Oleh Beny Harjadi,
Agung Wahyu Nugroho Susi Abdiyani
Arina Miardini Dona Octavia PEDOMAN TEKNIS
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI KEHUTANAN
PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI 2014
P PE P E E N N N G GE G E E L L L O O O L LA L A AA A AN N N L L LA A AH H H A AN A N N B B BE E E R RM R M MA A AS S SA A AL L LA A AH H H
P PA P A AN N N T T T A AI A I I B B BE E E R RP R P P A AS A S SI I IR R R D D DE E EN N N G G G A AN A N N C C CE E E M MA M A AR R RA A A
KATA PENGANTAR
Buku ―PENGELOLAAN LAHAN BERMASALAH PANTAI BERPASIR DENGAN CEMARA LAUT‖ merupakan salah satu bentuk sarana BPTKPDAS untuk memperkenalkan hasil penelitian kepada masyarakat luas, khususnya di daerah pantai berpasir dengan permasalahan lahan marjinal.
Kegiatan penelitian yang berkaitan dengan permasalahan lahan pantai berpasir di Kebumen berangkat dari presentasi hasil penelitian dari kantor BPTKPDAS kepada Dinas-Dinas yang ada di Kebumen. Selanjutnya pada saat itu Ibu Bupati (Ir. Rustriningsih) meminta untuk ada penelitian yang ada di pantai selatan Kebumen, mengingat kondisi pantai yang gersang dan panas sehingga pengunjung wisata sangat rendah. Begitu juga permasalahan lahan pantai dan pesisir selatan yang luas dan memanjang tidak dapat diusahakan untuk tanaman hortikultura karena gangguan uap air garam dan angin kencang dari laut.
Tahun 2005 kegiatan penelitian BPTKPDAS dengan tanggul angin Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) di mulai dengan melibatkan masyarakat desa Karanggadung khususnya Kelompok Tani Pasir Makmur.
Kegiatan diawali dengan meyakinkan ke masyarakat bahwa pantai berpasir dapat untuk budidaya tanaman semusim (hortikultura) asal sudah ada tanaman tanggul di depannya atau dekat pantai. Awalnya masyarakat kurang percaya sehingga perlu diajak studi banding ke pantai Samas Jogyakarta yang sudah ada tanaman Cemara lautnya. Sepulang dari studi banding masyarakat yakin bahwa pantai yang nampaknya gersang, jika dikelola dengan baik akan menghasilkan yang jauh lebih produktif dibandingkan dengan tanah mineral biasa. Selanjutnya kegiatan tersebut berlanjut sampai sekarang ini dan menjadi show window BPTKPDAS.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
I.PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Maksud dan Tujuan ... 5
C. Sasaran ... 5
D. Batasan Istilah ... 5
II.PERENCANAAN ... 8
A. Pengorganisasian ... 8
B. Pemetaan Lokasi ... 9
C. Kebutuhan ... 13
D. Penentuan ... 18
III.PELAKSANAAN ... 20
A. Persiapan... 20
B. Pembuatan Jalur Tanggul Angin ... 27
C. Penanaman ... 28
D. Pemeliharaan ... 40
E. Pemanenan Hasil ... 43
IV. MONITORING ... 46
A. Pengamatan Tanah ... 46
B. Pengamatan Iklim ... 48
C. Pengamatan Tanaman ... 56
D. Pengamatan Erosi ... 57
V.EVALUASI ... 66
A. Tingkat Prosentase Tumbuh ... 66
B. Tingkat Prosentase Hasil... C. Tingkat Perawatan dan Pengelolaan ... 68
D. Tingkat Partisipasi Kelompok Tani ... 69
E. Tingkat Dampak Pengelolaan Lahan Pantai ... 71
F. Analisa Input dan Analisa Output ... G. Tingkat Kemanfaatan Tanggul Angin ... 75
H. Tingkat Adopsi Masyarakat ... 76
VI. MANFAAT PLOT PENELITIAN ... 82
A. Pemeliharaan Plot Penelitian ... 82
B. Perbedaan Sebelum dan Sesudah Penanaman Cemara Laut ... 84
C. Matinya Cemara Laut Di Pantai ... 86
VII. PENUTUP ... 91
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kondisi sebelum dan sesudah ada cemara laut di pantai ...84
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Diagram alur Penanganan permasalahan Lahan Pantai
Berpasir dengan Cemara Laut ... 4 Gambar 2. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Desa Karanggadung,
Kecamatan Petanahan, Kebumen, Sejak Tahun 2005 ... 9 Gambar 3. Layout Pengembangan Demplot Tanaman Semusim dan
Tanaman Tanggul Angin Cemara Laut ... 18 Gambar 4. Persiapan Pembibitan Tanaman Tahunan dan Buah-buahan ... 21 Gambar 5. Kondisi Awal Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), saat
ditanam di Lapangan ... 21 Gambar 6. Perkembangan kematangan biji pada cangkang dari berwarna
hijau (mentah), kuning (matang) dan coklat (biji lepas) ... 29 Gambar 7. Contoh persemaian cemara laut dari biji di Pemalang ... 30 Gambar 8. Cemara laut dari cangkok, dari biji dan setelah di prunning
(dipangkas cabang-cabang bawah agar cepat meninggi). ... 31 Gambar 9. Papan batas dan tanda peringatan untuk pengamanan lokasi
penelitian jangan sampai diganngu pengunjung wisata ... 32 Gambar 10. Pengamatan Pertumbuhan tanaman cemara laut Tahun 2011
dari penanaman Tanaman tahun 2006 sampai tahun 2009 ... 33 Gambar 11. Beberapa tanaman yang ada di pantai berpasir, dimanfaatkan
mikorizanya untuk perangsang pertumbuhan tanaman baru ... 34 Gambar 12. Demplot Uji Coba dari Kantor BPTKPDAS Solo, antara Lain :
Jagung, Cabe, dan Bawang Merah (Hortikultura) ... 35 Gambar 13. Beberapa Tanaman Hortikultura, dibelakang Cemara Laut :
Gula Kelapa, Semangka, Terong Ungu, dan Pepaya Kalifornia.36 Gambar 14. Beberapa Tanaman Bawah yang ada di Pantai Berpasir ... 39 Gambar 15. Beberapa Macam Insektisida untuk Penyemprotan HPT (Hama
Penyakit Tanaman) ... 42 Gambar 16. Ternak Sapi dan Kambing Etawa untuk Peningkatan
Penyediaan Pupuk Kandang dan Menjaga Kesuburan Lahan ... 44 Gambar 17. Dampak Cemara Laut Meramaikan Kondisi Wisata : Warung di
Tepi Pantai, Rumah Dekat Pantai (pesisir) dan Jalan Pantai .... 45 Gambar 18. Kondisi Biofisik dan Kimia Pantai Berpasir pada Lahan Cemara
Laut, Pasir Pantai dan Lahan Semusim di Pantai Petanahan. ... 47 Gambar 19. Pengambilan Sampel Tanah pada Lahan Cemara Laut, Pasir
Gambar 20. Kondisi tanaman kekeringan akibat musim kemarau yang
panjang, tanaman kering dan layu jika tidak diguyur hujan .... 48 Gambar 21. Mengantisipasi perubahan iklim ekstrim di pantai maka
diperlukan pemantauan perubahan iklim dan erosi angin. ... 49 Gambar 22. Kelembaban Ruang dan Udara Harian Pagi dan Siang di Desa
Karanggadung, Kec.Petanahan, Kab.Kebumen ... 50 Gambar 23. Suhu Udara dan Ruang pada Pagi dan Siang hari di
Karanggadung, Petanahan, Kebumen Tahun 2013 ... 51 Gambar 24. Suhu Tanah Top Soil (30cm), Solum (90cm), dan Regolit
(150cm) Pagi dan Siang hari di Karanggadung, Kebumen. ... 52 Gambar 25. Data Hujan : Maximum Hujan, Rerata, Hari Hujan, Jumlah
dan Minimum ... 53 Gambar 26. Curah Hujan Bulanan di Pantai Petanahan, Desa
Karanggadung, Kab.Kebumen Tahun 2009 – 2013 ... 54 Gambar 27. Total Hujan Tahunan dan Hari Hujan di Pantai Petanahan ,
Desa Karanggadung, Kab.Kebumen Tahun 2009 – 2013 ... 55 Gambar 28. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Jauh dari
Pantai (sebelah utara) serta Dekat Pantai (sebelah selatan) ... 56 Gambar 29. Alat Penangkap Erosi Angin (Sandtrap) dan Bius Beton untuk
Instalasi Air Sumur Renteng ... 57 Gambar 30. Erosi Angin pada Lahan Pantai Berpasir Bulan Mei 2006 ... 58 Gambar 31. Erosi Angin pada Lahan Pantai Berpasir Bulan Agustus 2006 .. 58 Gambar 32. Erosi Angin pada Lahan Pantai Berpasir, 22 Desember 2006 . 59 Gambar 33. Lay out Tata Letak Stik Erosi untuk Memantau Erosi Angin di
Pantai Petanahan, Kebumen, Tahun 2013 ... 60 Gambar 34. Erosi Angin di Dekat Pantai (D), Gisik Pasir (G), Jauh dari
Pantai (J) dan Pantai (P) di Petanahan, Juni-Agustus 2013 ... 61 Gambar 35. Erosi Angin di Dekat Pantai (D), Gisik Pasir (G), Jauh dari
Pantai (J) dan Pantai (P) di Petanahan, September- Desember 2013 ... 62 Gambar 36. Kecepatan Angin Siang dan Malam Tahun 2007 di Kebumen . 63 Gambar 37. Kecepatan Angin Pagi dan Siang Hari di Karanggadung,
