• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Kesadaran Hukum Dan Ketaatan H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Membangun Kesadaran Hukum Dan Ketaatan H"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

Membangun Kesadaran Hukum Dan

Ketaatan Hukum

FILSAFAT HUKUM DALAM MEMBANGUN KESADARAN HUKUM DAN KETAATAN HUKUM

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Jika kita berbicara filsafat, kita seakan berada pada ranah yang sangat abstrak, dan filsafat hukum merupakan cabang dari filsafat, filsafat hukum mempunyai fungsi yang strategis dalam pembentukan masyarakat sadar hukum dan taat di Indonesia.

Hukum adalah dalam kompas ilmu untuk manusia, atau sosial ilmu, karena merupakan bagian integral dan penting dalam komponen manusia masyarakat dan budaya. Tidak ada kejadian yang dikenal dari suatu keadaan dalam pengalaman manusia, di mana masyarakat yang heterogen ada dan budaya telah tanpa, atau sudah bebas dari, hukum. Dimanapun dan kapanpun masyarakat dan budaya yang ditemukan, ada hukum juga ditemukan, menggenangi seluruh masyarakat sebagai bagian dari budaya.

Seperti komponen lain dari masyarakat manusia dan budaya, hukum adalah fenomena, rentan terhadap ketakutan intelektual dengan bantuan dari indra manusia, dan tunduk pada penyelidikan empiris dan ilmiah deskripsi. Hukum merupakan salah satu bentuk budaya untuk kendali dan regulasi perilaku manusia, baik individual atau kolektif dalam penerapannya. Hukum adalah alat utama dari kontrol sosial pada masyarakat modern serta dalam masyarakat primitif.

Pembentukan masyarakat sadar hukum dan taat akan hukum merupakan cita-cita dari adanya norma-norma yang menginginkan masyarakat yang berkeadilan sehingga sendi-sendi dari budaya masyarakat akan berkembang menuju terciptanya suatu sistem masyarakat yang menghargai satu sama lainnya, membuat masyarakat sadar hukum dan taat hukum bukanlah sesuatu yang mudah dengan membalik telapak tangan, banyak yang harus diupayakan oleh pendiri atau pemikir negeri ini untuk memikirkan hal tersebut. Hukum bukanlah satu-satunya yang berfungsi untuk menjadikan masyrakat sadar hukum dan taat hukum, Indonesia yang notabene adalah negara yang sangatheterogen tampaknya dalam membentuk formulasi hukum positif agak berbeda dengan negara-negara yang kulturnya homogen, sangatlah penting kiranya sebelum membentuk suatu hukum yang akan mengatur perjalanan masyarakat, haruslah digali tentang filsafat hukum secara lebih komprehensif yang akan mewujudkan keadilan yang nyata bagi seluruh golongan, suku, ras, agama yang ada di Indonesia.

(2)

karena adanya hukum yang diciptakan diharapkan dapat dijadikan pedoman (standard) dalam bertindak bagi masyarakat tidak ada kesadaran hukum sehingga cenderung tidak ada ketaatan hukum.

Hukum yang diciptakan diharapkan dapat dijadikan pedoman (standard) dalam bertindak bagi masyarakat, meskipun harus dipaksa. Namun demikian masyarakat kita tidak sepenuhnya memahami tujuan dari hukum tersebut, maka timbul ketidak sadaran dan ketidak taatan hukum. Hukum merupakan hasil kebudayaan yang diciptakan untuk maksud dan tujuan tertentu. Pada umumnya manusia adalah mahluk berbudaya, memiliki pola pikir dalam menghargai kebudayanya.

1. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah sebenarnya hakikat filsafat hukum ?

2. Bagaimana peran filsafat hukum dalam membangun kesadaran hukum dan ketaatan hukum ?

1. PEMBAHASAN

Semenjak kita duduk di bangku pendidikan lanjutan serta Perguruan Tinggi kita sering mendengar tentang filsafat, apakah sebenarnya filsafat tersebut ? Seseorang yang berfilsafat diumpamakan seorang yang berpijak dibumi sedang tengadah ke bintang-bintang, dia ingin mengetahui hakikat keberadaan dirinya, ia berfikir dengan sifat menyeluruh (tidak puas jika mengenal sesuatu hanya dari segi pandang yang semata-mata terlihat oleh indrawi saja). Ia juga berfikir dengan sifat (tidak lagi percaya begitu saja bahwa sesuatu itu benar). Ia juga berfikir dengan sifat spekulatif (dalam analisis maupun pembuktiannya dapat memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak), dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan[1].

Beberapa pengertian Filsafat hukum banyak diutarakan oleh ahli ditafsirkan berbeda beda, namun pada pokoknya pertanyaan-pertanyaan, pernyataan-penyataan[2]. Ilmu pengetahuan hukum hanya melihat gejala-gejala hukum belaka, ia tak melihat “hukum”; ia hanya melihat apa yang dapat dilihat panca indera, bukan melihat dunia hukum yang tak dapat dilihat, yang tersenbunyi didalamnya; ia sementara mata melihat hukum sebagai dan sepanjang menjelma dalam perbuatan-perbuatan manusia, dalam kebiasaan-kebiasaan hukum.[3]

Kemudian lebih mengerucut lagi adalah Filsafat hukum, yaitu ilmu yang mempelajari hukum secara filosofi, yang dikaji secara luas, mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut dengan hakikat. Dan tujuan mempelajari filsafat hukum untuk memperluas cakrawala pandang sehingga dapat memahami dan mengkaji dengan kritis atas hukum dan diharapkan akan menumbuhkan sifat kritis sehingga mampu menilai dan menerapkan kaidah-kaidah hukum.

Pengertian Filsafat dan Filsafat Hukum

(3)

[4] Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan. Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.

Filsafat Hukum Menurut Gustaff Radbruch adalah cabang filsafat yang mempelajari hukum yang benar. Sedangkan menurut Langmeyer:Filsafat Hukum adalah pembahasan secara filosofis tentang hukum,[5]Anthoni D’Amato mengistilahkan dengan Jurisprudence atau filsafat hukum yang acapkali dikonotasikan sebagai penelitian mendasar dan pengertian hukum secara abstrak, Kemudian Bruce D. Fischer mendefinisikan Jurisprudence adalah suatu studi tentang filsafat hukum. Kata ini berasal dari bahasa Latin yang berarti kebijaksanaan(prudence) berkenaan dengan hukum (juris) sehingga secara tata bahasa berarti studi tentang filsafat hukum.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Filsafat hukum merupakan cabang filsafat, yakni filsafat tingkah laku atau etika, yang mempelajari hakikat hukum. Dengan perkataan lain filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis, jadi objek filsafat hukum adalah hukum, dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai pada inti atau dasarnya, yang disebut dengan hakikat.

Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto[6] menyebutkan sembilan arti hukum, yaitu : 1) Ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. 2) Disiplin, yaitu suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi. 3) Norma, yaitu pedoman atau patokan sikap tindak atau perilaku yang pantas atau diharapkan. 4) Tata Hukum, yaitu struktur dan proses perangkat norma-norma hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu serta berbentuk tertulis. 5) Petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang berhubungan erat dengan penegakan hukum (law enforcement officer) 6) Keputusan Penguasa, yakni hasil proses diskresi 7) Proses Pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan 8) Sikap tindak ajeg atau perilaku yang teratur, yakni perilaku yang diulang-ulang dengan cara yang sama, yang bertujuan mencapai kedamaian 9) Jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari konsepsi-konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap baik dan buruk.

Filsafat hukum mempelajari hukum secara spekulatif dan kritisartinya filsafat hukum berusaha untuk memeriksa nilai dari pernyataan-pernyataan yang dapat dikatagorikan sebagai hukum ;

ü Secara spekulatif, filsafat hukum terjadi dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan mengenai hakekat hukum.

ü Secara kritis, filsafat hukum berusaha untuk memeriksa gagasan-gagasan tentang hukum yang sudah ada, melihat koherensi, korespondensi dan fungsinya.

Membangun Kesadaran Hukum.

(4)

menurut Ewick dan Silbey : “Kesadaran Hukum” mengacu ke cara-cara dimana orang-orang memahami hukum dan intitusi-institusi hukum, yaitu pemahaman-pemahaman yang memberikan makna kepada pengalaman dan tindakan orang-orang.[7]

Bagi Ewick dan Silbey, “kesadaran hukum” terbentuk dalam tindakan dan karenannya merupakan persoalan praktik untuk dikaji secara empiris. Dengan kata lain, kesadaran hukum adalah persoalan “hukum sebagai perilaku”, dan bukan “hukum sebagai aturan norma atau asas”[8]

Membangun kesadaran hukum tidaklah mudah, tidak semua orang memiliki kesadaran tersebut. Hukum sebagai Fenomena sosial merupakam institusi dan pengendalian masyarakat. Didalam masyarakat dijumpai berbagai intitusi yang masing-masing diperlukan didalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan memperlancar jalannya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, oleh karena fungsinya demikian masyarakat perlu akan kehadiran institusi sebagai pemahaman kesadaran hukum.

Pentingnya kesadaran membangun masyarakat yang sadar akan hukum inilah yang diharapkan akan menunjang dan menjadikan masyarakat menjunjung tinggi intitusi/ aturan sebagai pemenuhan kebutuhan untuk mendambakan ketaatan serta ketertiban hukum. Peran dan fungsi membangun kesadaran hukum dalam masyarakat pada umumnya melekat pada intitusi sebagai pelengkap masyarakat dapat dilihat dengan : 1) Stabilitas, 2) Memberikan kerangka sosial terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat, 3) Memberikan kerangka sosial institusi berwujud norma-norma, 4) Jalinan antar institusi.

