Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)
Disusun oleh:
M. Iqbalut Taufiq
NIM: 109033100031
PROGRAM STUDI AQIDAH FALSAFAH
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
sebuah kebutuhan bagi manusia untuk memahami dengan sungguh-sungguh hakikat yang ada. Perjalanan hidup seseorang dapat terarah, apabila dalam diri seseorang tersebut menyadari bahwa dalam metafisika terdapat sebuah ilmu pengetahuan yang merupakan usaha sistematis, reflektif, dan menyeluruh dalam mencari kebenaran yang ada yang terletak di belakang hal-hal yang fisik. Sehingga pembahasan yang dikhususkan mengenai metafisika di sini adalah kajian yang berhubungan dengan sifat kekekalan alam serta kajian yang berada di luar alam fisika (wujûd Tuhan). Seiring dengan perkembangan zaman, problem alam metafisika semakin luas pembahasannya, mulai dari filosof Yunani sampai filosof muslim mengeluarkan argumen dan pemikiran-pemikirannya yang bertujuan untuk dapat menjelaskan dan memahami dunia metafisika. Mayoritas para filosof, untuk memahami dan menjelaskan alam metafisika itu tidak dapat dipisahkan dengan yang namanya alam fisik karena adanya suatu yang berwujûd pasti ada yang menciptakan. Permasalahan wujûd yang akan dimunculkan yaitu penjelasan dan pembagian wujûd Tuhan menurut al-Fârâbî. Pandangan tentang
wujûd menurut al-Fârâbî khususnya tentang pembuktian wujûd dengan membagi akal pertama sampai akal sepuluh, sama halnya dengan pandangan wujûd menurut Neo-Platonis yang menyatakan bahwa alam ini berasal dari wujûd yang perama yang dari wujûd pertama tersebut melahirkan wujûd-wujûd yang lainnya. Berbeda dengan tokoh yang diambil dalam penulisan ini, yaitu al-Ghazâlî seorang tokoh peletak dasar filosofis pertama kali teori iluminasionis (Pengetahuan tentang Tuhan) yang memberikan penjelasan dan gambaran bahwa wujûd Tuhan merupakan wujûd yang Esa (Tunggal) yang keberadaan wujûd nya tidak disebabkan oleh adanya wujûd yang lain, selain itu adanya wujûd Tuhan menjadikan sebab adanya wujûd yang lain. Hal ini dijelaskan dalam karya-karya al-Ghazâlî diantaranya yaitu; Tahâfut al-Falâsifah, Al-Munqîdz min al-Dlalâl dan
ABSTRAK...iv
PEDOMAN TRANSLITERASI...v
KATA PENGANTAR...vi
DAFTAR ISI...vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah...8
C. Tinjauan Pustaka...9
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian...10
E. Metode Penelitian...11
F. Sistematik Penulisan...12
BAB II BIOGRAFI AL-GHAZÂLÎ A. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan...14
B. Karya Tulis...20
C. Perkembangan dan Pengaruh Pemikiran...22
BAB III METAFISIKA A. Pengertian Metafisika...28
B. Sejarah Perkembangan Metafisika...29
C. Metafisika Dalam Pandangan Filosof...37
BAB IV PANDANGAN AL-GHAZÂLÎ TENTANG METAFISIKA DALAM KONSEP FALSAFAH A. Penciptaan Alam...41
B. Wujûd Tuhan...49
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...65
B. Saran...67
ا = a ف = f
ب = b ق = q
ت = t ك = k
ث = ts ل = l
ج = j م = m
ح = ẖ ن = n
خ = kh و = w
د = d ه = h
ذ = dz ء = ˊ
ر = r ى = y
ز = z
س = s Untuk Madd dan Diftong
ش = sy آ = â
ص = s ىٳ = î
ض = ḏ وٲ = û
ط = ṯ وٲ = aw
ظ = ẕ ىٲ = ay
ع = ʻ
1 A. Latar Belakang Masalah
Sebagai sebuah disiplin filsafat, permasalahan metafisika telah dimulai
sejak zaman Yunani kuno, dari filosof-filosof yang membicarakan alam sampai
Aristoteles (284-322 SM). Aristoteles sendiri tidak pernah memakai istilah
”metafisika” tetapi, Aristoteles menyebutnya dengan sebutan filsafat pertama
yaitu suatu disiplin ilmu yang mengkaji hal-hal yang sifatnya di luar fisika, hal
tersebut bertujuan untuk membedakan antara ilmu metafisika dengan ilmu logika,
matematika, fisika, kimia dan lain-lain. Fisika merupakan ilmu yang membahas
berbagai fenomena alam yang memiliki sifat bergerak dan berubah.1 Sedangkan
istilah metafisika yang kita kenal sekarang, berasal dari bahasa Yunani yaitu ta
meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisika”, istilah tersebut pertamakali diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM) terhadap
karya-karya Aristoteles yang disusun sesudah (meta) buku fisika.2
Pada zaman modern ini, permasalahan tentang metafisika akan tetap
berlanjut, karena dalam diri manusia memiliki fitrah untuk mengetahui hakekat
yang ada di alam ini. Apabila dalam diri manusia tidak menyadari fitrahnya yaitu
sebagai ciptaan yang diciptakan oleh Tuhan, maka manusia tersebut tidak
memiliki keyakinan terhadap Tuhan, sehingga timbul dalam dirinya paham
1
Amsal Bakhtiar, Pergulatan Pemikiran Dalam Filsafat Islam: Memahami Alur
Perdebatan Al-Ghazâlî dan Ibn Rusyd, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2004), h.6. 2
atheisme atau tidak percaya kepada adanya Tuhan. Paham tidak percaya terhadap
Tuhan akan menimbulkan keadaan jiwa yang tidak tetap, seperti kegundahan hati,
kebingungan, tidak tenang dan tidak mendapatkan kebahagian dalam hidup,
sehingga menyebabkan semakin jauhnya manusia dari Tuhannya. Selain itu,
penyebab kekeringan spritual seseorang antara lain dapat dideteksi melalui
fenomena kehidupan manusia yang terus dihadapkan pada situasi kepentingannya
sendiri.
Pandangan al-Ghazâlî terhadap metafiska sangatlah luas pembahasannya,
sebagaimana yang telah dijelaskan dalam karya-karya al-Ghazâlî yang berjudul
Tahâfut al-Falâsifah dan Al-Munqîdz min al-Dlalâl. Di antara pembahasannya yaitu mengenai pengetahuan Tuhan, bahwa pengetahuan tuhan hanya mengetahui
yang particular (juzˊiyyât), tentang jiwa yang mempersoalkan sifat jiwa itu sendiri, apakah jiwa bersifat benda atau bukan, selain itu, membahas juga tentang
pembangkitan jasad di hari akhir dan lain-lain.3 Akan tetapi, mengenai pandangan
al-Ghazâlî tentang metafisika yang dijadikan judul dalam skripsi ini, penulis
hanya memfokuskan pembahasan kepada dua permasalahan yaitu:
1. Penciptaan Alam
Al-Ghazâlî memberikan pandangannya tentang metafisika, yang dimulai
dari sebuah keyakinan para filosof yang menyatakan bahwa adanya alam itu
bersifat kekal.4 Permasalahan yang muncul mengenai penciptaan alam adalah
pemikiran tentang sifat kekalnya alam yang berkaitan dengan pencipta, kehendak,
3
Al-Ghazâlî,Tahâfut al-Falâsifah (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985), h 12. 4
pengetahuan Tuhan tentang yang hanya mengetahui hal-hal terperinci (partikular)
serta hubungan alam dengan ruang dan waktu.
Menurut pandangan al-Ghazâlî bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada
yang bersifat hadîts atau tidak kekal yang mengharuskan adanya pencipta.5 Berbeda dengan filosof lain yang mendukung pernyataan bahwa alam kekal
seperti Ibn Sinâ. Menurut Ibn Sinâ alam ini kekal karena terpancar dari akal
pertama yang bersumber dari yang kekal yaitu Tuhan. Pernyataan tersebut
menjadi perbedaan pendapat dikalangan para filosof yang terdahulu maupun
kemudian, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan bahwa apakah yang menjadi
alasan dan bukti bahwa alam itu kekal?,6 dan apakah ada pembuktian secara
rasional tentang kekekalan alam?. Kemudian yang menjadi alasan mengapa
kekekalan alam bukan hanya pembahasan fisika tetapi kepada metafisika, karena
pembahasan tentang alam yang dimulai dari masa Helenisme sejak 4 SM sampai
masa kebangkitan Islam 6-13 M, tidak lagi mempertanyakan asal mula terjadinya
alam berbentuk fisik, tetapi pembahasan alam telah berkembang pembahasannya
kearah non fisik. Artinya sebuah pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dengan
panca indera, seperti pertanyaan alam yang dikaitkan dengan pencipta, kehendak,
sifat dan lain-lain.7
Kemudian permasalahan lain mengenai alam yaitu berkaitan dengan
pengetahuan Tuhan, bahwa Tuhan hanya mengetahui perician dari apa-apa yang
5
Hasyimsyah Nasution , Filsafat Islam, h. 84.
