• Tidak ada hasil yang ditemukan

17 BAB II

PROFIL K. H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT AS-SAMARANI

DAN SISTEMATIKA KITAB MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH

LIL ‘AWĀM

A. Biografi K.H. Muhammad Sholeh DaratAs-Samarani

1. Riwayat Hidup K.H. Muhammad Sholeh DaratAs-Samarani

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Sholeh Ibn `Umar

As-Samarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat ataupun

Mbah Sholeh Darat. Nama yang sering dicantumkan dalam

beberapa kitab karyanya, seperti tercantum pada sampul kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām, Munjiyyāt, Laṭa’if al-Ṭahārah,

tarjamah Sabīl al-‘Abīd ‘Alā Jauharah al-Tauḥīd, dan sebagainya. Ayahnya bernama Kiai Umar yang merupakan pejuang dan orang

kepercayaan Pangeran Dipenogoro (1825-1830 M) di Jawa bagian Utara

khususnya Semarang (Shabir, 2007: 178).

Menurut Kiai Fahr ar-Razi Kajen yang mendapat informasi

dari Kiai Abdullah bahwa Kiai Sholeh Darat lahir sedesa dengannya,

yaitu di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten

Jepara. Kiai Sholeh Darat lahir pada masa pemerintahan kolonial

Belanda, sekitar tahun 1820 M (Munir, 2008: 33) . Sedangkan hari,

tanggal, bulan, dan tahun yang tepat belum diketahui secara pasti. Hal

18

Kiai Sholeh Darat. Berbeda dengan tanggal wafat beliau, bahwa beliau wafat di Semarang pada hari Jum’at 28 Ramadan 1321 H yang bertepatan dengan 18 Desember 1903 M. Tahun ini berdasarkan catatan

santri dan abdi dalem Kiai Sholeh Darat yaitu K.H. Jayadi.

Meskipun beliau wafat pada tanggal 28 Ramadhan 1321 H. haul

beliau diadakan pada tanggal 10 Syawal. Hal ini dimaksudkan agar

masyarakat bisa merayakan lebaran dengan leluasa lebih dahulu. Setelah

merayakan lebaran dan syawalan. Banyaknya umat yang hadir dalam

acara haul tersebut, seolah menjadi penanda bagi kebesaran nama dan

jasa Kiai Sholeh Darat. Karena itulah, semakin lama nama ulama besar

itu kini semakin popular di masyarakat luas, khususnya di Jawa Tengah

(Hakim, 2016: 200).

Masyarakat pada umumnya mengenal beliau dengan nama “Kiai Sholeh Darat”. Kata “Darat” adalah nama suatu daerah di pantai utara Kota Semarang. Tempat itu disebut demikian karena ia menjadi

tempat orang berlabuh (ndarat; Jawa). Sekarang, daerah itu termasuk

dalam Kelurahan Dadapsari Kecamatan Semarang Utara. Selain itu

sebutan Kiai Sholeh Darat, beliau akui sendiri dan tertera pada sampul

karya tulisnya yang berjudul Syarh Barzanji.

2. Pendidikan Kiai Sholeh Darat

Pendidikan pertama agamanya diajar langsung oleh ayahnya sendiri. Permulaan belajar agama berpusat pada pelajaran al Qur’an yang dimulai dari bacaan surat pendek dalam juz ‘Amma yang dimulai dari

19

surat Al Fatikhah karena berkaitan dengan ibadah, salat, wudu’ dan beberapa doa serta ilmu tajwid yang bermanfaat untuk melafalkan

ayat-ayat al Qur’an dengan benar. Pelajaran ini diikuti oleh anak-anak pada usia 6 sampai 10 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan al Qur’an, minat belajar beliau berlanjut kepada pelajaran yang lebih tinggi, yaitu pendidikan (pengajian) kitab.