Beberapa faktor yang mempengarui masyarakat tidak sadar akan pentingnya hukum adalah : 1. Adanya ketidak pastian hukum;

2. Peraturan-peraturan bersifat statis;

3. Tidak efisiennya cara-cara masyarakat untuk mempertahankan peraturan yang berlaku;[9]

Berlawanan dengan faktor-faktor diatas salah satu menjadi fokus pilihan dalam kajian tentang kesadaran hukum adalah :

1. Penekanan bahwa hukum sebagai otoritas, sangat berkaitan dengan lokasi dimana suatu tindakan hukum terjadi;

2. Studi tentang kesadaran hukum tidak harus mengistimewakan hukum sebagai sebuah sumber otoritas atau motivasi untuk tindakan;

3. Studi tentang kesadaran hukum memerlukan observasi, tidak sekedar permasalahan sosial dan peranan hukum dalam memperbaiki kehidupan mereka, tetapi juga apa mereka lakukan.[10]

Berangkat dari uraian diatas maka pemenuhan kebutuhan dan hubungan antara institusi hukum maupun institusi masyarakat berperan sebagai pranata didalam masyarakat.

(5)

Ketaatan hukum tidaklah lepas dari kesadaran hukum, dan kesadaran hukum yang baik adalah ketaatan hukum, dan ketidak sadaran hukum yang baik adalah ketidak taatan. Pernyataan ketaatan hukum harus disandingkan sebagai sebab dan akibat dari kesadaran dan ketaatan hukum.

Sebagai hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara kesadaran hukum dan ketaataan hukum maka beberapa literaur yang di ungkap oleh beberapa pakar mengenai ketaatan hukum bersumber pada kesadaran hukum, hal tersebut tercermin dua macam kesadaran, yaitu :

1. Legal consciouness as within the law, kesadaran hukum sebagai ketaatan hukum, berada dalam hukum, sesuai dengan aturan hukum yang disadari atau dipahami;

2. Legal consciouness as against the law, kesadaran hukum dalam wujud menentang hukum atau melanggar hukum[11]

Hukum berbeda dengan ilmu yang lain dalam kehidupan manusia, hukum berbeda dengan seni, ilmu dan profesionalis lainya, struktur hukum pada dasarnya berbasis kepada kewajiban dan tidak diatas komitmen. Kewajiban moral untuk mentaati dan peranan peraturan membentuk karakteristik masyarakat.

Didalam kenyataannya ketaatan terhadap hukum tidaklah sama dengan ketaatan sosial lainnya, ketaatan hukum merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dan apabila tidak dilaksanakan akan timbul sanksi, tidaklah demikian dengan ketaatan sosial, ketaatan sosial manakala tidak dilaksanakan atau dilakukan maka sanksi-sanksi sosial yang berlaku pada masyarakat inilah yang menjadi penghakim. Tidaklah berlebihan bila ketaatan didalam hukum cenderung dipaksakan.

Ketaatan sendiri dapat dibedakan dalam tiga jenis, mengutip H. C Kelman (1966) dan L. Pospisil (1971) dalam buku Prof DR. Achmad Ali,SH Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial Prudence) Termasuk Interprestasi Undang-undang (legisprudence):

1. Ketaatan yang bersifat compliance, yaitu jika seseorang menaati suatu aturan, hanya karena takut terkena sanksi. Kelemahan ketaatan jenis ini, karena membutuhkan pengawasan yang terus-menerus.

2. Ketaatan yang bersifat identification, yaitu jika seseorang menaati suatu aturan, hanya karena takut hubungan baiknya dengan pihak lain menjadi rusak.

3. Ketaatan yang bersifat internalization, yaiutu jika seseorang menaati suatu aturan, benar-benar karena merasa bahwa aturan itu sesuai dengan nilai-nila intristik yang dianutnya.

Sudut pandang filsafat tentang ketaatan terhadap hukum

(6)

Kewajiban moral masyarakat untuk mentaati hukum, kewajiban tersebut meskipun memaksa namun dalam penerapan atau prakteknya kewajiban tersebut merupakan tidak absolut. Kemajemukan budaya yang tumbuh didalam masyarakat, norma-norma hidup dan tumbuh berkembang dengan pesat. Kewajiban moral dalam menyelesaikan masalah-masalah dengan keadaan tertentu.

Menurut Kohlberg (Valazquez, 1998) menyatakan perkembangan moral individu ada 3 tahap yaitu:

1. Level Preconvenstional. Level ini berkembang pada masa kanak-kanak.

1. Punishment and obidience orientation: alasan seseorang patuh/ taat adalah untuk menghindari hukuman.

2. Instrument and relativity orientation; perilaku atau tindakan benar karena memperoleh imbalan atau pujian.

3. Level Conventional: Individu termotivasi untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma kelompok agar dapat diterima dalam suatu kelompok tersebut.

1. Interpersonal concordance orientation: orang bertingkah laku baik untuk memenuhi harapan dari kelompoknya yang menjadi loyalitas, kepercayaan dan perhatiannya seperti keluarga dan teman.

2. Law and order orientation: benar atau salah ditentukan loyalitas seseorang pada lingkungan yang lebih luas seperti kelompok masyarakat atau negara.

3. Level Postconventional: pada level ini orang tidak lagi menerima saja nilai-nilai dan norma-norma dari kelompoknya, melainkan melihat situasi berdasarkan prinsip-prinsip moral yang diyakininya.

(7)

2. Pandangan kedua yang dianggap pandangan tengah, adalah kewajiban utama bagi setiap orang (Prima facie) adalah kewajiban mentaati hukum.

3. Pandangan Ketiga dianggap pandangan ekstrem kedua yang berlawanan dengan pandangan pertama, adalah bahwa kita hanya mempunyai kewajiban moral untuk hukum, jika hukum itu benar, dan kita tidak terikat untuk mentaati hukum.

1. KESIMPULAN

Kesadaran hukum dan ketaatan hukum sering kita dengar atau kita membaca pernyataan-pernyataan yang menyampaikan “Kesadaran hukum” dengan “Ketaatan Hukum” atau “Kepatuhan Hukum”, suatu persepsi keliru. Pemahaman Kesadaran hukum dan ketaatan hukum yang mana dijelaskan bahwa :

1. Kesadaran hukum yang baik, yaitu ketaatan hukum, dan 2. Kesadaran hukum yang buruk, yaitu ketidaktaatan hukum.

Kewajiban moral masyarakat secara individu untuk mentaati hukum, tidak ada yang mengatakan bahwa kewajiban merupakan sesuatu yang absolut, sehingga terkadang secara moral, kita dapat melanggar hukum, namun tidak ada pakar hukum, yang secara terbuka atau terang-terangan melanggar hukum. Kita memiliki alasan moral yang kuat untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh hukum, seperti, tidak melakukan penghinaan, penipuan, atau mencuri dari orang lain. Kita harus mentaati hukum, jika telah ada aturan hukum yang disertai dengan ancaman hukuman. Mereka yang yakin akan hukum, harus melakukan dengan bantuan pemerintah, dan mereka yakin, akan mendapat dukungan dai warga masyarakat.

: Kesadaran hukum adalah kesadaran diri sendiri tanpa tekanan, paksaan, atau perintah dari luar untuk tunduk pada hukum yang berlaku.

Pengertian kesadaran hukum menurut Soerjono Soekanto adalah :

Kesadaran hukum sebenarnya merupakan kesadaran atau nilai-nilai yang terdapat di dalam diri manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada.

Sudikno Mertokusumo juga mempunyai pendapat tentang pengertian Kesadaran Hukum. Sudikno Mertokusumo menyatakan bahwa :

(8)

Paul Scholten juga mempunyai pendapat tentang arti kesadaran hukum. Paul Scholten menyatakan bahwa :

Kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan mana kita

membedakan antara hukum dan tidak hukum (onrecht), antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak dilakukan..

Pengertian kesadaran hukum menurut Soerjono Soekanto

adalah :

Kesadaran hukum sebenarnya merupakan kesadaran atau

nilai-nilai yang terdapat di dalam diri manusia tentang hukum

yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada.

Sebenarnya yang ditekankan adalah nilai-nilai tentang fungsi

hukum dan bukan suatu penilaian hukum terhadap

kejadian-kejadian yang konkrit dalam masyarakat yang bersangkutan.

[1]

Sudikno Mertokusumo juga mempunyai pendapat tentang

pengertian Kesadaran Hukum. Sudikno Mertokusumo

menyatakan bahwa :

(9)

Paul Scholten juga mempunyai pendapat tentang arti

kesadaran hukum. Paul Scholten menyatakan bahwa :

Kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap

manusia tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum

itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan

mana kita membedakan antara hukum dan tidak hukum

(

onrecht

), antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak

dilakukan.

[3]

Berdasarkan ketiga pendapat tersebut, jelas bahwa kesadaran

hukum mempunyai peranan penting dalam kehidupan

bermasyarakat, oleh karena itu, hendaklah setiap insan

mempunyai kesadaran hukum!