Petanahan, Kebumen Tahun 2013. ... 64 Gambar 38. Arah Angin Pagi dan Siang Hari dari Timur Laut (TL) sampai
Barat Daya (BD) di Karanggadung, Kebumen. ... 65 Gambar 39. Kronologis Perubahan Kondisi Lahan Pantai Petanahan
dengan Cemara Laut dari Tahun 2005 sampai 2013. ... 67
Gambar 40. Pertumbuhan Tanaman Cemara Laut dan Persen Tumbuh
Tahun 2013 ... 68 Gambar 41. Kondisi Tanaman yang Mengalami Kekeringan Akibat Musim
Kemarau panjang dan Mati Akibat Busuk Akar ... 69 Gambar 42. Pengunjung Wisata Meningkat karena Tingkat Kenyamanan
Wisata Semakin Sejuk dan Indah ... 72 Gambar 43. Pendapatan Wisata Bulanan di Pantai Petanahan, Desa
Karanggadung, Kab. Kebumen Tahun 2010 - 2013 ... 73 Gambar 44. Kunjungan Wisata Pantai Petanahan, Desa Karanggadung
2011-2013... 74 Gambar 45. Puncak kunjungan wisata saat Lebaran di bulan September
2011 dengan pendapatan mencapai Rp 23.594.000,- ... 75 Gambar 46. Sosialisasi Penyelamatan Pantai dengan Menanam Cemara
Laut Pada Masyarakat dan Anak-anak Sekolah ... 77 Gambar 47. Pendekatan dengan Cara Pendampingan Kelompok Tani dan
Anak-anak Sekolah di Ruang Kelas Maupun di Ruang Terbuka 78 Gambar 48. Kondisi Gersang Pantai Petanahan dan Rindang Setelah
Penghijauan dengan Cemara Laut ... 79 Gambar 49. Peresmian Cemara Laut Wanagama III oleh Menteri
Kehutanan di Pantai Petanahan, Kebumen. ... 79 Gambar 50. Sosilaisasi penyelamatan dini pantai dengan cemara laut perlu
disampaikan pada semua dari warga biasa, aparat, anak-anak sekolah untuk membangkitkan partisipasinya ... 80 Gambar 51. Pendekatan secara perorangan atau berkolompok harus
sering dilakukan baik secara formal (aparat kabupaten sampai desa) maupun informal dengan para tokoh atau warga biasa . 81 Gambar 52. Akar cemara laut yang busuk akibat diserang jamur dari
bahan pupuk kandang yang belum matang ... 89 Gambar 53. Penyerangan akar oleh jamur atau penyakit busuk akar akan
menyebabkan perakaran putus dan tanaman mati permanen. 89 Gambar 54. Bibit cemara laut muda yang mati pada saat penanaman bisa
diakibatkan oleh iklim, tanah, pupuk, penanganan bibit dll .... 90
DAFTAR LAMPIRAN
I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lahan bermasalah merupakan lahan yang tidak layak atau tidak sesuai dipergunakan untuk pertumbuhan tanaman, sehingga agar lahan bermasalah dapat dimanfaatkan perlu dilakukan usaha perbaikan. Macam- macam permasalahan lahan dapat terjadi karena : 1. Proses alami 2. Proses buatan 3. Kombinasi keduanya. Proses permasalahan lahan alami meliputi : lahan marjinal (pasir kuarsa/podsol, pantai berpasir, lahan bergaram, dll), lahan basah (gambut, payau/estuarin, rawa, dll) dan tanah bencana (berapi, tsunami, gempa bumi, angin kencang, dll). Proses permasalahan lahan buatan meliputi lahan kritis, lahan asam/sulfat masam, dan lahan bekas tambang. Proses permasalahan lahan akibat kombinasi antara faktor alam dengan buatan manusia meliputi : lahan banjir, kekeringan, dan longsor.
Salah satu permasalahan lahan di Indonesia adalah lahan pantai berpasir mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah pantai yang luas dan panjang. Bentuk lahan (landform) wilayah pantai secara umum dikelompokkan atas wilayah pantai berlumpur (muddy shores), pantai berpasir (sandy shores), dan pantai berbatu karang atau andesit (Bloom, 1979). Wilayah ini bersifat dinamis dimana terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik (beach) yang merupakan hasil erosi angin kearah daratan, sehingga pasokan pasir terjadi terus-menerus.
Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya (Sukresno, 1998).
Pengertian tanah berpasir merupakan tanah yang mengandung banyak pasir tetapi masih ada debu dan liat sehingga tidak mudah terpisah (Hardjowigeno, 1992 ). Lingkungan pantai (Dahlan, 1992) memiliki karakter
tinggi dalam tanah, c). Porositas tinggi, dan d). Pergerakan pasir yang bebas. Sifat Fisik tanah pantai berpasir butirannya kasar mengandung kerikil, konsistensi lepas sampai gembur, dan warnanya bervariasi dari merah kuning, coklat kemerahan, dan coklat kekuningan. Sifat Kimia tanah pantai berpasir kaya akan unsur-unsur hara seperti Posfor (P) dan Kalium (K) kecuali Nitrogen (N) yang belum terlapuk sehingga perlu tambahan pupuk organik, pupuk kandang dan pupuk hijau (Suhardjo, Supriyadi, dan Sudihardjo, 2000). Dengan kandungan garam-garaman yang tinggi menyebabkan tanah pantai berpasir memiliki pH tanah berkisar antara 6 sampai 7. Sifat Biologi tanah pantai berpasir memiliki sedikit mikroorganisme yang dapat memfiksasi nitogen dari udara. Terdapat banyak bakteri bacillus yang dapat melarutkan senyawa fosfat dan kalium di dalam tanah. Tanah pantai berpasir memiliki beberapa jenis tanah antara lain : tanah Alluvial, Regosol atau Entisols.
Permasalahan yang terdapat pada lahan pantai berpasir meliputi (Gambar 1) : a) miskin unsur hara, b). sukar menahan air, c). mudah terjadi erosi, d). agregat tanah lemah. Cara mengatasi permasalahan tanah berpasir tersebut antara lain dengan : 1). pemberian mulsa, 2).
menambahkan tanah liat (amelioran/ameliorat), 3). menambahkan bahan organik (pupuk kandang), 4). menanam tanaman penutup tanah, 5.
menggunakan Bio-P 2000z. Kondisi lahan yang kritis tersebut disebabkan tidak hanya oleh faktor biofisik semata yang secara alami telah kritis dan bila tidak segera ditangani berdampak negatif pada lahan yang akan terjadi semakin meluas (Harsono, 1995). Hendaknya pemanfaatan lahan pantai berpasir dilakukan secara baik dan benar dan dapat berfungsi ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomi tinggi.
Berkaitan dengan permasalahan yang ada di wilayah pantai berpasir, dibutuhkan suatu model pengelolaan untuk rehabilitasi dan
konservasi yang bisa meningkatkan produktivitas lahan yang berimplikasi pada tereduksinya marjinalitas lahan dan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar area tersebut dengan penanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia sp.) sebagai tanggul angin (Nurahmah dkk, 2007).
Gambar 1. Diagram alur Penanganan permasalahan Lahan Pantai Berpasir dengan Cemara Laut
B. Maksud dan Tujuan
Petunjuk teknis ini bertujuan memberikan informasi kepada khalayak umum bagaimana memberdayakan lahan bermasalah pantai berpasir yang marjinal melalui penanaman tanaman tanggul angin cemara laut (cemara udang/Casuarina equisetifolia sp.) dan tanaman budidaya (hortikultura) sehingga dapat dimanfaatkan menjadi lahan produktif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar pesisir selatan (Sukresno dkk, 2000).
C. Sasaran
Pelaksanaan teknik konservasi lahan pantai berpasir dengan pengembangan model tanaman tanggul angin Casuarina equisetifolia sp.
(pembiakan dan pola tanam) sebagai pengendali erosi angin, model pengelolaan tanaman budidaya (bawang merah, cabe, semangka dan terong) yang ditanam di belakang tanaman tanggul angin, sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan marjinal.
D. Batasan Istilah
Beberapa pengertian dan peristilah umum yang digunakan dan berhubungan dengan masalah pengelolaan wilayah pantai, antara lain:
1. Lahan bermasalah adalah lahan yang diakibatkan oleh rendahnya sifat fisik, kimia dan biologi sehingga tidak layak untuk pertumbuhan tanaman karena faktor bawaan/alami atau faktor buatan (eksploitasi lahan, perusakan lahan, pengelolaan lahan yang salah dll).
2. Pantai (shore), adalah hamparan lahan yang membentang di tepi laut, atau tepi perairan yang luas.
3. Wilayah Pantai atau Pesisir (coast), adalah daratan di tepi laut, yang meliputi pantai dan daratan didekatnya (pesisir) yang masih terpengaruh oleh aktivitas marin (lautan).
