• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen NOVITA AJENG PRIMANTARI (Halaman 38-200)

Bab ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan dari uraian yang sudah diterangkan pada bab-bab sebelumnya, hasil pemecahan masalah yang diperoleh dari penelitian ini, serta beberapa saran perbaikan untuk pengembangan lebih lanjut.

12 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Rancang Bangun

Rancang merupakan serangkaian prosedur untuk menerjemahkan hasil analisa dari sebuah sistem ke dalam bahasa pemrograman untuk mendeskripsikan dengan detail bagaimana komponen-komponen sistem diimplementasikan (Pressman, 2002). Rancangan sistem adalah penentuan proses dan data yang diperlukan oleh sistem baru (McLeod, 2002).

Sedangkan pengertian pembangunan sistem adalah kegiatan menciptakan sistem baru maupun mengganti atau memperbaiki sistem yang telah ada baik secara keseluruhan maupun sebagian (Pressman, 2002).

Dengan demikian pengertian rancang bangun merupakan kegiatan menerjemahkan hasil analisa ke dalam bentuk paket perangkat lunak kemudian menciptakan sistem tersebut untuk memperbaiki sistem yang sudah ada.

2.2 Konsep Dasar Sistem Informasi 2.2.1 Pengertian Sistem

Pada dasarnya sistem adalah sekumpulan elemen-elemen yang terintegrasi untuk mencapai tujuan tertentu. Ini dikemukakan oleh beberapa ahli sistem yang mengemukakan bahwa sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan (McLeod & Schell, 2004). Sedangkan Ladjamuddin (2005),

mengemukakan bahwa suatu sistem adalah sekumpulan objek-objek saling berelasi dan berinteraksi serta hubungan antar objek dapat dilihat sebagai satu kesatuan yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan.

2.2.2 Data dan Informasi

Menurut Turban et al. (2005), data adalah deskripsi dasar tentang sesuatu, kejadian, kegiatan, dan transaksi yang ditangkap, direkam, disimpan, dan diklasifikasikan namun tidak terorganisir untuk menyampaikan suatu arti khusus. Sedangkan informasi menurut McLeod (2004) adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya. Dari definisi informasi data, maka dapat disimpulkan, bahwa informasi adalah data yang diolah menjadi sebuah bentuk yang lebih berguna bagi penerima dan dapat bermanfaat untuk pengambilan keputusan.

2.2.3 Siklus Informasi

Untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagi penerimanya, maka perlu dijelaskan bagaimana siklus yang dibutuhkan dalam menghasilkan informasi sebagai berikut.

Gambar 2.1 Siklus Informasi atau Siklus Pengolahan (Ladjamuddin, 2005) Input (Data) Proses (Pengolahan Data) Output (Informasi)

2.2.4 Kualitas Informasi

Menurut Ladjamuddin (2005), kualitas informasi (quality of

Information) sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh 6 hal sebagai berikut:

a. Relevan (relevancy)

Seberapa jauh tingkat relevansi informasi tersebut terhadap kenyataan kejadian masa lalu, kejadian hari ini dan kejadian yang akan datang. b. Akurat (Accuracy)

Suatu informasi dikatakan berkualitas jika kebutuhan informasi tersebut telah tersampaikan (completeneess), sesuai (correctness), dan sistem yang diinginkan aman (security).

c. Tepat Waktu (Timeliness)

Berbagai proses dapat diselesaikan dengan tepat waktu, laporan-laporan yang dibutuhkan dapat disampaikan tepat waktu.

d. Ekonomis (Economy)

Informasi yang dihasilkan memiliki daya jual yang tinggi, serta biaya operasional untuk menghasilkan informasi tersebut minimal.

e. Efisien (Efficiency)

Informasi yang berkualitas memiliki sintaks ataupun kalimat yang sederhana (tidak berbelit-belit) namun mampu memberikan makna dan hasil yang mendalam atau bahkan menggetarkan setiap orang atau benda apapun yang menerimanya.

f. Dapat Dipercaya (Reliability)

Informasi tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya dan telah teruji tingkat kejujurannya.

2.2.5 Pengertian Sistem Informasi

Jogiyanto (2005), menyebutkan bahwa sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan. Sedangkan Ladjamuddin (2005) mendefinisikan bahwa sistem informasi adalah sekumpulan prosedur organisasi yang pada saat dilaksanakan akan memberikan informasi bagi pengambil keputusan dan atau untuk mengendalikan organisasi.

