• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

D. Tentang Landheyan

Kajian isi pada penulisan ini dipaparkan melalui teknik deskripsi, yaitu penjabaran dari data primer dalam hal ini adalah teks Kawruh Landheyan dan data sekunder yang meliputi hasil wawancara dan informasi dari ensiklopedi dan buku- buku yang membahas tentang Landheyan. Kandungan isi dalam penulisan ini membahas tentang macam- macam Landheyan beserta cara pembuatanya.

commit to user

Ada banyak macam kayu yang dapat dipergunakan dalam pembuatan Landheyan, kayu- kayu tersebut memiliki kelebihan dan kekurangn dengan ciri- ciri yang di miliki. Kayu- kayu tersebut antara lain :

1. Waru, warnanya pethak sulak jenne beratnya ringan, seratnya kasar, pilihannya yang seratnya padat serta beratnta agak berat, waru ini paling baik dipakai untuk landheyan panjang, karena dari ringan dan ulet.

2. Timaha, warnanya putih dan bercorak hitam, coraknya warna-warni, seperti : sembur, tutul, daler, encok sekar atau tembelang-tembelang. Pilihannya yang dasarnya banyak coraknya, timaha ini baiknya untuk landheyan celak, panjangnya dua dhepa, karena kurang ulet.

3. Kayu garu, warnanya ungu belang-belang hitam, seratnya ada yang halus ada yang kasar, bobotnya berat, karena berminyak.

4. Walik elar, warnanya jenne lirik-lirik, seratnya andalir urang, bobotnya sedang, golongan mudah patah.

5. Janglot, warnanya putih, seratnya halus, bobotnya berat, ulet. 6. Wali kukun, warnanya merah sewarna dengan kayu sawo, seratnya

halus, bobotnya berat, kuat.

7. Therok, warnanya merah dan ungu belang seperti kayu garu, bobotnya berat, seratnya halus, kuat.

8. Areng-arengan, warnanaya hitam kusam, seratnya halus, bobotnya berat, kuat.

9. Aruman , sewarna tima, dasarnya sulak jenne, coraknya hitam 10.Kalak kambing, juga seperti tima, dasarnya jenne, bobotnya berat,

keras, tetapi coraknya merembet dan lunak.

11.Kalak basu, warnanya hitam seperti tima, mudah busuk, seratnya kasar

12.Gedhondhong, warnanya putih, seratnya kasar, bobotnya sedang. Deskripsi diatas merupakan hasil penjabaran dari teks Kawruh Landheyan. Selain hal tersebut, dari hasil wawancara peneliti juga memperoleh informasi

commit to user

tentang kayu- kayu yang sering digunakan untuk membuat Landheyan, yaiti sebagai berikut:

1. Kayu mentaos : dengan ciri- ciri ulet dan lentur

2. Kayu Jati : dengan cirri- cirri lurus, mudah dikerjakan, ulet, dank eras.

3. Kayu cendana : Kayu cendana disebut mustikanya kayu, dengan memiliki ciri- cirri wangi atau harum, lurus, dan keras.

4. Kayu Kemuning : dengan cirri- cirri keras, doreng, dan berserat bagus. 5. Kayu Tima : memiliki bobot yang ringan dibandingkan dengan yang lain.

2. Macam- macam Landheyan Beserta Ukurannya. 1. Blandaran, pangjangnya 3 atau 3,5 dhepa 2. Panurun, panjangnya 2,5 atau 3,5 dhepa 3. Pegon, panjangnya 2 atau 3,5 dhepa

4. Tlepak, panjangnya 1,5 atau 3,5 dhepa 5. Towok, panjangnya 1,5 atau 3,5 dhepa 6. Limpung, panjangnya 1,5 atau 3,5 dhepa

Sedangkan dari hasil wawancara mengenai ukurannya pada dasarnya ukuran landheyan tergantung dengan pemakai, akan tetapi memiliki aturan bahwa Landheyan memiliki panjang harus di atas kepala. Hal tersebut diuraikan karena untuk membuat Landheyan tidak dapat di ukur dengan hitungan, akan tetapi semuanya di ukur dengan perasaan berdasarkan karya.Akan tetapi yang lazim, ukuran panjangnya antara 60cm,90cm,120cm,180cm,2m,2,5m,3m. sedangkan diameternya bekisar 3- 3,5 cm.

3. Bentuk Landheyan

Dari hasil deskripsi dari data yang dikumpulkan memperoleh informasi tentang bentuk- bentuk landheyan yaitu:

1. Ngusus : yaitu Landheyan yang bagian pangkal sampai ujungnya besarnya sama.

2. Ngebung : yaitu Landheyan yang bagian pangkalnya besar lalu mengecil sampai ujung.

commit to user

4. Landheyan variasi sekarang dimana terdapat ornament di bagian atas dan bawahnya.

4. Alat Untuk Membuat Landheyan

1. Pêthèl, untuk memotong bahan, atau bila untuk memasang tunjung. 2. Pasah kiping, untuk memasang grabahan.

3. Graji gorok, untuk memotong.

4. Pasah sugu 2 iji, 1 grabahan, panjangnya 1½ kilan, 1 pangalus, panjangnya 2 kilan.

5. Kikir agêng alit, untuk memasang karah lagri. 6. Pangot, untuk nêtês yang akan dijadikan perabot. 7. Jara, untuk melubangi.

