i
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK
DALAM KITAB
MAJMŪ‘AH AS
-
SYARΑAH AL
-
KĀFIYAH LIL ‘AWĀM
KARYA K.H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT
AS-SAMARANI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
Dimas Adam Saputra
NIM: 11113251
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
iii
Dr. M. Ghufron, M.Ag. Dosen IAIN Salatiga Persetujuan Pembimbing Lamp : 4 eksemplar Hal : Naskah Skripsi Saudara : Dimas Adam Saputra
Kepada:
Yth. Dekan FTIK IAIN Salatiga Di Salatiga
Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Setelah kami meneliti dan mengadaan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi mahasiswa:
Nama : Dimas Adam Saputra NIM : 11113251
Jurusan : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan / Pendidikan Agama Islam
Judul : Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Majmū‘ah As- nSyarī‘ah Al-Kāfiyah Lil ‘Awām Karya K.H. Muhammad
nSholeh Darat As-Samarani
Dengan ini kami mohon skripsi saudara tersebut diatas supaya segera dimunaqosyahkan. Demikian agar menjadi perhatian
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
Salatiga, 17 Juli 2017 Pembimbing
Dr. M. Ghufron, M.Ag.
iv
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
Jalan Lingkar Salatiga Km. 2 Telepon: (0298) 6031364 Salatiga 50716 Website: tarbiyah.iainsalatiga.ac.id Email: [email protected]
SKRIPSI
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM KARYA K.H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT AS-SAMARANI
disusun oleh:
DIMAS ADAM SAPUTRA NIM: 11113251
Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada tanggal 21 Agustus 2017 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.
Susunan Panitia Penguji
Ketua Penguji : Dr. Fatchurohman, M.Pd
Sekretaris : Mufiq, M.Phil
Penguji I : Sutrisna, M.Pd
Penguji II : Dra. Djami’atul Islamiyah, M.Ag.
v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Dimas Adam Saputra
NIM : 11113251
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB
MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM
KARYA K.H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT AS-SAMARANI
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya
saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan
orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode
etik ilmiah dan tidak keberatan untuk dipublikasikan oleh pihak IAIN Salatiga
tanpa menuntut konsekuensi apapun.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dan jika pada kemudian hari terbukti
karya saya ini bukan karya sendiri, maka saya sanggup untuk menaggung semua
konsekuensinya.
Salatiga, 31 Agustus 2017 Yang menyatakan
vi MOTTO
ِساَنلِل ْمُهُعَفنَأ ِساَنلا َرْيَخ َو
“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”
vii
PERSEMBAHAN
Dengan penuh ketulusan hati, saya persembahkan skripsi ini untuk:
1. Nabi Muhammad SAW., semoga menjadi bukti kecil tanda kecintaanku kepada Baginda Nabi SAW.
2. Keluarga yang aku cintai, Bapak Sutrisno yang telah menuntun dalam jalan perjuangan hingga saat ini, Ibu Siti Rofi’ah yang terus berdo’a demi kesuksesanku, dan tak lupa adikku Riski Dian Rahmawati yang selalu menyemangati dalam perjuanganku.
3. Dosen Pembimbing Bapak Dr. M. Ghufron, M.Ag. yang membimbing dan memotivasiku dengan sabar hingga terselesainya skripsi ini.
4. Dosen Pembimbing Akademik Bapak Drs. H. Ahmad Sultoni, M.Pd. yang membimbing dan memotivasiku dari awal belajar di kampus hingga saat ini.
5. Bapak Sukron Ma’mun, M.Si selaku pengasuh Ma’had Al-Jami’ah Putra IAIN Salatiga.
6. Keluarga besar Ma’had IAIN Salatiga, Komisariat PSHT IAIN Salatiga, Majelis Do’a Mawar Allah IAIN Salatiga, KI Salatiga, HKEC Periode 7, Keluarga Miftakhul Jannah dan Man Jadda wa Jada.
7. Keluarga besar dan teman-teman seperjuangan di kampus yaitu PAI, PPL, dan KKN angkatan 2013.
viii
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang senantiasa membanjiri penulis dengan kasih sayang, melimpahkan rahmat, memberikan petunjuk, dan memberikan kemudahan dalam penulisan skripsi ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga penulis dan pembaca diridloi Allah SWT. dan mendapatkan syafa’at Rasullullah SAW. baik di sunia maupun di akhirat.
Penulisan skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar kesarjanaan dalam Ilmu Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Disamping tujuan mulia tersebut, penulisan ini dimaksudkan untuk amal jariyah kepada pendidikan Islam di Indonesia dengan harapan dapat membantu mencetak generasi bangsa yang selalu bertaqwa kepada Allah SWT dan juga cinta tanah air. Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menemui hambatan, tetapi dengan rahmat-Nya melalui dukungan, bantuan dan bimbingan hamba-hamba yang dekat dengan Allah oleh karena itu perkenankan penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga. 2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga
3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku ketua jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
4. Bapak Drs. H. Ahmad Sultoni, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik yang selama ini menjadi pembimbing studi penulis selama belajar di kampus IAIN Salatiga, dan tak jenuh memberikan nasihat dan bimbingan serta dengan antusias mendengarkan setiap kata hati penulis. Athalallahu umrohu wa shahhaha jasadahu.
ix
6. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga yang telah banyak memberikan hikmah dan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama di bangku perkuliahan.
7. Bapak, Ibu, dan Adikku tercinta yang selalu memberikan dukungan, semangat, serta dengan tulus dan ikhlas mengetuk pintu langit berdoa untuk kelancaran dalam menyelesaikan perkuliahan dan skripsi ini.
8. Karyawan-karyawati IAIN Salatiga yang telah memberikan layanan serta bantuan.
9. Teman-teman yang selalu menyemangatiku.
10. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
Tiada kalimat yang pantas penulis ucapkan kecuali kalimat al-hamdulillahi Robbil Alamin jazakumullahu ahsanal jaza’, jaza’an katsiro. Penulis berdo’a semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dan ridho dari Allah SWT serta tercatat dalam bentuk amalan ibadah.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kajian yang akan datang. Semoga hasil penelitian ini dapat berguna bagi penulis khususnya serta para pembaca yang budiman pada umumnya. Āmīn.
Salatiga, 17 Juli 2017 Penulis,
Dimas Adam Saputra 111-13-251
x ABSTRAK
Saputra, Dimas, Adam. 2017. 11113251. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām karya K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. M. Ghufron, M. Ag.
Kalimat Kunci: Nilai Pendidikan Akhlak, Kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al -Kāfiyah lil-‘Awām, K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani.
Semangat untuk membangun dan memperbaiki akhlak pelajar demi terwujudnya pelajar yang berakhlakul karimah. Salah satunya perkembangan zaman modern saat ini (globalisasi), yang mudah masuk dan keluarnya berbagai budayaan luar, yang menyebabkan merosotnya akhlak dikalangan pelajar. Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti mengadakan penelitian terhadap kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām karya K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani. Disusun dua rumusan masalah untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang pendidikan akhlak buah pikiran beliau, yaitu: 1). Bagaimana nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah As -Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani 2). Bagaimana relevansi pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām dengan Pendidikan Akhlak Sekarang?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), sedangkan sumber data primer dari penelitian ini adalah kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām dan sumber sekundernya adalah buku-buku lain yang bersangkutan dan relevan dengan penelitian. Kemudian data dianalisis dengan metode induktif kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ciri pemikiran beliau lebih menekankan pada pengamalan ajaran Islam secara konsisten dengan dilandaskan pada teks-teks Al-Qur’an dan Hadist. Di dalam kitab Majmū‘ah dijelaskan bahwa terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu: pertama:
xi DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN BERLOGO ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN KELULUSAN ... iv
DEKLARASI ...v
MOTTO ... vi
PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
ABSTRAK ...x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Rumusan Masalah ...5
C. Tujuan Penelitian ...5
D. Manfaat Penelitian ...6
E. Kajian Pustaka ...7
F. Metode Penelitian...11
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ...11
2. Sumber Data ...12
3. Teknik Analisis Data ...14
xii
BAB II PROFIL K. H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT
AL-SAMARANI DAN SISTEMATIKA KITAB MAJMŪ‘AH
AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM ...17 A. Biografi K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani ...17
1. Riwayat Hidup K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani ...17
2. Pendidikan K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani ...18
3. Karya-Karya K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani ...30
B. Sistematika Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil
‘Awām ...36
BAB III NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB
MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM .43
A. Deskripsi Nilai Pendidikan Akhlak ...43
B. Pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani
Tentang Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Majmū‘ah
As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām ...45
BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK DAN
NILAI-NILAINYA KITAB MAJMۑAH AS-SYARΑAH AL
-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM ...52 A. Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Majmū‘ah As
xiii
B. Relevansi Pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah
lil ‘Awām dengan Pendidikan Akhlak Sekarang ...78
BAB V PENUTUP ...94
A. Kesimpulan ...94
B. Saran ...97
DAFTAR PUSTAKA ...98
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa adalah dilihat dari sistem
pendidikannya. Dari pendidikan seseorang akan terbuka intelektualnya
sehingga luas pemikirannya. Pendidikan merupakan wilayah yang sangat luas.