2.2.6 Komponen Sistem Informasi

Terdapat lima komponen dalam sistem informasi, diantaranya adalah

hardware dan software yang berfungsi sebagai mesin, manusia dan prosedur

yang merupakan manusia dan tata cara menggunakan mesin, dan data yang merupakan jembatan penghubung antara manusia dan mesin agar terjadi suatu proses pengolahan data (Ladjamuddin, 2005). Berikut ini merupakan ilustrasi dari kelima komponen tersebut.

Mesin Manusia Gambar 2.2 Lima komponen Sistem Informasi (Ladjamuddin, 2005) Hardware (Perangkat Keras) Software (Perangkat Lunak) DATA Procedures (Prosedur) People (Manusia)

2.3 Konsep Dasar Tes 2.3.1 Pengertian Tes

Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes tulisan), bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan) (Sudjana, 2010). Sedangkan menurut Masduki (2009), tes secara sederhana dapat diartikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes.

Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku tertentu. Dalam psikologi, tes dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu (Masduki, 2009): (1) tes yang mengukur intelegensia umum yang dirancang untuk mengukur kemampuan umum seseorang dalam tugas; (2) tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat yang dibuat untuk mengungkap kemampuan potensial dalam bidang tertentu; (3) tes yang ditujukan untuk mengukur prestasi yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan aktual sebagai hasil belajar; (4) tes yang mengungkapkan aspek kepribadian (personality assesment) yang bertujuan mengungkapkan karakteristik individual subjek dalam aspek yang diukur.

2.3.2 Bentuk-Bentuk Tes

1. Tes Subjektif

Tes subjektif umumnya berbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata.

2. Tes Objektif

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif (Arikunto, 2012). Bentuk dan format soal tes objektif ditentukan oleh pengaturan kata, frase, kalimat, dan lambang-lambang yang merupakan unsur-unsur soal itu, berdasar atas petunjuk mengenai bagaimana tes itu harus dijawab dan berdasar atas cara menuliskan jawaban (Suryabrata, 1997). Berikut ini merupakan macam-macam tes objektif (Arikunto, 2012):

A. Tes Benar-Salah (True-False)

Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement).

Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Berikut ini

merupakan contoh soal benar-salah.

(B)-S 1.Danau Toba di Sumatera Utara dari segi pembentukannya

merupakan danau tektonik.

Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari huruf S jika pernyataan salah (Arikunto, 2012). Berikut ini merupakan kebaikan dan kelemahan tes benar salah (Arikunto, 2012).

B. Tes Pilihan Ganda (Multiple choice Test)

Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau

pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan (Arikunto, 2012). Multiple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (options) yang terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh (distractor). Berikut ini merupakan contoh dari soal pilihan ganda.

Siapakah penemu mesin jahit? A. Singer

B. Howe C. Whitney D. Fulton Jawaban: B

C. Menjodohkan (Matching Test)

Matching test dapat diganti dengan istilah mempertandingkan,

mencocokan, memasangkan, atau menjodohkan (Arikunto, 2012). Berikut ini merupakan contoh dari soal menjodohkan:

Pasangkanlah pertanyaan yang ada pada lajur kiri dengan yang ada pada lajur kanan dengan cara menempatkan huruf yang terdapat di muka pernyataan lajur kiri pada titik-titik yang disediakan di lajur kanan.

b) Imigrasi………2. Pindahnya penduduk dari desa ke kota D. Tes Isian (Completion Test)

Completion test biasa disebut dengan istilah tes isian, tes

menyempurnakan, atau tes melengkapi (Arikunto, 2012). Berikut ini merupakan contoh dari tes isian.

1. Columbus menemukan Benua Amerika pada tahun…….. 2. Air akan membeku pada suhu………derajat Fahrenheit

2.3.3 Ujian Dinas di Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya Manusia

Ujian dinas adalah ujian yang diselenggarakan oleh Pusdiklat PSDM untuk menaikkan pangkat seorang PNS dari golongan II/d menjadi golongan III/a dengan syarat lulus nilai dari minimum yang telah ditentukan. Ujian dinas dimaksudkan untuk memberi bekal yang cukup bagi PNS golongan II agar memenuhi kompetensi yang dibutuhkan bagi PNS golongan III. Persyaratan peserta untuk mengikuti ujian dinas adalah telah berpangkat pengatur Tk. I (golongan II/d) sekurang-kurangnya 2 tahun dan disusulkan oleh sekretaris unit eselon I yang bersangkutan.