4. Daerah Pantai, adalah daratan yang terletak dibagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut, dengan
kelerengan kurang dari 8% (topografi datar).
5. Gisik (beach), yaitu daerah berbatasan antara permukaan air laut pasang dan surut, yang umumnya tertutup oleh hamparan pasir dan kerikil di permukaannya.
6. Beting Gisik, adalah gundukan alami memanjang searah garis pantai yang merupakan bekas gisik dan sudah tidak aktif lagi karena pantai mengalami akresi (daratan bertambah luas).
7. Laguna, adalah cekungan memanjang searah/sejajar garis pantai, diantara beting gisik, biasanya tergenang air.
8. Gumuk Pasir (sand dune), adalah bukit-bukit pasir yang terbentuk dari akumulasi pasir yang tererosi dan terbawa oleh angin.
9. Rekresi (abrasi), adalah daratan yang terkikis atau susut karena pengikisan gelombang atau arus laut.
10. Intrusi, adalah masuknya air laut ke arah daratan baik yang melalui permukaan tanah maupun lewat bawah tanah.
11. Salinitas Air, adalah kadar garam atau tingkat keasinan air.
12. Interface, adalah bidang pembatas antara air bawah tanah yang tawar (dari daratan) dan asin (dari lautan).
13. Erosi, adalah suatu proses dimana tanah atau partikel tanah atau batuan terlepas dan dihancurkan, kemudian diangkut, tercuci oleh suatu gaya (media pengangkut) berupa air, angin, atau gaya berat partikel tanah atau batuan itu sendiri.
14. Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT), adalah suatu usaha manusia untuk memperbaiki, meningkatkan, dan
mempertahankan kondisi lahan agar dapat berfungsi secara optimal, baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air maupun
sebagai unsur perlindungan alam lingkungan.
15. Sabuk Hijau Perlindungan Pantai, adalah suatu daratan yang terletak di sepanjang garis pantai dan berbatasan langsung dengan laut karena keadaan fisiknya berfungsi sebagai perlindungan bagi kelestarian sumber daya alam daerah pantai, dengan lebar tertentu dan ditanami dengan vegetasi tertentu. Tanaman sabuk hijau berfungsi sebagai pengendali abrasi, penahan uap garam-garaman, mencegah angin kencang dari lautan, dan pengendali iklim mikro.
II.PERENCANAAN
A. Pengorganisasian
Pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) Pantai berpasir melalui pengembangan teknologi rehabilitasi lahan berpasir dan peningkatan tingkat pendapatan masyarakat serta kenyamanan berwisata, melibatkan multi stakeholder. Pihak yang terlibat meliputi instansi pemerintahan dan masyarakat sekitar sehingga perlu dilakukan konsultasi dan koordinasi ke instansi terkait dan sosialisasi rencana kegitan pada masyarakat (Harjadi dkk, 2007).
Konsultasi dan koordinasi dari tingkat Kabupaten (Dinas Kehutanan dan Dinas Wisata), Kecamatan (Polsek dan Kantor Camat), Kelurahan sampai Kelompok Tani (Kontak Tani, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama). Disamping itu juga ditetapkan salah satu rumah penduduk sebagai Sekretariat Kelompok Tani (KT) sebagai kantor anggota kelompok, tempat diskusi, dan menyimpan peralatan serta output tulisan hasil penelitian. Sehingga Sekretariat KT juga sebagai pusat sosialisasi hasil penelitian dan pusat informasi agenda acara KT.
Pertemuan KT ditetapkan rutin setiap bulan dan bergilir dari rumah ke rumah anggota KT, kadang juga dilakukan di Balai Desa atau di Sekolah (SD Negeri I Karanggadung), dan di lokasi (Pondok Kerja).
Kegiatan penanaman cemara laut juga melibatkan Bapak-Bapak dan Ibu- Ibu anggota KT serta anak-anak sekolah.
B. Pemetaan Lokasi
Pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan dimulai dengan melakukan pemetaan lokasi untuk penanaman tanaman tanggul angin dan tanaman budidaya (Gambar 1) dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). Lokasi pengelolaan lahan bermasalah di pantai berpasir (pantai selatan) di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, dan Kabupaten Kebumen (Harjadi dan Octavia, 2008).
Gambar 2. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kebumen, Sejak Tahun 2005
a. Permasalahan Lahan Pantai Berpasir
Tanah berpasir merupakan tanah muda (baru) yang dalam klasifikasi FAO termasuk dalam ordo Regosol sedangkan menurut klasifikasi USDA, tanah di daerah pantai termasuk ordo Entisol atau lebih dikenal dengan nama Entisol pantai.
1. Sifat Fisik Tanah i. Tekstur dan Struktur
Tekstur tanah pasir adalah kasar, karena tanah pasir mengandung
besar dan luas permukaan yang lebih kecil dibandingkan fraksi debu dan liat. Oleh karena itu, tidak banyak berfungsi dalam mengatur kimia tanah tetapi lebih sebagai penyokong tanah di mana sekitarnya terdapat partikel debu dan liat yang aktif. Tanah berpasir memiliki struktur butir tunggal, berupa butir-butir primer yang besar tanpa adanya bahan pengikat agregat, berukuran 0,002 mm - 2,0 mm.
ii. Porositas dan Temperatur
Tanah berpasir banyak mempunyai pori-pori makro sehingga sulit menahan air. Porositas tanah pasir bisa mencapai lebih dari 50 %, maka bersifat mudah merembeskan air dan gerakan udara di dalam tanah menjadi lebih lancar (aerasi). Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Oleh sebab itu, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan organik yang lebih intensif .
Tanah berpasir memiliki temperatur yang tinggi yang disebabkan karena kemampuan tanah menyerap panas yang tinggi. Tanah pasir memiliki kemampuan yang rendah dalam menahan lengas karena sifat tanah yang porous berakibat sempitnya kisaran kandungan air tersedia serta tingginya kecepatan infiltrasi 2,5-25 cm/jam (dibandingkan 0,001 - 0,1 cm/jam pada tanah liat/clay). Tanah pasir menyimpan air sangat rendah yaitu 1,6-3% dari total air yang tersedia.
2. Sifat Kimia Tanah
i.
Kapasitas Tukar Kation (KTK)Tanah pasir memiliki KTK rendah dibandingkan dengan tanah liat atau debu. Hal ini disebabkan tanah pasir memiliki kandungan liat dan humus yang sangat sedikit. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Tanah berpasir berkisar antara 2-4 m/g. Kemampuan KTK yang rendah dapat ditingkatkan dengan pemupukan organik.
ii. pH Tanah (Kemasaman Tanah)
Tanah berpasir di daerah pantai cenderung bersifat basa karena kandungan garamnya yang tinggi dan sedikitnya partikel liat serta kurangnya bahan organik. Kelebihan garam dalam tanah dapat menurunkan potensial air larutan tanah dan menyebabkan tumbuhan kekurangan air meskipun hidup pada lingkungan yang banyak air. Ini disebabkan karena potensial air di lingkungan lebih rendah daripada potensial air jaringan, kemudian yang terjadi adalah kehilangan air bukan menyerapnya. Menurut Hasan Basri Jumin (Sipayung, 2003 : 4), salinitas menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan biomassa tumbuhan.
3). Sifat Biologi Tanah
Pada tanah berpasir jumlah mikroorganismenya sangat sedikit sehingga proses humifikasi berjalan lambat. Mikroorganisme pada tanah berpasir sangat sedikit karena kondisi lingkungan tanah berpasir tidak mendukung mikroorganisme untuk hidup. Kondisi yang tidak menguntungkan antara lain intensitas cahaya matahari yang sangat besar, suhu yang tinggi dan kemampuan menahan air pada tanah berpasir sangat rendah. Hal ini menyebabkan tanah berpasir menjadi kurang subur (Sulastri, 2012). Oleh sebab itu, dibutuhkan penambahan bahan organik sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme sehingga dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah baik jamur dan actinomycetes untuk membantu pembentukan agregat tanah.
Pasir adalah butir tanah yang berukuran antara 0,050 mm sampai dengan 2 mm dan tergolong bahan halus tanah. Bahan halus tanah adalah bagian butir tanah yang berukuran kurang dari 2 mm yang terdiri
dan gulungan. Tanah bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Madjid, 2009).
Tanah pasir tidak memiliki kemampuan menjerap air dan unsur hara sehingga tanah pasir mudah kering dan tidak subur. Tanah pasir juga sedikit mengandung liat, miskin bahan organik atau humus dan memiliki KTK yang rendah (Utami, 2009).
b. Tanaman Tanggul Angin
Pemetaan lokasi penanaman tanaman tanggul angin Cemara laut dengan memperhatikan aspek sebaran arah dan kecepatan angin tahunan. Jalur tanggul angin dibuat tegak lurus arah angin saat musim kemarau dan musim badai (angin kencang). Hal-hal yang perlu dirancang antara lain:
a. Penetapan jarak antar tanggul angin dengan bibir pantai (<
100 m) dan tebal lapisan (> 5 tanaman Cemara Laut).
b. Penetapan jarak tanam tanaman tanggul angin dan lay out sebaran (apakah berderet sistematis 5mx5m, 5mx10m atau selang-seling ‘untu walang‘).
c. Tanaman Budidaya
Pemetaan lokasi penanaman tanaman budidaya dengan memperhatikan sebaran dan lay out jalur tanggul angin. Hal-hal yang perlu dirancang antara lain:
a. Pemilihan jenis tanaman budidaya sesuai dengan kebutuhan petani/masyarakat setempat dan sesuai ditanam di pantai.
b. Lokasi penanaman (mengikuti letak jalur tanggul angin yang ada) yaitu tepat di belakang tanaman tanggul angin.
c. Penetapan waktu tanam, volume kebutuhan masing-masing bibit serta waktu dan dosis pemberian ameliorat (amelioran).