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bicara tentang kesadaran hukum pada hakekatnya adalah bicara tentang manusia secara umum, bukan bicara tentang manusia dalam lingkungan tertentu atau manusia dalam profesi tertentu seperti hakim, jaksa, polisi dan sebagainya. Manusia sadar dan yakin bahwa kaedah hukum itu untuk melindungi kepentingan manusia dan sesamanya terhadap ancaman bahaya di sekelilingnya. Oleh karena itu setiap manusia mengharapkan agar hukum dilaksanakan dan dihayati oleh semua manusia agar kepentingannya dan kepentingan masyarakat terlindungi terhadap bahaya

yang ada di sekelilingnya. (Sudikno Mertokusumo).

(10)

Republik Indonesia Tahun 1945 Bab I Pasal 1 Ayat (3) yaitu “Negara Indonesia adalah Negara hukum” . Sebagai negara hukum tentunya segala sesuatunya harus berlandaskan hukum, baik dalam hubungan antar lembaga negara yang satu dengan yang lain, pemerintah dengan rakyat, dan hubungan antara rakyat dengan rakyat. Begitu juga berdasarkan penjelasan UUD ’45, dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum (Rechsstaat) bukan negara kekuasaan (Machstaat). Hal ini membawa konsekuensi bahwa negara termasuk di dalamnya pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain dalam melaksanakan tindakan apapun harus dipertanggungjawabkan secara hukum, karena itu setiap tindakan harus berdasarkan hukum. Sehingga konsekuensi dari negara hukum adalah hukum sebagai panglima yang memandang siapapun, baik dari kalangan pejabat, pengusaha, maupun rakyat biasa mempunyai hak dan kedudukan yang sama dihadapan hukum. Menurut Achmad Ali, hukum adalah seperangkat norma tentang apa yang benar dan apa yang salah, yang dibuat atau diakui eksistensinya oleh pemerintah, yang dituangkan baik sebagai aturan tertulis (peraturan) ataupun yang tidak tertulis, yang mengikat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya secara keseluruhan, dan dengan ancaman sanksi bagi pelanggar aturan itu. Adapun yang dimaksud negara hukum adalah negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan

kepada warga negaranya.

Ide negara hukum sesungguhnya telah lama dikembangkan oleh para filsuf dari zaman Yunani Kuno. Plato pada awalnya dalam the Republic berpendapat bahwa adalah mungkin mewujudkan negara ideal untuk mencapai kebaikan yang berintikan kebaikan. Untuk itu kekuasaan harus dipegang oleh orang yang mengetahui kebaikan, yaitu seorang filosof (the filosopher king). Namun, dalam bukunya the Statesmen dan the law, Plato menyatakan bahwa yang dapat diwujudkan adalah bentuk kedua (the second best) yang menempatkan supremasi hukum. Pemerintah yang mampu mencegah kemerosotan kekuasaan seseorang adalah pemerintahan oleh hukum. Senada dengan Plato, tujuan negara menurut Aristoteles adalah untuk mencapai kehidupan yang paling baik (the best life possible) yang dapat dicapai dengan supremasi hukum. Hukum adalah wujud kebijaksanaan kolektif warga negara (collective wisdom), sehingga peran warga negara diperlukan dalam pembentukannya. Selain terkait dengan konsep ‘rechtsstaat’ dan ‘the rule of law’, juga berkaitan dengan konsep ‘nomocracy’ yang berasal dari perkataan ‘nomos’ dan ‘cratos’. Perkataan nomokrasi itu dapat dibandingkan dengan ‘demos’ dan ‘cratos’ atau ‘kratien’ dalam demokrasi. ‘Nomos’ berarti norma, sedangkan ‘cratos’ adalah kekuasaan. Yang dibayangkan sebagai faktor penentu dalam penyelenggaraan kekuasaan adalah norma atau hukum. Karena itu, istilah nomokrasi itu berkaitan erat dengan ide kedaulatan hukum atau prinsip hukum sebagai kekuasaan tertinggi.

(11)

1.2.

Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulisan makalah ini lebih memfokuskan pada perjuangan Jendral Soedirman dan keteladanannya yang dapat dicontoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Untuk menjabarkan permasalahan tersebut, penulisan ini dipandu berdasarkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana kesadaran warga negara Indonesia akan kesadaran hukum yang berlaku di Indonesia?

2. Bagaimana peran pemuda atau mahasiswa dalam mengaktualisasikan kesadaran hukum yang

berlaku di lingkungan universitas?

3. Dari mana sajakah masalah yang akan muncul dari permasalahan hukum di Indonesia?

1.3. Tujuan

(12)

BAB II PEMBAHASAN

Proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan oleh founding father pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah awal pemberlakukan hukum nasional yang didasarkan pada landasan ideologi dan konstitusi negara yaitu Pancasila dan UUD 1945. Pada awal kemerdekaan, Indonesia belum memiliki hukum yang bersumber dari nilai-nilai yang hidup di masyarakat yang berlaku secara nasional namun berdasarkan pertimbangan politik dan nasionalisme, segala peraturan perundang-undangan yang berlaku pada masa kolonial Belanda masih tetap berlaku melalui proses nasionalisasi, sepanjang sesuai dengan kebutuhan sebuah negara yang merdeka, berdaulat dan religius.

Produk peraturan perundang-undangan kolonial Belanda yang mengalami proses nasionalisasi diantaranya: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merupakan nasionalisasi dari Wetboek van Straafrechts, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata merupakan nasionalisasi dari Burgerlijk Wetboek, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang merupakan nasionalisasi dariWetboek van Koophandel. Selain menggantikan nama, pasal-pasal yang tidak sesuai kebutuhan diganti dan ditambah dengan yang baru berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa.

Adanya nasionalisasi produk hukum kolonial Belanda kehukum nasional, Indonesia telah menganut sistem hukumcivil law system yang dianut oleh negara-negara Eropa Kontinental termasuk Belanda. Pada perkembangan selanjutnya, sistem hukum yang berlaku di Indonesia tidak selalu dipengaruhi oleh Civil Law System. Terdapat empat dari lima sistem hukum yang memengaruhi hukum di Indonesia, yaitu Civil Law System, Common Law System, Socialist Law System danTraditional Law System.

Dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia menentukan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 amandemen ketiga bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Mengandung arti bahwa segala perilaku yang ada dalam suatu negara, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang diperintah (rakyat) harus berdasarkan atas aturan-aturan hukum dan bukan berdasarkan atas kekuasaan. Hukum dijadikan sebagai panglima dalam kehidupan bernegara.

(13)

Cita-cita reformasi yang menghendaki adanya pemerintahan demokrasi Indonesia baru, pembenahan dibidang hukum menjadi prioritas utama. UUD 1945 yang telah mengalami empat kali amanden merupakan salah satu langkah positif dalam pembenahan hukum. Sesuatu yang dianggap tabu pada masa orde baru. Tidak bisa disangkal, bertahannya pemerintahan mantan Presiden Soeharto selama 32 tahun memimpin Republik ini salah satu penyebabnya adalah UUD 1945 (sebelum amanden) memang menghendaki demikian. UUD 1945 memungkinkan presiden untuk kembali mencalonkan diri setelah dua kali menjabat tanpa ada pembatasan.

Pelaksanaan hukum di Indonesia sering dipahami dari sudut pandang yang berbeda. Hukum berposisi sebagai penolong bagi pihak yang diuntungkan dan menjadi kejam bagi pihak yang dirugikan. Hukum harus bersikap netral bagi setiap pencari keadilan dan bukan bersifat diskriminatif, memihak pada yang kuat dan berkuasa.

Permasalahan hukum di Indonesia timbul karena beberapa hal, baik dari sistem peradilan, perangkat hukum, inkonsistensi penegakkan hukum, intervensi kekuasaan maupun perlindungan hukum. Banyak perkara yang melibatkan pihak penguasa atau oknum aparat penegak hukum yang bisa sebelum masuk pengadilan atau diputus bebas oleh hakim. Hal ini akan memunculkan pemahaman ketidak percayaan masyarakat terhadap hukum.Adakalanya kita terlambat menyadari bahwa apa yang kita lakukan sarat dengan formalitas dan tidak memiliki kedalaman makna, yang lebih tragis lagi adalah perbuatan anak manusia itu adakalanya kontraproduktif terhadap peri kemanusiaan itu sendiri.

Penegakan hukum misalnya, selalu menjadi prasyarat bagi sebuah demokrasi dan kemajuan. Tak ada sebuah negara atau pengurus kebijakan yang menyangkut kepentingan publik akan bisa berjalan dengan baik. Jika hukum masih compang-camping dan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Maka sebuah negara akan menjadi mundur jika hukum digairahkan hanya demi hasrat kepentingan tertentu, apalagi kepentingan politik.

(14)

Perubahan penting yang berlangsung pada banyak negara diberbagai belahan dunia tidak dapat disangkal, selalu berawal dari perbaikan perangkat hukum. Revolusi Prancis yang berlangsung pada tahun 1789, adalah sebuah contoh munculnya gerakan rakyat yang akhirnya menjungkal Raja Louis XVI dari tahta. Sesunggunhnya bermula dari kerisauan masyarakat atas tidak berfungsinya hukum Raja, dengan hukum yang tidak berjalan bermetamorfosis menjadi sosok yang sewenang-wenang dan melakukan sesuatu dengan sekehendak hati. Lebih tragis, Raja mengumumkan bahwa hukum adalah apa yang ia lakukan, yang terkenal dengan ungkapan “Negara adalah saya.”