2.4 Konsep Dasar Bank Soal 2.4.1 Pengertian Bank Soal

Tes merupakan suatu pengukuran yang diperlukan untuk membuat suatu penilaian (Sumardyono & Wiworo, 2011). Biasanya ketika pengajar ingin melakukan penilaian terhadap peserta tes mengenai suatu materi tertentu, maka pengajar tersebut memiliki beberapa soal yang sesuai dengan

kompetensi yang akan dicapai peserta tes. Pengajar tersebut dikatakan telah membuat sebuah instrumen tes, namun hal ini tentu saja mengandung banyak kelemahan. Paling tidak ada dua kelemahan mendasar, diantaranya adalah perangkat tes yang dibuat setiap kali akan melakukan penilaian tidak teruji secara statistik karena tidak melalui uji coba validitas dan reliabilitasnya, termasuk pengujian daya beda dan efektivitas pengecoh (distractor) pada tipe soal pilihan ganda.

Dengan adanya bank soal selain mempermudah dalam penyusunan instrumen tes, juga menjamin kualitas instrumen yang akan dipakai. Menurut Ward (2004),”an item bank is a collection of test items that may

be easily accesssed for use in preparing examinations”. Dalam Bahasa

Indonesia yang berarti bank soal adalah koleksi butir soal yang mudah dipergunakan untuk menyiapkan sebuah penilaian. Dengan memahami latar belakang keberadaan bank soal dan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bank soal merupakan sekumpulan butir soal yang telah teruji baik secara teoritis maupun empiris dan memuat informasi penting sehingga dapat dengan mudah dipergunakan dalam penyusunan instrumen penilaian (Sumardyono & Wiworo, 2011).

Bank soal juga memiliki pengertian sebagai suatu kumpulan besar butir-butir tes yang mengukur suatu bidang instruksi (pengajaran) tertentu (Kartowagiran, dikutip dalam Sandman, 2004). Setiap butir dalam bank tersebut biasanya diklasifikasikan menurut materi yang tercakup oleh butir atau tujuan khusus pengajaran yang diujinya. Menurut Wright dan Bell dalam Puspendik (2009), tujuan pengembangan bank soal adalah untuk

menilai kualitas soal itu sendiri yang dapat ditentukan dari butir-butir soal yang ada didalamnya apakah sudah memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang akan digunakan dalam perakitan sebuah alat tes. Karenanya, butir-butir tersebut sering kali diujicobakan sebelum diterima ke dalam bank soal. Dalam hal ini, karakteristik statistik dari butir tersebut juga dimasukkan ke dalam bank soal.

2.4.2 Bank Soal Digital

Bank soal dengan sistem digital memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan bank soal sistem manual, terutama terkait pengelolaan, kemudahan akses, dan pembaharuan bank soal. Dengan memakai istilah bank soal secara digital, Sumardyono & Wiworo (2011) mengemukakan bahwa terdapat tiga cara pengembangan bank soal secara digital:

1. Menggunakan program aplikasi umum (office application). 2. Menggunakan program aplikasi bank soal siap pakai.

3. Menggunakan program aplikasi yang dibuat sendiri atau kebutuhan pengembangan bank soal.

2.4.3 Karakteristik Bank Soal

Berdasarkan definisi bank soal diatas, maka ada beberapa karakteristik bank soal yang perlu dipahami, diantaranya (Sumardyono & Wiworo, 2011):

1. Setiap butir soal pada bank soal merupakan butir soal yang terkalibrasi (teruji).

Soal-soal disebut layak (suitable) baik dalam hal validitas (validity), keterukuran (measurable) maupun aspek ekonomisnya (efisien).

