Penafsiran atau interpretasi adalah menentukan arti atau makna suatu teks atau bunyi
suatu pasal berdasar pada kaitannya. Ada beberapa metode penafsiran hukum yang lazim diterapkan, yaitu :
1. Penafsiran gramatikal atau konteks
adalah penafsiran menurut tata bahasa atau kata – kata. Bahasa merupakan saran yang penting bagi hukum. Penafsiran undang – undang itu pada dasarnya selalu merupakan penjelasan dari segi bahasa. Peraturan hukum hendaknya dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tidak mengandung pengertian beraneka ragam. Akan tetapi pembuat UU tidak selamanya dapat melakukannya. Dalam kondisi seperti ini seorang hakim wajib mencari arti kata sesuai dengan kelaziman penggunaan sehari – hari, menggunakan kamus, meminta keterangan dari ahli bahasa, atau dengan mengkaji sejarah penggunaan kata. Misalnya : istilah
‘menggelapkan’ ari pasal 41 KUHP ada kalanya ditafsirkan dengan ‘menghilangkan’.
2. Penafsiran historis
Tiap peraturan perundang – undangan memiliki sejarahnya sendiri. Penafsiran hukum berdasarkan sejarahnya ada 2 macam :pertama, penafsiran menurut sejarah hukum ( recht historische interprestatien ) yang hendak memahami UU dalam konteks sejarah hukum secara luas. Kedua, penafsiran sejarah penetapan peraturan perundang – undangan adalah penafsiran hukum dengan menyelidiki maksud pembuat UU yang bisa di lacak dari dokumen –
dokumen yang berisi tentang proses terjadinya suatu UU sejak dari rancangan hingga di undangkan.
1. Penafsiran sistematis
Terjadinya sebuah UU selalu berkaitan dan berhubungan dengan peraturan perundang – undangan yang lain. Setiap UU atau aturan adalah bagian dari suatu sistim hukum. Menafsirkan UU sebagai bagian dari keseluruhan perundang – undangan dengan jalan menghubungkannya dengan UU yang lain di sebut interprestasi sistematis
Penafsiran sistematis dengan cara mempelajari system dan rumusan UU yang meliputi :
1. penalaran analogi dan penalaran akontrario. Penggunaan analogi, berarti pengeluasan berlakunya kaedah UU, sedangkan kegunaan kontrario yaitu memastikan sesuatu yang tidak disebut oleh pasal UU secara kebalikan.
2. Penafsiran ektensif dan restriktif (bentuk – bentuk yang lemah yang terdahulu secara logis tak ada perbedaan.
1. Penafsiran sosiologis
Dalam penafsiran sosiologis atau peraturan perundang – undangan disesuaikan dengan situasi dan kondisi social yang baru. Peraturan yang sudah usang tetapi masih berlaku
diaktualisasikan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan masa kini. Artinya : Penafsiran sosiaologis ialah sesuatu penafsiran untuk memahami aturan hukum sehingga peraturan tersebut dapat diterapkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat.
1. Penafsiran otentik
Penafsiran otentik atau penafsiran resmi adalah penafsiran yang diberikan sendiri oleh pembuat UU atau istansi resmi yang ditunjuk oleh UU melalui penjelasan – penjelasan yang dilampirkan sebagai bagian yang tak terpisah dengan UU-nya.
BAB III A. KESIMPULAN
BAB IV PENUTUP
Puji syukur kami panjatkan kehadirat tuhan YME atas pertolongannyalah kami dapat menyejesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Namun demikian kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari sisi substansi isi maupun teknis penulisan, itu semua terpulang pada kami sendiri. Untuk itu kami
menerima saran atau masukan agar kami dapat memperbaiki kekurangan dari makalah ini. Akhirnya dengan penuh kerendahan hati, kami minta maaf apabila terdapat kesalahan kata atau penulisan dalam makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Sanusi, 1984, Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia, Transito, Bandung
L.J.van Apeldom, 1983 , pengantar ilmu hukum,Pradnya paramita,bandung.
