• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

i

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK

DALAM KITAB

MAJMŪ‘AH AS

-

SYARΑAH AL

-

KĀFIYAH LIL ‘AWĀM

KARYA K.H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT

AS-SAMARANI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Dimas Adam Saputra

NIM: 11113251

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

(2)
(3)

iii

Dr. M. Ghufron, M.Ag. Dosen IAIN Salatiga Persetujuan Pembimbing Lamp : 4 eksemplar Hal : Naskah Skripsi Saudara : Dimas Adam Saputra

Kepada:

Yth. Dekan FTIK IAIN Salatiga Di Salatiga

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Setelah kami meneliti dan mengadaan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi mahasiswa:

Nama : Dimas Adam Saputra NIM : 11113251

Jurusan : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan / Pendidikan Agama Islam

Judul : Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Majmū‘ah As- nSyarī‘ah Al-Kāfiyah Lil ‘Awām Karya K.H. Muhammad

nSholeh Darat As-Samarani

Dengan ini kami mohon skripsi saudara tersebut diatas supaya segera dimunaqosyahkan. Demikian agar menjadi perhatian

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Salatiga, 17 Juli 2017 Pembimbing

Dr. M. Ghufron, M.Ag.

(4)

iv

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

Jalan Lingkar Salatiga Km. 2 Telepon: (0298) 6031364 Salatiga 50716 Website: tarbiyah.iainsalatiga.ac.id Email: [email protected]

SKRIPSI

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM KARYA K.H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT AS-SAMARANI

disusun oleh:

DIMAS ADAM SAPUTRA NIM: 11113251

Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada tanggal 21 Agustus 2017 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.

Susunan Panitia Penguji

Ketua Penguji : Dr. Fatchurohman, M.Pd

Sekretaris : Mufiq, M.Phil

Penguji I : Sutrisna, M.Pd

Penguji II : Dra. Djami’atul Islamiyah, M.Ag.

(5)

v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Dimas Adam Saputra

NIM : 11113251

Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB

MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM

KARYA K.H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT AS-SAMARANI

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya

saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan

orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode

etik ilmiah dan tidak keberatan untuk dipublikasikan oleh pihak IAIN Salatiga

tanpa menuntut konsekuensi apapun.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dan jika pada kemudian hari terbukti

karya saya ini bukan karya sendiri, maka saya sanggup untuk menaggung semua

konsekuensinya.

Salatiga, 31 Agustus 2017 Yang menyatakan

(6)

vi MOTTO

ِساَنلِل ْمُهُعَفنَأ ِساَنلا َرْيَخ َو

“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”

(7)

vii

PERSEMBAHAN

Dengan penuh ketulusan hati, saya persembahkan skripsi ini untuk:

1. Nabi Muhammad SAW., semoga menjadi bukti kecil tanda kecintaanku kepada Baginda Nabi SAW.

2. Keluarga yang aku cintai, Bapak Sutrisno yang telah menuntun dalam jalan perjuangan hingga saat ini, Ibu Siti Rofi’ah yang terus berdo’a demi kesuksesanku, dan tak lupa adikku Riski Dian Rahmawati yang selalu menyemangati dalam perjuanganku.

3. Dosen Pembimbing Bapak Dr. M. Ghufron, M.Ag. yang membimbing dan memotivasiku dengan sabar hingga terselesainya skripsi ini.

4. Dosen Pembimbing Akademik Bapak Drs. H. Ahmad Sultoni, M.Pd. yang membimbing dan memotivasiku dari awal belajar di kampus hingga saat ini.

5. Bapak Sukron Ma’mun, M.Si selaku pengasuh Ma’had Al-Jami’ah Putra IAIN Salatiga.

6. Keluarga besar Ma’had IAIN Salatiga, Komisariat PSHT IAIN Salatiga, Majelis Do’a Mawar Allah IAIN Salatiga, KI Salatiga, HKEC Periode 7, Keluarga Miftakhul Jannah dan Man Jadda wa Jada.

7. Keluarga besar dan teman-teman seperjuangan di kampus yaitu PAI, PPL, dan KKN angkatan 2013.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang senantiasa membanjiri penulis dengan kasih sayang, melimpahkan rahmat, memberikan petunjuk, dan memberikan kemudahan dalam penulisan skripsi ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga penulis dan pembaca diridloi Allah SWT. dan mendapatkan syafa’at Rasullullah SAW. baik di sunia maupun di akhirat.

Penulisan skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar kesarjanaan dalam Ilmu Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Disamping tujuan mulia tersebut, penulisan ini dimaksudkan untuk amal jariyah kepada pendidikan Islam di Indonesia dengan harapan dapat membantu mencetak generasi bangsa yang selalu bertaqwa kepada Allah SWT dan juga cinta tanah air. Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menemui hambatan, tetapi dengan rahmat-Nya melalui dukungan, bantuan dan bimbingan hamba-hamba yang dekat dengan Allah oleh karena itu perkenankan penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga. 2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga

3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku ketua jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

4. Bapak Drs. H. Ahmad Sultoni, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik yang selama ini menjadi pembimbing studi penulis selama belajar di kampus IAIN Salatiga, dan tak jenuh memberikan nasihat dan bimbingan serta dengan antusias mendengarkan setiap kata hati penulis. Athalallahu umrohu wa shahhaha jasadahu.

(9)

ix

6. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga yang telah banyak memberikan hikmah dan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama di bangku perkuliahan.

7. Bapak, Ibu, dan Adikku tercinta yang selalu memberikan dukungan, semangat, serta dengan tulus dan ikhlas mengetuk pintu langit berdoa untuk kelancaran dalam menyelesaikan perkuliahan dan skripsi ini.

8. Karyawan-karyawati IAIN Salatiga yang telah memberikan layanan serta bantuan.

9. Teman-teman yang selalu menyemangatiku.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu

Tiada kalimat yang pantas penulis ucapkan kecuali kalimat al-hamdulillahi Robbil Alamin jazakumullahu ahsanal jaza’, jaza’an katsiro. Penulis berdo’a semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dan ridho dari Allah SWT serta tercatat dalam bentuk amalan ibadah.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kajian yang akan datang. Semoga hasil penelitian ini dapat berguna bagi penulis khususnya serta para pembaca yang budiman pada umumnya. Āmīn.

Salatiga, 17 Juli 2017 Penulis,

Dimas Adam Saputra 111-13-251

(10)

x ABSTRAK

Saputra, Dimas, Adam. 2017. 11113251. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām karya K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. M. Ghufron, M. Ag.

Kalimat Kunci: Nilai Pendidikan Akhlak, Kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al -Kāfiyah lil-‘Awām, K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani.

Semangat untuk membangun dan memperbaiki akhlak pelajar demi terwujudnya pelajar yang berakhlakul karimah. Salah satunya perkembangan zaman modern saat ini (globalisasi), yang mudah masuk dan keluarnya berbagai budayaan luar, yang menyebabkan merosotnya akhlak dikalangan pelajar. Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti mengadakan penelitian terhadap kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām karya K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani. Disusun dua rumusan masalah untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang pendidikan akhlak buah pikiran beliau, yaitu: 1). Bagaimana nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah As -Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani 2). Bagaimana relevansi pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām dengan Pendidikan Akhlak Sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), sedangkan sumber data primer dari penelitian ini adalah kitab Majmū‘ah As-Sharī‘ah Al-Kāfiyah lil-‘Awām dan sumber sekundernya adalah buku-buku lain yang bersangkutan dan relevan dengan penelitian. Kemudian data dianalisis dengan metode induktif kualitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ciri pemikiran beliau lebih menekankan pada pengamalan ajaran Islam secara konsisten dengan dilandaskan pada teks-teks Al-Qur’an dan Hadist. Di dalam kitab Majmū‘ah dijelaskan bahwa terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu: pertama:

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN BERLOGO ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN KELULUSAN ... iv

DEKLARASI ...v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ...x

DAFTAR ISI ... xi

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Rumusan Masalah ...5

C. Tujuan Penelitian ...5

D. Manfaat Penelitian ...6

E. Kajian Pustaka ...7

F. Metode Penelitian...11

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ...11

2. Sumber Data ...12

3. Teknik Analisis Data ...14

(12)

xii

BAB II PROFIL K. H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT

AL-SAMARANI DAN SISTEMATIKA KITAB MAJMŪ‘AH

AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM ...17 A. Biografi K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani ...17

1. Riwayat Hidup K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani ...17

2. Pendidikan K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani ...18

3. Karya-Karya K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani ...30

B. Sistematika Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil

‘Awām ...36

BAB III NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB

MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM .43

A. Deskripsi Nilai Pendidikan Akhlak ...43

B. Pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani

Tentang Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Majmū‘ah

As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām ...45

BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK DAN

NILAI-NILAINYA KITAB MAJMۑAH AS-SYARΑAH AL

-KĀFIYAH LIL ‘AWĀM ...52 A. Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Majmū‘ah As

(13)

xiii

B. Relevansi Pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah

lil ‘Awām dengan Pendidikan Akhlak Sekarang ...78

BAB V PENUTUP ...94

A. Kesimpulan ...94

B. Saran ...97

DAFTAR PUSTAKA ...98

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa adalah dilihat dari sistem

pendidikannya. Dari pendidikan seseorang akan terbuka intelektualnya

sehingga luas pemikirannya. Pendidikan merupakan wilayah yang sangat luas.

