C. Matinya Cemara Laut Di Pantai
VII. PENUTUP
Dampak adanya cemara laut di pantai berpasir Petanahan antara lain iklim semakin sejuk yaitu suhu udara dari 23 oC sampai 28 oC, dan kelembaban semakin meningkat yaitu tertinggi sampai 76%, sehingga lingkungan wisata akan semakin nyaman dan sejuk. Dengan meningkatnya kenyamanan wisata berdampak pada peningkatan pengunjung dan pendapatan wisata sampai meningkat 56,37% dari tahun 2010 sampai 2013. Disamping itu yang dulu kunjungan wisata terkonsentrasi 75% pada hari besar saja yaitu Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru, maka sekarang sudah mulai relatif tersebar merata pada bulan-bulan lainnya.
Dengan adanya tanggul angin cemara laut dengan melibatkan masyarakat dan anggota Kelompok Tani Pasir Makmur maka cemara laut dapat terjaga dengan baik. Masyarakat sekitar pesisir pantai ikut menjaga dan mengawasi, serta mengamankan karena merasa memiliki Cemara laut. Manfaat yang dapat dipetik dengan adanya cemara laut maka lahan dibelakang dapat dibudidayakan untuk tanaman semusim atau tanaman hortikultura dan hasilnya jauh lebih baik dari tanah mineral biasa karena sedikit hama dan aerasi yang lebih baik. Dengan adanya cemara laut maka iklim mikro semakin baik yaitu angin berkurang, uap garam-garaman terhalang, suhu rendah, tempat rindang sehingga nyaman untuk berteduh bagi para pengunjung wisata. Peningkatan kenyaman dan keindahan lingkungan berdampak pada peningkatan pengunjung wisata.
Peningkatan pengunjung wisata dan ditambah dengan produktivitas lahan yang membaik tentunya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani Desa Karanggadung.
Dengan semakin rapatnya wind break dari cemara laut berdampak pada tanaman di belakangnya tidak terganggu oleh adanya
lahan berubah menjadi lebih subur karena kelembaban meningkat dan suhu menurun serta pengaruh humus dan pupuk kandang. Hasil yang diperoleh dari petani hortikultura jauh lebih menguntungkan pada lahan berpasir dibandingkan tanah mineral biasa, karena pengaruh porositas tanaman yang tinggi akan meningkatkan aerasi dan pengolahan tanah yang mudah karena tesktur tanah yang ringan (sand).
Kegiatan Pemeliharaan Plot-plot penelitian sangat penting sebagai show windows dan sekaligus sebagai laboratorium lapangan, hal tersebut karena penelitian yang berkaitan dengan tanaman keras dibutuhkan waktu yang lama (>20 tahun). Disamping dapat dipakai sebagai ruang pamer untuk menunjukkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan Balitbanghut dan dilaksanakan oleh BPTKPDAS Solo kepada instansi lain.
Plot penelitian tersebut dapat dipakai sebagai laboratorium pada para Pelajar atau Mahasiswa dan sebagai tempat studi banding bagi para petani yang ada di daerah pesisir dan yang sbelumnya kurang yakin bahwa lahan marjinal seperti pantai berpasir dapat dibudidayakan untuk tanaman hortikultura dan hasilnya bisa lebih baik dibandingkan tanah mineral biasa.
Sebaiknya untuk plot-plot penelitian dapat diperluas pada daerah lain yang tersebar terutama pada lahan-lahan yang sebelumnya bermasalah, misalnya tanah masam gambut (Histosols), tanah tandus dan berbatu (Entisols), tanah bekas letusan gunung berapi (Andisols), tanah bekas tambang (kapur, feldspar, emas, batu bara), dll.
Pada pantai berlumpur biasa dikembangkan tanaman Mangrove maka untuk pantai berpasir disarankan untuk dikembangkan tanaman Cemara laut. Untuk sosialisasi teknik penanaman cemara laut di pantai berpasir maka perlu dibuat Buku Pedoman Teknis Penanaman Cemara Laut di Pantai Berpasir yang berjudul ―PENGELOLAAN LAHAN BERMASALAH PANTAI BERPASIR DENGAN CEMARA‖.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, E. & S. Purwanti. 2002. Keragaan Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Bawang Merah di Lahan Pasir Pantai. Agrivet.