2. Setiap butir soal dilengkapi dengan informasi berguna.

Setiap butir soal pada bank soal disertai spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan bank soal. Beberapa informasi yang menyusun spesifikasi butir soal antara lain materi pembelajaran (subject matter), tujuan instruksional (standar kompetensi dan kompetensi dasar), tingkat kelas, tingkat kesulitan soal, jenis atau tipe soal (misalnya pilihan ganda, jawaban singkat, uraian, dan lain-lain), statistik butir soal (indeks validitas, indeks daya beda, indeks tingkat kesukaran, dan lain-lain), nama penyusun soal, nama pe-review, dan masih banyak lagi (Sumardyono & Wiworo, 2011).

3. Basis data (soal-soal) pada sebuah bank soal dibangun secara terstruktur.

Bank soal bukanlah kumpulan soal semata namun merupakan suatu organisasi butir-butir soal. Semua butir soal pada bank soal disusun secara sistematis (Sumardyono & Wiworo, 2011).

2.4.4 Prinsip Dasar Pengembangan Bank Soal

Dalam pengembangan sebuah bank soal, terdapat beberapa tahap pengembangan sebuah bank soal, yaitu (Sumardyono & Wiworo, 2011):

1. Perencanaan

Pada tahap pertama, perlu ditetapkan apa yang menjadi tujuan pengembangan bank soal dan ruang lingkup materi soal. Setelah menetapkan tujuan dan ruang lingkup, maka hal lain yang perlu ditetapkan adalah karakteristik soal yang diinginkan, bagaimana mendapatkan soal-soal tersebut, bagaimana mengelolanya dan sistem basis data (database) apa yang akan digunakan (Sumardyono & Wiworo, 2011).

2. Pengembangan Sistem

Sistem yang dimaksud dalam pengembangan bank soal ini adalah bagaimana seluruh komponen yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan dirangkaikan menjadi satu kesatuan yang saling terkait. Untuk membangun sistem terutama sistem basis data (database) ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah (Sumardyono & Wiworo, 2011):

a) Apakah bank soal dibuat secara manual atau secara digital? Jika secara manual, maka dibutuhkan kertas untuk mendata soal dan karakteristiknya serta tempat penyimpanan. Jika dibuat secara digital maka perlu ditetapkan aplikasi program khusus untuk bank soal.

b) Apakah yang menjadi spesifikasi bank soal tersebut? (Squires, 2003). Bank soal dibagi ke dalam grup-grup soal, tiap grup ditentukan oleh topik dan tingkat kesukaran.

c) Apa syarat yang diperlukan untuk memasukkan soal ke dalam bank soal dan apa syarat bagi yang ingin memanfaatkan bank soal tersebut?

d) Apakah sistem bank soal tersebut dapat memberikan informasi mengenai instrumen penilaian yang disusun dari bank soal tersebut, terutama tingkat validitasnya? Jika dikehendaki demikian, maka pemilihan bank soal secara digital harus dipertimbangkan untuk memudahkan dalam mengetahui tingkat validitas instrumen tes yang disusun bank soal.

e) Kualifikasi dan kompetensi apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan bank soal? Apakah diperlukan orang dengan kemampuan program komputer atau orang dengan kemampuan sistem informatika atau kemampuan evaluasi kependidikan? 3. Pengumpulan Butir Soal

Komponen terpenting dari sebuah bank soal adalah butir soal. Baik buruknya sebuah soal tergantung pada baik buruknya soal-soal yang terdapat bank soal tersebut. Dalam pengumpulan butir-butir soal hendaknya benar-benar memperhatikan kualitas butir soal.

4. Pengarsipan Soal

Tahap pengarsipan merupakan aktifitas administratif. Namun demikian, tingkat kesulitan dan kecepatan dalam pengarsipan soal tergantung pada database yang telah direncanakan.

2.4.5 Prosedur Pengembangan Bank Soal

Bahan uji yang akan disimpan di dalam bank soal harus diproses melalui prosedur pengembangan bank soal. Prosedur pengembangan bank soal yang digunakan di dalam pengembangan bank soal adalah (Direktorat Pembinaan SMA,2010) :

2.4.5.1 Penyusunan Kisi-Kisi

Penyusunan kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betul-betul representatif dan relevan dengan materi pelajaran yang sudah diberikan guru kepada peserta didik (Arifin, 2011). Untuk melihat apakah materi penilaian relevan dengan materi pelajaran, maka diperlukan penyusunan kisi-kisi (lay-out atau blue-print atau table of specification). Kisi-kisi adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item untuk berbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu (Arifin, 2011).

