permasalahan yang dihadapi serta upaya penyelesaiannya termasuk langkah antisipasi yang dilakukan pada tahun berjalan.

Tabel 2. Capaian Indikator Kinerja Utama TW III Tahun 2020

No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja (IKU)

934.250.000 750.000.000 442.178.685,- 58.96

2. Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya

1.4950.000 1.215.000 1.385.500 114

4. Jumlah bantuan

8. Jumlah produksi

12. Persentase unit kerja yang

15. Persentase jumlah rekomendasi hasil

3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja

Bagian berikut menguraikan tentang evaluasi terhadap kinerja yang telah dilakukan dan analisis capaian kinerja dari sasaran strategis.

SASARAN STRATEGIS 1 : MENINGKATNYA EKONOMI SEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT

IKU 1 : Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp)

PNBP merupakan lingkup keuangan negara yang dikelola dan dipertanggungjawabkan.

Kelompok penerimaan negara bukan pajak meliputi :

 Penerimaaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah

 Penerimaan dari pemanfaatan sumberdaya alam

 Penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan;

 Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah;

 Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi;

 Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak Pemerintah;

 Penerimaan lainnya yang diatur dalam Undang-undang tersendiri.

Tabel 3. Capaian IKU “Nilai PNBP BPBL Ambon s.d Triwulan III Tahun 2020”.

Nama SS : Meningkatnya Ekonomi Sektor Perikanan Budidaya Laut Nama Indikator : Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp)

S.D Triwulan III 2020

Realisasi s.d TW III 2019

Perbandingan TW III 2020 dengan TW III 2019 (%)

Target 2020

Realisasi Terhadap Target Tahunan

(%) Target Realisasi Capaian

750.000.000 442.178.685 58.96 532.862.827 82.98 934.250.000 47.32

Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) BPBL Ambon Tahun 2020 adalah sebesar Rp 934.250.000. Target PNBP s.d Triwulan III tahun 2020 adalah sebesar Rp 750.000.000 dan terealisasi sebesar Rp. 442.178.685 atau sebesar 58,96% terhadap target tahun 2020. Capaian PNBP tersebut diperoleh dari penjualan hasil perikanan, pendapatan jasa lainnya dengan rincian sebagai berikut :

1. Penjualan Hasil Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Budidaya Rp. 408.223.500,- 2. Pendapatan Penggunaan Sarana dan Prasarana sesuai TUSI Rp. 7.500.000,-

3. Pendapatan Pengujian Sertifikasi, Kalibrasi dan Standarisasi lainnya Rp. 7.255.000,- 4. Sewa Rumah Dinas Rp. 18.374.211,-

5. Pendapatan Non Anggaran, Penerimaan Kembali Belanja Pegawai Tahun Anggaran yang lalu Rp. 925.000,-

Kendala yang sering ditemui dalam proses pencapaian target PNBP adalah menurunnya daya serap pasar terhadap beberapa komoditas budidaya, baik itu benih maupun ikan ukuran konsumsi, kurangnya kesadaran masyarakat pembudidaya di wilayah kerja dalam melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel ikan maupun kualitas air yang terindikasi HPI, dalam segi pendapatan non SDA Umum menurunnya jumlah stakeholder yang memakai fasilitas asrama/sewa juga turut menyebabkan menurunnya nilai PNBP yang dihasilkan. Rekomendasi yang dilakukan antara lain melakukan pengawasan dan koordinasi secara periodik terhadap target capaian yang harus terealisasi khususnya bidang produksi.

SASARAN STRATEGIS 2 : PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA BPBL AMBON

IKU 2 : Jumlah Tenaga Teknis Binaan Lingkup BPBL Ambon

Secara sederhana, stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issu atau suatu rencana. Stakeholder utama merupakan stakeholder yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan program.

Didalam Kepmen KP No. 14 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Penumbuhan dan Pengembangan Kelembagaan Pelaku Utama Perikanan, disebutkan bahwa Kelembagaan pelaku utama perikanan adalah kumpulan para pelaku utama yang terdiri dari nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan yang terikat secara informal atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta di dalam lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang ketua kelompok pelaku utama kelautan dan perikanan.

Secara umum kelembagaan pelaku utama perikanan memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut :

 Kelompok Perikanan

- Memiliki jumlah anggota kelompok 10 – 25 orang;

- Pelaku utama yang berada di dalam lingkungan pengaruh seorang ketua kelompok;

- Memiliki tujuan, minat dan kepentingan yang sama terutama dam bidang usaha perikanan;

- Memiliki kesamaan tradisi/kebiasaan, domisili lokasi usaha, status ekonomi dan Bahasa;

- Bersifat informal;

- Memiliki saling ketergantungan antar individu;

- Mandiri dan Pertisipatif;

- Memiliki aturan atau norma yang disepakati bersama; dan - Memiliki administrasi yang rapih.