Rispawati,2005, pengantar ilmu hukum dan pengantar tata hukum Indonesia ,universitas mataram,mataram
A . Latar Belakang
Hukum yang dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam masyarakat yang bertujuan merealisasikan terbentuknya sebuah masyarakat yang nyaman dan berkeadilan, terkadang oleh segelintir orang tidak diindahkan sebagaimana yang dimaksud di atas. Tidak jarang hukum itu dicederai, dilanggar bahkan dimanipulasi fungsinya oleh orang yang memang mempunyai kepentingan, atau orang yang masih menganggap tidak pentingnya sebuah hukum yang ada di masyarakat.
Para pelaku-pelaku pelanggar ataupun pencedera hukum inilah yang dalam kajian sosiologi hukum dapat disebut sebagai orang-orang yang tidak sadar dan tidak patuh hukum. Dan makalah ini membahas tentang kesadaran dan kepatuhan hukum dengan kaitannya dalam masyarakat sosial.
B . Pengertian Kesadaran dan Kepatuhan Hukum
1. Kesadaran berasal dari kata sadar. yang berarti insaf , merasa, tahu atau mengerti . Menyadari berarti mengetahui, menginsafi, merasai. Kesadaran berarti keinsafan, keadaan mengerti, hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang. Kesadaran hukum dapat berarti adanya keinsyafan, keadaan seseorang yang mengerti betul apa itu hukum, fungsi dan peranan hukum bagi dirinya dan masyarakat sekelilingnya.
2. kepatuhan berasal dari kata patuh. Yang berarti tunduk, taat dan turut. Mematuhi berarti menunduk, menuruti dan mentaati. Kepatuhan berarti
ketundukan,ketaatan keadaan seseorang tunduk menuruti sesuatu atau sesorang. Jadi, dapatlah dikatakan kepatuhan hukum adalah keadaan seseorang warga masyarakat yang tunduk patuh dalam satu aturan main ( hukum ) yang berlaku.
Kesadaran hukum merupakan konsepsi abstrak didalam diri manusia, tentang keserasian antara ketertiban dan ketentraman yang dikehendaki atau sepantasnya. Kesadaran hukum sering dikaitkan dengan pentaatan hukum, pembentukan hukum, dan efektivitas hukum. Kesadaran hukum merupakan kesadaran nilai-nilai yang terdapat dalam manusia tentang hukum yang ada .
Kesadaran hukum berkaitan dengan kepatuhan hukum, hal yang membedakannya yaitu dalam kepatuhan hukum ada rasa takut akan sanksi.
mengenai penilaian tersebut, yang telah dilakukan secara ilmiah, nilai nilai yang terdapat dalam manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang
diharapkan ada. Indicator kesadaran hukum: 1. Pengetahuan hukum.
2. Pemahaman hukum. 3. Sikap hukum.
4. Pola perilaku hukum.
b. kepatuhan : ada sanksi positif dan negative, ketaatan merupakan variable tergantung, ketaatan hukum tersebut didasarkan kepada kepuasan diperoleh dengan dukungan sosial. Faktor yang menyebabkan masyarakat mematuhi hukum:
1. Compliance:
Kepatuhan yang didasarkan pada harapan akan suatu imbalan dan usaha untuk menghidarkan diri dari hukuman yang mungkin dikenakan apabila seseorang melanggar ketentuan hukum. Adanya pengawasan yang ketat terhadap kaidah hukum tersebut.
2. Identification:
Terjadi bila kepatuhan terhadap kaidah hukum ada bukan karena nilai intrinsiknya, akan tetapi agar ke anggotaan kelompok tetap terjaga serta ada hubungan baik dengan mereka yang diberi wewenang untuk menerapkan kaidah kaidah hukum tersebut.
3. Internalization.
Seseroang mematuhi kaidah kaidah hukum dikarenakan secara intrinsic kepatuhan tadi mempunyai imbalan. Isinya sesuai dengan nilai nilainya dari pribadi yang bersangkutan.