Ruang lingkupnya mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran manusia
tentang pendidikan. Setiap orang pernah mendengar tentang perkataan
pendidikan, dan setiap orang waktu kecilnya pernah mengalami pendidikan,
atau setiap orang sebagai orang tua, guru, telah melaksanakan pendidikan.
Namun tidak setiap orang mengerti dalam arti yang sebenarnya apa pendidikan
itu, dan tidak setiap orang mengalami pendidikan ataupun menjalankan
pendidikan sebagaimana mestinya.
Setiap bangsa tentu akan menyatakan tujuan pendidikannya sesuai
dengan nilau-nilai kehidupan yang sedang diperjuangkan untuk kemajuan
bangsanya. Walaupun masing-masing bangsa memiliki tujuan hidup berbeda,
namun secara garis besar, ada beberapa kesamaan dalam berbagai aspeknya.
Pendidikan bagi setiap individu merupakan pengaruh dinamis dalam
perkembangan jasmani, jiwa, rasa sosial, susila, dan sebagainya .
Pendidikan kita dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dan
persoalan, diantaranya pertama bertambahnya jumlah penduduk yang sangat
2
pendidikan, yang secara kumulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan
yang memadai, kedua berkembangnya ilmu pengetahuan yang modern
menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan
terus-menerus dan dengan demikian menuntut pendidikan yang lebih lama
sesuai dengan konsep pendidikan seumur hidup (life long education) dan yang
ketiga berkembangnya teknologi yang mempermudah manusia dalam
menguasai, memanfaatkan, dan mengakses berbagai informasi, yang terkadang
menjadi ancaman terhadap pendidikan bahkan peranan manusiawi (Sa’ud,
2008: 5).
Pendidikan sendiri tak lepas juga dari sejarah peradaban Islam, dimana
dari peradaban tersebut lahir berbagai bidang ilmu salah satunya adalah
pendidikan. Pendidikan sendiri di dalamnya mengandung berbagai disiplin
ilmu dan nilai-nilai pendidikan. Dalam pendidikan Islam ada yang mananya
nilai pendidikan akhlak. Dalam ajaran Islam, akhlak menempati kedudukan
yang istimewa. Selain menjadi pokok isi Al-Qur’an akhlak juga merupakan
salah satu ajaran pokok agama Islam.
Konteks akhlak di masa depan, visi pendidikan diharuskan untuk
menyiapkan atau merencanakan perbaikan akhlak yang telah mulai rapuh di
masa sekarang. Contohnya seperti yang terjadi saat ini adalah kenakalan
remaja. Hal ini sudah menjadi masalah umum yang menjadi bahan bahasan
atau pemikiran bagaimana mengatasinya secara bijaksana dan sesuai dengan
nilai moral yang berlaku yang tidak pula melenceng dari HAM (Hak Asasi
3
pemerintah harus solid dalam menyelesaikan permasalahan akhlak. Selain itu,
hal ini juga dipicu karena kurangnya penghayatan atas nilai-nilai ketuhanan
yang telah ada kaidah-kaidah yang mengaturnya sesuai dengan norma yang
berlaku.
Permasalahan lainnya yang terjadi di masyarakat pada umumnya seperti
kurangnya kedisiplinan dalam bekerja, berumahtangga yang kurang harmonis,
mendidik anak tidak dengan nilai moral bahkan kerukunan bersosial yang
kurang. Bukanlah tidak mungkin menyelesaikan masalah-masalah tersebut,
harus ada kesadaran individu maupun institusi dalam menyelesaikan
permasalahan. Dengan mengetahui penyebab utamanya kemudian diadakan
usaha kolektif dalam mencari solusinya.
Salah satu solusinya adalah dengan penanaman akhlak yang mulia
dimanapun anak berada. Baik di mulai lingkungan rumah, sekolah, masyarakat
dan hingga menjadi warga bernegara. Misalnya di keluarga, orang tua
mengajarkan akan keimanan, ketakwaan dan sopan santun. Di sekolah bisa
dilakukan dengan mengajarkan peserta didik mulai dari menghormati guru,
bergaul dengan teman hingga sekolah tidak hanya mencari ilmu tetapi juga
membangun akhlak yang baik, begitu juga di masyarakat.
Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan setiap urusan
manusia, dimana di dalam Al-Qur’an dan hadist Rasullulloh SAW. salah
satunya yaitu tata cara dalam menjalani kehidupan ini. Selain itu banyak
4
tentang aktifitas belajar dan pembelajaran, di antaranya adalah seorang ulama
yang mashur di pulau Jawa yaitu K.H. Muhammad Shalih As-Samarani atau
yang lebih dikenal Kyai Haji Sholeh Darat, dimana ulama abad 19-20 M.
Beliau setidaknya memiliki 14 karya, yang menerangkan berbagai macam
kajian keislaman, seperti tentang akidah, akhlak, tauhid, tasawuf, ulumul
qur’an, tafsir qur’an hingga kitab fiqih yang masih banyak digunakan di
pesantren-pesantren salaf hingga saat ini.
Salah satu kitab karangan Kyai Haji Sholeh Darat adalah kitab
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām merupakan salah satu karya
penting berbahasa Jawa dengan huruf Arab (Arab pegon). Penelitian ini lebih
fokus dan mendalam mengenai nilai-nilai pendidikan akhlak kitab Majmū‘ah
As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām, dimana kitab ini merupakan kitab untuk
orang awam (pemula) sehingga lebih mudah untuk dicerna bahasanya. Dengan
isi kitab menggunakan huruf Arab Pegon mempermudah dalam
mempelajarinya terlebih jika seseorang tersebut belum menguasai Bahasa
Arab. Perbedaan dan sekaligus keunggulan dari kitab tersebut yaitu kitab ini
juga masuk kategori tasawuf, karena dengan tasawuf akhlak itu sendiri akan
merefleksikan dari penerapan ilmu tasawuf sehingga tingkah laku dan
perbuatan kita sama dengan perilakunya Rasulullah SAW. Disamping itu Kyai
Sholeh Darat pengajaran yang diajarkan dengan kultur budaya lokal yang
mudah diterima masyarakat luas dan terbukti beliau melahirkan ulama-ulama
besar terkenal seperti K.H. Hasyim As’ari, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Mahfudz
5
Idris dari Surakarta, K.H. Abdul Hamid dari Kendal, Kyai Khalil dari
Rembang, KyaiPenghuluAnomdari Kraton Surakarta.
Berangkat dari uraian permasalahan di atas peneliti terdorong untuk
meneliti, mendeskripsikan dan merelevansi pemikiran beliau di dalam kitab
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Maka peneliti pemengangkatnya
sebagai skripsi yang berjudul, “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya K. H. Muhammad Sholeh
Darat As-Samarani”.
