BAB II
BIOGRAFI AL-GHAZÂLÎ
A. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Nama lengkap al-Ghazâlî adalah Abu Hamîd Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghazâlî.18lahir pada pertengahan abad ke-5 H tahun 450 H/1059 M di desa Taberan Distrik Thus di Khurasan.19 Latar belakang keluarga al-Ghazâlî memiliki ketaatan agama yang cukup baik, ayah al-Ghazâlî bernama Muhammad, seorang muslim yang soleh dan ibu al-Ghazâlî bernama Umm Khair Fatima seorang ibu yang baik dan taat dalam beribadah. Sekalipun orang tua al-Ghazâlî bukan termasuk golongan orang kaya namun orang tua al-Ghazâlî selalu meluangkan waktunya untuk menghadiri majelis-majelis pengajian yang diselenggarakan oleh ulama-ulama.
Ayahnya memiliki semangat yang tinggi dalam mencari ilmu dan selalu berdo’a agar puteranya menjadi seorang ulama yang pandai dan suka memberikan nasehat. Ayah al-Ghazâlî bekerja sebagai seorang pemintal dan pedagang kain wol. Selain al-Ghazâlî ayahnya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Abu Al-Futuh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Tusî Al-Ghazâlî yang dikenal dengan julukan Majuddîn (wafat pada tahun 520 H). Keduanya kemudian menjadi ulama besar, dengan kecenderungan yang berbeda.
18
Abû Bakr ̒Abd al-Razâq, Ma ʻaAl-Ghazâlî Fî Al-Munqîdz min al-Ḏalâl, h. 8. 19
Al-Ghazâlî, Kerancuan Filosof, terj. Ahmad Maimun (Yogyakarta: Islamika, 2003), Cet, I, h. xxix.
Majuddîn lebih cenderung pada kegiatan da’wah dibanding al-Ghazâlî yang menjadi penulis dan pemikir.20
Al-Ghazâlî mengawali pendidikannya di daerah kelahirannya. Pendidikan yang ditanamkan oleh ayahnya sejak kecil yaitu mempelajari al-Qurˊân dan dasar-dasar ilmu keagamaan yang lainnya. Oleh sebab itu, Imam al-Ghazâlî memiliki ketinggian dalam memeroleh ilmu. Menjelang akhir hayat, ayah al-Ghazâlî menitipkan kedua anaknya kepada karibnya, dengan pesan agar kedua anaknya tersebut di berikan pendidikan dengan baik sampai harta peninggalannya habis.21 Setelah ayahnya wafat, al-Ghazâlî dan saudaranya diberikan pendidikan oleh seorang sufi yang mendapat wasiat dari ayahnya, yaitu Ahmad bin Muhammad al-Razîkanî al-Tusî, seorang ahli tasauf dan fiqih dari Tus. Pada awalnya, Ahmad bin Muhammad al-Razîkanî al-Tusî mendidik mereka secara langsung. Namun, setelah harta mereka habis, sementara itu sufi yang mendidik al-Ghazâlî pun sudah tidak mampu lagi untuk memberikan bekal, sehingga sufi tersebut menyarankan agar kedua anak tersebut tetap melanjutkan belajar dengan jalan mengabdi pada sebuah sekolahan di dearah Thus. Kemudian sufi itu memberikan nasihat kepada al-Ghazâlî bahwa tujuan menuntut ilmu bukanlah untuk mencari penghidupan, melainkan semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah SWT dan mencapai pengetahuan tentang Allah SWT secara benar.
Sekolah yang disarankan guru al-Ghazâlî, memberikan kepada para pelajarnya pakaian, makanan, dan fasilitas yang disediakan secara gratis sehingga
20
Abuddin Nata, Pemikiran para tokoh Pendidikan Islam ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), h. 80.