C . Kesadaran dan Kepatuhan Hukum Dalam Budaya Hukum Indonesia Di dalam budaya hukum masyarakat dapat pula dilihat apakah masyarakat kita dalam kesadaran hukumnya sungguh-sungguh telah menjunjung tinggi hukum sebagai suatu aturan main dalam hidup bersama dan sebagai dasar dalam
menyelesaikan setiap masalah yang timbul dari resiko hidup bersama. Namun kalau dilihat secara materiil, sungguh sulit membangun budaya hukum di negeri ini. Sesungguhnya kesadaran hukum masyarakat saja tidak cukup membangun budaya hukum di negeri ini, karena kesadaran hukum masyarakat masih bersifat abstrak,
belum merupakan bentuk prilaku yang nyata, sekalipun masyarakat kita baik secara instinktif, maupun secara rasional sebenarnya sadar akan perlunya kepatuhan dan penghormatan terhadap hukum yang berlaku. Oleh karenanya sekalipun masyarakat kita sadar terhadap hukum yang berlaku di negaranya, belum tentu masyarakat kita tersebut patuh pada hukum tersebut.
Kepatuhan terhadap hukum adalah merupakan hal yang substansial dalam membangun budaya hukum di negeri ini, dan apakah sebenarnya kepatuhan hukum itu ?. kepatuhan hukum masyarakat pada hakikatnya adalah kesetiaan masyarakat atau subyek hukum itu terhadap hukum yang kesetiaan tersebut diwujudkan dalam bentuk prilaku yang nyata patuh pada hukum. Secara a contra-rio masyarakat tidak patuh pada hukum karena masyarakat tersebut dihadapkan pada dua tuntutan
kesetiaan dimana antara kesetiaan yang satu bertentangan dengan kesetiaan
lainnya. Misalnya masyarakat tersebut dihadapkan pada kesetiaan terhadap hukum atau kesetiaan terhadap “kepentingan pribadinya” yang bertentangan dengan hukum, seperti banyaknya pelanggaran lalu lintas, korupsi, perbuatan anarkisme, dll. Apalagi masyarakat menjadi berani tidak patuh pada hukum demi kepentingan pribadi karena hukum tidak mempunyai kewibawaan lagi,dimana penegak hukum karena kepentingan pribadinya pula tidak lagi menjadi penegak hukum yang baik. Sehingga dalam hal ini, kesetiaan terhadap kepentingan pribadi menjadi pangkal tolak mengapa manusia atau masyarakat kita tidak patuh pada hukum. Jika faktor kesetiaan tidak dapat diandalkan lagi untuk menjadikan masyarakat patuh pada hukum, maka negara atau pemerintah mau tidak mau harus membangun dan
menjadikan rasa takut masyarakat sebagai faktor yang membuat masyarakat patuh pada hukum.Jika kita sudah konsisten membangun negara ini menjadi negara hukum, siapapun harus tunduk kepada hukum. Hukum tidak dapat diberlakukan secara diskriminatif, tidak memihak kepada siapapun dan apapun, kecuali kepada kebenaran dan keadilan itu sendiri. Disitulah letak keadilan hukum. Namun jika hukum diberlakukan diskriminatif, tidak dapat dipercaya lagi sebagai sarana memperjuangkan hak dan keadilan, maka jangan disalahkan jika masyarakat akan memperjuangkan haknya melalui hukum rimba atau kekerasan fisik.
Oleh karenanya hukum harus memiliki kewibawaannya dalam menegakkan supremasi hukum agar masyarakat dapat menghormatinya dalam wujud
kepatuhannya terhadap hukum itu sendiri. Dengan demikian perlunya membangun budaya hukum merupakan suatu hal yang hakiki dalam negara hukum, dimana
hukum harus dapat merubah masyarakat untuk menjadi lebih baik, lebih teratur, lebih bisa dipercaya untuk memperjuangkan hak dan keadilan, lebih bisa
menciptakan rasa aman. Semoga..!!