Ruang lingkupnya mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran manusia

tentang pendidikan. Setiap orang pernah mendengar tentang perkataan

pendidikan, dan setiap orang waktu kecilnya pernah mengalami pendidikan,

atau setiap orang sebagai orang tua, guru, telah melaksanakan pendidikan.

Namun tidak setiap orang mengerti dalam arti yang sebenarnya apa pendidikan

itu, dan tidak setiap orang mengalami pendidikan ataupun menjalankan

pendidikan sebagaimana mestinya.

Setiap bangsa tentu akan menyatakan tujuan pendidikannya sesuai

dengan nilau-nilai kehidupan yang sedang diperjuangkan untuk kemajuan

bangsanya. Walaupun masing-masing bangsa memiliki tujuan hidup berbeda,

namun secara garis besar, ada beberapa kesamaan dalam berbagai aspeknya.

Pendidikan bagi setiap individu merupakan pengaruh dinamis dalam

perkembangan jasmani, jiwa, rasa sosial, susila, dan sebagainya .

Pendidikan kita dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dan

persoalan, diantaranya pertama bertambahnya jumlah penduduk yang sangat

(15)

2

pendidikan, yang secara kumulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan

yang memadai, kedua berkembangnya ilmu pengetahuan yang modern

menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan

terus-menerus dan dengan demikian menuntut pendidikan yang lebih lama

sesuai dengan konsep pendidikan seumur hidup (life long education) dan yang

ketiga berkembangnya teknologi yang mempermudah manusia dalam

menguasai, memanfaatkan, dan mengakses berbagai informasi, yang terkadang

menjadi ancaman terhadap pendidikan bahkan peranan manusiawi (Sa’ud,

2008: 5).

Pendidikan sendiri tak lepas juga dari sejarah peradaban Islam, dimana

dari peradaban tersebut lahir berbagai bidang ilmu salah satunya adalah

pendidikan. Pendidikan sendiri di dalamnya mengandung berbagai disiplin

ilmu dan nilai-nilai pendidikan. Dalam pendidikan Islam ada yang mananya

nilai pendidikan akhlak. Dalam ajaran Islam, akhlak menempati kedudukan

yang istimewa. Selain menjadi pokok isi Al-Qur’an akhlak juga merupakan

salah satu ajaran pokok agama Islam.

Konteks akhlak di masa depan, visi pendidikan diharuskan untuk

menyiapkan atau merencanakan perbaikan akhlak yang telah mulai rapuh di

masa sekarang. Contohnya seperti yang terjadi saat ini adalah kenakalan

remaja. Hal ini sudah menjadi masalah umum yang menjadi bahan bahasan

atau pemikiran bagaimana mengatasinya secara bijaksana dan sesuai dengan

nilai moral yang berlaku yang tidak pula melenceng dari HAM (Hak Asasi

(16)

3

pemerintah harus solid dalam menyelesaikan permasalahan akhlak. Selain itu,

hal ini juga dipicu karena kurangnya penghayatan atas nilai-nilai ketuhanan

yang telah ada kaidah-kaidah yang mengaturnya sesuai dengan norma yang

berlaku.

Permasalahan lainnya yang terjadi di masyarakat pada umumnya seperti

kurangnya kedisiplinan dalam bekerja, berumahtangga yang kurang harmonis,

mendidik anak tidak dengan nilai moral bahkan kerukunan bersosial yang

kurang. Bukanlah tidak mungkin menyelesaikan masalah-masalah tersebut,

harus ada kesadaran individu maupun institusi dalam menyelesaikan

permasalahan. Dengan mengetahui penyebab utamanya kemudian diadakan

usaha kolektif dalam mencari solusinya.

Salah satu solusinya adalah dengan penanaman akhlak yang mulia

dimanapun anak berada. Baik di mulai lingkungan rumah, sekolah, masyarakat

dan hingga menjadi warga bernegara. Misalnya di keluarga, orang tua

mengajarkan akan keimanan, ketakwaan dan sopan santun. Di sekolah bisa

dilakukan dengan mengajarkan peserta didik mulai dari menghormati guru,

bergaul dengan teman hingga sekolah tidak hanya mencari ilmu tetapi juga

membangun akhlak yang baik, begitu juga di masyarakat.

Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan setiap urusan

manusia, dimana di dalam Al-Qur’an dan hadist Rasullulloh SAW. salah

satunya yaitu tata cara dalam menjalani kehidupan ini. Selain itu banyak

(17)

4

tentang aktifitas belajar dan pembelajaran, di antaranya adalah seorang ulama

yang mashur di pulau Jawa yaitu K.H. Muhammad Shalih As-Samarani atau

yang lebih dikenal Kyai Haji Sholeh Darat, dimana ulama abad 19-20 M.

Beliau setidaknya memiliki 14 karya, yang menerangkan berbagai macam

kajian keislaman, seperti tentang akidah, akhlak, tauhid, tasawuf, ulumul

qur’an, tafsir qur’an hingga kitab fiqih yang masih banyak digunakan di

pesantren-pesantren salaf hingga saat ini.

Salah satu kitab karangan Kyai Haji Sholeh Darat adalah kitab

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām merupakan salah satu karya

penting berbahasa Jawa dengan huruf Arab (Arab pegon). Penelitian ini lebih

fokus dan mendalam mengenai nilai-nilai pendidikan akhlak kitab Majmū‘ah

As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām, dimana kitab ini merupakan kitab untuk

orang awam (pemula) sehingga lebih mudah untuk dicerna bahasanya. Dengan

isi kitab menggunakan huruf Arab Pegon mempermudah dalam

mempelajarinya terlebih jika seseorang tersebut belum menguasai Bahasa

Arab. Perbedaan dan sekaligus keunggulan dari kitab tersebut yaitu kitab ini

juga masuk kategori tasawuf, karena dengan tasawuf akhlak itu sendiri akan

merefleksikan dari penerapan ilmu tasawuf sehingga tingkah laku dan

perbuatan kita sama dengan perilakunya Rasulullah SAW. Disamping itu Kyai

Sholeh Darat pengajaran yang diajarkan dengan kultur budaya lokal yang

mudah diterima masyarakat luas dan terbukti beliau melahirkan ulama-ulama

besar terkenal seperti K.H. Hasyim As’ari, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Mahfudz

(18)

5

Idris dari Surakarta, K.H. Abdul Hamid dari Kendal, Kyai Khalil dari

Rembang, KyaiPenghuluAnomdari Kraton Surakarta.

Berangkat dari uraian permasalahan di atas peneliti terdorong untuk

meneliti, mendeskripsikan dan merelevansi pemikiran beliau di dalam kitab

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Maka peneliti pemengangkatnya

sebagai skripsi yang berjudul, “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya K. H. Muhammad Sholeh

Darat As-Samarani”.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,

maka peneliti ingin membahas hal-hal pokok dalam skripsi ini dirumuskan

dalam bentuk rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah

As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām karya K. H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani?

2. Bagaimana relevansi pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām

dengan Pendidikan Akhlak di era Modern

C. Tujuan Penelitian

Pembahasan skripsi tentang nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya K. H. Sholeh Darat ini

(19)

6

1. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah

As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām.