6(2):107-118.
Atmojo, S. W. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolaannya. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.
Balai Penelitian Tanah (BPT).2005. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Edisi 1. BalaiPenelitian Tanah, BadanLitbangPertanian, DepartemenPertanian.
Dahlan, E. N. 1992. Hutan Kota untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan. APHI. Jakarta.
Gong, W., X.Yan, J.Wang, T.Hu dan Y. Gong. 2009. Long-term manure and fertilizer effects on soil organic matter fractions and microbes under a wheat–maize cropping system in northern china.
Geoderma 149: 318 -324.
Harjadi B, Cahyono S.A., Octavia D., Gunawan, Priyanto A., dan Siswo, 2007. Laporan Hasil Proyek (LHP) ‖Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir‖. DepHut, Balitbanghut, BPK Solo.
Harjadi, B., dan Octavia, D., 2008. Penerapan teknik konservasi tanah di pantai berpasir untuk agrowisata, Info Hutan Vol. V, No. 2, Tahun 2208. Dephut., Balitbanghut, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam (P3HKA). Bogor.
Harsono, 1995. Hand Out Erosi dan Sedimentasi. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya.
Palembang.
Nugroho, A.W dan Sumardi. 2010. Ameliorasi Tapak untuk Pemapanan Cemara Udang (Casuarina Equisetifolia Linn.) pada Gumuk Pasir Pantai. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol. VII No.4: 381-397, 2010
Nurahmah, Y, Mile, M.Yamin, Suhaendah, E. 2007. Tekhnis Perbanyakan Tanaman Laut (Casuarina equisetifolia) pada Media Pasir. Info Tekhnis Vol 5 no. 1. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
Sudihardjo, AM. 2000. Teknologi Perbaikan Sifat Tanah Subordo Psaments dalam Upaya Rekayasa Budidaya Tanaman Sayuran di Lahan Beting Pasir. Prosiding Seminar Teknologi Pertanian untuk Mendukung Agribisnis dalam Pengembangan Ekonomi Wilayah dan Ketahanan Pangan. Yogyakarta.
Suhardjo M, Supriyadi & Sudihardjo. 2000. Efektifitas Pupuk Alternatif Organik, Pupuk Mikroba Cair dan Pembenah Tanah Terhadap Tanaman Bawang Merah di Wilayah Pesisir Pantai Selatan DIY.
Prosiding Seminar Teknologi Pertanian untuk Mendukung
Agribisnis dalam Pengembangan Ekonomi Wilayah dan Ketahanan Pangan. Yogyakarta.
Sukresno, 1998. Laporan ―Kajian Konservasi Tanah dan Air pada Kawasan Pantai Berpasir dan Berlumpur di Jawa Tengah dan DIY. Dephut, Balitbanghut, BTPDAS. Solo.
Sukresno, Mashudi, A.B. Supangat, Sunaryo & D. Subaktini. 2000.
Pengembangan Potensi Lahan Pantai Berpasir dengan Budidaya Tanaman Semusim di Pantai Selatan Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional. Pengelolaan Ekosistem Pantai dan Pulau-Pulau Kecil dalam Konteks Negara Kepulauan. Fak. Geografi UGM.
Yogyakarta.
Sulastri, F. 2012. Pengaruh Proporsi Penambahan Kompos Biopa dan Mulsa Jerami terhadap Serapan Hara Na, Mg serta Kandungan Klorofil Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) yang Ditanam di Kawasan Pantai Pandansari Bantul. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Utami, N.H. 2009. Kajian Sifat Fisik, Sifat Kimia dan Sifat Biologi Tanah Paska Tambang Galian C pada Tiga Penutupan Lahan.
Departemen Silvikultur. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Skripsi.Tidak Diterbitkan.