B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,
maka peneliti ingin membahas hal-hal pokok dalam skripsi ini dirumuskan
dalam bentuk rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah
As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām karya K. H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani?
2. Bagaimana relevansi pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām
dengan Pendidikan Akhlak di era Modern
C. Tujuan Penelitian
Pembahasan skripsi tentang nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya K. H. Sholeh Darat ini
6
1. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah
As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām.
2. Mengetahui relevansi pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām dengan
Pendidikan Akhlak di era Modern
D. Manfaat Penelitian
Dari paparan tujuan yang hendak dicapai dari pelaksanaan penelitian
ini, maka dapat dirumuskan manfaat yang dapat diperoleh dari kajian
ilimiah ini. Pada penelitian ini penulis mengategorikannya menjadi manfaat
teoritis dan manfaat praktis. Secara lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai
berikut:
1. Manfaat Teoritis
Manfaat penelitianini merupakan sumbangsih khasanah keilmuan
pendidikan Indonesia secara umum dan pendidikan Islam. Selain itu
khususnya tentang nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam kitab
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām ini memberikan sumbangan
pemikiran dan konsep baru mengenai pendidikan akhlak dikalangan
praktisi pendidikan maupun akademisi sebagai bahan acuan dan rujukan.
Dan juga bisa sebagai pijakan atau acuan (referensi) para peneliti dalam
penelitian lebih lanjut terkait konsep pendidikan akhlak ke depannya.
2. Manfaat Praktis
7
langsung (praktis) bagi segenap pemerhati dan pelaku pendidikan,
terutama para pelaku/pembimbing akhlak peserta didik. Secara umum
penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam
mengatasi masalah-masalah pendidikan akhlak, seperti:
a. Bagi akademisi
Hasil penelitian ini dapat berguna untuk pengembangan ilmu
pengetahuan dan pelestarian nilai-nilai pendidikan Islam yang pernah
ada di Indonesia khusunya nilai pendidikan akhlak.
b. Bagi masyarakat
Sebagai sumbangan informasi bagi segenap masyarakat yang
beragama Islam untuk tetap menjaga nilai-nilai pendidikan Islam yang
yang pernah diajarkan oleh K. H. Sholeh Darat. Selain itu, juga untuk
menangani perilaku ataupun akhlaq anak bagi orang tua maupun
masyarakat pada umumnya.
c. Bagi Peneliti
Sebagai bahan masukan untuk mengembangkan wawasan ilmu
pengetahuan, sejarah tokoh Islam Indonesia, sikap ilmiah dan sebagi
bahan dokumen untuk penelitian lebih lanjut.
E. Kajian Pustaka
Pembahasan kali ini yaitu kajian terhadap hasil penelitian yang relevan
mengenai Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām bukanlah yang
pertama kali dilakukan. Namun belum banyak skripsi yang menyajikan
8
Sejauh yang penulis ketahui dalam penelitian yang dianggap relevan
guna menunjang penelitian ini yaitu:
Pertama, skripsi yang ditulis oleh Andri Winarco dengan judul “Konsep
Pendidikan Akhlak Perspektif K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani”
(Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan IAIN Salatiga, 2017). Pembahasan
yang dibahas dalam skripsi ini yaitu membahas tentang konsep pendidikan
akhlak dalam pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani selain itu
pembahasannya pun lebih umum karena sumber primernya meliputi berbagai
kitab dari karangan K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani (Winarco,
2017: 144).
Kedua, jurnal yang ditulis oleh Mudzakiron dan Arif Chasanul Muna
dengan judul “Pola Redaksi Matan Hadis Dalam Kitab Majmū’ah Al-Syarī’ah
Karya K.H. Saleh Darat” (Dosen Fakultas Ushuludin Jurusan Studi Ilmu
Hadist IAIN Pekalongan 2015). Jurnal ini membahas tentang pola redaksi
matan dan mendeskripsikan yang tercantum dalam kitab Majmū‘ah As
-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab tersebut
akan ditelusuri keberadaannya dalam kitab-kitab hadis induk dan kemudian
dibandingkan pola redaksinya. Jumlah hadis yang terdapat dalam kitab
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām adalah 117 hadis, namun yang
akan diteliti hanya dua belas hadis saja yang memang tertulis dalam bahasa
Arab (Mudzakiron dan Muna, 2015: 229).
Ketiga, jurnal yang ditulis oleh M. In’amuzzahidin dengan judul
9
Ushuludin UIN Walisongo 2012). Jurnal ini membahas tenang pemikiran
sufistik dari K.H. Muhammad Shalih As-Samarani dalam Matn al-Ḥikam dan
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Beliau menegaskan bahwa
Pemikiran tasawuf Muhammad Shalih As-Samarani (Saleh Darat) yang ada
dalam kitab Matn Al-Ḥikam dan Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil
‘Awām, menekankan terhadap pengamalan ajaran Islam dengan penuh
kesadaran dan keikhlasan kepada Allah. Kiai Saleh Darat mendasarkan
pemikiran nya pada tasawuf sunni amali. Beliau menolak keras
pemahaman tasawuf falsafi, khususnya untuk orang awam (In’amuzzahidin,
2012: 343-344)
Keempat, disertasi yang ditulis oleh Abdullah Salim dengan judul
disertasinya “Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya Shaikh
Muḥammad Ṣālih Ibn ‘Umar al-Samārānī” (Mahasiswa IAIN Syarif
Hidayatullah 1994. Disertasi ini berisi tentang pemikiran K.H. Muhammad
Sholeh Darat As-Samarani mengenai sosiohistoris dan pemikirannya (Salim,
1994: 20-37).
Kelima, disertasi yang ditulis oleh Ghazali Munir dengan judul
“Pemikiran Kalam Muhammad Salih Darat As-Samarani (1820-1903)”
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Agama Islam UIN Sunan Kalijaga 2007).
Disertasi ini berisi tentang pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani mengenai iman, kasab, dan pengaruhnya terhadap masyarakat
10
Penelitian ini berbeda dengan penelitian di atas dengan melihat variable
dan objeknya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Andri Winarco
menitikberatkan pada konsep pendidikan akhlak dan relevansinya dalam
pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani sehingga tidak
mengungkapkan pendidikan akhlak dalam pemikiran maupun karya K.H.
Muhammad Sholeh Darat As-Samarani secara spesifik jadi masih bersifat
umum (global). Penelitian yang dilakukan oleh Mudzakiron dan Arif Chasanul
Muna secara garis besar hanya meneliti tentang Pola Redaksi Matan Hadis
Dalam Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya K.H.
Muhammad Sholeh Darat As-Samarani, serta tidak membahas tentang nilai
pendidikan akhlak dalam penelitian tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh
M. In’amuzzahidin menjelaskan lebih ke pemikiran sufistik dari K.H.
Muhammad Shalih As-Samarani dalam Matn Al-Ḥikam dan Majmū‘ah As
-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām, tidaklah ke nilai pendidikan akhlaknya. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Abdullah Salim, beliau memaparkan tentang
sosiohistoris dan pemikirannya yang dituangkan di dalam kitab Majmū‘ah As
-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Dan penelitian yang dilakukan oleh Ghazali
Munir, beliau memaparkan bahwa menekankan amal sebagai realisasi dari
iman yang dimiliki seseorang, begitu pula kasab juga menekankan kepada
adanya amal bagi iman. Sedangkan pengaruhnya untuk masyarakat tradisioanl
sangatlah luas dengan bukti karya tulis K.H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani digunakan sebagai literatur wajib dalam masjelis pengajian di
11
Pada penelitian ini, penulis akan mendeskripsikan lebih mendalam dan
terpusat pada nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah
Al-Kāfiyah lil ‘Awām sekaligus mengungkap analisis pemikiran K.H.
Muhammad Sholeh Darat As-Samarani beserta relevansinya diera sekarang.