Ameliorat berupa pupuk kandang, tanah liat maupun pupuk buatan (urea, TSP, ZA dan KCl)
C. Kebutuhan
a. Kebutuhan Bahan
Tanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia) ditanam dengan jarak 5 m x 5 m. Untuk kebutuhan bibit disesuaikan dengan luas areal yang akan ditanami. Kebutuhan bibit tanaman semusim bibit bawang merah sebanyak 200 kg per hektar dan jagung 20 kg per hektar (Ambarwati dan Purwanti, 2002). Bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha (Atmojo, 2003) serta pupuk anorganik 200 kg/ha ZA, KCl, urea, TSP, racun insektisida (serangga), dan fungisida (jamur).
b. Kebutuhan Alat
Alat yang dibutuhkan untuk kegiatan penetapan lokasi, pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain patok, meteran, kompas dan peta dasar. Alat yang dibutuhkan untuk kegiatan pengembangan sarana pengairan tanaman budidaya antara lain berupa bak renteng, pralon, gembor, selang dan pompa air. Alat yang dibutuhkan untuk kegiatan pengamatan perlakuan, antara lain: penjerap pasir (sand trap), evaporimeter (pengukur evaporasi), ombrometer (penakar hujan), anemometer (kecepatan angin), termometer udara, dan termometer tanah (kedalaman 30cm = top soil, 90cm = solum, 150cm = regolit). Alat yang dibutuhkan untuk kegiatan sosialisasi masyarakat adalah leaflet, poster, tulisan ilmiah dan laporan. Sedangkan untuk mengumpulkan informasi sosek (sosial ekonomi) dengan blanko kuisioner.
c. Kebutuhan Tenaga
Tenaga yang dibutuhkan terdiri atas tenaga pengamat untuk data iklim (suhu, curah hujan, kecepatan angin) dan erosi pasir serta pengamat pertumbuhan tanaman. Disamping itu untuk keamanan melibatkan seluruh warga Karanggadung dan Karyawan Obyek wisata Karanggadung untuk mengawasi kalau ada pengunjung wisata yang sengaja atau sekedar iseng merusak tanaman.
d. Kebutuhan Biaya
Biaya bibit (Cemara laut dan tanaman semusim) dan pupuk (organik dan an-organik) yang dibutuhkan per hektarnya sekitar Rp.
25.000.000,- dan biaya perlengkapan lapangan sekitar Rp.3.000.000,-.
Beberapa biaya yang tidak terhitung berupa bantuan tenaga dari Kelompok Tani dari mulai penanaman, perawatan dan pengamanan serta pengamatan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
e. Kebutuhan Lahan
Luasan lahan disesuaikan dengan ketersediaan bibit, jarak tanam yang dipilih dan ragam tanaman yang ditanam (disesuaikan dengan kemampuan anggaran biaya). Dari pihak kantor Obyek Wisata Karanggadung selaku pihak yang bertanggung jawab pengelolaan lahan pantai berpasir, mengijinkan untuk penggunaan lahan pantai berpasir seluas 11,71 ha untuk tanaman Cemara laut dan tanaman semusim.
f.Kebutuhan Ameliorat
Dengan karakteristik tanah berpasir seperti di atas, dapat dilihat bahwa amelioran yang paling sesuai untuk meningkatkan kesuburan tanah berpasir adalah bahan organik (BPT, 2005). Penambahan bahan organik akan meningkatkan kemampuan tanah untuk diolah pada lengas yang rendah. Pada tanah berpasir yang kering yang semula tidak lekat, tidak
liat pada saat basah, dengan tambahan bahan organik dapat menjadi agak lekat dan liat serta sedikit teguh, sehingga mudah diolah.
Hasil penelitian Nugroho dan Sumardi, 2010 menunjukkan bahwa penambahan amelioran (40% tanah dan 10% bahan organik) ke dalam media dasar pasir mampu meningkatkan daya hidup cemara udang sampai 78,3%. Penambahan tanah (20% dan 40%) ke dalam media dasar pasir mampu meningkatkan daya hidup cemara udang sebesar 60,83%
dan 63,75%. Penambahan pupuk kandang 10% pada media dasar pasir mampu meningkatkan daya hidup cemara udang sebesar 65,55% dan penambahan pupuk kandang hingga 30% dan 50% tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata.
Atmojo (2003) menjelaskan bahwa pemberian bahan organik mampu menciptakan kondisi yang sesuai untuk tanaman dengan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah, aerasi lebih baik sehingga mempermudah penetrasi akar, memperbaiki kapasitas menahan air, meningkatkan pH, KTK dan serapan hara. Bahan organik merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah, maka bahan organik juga mempercepat perbanyakan fungi, bakteri, mikroflora dan mikrofauna tanah lainnya. Peran bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tidak kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi.
Pada tanah berpasir, bahan organik dapat merubah struktur tanah dari berbutir tunggal menjadi bentuk gumpal, sehingga meningkatkan derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi sedang atau kasar (Scholes et al., 1994 dalam Atmojo, 2003).
Bahkan bahan organik dapat mengubah tanah yang semula tidak berstruktur (pejal) dapat membentuk struktur yang baik atau remah, dengan derajat struktur yang sedang hingga kuat. Penambahan bahan organik pada tanah kasar (berpasir), akan meningkatkan pori yang
kadar air pada kapasitas lapang. Dengan demikian akan meningkatkan kemampuan menahan air (Stevenson, 1982 dalam Atmojo, 2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam humat (di dalam humus) lebih bertanggung jawab pada pembentukkan agregat di tanah regosol, yang ditunjukkan oleh meningkatnya kemantapan agregat tanah (Pertoyo, 1999 dalam Atmojo, 2003).
Pengaruh penambahan bahan organik terhadap pH tanah dapat meningkatkan atau menurunkan tergantung oleh tingkat kematangan bahan organik dan jenis tanahnya. Penambahan bahan organik yang belum masak (misal pupuk hijau) atau bahan organik yang masih mengalami proses dekomposisi, biasanya akan menyebabkan penurunan pH tanah karena terjadinya pelepasan asam-asam organik selama proses dekomposisi.
Peningkatan pH tanah juga akan terjadi apabila bahan organik yang kita tambahkan telah terdekomposisi lanjut (matang), karena bahan organik yang telah termineralisasi akan melepaskan mineralnya, berupa kation- kation basa (Atmojo, 2003).
Sumber utama N di dalam tanah berasal dari dekomposisi bahan organik. Pada tanah berpasir, potensi N dalam bentuk ion nitrat (NO3-) yang mengalami pencucian (leaching) lebih besar karena ion nitrat yang bermuatan negatif tersebut tidak bisa diadsorbsi oleh lempung/humus sehingga sering terlarut dalam air. Demikian juga unsur makro K lebih mudah terlindi di tanah berpasir karena kurangnya koloid tanah berupa humus dan lempung (clay), Hasil penelitian Gong et al. (2009) di Cina memperlihatkan bahwa perlakuan pemberian setengah pupuk organik dan pupuk mineral NPK mampu meningkatkan kandungan C dan N dalam tanah secara signifikan melebihi hasil pada penerapan pupuk mineral saja.
g. Kebutuhan Saprotan
Saprotan (Sarana Produksi Pertanian) diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan pantai berpasir yang marjinal. Dosis ameliorat pupuk
kandang untuk meningkatkan produktivitas tanaman-tanaman budidaya tersebut sebanyak 20 ton per hektar untuk MT I. Dosis pupuk kimia per hektar seperti ZA, urea, KCl, dan TSP masing-masing sebanyak 200 kg/ha.
Perawatan tanaman semusim dengan melakukan penyiraman rutin pagi dan sore, terutama pada saat setelah turun hujan karena suhu tanah meningkat yang menyebabkan tanaman layu jika tidak segera disirami.
Pemberian saprotan dimaksudkan untuk memanipulasi lingkungan terutama tapak/site untuk pertumbuhan di lahan berpasir agar dapat tercipta kondisi tapak yang lebih sesuai untuk mendukung pertumbuhan tanaman dengan meminimalkan pembatas (constrain) pertumbuhan seperti perbaikan agregat tanah, peningkatan KTK tanah, peningkatan bahan organik, N tanah, P tersedia dan K tersedia.
Pada tanah berpasir, khususnya unsur makro N dan K akan lebih mudah terlindi/pencucian (mengalami leaching). Pembatas pertumbuhan tersebut bisa diatasi dengan penambahan bahan organik dan juga dengan inokulasi mikoriza untuk membantu ketersediaan P (Gong et.al., 2009).
