• Tidak ada hasil yang ditemukan

yang diperlukan bagi perbaikan kinerja di masa yang akan datang.

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. PERENCANAAN KINERJA

Perencanaan kinerja merupakan proses perencanaan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu satu sampai dengan lima tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul.

1. RENCANA AKSI KEGIATAN (RAK)

Berdasarkan rencana aksi kegiatan yang telah disusun BBTKLPP Banjarbaru tahun 2020-2024, pelaksanaan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan berbasis laboratorium didistribusikan melalui pokok-pokok sebagai berikut :

a. Peningkatan Surveilans Epidemiologi

b. Peningkatan kemampuan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan c. Peningkatan dan Pengembangan Teknologi Laboratorium

d. Peningkatan kemampuan Rancang Bangun dan Teknologi Tepat Guna e. Dukungan administrasi dan manajemen

Tugas pokok kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mengidentifikasi faktor risiko, analisis situasi dan kecenderungan untuk memperkuat pemantauan wilayah setempat, kewaspadaan dini dan upaya pencegahan maupun pengendalian penyakit, bencana serta pencemaran lingkungan yang berdampak kepada kesehatan masyarakat.

Agar penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi sebagaimana diuraikan di atas dapat memberikan hasil yang efektif dan efisien disusun indikator kinerja yang mencerminkan keluaran (output).

BBTKLPP Banjarbaru memiliki wilayah layanan empat provinsi yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara meliputi 42 kabupaten/kota dengan berbagai variasi, dan dinamika kependudukan, epidemiologi, kondisi lingkungan serta geografi. Secara bertahap BBTKLPP Banjarbaru telah melakukan berbagai upaya agar pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dapat terlaksana secara optimal.

Adapun rencana aksi kegiatan BBTKLPP Banjarbaru tahun 2020-2024 dapat dilihat pada tabel berikut :

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Tabel 2.1. Rencana Aksi Kegiatan BBTKLPP Banjarbaru 2020-2024

No Indikator Target

2020 2021 2022 2023 2024 1 Jumlah surveilans faktor risiko dan

penyakit berbasis laboratorium yang dilaksanakan

28 38 45 54 59

2 Persentase rekomendasi hasil surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dimanfaatkan

25% 30% 35% 40% 45%

3 Persentase Respon Sinyal KLB/Bencana kurang dari 24 jam

90% 93% 95% 97% 100%

4 Jumlah Teknologi Tepat Guna yang dihasilkan

1 2 3 4 5

5 Nilai kinerja anggaran 80 83 85 87 90

6 Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran

80 83 85 87 90

7 Kinerja implementasi satker WBK 70 73 75 77 80

8 Persentase peningkatan kapasitas ASN sebanyak 20 JPL

45 50 55 60 65

2. RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2021

Rencana Kinerja Tahunan merupakan proses penetapan target tahunan indikator kinerja sasaran berdasarkan target yang telah ditetapkan dalam rencana aksi kegiatan. Rencana Kinerja Tahunan BBTKLPP Banjarbaru tahun 2021, adalah sebagai berikut:

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Tabel 2.2. Rencana Kinerja Tahunan BBTKLPP Banjarbaru Tahun 2021

No Indikator Target

1. Jumlah surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium

yang dilaksanakan 22

2. Persentase rekomendasi surveilans faktor risiko dan penyakit

berbasis laboratorium yang dimanfaatkan 50 %

3. Persentase Respon Sinyal KLB/Bencana kurang dari 24 jam 95 % 4. Jumlah Teknologi Tepat Guna yang dihasilkan 1

5. Nilai kinerja anggaran 83

6. Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran 80

7. Kinerja implementasi satker WBK 75

8. Persentase Peningkatan kapasitas ASN sebanyak 20 JPL 70 %

B. PERJANJIAN KINERJA

Penetapan kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang mempresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya. Penetapan kinerja ini merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada akhir tahun 2021. Penyusunan Penetapan Kinerja ini didasarkan pada Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Sasaran-sasaran yang akan dicapai BBTKLPP Banjarbaru tahun 2021 dinyatakan dalam Perjanjian Kinerja 2021.