F. Metode Penelitian
Metode diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang akan
dilakukan dalam proses penelitian, sedangkan penelitian itu sendiri diartikan
sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk
memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan
sistematis untuk mewujudkan kebenaran (Mardalis, 1995: 24). Oleh karena itu,
di sini akan dipaparkan mengenai:
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian pustaka atau literer, maka
penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan
deskriptif analitis, yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan
data secara kuantitatif (Moleong, 2002: 6).
Penulis berusaha mengkaji nilai-nilai pendidikan akhlak yang
terdapat dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām. Adapun
pengertian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan sifat- sifat
atau karakter individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Sehingga
penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, akan
12
penulis hanya menganalisa secara kritis permasalahan yang dikaji.
Adapun jenis penelitian yang digunakan Penulis adalah kajian
pustaka (library research). Penelitian ini termasuk jenis penelitian
yang mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan
bermacam-macam materi yang terdapat dalam kepustakaan (buku) atau jenis
penelitian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang ditujukan untuk
mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial,
sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individu maupun
kelompok (Sukmadinata, 2007: 60).
2. Sumber Data
Sumber data yang dimaksudkan semua informasi baik yang
merupakan benda nyata, sesuatu yang abstrak, peristiwa/gejala baik secara
kuantitatif maupun kualitatif. Sumber data yang bersifat kualitatif di dalam
penelitian diusahakan tidak bersifat subjektif, oleh sebab itu perlu diberi
peringkat bobot (Sukandarrumidi, 2002: 44). Oleh karena itu penelitian ini
membutuhkan beberapa data, baik itu data primer dan data sekunder.
Dalam penulisan skripsi ini, sumber data yang digunakan adalah sumber
data yang relevan dengan pembahasan skripsi. Adapun sumber data
terdiri dari dua macam yaitu:
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer merupakan bahan utama atau
13
mengungkapkan dan menganalisis penelitian tersebut. Sumber data
dalam penelitian ini yaitu kitab hasil karya Muḥammad Ṣālih Ibn
‘Umar al-Samārānī atau biasa disebut K. H. Sholeh Darat yaitu kitab
Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber Data Sekunder yaitu sumber data pendukung yang
digunakan untuk menguatkan dan menunjang penelaahan data-data
yang dihimpun dari sumber data utama serta sebagai pembanding dari
sumber data primer. Sumber-sumber tersebut diantaranya adalah kitab
Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya Al-Ghazali, buku-buku tentang ilmu
Pendidikan, Pendidikan Akhlaq, hingga sejarah Kyai Haji Sholeh
Darat. Selain itu juga berbagai literatur yang berkaitan dan relevan
dengan objek penelitian, baik itu skripsi, jurnal, maupun website.
Dalam penelaahan ini tak lepas dari sistematika pendidikan di
Indonesia seperti pada UU No. 20 tahun 2003. Menurut
Undang-Undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 Pendidikan adalah "Usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Pasal 1, ayat 1).
Pendidikan nasional "pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan
14
berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan
tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman” (Pasal 1, ayat 2).
Berlangsungnya kehidupan sosial yang berlandaskan
sekularisme telah menyuburkan paradigm hidonisme (hura-hura),
permisivisme (serba boleh), materialistic (money oriented), dan
lainnya di dalam kehidupan masyarakat. Motif untuk
menyelenggarakan dan mengenyam pendidikan, baik oleh pemerintah
maupun masyarakat, saat ini lebih kepada tujuan untuk mendapatkan
hasil-hasil materi ataupun keterampilan hidup belaka (yang tidak
dikaitkan dengan tujuan membentuk kepribadian (akhlak) yang utuh
berdasarkan pandangan syari`at Islam).
Maka dilihat dari pembahasan diatas bahwa pendidikan saat
ini lebih sekuler yang menyebabkan akhlak dikesampingkan. Dari sini
seperti pasal 1 ayat 2 pendidikan salah satunya harus berakar pada
nilai-nilai agama.
3. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang amat penting dalam
metode ilmiah, karena dengan dianalisa data tersebut dapat diberi arti
dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian.
Data mentah yang telah dikumpulkan perlu dipecah-pecahkan dalam
kelompok-kelompok, diadakan katagosasi, dilakukan manipulasi serta
15
untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesa
(Nazir, 1983: 405).
Sedangkan menurut Lexy J. Moloeng analisis data kualitatif
merupakan sebuah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan
data, mengorganisir data, memilih dan memilah sehingga dapat
dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
mensimpulkan hasil analisis ke dalam sebuah laporan penelitian
(Moloeng, 2009: 248).
Adapun cara menganalisis penelitian ini, penulis menggunakan
metode induktif. Metode Induktif adalah suatu metode berfikir yang
berangkat dari fakta-fakta peristiwa khusus dan konkret, kemudian
ditarik generalisasi-generalisasi yang bersifat umum (Hadi, 1987: 42).
Dalam prakteknya penelitian ini dimulai dari mencari data temuan
dari berbagai sumber yaitu buku-buku yang berkaitan dengan
nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al
-Kāfiyah lil ‘Awām karya K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani.
Dari uraian data-data yang diperoleh kemudian dikaji dan dirumuskan
menjadi kesimpulan. Sehingga penelitian ini berfikir dimulai dari
khusus menuju umum.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan menyeluruh
16
yang selanjutnya. Sedangkan sistematika sendiri memiliki arti suatu tata urutan
yang saling berkaitan, saling berhubungan, dan saling melengkapi. Adapun
sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, menguraikan tentang : latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka,
metode penelitian, sistemaitka penulisan sebagai gambaran awal
dalam memahami skripsi ini.
Bab II: Sosiohistoris K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani yang
menguraikan tentang: Biografi K. H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani, yang meliputi riwayat kelahiran, kehidupan intelektual,
perjalanan karirnya hingga karya-karyanya. Selain itu dalam bab ini
juga membahas tentang sistematika kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah
Al-Kāfiyah lil‘Awām.
Bab III: Data temuan dan uraian pemikiran K. H. Muhammad Sholeh Darat
As-Samarani di dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil
‘Awām
Bab IV : Pembahasan, analisis, pemikiran, relevansi, dan implikasinya dalam
era modern sekarang.
17 BAB II
PROFIL K. H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT AS-SAMARANI
DAN SISTEMATIKA KITAB MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH
LIL ‘AWĀM
A. Biografi K.H. Muhammad Sholeh DaratAs-Samarani
1. Riwayat Hidup K.H. Muhammad Sholeh DaratAs-Samarani
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Sholeh Ibn `Umar
As-Samarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat ataupun
Mbah Sholeh Darat. Nama yang sering dicantumkan dalam
beberapa kitab karyanya, seperti tercantum pada sampul kitab Majmū‘ah
As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām, Munjiyyāt, Laṭa’if al-Ṭahārah,
tarjamah Sabīl al-‘Abīd ‘Alā Jauharah al-Tauḥīd, dan sebagainya.
Ayahnya bernama Kiai Umar yang merupakan pejuang dan orang
kepercayaan Pangeran Dipenogoro (1825-1830 M) di Jawa bagian Utara
khususnya Semarang (Shabir, 2007: 178).
Menurut Kiai Fahr ar-Razi Kajen yang mendapat informasi
dari Kiai Abdullah bahwa Kiai Sholeh Darat lahir sedesa dengannya,
yaitu di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten
Jepara. Kiai Sholeh Darat lahir pada masa pemerintahan kolonial
Belanda, sekitar tahun 1820 M (Munir, 2008: 33) . Sedangkan hari,
tanggal, bulan, dan tahun yang tepat belum diketahui secara pasti. Hal
18
Kiai Sholeh Darat. Berbeda dengan tanggal wafat beliau, bahwa beliau
wafat di Semarang pada hari Jum’at 28 Ramadan 1321 H yang
bertepatan dengan 18 Desember 1903 M. Tahun ini berdasarkan catatan
santri dan abdi dalem Kiai Sholeh Darat yaitu K.H. Jayadi.