21
menjadi tujuan al-Ghazâlî dalam menuntut ilmu. Di tempat ini yaitu daerah Thus al-Ghazâlî mulai belajar dan dapat menguasai Bahasa Arab dengan fasih, di tempat ini juga al-Ghazâlî memiliki seorang guru sufi yang terkenal yaitu Yusuf al-Nassaj. Dikarenakan minatnya yang mendalam terhadap ilmu, al-Ghazâlî mulai mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, falsafah dan usul fiqih dengan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab dalam ilmu fiqih. Kemudian al-Ghazâlî melanjutkan menuntut ilmunya kepada Alî Nashr al-Ismâʻîl seorang ulama terkenal di Thusi.22
Pada tahun 473 H, yang terletak di daerah Jarajan, al-Ghazâlî berguru kepada Imam Harmayin serta al-Juwaynî, dari Imam Harmayin serta al-Juwaynî al-Ghazâlî memperoleh ilmu, dialektika, ilmu alam, falsafah dan logika.23 Al-Juwaynî kemudian meminta al-Ghazâlî untuk mengajar di sana. Al-Ghazâlî juga belajar tasauf dari al-Farmâdzî dengan mempelajari ajaran syiʻah taʻlimiyah
yang mengklaim dirinya sebagai pemilik otoritas atas kebenaran Tuhan. Ajaran ini merupakan ajaran fundamental Syiʻah Ismâʻîliyah yang sudah lama mereka anut sebelum al-Ghazâlî lahir.
Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa al-Ghazâlî mempunyai pendidikan spiritual yang kuat, sehingga menjadi dasar pembentukan kepribadian dalam perkembangan hidup selanjutnya. Al-Ghazâlî telah dilantik menjadi maha guru di Madrasah Niẕamîah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijriyah. Al-Ghazâlî telah mengembara ke
22
Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam Dari Abu Bakar Sampai Nashr dan Qardhawi
(Jakarta: PT Mizan Publika, 2003), h. 163. 23
beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama, dengan tujuan untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Setelah itu, sekitar tahun 489 H/1096 M, al-Ghazâlî meninggalkan Damaskus menuju Jerusalem. Pada saat itu al-Ghazâlî sempat berziarah ke makam al-Khalîl Ibrahîm sampai kemudian tergerak untuk melakukan ibadah haji. Sebelum kembali ke Jerussalem dari ibadah haji al-Ghazâlî mampir terlebih dahulu ke Baghdad karena rindu kepada keluarganya, namun di Baghdad kehidupan spiritualnya terganggu dan segera al-Ghazâlî berkhalwat. Namun gurunya Abu Nasr di Damaskus sudah meninggal dunia dan akhirnya ke Jerusalem.
Setelah melakukan perjalanan spiritual, al-Ghazâlî menjumpai realitas masyarakat yang mengalami dekadensi moral, sosial dan krisis iman.24 Faktor inilah yang menariknya kembali ke kancah penyebaran ilmu dan melepas baju uzlahnya, akhirnya al-Ghazâlî menerima kembali ajakan penguasa Saljuk yang baru yaitu Fakhr al-Muluk putra Niẕam al-Muluk untuk mengajar kembali di madrasah Naisyapur. Dalam pengembaraannya, al-Ghazâlî menulis kitab Iẖyâ ˊ
ʻUlûm al -Dîn yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat Islam dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
Dari Nasyapur al-Ghazâlî pergi ke Mu’askar sebuah kota yang indah bagi tempat tinggal keluarga Sultan Saljuk, terutama wazirnya yang terkenal adalah Niẕam al-Mulk. Al-Ghazâlî mendapatkan sambutan dan respek yang istimewa dari wazir tersebut. Selama enam tahun di kota itu al-Ghazâlî menghabiskan waktunya dalam forum diskusi dan perdebatan ilmiyah serta merenungkan
24
HM. Zurkani Jahja, Teologi al-Ghazâlî pendekatan metodologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.), h, 66.
kembali ilmu-ilmu yang al-Ghazâlî dapatkan, juga menulis karya tentang ilmu kalam.
Karena kehebatannya, Niẕâm al-Mulk mengangkat al-Ghazâlî menjadi guru besar di bidang fiqh dan teologi sekaligus rektor Universitas Niẕamiyah di Baghdad dalam usia yang relatif muda yaitu 34 tahun.25 Al-Ghazâlî menjadi pengajar dan rektor di universitas tersebut selama kurang lebih 4,5 tahun. Pada fase ini dikenal dengan fase Baghdad di mana al-Ghazâlî banyak menghabiskan waktunya untuk belajar, menelaah buku-buku falsafah secara otodidak dan menulis buku. Maka lahirlah beberapa karya al-Ghazâlî dalam berbagai bidang ilmu, seperti fiqh, ushul fiqh, mantiq, falsafah dan tentang bathiniyah. Beberapa karyanya tersebut tidak hanya bercorak deskriptif, tetapi juga argumentatif berupa penolakan unsur-unsur tertentu.