Kondisi ini membuat hukum menjadi alat kepentingan untuk malakukan apa saja yang diinginkan, sehingga dengan demikian segala tindakan amoral dan korupsi merajelela. Akibatnya negara menjadi kacau dan rakyat hidup dalam ketidakmenentuan.

Thomas Hubbes pernah mensinyalir adanya kecenderungan manusia berperang melawan sesamanya dalam rangka memenuhi kepentingnannya (Bellum Omnium Contra Omnes, Homo Homini Lupus). Kecendurungan tersebut harus dikendalikan dan satu-satunya alat untuk itu adalah hukum. Bila kita tidak mengindahkannya, maka ingatlah pesan Hang Jebat !! “Raja adil raja disembah, raja zhalim raja disanggah…!”

(15)
(16)

BAB III

KESIMPULAN

(17)

DAFTAR PUSTAKA

http://alimansyur.blog.unissula.ac.id/

Muhaimin, Hendro. 2008.Pengembalian Peran Kampus. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta

http://skyrider27.blogspot.com

http://zaldym.wordpress.com/2008/06/23/hukum-sebagai-panglima/

MAKALAH

Kesadaran Hukum dalam Masyarakat

Diajukan untuk memenuhi dan melengkapi tugas-tugas mata kuliah Ilmu Hukum

Disusun Oleh :

Ahmad Hidayat

FAKULTAS SYARIAH

IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelaksanaan hukum di Indonesia sudah tidak tentu arah, seakan sudah tidak memiliki hukum. Hukum yang sudah di buat oleh pihak legislative pun seakan hanya sebuah catatan yang dibukukan. Pelanggaran-pelanggaran semakin marak terjadi namun hukum seperti takut untuk melakukan tugasnya. Kesadaran masyarakat akan hukum pum menjadi kian merosot. Dan menganggap hukum yang dibuat hanya untuk dilanggar.

1.2 Rumusan Masalah

Dengan mengacu pada latar belakang permasalahan di atas, penulisan makalah ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah, sebagai berikut :

 Bagaimana hakikat kesadaran hukum masyarakat ?

 Bagaimana kondisi kesadaran hukum masyarakat sekarang ini ?

 Bagaimana meningkatkan kesadaran hukum ?

1.3 Tujuan

Makalah ini kami buat dengan tujuan untuk menjelaskan rumusan masalah, sebagai berikut :

 Menjelaskan tentang hakikat kesadaran hukum masyarakat

 Menjelaskan tentang kondisi kesadaran hukum masyarakat sekarang ini

 Memaparkan cara-cara untuk meningkatkan kesadaran hukum

sumber segala hukum adalah kesadaran hukum[1]. Dengan begitu maka yang disebut hukum

hanyalah yang memenuhi kesadaran hukum kebanyakan orang, maka undang-undang yang tidak sesuai dengan kesadaran hukum kebanyakan orang akan kehilangan kekuatan mengikat. [2]

Sudikno Mertokusumo dalam buku Bunga Rampai Ilmu Hukum mengatakan :

Kesadaran hukum adalah kesadaran tentang apa yang seyogyanya kita lakukan atau perbuat atau yang seyogyanya tidak kita lakukan atau perbuat terutama terhadap orang lain.

Kesadaran hukum mengandung sikap toleransi.[3]

Dapat disimpulkan bahwa kesdaran hukum merupakan cara pandang masyarakat terhadap hukum itu, apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan terhadap hukum, serta penghormatan terhadap hak-hak orang lain (tenggang rasa). Ini berarti bahwa dalam kesadaran hukum mengandung sikap toleransi.[4]

Dalam kenyataanya ada beberapa hal secara include perlu ditekankan dalam pengertian kesadaran hukum; pertama, kesadaran tentang ‘apa itu hukum’ berarti kesadaran bahwa hukum itu merupakan perlindungan kepentingan manusia. Karena pada prinsipnya hukum

merupakan kaedah yang fungsinya untuk melindungi kepentingan manusia.[5]

(19)

hidup di dalam masyarakat bukanlah semata-mata hanya merupakan produk pertimbangan-pertimbangan menurut akal saja, akan tetapi berkembang di bawah pengaruh beberapa faktor seperti agama, ekonomi poliitik dan sebagainya Sebagai pandangan hidup didalam masyarakat maka tidak bersifat perorangan atau subjektif, akan tetapi merupakan resultante dari kesadaran hukum yang bersifat subjektif.[6]

Kedua, kesadarn tentang ‘kewajiban hukum kita terhadap orang lain’ berarti dalam melaksanakan hak akan hukum kita dibatasi oleh hakmorang lain terhadap hukum itu. Dengan begitu dalam kesadaran hukum menganut sikap tenggang rasa/toleransi, yaitu seseorang harus menghormati dan memperhatikan kepentingan orang lain, dan terutama tidak merugikan orang lain.[7]

Ketiga, kesadaran tentang adanya atau terjadinya ‘tindak hukum’ berarti bahwa tentang kesadaran hukum itu baru dipersoalkan atau dibicarakan dalam media elektronik kalau terjadi pelanggaran hokum seperti : pembunuhan, pemerkosaan, terorisme,KKN dan lain sebagainya.

Hukum baru dipersoalkan apabila justru hukum tidak terjadi, apabila hukum tidak ada. (onrecht) atau kebatilan. Kalau segala sesuatu berlangsung dengan tertib maka tidak akan ada orang mempersoalkan tentang hukum. Baru kalau terjadi pelanggaran, sengketa, bentrokan atau “conflict of human interest”, maka dipersoalkan apa hukumnya, siapa yang berhak, siapa yang benar dan sebagainya. Dengan demikian pula kiranya dengan kesadaran hukum.[8] Dengan demikian jelas bahwa kesadaran hukum pada hakekatnya bukanlah kesadaran akan hukum, tetapi terutama adalah kesadaran akan adanya atau terjadinya “tidak hukum” atau “onrecht”.[9] Memang kenyataannya ialah bahwa tentang kesadaran hukum itu baru dipersoalkan atau ramai dibicarakan dan dihebohkan didalam media massa kalau kesadaran hukum itu merosot atau tidak ada, kalau terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum,seperti : pemalsuan ijazah, pembunuhan, korupsi, pungli, penodongan dan sebagainya.

2.2 Kondisi Kesadaran Hukum Masyarakat

kondisi suatu masyarakat terhadap kesadaran hukum dapat kita kemukakan galam beberapa parameter, antara lain: ditinjau dari segi bentuk pelanggaran, segi pelaksanaan hukum, segi jurnalistik, dan dari segi hukum.

A. Tinjauan bentuk pelanggaran

Bentuk-bentuk pelanggaran yang lagi marak belakangan ini meliputi tindak kriminalitas, pelanggaran lalu lintas oleh para pengguna motor, pelanggaran HAM, tindak anarkis dan terorisme, KKN dan penyalahdunaan hak dan wewenang, pemerkosaan dan lain sebagainya.

B. Tinjauan Pelaksanaan Hukum

Pelaksanaan hukum sekarang ini dapat dikatakan tidak ada ketegasan sikap terhadap pelanggaran-pelanggaran hukum tersebut. Indicator yang dapat dijadikan parameter adalah banyaknya kasus yang tertunda dan bahkan tidak surut, laporan-laporan dari masyarakat tentang terjadinya pelanggaran kurang ditanggapi.

Bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa pelaksanaan hukum hanya berpihak pada mereka yang secara financial mampu memberikan nilai lebih dan jaminan. Terbukti sekarang dengan adanya auditisasi pada setiap departemen dan menjaring setiap pejabat terbukti korupsi.[10]

C. Tinjauan Jurnalistik

(20)

D. Tinjauan Hukum

Ditinjau dari segi hukum, maka dengan makin banyak pemberitaan tentang pelanggaran hukum, kejahatan, dan kebathilan berarti kesadaran akan banyak terjadinya “onrecht”. Hal ini juga memberikan implikasi makin berkurangnya toleransi dalam masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesadaran hukum masyarakat sekarang ini menurun, yang mau tidak mau mengakibatkan merosotnya kewibawaan masyarakat juga.

Menurut Sudikno Mertokusumo, kesadaran hukum yang rendah cenderung pada perhatiannya dalam menanamkan pengertian tentang kesadaran hukum. Soerjono Soekanto, menambahkan bahwa menurunya kesadaran hukum masyarakat disebabkan juga karena para pejabat kurnag menyadari akan kewajibannya untuk memelihara hukum dan kurangnya pengertian akan tujuan serta fungsi pembangunan.[12]

2.3 Cara-Cara Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat

Kita harus menyadari bahwa setelah mengetahui kesadaran hukum masyarakat dewasa ini, yang menjadi tujuan kita hakikatnya bukanlah semata-mata sekedar meningkatkan kesadaran hukum masyarakat, tetapi juga membina kesadaran hukum masyarakat.

Peningkatan kesadaran hukum masyarakat pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dalam bentuk tindakan (action) dan pendidikan (education).[13]Berikut penjelasannya :

A. Tindakan (action)

Tindakan penyadaran hukum pada masyarakat dapat dilakukan berupa tidakan drastik, yaitu dengan memperberat ancaman hukuman atau dengan lebih mangetatkan pengawasan ketaatan warga negara terhadap undang-undang. Cara ini bersifat isidentil dan kejutan dan bukan merupakan tindakan yang tepat untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat

B. Pendidikan (education)

Pendidikan dapat dilakukan baik secara formal maupun nonformal. Hal yang perlu diperhatikan dan ditanamkan dalam pendidikan formal/nonformal adalah pada pokoknya tentang bagaimana menjadi warganegara yang baik, tentang apa hak serta kewajiban seorang warga negara.