Setelah itu, Kiai Sholeh Darat kecil melanjutkan pelajaran ke

beberapa kiai di beberapa pesantren. Hal ini dikukuhkan dengan

pengakuan Kiai Sholeh Darat sendiri. Beliau menyebutkan daftar Kiai

yang menjadi guru beliau dalam bagian akhir kitab Mursyid

al-Wajiz (Hakim, 2016: 53), mereka adalah:

a) K.H.M. Syahid, Waturoyo, Kajen, Margoyoso, Pati, cucu Kiai

Mutamakkin (1645 – 1740 M). Kepadanya Kiai Sholeh Darat belajar kitab: Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawim, Sayrh al-Khatib, Fath al-Wahhab, dan lainnya. Ini adalah

pesantren pertama dari pengembaraan keilmuan yang panjang.

b) K.H.R. Muhammad Salih ibn Asnawi Kudus (1861-1959).

Kepada kiai yang sufistik ini Kiai Sholeh Darat belajar kitab

Tafsir Jalalain.

c) K. Ishaq Damaran, Semarang. Kiai Sholeh Darat belajar nahwu dan

saraf serta Fathal-Wahhab dari beliau.

d) K. Abu Abdillah Muhammad al-Hadi ibn Bauni, mufti di Semarang,

20

e) Sayyid Syaikh ibn Ahmad Bafaqih Baalawi, di Semarang. Pada

tahun 1870-an, Kiai Sholeh Darat belajar kitab Jauhar at-Tauhid

karya Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-‘Abidin karya Imam al-Ghazali dari beliau.

f) Syaikh Abd al-Ghani Bima di Semarang. Belajar Sittin Masilah

karya Abu al-Abbas Ahmad al-Misri (818 H/1415 M). Ini adalah

kitab yang berisi dasar ajaran Islam. Kitab ini populer di Jawa

pada abad XIX.

g) Haji Muhammad Irsyad, Lowano, Begelan, Purworejo. Darinya

Kiai Sholeh Darat belajar arti penting ilmu pengetahuan dan

mauizah. Hasilnya pelajaran ini ditulis dalam bentuk nazam oleh

Kiai Sholeh Darat.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Jawa, pada tahun

1835-an Muhammad Salih diajak ke Makkah oleh ayahnya. Kiai Sholeh

Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah

haji (Munir, 2008: 44). Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai

Sholeh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk menuntut ilmu.

Pada waktu itu abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke

Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk di dalamnya, Kiai

Sholeh Darat. Beliau pergi ke Makkah dan menetap di sana guna

menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak

diketahui secara pasti tahun berapa beliau ke Makkah dan kapan kembali

21 terkenal seperti (Hakim, 2016: 66-67):

a) Syaikh Muhammad al-Muqri al-Misri al-Makki, kepadanya ia

belajar ilmu 'aqa'id dengan kitab Umm al-Barahin karya

Muhammad as-Sanusi.

b) Syaikh Muhammad ibn Sulaiman pengajar diMasjid al-Haram dan

Masjjd an-Nabawi, kepadanyaia belajar Syarh: al-Khatib, Fath

al-·Wahhab, dan Alfi.yah ibn Malik beserta Syarah-nya, dan dari

Syaikh Muhammad ibn Sulaiman beliau memperoleh ijazah tentang

kitab-kitab tersebut.

c) Sayid Muhammad ibn Zairu Dahlan, (1232-1304: H/18-17-l886 M)

mufti Syafi'iyyah di Makkah. Kepadanya ia belajar lhya,' 'Ulum

ad-Din karya al-Ghazali, dan dari Sayyid Muhammad ibn Zaini

Dahlan ia mendapatkan ijazah. Ulama Indonesia Iain yang pernah

berguru kepadanya antara Iain: K.H. Nawawi al-Bantani, KR

Mahfuz at-Tinnisi, dan Ahmad Khatib, Sayyid Muhammad

kebanyakan orang menyebut Ahmad ibn Zaini Dahlan adalah 'ulama'

besar yang berpengaruh sebagai pengajar di Masjid al-Haram,

Makkah, ahli fiqh dan sejarawan lahir di Makkah dan karena

kedalaman ilmunya ia diangkat menjadi mufti di Makkah. Para

pelajar dari Indonesia yang memmtut ilmu di Makkah pada masanya

banyak yang berguru kepadanya.