6
Al-Ghazâlî, Tahâfut al-Falâsifah, terj. Ahmadie Thaha (Jakarta: Pustaka,1984), h.15.
7
Al-Ghazâlî, Al-Munqîdz min al-Dlalâl Setitik Cahaya Dalam Kegelapan (akhir
terjadi di alam. Usaha yang dilakukan oleh al-Ghazâlî dalam memberikan
penjelasan bahwa Tuhan mengetahui yang juzˊiyyât yang ada di alam ini, yaitu dengan menghubungkan ayat al-Qurˊân yang terdapat dalam surat al-Hujurât ayat 16. Pembahasan selanjutnya yang dibahas oleh al-Ghazâlî ialah penciptaan alam
yang dihubungkan dengan ruang dan waktu. Dalam hal ini permasalahan yang
muncul adalah apakah adanya alam didahului dengan ruang dan waktu. Menurut
al-Ghazâlî zaman dan ruang adalah hasil imajinasi akal atau perbuatan yang hanya
menghasilkan sebuah khayalan saja, karena itu zaman dan ruang tidak merupakan
sesuatu yang pasti karena waktu dan ruang tidak memiliki wujûd sebelum alam diciptakan.
2. Wujûd Tuhan
Pembahasan mengenai wujûd Tuhan, merupakan pembahasan yang dapat menarik serta mendorong para filosof Yunani maupun filosof Islam untuk
mengkaji lebih dalam, karena pembahasan tentang wujûd Tuhan khususnya dalam Islam, dijadikan sebagai dasar keyakinan (tauhîd) yang kuat untuk dapat menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Di antara filosof Islam
yang mengkaji tentang wujûd Tuhan yaitu; Ibn Sinâ, Suhrawardi dan Mulla
bagaimanakah cara al-Fârâbî membuktikan bahwa Tuhan itu memiliki wujûd yang berbeda dengan wujûd yang lain?.
Al-Fârâbî lahir pada tahun 260-339 H di daerah Faraba, yang merupakan
daerah Persi perbatasan.8 Menurut al-Fârâbî, wujûd dan keberadaan Tuhan tidak disebabkan oleh selain diriNya dan sifat Tuhan tidak menunjukkan adanya
bagian-bagian yang terpisah pada dzat Tuhan.9 Misalnya, seseorang boleh saja
menyebutkan nama-nama Tuhan yang terkandung dalam Asmâˊ al-Husnâ yang diketahuinya, akan tetapi nama tersebut tidak menunjukkan bagian-bagian pada
dzat Tuhan dan sifat yang berbeda dalam diriNya. Melihat pernyataan mengenai
wujûd Tuhan menurut al-Fârâbî menimbulkan pertanyaan bagi al-Ghazâlî yaitu, apakah antara sifat dan dzat memiliki kesamaan dalam hal eksitensi? dan apakah
dzat dalam wujûd Tuhan saling berhubungan?.
Untuk membedakan antara wujûd Tuhan dengan wujûd yang lain, al-Fârâbî membagi wujûd dalam dua bagian yaitu, mumkin al-wujûd dan wâjib
al-wujûd. Yang dimaksud mumkinal-wujûd disini adalah alam ini yang tanpa diri Tuhan tidak mungkin ada dalam bentuk fisik, sedangkan wâjib al-wujûd ialah jika dilihat dari dzatNya, maka Dia wajib adanya, yakni Tuhan ada karena diriNya,
bukan karena sesuatu yang berada di luar diriNya.10 Dalam pembagian kedua
wujûd di atas, al-Ghazâlî memberikan sebuah pertanyaan, apakah antara wâjib
al-wujûd dengan mumkin al-wujûd berasal dari wujûdnya sendiri? dan apakah
8
Al-Ghazâlî, Al-Munqîdz min al-Dlalâl Setitik Cahaya Dalam Kegelapan Pergolakan Intelektual Sang Pencari Kebenaran dalam Telaah Kritis Modern.terj. Masyhur Abadi, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2001), cet. I, h. 149.
9
Hasyimsyah Nasution , Filsafat Islam, h. 36
10
yang menjadi tujuan al-Fârâbî membagi wujûd kedalam dua bagian?. Al-Ghazâlî memberikan pandangan bahwa, apabila wâjib al-wujûd itu berasal dari wujûd itu sendiri, maka mumkin al-wujûd tidak memiliki arti lain kecuali wujûd itu sendiri.11
Adapun persamaan mengenai masalah metafisika antara al-Ghazâlî dengan
al-Fârâbî yaitu terdapat dalam pembahasan yang berhubungan dengan dzat dan
sifat Tuhan yang sama-sama menggunakan dalil agama (syaʻrî) dan dalil akal
(naqli). Pernyataan dan permasalahan-permasalahan mengenai metafisika yang telah dideskripsikan di atas, menjadi salah satu faktor terhadap diri al-Ghazâlî
untuk memberikan pandangan-pandangan dan argumennya.
Al-Ghazâlî menjelaskan pandangan-pandangan terhadap alam metafisika
melalui metode ilmu falsafah, kalam dan tasawuf dengan tujuan untuk menjaga
akidah ahlusunnah terhadap pemikiran ahli bid’ah yang sekiranya tidak sesuai
dengan syara atau pola pemikiran umat Islam yang bersumber kepada al-Qurˊân
dan hadîts.12 Selain itu, tujuan al-Ghazâlî juga ingin menetapkan bahwa hanya Tuhanlah yang qadîm dan Esa, serta berkehendak mutlak yang wujûd dan keesaan Tuhan, tidak disebabkan oleh wujûd yang lain. Sehingga, apabila ada sesuatu
wujûd yang menyebabkan adanya wujûd Tuhan, maka menjadi pertentangan terhadap prinsip dan ajaran agama Islam.
Dari pernyataan di atas dapat digambarkan alasan dan tujuan mengapa
al-Ghazâlî memberikan pandangan mengenai metafisika. Adapun perbedaan dan
11
Al-Ghazâlî,Tahâfut al-Falâsifah, h. 79.
12
persamaan mengenai permasalahan metafisika dapat disimpulkan bahwa
perbedaan tersebut terdapat dalam cara pandang yang digunakan oleh
masing-masing filosof untuk memeroleh kebenaran yang berhubungan dengan metafisika.
Dalam epistemologi Islam, cara memeroleh kebenaran metafisika berbeda-beda,
ada yang mengunakan metode perenungan (contemplation), pencerapan (perception) dan pengalaman (experience/dzawq), penalaran (concept). Sedangkan sarana atau alat yang digunakan adalah akal dan hati.13
Al-Fârâbî merupakan seorang filosof muslim yang mendapat sebutan
sebagai “guru kedua”.14 Alasan pernyataan tersebut karena al-Fârâbî merupakan
filosof Muslim yang pertamakali memperkenalkan ilmu logika dalam Islam.
Sehingga dalam epistemologinya, khususnya dalam menjelasakan wujûd Tuhan, al-Fârâbî banyak menggunakan logika yang merupakan cabang ilmu falsafah yang
berpusat pada akal (pemikiran) serta lebih menggunakan metode taˊwîl.15
Berbeda dengan al-Ghazâlî yang menjelaskan metafisika bukan hanya
dengan metode falsafah akan tetapi dengan menggunakan metode tasawuf yang
berupa perenungan dan pengalaman yang khususnya berkaitan dengan proses
bagaimana menjelaskan wujûd Tuhan.16 Sebab menurut al-Ghazâlî, jalan tasawuf merupakan ilmu yang mengandung kesempurnaan ilmu dan amal, memutuskan
jalannya nafsu, membersihkan dari akhlak yang tercela serta sifat yang jelek.
13
Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam. (Jakarta:UIPress, 2006.), h.12.
14
Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam (jakarta: Bulan Bintang, 1964), h. 88. 15
Miska Muhammad Amin, Epistemologi Islam Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam, h. 46. 16
Adapun alat untuk memeroleh kebenaran metafisika dalam metode tasawuf adalah
hati, karena dengan hati dapat memeroleh nilai-nilai tertinggi dalam agama.17
Dengan kata lain, letak perbedaan antara al-Ghazâlî dengan al-Fârâbî
tentang metafisika terdapat dalam metodologi yang tidak terlepas pada alat atau
sarana yang digunakan, apakah bersifat rasionalis atau empiris. Meskipun telah
terjadi sebuah perselisihan dan perbedaan ideologi di antara al-Ghazâlî dengan
al-Fârâbî, mereka tetap menemukan satu titik temu yang sama sebagai pencipta
dan sumber dari pengetahuan yaitu zat yang hakiki (Tuhan).
Pada pembahasan skripsi ini, penulis mencoba untuk mengambil judul
pandangan al-Ghazâlî tentang metafisika. Hal ini penulis lakukan karena belum
ada yang membahas secara rinci tentang judul tersebut, sehingga penulis tertarik
untuk membahasnya. Adapun dalam penulisan ini, yang menjadi alasan dalam
pengambilan judul tersebut yaitu untuk menambah nilai-nilai ketahuhidan serta
memberikan pengetahuan tentang alam metafisika.