Meskipun beliau wafat pada tanggal 28 Ramadhan 1321 H. haul
beliau diadakan pada tanggal 10 Syawal. Hal ini dimaksudkan agar
masyarakat bisa merayakan lebaran dengan leluasa lebih dahulu. Setelah
merayakan lebaran dan syawalan. Banyaknya umat yang hadir dalam
acara haul tersebut, seolah menjadi penanda bagi kebesaran nama dan
jasa Kiai Sholeh Darat. Karena itulah, semakin lama nama ulama besar
itu kini semakin popular di masyarakat luas, khususnya di Jawa Tengah
(Hakim, 2016: 200).
Masyarakat pada umumnya mengenal beliau dengan nama “Kiai
Sholeh Darat”. Kata “Darat” adalah nama suatu daerah di pantai utara
Kota Semarang. Tempat itu disebut demikian karena ia menjadi
tempat orang berlabuh (ndarat; Jawa). Sekarang, daerah itu termasuk
dalam Kelurahan Dadapsari Kecamatan Semarang Utara. Selain itu
sebutan Kiai Sholeh Darat, beliau akui sendiri dan tertera pada sampul
karya tulisnya yang berjudul Syarh Barzanji.
2. Pendidikan Kiai Sholeh Darat
Pendidikan pertama agamanya diajar langsung oleh ayahnya
sendiri. Permulaan belajar agama berpusat pada pelajaran al Qur’an yang
19
surat Al Fatikhah karena berkaitan dengan ibadah, salat, wudu’ dan
beberapa doa serta ilmu tajwid yang bermanfaat untuk melafalkan
ayat-ayat al Qur’an dengan benar. Pelajaran ini diikuti oleh anak-anak
pada usia 6 sampai 10 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan al
Qur’an, minat belajar beliau berlanjut kepada pelajaran yang lebih tinggi,
yaitu pendidikan (pengajian) kitab.
Setelah itu, Kiai Sholeh Darat kecil melanjutkan pelajaran ke
beberapa kiai di beberapa pesantren. Hal ini dikukuhkan dengan
pengakuan Kiai Sholeh Darat sendiri. Beliau menyebutkan daftar Kiai
yang menjadi guru beliau dalam bagian akhir kitab Mursyid
al-Wajiz (Hakim, 2016: 53), mereka adalah:
a) K.H.M. Syahid, Waturoyo, Kajen, Margoyoso, Pati, cucu Kiai
Mutamakkin (1645 – 1740 M). Kepadanya Kiai Sholeh Darat
belajar kitab: Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawim,
Sayrh al-Khatib, Fath al-Wahhab, dan lainnya. Ini adalah
pesantren pertama dari pengembaraan keilmuan yang panjang.
b) K.H.R. Muhammad Salih ibn Asnawi Kudus (1861-1959).
Kepada kiai yang sufistik ini Kiai Sholeh Darat belajar kitab
Tafsir Jalalain.
c) K. Ishaq Damaran, Semarang. Kiai Sholeh Darat belajar nahwu dan
saraf serta Fathal-Wahhab dari beliau.
d) K. Abu Abdillah Muhammad al-Hadi ibn Bauni, mufti di Semarang,
20
e) Sayyid Syaikh ibn Ahmad Bafaqih Baalawi, di Semarang. Pada
tahun 1870-an, Kiai Sholeh Darat belajar kitab Jauhar at-Tauhid
karya Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-‘Abidin karya Imam
al-Ghazali dari beliau.
f) Syaikh Abd al-Ghani Bima di Semarang. Belajar Sittin Masilah
karya Abu al-Abbas Ahmad al-Misri (818 H/1415 M). Ini adalah
kitab yang berisi dasar ajaran Islam. Kitab ini populer di Jawa
pada abad XIX.
g) Haji Muhammad Irsyad, Lowano, Begelan, Purworejo. Darinya
Kiai Sholeh Darat belajar arti penting ilmu pengetahuan dan
mauizah. Hasilnya pelajaran ini ditulis dalam bentuk nazam oleh
Kiai Sholeh Darat.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Jawa, pada tahun
1835-an Muhammad Salih diajak ke Makkah oleh ayahnya. Kiai Sholeh
Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah
haji (Munir, 2008: 44). Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai
Sholeh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk menuntut ilmu.
Pada waktu itu abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke
Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk di dalamnya, Kiai
Sholeh Darat. Beliau pergi ke Makkah dan menetap di sana guna
menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak
diketahui secara pasti tahun berapa beliau ke Makkah dan kapan kembali
21 terkenal seperti (Hakim, 2016: 66-67):
a) Syaikh Muhammad al-Muqri al-Misri al-Makki, kepadanya ia
belajar ilmu 'aqa'id dengan kitab Umm al-Barahin karya
Muhammad as-Sanusi.
b) Syaikh Muhammad ibn Sulaiman pengajar diMasjid al-Haram dan
Masjjd an-Nabawi, kepadanyaia belajar Syarh: al-Khatib, Fath
al-·Wahhab, dan Alfi.yah ibn Malik beserta Syarah-nya, dan dari
Syaikh Muhammad ibn Sulaiman beliau memperoleh ijazah tentang
kitab-kitab tersebut.
c) Sayid Muhammad ibn Zairu Dahlan, (1232-1304: H/18-17-l886 M)
mufti Syafi'iyyah di Makkah. Kepadanya ia belajar lhya,' 'Ulum
ad-Din karya al-Ghazali, dan dari Sayyid Muhammad ibn Zaini
Dahlan ia mendapatkan ijazah. Ulama Indonesia Iain yang pernah
berguru kepadanya antara Iain: K.H. Nawawi al-Bantani, KR
Mahfuz at-Tinnisi, dan Ahmad Khatib, Sayyid Muhammad
kebanyakan orang menyebut Ahmad ibn Zaini Dahlan adalah 'ulama'
besar yang berpengaruh sebagai pengajar di Masjid al-Haram,
Makkah, ahli fiqh dan sejarawan lahir di Makkah dan karena
kedalaman ilmunya ia diangkat menjadi mufti di Makkah. Para
pelajar dari Indonesia yang memmtut ilmu di Makkah pada masanya
banyak yang berguru kepadanya.
d) Al-'Alamab Ahmad an-Nahrawi al-Misti al-Makki, kepadanya
22
e) Sayyid Muhammad Salih az-Zawawi al-Makki, pengajar di Masjid
al-Haram. kepadanya ia belajar Ihya' Ulum ad-Din juz, I dan II.
f) Syekh Zaid atau Zaid, kepadanya ia belajar Fath al-Wahhab dan
mendapat ijazah daripadanya,
g) Syaikh 'Umar asy-Syami, kepadanya ia belajar Fath al- Wahhah.
h) Syaikh as-Sanbulawi al-Misri, kepadanya ia belajar Syarhiat Tahrir
karya Zakariya al-Ansari.
i) Syaikb Jamal mufti Hanafi di Makkah, ia belajar Tafsir al-Qur'an
(Bizawie, 2016: 442)
Melihat pendidikan yang ditempuh oleh Kiai Sholeh Darat baik di
Jawa maupun di Makkah dengan berbagai ilmu pengetahuan agama
Islam, menunjukkan bahwa ia termasuk orang yang bersemangat dalam
pencarian ilmu, ia bisa disebut musafir pencari ilmu, dalam kalangan
pesantren terdapat istilah ngalap berkah (mengambil berkah) yaitu
mengaji (belajar) kepada guru tertentu yang mempunyai kharisma tinggi.
Walaupun kitab yang dikaji termasuk kitab dasar atau sudah pernah
dikaji oleh seseorang tadi, yang inti ngaji tersebut bukan tertuju pada
isi kitab tapi mendapat berkah dari guru. Ini bisa terlihat dari
beberapa kitab yang Kiai Sholeh Darat beberapa kali mengaji kepada
beberapa kyai, sebut saja Fath al-Wahab beliau mempelajarinya dari
Kyai Sahid, Kyai Muhammad Ishaq, Syaikh Muhammad ibn Sulaiman
Hasbullah, Kyai Zahid, Syaikh Umar as-Syami.
23
mendapatkan kesempatan mengajar disana seperti ulama lainnya sebut
saja Nawawi al-Bantani dan Ahmad Khatib Minangkabawi, keduanya
merupakan teman Kiai Sholeh Darat sewaktu di Mekkah.