d) Al-'Alamab Ahmad an-Nahrawi al-Misti al-Makki, kepadanya

22

e) Sayyid Muhammad Salih az-Zawawi al-Makki, pengajar di Masjid

al-Haram. kepadanya ia belajar Ihya' Ulum ad-Din juz, I dan II.

f) Syekh Zaid atau Zaid, kepadanya ia belajar Fath al-Wahhab dan

mendapat ijazah daripadanya,

g) Syaikh 'Umar asy-Syami, kepadanya ia belajar Fath al- Wahhah.

h) Syaikh as-Sanbulawi al-Misri, kepadanya ia belajar Syarhiat Tahrir

karya Zakariya al-Ansari.

i) Syaikb Jamal mufti Hanafi di Makkah, ia belajar Tafsir al-Qur'an

(Bizawie, 2016: 442)

Melihat pendidikan yang ditempuh oleh Kiai Sholeh Darat baik di

Jawa maupun di Makkah dengan berbagai ilmu pengetahuan agama

Islam, menunjukkan bahwa ia termasuk orang yang bersemangat dalam

pencarian ilmu, ia bisa disebut musafir pencari ilmu, dalam kalangan

pesantren terdapat istilah ngalap berkah (mengambil berkah) yaitu

mengaji (belajar) kepada guru tertentu yang mempunyai kharisma tinggi.

Walaupun kitab yang dikaji termasuk kitab dasar atau sudah pernah

dikaji oleh seseorang tadi, yang inti ngaji tersebut bukan tertuju pada

isi kitab tapi mendapat berkah dari guru. Ini bisa terlihat dari

beberapa kitab yang Kiai Sholeh Darat beberapa kali mengaji kepada

beberapa kyai, sebut saja Fath al-Wahab beliau mempelajarinya dari

Kyai Sahid, Kyai Muhammad Ishaq, Syaikh Muhammad ibn Sulaiman

Hasbullah, Kyai Zahid, Syaikh Umar as-Syami.

23

mendapatkan kesempatan mengajar disana seperti ulama lainnya sebut

saja Nawawi al-Bantani dan Ahmad Khatib Minangkabawi, keduanya

merupakan teman Kiai Sholeh Darat sewaktu di Mekkah.

Sejak berada di Mekkah Kiai Sholeh Darat telah mengajar sembari

belajar. Tercatat beberapa ualama yang menjadi tokoh besar telah

belajar padanya di Mekkah (Dzahir dan Ichwan, 2012: 12-13). Mereka

diantaranya:

a) K.H. Dalhar pendiri Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang.

b) K.H. Dimyati (1934) dari Termas, Pacitan.

c) K.H.R. Dahlan (1329 H/1919 M) juga dari Termas.

d) K.H. Kholil Harun (1358 H/1940 M) dari Kasingan, Rembang.

e) K.H. Raden Asnawi (1969 M) dari Kudus).

f) K.H. Mahfuz (1919) dari Termas.

Selain itu, Kiai Sholeh juga mengabdikan ilmunya dengan menjadi

pengajar di sebuah pesantren yang terletak di Desa Maron, Kecamatan

Loano, Purworejo. Ini adalah pesantren tua yang telah berdiri sejak abad

ke-18 M. Didirikan oleh tiga orang sufi, Kiai Ahmad Alim dan kedua

putranya Kiai Muhammad Alim dan Kiai Zain Alim. Namun,

penulis tidak menemukan informasi tepatnya mulai kapan dan berapa

tahun Kiai Sholeh Darat mengajar di pesantren tersebut. Pesantren ini

fokus pada pendidikan hafalan Al-Qur’an. Meski begitu, pelajaran kitab kuning tidak ditinggalkan. Disinilah Kiai Sholeh Darat berperan

24

sebagai pengajar kitab kuning seperti fikih, tafsir Al-Qur’an, nahwu, dan saraf (Dzahir dan Ichwan, 2012: 16).