Bahan organik akan mengurangi jerapan fosfat (P) sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Unsur P ini merupakan key of agriculture karena dari jumlahnya yang sangat kecil di alam, dari jumlah tersebut kebanyakan dalam bentuk tidak tersedia bagi tanaman. Oleh sebab itu, pemberian mikoriza untuk membantu ketersediaan P diharapkan akan mengoptimalkan pertumbuhan tanaman terutama di awal pertumbuhan.
D. Penentuan
a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berdekatan dengan pariwisata (±300 m) yang sebelumnya di sebelah utara tanggul pasir (Gumuk Pasir) dan selanjutnya dikembangkan di sebelah selatan yang berdekatan dengan garis pantai dengan jarak kurang dari < 100 m (Gambar 3). Disamping itu lokasi pengembangan berdekatan dengan desa Tanggul Angin yang merupakan pemukim eksodan yaitu pemukiman kembali penduduk yang pulang kampung dari transmigrasi dan korban bencana tsunami serta tidak memiliki tempat tinggal.
Gambar 3. Layout Pengembangan Demplot Tanaman Semusim dan Tanaman Tanggul Angin Cemara Laut
Lokasi penelitian dan pengembangan untuk pengelolaan lahan pantai berpasir memiliki sifat karakteristik sebagai berikut:
a. Merupakan tanah terlantar tanpa vegetasi yang berjarak kurang dari 100 m dari batas pasang air laut hingga wilayah pantai ke arah daratan sejauh kurang lebih 300 m.
b. Topografi datar sampai berombak, kelerengan landai (< 8 %)
c. Tersedia sumber air tawar (air hujan atau air sumur)
d. Tersedia cukup bahan ameliorat (peningkat kesuburan) tanah (pupuk kandang atau tanah liat) di sekitar lokasi.
e. Termasuk dalam tipe iklim B (basah), C (agak basah) dan D (sedang) menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Fergusson.
b. Mess Pos Pengamatan
Pos pengamatan yang berfungsi sekaligus sebagai Sekretariat Kelompok Tani (KT) berada pada jarak kurang lebih 500 meter dari lokasi penanaman agar akses mudah terjangkau. Pos tersebut dekat juga dengan obyek wisata sehingga koordinasi dengan petugas dari kantor Pariwisata semakin intensif. Pos Pengamatan (Sekretariat KT) berfungsi sebagai tempat istirahat sementara bagi para Petugas, tempat berkumpul dan diskusi dengan masyarakat, tempat informasi dan penyuluhan, dll.
c. Tempat Pertemuan Kelompok Tani
Jadwal pertemuan Kelompok Tani (KT) direncanakan di kantor Sekretariat KT, yaitu dengan bergilir dari rumah ke rumah setiap bulan sekali. Pertemuan KT kadang juga dilakukan di pantai sebelum penanaman, kadang di Balai Desa dan kadang juga di ruang sekolah.
Pertemuan rutin KT dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi anggota KT juga meningkatkan soliditas kelompok disamping juga proses pembelajaran saling diskusi dan bertukar pengalaman.
III.PELAKSANAAN
A. Persiapan
a. Persiapan Lokasi
Persiapan lokasi meliputi penempatan gubuk kerja, lokasi areal tanaman dan pos pengamatan. Untuk itu perlu ijin penempatan lokasi penelitian berikut mekanisme perijinan ke Pemda (Kabupaten) :
Surat pengajuan ijin penelitian dari BP2TPDAS-IBB (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai – Indonesia Bagian Barat) No. 598/BP2TPDAS-IBB/2006 tanggal 13 Juni 2006 kepada Bupati cq Kepala Dinas Kesbanglinmas (Kesatuan Bangsa Perlindungan Masyarakat dan Sosial) yang beralamat di Jl.
Ampera No. 11, Telp.0287-381287 Kebumen. 54311
Surat Rekomendasi penelitian dari Kesbanglinmas no. 072/388 tanggal 15 Juni 2006 disampaikan kepada BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) yang beralamat di Jl. Veteran no. 2, Telp. 0287-381570 Kebumen 54311
Berdasarkan surat Rekomendasi dari Kesbanglinmas, BAPPEDA mengeluarkan surat ijin penelitian no. 071-1/138 yang berlaku selama 3 bulan dari 15 Juni sampai 15 Agustus 2006. Surat tersebut disampaikan kepada (i) Kepala Diparta Kab. Kebumen, (ii) Kepala Dinas Hutpedal Kab. Kebumen, (iii) Kepala Obwis Pantai Petanahan, (iv) Camat Petanahan, dan (v) Kades Karanggadung.
Untuk persiapan penanaman Cemara laut perlu dilakukan beberapa tahapan persiapan di lokasi sebagai berikut :
perawatan beberapa bibit yang telah disiapkan sebelumnya untuk penyesuaian iklim (aklimatisasi) dengan melakukan penyiangan kebun bibit dan penyiraman setiap hari (Gambar 4 dan 5).
Gambar 4. Persiapan Pembibitan Tanaman Tahunan dan Buah-buahan
Gambar 5. Kondisi Awal Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), saat ditanam di Lapangan
Pembuatan ajir ukuran 150 cm sebanyak 350 buah untuk tanaman buah-buahan yaitu ajir sekaligus untuk menguatkan tegaknya tanaman, dan ajir ukuran 80 cm sebanyak 1100 buah untuk tanaman lainnya.
Pembelian ameliorat atau tanah mineral dari tanah sawah yang subur untuk membantu penyediaan hara bagi tanaman.
Pembelian pupuk organik berupa pupuk kandang dan ditambah dengan EM-4 untuk mepercepat dekomposisi pematangan pupuk organik.
Stimulan atau inokulan yang diambil dari tanah dibawah perakran tanaman pandan berduri.
Penutupan mulsa dari seresah tanaman rumput berduri di sekitar pantai, agar tanah terjaga kelembabannya.
Pengukuran kembali luas lahan pantai berpasir yang akan ditanami untuk tanaman tanggul angin, buah-buahan, tanaman kehutanan dan semusim.
Perbaikan instalasi air dan perbaikan sumur renteng dengan mencoba diesel penyedot air dan didistribusikan keseluruh penampung air yang tersebar di sekitar tanaman semusim.
Melatih ulang pengamat (coaching) dan mengechek data (verifikasi) dari pengamat untuk pengamatan suhu udara dan suhu tanah (30, 90 dan 150 cm), curah hujan, kecepatan dan arah angin, erosi angin, dan evaporasi.
b. Persiapan SDM
Untuk persiapan SDM (Sumber Daya Manusia) dilakukan dengan melakukan konsultasi dan koordinasi ke instansi terkait dan
pendekatan pada masyarakat.
1. Konsultasi dan Koordinasi
i. Dinas PEDAL (Perhutanan dan Pengendalian Dampak Lingkungan) Dinas PEDAL mendukung kegiatan pengembangan penelitian di lokasi pantai berpasir yang dilaksanakan oleh kantor Solo yang saat itu bernama BP2TPDAS-IBB (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai–Indonesia Bagian Barat).
Bentuk dukungan dari Dinas PEDAL antara lain diwujudkan dalam bentuk : mendampingi setiap konsultasi dengan beberapa kantor dinas yang terkait di kabupaten pemerintah daerah Kebumen, dan PKL (Penyuluh Kehutanan Lapangan) yang ditugaskan untuk terlibat langsung di lapangan dan saat pertemuan dengan Kelompok.
ii. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah)
Lahan pantai berpasir selama ini belum dikelola masyarakat karena anggapan masyarakat bahwa lahan berpasir tidak berpotensi untuk diusahakan tanaman atau istilah warga pasti merugi atau tidak untung. Dengan adanya lokasi pengembangan penelitian lahan pantai berpasir ditunjang dengan fasilitas jalan JLSS (Jalan Lintas Selatan Selatan) jl. Dandeles dan jl. Diponegoro, maka akses ke lokasi wisata akan lebih mudah dan diharapkan pariwisata semakin berkembang.
iii. Dinas Pariwisata
Lokasi penelitian berdekatan dengan pariwisata, dan lahan untuk lokasi pengembangan penelitian masih termasuk lahan dibawah pengelolaan Dinas Pariwisata. Sehingga setiap ke lokasi selalu mengadakan koordinasi terlebih dahulu dengan kantor Dinas
2. Koordinasi di Daerah i. Kecamatan Petanahan
Dari kantor BP2TPDAS-IBB melaporkan ke kantor kecamatan Petanahan, bahwa ada kegiatan pengembangan penelitian di desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan yang sudah dilakukan sejak tahun 2005. Pemilihan lokasi pantai Petanahan merupakan permintaan dari Bupati Kebumen (Ibu Rustriningsih) setelah mendengar paparan tentang penanaman cemara laut di pantai Samas, Bantul.
ii. Polsek Petanahan
Seluruh anggota Tim Penelitian BP2TPDAS-IBB telah dilaporkan nama-namanya yang akan melakukan kegiatan secara intensif di lokasi dan direncanakan akan tinggal secara periodik di lapangan untuk jangka waktu yang lama sejak tahun 2005 sampai sekarang.
iii. Desa Karanggadung
Kepala lingkungan atau Bayan ada dua yaitu Karangcengis (Darjo) dan dan Karanggadung (Kartomiharjo). Sebagian besar anggota kelompok tani menerima keberadaan pengembangan penelitian di wilayahnya. Diharapkan kegiatan ini dapat menyerap tenaga kerja dan terbentuknya kelompok tani seperti yang diharapkan petugas PKL. Kegiatan pertemuan kelompok tani yang didampingi oleh PKL berupa :
-
Pertemuan rutin bulanan kelompok tani yang dihadiri anggota dan mantan lurah, bapak lurah dan bapak RT serta para tokoh masyarakat (TOGA = Tokoh Agama dan TOMAS = Tokoh Masyarakat) lainnya yang tertarik.-
Mengagendakan rencana penanaman Cemara Laut yangtentunya disesuaikan dengan datangnya hujan (biasanya bulan
September dan Januari) serta setelah selesai perbaikan instalasi air dan sumur renteng.