Di Damaskus al-Ghazâlî merenung, membaca dan menulis, selama kurang lebih dua tahun dengan tasauf yang dijadikan sebagai jalan hidupnya. Kemudian melanjutkan pengembaraannya ke Palestina dan menunaikan haji disana, sekembalinya dari ibadah haji al-Ghazâlî kembali ke Thus, selama rentang waktu itulah al-Ghazâlî mengarang buku-buku seperti Al-Maʻârif al-ʻAqliyah, Miʻyâr al-ʻIlm al-Mantiq dan lain-lain.26 Karena desakan penguasa di masanya, al-Ghazâlî bersedia kembali mengajar di sekolah Nizam pada tahun 499 H. Akan
tetapi hal ini hanya berlangsung selama dua tahun, pada masa inilah, al-Ghazâlî baru menemukan hakekat yang dicarinya, yaitu “Tarîqah Sufi”, jalan hidup abadi.
25
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, h.29. 26
Kemudian al-Ghazâlî mendirikan sebuah sekolah untuk para fuqahâˊ dan sebuah pondok untuk para mutasawwifîn.
Al-Ghazâlî dikenal bukan saja sebagai seorang intelektual, atau ahli Fiqh, tapi juga seorang sufi. Al-Ghazâlî tidak hanya menguasai dan memahami ilmu falsafah, namun juga ilmu pokok-pokok agama (ushûl al-dîn) serta menguasai wacana-wacana mistik Islam (sufisme), yang hingga sekarang ini masih menjadi warisan abadi kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Petualangan ilmunya membawa kepada keraguan epistemologi (skeptis) dalam jiwanya, karena semua ilmu yang al-Ghazâlî pelajari tidak ada yang memuaskan kegelisahan intelektual dan spiritualnya sehingga al-Ghazâlî mempelajari tasauf dengan membaca literatur-literatur ilmu tasauf yang berhubungan dengan perbuatan dan hati seperti karya al-Muhâsibî, al-Junaidi, al-Shiblî, al-Busthâmî dan lain-lain.27
Al-Ghazâlî kemudian pergi ke Damaskus. Di sana, al-Ghazâlî menemui seorang guru sufi bernama Abu Fatah Nasr Ibn Ibrahîm al-Maqdisî al-Nablusî (490 H/1097 M), seorang ulama terkemuka mazhab Syafiʻî, dengan tujuan ingin mencurahkan sepenuhnya pada jalan sufi. Di tempat tersebut al-Ghazâlî tinggal selama 2 tahun dan selama itu pula al-Ghazâlî melakukan uzlah, khalwat, riyâḏah
dan mujâhadah sebagaimana ajaran tasauf yang diperolehnya. Perilakunya itu didedikasikan untuk menjernihkan batin agar mudah berdzikir kepada Allah.
Pada tahun 1110 M al-Ghazâlî kembali ke tanah kelahirannya, kemudian mendirikan madrasah bagi para pengkaji ilmu-ilmu agama dan bagi para sufi, ditempat inilah menghabiskan masa hidupnya sebagai pengajar dan guru sufi yang
27
memiliki murid 150 orang. Al-Ghazâlî wafat pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 H/ Desember tahun 1111 M pada usia 55 tahun.28 Perjalanan intelektual dan spiritual dalam menemukan ketenangan batin dan mengikut jalan sufi dicurahkan dalam autobiografinya yang berjudul al-Munqîzd min al-Ḏalâl Pembebas daripada Kesesatan).