2. Mengetahui relevansi pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām dengan

Pendidikan Akhlak di era Modern

D. Manfaat Penelitian

Dari paparan tujuan yang hendak dicapai dari pelaksanaan penelitian

ini, maka dapat dirumuskan manfaat yang dapat diperoleh dari kajian

ilimiah ini. Pada penelitian ini penulis mengategorikannya menjadi manfaat

teoritis dan manfaat praktis. Secara lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai

berikut:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat penelitianini merupakan sumbangsih khasanah keilmuan

pendidikan Indonesia secara umum dan pendidikan Islam. Selain itu

khususnya tentang nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam kitab

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām ini memberikan sumbangan

pemikiran dan konsep baru mengenai pendidikan akhlak dikalangan

praktisi pendidikan maupun akademisi sebagai bahan acuan dan rujukan.

Dan juga bisa sebagai pijakan atau acuan (referensi) para peneliti dalam

penelitian lebih lanjut terkait konsep pendidikan akhlak ke depannya.

2. Manfaat Praktis

(20)

7

langsung (praktis) bagi segenap pemerhati dan pelaku pendidikan,

terutama para pelaku/pembimbing akhlak peserta didik. Secara umum

penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam

mengatasi masalah-masalah pendidikan akhlak, seperti:

a. Bagi akademisi

Hasil penelitian ini dapat berguna untuk pengembangan ilmu

pengetahuan dan pelestarian nilai-nilai pendidikan Islam yang pernah

ada di Indonesia khusunya nilai pendidikan akhlak.

b. Bagi masyarakat

Sebagai sumbangan informasi bagi segenap masyarakat yang

beragama Islam untuk tetap menjaga nilai-nilai pendidikan Islam yang

yang pernah diajarkan oleh K. H. Sholeh Darat. Selain itu, juga untuk

menangani perilaku ataupun akhlaq anak bagi orang tua maupun

masyarakat pada umumnya.

c. Bagi Peneliti

Sebagai bahan masukan untuk mengembangkan wawasan ilmu

pengetahuan, sejarah tokoh Islam Indonesia, sikap ilmiah dan sebagi

bahan dokumen untuk penelitian lebih lanjut.

E. Kajian Pustaka

Pembahasan kali ini yaitu kajian terhadap hasil penelitian yang relevan

mengenai Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām bukanlah yang

pertama kali dilakukan. Namun belum banyak skripsi yang menyajikan

(21)

8

Sejauh yang penulis ketahui dalam penelitian yang dianggap relevan

guna menunjang penelitian ini yaitu:

Pertama, skripsi yang ditulis oleh Andri Winarco dengan judul “Konsep

Pendidikan Akhlak Perspektif K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani”

(Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan IAIN Salatiga, 2017). Pembahasan

yang dibahas dalam skripsi ini yaitu membahas tentang konsep pendidikan

akhlak dalam pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani selain itu

pembahasannya pun lebih umum karena sumber primernya meliputi berbagai

kitab dari karangan K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani (Winarco,

2017: 144).

Kedua, jurnal yang ditulis oleh Mudzakiron dan Arif Chasanul Muna

dengan judul “Pola Redaksi Matan Hadis Dalam Kitab Majmū’ah Al-Syarī’ah

Karya K.H. Saleh Darat” (Dosen Fakultas Ushuludin Jurusan Studi Ilmu

Hadist IAIN Pekalongan 2015). Jurnal ini membahas tentang pola redaksi

matan dan mendeskripsikan yang tercantum dalam kitab Majmū‘ah As

-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab tersebut

akan ditelusuri keberadaannya dalam kitab-kitab hadis induk dan kemudian

dibandingkan pola redaksinya. Jumlah hadis yang terdapat dalam kitab

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām adalah 117 hadis, namun yang

akan diteliti hanya dua belas hadis saja yang memang tertulis dalam bahasa

Arab (Mudzakiron dan Muna, 2015: 229).

Ketiga, jurnal yang ditulis oleh M. In’amuzzahidin dengan judul

(22)

9

Ushuludin UIN Walisongo 2012). Jurnal ini membahas tenang pemikiran

sufistik dari K.H. Muhammad Shalih As-Samarani dalam Matn al-Ḥikam dan

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Beliau menegaskan bahwa

Pemikiran tasawuf Muhammad Shalih As-Samarani (Saleh Darat) yang ada

dalam kitab Matn Al-Ḥikam dan Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil

‘Awām, menekankan terhadap pengamalan ajaran Islam dengan penuh

kesadaran dan keikhlasan kepada Allah. Kiai Saleh Darat mendasarkan

pemikiran nya pada tasawuf sunni amali. Beliau menolak keras

pemahaman tasawuf falsafi, khususnya untuk orang awam (In’amuzzahidin,

2012: 343-344)

Keempat, disertasi yang ditulis oleh Abdullah Salim dengan judul

disertasinya “Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya Shaikh

Muḥammad Ṣālih Ibn ‘Umar al-Samārānī” (Mahasiswa IAIN Syarif

Hidayatullah 1994. Disertasi ini berisi tentang pemikiran K.H. Muhammad

Sholeh Darat As-Samarani mengenai sosiohistoris dan pemikirannya (Salim,

1994: 20-37).

Kelima, disertasi yang ditulis oleh Ghazali Munir dengan judul

Pemikiran Kalam Muhammad Salih Darat As-Samarani (1820-1903)

(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Agama Islam UIN Sunan Kalijaga 2007).

Disertasi ini berisi tentang pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani mengenai iman, kasab, dan pengaruhnya terhadap masyarakat

(23)

10

Penelitian ini berbeda dengan penelitian di atas dengan melihat variable

dan objeknya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Andri Winarco

menitikberatkan pada konsep pendidikan akhlak dan relevansinya dalam

pemikiran K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani sehingga tidak

mengungkapkan pendidikan akhlak dalam pemikiran maupun karya K.H.

Muhammad Sholeh Darat As-Samarani secara spesifik jadi masih bersifat

umum (global). Penelitian yang dilakukan oleh Mudzakiron dan Arif Chasanul

Muna secara garis besar hanya meneliti tentang Pola Redaksi Matan Hadis

Dalam Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām karya K.H.

Muhammad Sholeh Darat As-Samarani, serta tidak membahas tentang nilai

pendidikan akhlak dalam penelitian tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh

M. In’amuzzahidin menjelaskan lebih ke pemikiran sufistik dari K.H.

Muhammad Shalih As-Samarani dalam Matn Al-Ḥikam dan Majmū‘ah As

-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām, tidaklah ke nilai pendidikan akhlaknya. Pada

penelitian yang dilakukan oleh Abdullah Salim, beliau memaparkan tentang

sosiohistoris dan pemikirannya yang dituangkan di dalam kitab Majmū‘ah As

-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām. Dan penelitian yang dilakukan oleh Ghazali

Munir, beliau memaparkan bahwa menekankan amal sebagai realisasi dari

iman yang dimiliki seseorang, begitu pula kasab juga menekankan kepada

adanya amal bagi iman. Sedangkan pengaruhnya untuk masyarakat tradisioanl

sangatlah luas dengan bukti karya tulis K.H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani digunakan sebagai literatur wajib dalam masjelis pengajian di

(24)

11

Pada penelitian ini, penulis akan mendeskripsikan lebih mendalam dan

terpusat pada nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah

Al-Kāfiyah lil ‘Awām sekaligus mengungkap analisis pemikiran K.H.

Muhammad Sholeh Darat As-Samarani beserta relevansinya diera sekarang.

F. Metode Penelitian

Metode diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang akan

dilakukan dalam proses penelitian, sedangkan penelitian itu sendiri diartikan

sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk

memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan

sistematis untuk mewujudkan kebenaran (Mardalis, 1995: 24). Oleh karena itu,

di sini akan dipaparkan mengenai:

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini tergolong penelitian pustaka atau literer, maka

penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan

deskriptif analitis, yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan

data secara kuantitatif (Moleong, 2002: 6).

Penulis berusaha mengkaji nilai-nilai pendidikan akhlak yang

terdapat dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām. Adapun

pengertian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan sifat- sifat

atau karakter individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Sehingga

penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, akan

(25)

12

penulis hanya menganalisa secara kritis permasalahan yang dikaji.