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami masalah yang dibahas,
penulis perlu mengadakan pembatasan dan perumusan masalah yang sesuai
dengan judul yang dimaksud. Dalam hal ini penulis membatasi permasalahan
disekitar pandangan al-Ghazâlî terhadap metafisika dalam konsep falsafah yang
berkaitan dengan penciptaan alam dan wujûd Tuhan. Adapun perumusan dalam skripsi ini adalah:
17
1. Bagaimana perspektif al-Ghazâlî tentang metafisika yang berhubungan
dengan penciptaan alam dan wujûd Tuhan?
2. Apakah yang menjadi alasan dan tujuan al-Ghazâlî memberikan pandangan
tentang hal tersebut?
3. Masalah apa saja yang muncul mengenai penciptaan alam dan wujûd Tuhan?
Dengan batasan tersebut penulis memfokuskan batasan dan rumusan
masalah, yaitu bagaimana al-Ghazâlî memandang permasalahan yang timbul
mengenai penciptaan alam dan wujûd Tuhan.
C. Tinjauan Pustaka
Pembahasan mengenai pandangan al-Ghazâlî tentang metafisika
tampaknya sangat memberikan arti yang sangat besar bagi penulis dalam
menambah informasi dan pemahaman untuk melengkapi dan memperdalam kajian
dalam skripsi ini. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan tinjauan pustaka
terhadap karya-karya al-Ghazâlî, khususnya dalam kajian falsafah.
Berdasarkan data katalog Perpustakaan Umum dan Fakultas Ushuluddin
UIN Jakarta penulis hanya menemukan tiga karya yang penulis anggap
berhubungan dengan skripsi yang sedang penulis garap ini. Adapun tiga karya
tersebut yaitu:
Pertama. Disertasi yang berjudul Pergulatan Pemikiran Dalam Filsafat
pada tahun 2004 M/1424 H. Tulisan itu membahas perdebatan antara al-Ghazâlî
dengan Ibn Rusyd dalam persoalan metafisika, perbedaan pandangan dan
pemikiran antara kedua tokoh tersebut terlihat jelas ketika masing-masing tokoh
tersebut memberikan pandangan dan argumennya yang berkaitan dengan
permasalahan metafisika. Adapun pembahasan metafiska dalam disertasi ini
diantaranya menjelaskan pengetahuan Tuhan tentang hal-hal terperinci, kekekalan
alam, kebangkitan jasad di akhirat, hukum kausalitas dan mukjizat dan lain-lain.
Kedua. Skripsi yang berjudul Epistemologi Menurut al-Kindî dan
al-Ghazâlî. Skripsi ini ditulis oleh Fauzi Fauzan El-Muhammady, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah dan Filsafat pada tahun 2003 M/1423 H yang isinya
membahas tentang pandangan al-Kindî dan al-Ghazâlî terhadap kebenaran dengan
pendekatan komperatif di antara tokoh tersebut. Selain itu, skripsi ini membahas
pemikiran al-Kindî dan al-Ghazâlî dalam menyikapi terjadinya proses
pengetahuan tentang hakekat kebenaran.
Ketiga. Skripsi yang berjudul Perenialisme Dalam Tasauf yang ditulis oleh Taufik Ismail, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah dan Filsafat pada tahun
2005 M/1426 H. Skripsi ini membahas tentang Tuhan yang dijadikan sebagai
wujûd absolut dan mutlak, selain itu skripsi ini membahas tentang pluralisme agama serta usaha untuk menelusuri kesadaran religius.
Yang membedakan skripsi ini dengan skripsi yang lain diantaranya:
a. Dalam skripsi ini pembahasan lebih memfokuskan pandangan al-Ghazâlî
b. Memberikan perbedaan dan persamaan pemikiran antara al-Ghazâlî dan
filosof-filosof lain seperti al-Fârâbî dan Ibn Sinâ tentang permasalahan
mengenai metafisika dalam hal penciptaan alam serta wujûd Tuhan.
D.Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini dibagi menjadi dua, yakni tujuan umum dan khusus.
Secara umum penelitian ini ditujukan untuk menjelaskan dan membahas
pandangan al-Ghazâlî tentang metafisika dalam konsep falsafah, dengan mengenal
lebih dalam sejarah kehidupan, pemikiran, dan karya-karya al-Ghazâlî. Sedangkan tujuan khususnya, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rumusan masalah
adalah untuk mengetahui pandangan al-Ghazâlî terhadap permasalahan metafisika
yang berhubungan dengan penciptaan alam dan wujûd Tuhan. Penelitian ini diharapkan memiliki nilai akademis yang dapat memberikan kontribusi bagi
pengembangan ilmu dalam bidang keagamaan sehingga dapat menambah
khazanah ilmu pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Selain itu, penelitian ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Strata
Satu (S1), bagi penulis.
E. Metode Penelitian
Dalam membahas permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan,
penulis melakukan penelitian ini dengan menggunakan penelitian pustaka (library
dipublikasikan dalam bentuk buku yang berkaitan langsung maupun tidak
langsung dengan penelitian ini. Sumber primer dari penelitan ini adalah kitab
IẖyâˊʻUlûm al -Dîn (Kairo: Ḥaramayn, 1957), Al-Munqîdz min al-Dlalâl (Kairo:
Dār al-Qawmiyyah,1948), dan Tahâfut al-Falâsifah, terj. Ahmadie Thaha (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985). Sedangkan buku-buku sekunder dari penelitian
ini adalah buku-buku yang membahas seluk beluk pemikiran dan sejarah
pengalaman al-Ghazâlî, di antaranya adalah: Ali Issa Otman, Manusia Menurut
al-Ghazâlî, terj. Johan Smith, Anas Mahyuddin dan Yusuf (Bandung: Pustaka, 1981), Prof, Yûsûf Qarḏawî, Al-Ghazâlî antara Pro dan Kontra (Surabaya: Pustaka Progresif, 1996); Ahmad Syamsuddîn, Al-Fârâbî Hayâtuhu, Atsâruhu,
Falsafatuhu. Bairut: Daar al-Kitab al-̕̕ Ilmiayah, 1999, Al-Ghazâlî, Minhâj
al-‘Âbidîn, terj. Abul Hiyadh (Jakarta: Pustaka Amani, 1986); Harun Nasution,
Falsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 2008) dan lain-lain. Secara teknis, analisis data yang digunakan bersifat kualitatif dengan
teknik pembahasan deskriptif analitis yang bertujuan untuk menjelaskan
pandangan al-Ghazâlî terhadap metafisika dalam konsep falsafah yang berkaitan
dengan kekekalan alam dan wujûd Tuhan. Sementara teknik penulisan dalam skripsi ini disesuaikan dengan Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis,
dan Disertasi) yang diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Devlopment and
F. Sistematika Penulisan
Secara garis besar skripsi ini terdiri dari lima bab, setiap bab terdiri dari
sub-sub yang disusun secara sistematis yaitu sebagai berikut:
Bab I, merupakan bab pendahuluan, dalam pendahuluan ini akan dibahas
mengenai sub-sub yaitu: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II, membahas seputar biografi al-Ghazâlî. Bab ini dibagi menjadi
tiga sub bab yaitu: latar belakang keluarga dan pendidikan, karya-karyanya dan
perkembangan serta pengaruh pemikiran.
Bab III, membahas definisi metafiska. Bab ini menjelaskan tentang
pengertian metafisika, sejarah perkembangan metafisika, metafiska dalam
pandangan filosof
Bab IV, membahas pandangan al-Ghazâlî tentang metafisika dalam
konsep falsafah. Bab ini menjelaskan tentang: problematika metafisika
mengenai penciptaan alam, problematika tentang wujûd Tuhan dan hubungan antara alam dengan wujûd Tuhan.
BAB II
BIOGRAFI AL-GHAZÂLÎ
A. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Nama lengkap al-Ghazâlî adalah Abu Hamîd Ibn Muhammad Ibn
Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghazâlî.18lahir pada pertengahan abad ke-5 H tahun
450 H/1059 M di desa Taberan Distrik Thus di Khurasan.19 Latar belakang
keluarga al-Ghazâlî memiliki ketaatan agama yang cukup baik, ayah al-Ghazâlî
bernama Muhammad, seorang muslim yang soleh dan ibu al-Ghazâlî bernama
Umm Khair Fatima seorang ibu yang baik dan taat dalam beribadah. Sekalipun
orang tua al-Ghazâlî bukan termasuk golongan orang kaya namun orang tua
al-Ghazâlî selalu meluangkan waktunya untuk menghadiri majelis-majelis
pengajian yang diselenggarakan oleh ulama-ulama.
Ayahnya memiliki semangat yang tinggi dalam mencari ilmu dan selalu
berdo’a agar puteranya menjadi seorang ulama yang pandai dan suka memberikan
nasehat. Ayah al-Ghazâlî bekerja sebagai seorang pemintal dan pedagang kain
wol. Selain al-Ghazâlî ayahnya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama
Abu Al-Futuh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Tusî
Al-Ghazâlî yang dikenal dengan julukan Majuddîn (wafat pada tahun 520 H).