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Kiai Sholeh Darat

tidak membatasi pelajaran beliau hanya pada satu bidang agama tertentu.

Karena beliau belajar hukum Islam (fikih), misalnya belajar Fath

al-Wahhab bahkan mengulangnya beberapa kali. Dari Syaikh Umar asy-

Syami, Kiai Zahid, Syaikh Muhammad ibn Sulaiman Hasb Allah, K.

Ishaq Damaran, dan K.H.M. Syahid. Beliau juga belajar ilmu kalam

(teologi), misalnya saat di Mekkah, dari Syaikh Muhammad Muqri

al-Misri al-Makki beliau mengkaji kitab Umm al-Barahin karya

Muhammad As-Sanusi. Ketika pulang di Semarang beliau belajar lagi

dari Sayyid Syaikh ibn Ahmad Bafaqih Baalawi kitab Jauhar at-Tauh

karya Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-‘Abidinkarya Imam al-Ghazali. Serta belajar beliau juga tasawuf, pelajaran ini ditempuh pada tahun

1870-an saat beliau berusia 50-an (mistisisme Islam) kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya al- Ghazali, yaitu juz I dan II dari Sayyid Muhammad Salih

az- Zawawi al-Makki, dan kitab al-Hikam karya Ibn Ataillah dari

Al-Allamah Ahmad an-Nahrawi al-Misri al-Makki.

Kesimpulan kedua, yaitu Kiai Sholeh Darat juga tidak menjadikan

perbedaan madzhab (fikih) sebagai penghalang untuk belajar kepada

seseorang. Buktinya, beliau belajar Tafsir al-Qur’an kepada Syaikh Jamal yang merupakan mufti Hanafiah di Makkah.

25

Kiai Sholeh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di

Pondok Pesantren Salatiyang, yang terletak di Desa Maron, Kecamatan

Loana, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad ke-18 M oleh tiga

orang sufi, masing-masing adalah Kiai Achmad Alim, Kiai Muhammad

Alim, dan Kiai Zain al-Alim dalam perkembangan selanjutnya, pesantren

ini dipercayakan kepada Kiai Zain al-Alim. Sementara Kiai Achmad

Alim mengasuh sebuah pesantren yang bernama al-Imam, di Desa Bulus,

Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhammad Alim mengembangkan

pesantrennya di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren

al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Sholeh Darat sebagai pengajar yang

membantu Kiai Zain al-Alim (Ulum: 2016, 49-50).

Pesantren Salatiyang sendiri lebih memfokuskan pada bidang

penghafalan al-Qur’an, di samping mengajarkan kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinan, Kiai Sholeh Darat diperbantukan untuk mengajarkan

kitab- kitab kuning, seperti Fiqh, Tafsir, Nahwu, dan Sharaf kepada

santri yang sedang menghafalkan al-Qur’an (Masyhuri, 2008: 67).

Tidak jelas, berapa lama Kiai Sholeh Darat menjadi guru pembantu

di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, beliau dijodohkan

dengan Sofiyah putri kyai Murtadha teman seperjuangan ayahnya di

bawah pimpinan Diponegoro, setelah itu beliau mulai menetap di

Semarang dan mendirikan pondok sekitar tahun 1870-an. Hitungan ini

didasarkan pada kitabnya, Matn al-Hikam, yang ditulis rampung dengan

26

Lambat laun pesantren tersebut terkenal dengan sebutan Pondok

Pesantren Darat. Kiai Sholeh Darat mendirikan pesantren Darat.