Adapun jenis penelitian yang digunakan Penulis adalah kajian

pustaka (library research). Penelitian ini termasuk jenis penelitian

yang mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan

bermacam-macam materi yang terdapat dalam kepustakaan (buku) atau jenis

penelitian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang ditujukan untuk

mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial,

sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individu maupun

kelompok (Sukmadinata, 2007: 60).

2. Sumber Data

Sumber data yang dimaksudkan semua informasi baik yang

merupakan benda nyata, sesuatu yang abstrak, peristiwa/gejala baik secara

kuantitatif maupun kualitatif. Sumber data yang bersifat kualitatif di dalam

penelitian diusahakan tidak bersifat subjektif, oleh sebab itu perlu diberi

peringkat bobot (Sukandarrumidi, 2002: 44). Oleh karena itu penelitian ini

membutuhkan beberapa data, baik itu data primer dan data sekunder.

Dalam penulisan skripsi ini, sumber data yang digunakan adalah sumber

data yang relevan dengan pembahasan skripsi. Adapun sumber data

terdiri dari dua macam yaitu:

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer merupakan bahan utama atau

(26)

13

mengungkapkan dan menganalisis penelitian tersebut. Sumber data

dalam penelitian ini yaitu kitab hasil karya Muḥammad Ṣālih Ibn

‘Umar al-Samārānī atau biasa disebut K. H. Sholeh Darat yaitu kitab

Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber Data Sekunder yaitu sumber data pendukung yang

digunakan untuk menguatkan dan menunjang penelaahan data-data

yang dihimpun dari sumber data utama serta sebagai pembanding dari

sumber data primer. Sumber-sumber tersebut diantaranya adalah kitab

Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya Al-Ghazali, buku-buku tentang ilmu

Pendidikan, Pendidikan Akhlaq, hingga sejarah Kyai Haji Sholeh

Darat. Selain itu juga berbagai literatur yang berkaitan dan relevan

dengan objek penelitian, baik itu skripsi, jurnal, maupun website.

Dalam penelaahan ini tak lepas dari sistematika pendidikan di

Indonesia seperti pada UU No. 20 tahun 2003. Menurut

Undang-Undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 Pendidikan adalah "Usaha

sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian

diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Pasal 1, ayat 1).

Pendidikan nasional "pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan

(27)

14

berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan

tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman” (Pasal 1, ayat 2).

Berlangsungnya kehidupan sosial yang berlandaskan

sekularisme telah menyuburkan paradigm hidonisme (hura-hura),

permisivisme (serba boleh), materialistic (money oriented), dan

lainnya di dalam kehidupan masyarakat. Motif untuk

menyelenggarakan dan mengenyam pendidikan, baik oleh pemerintah

maupun masyarakat, saat ini lebih kepada tujuan untuk mendapatkan

hasil-hasil materi ataupun keterampilan hidup belaka (yang tidak

dikaitkan dengan tujuan membentuk kepribadian (akhlak) yang utuh

berdasarkan pandangan syari`at Islam).

Maka dilihat dari pembahasan diatas bahwa pendidikan saat

ini lebih sekuler yang menyebabkan akhlak dikesampingkan. Dari sini

seperti pasal 1 ayat 2 pendidikan salah satunya harus berakar pada

nilai-nilai agama.

3. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan bagian yang amat penting dalam

metode ilmiah, karena dengan dianalisa data tersebut dapat diberi arti

dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian.

Data mentah yang telah dikumpulkan perlu dipecah-pecahkan dalam

kelompok-kelompok, diadakan katagosasi, dilakukan manipulasi serta

(28)

15

untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesa

(Nazir, 1983: 405).

Sedangkan menurut Lexy J. Moloeng analisis data kualitatif

merupakan sebuah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan

data, mengorganisir data, memilih dan memilah sehingga dapat

dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,

menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan

mensimpulkan hasil analisis ke dalam sebuah laporan penelitian

(Moloeng, 2009: 248).

Adapun cara menganalisis penelitian ini, penulis menggunakan

metode induktif. Metode Induktif adalah suatu metode berfikir yang

berangkat dari fakta-fakta peristiwa khusus dan konkret, kemudian

ditarik generalisasi-generalisasi yang bersifat umum (Hadi, 1987: 42).

Dalam prakteknya penelitian ini dimulai dari mencari data temuan

dari berbagai sumber yaitu buku-buku yang berkaitan dengan

nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al

-Kāfiyah lil ‘Awām karya K.H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani.

Dari uraian data-data yang diperoleh kemudian dikaji dan dirumuskan

menjadi kesimpulan. Sehingga penelitian ini berfikir dimulai dari

khusus menuju umum.

G. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan menyeluruh

(29)

16

yang selanjutnya. Sedangkan sistematika sendiri memiliki arti suatu tata urutan

yang saling berkaitan, saling berhubungan, dan saling melengkapi. Adapun

sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan, menguraikan tentang : latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka,

metode penelitian, sistemaitka penulisan sebagai gambaran awal

dalam memahami skripsi ini.

Bab II: Sosiohistoris K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani yang

menguraikan tentang: Biografi K. H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani, yang meliputi riwayat kelahiran, kehidupan intelektual,

perjalanan karirnya hingga karya-karyanya. Selain itu dalam bab ini

juga membahas tentang sistematika kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah

Al-Kāfiyah lil‘Awām.

Bab III: Data temuan dan uraian pemikiran K. H. Muhammad Sholeh Darat

As-Samarani di dalam kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil

‘Awām

Bab IV : Pembahasan, analisis, pemikiran, relevansi, dan implikasinya dalam

era modern sekarang.

(30)

17 BAB II

PROFIL K. H. MUHAMMAD SHOLEH DARAT AS-SAMARANI

DAN SISTEMATIKA KITAB MAJMŪ‘AH AS-SYARĪ‘AH AL-KĀFIYAH

LIL ‘AWĀM

A. Biografi K.H. Muhammad Sholeh DaratAs-Samarani

1. Riwayat Hidup K.H. Muhammad Sholeh DaratAs-Samarani

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Sholeh Ibn `Umar

As-Samarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat ataupun

Mbah Sholeh Darat. Nama yang sering dicantumkan dalam

beberapa kitab karyanya, seperti tercantum pada sampul kitab Majmū‘ah

As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil ‘Awām, Munjiyyāt, Laṭa’if al-Ṭahārah,

tarjamah Sabīl al-‘Abīd ‘Alā Jauharah al-Tauḥīd, dan sebagainya.

Ayahnya bernama Kiai Umar yang merupakan pejuang dan orang

kepercayaan Pangeran Dipenogoro (1825-1830 M) di Jawa bagian Utara

khususnya Semarang (Shabir, 2007: 178).

Menurut Kiai Fahr ar-Razi Kajen yang mendapat informasi

dari Kiai Abdullah bahwa Kiai Sholeh Darat lahir sedesa dengannya,

yaitu di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten

Jepara. Kiai Sholeh Darat lahir pada masa pemerintahan kolonial

Belanda, sekitar tahun 1820 M (Munir, 2008: 33) . Sedangkan hari,

tanggal, bulan, dan tahun yang tepat belum diketahui secara pasti. Hal

(31)

18

Kiai Sholeh Darat. Berbeda dengan tanggal wafat beliau, bahwa beliau

wafat di Semarang pada hari Jum’at 28 Ramadan 1321 H yang

bertepatan dengan 18 Desember 1903 M. Tahun ini berdasarkan catatan

santri dan abdi dalem Kiai Sholeh Darat yaitu K.H. Jayadi.

Meskipun beliau wafat pada tanggal 28 Ramadhan 1321 H. haul

beliau diadakan pada tanggal 10 Syawal. Hal ini dimaksudkan agar

masyarakat bisa merayakan lebaran dengan leluasa lebih dahulu. Setelah

merayakan lebaran dan syawalan. Banyaknya umat yang hadir dalam

acara haul tersebut, seolah menjadi penanda bagi kebesaran nama dan

jasa Kiai Sholeh Darat. Karena itulah, semakin lama nama ulama besar

itu kini semakin popular di masyarakat luas, khususnya di Jawa Tengah

(Hakim, 2016: 200).