Fungsi kisi-kisi adalah sebagai pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi perangkat tes. Kisi-kisi soal yang baik harus memenuhi persyaratan tertentu, antara lain (Arifin, 2011): (1) representatif, yaitu harus benar-benar mewakili isi kurikulum sebagai sampel perilaku yang akan dinilai, (2) komponen-komponennya harus terperinci, jelas, dan mudah dipahami, (3) soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang ditetapkan. Format kisi-kisi tidak ada yang baku, karena itu banyak model format yang dikembangkan para pakar evaluasi.

2.4.5.2 Penulisan Soal atau Tes

Penulisan butir–butir soal merupakan langkah penting dalam upaya pengembangan alat ukur kemampuan atau tes yang baik. Penulisan soal adalah penjabaran indikator jenis dan tingkat perilaku yang hendak di ukur menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan perinciannya dalam kisi-kisi (Kartowagiran, 2011). Butir soal merupakan jabaran atau dapat juga wujud dari indikator. Dengan demikian setiap pertanyaan atau butir soal perlu dibuat sedemikian rupa sehingga jelas yang ditanyakan dan jelas pula jawaban yang diminta.

2.4.5.3 Revisi atau Validasi Butir

Tahapan revisi soal disebut juga telaah soal atau analisis kualitatif soal, yakni mengkaji secara teoritik soal tes yang telah tersusun (Kartowagiran, 2011). Penelaahan ini dilakukan dari tiga segi, yaitu (Suryabrata, 1997) :

a) Dari segi teknis, khususnya prinsip-prinsip pengukuran, termasuk mengenai formatnya;

b) Dari segi isi mata pengetahuan, khususnya mengenai layak-tidaknya isi dan ketepatan kunci jawaban; dan

c) Dari segi editorial, khususnya mengenai keseluruhan format dan keajegan editorial dari soal yang satu ke soal yang lain.

2.4.5.4 Uji Coba Soal atau Tes

Setelah sejumlah besar butir soal ditulis dan dikaji dalam penelaahan soal, maka langkah selanjutnya dalam pengembangan tes adalah pengumpulan data empiris melalui uji coba sebagai dasar untuk

memperbaiki soal-soal dan memilih soal-soal terbaik untuk disusun menjadi tes dalam bentuk akhirnya, sesuai dengan tujuan pengembangan tes (bank soal). Secara garis besar, tujuan uji coba itu dapat dinyatakan sebagai berikut (Suryabrata, 1997):

1) Untuk mengidentifikasi soal-soal yang lemah atau cacat, misalnya soal yang kabur atau tak tentu arahnya, jawaban pengecoh yang tidak berfungsi.

2) Untuk mengidentifikasi taraf kesukaran soal, sehingga seleksi soal dapat dilakukan sesuai dengan tujuan tes bentuk akhir.

3) Untuk mengidentifikasi daya pembeda soal.

4) Untuk menentukan berapa banyaknya soal untuk masing-masing bagian tes dan untuk keseluruhan tes bentuk akhir.

5) Untuk menentukan alokasi waktu yang paling layak.

6) Untuk menentukan kelemahan-kelemahan dalam petunjuk bagi pengambil tes, kelemahan dalam format dan sejenisnya.

7) Untuk menentukan saling hubungan antar soal guna menghindarkan tumpang tindih atau bias yang terlalu banyak dalam pemilihan soal dan dalam pengelompokkan soal ke dalam subtes atau bagian tes.

Berkaitan dengan jumlah atau ukuran peserta uji coba dari suatu populasi yang akan digunakan, para ahli mengemukakan bermacam-macam cara, antara lain dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin untuk menentukan berapa minimal sampel yang dibutuhkan jika ukuran populasi diketahui. Berikut ini merupakan rumus Slovin (Sugiyono, 2006):

Dimana:

n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi

e = Taraf kesalahan (error) sebesar 0.10 (10%) 2.4.5.5 Analisis Butir Soal

Untuk mengetahui kualitas butir soal, maka hasil uji coba harus dianalisis secara empirik (Kartowagiran, 2011).