Magang bagi siswa siswi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) merupakan program belajar guna memberikan pemahaman dan pengalaman bagi peserta didik untuk mengenal dunia kerja.

Manfaat dari kegiatan magang ini antara lain :

 Siswa mampu beradaftasi dengan dunia kerja;

 Siswa ditempa dengan mental yang kuat;

 Siswa mampu meningkatkan interaksi sosial dalam lingkup pekerjaan;

 Siswa mampu menerapkan kerjasama tim maupun kualitas kerja individu secara lebih baik;

 Siswa mendapatkan keilmuan teknis.

Tabel 4. Capaian IKU “Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon s.d Triwulan III tahun 2020”.

Nama SS : Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya BPBL Ambon

Nama Indikator : Jumlah Tenaga Teknis Binaan lingkup BPBL Ambon (Orang) S.D Triwulan III 2020

Realisasi s.d Target Realisasi Capaian

563 1777 120 1299 120 750 120

IKU 3 : Jumlah Bantuan Benih Ikan Laut lingkup BPBL Ambon yang tepat sasaran (ekor) Target jumlah bantuan benih yang harus disalurkan oleh BPBL Ambon tahun 2020 sebesar 1.495.000 ekor. Capaian Bantuan Benih sampai dengan Triwulan III ini adalah sebesar 1.055.000 ekor atau 70,56 % dari target yang telah ditetapkan. Bantuan Benih yang disalurkan terdiri atas benih ikan konsumsi dan benih ikan hias laut.

Tabel 5. Capaian IKU “ Jumlah Bantuan Benih Ikan Laut lingkup BPBL Ambon s.d Triwulan III tahun 2020”.

Nama SS : Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya BPBL Ambon

Nama Indikator : Jumlah Bantuan Benih Ikan Laut lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Ekor) S.D Triwulan III 2020

Realisasi s.d Target Realisasi Capaian

1.215.000 1.385.500 114 702.800 120 1.495.000 92

Data Penerima Bantuan benih telah diproses penginputan dalam aplikasi Bantuan Pemerintah KKP, Realisasi Bantuan Benih pada s.d Triwulan III 2020 melebihi target yang telah

seperti kakap putih. Berikut adalah rincian Bantuan benih ikan laut s.d triwulan III, tersaji pada tabel 10 berikut :

Tabel 6. Rincian Bantuan Benih Ikan Laut

No. Bantuan Benih Ikan Jumlah Bantuan

(Ekor)

Jenis Bantuan Sebaran Lokasi Bantuan

Tujuan dan sasaran disalurkannya bantuan pemerintah ini adalah untuk mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya.

Beberapa kendala dalam distribusi bantuan benih antara lain masih kurangnya informasi data kelembagaan dan administrasi pokdakan calon penerima dalam proposal pengajuan bantuan yang diterima BPBL Ambon serta jarak lokasi calon penerima bantuan yang cukup jauh sehingga beberapa lokasi pembudidaya, bantuan benih belum dapat didistribusikan.

Serta dalam masa pandemic COVID-19 ini terjadi pembatasan dibeberapa wilayah sehingga menyebabkan terhambatnya distribusi bantuan karena ketiadaan sarana transportasi ke daerah tersebut. Secara teknis kendala utama adalah terkait produksi benih balai, di mulai pada tahapan pengelolaan induk adanya induk yang berperan sebagai carier terhadap penyakit tertentu, seperti penyakit yang disebabkan oleh virus. Salah satu virus yang sering teridentifikasi menginfeksi larva dan juvenile ikan laut adalah VNN atau Viral Nervous Necrosis.

Pada benih ikan konsumsi, serangan penyakit virus VNN (viral nervous necrocis) banyak menyerang ikan laut pada stadia larva dan juvenil. Gejala klinis infeksi penyakit ini pada larva ikan dibawah D20 adalah menurunnya nafsu makan, sedangkan pada larva D20 – D40 menunjukan gejala berenang yang abnormal dan cenderung dipermukaan berupa kehilangan keseimbangan karena virus ini menyerang bagian otak dan mata. Pada ikan 2-4 bulan memiliki kecenderungan ikan berdiam diri didasar bak budidaya. Infeksi VNN dapat menyebabkan kematian hingga 100% dalam kegiatan pemeliharaan. Upaya yang dilakukan adalah pemberian antibiotic, vitamin dan imunostimulan dalam pakan, sesuai dosis yang dianjurkan, dan Ketiga adalah penanganan parameter kualitas media pemeliharaan, hal yang mungkin dilakukan

adalah dengan menjaga suhu media hidup tetap optimal. Suhu merupakan faktor pembatas yang penting bagi kegiatan produksi benih upaya seperti penggunaan heater atau pemanas dalam menjaga suhu selalu terjaga pada 300C. Kemampuan ikan dalam beradaptasi terhadap suhu bervariasi tergantung jenis ikan dan ukurannya, secara umum suhu tidak selalu mematikan akan tetapi mampu mempengaruhi gangguan kesehatan ikan dalam jangka panjang, misalnya stress yang ditandai abnormalitas tubuh dan gerakan, benih ikan memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap fluktuasi perubahan parameter lingkungan. Pada periode Juli – September terjadi fluktuasi suhu yang cukup signifikan, hal ini menyebabkan benih ikan cenderung stress akibat gangguan metabolisme tubuh. Respon terhadap pakan mengalami penurunan sehingga angka mortalitas benih sedikit meningkat.