Masyarakat pada umumnya mengenal beliau dengan nama “Kiai

Sholeh Darat”. Kata “Darat” adalah nama suatu daerah di pantai utara

Kota Semarang. Tempat itu disebut demikian karena ia menjadi

tempat orang berlabuh (ndarat; Jawa). Sekarang, daerah itu termasuk

dalam Kelurahan Dadapsari Kecamatan Semarang Utara. Selain itu

sebutan Kiai Sholeh Darat, beliau akui sendiri dan tertera pada sampul

karya tulisnya yang berjudul Syarh Barzanji.

2. Pendidikan Kiai Sholeh Darat

Pendidikan pertama agamanya diajar langsung oleh ayahnya

sendiri. Permulaan belajar agama berpusat pada pelajaran al Qur’an yang

(32)

19

surat Al Fatikhah karena berkaitan dengan ibadah, salat, wudu’ dan

beberapa doa serta ilmu tajwid yang bermanfaat untuk melafalkan

ayat-ayat al Qur’an dengan benar. Pelajaran ini diikuti oleh anak-anak

pada usia 6 sampai 10 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan al

Qur’an, minat belajar beliau berlanjut kepada pelajaran yang lebih tinggi,

yaitu pendidikan (pengajian) kitab.

Setelah itu, Kiai Sholeh Darat kecil melanjutkan pelajaran ke

beberapa kiai di beberapa pesantren. Hal ini dikukuhkan dengan

pengakuan Kiai Sholeh Darat sendiri. Beliau menyebutkan daftar Kiai

yang menjadi guru beliau dalam bagian akhir kitab Mursyid

al-Wajiz (Hakim, 2016: 53), mereka adalah:

a) K.H.M. Syahid, Waturoyo, Kajen, Margoyoso, Pati, cucu Kiai

Mutamakkin (1645 – 1740 M). Kepadanya Kiai Sholeh Darat

belajar kitab: Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawim,

Sayrh al-Khatib, Fath al-Wahhab, dan lainnya. Ini adalah

pesantren pertama dari pengembaraan keilmuan yang panjang.

b) K.H.R. Muhammad Salih ibn Asnawi Kudus (1861-1959).

Kepada kiai yang sufistik ini Kiai Sholeh Darat belajar kitab

Tafsir Jalalain.

c) K. Ishaq Damaran, Semarang. Kiai Sholeh Darat belajar nahwu dan

saraf serta Fathal-Wahhab dari beliau.

d) K. Abu Abdillah Muhammad al-Hadi ibn Bauni, mufti di Semarang,

(33)

20

e) Sayyid Syaikh ibn Ahmad Bafaqih Baalawi, di Semarang. Pada

tahun 1870-an, Kiai Sholeh Darat belajar kitab Jauhar at-Tauhid

karya Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-‘Abidin karya Imam

al-Ghazali dari beliau.

f) Syaikh Abd al-Ghani Bima di Semarang. Belajar Sittin Masilah

karya Abu al-Abbas Ahmad al-Misri (818 H/1415 M). Ini adalah

kitab yang berisi dasar ajaran Islam. Kitab ini populer di Jawa

pada abad XIX.

g) Haji Muhammad Irsyad, Lowano, Begelan, Purworejo. Darinya

Kiai Sholeh Darat belajar arti penting ilmu pengetahuan dan

mauizah. Hasilnya pelajaran ini ditulis dalam bentuk nazam oleh

Kiai Sholeh Darat.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Jawa, pada tahun

1835-an Muhammad Salih diajak ke Makkah oleh ayahnya. Kiai Sholeh

Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah

haji (Munir, 2008: 44). Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai

Sholeh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk menuntut ilmu.

Pada waktu itu abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke

Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk di dalamnya, Kiai

Sholeh Darat. Beliau pergi ke Makkah dan menetap di sana guna

menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak

diketahui secara pasti tahun berapa beliau ke Makkah dan kapan kembali

(34)

21 terkenal seperti (Hakim, 2016: 66-67):

a) Syaikh Muhammad al-Muqri al-Misri al-Makki, kepadanya ia

belajar ilmu 'aqa'id dengan kitab Umm al-Barahin karya

Muhammad as-Sanusi.

b) Syaikh Muhammad ibn Sulaiman pengajar diMasjid al-Haram dan

Masjjd an-Nabawi, kepadanyaia belajar Syarh: al-Khatib, Fath

al-·Wahhab, dan Alfi.yah ibn Malik beserta Syarah-nya, dan dari

Syaikh Muhammad ibn Sulaiman beliau memperoleh ijazah tentang

kitab-kitab tersebut.

c) Sayid Muhammad ibn Zairu Dahlan, (1232-1304: H/18-17-l886 M)

mufti Syafi'iyyah di Makkah. Kepadanya ia belajar lhya,' 'Ulum

ad-Din karya al-Ghazali, dan dari Sayyid Muhammad ibn Zaini

Dahlan ia mendapatkan ijazah. Ulama Indonesia Iain yang pernah

berguru kepadanya antara Iain: K.H. Nawawi al-Bantani, KR

Mahfuz at-Tinnisi, dan Ahmad Khatib, Sayyid Muhammad

kebanyakan orang menyebut Ahmad ibn Zaini Dahlan adalah 'ulama'

besar yang berpengaruh sebagai pengajar di Masjid al-Haram,

Makkah, ahli fiqh dan sejarawan lahir di Makkah dan karena

kedalaman ilmunya ia diangkat menjadi mufti di Makkah. Para

pelajar dari Indonesia yang memmtut ilmu di Makkah pada masanya

banyak yang berguru kepadanya.

d) Al-'Alamab Ahmad an-Nahrawi al-Misti al-Makki, kepadanya

(35)

22

e) Sayyid Muhammad Salih az-Zawawi al-Makki, pengajar di Masjid

al-Haram. kepadanya ia belajar Ihya' Ulum ad-Din juz, I dan II.

f) Syekh Zaid atau Zaid, kepadanya ia belajar Fath al-Wahhab dan

mendapat ijazah daripadanya,

g) Syaikh 'Umar asy-Syami, kepadanya ia belajar Fath al- Wahhah.

h) Syaikh as-Sanbulawi al-Misri, kepadanya ia belajar Syarhiat Tahrir

karya Zakariya al-Ansari.

i) Syaikb Jamal mufti Hanafi di Makkah, ia belajar Tafsir al-Qur'an

(Bizawie, 2016: 442)

Melihat pendidikan yang ditempuh oleh Kiai Sholeh Darat baik di

Jawa maupun di Makkah dengan berbagai ilmu pengetahuan agama

Islam, menunjukkan bahwa ia termasuk orang yang bersemangat dalam

pencarian ilmu, ia bisa disebut musafir pencari ilmu, dalam kalangan

pesantren terdapat istilah ngalap berkah (mengambil berkah) yaitu

mengaji (belajar) kepada guru tertentu yang mempunyai kharisma tinggi.

Walaupun kitab yang dikaji termasuk kitab dasar atau sudah pernah

dikaji oleh seseorang tadi, yang inti ngaji tersebut bukan tertuju pada

isi kitab tapi mendapat berkah dari guru. Ini bisa terlihat dari

beberapa kitab yang Kiai Sholeh Darat beberapa kali mengaji kepada

beberapa kyai, sebut saja Fath al-Wahab beliau mempelajarinya dari

Kyai Sahid, Kyai Muhammad Ishaq, Syaikh Muhammad ibn Sulaiman

Hasbullah, Kyai Zahid, Syaikh Umar as-Syami.

(36)

23

mendapatkan kesempatan mengajar disana seperti ulama lainnya sebut

saja Nawawi al-Bantani dan Ahmad Khatib Minangkabawi, keduanya

merupakan teman Kiai Sholeh Darat sewaktu di Mekkah.

Sejak berada di Mekkah Kiai Sholeh Darat telah mengajar sembari

belajar. Tercatat beberapa ualama yang menjadi tokoh besar telah

belajar padanya di Mekkah (Dzahir dan Ichwan, 2012: 12-13). Mereka

diantaranya:

a) K.H. Dalhar pendiri Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang.

b) K.H. Dimyati (1934) dari Termas, Pacitan.

c) K.H.R. Dahlan (1329 H/1919 M) juga dari Termas.

d) K.H. Kholil Harun (1358 H/1940 M) dari Kasingan, Rembang.

e) K.H. Raden Asnawi (1969 M) dari Kudus).

f) K.H. Mahfuz (1919) dari Termas.