Keduanya kemudian menjadi ulama besar, dengan kecenderungan yang berbeda.
18
Abû Bakr ̒Abd al-Razâq, Ma ʻaAl-Ghazâlî Fî Al-Munqîdz min al-Ḏalâl, h. 8. 19
Al-Ghazâlî, Kerancuan Filosof, terj. Ahmad Maimun (Yogyakarta: Islamika, 2003), Cet, I, h. xxix.
Majuddîn lebih cenderung pada kegiatan da’wah dibanding al-Ghazâlî yang
menjadi penulis dan pemikir.20
Al-Ghazâlî mengawali pendidikannya di daerah kelahirannya. Pendidikan
yang ditanamkan oleh ayahnya sejak kecil yaitu mempelajari al-Qurˊân dan
dasar-dasar ilmu keagamaan yang lainnya. Oleh sebab itu, Imam al-Ghazâlî memiliki
ketinggian dalam memeroleh ilmu. Menjelang akhir hayat, ayah al-Ghazâlî
menitipkan kedua anaknya kepada karibnya, dengan pesan agar kedua anaknya
tersebut di berikan pendidikan dengan baik sampai harta peninggalannya habis.21
Setelah ayahnya wafat, al-Ghazâlî dan saudaranya diberikan pendidikan oleh
seorang sufi yang mendapat wasiat dari ayahnya, yaitu Ahmad bin Muhammad
al-Razîkanî al-Tusî, seorang ahli tasauf dan fiqih dari Tus. Pada awalnya, Ahmad
bin Muhammad al-Razîkanî al-Tusî mendidik mereka secara langsung. Namun,
setelah harta mereka habis, sementara itu sufi yang mendidik al-Ghazâlî pun
sudah tidak mampu lagi untuk memberikan bekal, sehingga sufi tersebut
menyarankan agar kedua anak tersebut tetap melanjutkan belajar dengan jalan
mengabdi pada sebuah sekolahan di dearah Thus. Kemudian sufi itu memberikan
nasihat kepada al-Ghazâlî bahwa tujuan menuntut ilmu bukanlah untuk mencari
penghidupan, melainkan semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah SWT
dan mencapai pengetahuan tentang Allah SWT secara benar.
Sekolah yang disarankan guru al-Ghazâlî, memberikan kepada para
pelajarnya pakaian, makanan, dan fasilitas yang disediakan secara gratis sehingga
20
Abuddin Nata, Pemikiran para tokoh Pendidikan Islam ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), h. 80.
21
menjadi tujuan al-Ghazâlî dalam menuntut ilmu. Di tempat ini yaitu daerah Thus
al-Ghazâlî mulai belajar dan dapat menguasai Bahasa Arab dengan fasih, di
tempat ini juga al-Ghazâlî memiliki seorang guru sufi yang terkenal yaitu Yusuf
al-Nassaj. Dikarenakan minatnya yang mendalam terhadap ilmu, al-Ghazâlî mulai
mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, falsafah dan usul fiqih dengan
mempelajari segala pendapat keeempat mazhab dalam ilmu fiqih. Kemudian
al-Ghazâlî melanjutkan menuntut ilmunya kepada Alî Nashr al-Ismâʻîl seorang
ulama terkenal di Thusi.22
Pada tahun 473 H, yang terletak di daerah Jarajan, al-Ghazâlî berguru
kepada Imam Harmayin serta al-Juwaynî, dari Imam Harmayin serta al-Juwaynî
al-Ghazâlî memperoleh ilmu, dialektika, ilmu alam, falsafah dan logika.23
Al-Juwaynî kemudian meminta al-Ghazâlî untuk mengajar di sana. Al-Ghazâlî
juga belajar tasauf dari al-Farmâdzî dengan mempelajari ajaran syiʻah taʻlimiyah yang mengklaim dirinya sebagai pemilik otoritas atas kebenaran Tuhan. Ajaran
ini merupakan ajaran fundamental Syiʻah Ismâʻîliyah yang sudah lama mereka anut sebelum al-Ghazâlî lahir.
Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa al-Ghazâlî mempunyai
pendidikan spiritual yang kuat, sehingga menjadi dasar pembentukan kepribadian
dalam perkembangan hidup selanjutnya. Al-Ghazâlî telah dilantik menjadi maha
guru di Madrasah Niẕamîah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana
menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijriyah. Al-Ghazâlî telah mengembara ke
22
Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam Dari Abu Bakar Sampai Nashr dan Qardhawi (Jakarta: PT Mizan Publika, 2003), h. 163.
23
beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa
dengan ulama-ulama, dengan tujuan untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang
ada. Setelah itu, sekitar tahun 489 H/1096 M, al-Ghazâlî meninggalkan Damaskus
menuju Jerusalem. Pada saat itu al-Ghazâlî sempat berziarah ke makam al-Khalîl
Ibrahîm sampai kemudian tergerak untuk melakukan ibadah haji. Sebelum
kembali ke Jerussalem dari ibadah haji al-Ghazâlî mampir terlebih dahulu ke
Baghdad karena rindu kepada keluarganya, namun di Baghdad kehidupan
spiritualnya terganggu dan segera al-Ghazâlî berkhalwat. Namun gurunya Abu
Nasr di Damaskus sudah meninggal dunia dan akhirnya ke Jerusalem.
Setelah melakukan perjalanan spiritual, al-Ghazâlî menjumpai realitas
masyarakat yang mengalami dekadensi moral, sosial dan krisis iman.24 Faktor
inilah yang menariknya kembali ke kancah penyebaran ilmu dan melepas baju
uzlahnya, akhirnya al-Ghazâlî menerima kembali ajakan penguasa Saljuk yang
baru yaitu Fakhr al-Muluk putra Niẕam al-Muluk untuk mengajar kembali di
madrasah Naisyapur. Dalam pengembaraannya, al-Ghazâlî menulis kitab Iẖyâ ˊ ʻUlûm al -Dîn yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat Islam dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
Dari Nasyapur al-Ghazâlî pergi ke Mu’askar sebuah kota yang indah bagi
tempat tinggal keluarga Sultan Saljuk, terutama wazirnya yang terkenal adalah
Niẕam al-Mulk. Al-Ghazâlî mendapatkan sambutan dan respek yang istimewa
dari wazir tersebut. Selama enam tahun di kota itu al-Ghazâlî menghabiskan
waktunya dalam forum diskusi dan perdebatan ilmiyah serta merenungkan
24
kembali ilmu-ilmu yang al-Ghazâlî dapatkan, juga menulis karya tentang ilmu
kalam.
Karena kehebatannya, Niẕâm al-Mulk mengangkat al-Ghazâlî menjadi
guru besar di bidang fiqh dan teologi sekaligus rektor Universitas Niẕamiyah di
Baghdad dalam usia yang relatif muda yaitu 34 tahun.25 Al-Ghazâlî menjadi
pengajar dan rektor di universitas tersebut selama kurang lebih 4,5 tahun. Pada
fase ini dikenal dengan fase Baghdad di mana al-Ghazâlî banyak menghabiskan
waktunya untuk belajar, menelaah buku-buku falsafah secara otodidak dan
menulis buku. Maka lahirlah beberapa karya al-Ghazâlî dalam berbagai bidang
ilmu, seperti fiqh, ushul fiqh, mantiq, falsafah dan tentang bathiniyah. Beberapa
karyanya tersebut tidak hanya bercorak deskriptif, tetapi juga argumentatif berupa
penolakan unsur-unsur tertentu.
Di Damaskus al-Ghazâlî merenung, membaca dan menulis, selama kurang
lebih dua tahun dengan tasauf yang dijadikan sebagai jalan hidupnya. Kemudian
melanjutkan pengembaraannya ke Palestina dan menunaikan haji disana,
sekembalinya dari ibadah haji al-Ghazâlî kembali ke Thus, selama rentang waktu
itulah al-Ghazâlî mengarang buku-buku seperti Al-Maʻârif al-ʻAqliyah, Miʻyâr
al-ʻIlm al-Mantiq dan lain-lain.26 Karena desakan penguasa di masanya, al-Ghazâlî bersedia kembali mengajar di sekolah Nizam pada tahun 499 H. Akan
tetapi hal ini hanya berlangsung selama dua tahun, pada masa inilah, al-Ghazâlî
baru menemukan hakekat yang dicarinya, yaitu “Tarîqah Sufi”, jalan hidup abadi.
25
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, h.29. 26
Kemudian al-Ghazâlî mendirikan sebuah sekolah untuk para fuqahâˊ dan sebuah pondok untuk para mutasawwifîn.