-
Pada saat pelaksanaan penanaman juga mempertimbangkan kesibukan masyarakat Desa Karanggadung, yaitu tujuh hari menjelang hari raya idul fitri dan 7 hari setelah lebaran, dengan menyiapkan pembuatan ajir dan pembelian pupuk kandang.c. Koordinasi dengan UKP
1. UKP (Usulan Kegiatan Penelitian) yang berada di pusat P3HKA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam) di Bogor bertugas untuk mengadakan koordinasi, mensintesis dan membuat laporan menyeluruh dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh judul-judul yang dipayunginya.
2. UKP yang berjudul ―Teknologi dan Kelembagaan Rehabilitasi Lahan Terdegradasi‖ di Ketua oleh Dr. Pratiwi, dan membawahi 18 judul yang dikerjakan oleh UPT (Unit Pelaksana Teknis) di BPPK Kupang, BPPK Samarinda, BPPK Aek Nauli Medan, BP2TPDAS-IBB di Surakarta, Loka Ciamis dan BP2TPDAS-IBT di Makassar.
3. Secara garis besar judul-judul dibawah UKP diatas dapat dibagi dalam 3 kelompok besar yaitu tentang : (i) rehabilitasi lahan terdegradasi dan reklamasi lahan bekas tambang, (ii) kelembagaan, (iii) model dan teknik konservasi.
4. Konsultasi pada Tim UKP setahun minimal dilakukan 2 kali yaitu pertama pada saat mengawali kegiatan untuk menyusun RPTP (Rencana Pelaksanaan Tim Peneliti) dan kedua pada saat menjelang pembuatan laporan (akuntabilitas dan progres sintesis kegiatan).
5. Dibentuk jejaring kerja untuk melakukan komunikasi yang lebih intensif lewat internet, dan jika memungkinkan dapat dilakukan diskusi lewat internet secara tertulis maupun lisan dengan frukuensi
d. Persiapan Lembaga dan Kelompok Tani
Penelitian pengembangan tanaman pantai berpasir tidak hanya pengembangan suatu tanaman tertentu, tetapi lebih diutamakan merubah pola pikir masyarakat sekitar pantai berpasir. Masyarakat di sekitar pantai berpasir yang semula menganggap lahan pantai tidak dapat ditanami menjadi pola pikir bahwa lahan pantai dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan dengan menjaga kelestarian alam lewat RLKT. Semua sarana dan prasarana yang ditempatkan di lokasi menjadi milik Kelompok Tani (KT) Pasir Makmur dan bukan menjadi milik perseorangan atau milik peneliti atau teknisi BP2TPDAS-IBB, sehingga semua anggota kelompok tani wajib merasa memiliki dan merawat, mengawasi serta menjaga dan mengamankannya untuk dipergunakan secara berkelompok.
e. Persiapan Bahan dan Alat
Bahan dan peralatan kegiatan pengembangan meliputi :
1. Kegiatan penetapan lokasi, pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain : patok, meteran, GPS, kompas, peta dasar.
2. Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA (Tanggul Angin), antara lain : vegetatif dengan camara laut (Casuarina equisetifolia sp.) dan mekanis dengan daun kelapa atau anyaman bambu.
3. Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di belakang jalur tanaman TA antara lain : terong, bawang merah, cabe merah, dan ketimun, jagung (Zea mays L.).dll.
4. Kegiatan perbaikan tanah dengan penambahan pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha dan ameliorat (tanah liat) serta pupuk an- organik 200 kg/ha ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida.
5. Kegiatan pengembangan sarana pengairan tanaman budidaya antara lain berupa sumur, bak renteng, pralon, gembor, selang panjang, pompa air, dll.
6. Kegiatan pengamatan perlakuan, antara lain: Sand trap, evaporimeter, ombrometer, anemometer, termometer udara, kelembaban udara dan ruang serta termometer tanah.
7. Kegiatan sosialisasi masyarakat berupa penyebaran leaflet, poster, kalender dan karya tulis ilmiah, dan pengumpulan data sosek dengan menyebar blanko kuisioner yang relevan.
B. Pembuatan Jalur Tanggul Angin a. Tanggul Angin Mekanis
Pembuatan tanggul angin di dekat pantai (< 100 m) berfungsi sebagai filter untuk mencegah embun atau uap garam-garaman yang menyebabkan tanaman semusim terbakar. Tanggul angin ini juga berfungsi sebagai penahan angin yang kencang yang menyebabkan tanaman roboh dan layu oleh proses evapotranspirasi. Tanggul angin dapat berupa mekanis yaitu berupa daun kelapa kering, atau anayaman bambu, yang penting jangan sampai bahan yang berasal dari logam atau seng karena akan mudah karatan jika terkena garam-garaman air laut.
b. Tanggul Angin Vegetatif
Pembuatan tanggul angin juga dapat dibuat dari tanaman hidup sebagai tanggul angin vegetatif. Tanaman tahunan yang dapat dikembangkan sebagai tanggul angin vegetatif dengan syarat sesuai ditanam di pantai, memiliki akar kokoh (bibit dari biji, generatif) dan daun- daunnya rapat dan batang meninggi. Beberapa tanaman yang cocok ditanam di pantai dan dapat dipakai untuk tanggul angin antara lain : ketapang, waru, cemara laut, dll. Untuk pantai Kebumen yang merupakan pengembangan dari pantai Samas-Bantul dengan penanaman Camera laut. Semula tanaman Cemara laut berasal dari cangkok (vegetatif), namun untuk keperluan konservasi sebaiknnya dengana tanaman
c. Tanggul Angin Sementara
Tanggul angin sementara dapat secara mekanis ataupun vegetatif.
Tanggul angin sementara secara mekanis antara lain dengan daun kelapa, gedek bambu. Prinsip pembuatan tanggul angin sementara angin dapat menembus tetapi tidak sampai merusak tanaman, karena kecepatan angin sudah terhalang oleh tanggul angin, disamping itu juga mampu mengurangi bahaya kadar garam yang dibawa oleh uap air. Begitu juga tanggul angin sementara dapat dilakukan dengan vegetatif tanaman semusim yang cepat tumbuh dan lebih tinggi dari tanaman utamanya, misalnya : jagung, sorghum dll.
C. Penanaman
a. Tanaman Tanggul Angin
Penanaman tanaman Casuarina equisetifolia sebagai tanaman tanggul angin permanen sepanjang 750 m searah garis pantai selebar 25 m. Tanaman tersebut berfungsi sebagai tanaman penghijauan untuk melindungi tanaman budidaya yang ditanam di antara jalur tanaman tanggul dari pengaruh erosi pasir, tiupan angin dan kadar garam (NaCl).
Metode penanaman tanaman tanggul angin (TA) tersebut dilakukan dengan jarak tanam 5 m x 5 m setiap jalurnya, dengan model ‗gigi belalang‘ atau ―nguntu walang‖ selang-seling dengan 5 jalur tanam. Data biofisik akan dianalisis secara deskriptif untuk menunjukkan perlakuan yang paling efektif. Dengan mengamati prosentase tumbuh tanaman TA cemara laut (Casuarina equisetifolia) dan mengamati pertumbuhan setiap bulannya.
Pengembangan kebun bibit desa masih dalam taraf teori kepada anggota Kelompok Tani (KT) dan latihan pembuatan bedengan. Namun beberapa anggota KT sudah mampu mengembangan bibit cemara laut.
Penjelasan tersebut antara lain mengenai pengembangan bibit cemara
laut yang dapat dilakukan secara vegetatif dengan cara mencangkok dan merunduk, sedangkan secara generatif dengan cara biji. Biji pada saat dipohon dipilih pohon yang telah berumur lebih dari 10 tahun, dan pilih cangkang yang sudah menguning dari perkembangan biji cangkang yang berwarna hijau, kuning dan coklat (Gambar 6). Semakin tua >10 tahun umur pohon maka kualitas biji cemara laut akan semakin baik, dan untuk cabang yang mau dicangkok dipilih yang mengarah keatas (autotorof).