8. Dhalangan, kajêng balik.

5. Langkah- langkah Membuat Landheyan

Bahan landheyan yang baru saja dari hutan, ini tentu masih besar, atau belum turut, ini lalu dipotonghanya memilih mandhukulipun bisa. Namun abila kayu masih gêbingan,dipotong menurut kakêncênganipun lalu dipotong menjadi delapan, bila sudah menjadi seperti ini namanya menjadi pêthèlan.

Bila sudah menjadi pêthèlan, lalu di pasah kiping, dipasah dengan dua tangan. Selesai digrabahi menggunakan pasah sugu celak, diarahkan gilignya, serta diarahkan mengikuti badannya. Setelah dipasah menggunakan pasah sugu panjang supaya mendapat kekencangan dan gilignya juga, ini sudah dinamakan bakal jadi.

Selanjutnya dipasang peralatan seperti,karah,lagri, sopal,tunjung,apabila memakai grendim grendimnya juga dipasang, apabila dengan anggethak

landheyan agar lurus dan bagus.

Selanjutnya diselesaikan pembuatannya berdasarkan peralatannya, artinya dibagian pangkal mengambil berdasarkan besarnya sopal, di ujung mengambil besarnya lagri, dengan pasah penghalus, atau kikir.

commit to user

Apabila sudah lurus dan halus bulatanya,kemudian digosok di wacu calep [apabila sekarang lebih baik amril apabila sudah halus hilang serat dari pasahan dan kikiran, kemudian di ampelas, sampai halus, hilang serat amril, kemudian digosok dengan sisa pasahan, agar hilang kotoranya, di usap dengan tangan, sampai mengkilat dan licin, nama sudah jadi. Kemudian di pacak, macak itu memasang perlengkapan landheyan, dengan baik.

6. Bagian- bagian Landheyan

Pada dasarnya Landheyan terbagi menjadi tiga yaitu ujung, tengah, dan bawah. Akan tetapi secara terperinci bagian- bagian Landheyan adalah sebagai berikut: 1. Karah 2. Godhi 3. Lagri 4. Sopal. 5. Tunjung.

perabot tlêmpak ini sama saja dengan perabot wahos, bila perabot wahos wêwah satu, dinamakan wêgig, bentuknya gombyok songa tamparan dibawahnya lagri.

7. Pengambilan Kayu Dari Hutan

Kayu Waru Gunung itu daunnya keriting dan bulunya panjang, pohonnya lurus rantinya tumbuh di ujung pohon, yang sudah dapat digunakan untuk landheyan paling sedikit dapat di bagi menjadi 4 bagian: pembagiannya di ambil panjangnya, lebih baiknya pohon waru yang akan di bagi di potong terlebih dahulu tepat di bawah ranting yang paling bawah, kemudian di diamkan sebentar, selanjutnya di potong dari atas dengan sedikit demi sedikit sampai bawah, karena itu apa bila di tidurkan takut apabila sering patah.

commit to user

Apabila sudah jadi potongan kemudian di pethel sampai lurus, dan di pasah kebulatannya, penyimpananya harus berdiri di tempat yang teduh jangan sampai kehujanan dan jangan di ikat menjadi satu agar tidak bengkok.

8. Pengolahan Landheyan

Dijaman kuna Landheyan ini apabila sudah jadi calon selanjudnya di olah, pengolahannya dengan kakeplok dan kagedhug.

1. Keplok, ini dengan dipukulkan pada air setiap pagi sebanyan sepuluh

pukulan, selama satu tahun.

2. Gedhug,hal ini dengan dipukulkan pada tanah sekuwat mungkin setiap pagi, lamanya setahun.

9. Ukuran Landheyan

Tombaknya ditalikan dengan Landheyan yang akan dimasuki, mulai akhiran Landheyan diratakan dengan Pesi, kemudian dibolak- balik sampai selesainya Landheyan, ketemu beberapa lipatan kemudian diambil empat- empat sisanya berapa, apabila sisa:

1. Dhawah songga, baik.

2. Dhawah rungga, jelek sekali. 3. Dhawah sarah, jelek.

4. Dhawah watang jelek.

jadi apabila membuat Landheyan itu sebelum memasang perabot harus dihitung terlebih dahulu.

Ukuranya godhi mulai dari lagri sampai karah sama dengan lingkaran kepalanya sendiri, mulai dari mata kiri melingkar sampai mata kanan.

commit to user

Dokumen terkait