Al-Ghazâlî dikenal bukan saja sebagai seorang intelektual, atau ahli Fiqh,
tapi juga seorang sufi. Al-Ghazâlî tidak hanya menguasai dan memahami ilmu
falsafah, namun juga ilmu pokok-pokok agama (ushûl al-dîn) serta menguasai wacana-wacana mistik Islam (sufisme), yang hingga sekarang ini masih menjadi
warisan abadi kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Petualangan ilmunya
membawa kepada keraguan epistemologi (skeptis) dalam jiwanya, karena semua ilmu yang al-Ghazâlî pelajari tidak ada yang memuaskan kegelisahan intelektual
dan spiritualnya sehingga al-Ghazâlî mempelajari tasauf dengan membaca
literatur-literatur ilmu tasauf yang berhubungan dengan perbuatan dan hati seperti
karya al-Muhâsibî, al-Junaidi, al-Shiblî, al-Busthâmî dan lain-lain.27
Al-Ghazâlî kemudian pergi ke Damaskus. Di sana, al-Ghazâlî menemui
seorang guru sufi bernama Abu Fatah Nasr Ibn Ibrahîm al-Maqdisî al-Nablusî
(490 H/1097 M), seorang ulama terkemuka mazhab Syafiʻî, dengan tujuan ingin
mencurahkan sepenuhnya pada jalan sufi. Di tempat tersebut al-Ghazâlî tinggal
selama 2 tahun dan selama itu pula al-Ghazâlî melakukan uzlah, khalwat, riyâḏah dan mujâhadah sebagaimana ajaran tasauf yang diperolehnya. Perilakunya itu didedikasikan untuk menjernihkan batin agar mudah berdzikir kepada Allah.
Pada tahun 1110 M al-Ghazâlî kembali ke tanah kelahirannya, kemudian
mendirikan madrasah bagi para pengkaji ilmu-ilmu agama dan bagi para sufi,
ditempat inilah menghabiskan masa hidupnya sebagai pengajar dan guru sufi yang
27
memiliki murid 150 orang. Al-Ghazâlî wafat pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 H/
Desember tahun 1111 M pada usia 55 tahun.28 Perjalanan intelektual dan spiritual
dalam menemukan ketenangan batin dan mengikut jalan sufi dicurahkan dalam
autobiografinya yang berjudul al-Munqîzd min al-Ḏalâl Pembebas daripada Kesesatan).
B. Karya Tulis
Diantara karya-karya al-Ghazâlî dapat disebutkan disini sebagai mana
telah ditulis oleh Dr. Asmaran AS,MA. Dalam bukunya studi pengantar tasauf.
A. Dalam bidang falsafah, antara lain:
1. Maqâsid al-falâsifah 2. Tahâfut al-Falâsifah 3. Al-Maʻârif al-ʻAqliyah 4. Miʻyâr al-ʻIlm al-Mantiq
B. Dalam bidang ilmu kalam, antara lain:
1. Al-Iqtisâd al-Iʻtiqâd 2. Al-Risâlah al-Qudsiyyah
3. Ilgham al-ʻAwwan mâʻan ʻIlm al-Kalâm
C. Dalam bidang fiqih dan Ushul Fiqh, antara lain:
1. Al-Wajîz
2. Al-Wasît 3. Al-Basîth
28
Dalam bidang tasauf, antara lain:
1. IẖyâˊʻUlûm al -Dîn
2. Al-Munqîdz min al-Ḏalâl 3. Minhâj al-ʻÂbidîn
4. Mīzân al-ʻAmal 5. Kîmiyâ al-Saʻâdah 6. Miskat al-Anwâr
7. Ar-Risâlah al-Laduniyyah 8. Bidâyah al-Hidâyah 9. Al-ʻAdab fî al-Dîn
10. Kitâb al-Arbaʻîn.29
Itulah karya-karya al-Ghazâlî yang dapat memberikan pengaruh dan
dampak positif kepada agama Islam sehingga khazanah keilmuan Islam pun
menjadi berkembang. Dari sekian banyak karya al-Ghazâlî yang sudah disebut di
atas, bahwa tidak semua dari karya-karya al-Ghazâlî di atas memuat secara utuh
persoalan yang berkaitan dengan pembahasan skripsi ini. Adapun karya-karya
yang memuat dan merupakan karya utama yang membahas masalah fisika dan
metafisika, antara lain:
1. Iẖyâˊ ʻUlûm al -Dîn, kitab ini diterbitkan ribuan kali diantaranya diterbitkan
oleh Dārul Qalam daerah Bairut.30 IẖyâˊʻUlûm al -Dîn, merupakan bagian-bagian utama dari pandangan al-Ghazâlî dalam usahanya dalam memeroleh kebenaran
dengan cara memadukan antara tasauf, logika, falsafah dan fiqih. Tetapi dalam
29
As, Asmaran, Pengantar Studi Tasauf, h. 328. 30
kitab ini cenderung lebih mengarah kepada ajaran tasauf yang bersifat rohani
seperti:
a. Membersihkan hati dari sifat iri hati, sombong, ria.
b. Mengkosongkan hati dari hawa nafsu.
c. Mengisi dan menghiasi hati dengan berdzikir.31
2. Al-Munqîdz min al-Ḏalâl,al-Ghazâlî dalam buku ini memberikan pandangan-pandangan dan argumen terhadap failasuf-failasuf yang berkaitan dengan masalah
fisika dan metafisika. Selain itu, dalam buku ini al-Ghazâlî mengembangkan
pemikirannya serta mereflesikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta
menjelaskan jalan menuju Tuhan.32
3. Maqâsid al-falâsifah, sebagaimana yang dijelaskan dalam buku filsafat Islam karangan Dr. Hasyimsyah Nasution, buku ini menjelaskan tentang cara al-Ghazâlî
menguraikan serta menjelaskan ajaran-ajaran para filosof yang menganut ajaran
Aristolianisme pada masa itu, terutama membahas tentang logika, ketuhanan, dan
kealaman.
C.Perkembangan dan Pengaruh Pemikiran al-Ghazâlî
Perkembangan dan pengaruh pemikiran al-Ghazâlî dimulai ketika mencari
ilmu pengetahuan tentang kebenaran hakiki, khususnya mengenai epistemologi
yang berdasarkan cara-cara dan metode yang digunakan oleh empat kelompok
31
As, Asmaran, Pengantar Studi Tasauf, h. 332. 32
yaitu ; Pertama, kelompok Mutakallimûn. Kedua, kelompok Bâṯiniyyah. Ketiga, kelompok falâsifah. Keempat, kelompok sûfî.33
Pertama, al-Ghazâlî dalam pencarian kebenaran dan pengetahuannya
masuk dalam bagian Mutakallimûn (Kelompok ahli Teologia) yang didalamnya terdapat ilmu kalam yang merupakan argumentasi-argumentasi dengan
menggunkan dalil-dalil rasional dan membuat penolakan terhadap kaum bid ̒ah
yang tidak sesuai dengan akidah Ahl al-Sunnah. Dalam kelompok ini al-Ghazâlî menganut paham al-Asʻariyah yang berpendapat bahwa kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh manusia seperti mengerjakan perbuatan yang baik, itu
ditentukan dan diatur oleh wahyu yang pengetahuan tentang perbuatan baik
tersebut dapat diperoleh dengan akal.34 Kemudian kelompok ini menyatakan
dirinya sebagai eksponen dari pengetahuan dan pemikiran intelektual. Dalam
perjalanan selama kurang lebih dua bulan al-Ghazâlî belum marasakan kepuasan
dalam pencariannya, sebab al-Ghazâlî menemukan batasan akal yang dijadikan
oleh para teolog sebagai sumber kebenaran.
Kedua, al-Ghazâlî masuk kepada kelompok Bâṯiniyyah, merupakan kelompok dari para pengajar (ta ̒ lîm) yang menyatakan bahwa hanya mereka yang mendapatkan kebenaran dari seorang imam yang sempurna dan tersembunyi.
Ketiga, al-Ghazâlî masuk pada bagian Filsafat, yang menyatakan bahwa dirinya
sebagai eksponen dari logika (akal) yang digunakan dalam membuktikan
33
Ali Issa Othman, Manusia Menurut al-Ghazâlî, terj. Johan Smith dari buku The
kebenaran, kemudian akal tersebut mampu mengangkat makna yang abstrak.35
Tetapi dalam keadaan ini timbul permasalahan tentang akal bahwa akal terdapat
batasan di dalamnya sehingga al-Ghazâlî merasa tidak mendapatkan kepuasan.
Keempat al-Ghazâlî masuk pada bagian Sufi (Tasawuf), kelompok ini
menyatakan bahwa hanya merekalah yang mencapai tingkat hadir dengan Allah
dan memiliki penglihatan serta pengertian secara Bâṯiniyah.36 Dalam perjalanan pertama yaitu kelompok Mutakallimûn, al-Ghazâlî beranggapan bahwa pengetahuan merupakan hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indera.37
Tetapi, setelah al-Ghazâlî menganalisa dan menyelidiki dengan pengetahuannya
melalui panca indera penglihatan ternyata terdapat kepalsuan dan kedustaan.
Maka al-Ghazâlî beranggapan bahwa dalam mencari kebenaran dengan kelompok
ini tidak bisa menemukan kebenaran yang sempurna, seperti bintang dan matahari
dalam pengetahuan melalui indera penglihatan memiliki bentuk yang kecil hanya
sebesar mata uang dinar, tetapi dengan menggunakan akal melalui perhitungan
geometris bahwa bintang dan matahari memiliki bentuk yang ukurannya lebih
besar dari bumi.