Cangkang masih hijau,
belum matang Cangkang isi biji
berwarna kuning Cangkang kosong jatuh di tanah
Gambar 6. Perkembangan kematangan biji pada cangkang dari berwarna hijau (mentah), kuning (matang) dan coklat (biji lepas)
Pemilihan biji pada saat di pohon dipilih cangkang yang berwarna kuning, sebab jika sudah berwarna coklat maka biji telah keluar tersebar di tanah dan tidak bisa berkecambah. Biji yang berwarna kuning dijemur dengan kain kasa sampai biji keluar, penggunaan kain kasa dimaksudkan agar biji tidak terbang kemana-mana. Biji direndam selama 2 hari, dan dijemur selama sehari, biji disemaikan di hamparan media tanah dan jika sudah berumur 2 bulan atau kecambah sudah kelihatan batang coklat dan daun sudah bercabang dipindahkan kedalam polybag (Gambar 7).
Bibit umur 1 bulan di tempat persemaian
Bibit umur 2 bulan dipindah ke polybag
Bibit umur 3 bulan disirami pagi dan siang
Bibit umur 6 bulan tinggi
>60 cm diameter >5 mm Bibit umur 8 bulan
siap ditanam Bibit umur setahun, sudah lewat umur Gambar 7. Contoh persemaian cemara laut dari biji di Pemalang
Cemara laut dapat dikembangkan lewat Cangkok atau Biji, dan setelah banyak cabang dibawah segera di lakukan pruning agar pertumbuhan meninggi. Pengembangan Cemara laut untuk konservasi tanah sebaiknya menggunakan bibit yang berasal dari biji yang memiliki akar tunggang yang kuat dan berumur panjang (Gambar 8).
Cemara dari Cangkok
Cemara dari Biji Cemara setelah Prunning
Gambar 8. Cemara laut dari cangkok, dari biji dan setelah di prunning (dipangkas cabang-cabang bawah agar cepat meninggi).
Pengamanan lokasi penelitian cemara laut yang berada di lokasi wisata perlu dilakukan, mengingat banyaknya gangguan yang berasal dari manusia, hewan maupun alam. Langkah pengamanan lokasi Demplot dilakukan dengan pemagaran dan pemberian plang peringatan dan tanda batas pinggir lokasi (Gambar 9).
Papan lokasi Demplot Papan Sekretariat Papan batas pinggir
Peringatan di pantai
Papan depan wisata Batas lokasi
Gambar 9. Papan batas dan tanda peringatan untuk pengamanan lokasi penelitian jangan sampai diganngu pengunjung wisata
Dalam rangka memantau pertumbuhan tanaman cemara laut dilakukan pengukuran diameter setinggi dada atau keliling dan tinggi tanaman untuk tahun penanaman sejak tahun 2006 sampai 2009 (Gambar 10). Tanaman cemara laut yang ditanam pada tahun 2005 awalnya diambil dari cangkok maka tidak dilakukan pengamatan pertumbuhan karena tumbuhnya menyamping. Rata-rata tanaman yang sudah berumur 5 tahun (penanaman tahun 2006) telah mencpai tinggi 876 cm (8,7 m) dengan keliling 459,5 mm (45,9 cm) atau diameter batang 14 cm.
Gambar 10. Pengamatan Pertumbuhan tanaman cemara laut Tahun 2011 dari penanaman Tanaman tahun 2006 sampai tahun 2009
b. Tanaman Tahunan
Beberapa tanaman yang tumbuh di lokasi pantai berpasir di Kebumen dapat dimanfaatkan mikoriza atau bakteri yang ada pada perakaran untuk merangsang pertumbuhan tanaman baru di pantai berpasir. Beberapa tanaman yang ada di pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen antara lain : Pandan berduri, Akasia, Widuri, Cemara laut, Rumput berduri, Jarak pagar, Kebun campuran, Kelapa, Gamal, Bekol, Buah Naga, Jambu Mete (Gambar 11).
Pandan berduri Akasia Widuri
Cemara laut Rumput berduri Jarak pagar
Kebun campuran Kelapa Gamal
Bekol Buah Naga Jambu mete
Gambar 11. Beberapa tanaman yang ada di pantai berpasir, dimanfaatkan mikorizanya untuk perangsang pertumbuhan tanaman baru
c. Tanaman Semusim
Tanaman semusim yang dapat dikembangkan di pantai berpasir antara lain bawang merah, cabe, jagung, semangka dan lain-lain. Data pencatatan hasil produksi di Bantul dari tahun 2000 sampai 2007 menunjukkan hasil yang fluktuatif yaitu kadang tinggi dan kadang
menurun. Hasil bawang merah tertinggi pada bulan Januari 2007 (29 ton/ha) dan terendah pada bulan Januari 2000 (10 ton/ha). Hasil cabe tertinggi pada bulan Mei 2002 (26,7 ton/ha) dan terendah pada bulan Januari 2003 (8 ton/ha). Begitu juga harga kedua komoditi tersebut juga fluktuatif naik turun, yaitu untuk bawang merah harga terendah Rp 2.500,-/kg dan harga tertinggi bisa mencapai Rp 6.000,-/kg, sedangkan harga cabe jauh lebih fluktuatif yaitu harga terendah Rp 2.500,-/kg dan harga tertinggi bisa mencapai Rp 10.000,-/kg.
Gambar 12 dibawah ini merupakan demplot pengembangan tanaman semusim yang pernah dikembangkan oleh BPTKPDAS yang dulu masih bernama BPK Solo dan telah banyak meyakinkan kepada masyarakat sekitar pesisir pantai untuk mengelola lahan pantai berpasir.
Beberapa tanaman yang pernah dikembangkan dan sekarang sudah banyak dicontoh dan dikembangkan oleh masyarakat di pantai Petanahan antara lain : Jagung, Cabe dan Bawang Merah.
Gambar 12. Demplot Uji Coba dari Kantor BPTKPDAS Solo, antara Lain :
Dari demplot yang telah dikembangkan oleh kantor BPTKPDAS Solo berdampak positif dan dirasakan oleh masyarakat bahwa demplot tersebut mampu meyakinkan petani kalau lahan pasir yang semula marjinal ternyata dapat berproduksi jika dikelola dengan baik dan benar.
Selanjutnya dengan mencontoh demplot tersebut para petani pengelola lahan pantai berpasir di belakang cemara laut dengan mengembangkan komoditi tanaman lain, antar lain : semangka, terong ungu, dan paling favorit sekarang ini adalah pepaya (gandul) kalifornia (Gambar 13).
Gambar 13. Beberapa Tanaman Hortikultura, dibelakang Cemara Laut : Gula Kelapa, Semangka, Terong Ungu, dan Pepaya Kalifornia.
d. Tanaman Bawah/Lantai Hutan
Tanaman bawah yang tumbuh secara alami merupakan tanaman pioner yang mampu tumbuh di pantai berpasir (Gambar 14). Tanaman ini menjaga tingkat kesuburan tanah pantai yang cenderung kering dan
menjadi lahan marjinal. Lahan pantai berpasir yang kering dengan struktur tanah lepas-lepas dapat menjadi lebih baik jika ada tanaman bawah, disamping itu juga adanya seresah daun-daun dan ranting yang berguguran. Sehingga daun-daun cemara laut yang berguguran sebaiknya tidak diambil untuk bahan kayu bakar, walaupun daun-daun kering cemara sebenarnya sangat baik untuk merebus nira gula kelapa.
Fungsi kompos biomasa tersebut sangat baik untuk pemantapan struktur tanah dan menjaga kelembaban tanah.
Rumput Merakan Pogonatherum
paniceum (Lam.) Hackn Ipomea pescaprea
Pandan berduri Pandanus tectorius Buah Pandanus tectorius
Pongamia pinnata Rumput Gulung
Rumput Teki Saccharum spontaneum
Tanaman Bunga Kenop (Gomphrena globosa L)
Tanaman Lenglengan (Leucas lavandulifolia L.)
Tapak Dara
(Catharanthus roseus L. G. Don)
Tapak liman
(Elephanthopus scaber L)
Widuri Tanaman Widuri
Gambar 14. Beberapa Tanaman Bawah yang ada di Pantai Berpasir
D. Pemeliharaan Tanaman Semusim a. Pemupukan
1. Pemupukan I (Pupuk dasar), diberikan sebelum tanam atau awal tanam dengan cara menyebar pupuk NPK dicampur dengan tanah dan pasir dengan alat cangkul atau sebilah bambu. Pupuk dasar per hektar : SP36 = 500 kg, Urea = 100 kg, KCl = 100 kg dan ZA = 100 kg.
2. Pemupukan II (Pupuk pertumbuhan/vegetatif), pupuk NPK 200 kg/ha diberikan 15 HST (Hari Setelah Tanam) dengan disebar merata dalam tanah.
3. Pemupukan III (Pupuk produksi/generatif), pupuk NPK 200 kg/ha diberikan 25 HST.
b. Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari dengan cara dibentuk regu penyiraman dan perawatan tanaman dari KT (Kelompok Tani) Pasir Makmur. Apabila terjadi hujan maka besuk paginya tetap dilakukan penyiraman dengan tujuan untuk menetralisir suhu tanah yang sangat panas dari penguapan panas bumi, agar tanaman bawang merah tetap sehat dan tidak terbakar.
c. Penyemprotan HPT (Hama Penyakit Tanaman) 1. Umur kurang 2 HST (Hari Setelah Tanam) untuk
pemberantasan gulma atau rumput pengganggu, dengan GOAL 2E sebanyak 1½ tutup untuk 1 tangki air.