B. Karya Tulis
Diantara karya-karya al-Ghazâlî dapat disebutkan disini sebagai mana telah ditulis oleh Dr. Asmaran AS,MA. Dalam bukunya studi pengantar tasauf. A. Dalam bidang falsafah, antara lain:
1. Maqâsid al-falâsifah 2. Tahâfut al-Falâsifah 3. Al-Maʻârif al-ʻAqliyah 4. Miʻyâr al-ʻIlm al-Mantiq
B. Dalam bidang ilmu kalam, antara lain:
1. Al-Iqtisâd al-Iʻtiqâd 2. Al-Risâlah al-Qudsiyyah
3. Ilgham al-ʻAwwan mâʻan ʻIlm al-Kalâm
C. Dalam bidang fiqih dan Ushul Fiqh, antara lain:
1. Al-Wajîz 2. Al-Wasît 3. Al-Basîth
28
Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam Dari Abu Bakr Sampai Nashr dan Qardlawi
Dalam bidang tasauf, antara lain:
1. IẖyâˊʻUlûm al -Dîn 2. Al-Munqîdz min al-Ḏalâl 3. Minhâj al-ʻÂbidîn
4. Mīzân al-ʻAmal 5. Kîmiyâ al-Saʻâdah 6. Miskat al-Anwâr
7. Ar-Risâlah al-Laduniyyah 8. Bidâyah al-Hidâyah 9. Al-ʻAdab fî al-Dîn
10. Kitâb al-Arbaʻîn.29
Itulah karya-karya al-Ghazâlî yang dapat memberikan pengaruh dan dampak positif kepada agama Islam sehingga khazanah keilmuan Islam pun menjadi berkembang. Dari sekian banyak karya al-Ghazâlî yang sudah disebut di atas, bahwa tidak semua dari karya-karya al-Ghazâlî di atas memuat secara utuh persoalan yang berkaitan dengan pembahasan skripsi ini. Adapun karya-karya yang memuat dan merupakan karya utama yang membahas masalah fisika dan metafisika, antara lain:
1. Iẖyâˊ ʻUlûm al -Dîn, kitab ini diterbitkan ribuan kali diantaranya diterbitkan
oleh Dārul Qalam daerah Bairut.30 IẖyâˊʻUlûm al -Dîn, merupakan bagian-bagian utama dari pandangan al-Ghazâlî dalam usahanya dalam memeroleh kebenaran dengan cara memadukan antara tasauf, logika, falsafah dan fiqih. Tetapi dalam
29
As, Asmaran, Pengantar Studi Tasauf, h. 328. 30
Al-Ghazâlî , Mutiara IẖyâˊʻUlûm al -Dîn, terj. Irwan Kurniawan (Bandung: Mizan, 1997), Cet.I, h. 50.
kitab ini cenderung lebih mengarah kepada ajaran tasauf yang bersifat rohani seperti:
a. Membersihkan hati dari sifat iri hati, sombong, ria. b. Mengkosongkan hati dari hawa nafsu.
c. Mengisi dan menghiasi hati dengan berdzikir.31
2. Al-Munqîdz min al-Ḏalâl,al-Ghazâlî dalam buku ini memberikan pandangan-pandangan dan argumen terhadap failasuf-failasuf yang berkaitan dengan masalah fisika dan metafisika. Selain itu, dalam buku ini al-Ghazâlî mengembangkan pemikirannya serta mereflesikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta menjelaskan jalan menuju Tuhan.32
3. Maqâsid al-falâsifah, sebagaimana yang dijelaskan dalam buku filsafat Islam karangan Dr. Hasyimsyah Nasution, buku ini menjelaskan tentang cara al-Ghazâlî menguraikan serta menjelaskan ajaran-ajaran para filosof yang menganut ajaran Aristolianisme pada masa itu, terutama membahas tentang logika, ketuhanan, dan kealaman.
C.Perkembangan dan Pengaruh Pemikiran al-Ghazâlî
Perkembangan dan pengaruh pemikiran al-Ghazâlî dimulai ketika mencari ilmu pengetahuan tentang kebenaran hakiki, khususnya mengenai epistemologi yang berdasarkan cara-cara dan metode yang digunakan oleh empat kelompok
31
As, Asmaran, Pengantar Studi Tasauf, h. 332. 32
yaitu ; Pertama, kelompok Mutakallimûn. Kedua, kelompok Bâṯiniyyah. Ketiga, kelompok falâsifah. Keempat, kelompok sûfî.33
Pertama, al-Ghazâlî dalam pencarian kebenaran dan pengetahuannya masuk dalam bagian Mutakallimûn (Kelompok ahli Teologia) yang didalamnya terdapat ilmu kalam yang merupakan argumentasi-argumentasi dengan menggunkan dalil-dalil rasional dan membuat penolakan terhadap kaum bid ̒ah
yang tidak sesuai dengan akidah Ahl al-Sunnah. Dalam kelompok ini al-Ghazâlî menganut paham al-Asʻariyah yang berpendapat bahwa kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh manusia seperti mengerjakan perbuatan yang baik, itu ditentukan dan diatur oleh wahyu yang pengetahuan tentang perbuatan baik tersebut dapat diperoleh dengan akal.34 Kemudian kelompok ini menyatakan dirinya sebagai eksponen dari pengetahuan dan pemikiran intelektual. Dalam perjalanan selama kurang lebih dua bulan al-Ghazâlî belum marasakan kepuasan dalam pencariannya, sebab al-Ghazâlî menemukan batasan akal yang dijadikan oleh para teolog sebagai sumber kebenaran.