Pesantren ini merupakan pesantren tertua kedua sesudah pesantren

Dondong, Mangkang Wetan, Semarang. Pesantren ini didirikan oleh salah seorang prajurit Sultan Agung Mataram, yaitu Kiai Syafi’i Piaranegoro sekitar tahun 1628 (Ulum, 2016: 50).

Kemasyhuran pesantren Darat pada masa itu terdengar hingga ke

beberapa daerah. Ini dibuktikan dengan banyaknya murid Kiai Sholeh

Darat yang datang dari berbagai daerah, seperti Solo, Magelang,

Surakarta, Yogyakarta, Kudus, Pacitan, dan Jombang. Kemungkinan

besar pula, nama dan kemasyhuran beliau sudah terdengar sejak

beliau belajar-mengajar di Mekkah. Apalagi mengingat murid-murid

beliau, seperti tersebut di atas, adalah para tokoh agama di tempat

mereka masing- masing.

Keadaan itu menjadikan tidak heran setelah mendirikan pesantren

Darat. Bangunan Pondok Pesantren Darat sangatlah sederhana, namun

pesantren ini mampu mendidik santrinya dengan sangat baik, dintara

santri-santrinya dikemudian hari banyak yang menjadi tokoh nasional

bahkan internasional. Diantara santri- santrinya ialah (Hakim, 2016:

80-82):

a) KH. Mahfudh ibn Abdullah ibn Abdul Manan (1258 H/1866

27

dengan sebutan Syaikh Mahfud at-Tirmisi seorang ahl Hadis,

pengajar di Saudi Arabia.

b) KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah (1868-1923 M),

ketika di Makkah beliau belajar kepada Syaikh Khatib

Minangkabau.

c) KH. Hasyim Asy’ari, (1871-1947 M) pendiri Nahdlatul Ulama, dan pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.

d) K.H. R. Dahlan dari Termas, (1329 H/1919 M), ahli falak dan

kemudian hari diambil menantu oleh Kiai Sholeh Darat.

e) K. Amir dari Brebes (1357 H/1939 M) pendiri pondok pesantren di

simbang kulon dan juga diambil menantu oleh Kiai Sholeh Darat.

f) K. Idris dari Solo, nama aslinya Slamet (1341 H/1927 M), ia

menghidupkan kembali Pondok Pesantren Jamsaren yang didirikan

oleh Kyai Jamsari, prajurit Diponegoro yang ditawan oleh Belanda.

g) K.H. Abdul Hamid, Kendal (1348 H/1930 M), yang kemudian salah

seorang putranya KH. Ahmad Abdul Hamid menjadi Ketua Umum

MUI tingkat I Jawa Tengah tahun 1935-1990 M.

h) K.H. Sya’ban ibn Sya’ban, Semarang (1364 H/1946 M).

i) K.H. Tahir, penerus Pondok Pesantren Mangkang Wetan, semarang.

j) K.H. Sahli, salah seorang kyai di Kauman, Semarang.

k) K.H. Dimyati dari Termas (1934 M) adik Kyai Mahfudh at-Tirmisi.

l) K.H. Khalil, Rembang (1358 H/1940 M).

28 n) Kyai Yasin, Rembang.

o) K.H. Ridwan ibn Mujahid, Semarang (1368 H/1950 M).

p) K.H. Bapak Ali Barkan, Semarang.

q) Kyai penghulu Tafsir Anom, Penghulu Keraton Surakarta, ayah

KH.R Muhammad Adnan.

r) K.H. Yasir, Bareng Kudus.

s) K.H. R. Asnawi dari Kudus (1861-1959 M) yang menjadi murid

Kiai Sholeh Darat sewaktu menuntut ilmu di Makkah.

t) K.H. Muzakkir, kakek KH. Zamrazi, Sayung Demak.

u) K.H. Siraj, dari Payaman, Magelang.

v) K.H. Anwar Mujahid, Semarang.

w) K.H. Abdussamad, ayah K. Muhab Arifin, Solo.

x) K.H. Dalhar, pendiri Pondok Pesantren Watucongol Muntilan.