Dari penjelasan di atas dapat digambarkan bahwa pola pemikiran serta
cara pandang al-Ghazâlî tentang metafisika tidak terlepas dari cara dan metode
yang digunakan oleh empat kelompok tersebut yaitu: Pertama, al-Ghazâlî
menggunakan akal pikiran dan wahyu, kedua menggunakan panca indera, ketiga
menggunakan pengalaman (zawq), sedangkan untuk metodenya menggunakan
35
Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 166. 36
Al-Ghazâlî, IẖyaˊʻUlûm al -Dîn (Mesir: Haramayn, 1957), h. 18. 37
metode induksi (metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil
observasi yang disimpulkan dalam pernyataan yang lebih umum) dan deduksi
(metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam
pernyataan yang lebih runtut).
Al-Ghazâlî mengatakan dalam karyanya Iẖyâˊ ʻUlûm al -Dîn tentang akal bahwa akal pikiran tidak dapat berjalan tanpa pengetahuan, dan sebaliknya
pengetahuan tidak dapat berjalan tanpa akal. Oleh karena itu, orang yang
mendukung taqlid tanpa menggunakan ilmu intelektual adalah orang yang bodoh,
dan orang yang sombong adalah orang yang merasa puas dengan pengetahuan
yang dimilikinya tanpa adanya cahaya dari al-Qurˊân dan al-Sunnah.38 Dalam
buku yang berjudul Manusia Menurut Al-Ghazâlî yang ditulis oleh Ali Issa Othman bahwa akal pikiran merupakan instrumen pengetahuan baik tentang
pengetahuan umum maupun pengetahuan tentang wahyu yang merupakan
pembimbing kebenaran agama sehingga antara akal pikiran dan pengetahuan
saling membutuhkan.
Ilmu teologi dan falsafah memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam
ilmu-ilmu pengetahuan sama halnya dengan al-Ghazâlî yang menempatkan ilmu-ilmu
teologi sebagai sub divisi atau bagian-bagian dari pengetahuan yang spekulatif di
dalam suatu divisi ilmu pengetahuan umum serta menjadikannya sebagai sub
divisi dari ilmu-ilmu dasar (usûl) dari ilmu-ilmu keagamaan seperti; tauhid, logika, al-Qurˊân, hadist termasuk didalamnya ilmu tasawuf. Dalam tasawuf,
al-Ghazâlî menggunakan metode perenungan, yaitu kegiatan dari akal pikiran
38
yang mengandung sebuah pemikiran terdasar yang harus dibimbing serta dituntun
oleh kebenaran wahyu. Maka menurut teori al-Ghazâlî, pengetahuan dalam
mencari kebenaran tidak dapat dipisahkan dari seluruh kepribadian seseorang.39
Al-Ghazâlî memilih titik akhir dalam pencarian ilmu pengetahuannya pada
kelompok sufi, karena kebenaran yang ada dalam segala ilmu pengetahuan dapat
diyakini kebenarannya apabila sesuai antara pengetahuan dengan kenyataan
terutama kenyataan mengenai Tuhan. Kemudian dari pernyataan tersebut,
al-Ghazâlî mengungkapkan tujuannya dalam mencari ilmu pengetahuan yaitu
mendapatkan nilai-nilai tertinggi dalam agama.
Al-Ghazâlî menunjukkan sikap keraguan terhadap pengetahuan dan
kebenaran yang telah diperolehnya, sikap yang dimiliki al-Ghazâlî pada saat itu,
merupakan sikap yang menolak dari taqlîd (menerima begitu saja pengetahun yang diajarkan oleh orang lain). Ketika al-Ghazâlî mengalami keraguan (Skeptis) terhadap pengetahuan dan kebenaran, pertanyaan yang selalu timbul dalam
dirinya yaitu, Apakah kepercayaan kepada Allah dapat menjadikan pengetahuan
tertentu, jika Allah harus disembah, haruslah Allah diketahui dengan pasti
keberadaannya. Pertanyaan ini yang menjadikan perubahan pemikiran al-Ghazâlî,
sehingga al-Ghazâlî melakukan perenungan diantaranya, tentang manusia sebagai
insan yang serba tahu, sifat dan berbagai perkembangan manusia tentang
hubungan manusia dengan pihak luar, baik dengan alam maupun dengan
masyarakat serta hubungan manusia dengan Allah. Sampai pada akhir
pengetahuannya yang mendalam melalui tasawuf, al-Ghazâlî menemukan sebuah
39
kepastian pemikiran-pemikiran fitri atau aksioma-aksioma yang merupakan
satu-satunya dasar bagi dalil-dalil yang benar yang menjadi prasyarat tercapainya suatu
keyakinan yang dipercayai oleh akal.40
Dalam skema yang disusun oleh al-Ghazâlî tentang ilmu pengetahuan,
al-Ghazâlî memberikan langkah-langkah untuk menjadikan berkembangnya
pengetahuan dalam diri manusia, yaitu: pertama, pengertian penuh tentang
al-Qurˊân, kedua, pengetahuan tentang kenyataan (Mukasyafah), ketiga, paham sufi yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu, disiplin diri, pengetahuan praktis
(Mu’âmalah), dan bimbingan Ilahi, keempat, pengetahuan intelektual (ʻAqlî), kelima. Pengetahuan keagamaan (Syarʻî) yang dibagi kedalam dua bagian yaitu, cabang-cabang (Furuʻ) dan dasar-dasar (Usûl). 41
Dari pernyataan diatas, untuk mendapatkan pengetahuan memang
diperlukan akal pikiran, akan tetapi menurut al-Ghazâlî akal pikiran saja tidak
dapat berjalan tanpa pengetahuan, dan sebaliknya pengetahuan tidak dapat
berjalan tanpa akal. Oleh karena itu, al-Ghazâlî berpandangan bahwa orang yang
mendukung taqlîd tanpa menggunakan ilmu intelektual adalah orang yang bodoh, dan orang yang sombong adalah orang yang merasa puas dengan pengetahuan
yang dimilikinya tanpa adanya cahaya dari al-Qurˊân dan al-Sunnah.
40
Ali Issa Othman, Manusia Menurut al-Ghazâlî, h. 40. 41
BAB III
METAFISIKA
A.Pengertian Metafisika
Istilah metafisika berasal dari bahasa Yunani yaitu ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisik”, istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari
Rhodos (70 SM).42 Metafisika merupakan bagian filsafat tentang hakikat yang ada
di balik fisika. Tegasnya tentang realitas kehidupan di alam ini, dengan
mempertanyakan yang Ada (being). Secara etimologi meta adalah tidak dapat dilihat oleh panca indera, sedangkan fisika adalah fisik. Jadi, metafisika adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat secara fisik atau metafisika dapat diartikan juga
sebagai usaha sistematis, reflektif dan menyeluruh dalam mencari kebenaran yang
terletak di belakang hal-hal yang fisik.43
Menurut al-Ghazâlî metafisika adalah kajian yang berhubungan dengan
alam yang berada di luar alam fisik, seperti Tuhan dan sifat-sifatNya serta alam
akhirat.44 Kajian terhadap metafisika membutuhkan kajian yang lebih teliti dan
penuh kehati-hatian, karena apabila keliru memahaminya akan berakibat fatal,
oleh karena itu, untuk memahami metafisika menurut al-Ghazâlî haruslah
menggunakan akal yang sehat dengan dituntun oleh wahyu. Adapun pandangan
al-Ghazâlî tentang akal yaitu, bahwa di dalam akal terdapat batasan dalam
memahami dan menilai tentang pengetahuan Tuhan, sehingga untuk memahami
42
Loren Bagus, Matafisika, h. 18. 43
Amsal Bakhtiar, Pergulatan Pemikiran Dalam Filsafat Islam, h. 3. 44
Amsal Bakhtiar, Pergulatan Pemikiran Dalam Filsafat Islam, h. 7.
tentang sebuah kebenaran tidak cukup dengan akal saja akan tetapi harus
dihubungkan dengan ilmu-ilmu agama yang bersumber kepada al-Qurˊân dan
hadist.45 Dari kedua sumber di atas yaitu akal dan wahyu kebanyakan para filosof
hanya mengambil dari salah satu saja, tidak dapat menyatukan kedua sumber
tersebut, sehingga akan menimbulkan pertentangan.