Kedua, al-Ghazâlî masuk kepada kelompok Bâṯiniyyah, merupakan kelompok dari para pengajar (ta ̒ lîm) yang menyatakan bahwa hanya mereka yang mendapatkan kebenaran dari seorang imam yang sempurna dan tersembunyi. Ketiga, al-Ghazâlî masuk pada bagian Filsafat, yang menyatakan bahwa dirinya sebagai eksponen dari logika (akal) yang digunakan dalam membuktikan
33
Ali Issa Othman, Manusia Menurut al-Ghazâlî, terj. Johan Smith dari buku The Concept of Man in Islam in The Writings of Al-Ghazâlî (Bandung: Pustaka, 1981), 35.
34Harun Nasution, Teologi Islam Islam aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. (Jakarta: UI Press 2002), h. 84-85.
kebenaran, kemudian akal tersebut mampu mengangkat makna yang abstrak.35 Tetapi dalam keadaan ini timbul permasalahan tentang akal bahwa akal terdapat batasan di dalamnya sehingga al-Ghazâlî merasa tidak mendapatkan kepuasan.
Keempat al-Ghazâlî masuk pada bagian Sufi (Tasawuf), kelompok ini menyatakan bahwa hanya merekalah yang mencapai tingkat hadir dengan Allah dan memiliki penglihatan serta pengertian secara Bâṯiniyah.36 Dalam perjalanan pertama yaitu kelompok Mutakallimûn, al-Ghazâlî beranggapan bahwa pengetahuan merupakan hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indera.37 Tetapi, setelah al-Ghazâlî menganalisa dan menyelidiki dengan pengetahuannya melalui panca indera penglihatan ternyata terdapat kepalsuan dan kedustaan. Maka al-Ghazâlî beranggapan bahwa dalam mencari kebenaran dengan kelompok ini tidak bisa menemukan kebenaran yang sempurna, seperti bintang dan matahari dalam pengetahuan melalui indera penglihatan memiliki bentuk yang kecil hanya sebesar mata uang dinar, tetapi dengan menggunakan akal melalui perhitungan geometris bahwa bintang dan matahari memiliki bentuk yang ukurannya lebih besar dari bumi.
Dari penjelasan di atas dapat digambarkan bahwa pola pemikiran serta cara pandang al-Ghazâlî tentang metafisika tidak terlepas dari cara dan metode yang digunakan oleh empat kelompok tersebut yaitu: Pertama, al-Ghazâlî menggunakan akal pikiran dan wahyu, kedua menggunakan panca indera, ketiga menggunakan pengalaman (zawq), sedangkan untuk metodenya menggunakan
35
Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 166. 36
Al-Ghazâlî, IẖyaˊʻUlûm al -Dîn (Mesir: Haramayn, 1957), h. 18. 37
metode induksi (metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi yang disimpulkan dalam pernyataan yang lebih umum) dan deduksi (metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam pernyataan yang lebih runtut).
Al-Ghazâlî mengatakan dalam karyanya Iẖyâˊ ʻUlûm al -Dîn tentang akal bahwa akal pikiran tidak dapat berjalan tanpa pengetahuan, dan sebaliknya pengetahuan tidak dapat berjalan tanpa akal. Oleh karena itu, orang yang mendukung taqlid tanpa menggunakan ilmu intelektual adalah orang yang bodoh, dan orang yang sombong adalah orang yang merasa puas dengan pengetahuan yang dimilikinya tanpa adanya cahaya dari al-Qurˊân dan al-Sunnah.38 Dalam buku yang berjudul Manusia Menurut Al-Ghazâlî yang ditulis oleh Ali Issa Othman bahwa akal pikiran merupakan instrumen pengetahuan baik tentang pengetahuan umum maupun pengetahuan tentang wahyu yang merupakan pembimbing kebenaran agama sehingga antara akal pikiran dan pengetahuan saling membutuhkan.
Ilmu teologi dan falsafah memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam ilmu-ilmu pengetahuan sama halnya dengan al-Ghazâlî yang menempatkan ilmu-ilmu teologi sebagai sub divisi atau bagian-bagian dari pengetahuan yang spekulatif di dalam suatu divisi ilmu pengetahuan umum serta menjadikannya sebagai sub divisi dari ilmu-ilmu dasar (usûl) dari ilmu-ilmu keagamaan seperti; tauhid, logika, al-Qurˊân, hadist termasuk didalamnya ilmu tasawuf. Dalam tasawuf, al-Ghazâlî menggunakan metode perenungan, yaitu kegiatan dari akal pikiran
38
yang mengandung sebuah pemikiran terdasar yang harus dibimbing serta dituntun oleh kebenaran wahyu. Maka menurut teori al-Ghazâlî, pengetahuan dalam mencari kebenaran tidak dapat dipisahkan dari seluruh kepribadian seseorang.39
Al-Ghazâlî memilih titik akhir dalam pencarian ilmu pengetahuannya pada kelompok sufi, karena kebenaran yang ada dalam segala ilmu pengetahuan dapat diyakini kebenarannya apabila sesuai antara pengetahuan dengan kenyataan terutama kenyataan mengenai Tuhan. Kemudian dari pernyataan tersebut, al-Ghazâlî mengungkapkan tujuannya dalam mencari ilmu pengetahuan yaitu mendapatkan nilai-nilai tertinggi dalam agama.