Menanamkan kesadaran hukum berarti menanamkan nilai kebudayaan. Dan nilai-nilai kebudayaan dapat dicapai dengan pendidikan. Oleh karena itu setelah mengetahui kemungkinan sebab-sebab merosotnya kesadaran hukum masyarakat usaha pembinaan yang efektif dan efesien ialah dengan pendidikan.

1. Pendidikan formal

Pendidikan sekolah merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan kesadaran hukum di sekolah harus dilakukan dari tingkat rendah/ TK sampai jenjang pendidikan tinggi ( perguruan tinggi ).

1.a Tingkat TK

(21)

Yang penting dalam pendidikan di Taman Kkanak ialah menanamkan pada anak-anak pengertian bahwa setiap orang harus berbuat baik dan bahwa larangan-larangan tidak boleh dilanggar dan si pelanggar pasti menerima akibatnya

1.b Tingkat SD, SMP, dan SMA

Pada tingkat ini perlu ditanamkan lebih intensif lagi: hak dan kewajiban warga negara Indonesia, susunan negara kita, Pancasila dan Undang-undang Dasar, pasal-pasal yang diterbitkan juga buku-buku bacaan yang berisi cerita-cerita yang heroik.[15]

Secara periodik perlu diadakan kampanye dalam bentuk pekan (pekan kesadaran hukum, pekan lalu lintas dan sebagainya) yang diisi dengan perlombaan-perlombaan (lomba mengarang, lomba membuat motto yang ada hubungannya dengan kesadaran hukum), pemilihan warga negara teladan terutama dihubungkan dengan ketaatan mematuhi peraturan-peraturan.

1.c Tingkat Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggi, khususnya Fakultas Hukum mempunyi peranan penting dalam hal meningkatkan kesadaran hukum masyarakat, karena di dalanya menghasilkan orang-orang yang memiliki pendidikan hukum yang tinggi.

2. Pendidikan Non Formal

Pendidikan non formal ditujukan kepada masyarakat luas meliputi segala lapisan dalam masyarakat. Pedidikan non formal dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : penyuluhan hukum, kampanye,dan pameran. Berikut penjelasannya :

2.a Penyuluhan Hukum

Penyuluhan hukum adakah kegiatan untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat berupa penyampaian dan penjelasan peraturan hukum kepada masyarakat dalam suasana informal agar setiap masyarakat mengetahui dan memahami apa yang menjadi hak, kewajiban dan wewenangnya, sehingga tercipta sikap dan prilaku berdasarkan hukum, yakni

disamping mengetahui, memahami, menghayati sekaligus mematuhi /mentaatinya.[16]

Penyuluhan hukum dapat dilakukan melalui dua cara : pertama, penyuluhan hukum langsung yaitu kegiatan penyuluhan hukum berhadapan dengan masyarakat yang disuluh, dapat berdialog dan bersambung rasa misalnya : ceramah, diskusi, temu, simulasi dan sebagainya. Kedua, penyuluhan hukum tidak langsung yaitu kegiatan penyuluhan hukum yang dilakukan tidak berhadapan dengan masyarakat yang disuluh, melainkan melalui media/perantara,seperti : radio, televisi, video, majalah, surat kabar, film,dan lain sebagainya. Penyuluhan hukum yang tidak langdung dalam bentuk bahan bacaan, terutama ceritera bergambar atau strip yang bersifat heroik akan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran hukum masyarakat. Buku pengangan yang berisi tentang hak dan kewajiban warga negara Indonesia, susunan negara kita, Pancasila dan \Undang-undang Dasar, pasa-pasal yang penting dalam KUHP, bagaimana caranya memperoleh perlindungan hukum perlu diterbitkan.[17]

(22)

martabat manusia, ketertiban, ketentraman, dan terbentuknya perilaku warga negara yang taat pada hukum.[18]

2.b Kampanye

Kampanye peningkatan kesadaran hukum masyarakat dilakukan secara ajeg yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang disusun dan direncanakan,seperti : ceramah, berbagai macam perlombaan, pemilihan warga negara teladan dan lain sebagainya.

2.c Pameran

Suatu pameran mempunyai fungsi yang informatif edukatif. Maka tidak dapat disangkal peranannya yang positif dalam meningkatkan dan membina kesadaran hukum masyarakat. Dalam pameran hendaknya disediakan buku vademecum, brochure serta leaflets di samping diperlihatkan film, slide,VCD dan sebagainya yang merupakan visualisasi kesadaran hukum yang akan memiliki daya tarik masyarakat yang besar.[19]

Dan pada akhirnya dalam upaya mensukseskan peningkatan kesadaran hukum masyarakat masih diperlukan partisipasi dari para pejabat dan pemimpin-pemimpin.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesadaran hukum merupakan cara pandang masyarakat terhadap hukum, apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan terhadap hukum, serta penghormatan terhadap hak-hak orang lain. Kondisi kesadaran hukum masyarakat gapat ditinjau dari empat parameter (dari segi pelanggaran,pelaksanaan hukum,jurnalistik dan dari segi hukum). Pandangan tersebut bukan hanya pertimbangan semata yang bersifat objektif. Kesadaran hukum bukan hanya untuk dipahami dan ditingkatkan melainkan juga harus kita bina agar terbentuk suatu warga negara yang taat pada hukum. Maka dari itu dibutuhkan suatu pendidikan gan penyuluhan hukum.

Berbagai program penyuluhan hukum yang dilakukan selama ini terhadap masyarakat luas terutama yang berada di Desa-Desa dengan target terciptanya masyarakat sadar hukum (Kadarkum) kelihatannya sesuatu yang baik dan ideal. Namun haruslah difahami bersama bahwa kesadaran hukum masyarakat tidak identik dengan kepatuhan hukum hukum masyarakat itu sendiri.

Kepatuhan hukum pada hakikatnya adalah “kesetian” seseorang atau subyek hukum terhadap hukum itu yang diujudkan dalam bentuk prilaku yang nyata, sedang “kesadaran hukum masyarakat” masih bersifat abstrak belum merupakan bentuk prilaku yang nyata yang

(23)

berkembang dimasyarakat kita ternyata lebih banyak mencerminkan bentuk prilaku

opportunis yang dapat diibarat mereka yang berkenderaan berlalu lintas di jalan raya, ketika lampu merah dan kebetulan tidak ada polisi yang jaga maka banyak diantara “mereka” nekat tetap jalan terus dengan tidak mengindahkan atau memperdulikan lampu merah yang sedang menyala.

Apakah dengan begitu mereka yang melanggar lampu merah itu kita katakan tidak sadar hukum dan/atau tidak mengerti apa sebenarnya fungsi keberadaan lampu pengatur lalu-lintas yang ada disimpang-simpang jalan.. ?, terlalu prematur kita katakan mereka tidak sadar hukum.

Mereka sebenarnya sadar tentang perlunya peraturan berlalu-lintas di jalan raya dan lebih dari itu mereka juga sadar telah melanggar lampu merah, tapi masalahnya mereka tidak patuh terhadap peraturan itu. Dan ada lagi sebagai illustrasi kasus seorang anak bangsa di negeri ini yang baru saja melakukan yel-yel (demonstrasi) dengan agenda “tegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu, hukum pejabat yang korup serta konglomerat hitam” namun ketika seorang anak bangsa tersebut usai demostrasi dan bergegas pulang kebetulan di tengah jalan kena razia (cegatan Poltas) dan anak bangsa tersebut kebetulan tidak membawa SIM, malah ngajak Poltas tersebut untuk 86, kata lain untuk “dimengerti” diselesaikan diluar jalur hukum.

Agaknya illustrasi kasus tersebut merupakan representasi dari kebudayaan hukum di Indonesia. Sebagian besar masyarakat kita sadar akan perlunya hukum dan penghormatan terhadap hukum itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun kenyataannya masyarakat kita cenderung tidak patuh pada hukum.

Bahwa kesadaran seseorang tentang hukum ternyata tidak serta merta membuat seseorang tersebut patuh pada hukum karena banyak indikator-indikator sosial lainnya yang

mempengaruhinya. Kepatuhan hukum merupakan dependen variabel maka untuk membangun masyarakat patuh hukum perlu dicari independen variabel atau intervening variabel agar program Pemerintah yang menghendaki terciptanya masyarakat sadar hukum hasilnya dapat dilihat dalam bentuk kepatuhan masyarakat tersebut pada hukum itu sendiri, sehingga tidak diperlukan alat pemaksa (kekuasaan cq Polisi) yang membuat masyarakat takut agar mereka patuh pada hukum.

Namun disisi lain ternyata tidak sedikit pula dalam kenyataannya para Penegak Hukum kita yang tergolong dalam catur wangsa yang dalam melakukan tugasnya menegakkan hukum terutama dalam hukum pidana materiil (KUHP dan Peraturan Perundang-undang lainnya yang mengandung sanksi pidana) justru dilakukannya dengan jalan melanggar hukum pidana formil (KUHAP dan Hukum Acara Pidana lainnya) baik itu disengaja ataupun “tidak

disengaja”, kenyataan ini dapat mengindikasikan sekaligus memberi kesan kuat kepada masyarakat bahwa proses penegakan hukum di Negara kita masih dilakukan dengan setengah hati sekalipun itu di jaman era reformasi ini yang katanya mengedepankan hukum sebagai “panglima”.