Sejak berada di Mekkah Kiai Sholeh Darat telah mengajar sembari
belajar. Tercatat beberapa ualama yang menjadi tokoh besar telah
belajar padanya di Mekkah (Dzahir dan Ichwan, 2012: 12-13). Mereka
diantaranya:
a) K.H. Dalhar pendiri Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang.
b) K.H. Dimyati (1934) dari Termas, Pacitan.
c) K.H.R. Dahlan (1329 H/1919 M) juga dari Termas.
d) K.H. Kholil Harun (1358 H/1940 M) dari Kasingan, Rembang.
e) K.H. Raden Asnawi (1969 M) dari Kudus).
f) K.H. Mahfuz (1919) dari Termas.
Selain itu, Kiai Sholeh juga mengabdikan ilmunya dengan menjadi
pengajar di sebuah pesantren yang terletak di Desa Maron, Kecamatan
Loano, Purworejo. Ini adalah pesantren tua yang telah berdiri sejak abad
ke-18 M. Didirikan oleh tiga orang sufi, Kiai Ahmad Alim dan kedua
putranya Kiai Muhammad Alim dan Kiai Zain Alim. Namun,
penulis tidak menemukan informasi tepatnya mulai kapan dan berapa
tahun Kiai Sholeh Darat mengajar di pesantren tersebut. Pesantren ini
fokus pada pendidikan hafalan Al-Qur’an. Meski begitu, pelajaran
24
sebagai pengajar kitab kuning seperti fikih, tafsir Al-Qur’an, nahwu, dan
saraf (Dzahir dan Ichwan, 2012: 16).
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Kiai Sholeh Darat
tidak membatasi pelajaran beliau hanya pada satu bidang agama tertentu.
Karena beliau belajar hukum Islam (fikih), misalnya belajar Fath
al-Wahhab bahkan mengulangnya beberapa kali. Dari Syaikh Umar asy-
Syami, Kiai Zahid, Syaikh Muhammad ibn Sulaiman Hasb Allah, K.
Ishaq Damaran, dan K.H.M. Syahid. Beliau juga belajar ilmu kalam
(teologi), misalnya saat di Mekkah, dari Syaikh Muhammad Muqri
al-Misri al-Makki beliau mengkaji kitab Umm al-Barahin karya
Muhammad As-Sanusi. Ketika pulang di Semarang beliau belajar lagi
dari Sayyid Syaikh ibn Ahmad Bafaqih Baalawi kitab Jauhar at-Tauh
karya Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-‘Abidinkarya Imam al-Ghazali.
Serta belajar beliau juga tasawuf, pelajaran ini ditempuh pada tahun
1870-an saat beliau berusia 50-an (mistisisme Islam) kitab Ihya’ ‘Ulum
ad-Din karya al- Ghazali, yaitu juz I dan II dari Sayyid Muhammad Salih
az- Zawawi al-Makki, dan kitab al-Hikam karya Ibn Ataillah dari
Al-Allamah Ahmad an-Nahrawi al-Misri al-Makki.
Kesimpulan kedua, yaitu Kiai Sholeh Darat juga tidak menjadikan
perbedaan madzhab (fikih) sebagai penghalang untuk belajar kepada
seseorang. Buktinya, beliau belajar Tafsir al-Qur’an kepada Syaikh
25
Kiai Sholeh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di
Pondok Pesantren Salatiyang, yang terletak di Desa Maron, Kecamatan
Loana, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad ke-18 M oleh tiga
orang sufi, masing-masing adalah Kiai Achmad Alim, Kiai Muhammad
Alim, dan Kiai Zain al-Alim dalam perkembangan selanjutnya, pesantren
ini dipercayakan kepada Kiai Zain al-Alim. Sementara Kiai Achmad
Alim mengasuh sebuah pesantren yang bernama al-Imam, di Desa Bulus,
Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhammad Alim mengembangkan
pesantrennya di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren
al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Sholeh Darat sebagai pengajar yang
membantu Kiai Zain al-Alim (Ulum: 2016, 49-50).
Pesantren Salatiyang sendiri lebih memfokuskan pada bidang
penghafalan al-Qur’an, di samping mengajarkan kitab kuning. Di sinilah
besar kemungkinan, Kiai Sholeh Darat diperbantukan untuk mengajarkan
kitab- kitab kuning, seperti Fiqh, Tafsir, Nahwu, dan Sharaf kepada
santri yang sedang menghafalkan al-Qur’an (Masyhuri, 2008: 67).
Tidak jelas, berapa lama Kiai Sholeh Darat menjadi guru pembantu
di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, beliau dijodohkan
dengan Sofiyah putri kyai Murtadha teman seperjuangan ayahnya di
bawah pimpinan Diponegoro, setelah itu beliau mulai menetap di
Semarang dan mendirikan pondok sekitar tahun 1870-an. Hitungan ini
didasarkan pada kitabnya, Matn al-Hikam, yang ditulis rampung dengan
26
Lambat laun pesantren tersebut terkenal dengan sebutan Pondok
Pesantren Darat. Kiai Sholeh Darat mendirikan pesantren Darat.
Pesantren ini merupakan pesantren tertua kedua sesudah pesantren
Dondong, Mangkang Wetan, Semarang. Pesantren ini didirikan oleh
salah seorang prajurit Sultan Agung Mataram, yaitu Kiai Syafi’i
Piaranegoro sekitar tahun 1628 (Ulum, 2016: 50).
Kemasyhuran pesantren Darat pada masa itu terdengar hingga ke
beberapa daerah. Ini dibuktikan dengan banyaknya murid Kiai Sholeh
Darat yang datang dari berbagai daerah, seperti Solo, Magelang,
Surakarta, Yogyakarta, Kudus, Pacitan, dan Jombang. Kemungkinan
besar pula, nama dan kemasyhuran beliau sudah terdengar sejak
beliau belajar-mengajar di Mekkah. Apalagi mengingat murid-murid
beliau, seperti tersebut di atas, adalah para tokoh agama di tempat
mereka masing- masing.
Keadaan itu menjadikan tidak heran setelah mendirikan pesantren
Darat. Bangunan Pondok Pesantren Darat sangatlah sederhana, namun
pesantren ini mampu mendidik santrinya dengan sangat baik, dintara
santri-santrinya dikemudian hari banyak yang menjadi tokoh nasional
bahkan internasional. Diantara santri- santrinya ialah (Hakim, 2016:
80-82):
a) KH. Mahfudh ibn Abdullah ibn Abdul Manan (1258 H/1866
27
dengan sebutan Syaikh Mahfud at-Tirmisi seorang ahl Hadis,
pengajar di Saudi Arabia.
b) KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah (1868-1923 M),
ketika di Makkah beliau belajar kepada Syaikh Khatib
Minangkabau.
c) KH. Hasyim Asy’ari, (1871-1947 M) pendiri Nahdlatul Ulama, dan
pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.
d) K.H. R. Dahlan dari Termas, (1329 H/1919 M), ahli falak dan
kemudian hari diambil menantu oleh Kiai Sholeh Darat.
e) K. Amir dari Brebes (1357 H/1939 M) pendiri pondok pesantren di
simbang kulon dan juga diambil menantu oleh Kiai Sholeh Darat.
f) K. Idris dari Solo, nama aslinya Slamet (1341 H/1927 M), ia
menghidupkan kembali Pondok Pesantren Jamsaren yang didirikan
oleh Kyai Jamsari, prajurit Diponegoro yang ditawan oleh Belanda.
g) K.H. Abdul Hamid, Kendal (1348 H/1930 M), yang kemudian salah
seorang putranya KH. Ahmad Abdul Hamid menjadi Ketua Umum
MUI tingkat I Jawa Tengah tahun 1935-1990 M.
h) K.H. Sya’ban ibn Sya’ban, Semarang (1364 H/1946 M).
i) K.H. Tahir, penerus Pondok Pesantren Mangkang Wetan, semarang.
j) K.H. Sahli, salah seorang kyai di Kauman, Semarang.
k) K.H. Dimyati dari Termas (1934 M) adik Kyai Mahfudh at-Tirmisi.
l) K.H. Khalil, Rembang (1358 H/1940 M).