Al-Ghazâlî menunjukkan sikap keraguan terhadap pengetahuan dan kebenaran yang telah diperolehnya, sikap yang dimiliki al-Ghazâlî pada saat itu, merupakan sikap yang menolak dari taqlîd (menerima begitu saja pengetahun yang diajarkan oleh orang lain). Ketika al-Ghazâlî mengalami keraguan (Skeptis)
terhadap pengetahuan dan kebenaran, pertanyaan yang selalu timbul dalam dirinya yaitu, Apakah kepercayaan kepada Allah dapat menjadikan pengetahuan tertentu, jika Allah harus disembah, haruslah Allah diketahui dengan pasti keberadaannya. Pertanyaan ini yang menjadikan perubahan pemikiran al-Ghazâlî, sehingga al-Ghazâlî melakukan perenungan diantaranya, tentang manusia sebagai insan yang serba tahu, sifat dan berbagai perkembangan manusia tentang hubungan manusia dengan pihak luar, baik dengan alam maupun dengan masyarakat serta hubungan manusia dengan Allah. Sampai pada akhir pengetahuannya yang mendalam melalui tasawuf, al-Ghazâlî menemukan sebuah
39
kepastian pemikiran-pemikiran fitri atau aksioma-aksioma yang merupakan satu-satunya dasar bagi dalil-dalil yang benar yang menjadi prasyarat tercapainya suatu keyakinan yang dipercayai oleh akal.40
Dalam skema yang disusun oleh al-Ghazâlî tentang ilmu pengetahuan, al-Ghazâlî memberikan langkah-langkah untuk menjadikan berkembangnya
pengetahuan dalam diri manusia, yaitu: pertama, pengertian penuh tentang al-Qurˊân, kedua, pengetahuan tentang kenyataan (Mukasyafah), ketiga, paham sufi yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu, disiplin diri, pengetahuan praktis (Mu’âmalah), dan bimbingan Ilahi, keempat, pengetahuan intelektual (ʻAqlî), kelima. Pengetahuan keagamaan (Syarʻî) yang dibagi kedalam dua bagian yaitu, cabang-cabang (Furuʻ) dan dasar-dasar (Usûl). 41
Dari pernyataan diatas, untuk mendapatkan pengetahuan memang diperlukan akal pikiran, akan tetapi menurut al-Ghazâlî akal pikiran saja tidak dapat berjalan tanpa pengetahuan, dan sebaliknya pengetahuan tidak dapat berjalan tanpa akal. Oleh karena itu, al-Ghazâlî berpandangan bahwa orang yang mendukung taqlîd tanpa menggunakan ilmu intelektual adalah orang yang bodoh, dan orang yang sombong adalah orang yang merasa puas dengan pengetahuan yang dimilikinya tanpa adanya cahaya dari al-Qurˊân dan al-Sunnah.
40
Ali Issa Othman, Manusia Menurut al-Ghazâlî, h. 40. 41
BAB III
METAFISIKA
A.Pengertian Metafisika
Istilah metafisika berasal dari bahasa Yunani yaitu ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisik”, istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM).42 Metafisika merupakan bagian filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika. Tegasnya tentang realitas kehidupan di alam ini, dengan mempertanyakan yang Ada (being). Secara etimologi meta adalah tidak dapat dilihat oleh panca indera, sedangkan fisika adalah fisik. Jadi, metafisika adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat secara fisik atau metafisika dapat diartikan juga sebagai usaha sistematis, reflektif dan menyeluruh dalam mencari kebenaran yang terletak di belakang hal-hal yang fisik.43
Menurut al-Ghazâlî metafisika adalah kajian yang berhubungan dengan alam yang berada di luar alam fisik, seperti Tuhan dan sifat-sifatNya serta alam akhirat.44 Kajian terhadap metafisika membutuhkan kajian yang lebih teliti dan