Kenyataan ini semakin memberi kesan kuat kepada masyarakat luas bahwa “penegak

hukumpun” di negeri ini “tidak patuh pada hukum”.

(24)

Berbagai program penyuluhan hukum yang dilakukan selama ini terhadap masyarakat luas terutama yang berada di Desa-Desa dengan target terciptanya masyarakat sadar hukum (Kadarkum) kelihatannya sesuatu yang baik dan ideal. Namun haruslah difahami bersama bahwa kesadaran hukum masyarakat tidak identik dengan kepatuhan hukum hukum masyarakat itu sendiri.

Kepatuhan hukum pada hakikatnya adalah “kesetian” seseorang atau subyek hukum terhadap hukum itu yang diujudkan dalam bentuk prilaku yang nyata, sedang “kesadaran hukum masyarakat” masih bersifat abstrak belum merupakan bentuk prilaku yang nyata yang

mengakomodir kehendak hukum itu sendiri. Banyak diantara anggota masyarakat sebenarnya sadar akan perlunya penghormatan terhadap hukum baik secara “instinktif” maupun secara rational namun mereka cenderung tidak patuh terhadap hukum. Kebudayaan hukum yang berkembang dimasyarakat kita ternyata lebih banyak mencerminkan bentuk prilaku

opportunis yang dapat diibarat mereka yang berkenderaan berlalu lintas di jalan raya, ketika lampu merah dan kebetulan tidak ada polisi yang jaga maka banyak diantara “mereka” nekat tetap jalan terus dengan tidak mengindahkan atau memperdulikan lampu merah yang sedang menyala.

Apakah dengan begitu mereka yang melanggar lampu merah itu kita katakan tidak sadar hukum dan/atau tidak mengerti apa sebenarnya fungsi keberadaan lampu pengatur lalu-lintas yang ada disimpang-simpang jalan.. ?, terlalu prematur kita katakan mereka tidak sadar hukum.

Mereka sebenarnya sadar tentang perlunya peraturan berlalu-lintas di jalan raya dan lebih dari itu mereka juga sadar telah melanggar lampu merah, tapi masalahnya mereka tidak patuh terhadap peraturan itu. Dan ada lagi sebagai illustrasi kasus seorang anak bangsa di negeri ini yang baru saja melakukan yel-yel (demonstrasi) dengan agenda “tegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu, hukum pejabat yang korup serta konglomerat hitam” namun ketika seorang anak bangsa tersebut usai demostrasi dan bergegas pulang kebetulan di tengah jalan kena razia (cegatan Poltas) dan anak bangsa tersebut kebetulan tidak membawa SIM, malah ngajak Poltas tersebut untuk 86, kata lain untuk “dimengerti” diselesaikan diluar jalur hukum.

Agaknya illustrasi kasus tersebut merupakan representasi dari kebudayaan hukum di Indonesia. Sebagian besar masyarakat kita sadar akan perlunya hukum dan penghormatan terhadap hukum itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun kenyataannya masyarakat kita cenderung tidak patuh pada hukum.

Bahwa kesadaran seseorang tentang hukum ternyata tidak serta merta membuat seseorang tersebut patuh pada hukum karena banyak indikator-indikator sosial lainnya yang

(25)

variabel agar program Pemerintah yang menghendaki terciptanya masyarakat sadar hukum hasilnya dapat dilihat dalam bentuk kepatuhan masyarakat tersebut pada hukum itu sendiri, sehingga tidak diperlukan alat pemaksa (kekuasaan cq Polisi) yang membuat masyarakat takut agar mereka patuh pada hukum.

Namun disisi lain ternyata tidak sedikit pula dalam kenyataannya para Penegak Hukum kita yang tergolong dalam catur wangsa yang dalam melakukan tugasnya menegakkan hukum terutama dalam hukum pidana materiil (KUHP dan Peraturan Perundang-undang lainnya yang mengandung sanksi pidana) justru dilakukannya dengan jalan melanggar hukum pidana formil (KUHAP dan Hukum Acara Pidana lainnya) baik itu disengaja ataupun “tidak

disengaja”, kenyataan ini dapat mengindikasikan sekaligus memberi kesan kuat kepada masyarakat bahwa proses penegakan hukum di Negara kita masih dilakukan dengan setengah hati sekalipun itu di jaman era reformasi ini yang katanya mengedepankan hukum sebagai “panglima”.

Kenyataan ini semakin memberi kesan kuat kepada masyarakat luas bahwa “penegak

hukumpun” di negeri ini “tidak patuh pada hukum”.

ODAXTOMCAT

HIDUP INI UNTUK TERUS MAJU BUKAN UNTUK TERUS MENGELUH

Makalah konsep kesadaran

hukum dan nilai – nilai hukum

DAFTAR ISI

Kata pengantar……… i

Daftar isi……… ii

BAB 1 PENDAHULUAN ………. 1

1. LATAR BELAKANG ………. 1

2. RUMUSAN MASALAH ……….. 1

BAB II PEMBAHASAN ……… 2

1. Konsep kesadaran hukum dan nilai-nilai ………..

(26)

2. Hubungan kesadaran hukum dan ketaatan hukum ………

3. Arti kepastian hukum ………

4. Macam-macam metode penafsiran hukum ……….

BAB III KESIMPULAN ……….

BAB IV PENUTUP ……….. .

DAFTAR PUSTAKA ………..

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Pada umumnya orang berpendapat bahwa kesadaran hukum yang tinggi mengakibatkan para warga masyarakat mematuhi ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. apabila kesadaran hukum sangat rendah maka derajat kepatuhan terhadap hukum juga tidak tinggi. Dengan demikian pendapat tersebut berkaitan dengan berfungsinya hukum dalam masyarakat atau efektivitas dari ketentuan-ketentuan hukum di dalam pelaksanaannya.Dengan kata lain yang menjadi

permasalahannya,apakah ketentuan hukum benar-benar bisa berfungsi atau tidak dalam masyaraka.

Maka dengan adanya makalah sederhana ini di harapkan masyarakat berkeinginan untuk

mempelajari ilmu hukum karna pada kenyataannya banyak masyarakat yang belum mengerti atau memahami tentang kesadaran dan ketaatan hukum itu sendiri dan semoga dengan mempelajari ilmu hukum,masyarakat akan lebih jauh mengerti mengenai seberapa pentingnya kesadaran dan ketaatan hukum yang sesungguhnya dan masyarakat dapat merealisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari serta masyarakat bisa menjadi masyarakat yang tertib hukum.

(27)

v Jelasakan arti dari konsep kesadaran hukum dan nilai-nilai hukum ?

v Jelaskan hubungan antara kesadaran hukum dengan ketaatan hukum ?

v Jelaskan arti dari kepastian hukum ?

v Jelaskan macam – macam metode penafsiran hukum ?

BAB II

PEMBAHASAN

1. Arti dari konsep kesadaran hukum dan nilai – nilai hukum

Menurut Dra.Rispawati pada bukunya yang berjudul pengantar ilmu hukum dan pengantar tata hukum Indonesia tahun 2005,konsep kesadaran hukum dan nilai – nilai hukum tidak akan pernah lepas dari masalah psikis. Adapun yang di maksud psikis adalah totalitas segala peristiwa kejiwaan baik yang di sadari maupun yang tidak di sadari .kesadaran itu mempunyai dua komponen yaitu fungsi jiwa dan sikap jiwa.

Adapun beberapa definisi tentang konsep kesadaran hukum ialah :

1. sadar ( kesadaran ) adalah kesadaran kehendak dan kesadaran hokum.

2. sadar di artikan merasa,tahu,ingat keadaan sebenarnya dan ingat keadaan dirinya serta tahu pentingnya nilai-nilai hukum yang di terapkan.

3. kesadaran juga di artikan sebagai keadaan tahu,mengerti dan merasa,misalnya tentang harga diri,kehendak hukum dan lainnya.

Ia juga berpendapat bahwa kesadaran hukum yang tinggi bisa membuat para warga masyarakat mematuhi ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.namun sebaliknya,bila kesadaran hukum sangat rendah maka kepatuhan terhadap hukum tidak tinggi.

(28)

Pada umumnya orang berpendapat, bahwa kesadaran hukum yang tinggi, mengakibatkan para warga masyarakat mematuhi ketentuan – ketentuan hukum yang berlaku. Sebaliknya, apabila kesadaran hukum sangat rendah, maka derajat kepatuhan terhadap hukum juga tidak tinggi. Dengan demikian, pendapat tersebut berkaitan dengan berfungsihnya hukum dalam

masyrakat atau efektifitas dari ketentuan – ketentuan hukum didalam pelaksanaannya dengan kata lain apakah ketentuan hukum tertentu berfungsih atau tidak dalam masyarakat.

Dengan demikian, maka masalah kesadaran hukum rakyat banyak, sebenarnya menyangkut factor – factor apakah suatu ketentuan hukum diketahui, diakui, dihargai dan ditaati. Apabila para warga masyarakat, hanya mengetahui adanya suatu ketentuan hukum, maka taraf

kesdaran hukumnya lebih rendah dari pada apabila mereka mengakuinya, dan seterusnya. Hal inilah yang lazim terjadi dalam kalangan sosiologi. Hukum dinamakan “legal

(29)

2. Hubungan antara kesadaran hukum dengan dengan ketaatan hukum

Kesadaran hukum adalah kesadaran diri sendiri tanpa tekanan, paksaan, atau perintah

dari luar untuk tunduk pada hukum yang berlaku. Dengan berjalannya kesadaran hukum di masyarakat, maka hukum tidak perlu menjatuhkan sanksi. Sanksi hanya dijatuhkan pada warga yang benar – benar terbukti melanggar hukum.