28 n) Kyai Yasin, Rembang.
o) K.H. Ridwan ibn Mujahid, Semarang (1368 H/1950 M).
p) K.H. Bapak Ali Barkan, Semarang.
q) Kyai penghulu Tafsir Anom, Penghulu Keraton Surakarta, ayah
KH.R Muhammad Adnan.
r) K.H. Yasir, Bareng Kudus.
s) K.H. R. Asnawi dari Kudus (1861-1959 M) yang menjadi murid
Kiai Sholeh Darat sewaktu menuntut ilmu di Makkah.
t) K.H. Muzakkir, kakek KH. Zamrazi, Sayung Demak.
u) K.H. Siraj, dari Payaman, Magelang.
v) K.H. Anwar Mujahid, Semarang.
w) K.H. Abdussamad, ayah K. Muhab Arifin, Solo.
x) K.H. Dalhar, pendiri Pondok Pesantren Watucongol Muntilan.
Beliau terkenal dengan sebutan Mbah Dalhar Watucongol.
y) K.H. Harun, Pondok Pesantren Kempek Cirebon.
z) K.H. Sajad, pendiri Pondok Pesantren Sendangguwa, Semarang.
Pengabdian kepada ilmu dan agama oleh Mbah Sholeh tidak hanya
terbatas pada mengajar di pesantrennya namun beliau juga mengajar
masyarakat lainnya, sebut saja majelis pengajian di Demak, atas
undangan Bupati Demak waktu itu Pangeran Ario Hadiningrat. Mbah
Sholeh Darat mengajarkan tafsir al Qur’an di pendapa Kabupaten.
Selah satu muridnya yang terkenal tetapi bukan dari kalangan
29
Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa Jawa.
Menurut catatan cucu Kiai Sholeh Darat, RA Kartini pernah punya
pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya
memarahinya karena dia bertanya arti.sebuah ayat Al-Qur'an. Kemudian
ketika berkunjung ke rumah parnannya, seorang Demak, RA Kartini
menyernpatkan diri pengajian yang diberikan oleh, Kiai Sholeh Darat.
Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini
menjadi amat tertarik dengan model pengajian yang disajikan oleh Kiai
Sholeh Darat. Di majlis itulah RA. Kartini mengenal beliau serta menjadi
muridnya, Kartini merasakan adanya pencerahan setelah mengikut
pengajian tersebut, seperti pengakuannya bahwa ia sebelumnya merasa
asing dengan agamanya karena tidak mengetahui maknanya (Hakim,
2016: 171-174).
Dalam sebuah pertemuaan RA Kartini meminta agar Al-Qur'an
diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca suci
yang tidak diketahui artinya. Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda
secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur'an. Mbah Sholeh
Darat melanggar Iarangan ini. Beliau menerjemahkan Al-Qur' an dengan
ditulis dalam huruf "Arab gundul" (pegon) sehingga tak dicurigai
penjajah. Kitah tafsir dan terjemahan Al-Qur'an ini diberi nama Kitab
Faid Ar-Rahman tafsir pertama di Nusantara dalarn bahasa Jawa dengan
30
Sepekan sebelum hari pernikahan Kartini, Kiai Sholeh Darat
mengutus Kyai Ma’sum seorang Ulama dari Semarang untuk
menyampaikan kitab tafsir berjudul Faid Ar-Rahmanfi Bayani Asraril
Qur’an, untuk Kartini sebagai hadiah pernikahannya dengan R.M.
Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.
Pesantren yang didirikan oleh K.H. Saleh Darat di daerah pantai
utara Semarang (daerah Darat) sekarang berubah nama menjadi
Dadapsari, yang letaknya kurang lebih 2 km ke arah jantung kota Jalan
Bojong. Pwsantren Sarat waktu itu tidak berbeda dengan pesantren
lainnya, di kompleks pesantren tersebut ada rumah kiai, mushola/masjid
untuk sholat dan pengajian, asrama santri dan sebagainya. Pesantren ini
dibanggun dengan kayu jati. Sekarang ini, bekas pesantren sudah
berubah menjadi tempat tinggal penduduk. Hanya masjid pesantren yang
masih tersisa, itu pun sudah direnovasi (Hakim, 2016: 79-80).
3. Karya-Karya K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani
K.H. Sholeh Darat mengisi kehidupannya hanyalah diabdikan
untuk kehidupan agama dan umat Islam. Selain sebagai ‘ulama yang
gigih berdakwah menyebarkan agama Islam dan mencerahkan
masyarakat dengan nilai-nilai Islam, beliau juga salah satu ulama yang
sangat produktif melahirkan berbagai karya dalam bentuk tulisan. Karya
tulisnya dipergunakan untuk menggali ajaran Islam dan
menyampaikannya kepada masyarakat. Karya tulisnya mencakup
31
tasawuf, teologi hingga tafsir Al-Qur’an. Ia secara intensif mencurahkan
segala tenaga dan pikirannya untuk membukukan pendapat para
ulama-ulama terdahulu, pendapatnya sendiri dan dikaitkan dengan kultur
dan budaya sendiri tentang berbagai masalah yang dihadapinya dalam
konteks kemasyarakatan yang melingkupinya. Perhatiannya tercurah
terhadap pandangan hidup yang berdasarkan ajaran-ajaran agama islam
dan kehidupan spiritual setiap muslim, kebanyakan karya tulis Kiai
Sholeh Darat berbahasa jawa (Arab pegon), ini dimaksudkan untuk
memudahkan pengajaran terutama bagi kaum awam agar mudah
difahami dan hayati.
Tidak sedikit dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa
Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’i dari kalisasak (1786), yang banyak
menulis kitab berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Sholeh Darat adalah
satu-satunya ulama, akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaannya
berbahasa Jawa.
Menurut riwayatnya, kurang lebih ada 40 kitab telah dikarang oleh
K.H. Sholeh Darat, tetapi yang bisa diselamatkan hingga sekarang baru
sekitar 14 kitab. Karya-karyanya masih berada dalam proses pencarian.
Kitab-kitab beliau cukup sulit dilacak, Karena disebabkan jaman dahulu
pengawasan Belanda, sehingga K.H. Sholeh Darat tidak sempat
mengoleksi kitab-kitab karangannya sendiri. Usai menulis kitab, kitab
tersebut langsung diberikan kepada muridnya. Karena itu justru
32
Anak-anaknya sendiri hanya sedikit yang bisa mengoleksinya (Hakim,
2016: 147).
Adapun karya-karya Kiai Sholeh Darat yang sebagiannya
merupakan terjemahan, kurang lebih ada 14 buah, yaitu:
1. Matn al-Hikam
Kitab ini merupakan terjemahan dan ringkasan dari kitab
al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibn Ata’ al-Askandari, merupakan kitab
terjemahan dalam bahasa Jawa, merupakan kitab Tasawuf. Yang
diakhir penulisan kitab ini K.H. Sholeh Darat memberikan nasehat
bahwa resep bagi orang yang hendak membunuh nafsunya, maka
hendaknya menanamkan sifat kerinduan akan kematian dan cinta
ingin bertemu Tuhan-Nya. Benci terhadap dunia. Maka dari itu
dalam mempelajari kitab ini sangat-sangat dibutuhkan seorang guru
(mursyid) (Ulum, 2016: 117).
2. Munjiyat
Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya ‘Ulum
al-Din jilid III dan IV karya Imam Al-Ghozali. Kitab ini terdiri dari
dua bagian, yaitu bagian pertama, Muhlikat Madzmumah atau
perbuatan yang dapat membinasakan dan tercela. Sedangkan pada
bagian kedua, Munjiyat Mahmudah atau perbuatan yang
33
Di akhir pada pembahasan di dalam kitab Munjiyat, K.H.