Selain itu, Kiai Sholeh juga mengabdikan ilmunya dengan menjadi

pengajar di sebuah pesantren yang terletak di Desa Maron, Kecamatan

Loano, Purworejo. Ini adalah pesantren tua yang telah berdiri sejak abad

ke-18 M. Didirikan oleh tiga orang sufi, Kiai Ahmad Alim dan kedua

putranya Kiai Muhammad Alim dan Kiai Zain Alim. Namun,

penulis tidak menemukan informasi tepatnya mulai kapan dan berapa

tahun Kiai Sholeh Darat mengajar di pesantren tersebut. Pesantren ini

fokus pada pendidikan hafalan Al-Qur’an. Meski begitu, pelajaran

(37)

24

sebagai pengajar kitab kuning seperti fikih, tafsir Al-Qur’an, nahwu, dan

saraf (Dzahir dan Ichwan, 2012: 16).

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Kiai Sholeh Darat

tidak membatasi pelajaran beliau hanya pada satu bidang agama tertentu.

Karena beliau belajar hukum Islam (fikih), misalnya belajar Fath

al-Wahhab bahkan mengulangnya beberapa kali. Dari Syaikh Umar asy-

Syami, Kiai Zahid, Syaikh Muhammad ibn Sulaiman Hasb Allah, K.

Ishaq Damaran, dan K.H.M. Syahid. Beliau juga belajar ilmu kalam

(teologi), misalnya saat di Mekkah, dari Syaikh Muhammad Muqri

al-Misri al-Makki beliau mengkaji kitab Umm al-Barahin karya

Muhammad As-Sanusi. Ketika pulang di Semarang beliau belajar lagi

dari Sayyid Syaikh ibn Ahmad Bafaqih Baalawi kitab Jauhar at-Tauh

karya Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-‘Abidinkarya Imam al-Ghazali.

Serta belajar beliau juga tasawuf, pelajaran ini ditempuh pada tahun

1870-an saat beliau berusia 50-an (mistisisme Islam) kitab Ihya’ ‘Ulum

ad-Din karya al- Ghazali, yaitu juz I dan II dari Sayyid Muhammad Salih

az- Zawawi al-Makki, dan kitab al-Hikam karya Ibn Ataillah dari

Al-Allamah Ahmad an-Nahrawi al-Misri al-Makki.

Kesimpulan kedua, yaitu Kiai Sholeh Darat juga tidak menjadikan

perbedaan madzhab (fikih) sebagai penghalang untuk belajar kepada

seseorang. Buktinya, beliau belajar Tafsir al-Qur’an kepada Syaikh

(38)

25

Kiai Sholeh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di

Pondok Pesantren Salatiyang, yang terletak di Desa Maron, Kecamatan

Loana, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad ke-18 M oleh tiga

orang sufi, masing-masing adalah Kiai Achmad Alim, Kiai Muhammad

Alim, dan Kiai Zain al-Alim dalam perkembangan selanjutnya, pesantren

ini dipercayakan kepada Kiai Zain al-Alim. Sementara Kiai Achmad

Alim mengasuh sebuah pesantren yang bernama al-Imam, di Desa Bulus,

Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhammad Alim mengembangkan

pesantrennya di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren

al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Sholeh Darat sebagai pengajar yang

membantu Kiai Zain al-Alim (Ulum: 2016, 49-50).

Pesantren Salatiyang sendiri lebih memfokuskan pada bidang

penghafalan al-Qur’an, di samping mengajarkan kitab kuning. Di sinilah

besar kemungkinan, Kiai Sholeh Darat diperbantukan untuk mengajarkan

kitab- kitab kuning, seperti Fiqh, Tafsir, Nahwu, dan Sharaf kepada

santri yang sedang menghafalkan al-Qur’an (Masyhuri, 2008: 67).

Tidak jelas, berapa lama Kiai Sholeh Darat menjadi guru pembantu

di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, beliau dijodohkan

dengan Sofiyah putri kyai Murtadha teman seperjuangan ayahnya di

bawah pimpinan Diponegoro, setelah itu beliau mulai menetap di

Semarang dan mendirikan pondok sekitar tahun 1870-an. Hitungan ini

didasarkan pada kitabnya, Matn al-Hikam, yang ditulis rampung dengan

(39)

26

Lambat laun pesantren tersebut terkenal dengan sebutan Pondok

Pesantren Darat. Kiai Sholeh Darat mendirikan pesantren Darat.

Pesantren ini merupakan pesantren tertua kedua sesudah pesantren

Dondong, Mangkang Wetan, Semarang. Pesantren ini didirikan oleh

salah seorang prajurit Sultan Agung Mataram, yaitu Kiai Syafi’i

Piaranegoro sekitar tahun 1628 (Ulum, 2016: 50).

Kemasyhuran pesantren Darat pada masa itu terdengar hingga ke

beberapa daerah. Ini dibuktikan dengan banyaknya murid Kiai Sholeh

Darat yang datang dari berbagai daerah, seperti Solo, Magelang,

Surakarta, Yogyakarta, Kudus, Pacitan, dan Jombang. Kemungkinan

besar pula, nama dan kemasyhuran beliau sudah terdengar sejak

beliau belajar-mengajar di Mekkah. Apalagi mengingat murid-murid

beliau, seperti tersebut di atas, adalah para tokoh agama di tempat

mereka masing- masing.

Keadaan itu menjadikan tidak heran setelah mendirikan pesantren

Darat. Bangunan Pondok Pesantren Darat sangatlah sederhana, namun

pesantren ini mampu mendidik santrinya dengan sangat baik, dintara

santri-santrinya dikemudian hari banyak yang menjadi tokoh nasional

bahkan internasional. Diantara santri- santrinya ialah (Hakim, 2016:

80-82):

a) KH. Mahfudh ibn Abdullah ibn Abdul Manan (1258 H/1866

(40)

27

dengan sebutan Syaikh Mahfud at-Tirmisi seorang ahl Hadis,

pengajar di Saudi Arabia.

b) KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah (1868-1923 M),

ketika di Makkah beliau belajar kepada Syaikh Khatib

Minangkabau.

c) KH. Hasyim Asy’ari, (1871-1947 M) pendiri Nahdlatul Ulama, dan

pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.

d) K.H. R. Dahlan dari Termas, (1329 H/1919 M), ahli falak dan

kemudian hari diambil menantu oleh Kiai Sholeh Darat.

e) K. Amir dari Brebes (1357 H/1939 M) pendiri pondok pesantren di

simbang kulon dan juga diambil menantu oleh Kiai Sholeh Darat.

f) K. Idris dari Solo, nama aslinya Slamet (1341 H/1927 M), ia

menghidupkan kembali Pondok Pesantren Jamsaren yang didirikan

oleh Kyai Jamsari, prajurit Diponegoro yang ditawan oleh Belanda.

g) K.H. Abdul Hamid, Kendal (1348 H/1930 M), yang kemudian salah

seorang putranya KH. Ahmad Abdul Hamid menjadi Ketua Umum

MUI tingkat I Jawa Tengah tahun 1935-1990 M.

h) K.H. Sya’ban ibn Sya’ban, Semarang (1364 H/1946 M).

i) K.H. Tahir, penerus Pondok Pesantren Mangkang Wetan, semarang.

j) K.H. Sahli, salah seorang kyai di Kauman, Semarang.

k) K.H. Dimyati dari Termas (1934 M) adik Kyai Mahfudh at-Tirmisi.

l) K.H. Khalil, Rembang (1358 H/1940 M).

(41)

28 n) Kyai Yasin, Rembang.

o) K.H. Ridwan ibn Mujahid, Semarang (1368 H/1950 M).

p) K.H. Bapak Ali Barkan, Semarang.

q) Kyai penghulu Tafsir Anom, Penghulu Keraton Surakarta, ayah

KH.R Muhammad Adnan.

r) K.H. Yasir, Bareng Kudus.

s) K.H. R. Asnawi dari Kudus (1861-1959 M) yang menjadi murid

Kiai Sholeh Darat sewaktu menuntut ilmu di Makkah.

t) K.H. Muzakkir, kakek KH. Zamrazi, Sayung Demak.

u) K.H. Siraj, dari Payaman, Magelang.

v) K.H. Anwar Mujahid, Semarang.

w) K.H. Abdussamad, ayah K. Muhab Arifin, Solo.

x) K.H. Dalhar, pendiri Pondok Pesantren Watucongol Muntilan.