Ketaatan hukum adalah ketaatan yang timbul dari kesadaran moral, keinsafan dari dalam diri sendiri yang merupakan sikap batin yang tumbuh dari rasa tanggung jawab.

Kesadaran hukum mempunyai korelasi atau hubungan positif dengan ketaatan hukum, makin tinggi kesadaran hukum seseorang, maka makin tinggi juga ketaatan hukumnya, dengan begitu dapat diharapkan kepenting – kepentingan pribadi, kelompok, masyarakat, dan Negara akan terjamin menurut hukum. Sebaliknya kesadaran hukum yang rendah cenderung pada pelanggaran hukum,dengan berbagai kemungkinan korban dan kerugian yang di deritanya makin rendah kesadarn hukum ,makin banyak pelanggaran ,dan makin besar juga korbannya.

Penafsiran atau interpretasinya adalah menentukan arti atau suatu teks atau bunyi suatu pasal berdasar pada kaitannya.ada beberapa metode penafsiran hukum yang lazim di terapkan yaitu penafsiran gramatikal,penafsiran sistematis,penafsiran histories,dan penafsiran teleologis Indikator – indikator dari kesadaran hukum, sebenarnya merupakan petunjuk yang konkrit tentang adanya taraf kesadaran hukum tertentu. Dengan adanya indikator – indikator tersebut, maka seseorang yang menaruh perhatian terhadap kesadaran hukum, akan dapat mengetahui apa yang sesungguhnya merupakan kesaradn hukum.

Adapun indikator – indikator kesadaran hukum antara lain :

1. Pentahuan hukum, artinya sseorang mengetahui, bahwa perilaku – prilaku tertentu, diatur oleh hukum.

2. Pemahaman hukum, artinya seorang warga masyarakat mempunyai pengetahuan dan pemahaman mengenai aturan – aturan tertentu terutama dari segi isinya.

3. Sikap hukum, artinya seseorang mempunyai kecendrungan untuk mengadakan penilaian tertentu terhadadp hukum.

(30)

3. ARTI KEPASTIAN HUKUM

Kepeastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab secara normatif, bukan sosiologis.kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas danlogis.jelas dalam artian tidak menimbullkan keraguan dan logis dalam artian ia menjadi suatu system norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma.

(31)

4. Macam – macam metode penafsiran hukum

Penafsiran atau interpretasi adalah menentukan arti atau makna suatu teks atau bunyi

suatu pasal berdasar pada kaitannya. Ada beberapa metode penafsiran hukum yang lazim diterapkan, yaitu :

1. Penafsiran gramatikal atau konteks

adalah penafsiran menurut tata bahasa atau kata – kata. Bahasa merupakan saran yang penting bagi hukum. Penafsiran undang – undang itu pada dasarnya selalu merupakan penjelasan dari segi bahasa. Peraturan hukum hendaknya dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tidak mengandung pengertian beraneka ragam. Akan tetapi pembuat UU tidak selamanya dapat melakukannya. Dalam kondisi seperti ini seorang hakim wajib mencari arti kata sesuai dengan kelaziman penggunaan sehari – hari, menggunakan kamus, meminta keterangan dari ahli bahasa, atau dengan mengkaji sejarah penggunaan kata. Misalnya : istilah

‘menggelapkan’ ari pasal 41 KUHP ada kalanya ditafsirkan dengan ‘menghilangkan’.

2. Penafsiran historis

Tiap peraturan perundang – undangan memiliki sejarahnya sendiri. Penafsiran hukum berdasarkan sejarahnya ada 2 macam :pertama, penafsiran menurut sejarah hukum ( recht historische interprestatien ) yang hendak memahami UU dalam konteks sejarah hukum secara luas. Kedua, penafsiran sejarah penetapan peraturan perundang – undangan adalah penafsiran hukum dengan menyelidiki maksud pembuat UU yang bisa di lacak dari dokumen –

dokumen yang berisi tentang proses terjadinya suatu UU sejak dari rancangan hingga di undangkan.

1. Penafsiran sistematis

Terjadinya sebuah UU selalu berkaitan dan berhubungan dengan peraturan perundang – undangan yang lain. Setiap UU atau aturan adalah bagian dari suatu sistim hukum. Menafsirkan UU sebagai bagian dari keseluruhan perundang – undangan dengan jalan menghubungkannya dengan UU yang lain di sebut interprestasi sistematis

Penafsiran sistematis dengan cara mempelajari system dan rumusan UU yang meliputi :

(32)

2. Penafsiran ektensif dan restriktif (bentuk – bentuk yang lemah yang terdahulu secara logis tak ada perbedaan.

1. Penafsiran sosiologis

Dalam penafsiran sosiologis atau peraturan perundang – undangan disesuaikan dengan situasi dan kondisi social yang baru. Peraturan yang sudah usang tetapi masih berlaku

diaktualisasikan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan masa kini. Artinya : Penafsiran sosiaologis ialah sesuatu penafsiran untuk memahami aturan hukum sehingga peraturan tersebut dapat diterapkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat.

1. Penafsiran otentik

(33)

BAB III

A. KESIMPULAN

(34)

BAB IV

PENUTUP

Puji syukur kami panjatkan kehadirat tuhan YME atas pertolongannyalah kami dapat menyejesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Namun demikian kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari sisi substansi isi maupun teknis penulisan, itu semua terpulang pada kami sendiri. Untuk itu kami

menerima saran atau masukan agar kami dapat memperbaiki kekurangan dari makalah ini.

Akhirnya dengan penuh kerendahan hati, kami minta maaf apabila terdapat kesalahan kata atau penulisan dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Sanusi, 1984, Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia, Transito, Bandung

L.J.van Apeldom, 1983 , pengantar ilmu hukum,Pradnya paramita,bandung.

(35)

A . Latar Belakang

Hukum yang dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam masyarakat yang bertujuan

merealisasikan terbentuknya sebuah masyarakat yang nyaman dan berkeadilan, terkadang oleh

segelintir orang tidak diindahkan sebagaimana yang dimaksud di atas. Tidak jarang hukum itu

dicederai, dilanggar bahkan dimanipulasi fungsinya oleh orang yang memang mempunyai

kepentingan, atau orang yang masih menganggap tidak pentingnya sebuah hukum yang ada di

masyarakat.

Para pelaku-pelaku pelanggar ataupun pencedera hukum inilah yang dalam kajian sosiologi

hukum dapat disebut sebagai orang-orang yang tidak sadar dan tidak patuh hukum. Dan makalah

ini membahas tentang kesadaran dan kepatuhan hukum dengan kaitannya dalam masyarakat

sosial.

B . Pengertian Kesadaran dan Kepatuhan Hukum

1. Kesadaran berasal dari kata sadar. yang berarti insaf , merasa, tahu atau mengerti . Menyadari berarti mengetahui, menginsafi, merasai. Kesadaran berarti keinsafan, keadaan mengerti, hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang. Kesadaran hukum dapat berarti adanya keinsyafan, keadaan seseorang yang mengerti betul apa itu hukum, fungsi dan peranan hukum bagi dirinya dan masyarakat sekelilingnya.

2. kepatuhan berasal dari kata patuh. Yang berarti tunduk, taat dan turut. Mematuhi berarti menunduk, menuruti dan mentaati. Kepatuhan berarti

ketundukan,ketaatan keadaan seseorang tunduk menuruti sesuatu atau sesorang. Jadi, dapatlah dikatakan kepatuhan hukum adalah keadaan seseorang warga masyarakat yang tunduk patuh dalam satu aturan main ( hukum ) yang berlaku.

Kesadaran hukum merupakan konsepsi abstrak didalam diri manusia, tentang keserasian antara ketertiban dan ketentraman yang dikehendaki atau sepantasnya. Kesadaran hukum sering dikaitkan dengan pentaatan hukum, pembentukan hukum, dan efektivitas hukum. Kesadaran hukum merupakan kesadaran nilai-nilai yang terdapat dalam manusia tentang hukum yang ada .

Kesadaran hukum berkaitan dengan kepatuhan hukum, hal yang membedakannya yaitu dalam kepatuhan hukum ada rasa takut akan sanksi.

(36)

mengenai penilaian tersebut, yang telah dilakukan secara ilmiah, nilai nilai yang terdapat dalam manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang

diharapkan ada. Indicator kesadaran hukum: 1. Pengetahuan hukum.

2. Pemahaman hukum. 3. Sikap hukum.

4. Pola perilaku hukum.

b. kepatuhan : ada sanksi positif dan negative, ketaatan merupakan variable tergantung, ketaatan hukum tersebut didasarkan kepada kepuasan diperoleh dengan dukungan sosial. Faktor yang menyebabkan masyarakat mematuhi hukum:

1. Compliance:

Kepatuhan yang didasarkan pada harapan akan suatu imbalan dan usaha untuk menghidarkan diri dari hukuman yang mungkin dikenakan apabila seseorang melanggar ketentuan hukum. Adanya pengawasan yang ketat terhadap kaidah hukum tersebut.