Beliau terkenal dengan sebutan Mbah Dalhar Watucongol.

y) K.H. Harun, Pondok Pesantren Kempek Cirebon.

z) K.H. Sajad, pendiri Pondok Pesantren Sendangguwa, Semarang.

Pengabdian kepada ilmu dan agama oleh Mbah Sholeh tidak hanya

terbatas pada mengajar di pesantrennya namun beliau juga mengajar

masyarakat lainnya, sebut saja majelis pengajian di Demak, atas

undangan Bupati Demak waktu itu Pangeran Ario Hadiningrat. Mbah

Sholeh Darat mengajarkan tafsir al Qur’an di pendapa Kabupaten.

Selah satu muridnya yang terkenal tetapi bukan dari kalangan

29

Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa Jawa.

Menurut catatan cucu Kiai Sholeh Darat, RA Kartini pernah punya

pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya

memarahinya karena dia bertanya arti.sebuah ayat Al-Qur'an. Kemudian

ketika berkunjung ke rumah parnannya, seorang Demak, RA Kartini

menyernpatkan diri pengajian yang diberikan oleh, Kiai Sholeh Darat.

Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini

menjadi amat tertarik dengan model pengajian yang disajikan oleh Kiai

Sholeh Darat. Di majlis itulah RA. Kartini mengenal beliau serta menjadi

muridnya, Kartini merasakan adanya pencerahan setelah mengikut

pengajian tersebut, seperti pengakuannya bahwa ia sebelumnya merasa

asing dengan agamanya karena tidak mengetahui maknanya (Hakim,

2016: 171-174).

Dalam sebuah pertemuaan RA Kartini meminta agar Al-Qur'an

diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca suci

yang tidak diketahui artinya. Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda

secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur'an. Mbah Sholeh

Darat melanggar Iarangan ini. Beliau menerjemahkan Al-Qur' an dengan

ditulis dalam huruf "Arab gundul" (pegon) sehingga tak dicurigai

penjajah. Kitah tafsir dan terjemahan Al-Qur'an ini diberi nama Kitab

Faid Ar-Rahman tafsir pertama di Nusantara dalarn bahasa Jawa dengan

30

Sepekan sebelum hari pernikahan Kartini, Kiai Sholeh Darat mengutus Kyai Ma’sum seorang Ulama dari Semarang untuk menyampaikan kitab tafsir berjudul Faid Ar-Rahmanfi Bayani Asraril Qur’an, untuk Kartini sebagai hadiah pernikahannya dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.

Pesantren yang didirikan oleh K.H. Saleh Darat di daerah pantai

utara Semarang (daerah Darat) sekarang berubah nama menjadi

Dadapsari, yang letaknya kurang lebih 2 km ke arah jantung kota Jalan

Bojong. Pwsantren Sarat waktu itu tidak berbeda dengan pesantren

lainnya, di kompleks pesantren tersebut ada rumah kiai, mushola/masjid

untuk sholat dan pengajian, asrama santri dan sebagainya. Pesantren ini

dibanggun dengan kayu jati. Sekarang ini, bekas pesantren sudah

berubah menjadi tempat tinggal penduduk. Hanya masjid pesantren yang

masih tersisa, itu pun sudah direnovasi (Hakim, 2016: 79-80).

3. Karya-Karya K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani

K.H. Sholeh Darat mengisi kehidupannya hanyalah diabdikan

untuk kehidupan agama dan umat Islam. Selain sebagai ‘ulama yang gigih berdakwah menyebarkan agama Islam dan mencerahkan

masyarakat dengan nilai-nilai Islam, beliau juga salah satu ulama yang

sangat produktif melahirkan berbagai karya dalam bentuk tulisan. Karya

tulisnya dipergunakan untuk menggali ajaran Islam dan

menyampaikannya kepada masyarakat. Karya tulisnya mencakup

31

tasawuf, teologi hingga tafsir Al-Qur’an. Ia secara intensif mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk membukukan pendapat para