D . Penutup
Pada akhirnya perkembangan hukum tidak akan berjalan tanpa adanya kesadaran hukum dan kepatuhan pelaku –pelaku masyarakat itu dalam menjunjung tinggi supremasi hukum. Di dalam indonesia negeri kita sendiri ini, kurangnya kepatuhan hukum berawal dari tiadanya kesadaran hukum. Dan kesadaran hukum harus berawal dari tertanamnya budaya hukum di indonesia.
E . Daftar Pustaka
Raharjo Satjipto, ‘Sisi-Sisi Lain Dari Hukum di Indonesia’, Penerbit Kompas, 2003.
Related Posts
PENDIDIKAN
RELASI AGAMA DAN NEGARA
Identitas Nasional
MAKALAH DEMOKRASI
TEORI ANTARA AGAMA DAN NEGARA
FIQH SOSIAL
Tafsir Al-Misbah M. Quraish Shihab
KONSTITUSIONALISME
DANA TALANGAN HAJI
PENEGAKAN HUKUM (LAW ENFORCEMENT)
PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA
HUKUM PROGRESIF
Hukum Islam Sebagai Sosial Kontrol & Engineering
DEKLARASI AHAD
TATA CARA MANDI BERSAMA BERSAMA ISTRI
19 HADITS NABI MENGENAI WANITA
HADITS TENTANG QURBAN
KEMATIAN BISA DIUNDUR
DIALOG KIAI DAN IBLIS
CARA ATAU TUNTUNAN SHALAT SESUAI YANG DIAJARKAN RASULULLAH
CARA MUDAH MENGHADAPI UJIAN
3 important hours in ramadan
FILSAFAT SHALAT
Analisa Bulan Ramadhan 29 Hari
KUMPULAN MAKALAH
PEMIKIRAN ISLAM KH. ABDURRAHMAN WAHID
PEMIKIRAN ISLAM MUNAWIR SJADZALI
PEMIKIRAN HUKUM HAZAIRIN
MAKALAH TENTANG NEGARA
RELASI NEGARA DAN AGAMA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PANCASILA
MAKALAH DEMOKRASI
MAKALAH KONSEP DASAR KONSTITUSI
TEORI ANTARA AGAMA DAN NEGARA
Fiqih Korupsi
FIQH SOSIAL
Tafsir Al-Misbah M. Quraish Shihab
KHAWARIJ
KONSTITUSIONALISME
Istilah-istilah Dalam Filsafat Hukum Islam
Hak Asasi Manusia (HAM) dan Gender 2
Kesetaraan Gender dan Hak Asasi Manusia (HAM)
Pro-kontra Pidana Mati di Indonesia
DANA TALANGAN HAJI
PENEGAKAN HUKUM (LAW ENFORCEMENT)
PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA
HUKUM PROGRESIF
Hukum Islam Sebagai Sosial Kontrol & Engineering
Makalah Pengantar Hak Azasi Manusia
at Monday, June 18, 2012
0 COMMENTS POST A COMMENT
IF YOU LIKE THIS ARTICLE, PLEASE SHARE OR LEAVE YOUR COMMENT ..
◄
Newer PostsOlder Posts ► Home Entri Populer
MAKALAH NORMA HUKUM
NORMA HUKUM MAKALAH Diajukan guna memenuhi tugas dalam mata kuliah Ilmu Perundang-undangan di susun oleh : 1. Muhamm...
KONSTITUSIONALISME
Konstitusionalisme adalah suatu sistem yang terlembagakan, menyangkut pembatasan yang efektif dan teratur terhadap tindakan-tindakan pemeri...
KESADARAN HUKUM
A . Latar Belakang Hukum yang dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam masyarakat yang bertujuan merealisasikan terbentuknya se...
MAKALAH KONSEP DASAR KONSTITUSI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara garis besar konstitusi merupakan seperangkat aturan main dalam kehidupan bernegara yang menga...
Makalah Lembaga-Lembaga Negara Dari Pusat Sampai Daerah
Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Benang merah dari Negara hokum adalah pada penyelenggaraan urusan kenegaraan dan pemerintahan yang...