Beliau terkenal dengan sebutan Mbah Dalhar Watucongol.

y) K.H. Harun, Pondok Pesantren Kempek Cirebon.

z) K.H. Sajad, pendiri Pondok Pesantren Sendangguwa, Semarang.

Pengabdian kepada ilmu dan agama oleh Mbah Sholeh tidak hanya

terbatas pada mengajar di pesantrennya namun beliau juga mengajar

masyarakat lainnya, sebut saja majelis pengajian di Demak, atas

undangan Bupati Demak waktu itu Pangeran Ario Hadiningrat. Mbah

Sholeh Darat mengajarkan tafsir al Qur’an di pendapa Kabupaten.

Selah satu muridnya yang terkenal tetapi bukan dari kalangan

(42)

29

Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa Jawa.

Menurut catatan cucu Kiai Sholeh Darat, RA Kartini pernah punya

pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya

memarahinya karena dia bertanya arti.sebuah ayat Al-Qur'an. Kemudian

ketika berkunjung ke rumah parnannya, seorang Demak, RA Kartini

menyernpatkan diri pengajian yang diberikan oleh, Kiai Sholeh Darat.

Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini

menjadi amat tertarik dengan model pengajian yang disajikan oleh Kiai

Sholeh Darat. Di majlis itulah RA. Kartini mengenal beliau serta menjadi

muridnya, Kartini merasakan adanya pencerahan setelah mengikut

pengajian tersebut, seperti pengakuannya bahwa ia sebelumnya merasa

asing dengan agamanya karena tidak mengetahui maknanya (Hakim,

2016: 171-174).

Dalam sebuah pertemuaan RA Kartini meminta agar Al-Qur'an

diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca suci

yang tidak diketahui artinya. Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda

secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur'an. Mbah Sholeh

Darat melanggar Iarangan ini. Beliau menerjemahkan Al-Qur' an dengan

ditulis dalam huruf "Arab gundul" (pegon) sehingga tak dicurigai

penjajah. Kitah tafsir dan terjemahan Al-Qur'an ini diberi nama Kitab

Faid Ar-Rahman tafsir pertama di Nusantara dalarn bahasa Jawa dengan

(43)

30

Sepekan sebelum hari pernikahan Kartini, Kiai Sholeh Darat

mengutus Kyai Ma’sum seorang Ulama dari Semarang untuk

menyampaikan kitab tafsir berjudul Faid Ar-Rahmanfi Bayani Asraril

Qur’an, untuk Kartini sebagai hadiah pernikahannya dengan R.M.

Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.

Pesantren yang didirikan oleh K.H. Saleh Darat di daerah pantai

utara Semarang (daerah Darat) sekarang berubah nama menjadi

Dadapsari, yang letaknya kurang lebih 2 km ke arah jantung kota Jalan

Bojong. Pwsantren Sarat waktu itu tidak berbeda dengan pesantren

lainnya, di kompleks pesantren tersebut ada rumah kiai, mushola/masjid

untuk sholat dan pengajian, asrama santri dan sebagainya. Pesantren ini

dibanggun dengan kayu jati. Sekarang ini, bekas pesantren sudah

berubah menjadi tempat tinggal penduduk. Hanya masjid pesantren yang

masih tersisa, itu pun sudah direnovasi (Hakim, 2016: 79-80).

3. Karya-Karya K. H. Muhammad Sholeh Darat As-Samarani

K.H. Sholeh Darat mengisi kehidupannya hanyalah diabdikan

untuk kehidupan agama dan umat Islam. Selain sebagai ‘ulama yang

gigih berdakwah menyebarkan agama Islam dan mencerahkan

masyarakat dengan nilai-nilai Islam, beliau juga salah satu ulama yang

sangat produktif melahirkan berbagai karya dalam bentuk tulisan. Karya

tulisnya dipergunakan untuk menggali ajaran Islam dan

menyampaikannya kepada masyarakat. Karya tulisnya mencakup

(44)

31

tasawuf, teologi hingga tafsir Al-Qur’an. Ia secara intensif mencurahkan

segala tenaga dan pikirannya untuk membukukan pendapat para

ulama-ulama terdahulu, pendapatnya sendiri dan dikaitkan dengan kultur

dan budaya sendiri tentang berbagai masalah yang dihadapinya dalam

konteks kemasyarakatan yang melingkupinya. Perhatiannya tercurah

terhadap pandangan hidup yang berdasarkan ajaran-ajaran agama islam

dan kehidupan spiritual setiap muslim, kebanyakan karya tulis Kiai

Sholeh Darat berbahasa jawa (Arab pegon), ini dimaksudkan untuk

memudahkan pengajaran terutama bagi kaum awam agar mudah

difahami dan hayati.

Tidak sedikit dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa

Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’i dari kalisasak (1786), yang banyak

menulis kitab berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Sholeh Darat adalah

satu-satunya ulama, akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaannya

berbahasa Jawa.

Menurut riwayatnya, kurang lebih ada 40 kitab telah dikarang oleh

K.H. Sholeh Darat, tetapi yang bisa diselamatkan hingga sekarang baru

sekitar 14 kitab. Karya-karyanya masih berada dalam proses pencarian.

Kitab-kitab beliau cukup sulit dilacak, Karena disebabkan jaman dahulu

pengawasan Belanda, sehingga K.H. Sholeh Darat tidak sempat

mengoleksi kitab-kitab karangannya sendiri. Usai menulis kitab, kitab

tersebut langsung diberikan kepada muridnya. Karena itu justru

(45)

32

Anak-anaknya sendiri hanya sedikit yang bisa mengoleksinya (Hakim,

2016: 147).

Adapun karya-karya Kiai Sholeh Darat yang sebagiannya

merupakan terjemahan, kurang lebih ada 14 buah, yaitu:

1. Matn al-Hikam

Kitab ini merupakan terjemahan dan ringkasan dari kitab

al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibn Ata’ al-Askandari, merupakan kitab

terjemahan dalam bahasa Jawa, merupakan kitab Tasawuf. Yang

diakhir penulisan kitab ini K.H. Sholeh Darat memberikan nasehat

bahwa resep bagi orang yang hendak membunuh nafsunya, maka

hendaknya menanamkan sifat kerinduan akan kematian dan cinta

ingin bertemu Tuhan-Nya. Benci terhadap dunia. Maka dari itu

dalam mempelajari kitab ini sangat-sangat dibutuhkan seorang guru

(mursyid) (Ulum, 2016: 117).

2. Munjiyat

Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya ‘Ulum

al-Din jilid III dan IV karya Imam Al-Ghozali. Kitab ini terdiri dari

dua bagian, yaitu bagian pertama, Muhlikat Madzmumah atau

perbuatan yang dapat membinasakan dan tercela. Sedangkan pada

bagian kedua, Munjiyat Mahmudah atau perbuatan yang

(46)

33

Di akhir pada pembahasan di dalam kitab Munjiyat, K.H.

Sholeh Darat bermudajat “La ilaha illallah ya ilahi wa sayyidi”

(Ulum, 2016: 121).

3. Kitab Fasalatan

Kitab ini membahas tentang sesuatu yang berkaitan dengan

sholat secara zahirnya syariat. Kitab ini berbeda dengan lathaifu

al-thaharah yang selain mengupas syariat secara lahir, juga disinggung

secara batinnya (Ulum, 2016: 140).

4. Syarh Barzanji.

Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab Barzanji karya

Syaikh Ja’far Al-Barjanji dengan menggunakan bahasa Arab

Pegon seperti kitab-kitab karangan K.H. Sholeh Darat yang lainnya.

Kitab ini mengulas tentang perjalanan Sirah Nabawi, khususnya

tentang Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. di waktu malam

dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha (Ulum, 2016: 147).

5. Lathaif al-Thaharat wa Asrar al-Sholah fi Kaifiyat Sholat al-Abidin

wa al-Arifin.

Kitab ini terdiri dari 3 judul yang dijadikan menjadi 1 kitab,

yaitu berjudul Lathaifu al-Thaharah wa al-Asrari al-Shalat fi

Kafiyati al-Salati al-Abidin wa al-Arifin Asrari al-Shaumi, Fadhilati

al-Muharram wa al-Rajab wa al-Sya’ban. Kitab tersebutberisi lebih

menekankan akan pentingnya sholat lima waktu yang menjadi rukun

(47)

34

6. Kitab Manasik Kaifiyah al-Shalat al-Musyafirin.

Kitab ini berisi tentang tata cara melaksanakan shalat fardu

bagi orang yang sedang dalam perjalanan.