B.Perkembangan Sejarah Metafisika
Perkembangan metafisika berawal dari pemikiran para filosof Yunani
yaitu pada masa periode Helenisme sekitar 4-6 SM. Pada masa itu, pemikiran
yang menjadi kajian khusus yaitu tentang asal usul alam. Salah satu filosof yang
pertama kali mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales yang hidup pada
tahun 624-546 SM.46 Thales mempertanyakan bahwa apa sebenarnya yang
menjadi asal usul alam ini. Dengan pertanyaan tersebut Thales mendapatkan
jawaban bahwa asal usul alam ini berasal dari air. Anaximenes (590-528)
mengungkapkan bahwa dasar pertama adanya alam ini adalah udara dengan
alasan bahwa udaralah yang meliputi seluruh alam serta udara yang menjadi dasar
hidup bagi manusia yang digunakan untuk bernafas. Sedangkan menurut
Anaximandros dan Heraklitos alam ini merupakan sesuatu yang selalu berubah,
sehingga dari pemikiran tersebut Anaximandros dan Heraklitos mengungkapkan
bahwa asal usul alam ini berasal dari api karena sifat api yang panas selalu
45
Yusuf Qarḏawi, Al-Ghazâlî Antara Pro dan Kontra (Surabaya: Pustaka Progresif, 1996), h. 75.
46
bergerak dan berubah-ubah, misalnya dalam satu sisi api dapat menggeraskan
adonan roti dan disisi yang lain api dapat melunakan bahan tembaga dan besi.47
Permasalahan alam berkembang dengan pesat di kalangan para filosof
Yunani, dengan semakin berkembangnya permasalahan tentang alam maka
semakin luas pula pertanyaan-pertanyaan yang timbul mengenai alam. Bukan
hanya dari filosof Yunani saja yang membicarakan asal usul alam melainkan
filosof Islam juga membicarakan tentang alam, hal itu terlihat pada masa
kebangkitan Islam (Abad 6-13 M) yang disebut sebagai Abad Pertengahan. Dalam
periode ini, usaha yang dilakukan adalah untuk mesistesiskan antara iman,
intelektual, falsafah dan sufisme. Sehingga sejumlah filosof muncul di masa ini,
seperti al-Kindî, al-Fârâbî, al-Ghazâlî, Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, dan sebagainya.
Pada abad pertengahan ini, lahir yang namanya falsafah Islam yang merupakan
pemikiran-pemikiran filosof Islam yang bertujuan untuk menjawab tantangan
zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal serta agama dan
filsafat.48
Menurut Fuad al-Ahwanî salah seorang ahli falsafah Islam modern dari
Mesir, mengungkapkan bahwa falsafah Islam merupakan kajian yang membahas
tentang alam dan manusia yang disinari dengan ajaran-ajaran Islam.49
Berkembangnya pertanyaan-pertanyaan yang menjadi permasalahan dalam alam,
dapat dilihat ketika filosof-filosof Yunani maupun Islam yang tidak hanya
membicarakan asal-usul alam, akan tetapi mempertanyakan apa yang
menyebabkan alam itu ada dan bagaimana sifat alam itu sendiri, apakah alam
47
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), h. 24-25. 48
Hasyimsyah Nasution , Filsafat Islam, h. 3. 49
kekal atau baru. Maka, dari pernyataan tersebut alam merupakan permasalahan
metafisika, karena permasalahan yang ada di dalamnya tidak hanya membahas
bentuk yang fisik saja tetapi dalam bentuk non fisik.50
Istilah metafisika mempunyai arti filosofis, karena metafisika merupakan
ilmu yang membahas tentang yang ada. Oleh karena itu, pembahasan metafiska
muncul sesudah fisika (post physicam et supraphysicam).51 Istilah sesudah yang dimaksudkan di sini ialah bahwa objek metafisika sendiri berada pada sesuatu
yang abstrak. Tentang metafisika, Aristoteles mengemukakan beberapa
gagasannya tentang metafisika dalam bukunya yang berjudul Metaphysica antara lain:
1. Metafisika sebagai kebijaksanaan (sophia), ilmu pengetahuan yang mencari prinsip-prinsip fundamental dan penyebab-penyebab pertama.
2. Metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari yang ada sebagai yang ada
(being qua being) yaitu keseluruhan kenyataan.
3. Metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai obyek paling luhur dan
sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh keadaan, yang mana ilmu ini sering
disebut dengan theologia.52
Dari ketiga keterangan Aristoteles tentang metafisika tersebut, sebenarnya
terdapat dua obyek yang menjadi metafisis Aristoteles yaitu, (a) yang ada sebagai
yang ada being qua being dan (b) Tuhan. Namun Aristoteles sendiri tidak menjadikan dua obyek kajian tersebut sebagai obyek bagi dua disiplin ilmu yang
50
Al-Ghazâlî, Al-Munqīzd min al-Ḏalāl,h. 135. 51
Muhammad Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), h.42.
52
berbeda. Seorang filosof Jerman bernama Christian Wolff yang hidup pada abad
ke-18, berpendapat bahwa pembicaraan tentang yang ada sebagai yang ada dan
yang Ilahi harus dipisahkan dan tidak dapat dibicarakan bersama-sama. Oleh
karena itu, dalam metafisika Aristoteles, Wolff membagi metafisika menjadi dua
bagian yaitu, metaphysica generalis (metafisika umum) atau juga sering disebut
ontologi dan methapysica specialis (metafisika khusus).
Metafisika secara umum membahas mengenai yang ada, artinya
prinsip-prinsip umum yang menata realitas sejauh dapat diserap melalui indera sedang
metafisika khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap oleh
indera seperti realitas ketuhanan (teologi). Metafisika merupakan objek kajian
filsafat yang pada dasarnya tidak dapat terpisah dengan inderawi, karena menurut
Wolff sendiri pembahasan metafisika tentang realitas supra inderawi, terkait
dengan pembahasan ontologi atau tentang prinsip-prinsip umum yang menata
realitas inderawi.53 Permasalahan tentang metafisika menimbulkan pandangan dan
pemikiran yang berbeda-beda di kalangan filosof, sehingga timbul aliran-aliran
yang bertujuan untuk mencari kebenaran dalam metafisika itu sendiri, aliran
tersebut di antaranya yaitu:
1. Rasionalisme
Istilah rasionalisme berasal dari kata rasio yang berarti akal.54
Rasionalisme dapat diartikan sebagai suatu paham yang menekankan akal sebagai
sumber utama untuk mendapatkan pengetahuan dan titik akhir dalam mencari
hakekat kebenaran. Manusia dengan akalnya memiliki kemampuan untuk
53
Donny Gahral Adian, Matinya Metafisika Barat (Jakarta: Komunitas Bambu, 2001), h. 6. 54
mengetahui stuktur dasar alam dunia ini secara apriori (pengetahuan yang
diperoleh tanpa melalui pengalaman inderawi). Pandangan yang cenderung
rasionalis berkembang di Yunani, dengan tokoh yang pertamakali mengemukakan
paham ini adalah Plato.
Selain plato tokoh yang termasuk kepada paham rasionalis yaitu Renè
Descartes hidup di Perancis (1596-1650). Descartes mendapat pendidikannya
bukan di sebuah universitas tetapi di sebuah kolese Jesuit. Namun ini ternyata
bukan kerugian, sebab dia menerima suatu dasar yang lebih baik dalam
matematika daripada yang dapat diterimanya dari universitas lain pada masa itu.
Dalam usahanya mencari kehidupan yang menyenangkan, Descartes mulai
merintis karier di bidang militer. Descartes menganggap bahwa pengetahuan
dapat dihasilkan oleh indera, tetapi dalam indera Descart mengakui bahwa indera
itu bisa menyesatkan (seperti dalam mimpi atau khayalan), maka Descartes
mengambil kesimpulan bahwa data keinderaan tidak dapat digunakan dalam
mencari hakekat kebenaran dalam sebuah objek yang diteliti. Kemudian Descartes
menguji kepercayaannya kepada Tuhan yang Maha Kuasa, tetapi tentang hal
tersebut Descartes berpandangan, bahwa wujûd Tuhan tidak dapat dibayangkan, sehingga, kemungkinan yang ada adalah penipuan-penipuan yang terdapat dalam
pemikiran manusia.
Dalam kesungguhannya mencari dasar yang mempunyai kepastian mutlak
ini, Descartes meragukan adanya alam metafisika. Satu-satunya hal yang tidak
dapat Descartes ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri, Descartes tidak
kemudian dalam diri Descartes disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, dia
berdalih bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang
sedang disesatkan. Pandangan Descartes seperti itu, diekspresikan dalam bahasa
Latin yaitu "Cogito ergo sum" artinya saya berpikir atau "menyadari".55
Pikiran memang merupakan salah satu bentuk kesadaran, dan dalam arti
itu kesangsian metodis tadi disebutnya "saya berpikir", dan karena saya berpikir, jelaslah saya ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal, karena Descartes
mengerti permasalahan adanya dirinya dengan jelas dan terpilah-pilah. Dengan demikian, Descartes berkeyakinan bahwa Descartes dengan aturan atau cara
tersebutlah seseorang dapat menentukan kebenaran.56
2. Empirisme
Kata empiris berasal dari kata yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini, manusia memperoleh pengetahuan dengan cara pengalamannya.57
Apabila dilihat dari kata Yunani, pengalaman yang dimaksud disini yaitu
pengalaman yang diperoleh dengan inderawi. Dalam proses penginderaan, setiap
fungsi berdiri sendiri. Oleh sebab itu, setiap indera menghasilkan pengetahuan
sendiri.