ulama-ulama terdahulu, pendapatnya sendiri dan dikaitkan dengan kultur

dan budaya sendiri tentang berbagai masalah yang dihadapinya dalam

konteks kemasyarakatan yang melingkupinya. Perhatiannya tercurah

terhadap pandangan hidup yang berdasarkan ajaran-ajaran agama islam

dan kehidupan spiritual setiap muslim, kebanyakan karya tulis Kiai

Sholeh Darat berbahasa jawa (Arab pegon), ini dimaksudkan untuk

memudahkan pengajaran terutama bagi kaum awam agar mudah

difahami dan hayati.

Tidak sedikit dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’i dari kalisasak (1786), yang banyak menulis kitab berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Sholeh Darat adalah

satu-satunya ulama, akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaannya

berbahasa Jawa.

Menurut riwayatnya, kurang lebih ada 40 kitab telah dikarang oleh

K.H. Sholeh Darat, tetapi yang bisa diselamatkan hingga sekarang baru

sekitar 14 kitab. Karya-karyanya masih berada dalam proses pencarian.

Kitab-kitab beliau cukup sulit dilacak, Karena disebabkan jaman dahulu

pengawasan Belanda, sehingga K.H. Sholeh Darat tidak sempat

mengoleksi kitab-kitab karangannya sendiri. Usai menulis kitab, kitab

tersebut langsung diberikan kepada muridnya. Karena itu justru

32

Anak-anaknya sendiri hanya sedikit yang bisa mengoleksinya (Hakim,

2016: 147).

Adapun karya-karya Kiai Sholeh Darat yang sebagiannya

merupakan terjemahan, kurang lebih ada 14 buah, yaitu:

1. Matn al-Hikam

Kitab ini merupakan terjemahan dan ringkasan dari kitab

al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibn Ata’ al-Askandari, merupakan kitab terjemahan dalam bahasa Jawa, merupakan kitab Tasawuf. Yang

diakhir penulisan kitab ini K.H. Sholeh Darat memberikan nasehat

bahwa resep bagi orang yang hendak membunuh nafsunya, maka

hendaknya menanamkan sifat kerinduan akan kematian dan cinta

ingin bertemu Tuhan-Nya. Benci terhadap dunia. Maka dari itu

dalam mempelajari kitab ini sangat-sangat dibutuhkan seorang guru

(mursyid) (Ulum, 2016: 117).

2. Munjiyat

Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya ‘Ulum al-Din jilid III dan IV karya Imam Al-Ghozali. Kitab ini terdiri dari

dua bagian, yaitu bagian pertama, Muhlikat Madzmumah atau

perbuatan yang dapat membinasakan dan tercela. Sedangkan pada

bagian kedua, Munjiyat Mahmudah atau perbuatan yang

33

Di akhir pada pembahasan di dalam kitab Munjiyat, K.H.

Sholeh Darat bermudajat “La ilaha illallah ya ilahi wa sayyidi”

(Ulum, 2016: 121).

3. Kitab Fasalatan

Kitab ini membahas tentang sesuatu yang berkaitan dengan

sholat secara zahirnya syariat. Kitab ini berbeda dengan lathaifu

al-thaharah yang selain mengupas syariat secara lahir, juga disinggung

secara batinnya (Ulum, 2016: 140).

4. Syarh Barzanji.

Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab Barzanji karya

Syaikh Ja’far Al-Barjanji dengan menggunakan bahasa Arab Pegon seperti kitab-kitab karangan K.H. Sholeh Darat yang lainnya.

Kitab ini mengulas tentang perjalanan Sirah Nabawi, khususnya tentang Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. di waktu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha (Ulum, 2016: 147).

5. Lathaif al-Thaharat wa Asrar al-Sholah fi Kaifiyat Sholat al-Abidin

Dalam dokumen NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB (Halaman 29-123)

Dokumen terkait