Selain faktor lingkungan adanya serangan pathogen juga menyebabkan masalah pada produksi benih. Pada benih kakap putih dan bubara juga ditemukan infeksi Cryptocaryon irritans, Benedia, dan Hexostoma. Beberapa jenis protozoa ini mengakibatkan kerusakan kulit dan insang ikan. Ikan yang terinfeksi Cryptocaryon irritans memperlihatkan penurunan nafsu makan sehingga tubuhnya menjadi kurus dan warna tubuh cenderung lebih gelap. Ikan terlihat lemah, lesu, dan berenang secara abnormal sambal menggosokan badan pada wadah pemeliharaan, serta frekuensi pernapasan meningkat.

Pada ikan kerapu ditemukan infeksi vibrio spp. Bakteri ini berbentuk batang dengan ukuran 0,5 x 1,0 mm, bersifat gram negative dan bergerak dengan menggunakan flagel. Bakteri vibrio memiliki kemampuan hidup dan tumbuh hampir di segala media yang memiliki kancungan garam 1 – 1,5%. Inang utama berupa ikan laut. Vibriosis merupakan penyakit potensial yang menginfeksi ikan laut dan dapat mengakibatkan kematian mencapai 50%

terutama pada ikan stadia muda.

Ikan yang terserang vibriosis mengalami anorexia, melanosis, warna insang pucat. Pada infeksi akut tubuh ikan dapat membengkak dan luka serta mengeluarkan nanah. Infeksi kronik menunjukan granuloma dan haemoragic pada rongga perut.

Gambar 7. Ektoparasit hasil pengamatan pada benih ikan

Rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan dalam upaya peningkatan produksi dan penjaminan kualitas benih yang dihasilkan antara lain melalui penerapan biosecurity di lingkungan hatchery secara optimal, melakukan manajemen pemberian pakan induk dan benih yang tepat, pakan yang diberikan harus memiliki standar kualitas yang baik, terutama dalam kandungan nutrisi pakan yang terkandung didalamnya. Pakan induk dan benih tepat secara ukuran, jumlah, frekuensi pemberian sehingga berdampak pada peningkatan survival rate induk dan benih, dan secara umum optimalkan implementasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) di instalasi produksi budidaya. Dalam manajemen kesehatan ikan, khususnya penanganan infeksi Cryptocaryon irritans dapat dilakukan dengan menjaga suhu lingkungan budidaya selalu diatas 290C, perendaman denga peroksida dengan dosis 150 ppm selama 30 menit juga dapat dilakukan, apabila infeksi sudah terlalu parah maka eradikasi (Pemusnahan Ikan sakit) bisa menjadi alternative cara guna menekan penyebaran penyakit dan memutus siklus hidup pathogen. Penanggulangan serangan vibriosis dlebih ditujukan pada upaya pencegahan. Upaya yang telah dilakukan dalam meminimalisir vibriosis pada ikan antara lain menyediakan bak pengendapan dan melakukan perbaikan sistem filtrasi media pemeliharaan.

Media pemeliharaan disaring dan diendapkan selama 3 hari dengan tujuan mengurangi prevalensi dan intensitas bakteri pathogen yang mampu menginfeksi ikan, dengan rentang waktu tersebut dinilai cukup efektif dalam memutus siklus hidup bakteri pathogen.

Gambar 8. Kegiatan penyaluran bantuan benih ikan

IKU 4 : Jumlah Bantuan Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan lingkup BPBL Ambon yang Tepat Sasaran (Kg)

Program bantuan bibit rumput laut kultur jaringan menjadi salah satu program prioritas Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon yang langsung bersentuhan dengan masyarakat khususnya pembudidaya rumput laut. Program ini adalah salah satu IKU Ditjen Perikanan Budidaya yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan budidaya khususnya produksi rumput laut. Target atas IKU ini adalah 40.000 Kg. Progress kegiatan penyaluran

Program bantuan bibit rumput laut kultur jaringan menjadi salah satu program prioritas Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon yang langsung bersentuhan dengan masyarakat khususnya pembudidaya rumput laut. Program ini adalah salah satu IKU Ditjen Perikanan Budidaya yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan budidaya khususnya produksi rumput laut. Target atas IKU ini adalah 40.000 Kg. Progress kegiatan penyaluran

Dokumen terkait