7. Kitab Hadits al-Mi’raj.

Kitab berisi hadist-hadist ini dicetak sebelum kitab

Fasalatan dan Sabilul al-Abid Terjemah Jauhar al- Tauhid.

8. Sabilul al-Abid Terjemah Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani

Kitab ini merupakan terjemahan berbahasa Jawa. Dalam kitab

ini disampaikan. Kitab ini membahas bahwa orang Islam wajib

mengetahui tiga hal, yaitu: pertama, Ilmu Tauhid. Kedua, Ilmu

Fiqih. Ketiga, Ilmu Tasawuf.

9. Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām.

Kitab ini ditulis K.H. Sholeh Darat untuk memudahkan

orang-orang awam dalam mempelajari hukum Islam. Di dalamnnya

dikupas beberapa materi tentang Islam seperti muamalah, zakat,

puasa, haji, nikah, dan memerdekakan budak. Kitab ini referensinya

diambil dari berbagai kitab al-mu’tabarah yang keilmuan mualifnya

dialami oleh mayoritas ulama Ahlusunnah wa al-Jamaah (Ulum,

2016: 170).

10.Manasik al-Hajj wa al-‘Umrah

Kitab ini berisi tuntunan atau tata cara ibadah haji dan umrah

yang dimulai dengan riwayat melaksanakan haji, kemudian

(48)

35

kerama melaksanakan ibadah haji. Selain mengupas amalan tentang

haji dan umrah secara lahir, juga menyinggung hal-hal batin dalam

ritual ibadah haji (Ulum, 2016: 181)..

11. Minhaj al-Atqiya fi Syarh Ma’rifah al-Atqiyah ila Thariq al-Aulia

Kitab ini merupakan terjemahan dan syarh dari nazham

Hidayah al-Azkiya’ ila Thariq al-Auliya karya Syaikh Zainudin ibn

Ali al-Malibari, dimana K.H. Sholeh Darat menggunakan bahasa

Arab Pegon dengan maksud agar manfaat dan memudahkan bagi

orang awan di Jawa, yang kebanyakan tidak mengerti Bahasa Arab

dengan baik dan benar (Ulum, 2016: 185-187).

12. Al-Mursyid al-Wajiz fi ‘Ilm al-Qur’an al ‘Aziz

Kitab ini berisi tentang ilmu-ilmu al-Qur’an dan ilmu tajwid.

Namun lebih dari pada itu, ada 46 bab disamping khutbah kitab atau

pendahuluan. Ada pembahasan tentang awal mula kenabian, cara

wahyu diturunkan, hakikat Al-Qur’an, penulisan Al-Qur’an mulai

dari zaman Rasullullah SAW. hingga Khalifah Ustman ibn Affan,

keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur’an hingga al-Khatimah

(penutup) (Ulum, 2016: 193).

13. Kitab Tafsir Faidhu al-Rahman fi Tarjamati Tafsiri Kalam

Maliki ad-Dayyan.

Sebuah kitab tafsir al-Qur’an yang ditulis menggunakan

Bahasa Arab Pegon, disebabkan karena kebanyakan orang pribumi

(49)

36

Hal ini disebabkan pemerintah Hindia Belanda tidak menyukai

tentang sesuatu yang berbau Arab sehingga persebarannya dibatasi.

Oleh sebab itu kitab ini ditulis dengan Bahasa Arab Pegon untuk

memudahkan orang awam yang ingin memperlajari Islam,

khususnya ingin mengerti makna yang terkandung dalam Al-Qur’an

(Ulum, 2016: 198).

14. Kitab Al-Mahabbah wa al-Mawaddah fi Tarjamah Qaul al-Burdah

fi Mahabbah wa al-Madhu ‘ala Sayyid al-Mursalin.

Kitab ini terkenal dengan sebutan Syarh al-Maulid al-Burdah

dan kitab ini berasal dari berbagai rujukan kitab-kitab muktabar

seperti kitab Maulid al-Burdah karya Muhammad bin Sa`id

al-Bushiri, Syarah al-Burdah karya Imam Ibrahim al-Baijuri, kitab

karya Syaikh Khalid al-Azhari, kitab al-Barjanji dan kitab karya

Syaikh Yusuf al-Nabhani. Berisi tentang sanjungan terhadap Nabi

Muhammad SAW, sejumlah kemu’jizatan Rasulullah SAW,

keagungan al-Qur’an, peperangan dan ditutup dengan doa (Ulum,

2016: 207-209).

B. Sistematika Kitab Majmū‘ah As-Syarī‘ah Al-Kāfiyah lil‘Awām.

Kitab Majmū‘ah karangan K.H. Saleh ini ditulis ulang oleh Jazuli

pada tanggal 8 Sya`ban 1309 H/1892 M. Kitab ini diterbitkan pertama kali

oleh Haji Muhammad Shadiq di Singapura tahun 1317 H, kemudian oleh

penerbit al-Karimi di Bombay tahun 1336 H, dan oleh penerbit al-Mishriyah

(50)

37

merupakan satu-satunya karya penting berbahasa Jawa di bidang ini. Kitab

ini merupakan rangkuman atau ensiklopedi dari syari`at yang diperuntukkan

bagi orang awam. Para ulama’ memberikan pengertian tentang syari’at Islam

yaitu apa yang disyari`atkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang

meliputi akidah, ibadah, akhlak dan mu`amalah. Pengertian ini sejalan

dengan apa yang dimaksud oleh kitab Majmū‘ah yang meskipun

menitikberatkan pada masalah fiqh yang erat kaitannya dengan hukum yang

sangat dibutuhkan oleh orang awam dibahas juga tentang akidah dan akhlak

(Shabir, 2011: 375-376).

Kitab Majmū‘ah yang dicetak oleh penerbit Al-Mishriyah dan

kemudian dicetak ulang oleh penerbit Karya Toha Putera Semarang terdiri

atas 275 halaman dengan rincian sebagai berikut:

1. Pendahuluan

Terdiri halaman dari 1-4, di dalamnya dijelaskan tentang pentingnya

menuntut ilmu dan masalah hidayah dari Allah.

2. Masalah akidah

Terdiri halaman dari halaman 4-41, di dalamnya terdapat 12 fasal yang

menjelaskan tentang: rukun Islam, rukun iman, ihsan, sifat-sifat Allah,

sifat-sifat rasul termasuk nasab Nabi Muhammad SAW, wajibnya

melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, rukun

syahadat, menjaga iman dan Islam agar jangan sampai rusak/murtad,

macam-macam dosa (dosa besar dan dosa kecil) dan maksiat.

Referensi

Dokumen terkait

Amanat Undang Undan Dasar 1945 telah dijabarkan ke dalam berbagai Undang-Undang sistem pendidikan, terakhir adalah Undang- Udang Sistem Pendidikan Nasional th

Upah muat barang dari pintu gudang ke atas alat angkut atau ke dalam peti kemas.. Ongkos angkut dari gudang penimbunan sampai ke: - Sisi kapal ( Along S ide

1.4.1.1 Setelah kegiatan diskusi peserta didik dapat mengamalkan ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur tentang wilayah negara, warga

pada Bulan Desember 2019 mencapai 276,914 kunjungan, mengalami penurunan -13,32 persen dibanding jumlah wisman pada Bulan Desember 2018, dimana jumlah wisman pada Desember

Keempat, aspek stereotipe yang berupa isi ( content ) dimana karakter tertentu dihubungkan dengan suatu kelompok, namun isi ( content ) sendiri dapat berubah melalui

Berdasarkan CEDAW Bagian I Pasal 2 ayat b yaitu membuat peraturan perundang- undangan yang tepat dan peraturan-peraturan lainnya termasuk sanksi-sanksinya dimana perlu,

Indoreksa divisi Smart Card Savvy 49 Tabel 3.2 Persentase pelanggan yang mengenal internet 51 Tabel 3.3 Persentase sejauh mana pelanggan mengenal internet 52 Tabel 3.4

Dari data yang dikumpulkan selama masa penelitian disimpulkan bahwa cacat dominan yang sering terjadi dengan nilai RPN tertinggi disebabkan antara lain karena beberapa faktor