2.4.5.6 Menyeleksi Butir Soal untuk Bank Soal Terkalibrasi

Agar skor tes yang diperoleh tepat dan dapat dipercaya maka soal tes harus valid. Butir-butir soal dirakit menjadi alat ukur yang terpadu (Kartowagiran, 2011). Dalam pemilihan soal ini, menurut model klasik diperhitungkan dua parameter, yaitu taraf kesukaran dan indeks diskriminasi (Suryabrata, 1997).

2.4.6 Kegunaan, Manfaat, serta Kelemahan Bank Soal 2.4.6.1 Kegunaan Bank Soal

Kegunaan utama bank soal adalah untuk mempermudah dalam penyusunan sebuah instrumen penilaian yang berkualitas. Secara lebih khusus, beberapa kegunaan bank soal yang layak dijadikan pertimbangan untuk membangun sebuah bank soal adalah (Sumardyono & Wiworo, 2011):

a. Memungkinkan penyusunan sebuah instrumen tes secara cepat dan mudah.

b. Memungkinkan penyusunan sebuah instrumen tes yang berkualitas karena berasal dari butir-butir soal yang terkalibrasi.

c. Memungkinkan tersedianya soal dengan beberapa tingkat kesukaaran. 2.4.6.2 Manfaat Bank Soal

Bank soal menawarkan cara yang cukup nyaman dalam menyimpan dan menyediakan soal untuk berbagai keperluan. Proses ini dapat mengurangi tenaga dan waktu yang dibutuhkan dibandingkan dengan tanpa bank soal. Bank soal yang diuji dengan baik juga dapat memberikan sebuah sistem dalam menyimpan informasi penting dari soal-soal. Ketika menggunakan bank soal yang dibangun dengan baik, soal yang memenuhi kriteria tertentu dapat dengan mudah diambil dan tes baru dengan karakteristik yang diinginkan dapat dengan mudah dibangun. Manfaat bank soal antara lain (Kartowagiran, dikutip dalam Sandman, 2004):

a. Bank soal adalah sumber siap sedia untuk butir-butir ujian. Ini akan menghemat waktu dalam persiapan ujian.

b. Jika butir-butir dalam bank soal telah dicek kualitasnya, seperti yang biasanya dilakukan, tes-tes yang berisi butir-butir ini akan berkualitas tinggi juga.

c. Jika suatu bank soal teruji (calibrated) yang digunakan, tes-tes yang berbeda dapat dibuat untuk menyamai karakteristik kemampuan dari kelompok yang berbeda. Karena tingkat kesulitan butir dan

kemampuan peserta ada pada skala yang sama, skor-skor yang dihasilkan dari tes-tes yang berbeda tersebut akan dapat setara.

d. Jika bank soal mempunyai sejumlah besar butir, kekhawatiran mengenai keamanan dalam memproduksi dan menggunakan tes akan berkurang. Para peserta ujian tidak akan mengingat butir-butir dalam jumlah yang sangat besar.

2.4.6.3 Kelemahan Bank Soal

Kelemahan bank soal diantaranya, yakni membutuhkan waktu, tenaga, dan mungkin juga biaya yang tidak sedikit untuk mengembangkan maupun mengelola sebuah bank soal (Sumardyono & Wiworo, 2011).

2.5 Analisis Kualitas Tes

Analisis kualitas tes merupakan suatu tahap yang ditempuh untuk mengetahui derajat kualitas suatu tes, baik secara kesuluruhan maupun butir soal yang menjadi bagian dari tes tersebut (Arifin, 2011). Untuk mengetahui apakah suatu tes yang digunakan termasuk baik atau kurang baik, maka diperlukan analisis kualitas tes. Analisis kualitas tes berkaitan dengan pertanyaan apakah tes sebagai suatu alat ukur benar -benar mengukur apa yang harus diukur ?. Pertanyaan tersebut menunjuk pada hal pokok, yaitu validitas.

2.5.1 Validasi Butir Soal atau Validitas Item

Data evaluasi yang baik sesuai dengan kenyataan disebut data valid (Arikunto, 2012). Alat pengumpul data dapat dikatakan valid atau sahih apabila alat ukur tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur atau

diinginkan. Jika data yang dihasilkan dari sebuah instrumen valid, maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut valid, karena dapat memberikan gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan

Dalam dokumen NOVITA AJENG PRIMANTARI (Halaman 38-200)

Dokumen terkait