Sholeh Darat bermudajat “La ilaha illallah ya ilahi wa sayyidi”
(Ulum, 2016: 121).
3. Kitab Fasalatan
Kitab ini membahas tentang sesuatu yang berkaitan dengan
sholat secara zahirnya syariat. Kitab ini berbeda dengan lathaifu
al-thaharah yang selain mengupas syariat secara lahir, juga disinggung
secara batinnya (Ulum, 2016: 140).
4. Syarh Barzanji.
Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab Barzanji karya
Syaikh Ja’far Al-Barjanji dengan menggunakan bahasa Arab
Pegon seperti kitab-kitab karangan K.H. Sholeh Darat yang lainnya.
Kitab ini mengulas tentang perjalanan Sirah Nabawi, khususnya
tentang Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. di waktu malam
dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha (Ulum, 2016: 147).
5. Lathaif al-Thaharat wa Asrar al-Sholah fi Kaifiyat Sholat al-Abidin
wa al-Arifin.
Kitab ini terdiri dari 3 judul yang dijadikan menjadi 1 kitab,
yaitu berjudul Lathaifu al-Thaharah wa al-Asrari al-Shalat fi
Kafiyati al-Salati al-Abidin wa al-Arifin Asrari al-Shaumi, Fadhilati
al-Muharram wa al-Rajab wa al-Sya’ban. Kitab tersebutberisi lebih
menekankan akan pentingnya sholat lima waktu yang menjadi rukun
34
6. Kitab Manasik Kaifiyah al-Shalat al-Musyafirin.
Kitab ini berisi tentang tata cara melaksanakan shalat fardu
bagi orang yang sedang dalam perjalanan.
7. Kitab Hadits al-Mi’raj.
Kitab berisi hadist-hadist ini dicetak sebelum kitab
Fasalatan dan Sabilul al-Abid Terjemah Jauhar al- Tauhid.
8. Sabilul al-Abid Terjemah Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani
Kitab ini merupakan terjemahan berbahasa Jawa. Dalam kitab
ini disampaikan. Kitab ini membahas bahwa orang Islam wajib
mengetahui tiga hal, yaitu: pertama, Ilmu Tauhid. Kedua, Ilmu
Fiqih. Ketiga, Ilmu Tasawuf.
9. Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām.
Kitab ini ditulis K.H. Sholeh Darat untuk memudahkan
orang-orang awam dalam mempelajari hukum Islam. Di dalamnnya
dikupas beberapa materi tentang Islam seperti muamalah, zakat,
puasa, haji, nikah, dan memerdekakan budak. Kitab ini referensinya
diambil dari berbagai kitab al-mu’tabarah yang keilmuan mualifnya
dialami oleh mayoritas ulama Ahlusunnah wa al-Jamaah (Ulum,
2016: 170).
10.Manasik al-Hajj wa al-‘Umrah
Kitab ini berisi tuntunan atau tata cara ibadah haji dan umrah
yang dimulai dengan riwayat melaksanakan haji, kemudian
35
kerama melaksanakan ibadah haji. Selain mengupas amalan tentang
haji dan umrah secara lahir, juga menyinggung hal-hal batin dalam
ritual ibadah haji (Ulum, 2016: 181)..
11. Minhaj al-Atqiya fi Syarh Ma’rifah al-Atqiyah ila Thariq al-Aulia
Kitab ini merupakan terjemahan dan syarh dari nazham
Hidayah al-Azkiya’ ila Thariq al-Auliya karya Syaikh Zainudin ibn
Ali al-Malibari, dimana K.H. Sholeh Darat menggunakan bahasa
Arab Pegon dengan maksud agar manfaat dan memudahkan bagi
orang awan di Jawa, yang kebanyakan tidak mengerti Bahasa Arab
dengan baik dan benar (Ulum, 2016: 185-187).
12. Al-Mursyid al-Wajiz fi ‘Ilm al-Qur’an al ‘Aziz
Kitab ini berisi tentang ilmu-ilmu al-Qur’an dan ilmu tajwid.
Namun lebih dari pada itu, ada 46 bab disamping khutbah kitab atau
pendahuluan. Ada pembahasan tentang awal mula kenabian, cara
wahyu diturunkan, hakikat Al-Qur’an, penulisan Al-Qur’an mulai
dari zaman Rasullullah SAW. hingga Khalifah Ustman ibn Affan,
keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur’an hingga al-Khatimah
(penutup) (Ulum, 2016: 193).
13. Kitab Tafsir Faidhu al-Rahman fi Tarjamati Tafsiri Kalam
Maliki ad-Dayyan.
Sebuah kitab tafsir al-Qur’an yang ditulis menggunakan
Bahasa Arab Pegon, disebabkan karena kebanyakan orang pribumi
36
Hal ini disebabkan pemerintah Hindia Belanda tidak menyukai
tentang sesuatu yang berbau Arab sehingga persebarannya dibatasi.
Oleh sebab itu kitab ini ditulis dengan Bahasa Arab Pegon untuk
memudahkan orang awam yang ingin memperlajari Islam,
khususnya ingin mengerti makna yang terkandung dalam Al-Qur’an
(Ulum, 2016: 198).
14. Kitab Al-Mahabbah wa al-Mawaddah fi Tarjamah Qaul al-Burdah
fi Mahabbah wa al-Madhu ‘ala Sayyid al-Mursalin.
Kitab ini terkenal dengan sebutan Syarh al-Maulid al-Burdah
dan kitab ini berasal dari berbagai rujukan kitab-kitab muktabar
seperti kitab Maulid al-Burdah karya Muhammad bin Sa`id
al-Bushiri, Syarah al-Burdah karya Imam Ibrahim al-Baijuri, kitab
karya Syaikh Khalid al-Azhari, kitab al-Barjanji dan kitab karya
Syaikh Yusuf al-Nabhani. Berisi tentang sanjungan terhadap Nabi
Muhammad SAW, sejumlah kemu’jizatan Rasulullah SAW,
keagungan al-Qur’an, peperangan dan ditutup dengan doa (Ulum,
2016: 207-209).
B. Sistematika Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām.
Kitab Majmū‘ah karangan K.H. Saleh ini ditulis ulang oleh Jazuli
pada tanggal 8 Sya`ban 1309 H/1892 M. Kitab ini diterbitkan pertama kali
oleh Haji Muhammad Shadiq di Singapura tahun 1317 H, kemudian oleh
penerbit al-Karimi di Bombay tahun 1336 H, dan oleh penerbit al-Mishriyah
37
merupakan satu-satunya karya penting berbahasa Jawa di bidang ini. Kitab
ini merupakan rangkuman atau ensiklopedi dari syari`at yang diperuntukkan
bagi orang awam. Para ulama’ memberikan pengertian tentang syari’at Islam
yaitu apa yang disyari`atkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang
meliputi akidah, ibadah, akhlak dan mu`amalah. Pengertian ini sejalan
dengan apa yang dimaksud oleh kitab Majmū‘ah yang meskipun
menitikberatkan pada masalah fiqh yang erat kaitannya dengan hukum yang
sangat dibutuhkan oleh orang awam dibahas juga tentang akidah dan akhlak
(Shabir, 2011: 375-376).
Kitab Majmū‘ah yang dicetak oleh penerbit Al-Mishriyah dan
kemudian dicetak ulang oleh penerbit Karya Toha Putera Semarang terdiri
atas 275 halaman dengan rincian sebagai berikut:
1. Pendahuluan
Terdiri halaman dari 1-4, di dalamnya dijelaskan tentang pentingnya
menuntut ilmu dan masalah hidayah dari Allah.
2. Masalah akidah
Terdiri halaman dari halaman 4-41, di dalamnya terdapat 12 fasal yang
menjelaskan tentang: rukun Islam, rukun iman, ihsan, sifat-sifat Allah,
sifat-sifat rasul termasuk nasab Nabi Muhammad SAW, wajibnya
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, rukun
syahadat, menjaga iman dan Islam agar jangan sampai rusak/murtad,
macam-macam dosa (dosa besar dan dosa kecil) dan maksiat.