2. Umur 15 sampai 25 hari, penyemprotan dilakukan setelah 15 hari untuk interval waktu setiap 5 hari (15, 20 dan 25 hari), dengan :
(a) PPC = 10 cc (1 tutup racun hpt) (b) Larvin = 1 sendok
(c) Danvil 50 SC = 10 cc (1 tutup)
(d) Barer = 10 cc (1 tutup)
3. Umur 25 sampai 45 hari (Gambar 15) (a) N-Balancer = 10 cc
(b) Manzate 200 = 1 sendok makan (c) Puanmur 50 SP = 1 sendok sirup
(d) Larvin+Danvil+Barer+N-Balancer+Manzate+Puanmur, dicampur untuk 1 tangki (12-17 liter).
Racun sayur daun Danvil 50SC Goal 2E
Puanmor Balancer Larvin
DuPont Manzate 200 Borer
Gambar 15. Beberapa Macam Insektisida untuk Penyemprotan HPT (Hama Penyakit Tanaman)
E. Pemanenan Hasil
Contoh input-output hasil yang disampaikan masyarakat untuk penanaman papaya kalifornia sejumlah 500 batang (1/3 ha) diperlukan modal 18 juta dan mendapatkan keuntungan sebanyak Rp. 180 juta/tahun. Penanaman papaya tersebut dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m dibutuhkan 38 ton pupuk kandang per tahun dan pupuk NPK 20 g/bt/bulan, sehingga keuntungan bersih per bulannya 12.5 juta.
Dengan adanya permintaan pupuk kandang untuk menjaga kesuburan lahan pantai maka diperlukan ternak besar (sapi) dan ternak kecil (kambing etawa) untuk pemasok pupuk kandang yang semakin langka (Gambar 16). Sebelumnya pupuk kandang berlimpah dan harga sangat murah, namun akhir-akhir ini kondisinya berbalik yaitu harga pupuk kandang cukup mahal yang sebelumnya hanya membayar upah para pengangkut saja, sedangkan sekarang ini harga pupuk kandang per colt pick-up Rp 150.000,-
Gambar 16. Ternak Sapi dan Kambing Etawa untuk Peningkatan
Penyediaan Pupuk Kandang dan Menjaga Kesuburan Lahan
Dampak cemara laut sebagai tanggul angin disamping bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas lahan juga meningkatkan keamanan dan kenyamanan warga untuk tinggal atau menempati rumahnya dekat dengan pantai < 0,5 km, yang sebelumnya mereka menjauh dari garis pantai yaitu > 1 km (Gambar 17). Beberapa rumah sudah dibangun dekat dengan pantai, sehingga potensi ke depan untuk mendukung wisata bisa dimungkinkan didirikan tempat penginapan (Losmen atau Hotel) seperti yang telah dikembangkan di Pantai Glagah, karena selama ini rumah- rumah penduduk di Petanahan sudah sering disewakan untuk pedagang musiman dari luar kota setiap hari raya (Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru).
Gambar 17. Dampak Cemara Laut Meramaikan Kondisi Wisata : Warung di Tepi Pantai, Rumah Dekat Pantai (pesisir) dan Jalan Pantai
IV. MONITORING
A. Pengamatan Tanah
Kondisi biofisik tanah pantai berpasir merupakan tanah Regosol atau Entisols yang kurang subur. Ketidak suburan lahan tersebut dicirikan oleh kondisi sifat fisik, kimia dan biologi tanah yang kurang menguntungkan bagi produktivitas tanaman. Unsur hara NPK di pantai berpasir termasuk rendah begitu juga unsur hara lainnya kecuali Na (Natrium) karena banyak mengandung garam-garaman NaCl (Gambar 18). Kondisi yang paling baik pada lahan bepasir yang sudah ada tanaman semusim (hortikultura) karena ada pengelolaan dari petani dengan menambahkan pupuk organik (kadang) dan pupuk an-organik (NPK).
Kemasaman tanah cukup baik (netral) yaitu pH 6-7, dan pH terendah pada lahan semusim karena pengaruh pemberian pupuk kimia NPK. Kadar air tertinggi pada tanah yang ditanamani tanaman semusim karena banyak mengandung bahan organik, sehingga tanah dalam keadaan lembab. Kondisi air tanah pantai berpasir sepanjang pantai selatan walaupun dekat dengan pantai airnya tawar, berbeda dengan pantai utara yang air tanahnya terasa asin. Air tanah yang tawar di pantai selatan disebabkan oleh adanya pegunungan kapur sepanjang pantai yang dapat menyaring dan mengendapkan garam-garaman, sehingga intrusi air dari laut ke daratan telah menjadi tawar.
Gambar 18. Kondisi Biofisik dan Kimia Pantai Berpasir pada Lahan Cemara Laut, Pasir Pantai dan Lahan Semusim di Pantai Petanahan.
Pengambilan sampel tanah pantai berpasir pada 3 kondisi lahan yang berbeda yaitu untuk tanah pantai dekat lautan, tanah dibawah tanaman cemara laut dan tanah dibawah tanaman semusim (Gambar 19).
Gambar 19. Pengambilan Sampel Tanah pada Lahan Cemara Laut, Pasir
B. Pengamatan Iklim
Iklim yang ekstrim di pantai menyebabkan tanaman mudah kering karena evapotranspirasi yang tinggi dan ketersediaan air tanah yang rendah (Gambar 20). Kondisi ekstrim pada lahan pantai berpasir menyebabkan tanaman mengalami dehidrasi dan sangat kekurangan air, sehingga menjadi kering dan mudah terbakar.
Gambar 20. Kondisi tanaman kekeringan akibat musim kemarau yang panjang, tanaman kering dan layu jika tidak diguyur hujan
Dalam rangka memantau kondisi perubahan iklim di pantai berpasir perlu dipasang beberapa alat pemantau iklim antara lain (Gambar 21) : penakar hujan ombrometer, termohygro pengukur suhu dan kelembaban, termometer tanah, stik erosi. Hindari pemasangan alat yang bahannya dari besi karena akan mudah rusak (karatan dan keropos).
Beberapa peralatan yang sudah pernah rusak yaitu sandtrap (penjerap erosi angin), evaporimeter (pengukur evaporasi), anemometer (kecepatan
& arah angin), label sampel tanaman, Kaliper (milimeter), stik erosi, batas
tepi lokasi, Hand Phone dan Tustel. Disarankan untuk alat-alat yang bahan dasarnya dominan dari logam agar hati-hati penggunaannya di pantai seperti HP (Hand Phone), Tustel/Kamera, Handycam, dll. Untuk mencegah kerusakan akibat uap garam-garman sebaiknya dibungkus dengan plastik. Sifat uap air yang mengandung garam-garaman sangat halus dan lembut sehingga lubang sekecil jarum pun dapat ditembus dan menyebabkan karatan sehingga beberapa onderdil di dalam yang berasal dari logam jadi macet/rusak.
Pengamatan Cemara laut Lahan Pasir bermasalah Anemometer
Stik erosi dari Pralon Evaporimeter Pembuatan stik erosi
Suhu Tanah 30,90,150cm Ombrometer Diameter pohon Gambar 21. Mengantisipasi perubahan iklim ekstrim di pantai maka
a. Kelembaban Ruang dan Udara
Pengamatan kelembaban ruang dan udara pada pagi dan siang hari di pantai Petanahan, Desa Karanggadung (Gambar 22). Kelembaban ruang terendah bulan Juli di siang hari (61%) dan Kelembaban ruang tertinggi pada bulan Desember (74%). Kelembaban udara tertinggi pada bulan Desember di pagi hari (76%) dan terendah pada bulan Juli di siang hari (60%).
Gambar 22. Kelembaban Ruang dan Udara Harian Pagi dan Siang di Desa Karanggadung, Kec.Petanahan, Kab.Kebumen
Kelembaban udara di pagi hari 76% lebih tinggi dibandingan pada siang yang hanya 72%, sedangkan untuk kelembaban ruang tidak berbeda jauh yaitu dari 71% (siang) sampai 74% (pagi). Kisaran kelembaban ruang dari 61-74% dan kelembaban udara dari 60-75%.
Kelembaban udara pagi hari lebih lembab dibandingkan pada siang hari, sehingga menyebabkan pantai terasa kering di siang hari disamping juga lebih panas.
b. Suhu Ruang dan Udara
Pengamatan suhu ruang dan suhu udara pada pagi dan sore hari, yaitu untuk mengetahui fluktuasi temperatur yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman (Gambar 23). Pada pagi hari, suhu ruang terendah 25 oC (Januari) sampai tertinggi 30 oC (April). Suhu udara pada pagi hari terendah 23 oC (November dan Desember) dan tertinggi 26 oC (Maret dan Januari).
Kaitan suhu (temperatur) udara dengan pengunjung wisata, dimana setelah jam 09.00 pagi temperatur sudah mulai panas maka pengunjung datang pada pagi hari sebelum jam tersebut. Jika tidak pagi hari mereka akan berkunjung pada sore hari setelah jam 15.00 karena suhu udara mulai menurun. Pada siang hari suhu ruang antara 25 oC sampai 27 oC (November dan Desember), sedangkan suhu udara dari 24
oC (November dan Desember) sampai 28 oC (Maret).