2. Identification:

Terjadi bila kepatuhan terhadap kaidah hukum ada bukan karena nilai intrinsiknya, akan tetapi agar ke anggotaan kelompok tetap terjaga serta ada hubungan baik dengan mereka yang diberi wewenang untuk menerapkan kaidah kaidah hukum tersebut.

3. Internalization.

Seseroang mematuhi kaidah kaidah hukum dikarenakan secara intrinsic kepatuhan tadi mempunyai imbalan. Isinya sesuai dengan nilai nilainya dari pribadi yang bersangkutan.

C . Kesadaran dan Kepatuhan Hukum Dalam Budaya Hukum Indonesia Di dalam budaya hukum masyarakat dapat pula dilihat apakah masyarakat kita dalam kesadaran hukumnya sungguh-sungguh telah menjunjung tinggi hukum sebagai suatu aturan main dalam hidup bersama dan sebagai dasar dalam

(37)

belum merupakan bentuk prilaku yang nyata, sekalipun masyarakat kita baik secara instinktif, maupun secara rasional sebenarnya sadar akan perlunya kepatuhan dan penghormatan terhadap hukum yang berlaku. Oleh karenanya sekalipun masyarakat kita sadar terhadap hukum yang berlaku di negaranya, belum tentu masyarakat kita tersebut patuh pada hukum tersebut.

Kepatuhan terhadap hukum adalah merupakan hal yang substansial dalam membangun budaya hukum di negeri ini, dan apakah sebenarnya kepatuhan hukum itu ?. kepatuhan hukum masyarakat pada hakikatnya adalah kesetiaan masyarakat atau subyek hukum itu terhadap hukum yang kesetiaan tersebut diwujudkan dalam bentuk prilaku yang nyata patuh pada hukum. Secara a contra-rio masyarakat tidak patuh pada hukum karena masyarakat tersebut dihadapkan pada dua tuntutan

kesetiaan dimana antara kesetiaan yang satu bertentangan dengan kesetiaan

lainnya. Misalnya masyarakat tersebut dihadapkan pada kesetiaan terhadap hukum atau kesetiaan terhadap “kepentingan pribadinya” yang bertentangan dengan hukum, seperti banyaknya pelanggaran lalu lintas, korupsi, perbuatan anarkisme, dll. Apalagi masyarakat menjadi berani tidak patuh pada hukum demi kepentingan pribadi karena hukum tidak mempunyai kewibawaan lagi,dimana penegak hukum karena kepentingan pribadinya pula tidak lagi menjadi penegak hukum yang baik. Sehingga dalam hal ini, kesetiaan terhadap kepentingan pribadi menjadi pangkal tolak mengapa manusia atau masyarakat kita tidak patuh pada hukum. Jika faktor kesetiaan tidak dapat diandalkan lagi untuk menjadikan masyarakat patuh pada hukum, maka negara atau pemerintah mau tidak mau harus membangun dan

menjadikan rasa takut masyarakat sebagai faktor yang membuat masyarakat patuh pada hukum.Jika kita sudah konsisten membangun negara ini menjadi negara hukum, siapapun harus tunduk kepada hukum. Hukum tidak dapat diberlakukan secara diskriminatif, tidak memihak kepada siapapun dan apapun, kecuali kepada kebenaran dan keadilan itu sendiri. Disitulah letak keadilan hukum. Namun jika hukum diberlakukan diskriminatif, tidak dapat dipercaya lagi sebagai sarana memperjuangkan hak dan keadilan, maka jangan disalahkan jika masyarakat akan memperjuangkan haknya melalui hukum rimba atau kekerasan fisik.

Oleh karenanya hukum harus memiliki kewibawaannya dalam menegakkan supremasi hukum agar masyarakat dapat menghormatinya dalam wujud

(38)

hukum harus dapat merubah masyarakat untuk menjadi lebih baik, lebih teratur, lebih bisa dipercaya untuk memperjuangkan hak dan keadilan, lebih bisa

menciptakan rasa aman. Semoga..!!

D . Penutup

Pada akhirnya perkembangan hukum tidak akan berjalan tanpa adanya kesadaran hukum dan

kepatuhan pelaku –pelaku masyarakat itu dalam menjunjung tinggi supremasi hukum. Di dalam

indonesia negeri kita sendiri ini, kurangnya kepatuhan hukum berawal dari tiadanya kesadaran

hukum. Dan kesadaran hukum harus berawal dari tertanamnya budaya hukum di indonesia.

E . Daftar Pustaka

Raharjo Satjipto, ‘Sisi-Sisi Lain Dari Hukum di Indonesia’, Penerbit Kompas, 2003.

Related Posts

PENDIDIKAN

 RELASI AGAMA DAN NEGARA

 Identitas Nasional

 MAKALAH DEMOKRASI

 TEORI ANTARA AGAMA DAN NEGARA

 FIQH SOSIAL

 Tafsir Al-Misbah M. Quraish Shihab

 KONSTITUSIONALISME

(39)

 DANA TALANGAN HAJI

 PENEGAKAN HUKUM (LAW ENFORCEMENT)

 PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

 HUKUM PROGRESIF

 Hukum Islam Sebagai Sosial Kontrol & Engineering

 DEKLARASI AHAD

 TATA CARA MANDI BERSAMA BERSAMA ISTRI

 19 HADITS NABI MENGENAI WANITA

 HADITS TENTANG QURBAN

 KEMATIAN BISA DIUNDUR

 DIALOG KIAI DAN IBLIS

 CARA ATAU TUNTUNAN SHALAT SESUAI YANG DIAJARKAN RASULULLAH

 CARA MUDAH MENGHADAPI UJIAN

 3 important hours in ramadan

 FILSAFAT SHALAT

 Analisa Bulan Ramadhan 29 Hari

KUMPULAN MAKALAH

 PEMIKIRAN ISLAM KH. ABDURRAHMAN WAHID

 PEMIKIRAN ISLAM MUNAWIR SJADZALI

 PEMIKIRAN HUKUM HAZAIRIN

(40)

 MAKALAH TENTANG NEGARA

 RELASI NEGARA DAN AGAMA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PANCASILA

 MAKALAH DEMOKRASI

 MAKALAH KONSEP DASAR KONSTITUSI

 TEORI ANTARA AGAMA DAN NEGARA

 Fiqih Korupsi

 FIQH SOSIAL

 Tafsir Al-Misbah M. Quraish Shihab

 KHAWARIJ

 KONSTITUSIONALISME

 Istilah-istilah Dalam Filsafat Hukum Islam

 Hak Asasi Manusia (HAM) dan Gender 2

 Kesetaraan Gender dan Hak Asasi Manusia (HAM)

 Pro-kontra Pidana Mati di Indonesia

 DANA TALANGAN HAJI

 PENEGAKAN HUKUM (LAW ENFORCEMENT)

 PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

 HUKUM PROGRESIF

 Hukum Islam Sebagai Sosial Kontrol & Engineering

 Makalah Pengantar Hak Azasi Manusia

at Monday, June 18, 2012

(41)

0 COMMENTS

POST A COMMENT

IF YOU LIKE THIS ARTICLE, PLEASE SHARE OR LEAVE YOUR COMMENT ..

Newer PostsOlder Posts ► Home

Entri Populer

 MAKALAH NORMA HUKUM

NORMA HUKUM MAKALAH Diajukan guna memenuhi tugas dalam mata kuliah Ilmu Perundang-undangan di

susun oleh : 1. Muhamm...

 KONSTITUSIONALISME

Konstitusionalisme adalah suatu sistem yang terlembagakan, menyangkut pembatasan yang efektif dan teratur

terhadap tindakan-tindakan pemeri...

 KESADARAN HUKUM

A . Latar Belakang Hukum yang dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam masyarakat yang

bertujuan merealisasikan terbentuknya se...

 MAKALAH KONSEP DASAR KONSTITUSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara garis besar konstitusi merupakan seperangkat aturan main

dalam kehidupan bernegara yang menga...

 Makalah Lembaga-Lembaga Negara Dari Pusat Sampai Daerah

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Benang merah dari Negara hokum adalah pada penyelenggaraan

urusan kenegaraan dan pemerintahan yang...

Referensi

Dokumen terkait

Tidak lebih dari sikap seorang pria yang membuat dirinya layak mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara memaksimalkan setiap nilai internal dan potensi kualitas yang dia

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan keluarga terhadap tingkat pendidikan anak di Desa Galuhtimur Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes.. Populasi

Untuk menjawab kebutuhan terkait penyusunan laporan keuangan dari satuan kerja BLU maka pada tanggal 2 Desember 2015 Menteri Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala Tuhan seluruh alam atas segala karunia dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peranan

Peningkatan Pengawasan Peredaran barang dan jasa Peningkatan penyelenggaraan perlindungan 50 jenis Terlaksananya pengawasan barang dan jasa 500 pelaku pelaku usaha dan konsumen

Dengan jumlah sebesar ini, anak usia sekolah perlu dijaga, dan dilindungi kesehatannya, pada usia anak sekolah penyakit yang sering dihadapi anak sekolah dasar biasanya

Sinnott (2001) dalam (Nelson (2009) misalnya, menganggap spiritualitas melibatkan hubungan seseorang dengan yang sesuatu yang suci, sakral, besar atau agung, sebagai hal yang

Dan guru juga harus memberikan tugas atau latihan kepada peserta didik agar supaya meraka akan lebih aktif lagi.44 Jadi, dengan demikian dapat saya simpulkan bahwa aktivitas