Dalam pandangan Islam, indera manusia terdiri dari indera luar dan indera
dalam, sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution bahwa: Pertama, indera
secara bersamaan (al-Hîss al-Musystarâk) yang bertempat di bagian depan otak dan berfungsi untuk menerima kesan-kesan yang diperoleh dari panca indera luar
55
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, h. 143. 56
Rene Descartes, Meditation on First Philosophy (Sidney: Cambridge University Press, 1986), h. xix
57
menuju indera batin. Kedua, Indera penggambar (al-Khayâl) terletak di bagian depan otak. Ketiga, indera penggerak (al-Mutahayyilâh), yang bertempat dibagian tengah otak yang berfungsi untuk mengatur gambar-gambar yang telah terlepas
dari materinya dengan memisahkan kemudian menghubungkan antara yang satu
dengan yang lainnya. Empat, indera penganggap (al-Wahmiâh) indera ini bertepatan di bagian tengah otak yang berfungsi untuk menangkap arti atau makna
yang terkandung dalam gambar-gambar. Lima, indera pengingat (al-Hafzah) bertempat di bagian belakang otak yang berfungsi untuk menyimpan arti-arti yang
ditanggap oleh indera penganggap.58
Pengetahuan inderawi bersifat persial yang akan menimbulkan pengertian
dan pemahaman yang berbeda-beda antara inderawi yang satu dengan yang
lainnya. Hal tersebut berhubungan dengan keadaan fisiologis indera dengan objek
yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Misalnya, pengetahuan tentang api,
dengan pertanyaan bagaimana seseorang dapat mengetahuai bahwa api itu panas?,
seorang yang berpaham empiris akan mengatakan “karena saya telah merasakan
hal itu, atau karena seorang filosof telah merasakan hal seperti itu. Tokoh yang
termasuk kepada paham empiris adalah John Locke (1632-1704) yang
mengemukakan teorinya tentang tabula rasa (buku catatan kosong), maksud
catatan kosong disini adalah bahwa manusia pada mulanya kosong dari
pengetahuan, kemudian pengalaman yang jiwa yang kosong tersebut, sehingga
manusia itu pun memiliki pengetahuan.59
58
Miska Muhammad Amin, Epistemologi Islam,h. 37-38. 59
Memperoleh pengetahuan dengan cara pengalaman yang ada pada
manusia, diawali dengan indera yang masuk secara sederhana, selanjutnya
tersusun menjadi sebuah pengetahuan yang berarti. Untuk itu, dalam paham
empiris sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan
yang benar. Jadi, suatu pengetahuan dianggap benar apabila sesuai dengan
pengalaman indera. Selain John Locke, tokoh yang termasuk pada paham
empirisme yaitu Thomas yang lahir pada tahun 1225 dekat kota Aquino, oleh
sebab tempat kelahirannya di Aquino, nama julukan yang lebih dikenal yaitu
Thomas Aquinas.60
Thomas menjelaskan bahwa pengetahuan tentang alam metafisika tidak
dapat diperoleh dengan akal akan tetapi dengan pengalaman indera. Hal ini
terlihat ketika Thomas menjelaskan tentang adanya Tuhan dengan pernyataan
bahwa manusia tidak dapat secara langsung dapat mengenal Tuhan, karena Tuhan
tidak dapat secara langsung disentuh oleh indera. 61 Menurutnya manusia dapat
mengenal Tuhan setelah manusia tersebut menjalankan pemikirannya yang
didahului oleh indera. Sehingga berdasakan pernyataan tersebut, Thomas
memberikan patokan yang jelas yaitu, ʺNil in intellectu nisis prius in sensuʺ
artinya tidak ada sesuatu pun pada akal, jika tidak diawali dengan adanya indera.
60
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, h. 98-102. 61
C. Metafisika dalam Pandangan Filosof
Metafisika dibagi dalam dua segi pemikiran yaitu, pemikiran filosof Barat
dan pemikiran filosof Islam.62 Menurut pemikiran filosof barat, metafisika
merupakan suatu eksistensi yang cenderung memikirkan asal mula dunia dan
manusia yang kecenderungannya bersifat niscaya, yaitu keinginan untuk hidup
bahagia, senang, sedih, marah, benci, cinta dan berbuat baik.63 Sedangkan
metafisika menurut pemikiran filosof-filosof Islam adalah pembahasan yang
cenderung kepada wujûd yang abstrak dan bersifat mutlak yaitu Tuhan (Allah Swt). Pandangan masing-masing filosof tentang metafiska berbeda-beda diantara
yaitu:
1. Al-Ghazâlî
Menurut al-Ghazâlî metafisika merupakan ilmu yang mengkaji tentang alam dan
wujûd Tuhan yang akan menyebabkan kesalahan dalam pemikiran filosof sebab para filosof menggunakan metode demonstrasi (burhân) yang bersumber hanya kepada akal.64
2. Al-Kindî
Al-Kindî merupakan seorang filosof muslim yang lahir di daerah Kufah pada
tahun 801 M/185 H. Dalam metafisika, al-Kindî menegaskan bahwa segala yang
ada berkaitan dengan hakikat Tuhan, Tuhan adalah wujûd yang hak (benar) yang
62
Hasyimsyah Nasution , Filsafat Islam, h. 11. 63
Poedjawijatna, Pembimbing Kearah Alam Filsafat, h. 22. 64
Amsal Bakhtiar, Pergulatan Pemikiran Dalam Filsafat Islam: Memahami Alur
bukan asalnya tidak ada menjadi ada, Tuhan selalu mustahil tidak ada, jadi Tuhan
adalah wujûd yang sempurna yang tidak didahului oleh wujûd yang lain.65 3. Plato
Plato adalah salah satu filosof yang dilahirkan pada tahun 427 dari keluarga
bangsawan yang mengikuti ajaran Sokrates yang berpandangan bahwa dalam
metafisika lebih cenderung permasalahannya kepada manusia karena manusia
terdiri dari tubuh dan jiwa, dimana sifat tubuh adalah material, sedang sifat jiwa
adalah immaterial.66
4. Aristoteles
Aristoteles adalah seorang filosof yang dilahirkan di kota Stagira, Macedonia,
384 SM, kemudian pergi ke Athena selama dua puluh tahun dan menjadi
muridnya Plato. Aristoteles disebut sebagai ʺguru pertamaʺ karena peletak
pertama sebagai seorang yang menyusun dan mesistematisir logika. Pengikutnya
dikenal dengan sebutan ʺParipathetikʺ.67 Menurut Aristoteles metafisika adalah
cabang filsafat yang mengkaji yang ada sebagai yang ada, bahkan sesuatu yang
terbatas adanya haruslah ada unsur kesamaan dan ketidaksamaannya yang
menuntut adanya sebab yang menjadikan hal yang ada menjadi ada.68
Setelah mengetahui definisi yang telah dijelaskan oleh masing-masing
filosof di atas timbullah metafisika khusunya tentang Wujud Tuhan yang
menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat atau paham di antaranya yaitu
paham:
65
Hasyimsyah Nasution , Filsafat Islam, h. 19. 66
Donny Gahral, Matinya Metafisika Barat, hal.12.
67
Al-Ghazâlî, Al-Munqîdz min al-Ḏalâl, h. 143. 68
1. Monoisme
Monoisme merupakan paham yang menganggap bahwa hakikat yang asal
dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu tidak mungkin dua. Hakekat yang satu
tersebut sebagai sumber yang asal, baik merupakan materi maupun brupa rohani.
Kemudian monoisme terbagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Materialisme
Materialisme merupakan paham yang menganggap bahwa sumber yang
asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini juga sering disebut dengan istilah
naturalisme, tetapi ada sedikit yang membedakan antara istilah materialisme dan
naturalisme. Materialisme menganggap bahwa nilai ruh dan benda adalah sama,
artinya tidak terpisah dari alam yang satu.69 Sedangkan naturalisme menganggap
bahwa alam dan ruh memiliki nilai tidak sama karena ruh merupakan kejadian
dari benda. Paham ini dipelopori oleh Thales (624-546 SM) yang mengaggap
bahwa unsur dasar kejadian alam dan kehidupan itu berasal dari air.
b. Idealisme
Idealisme berasal dari kata “Idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Aliran ini beranggapan bahwa hakekat kenyataan yang beraneka ragam semua
berasal dari ruh (sukma) atau sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
Materi atau dzat itu hanyalah suatu jenis dari penjelmaan ruhani.70 Alasan paham
ini yang menyatakan bahwa hakekat benda adalah ruhani adalah:
a. Nilai ruh lebih tinggi dari badan dan lebih tinggi nilainya dari pada materi
bagi kehidupan manusia
69
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, h.135 . 70
b. Manusia lebih dapt memahami dirinya daipada dunia luar dirinya
c. Materi merupakan kumpulan energi yang menempati ruang sehingga yang
ada hanya berupa energi saja, sedangkan benda tidak ada.
Dalam perkembangannya , aliran atau paham ini sesuai dengan ajaran
Plato (428-348 SM) yaitu dengan teori idenya yang menyatakan bahwa
setiap yang ada di alam mesti ada idenya.
<