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Tabel 2.3. Perjanjian Kinerja BBTKLPP Banjarbaru Tahun 2021 (Awal)

No Indikator Target Anggaran (Rp)

1. Jumlah surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis

laboratorium yang dilaksanakan 22 3.834.201.000

2. Persentase rekomendasi surveilans faktor risiko dan

penyakit berbasis laboratorium yang dimanfaatkan 50 % - 3. Persentase Respon Sinyal KLB/Bencana kurang

dari 24 jam 95 % 226.907.000

4. Jumlah Teknologi Tepat Guna yang dihasilkan 1 21.582.000

5. Nilai kinerja anggaran 83 3.281.165.000

6. Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran 93 9.479.263.000

7. Kinerja implementasi satker WBK 72 106.355.000

8. Persentase Peningkatan kapasitas ASN sebanyak

20 JPL 80 % 194.380.000

Total Anggaran Awal 17.143.853.000

Tabel 2.4. Perjanjian Kinerja BBTKLPP Banjarbaru Tahun 2021 (Revisi)

No Indikator Target Anggaran (Rp)

1. Jumlah surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis

laboratorium yang dilaksanakan 22 12.499.377.000

2. Persentase rekomendasi surveilans faktor risiko dan

penyakit berbasis laboratorium yang dimanfaatkan 50 % - 3. Persentase Respon Sinyal KLB/Bencana kurang

dari 24 jam 95 % 196.013.000

4. Jumlah Teknologi Tepat Guna yang dihasilkan 1 21.582.000

5. Nilai kinerja anggaran 83 3.253.184.000

6. Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran 80 9.460.008.000

7. Kinerja implementasi satker WBK 75 102.955.000

8. Persentase Peningkatan kapasitas ASN sebanyak

20 JPL 70 % 145.834.000

Total Anggaran setelah Revisi 25.678.953.000

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

Akuntabilitas Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan perencanaan strategis suatu organisasi.

Pengukuran kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi dan misi organisasi. Pengukuran kinerja merupakan suatu metode untuk menilai kemajuan yang telah dicapai dibandingkan dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

Pengukuran kinerja tidak dimaksudkan sebagai mekanisme untuk memberikan reward/punishment, melainkan sebagai alat komunikasi dan alat manajemen untuk memperbaiki kinerja organisasi.

Tahun 2021 merupakan tahun kedua pelaksanaan dari Rencana Aksi Kegiatan BBTKLPP Banjarbaru tahun 2020 – 2024. Pengukuran kinerja diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi atau capaian kinerja yang berhasil dilakukan oleh BBTKLPP Banjarbaru dalam kurun waktu Januari – Desember 2021. Pengukuran tingkat capaian kinerja BBTKLPP Banjarbaru tahun 2021 dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dengan realisasinya, sehingga terlihat apakah sasaran yang telah ditetapkan tercapai atau tidak.

Secara umum, semua target kinerja berhasil dicapai, bahkan beberapa melebihi target dalam tahun 2021 ini.

Manfaat pengukuran kinerja antara lain untuk memberikan gambaran kepada pihak-pihak internal dan eksternal tentang pelaksanaan program dan kegiatan dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam RAK dan Penetapan Kinerja.

Rincian tingkat capaian kinerja masing‐masing indikator kinerja tersebut diuraikan dalam tabel berikut ini.

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Tabel 3.1.

Rincian Tingkat Capaian Kinerja Masing-Masing Indikator Tahun 2021

Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Meningkatnya risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang

dilaksanakan

laporan 22 56 254,55

Persentase rekomendasi surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis

laboratorium yang dimanfaatkan

persen 50 53,45 106,90

Persentase Respon Sinyal KLB/Bencana kurang dari 24 jam kapasitas ASN sebanyak 20 JPL

persen 70 73,23 104,61

Dilihat dari capaian masing-masing indikator, BBTKLPP Banjarbaru dapat melaksanakan tugas utama yang menjadi tanggung jawab unit organisasi. Uraian capaian kinerja dari masing-masing indikator adalah sebagai berikut :

1. JUMLAH SURVEILANS FAKTOR RISIKO DAN PENYAKIT BERBASIS LABORATORIUM YANG DILAKSANAKAN

a. Pengertian

Menurut WHO (2004), surveilans merupakan proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kajian artinya penyelidikan/penelaahan tentang sesuatu yang diharapkan dapat menciptakan suatu kesimpulan yang selanjutnya mengarah untuk melakukan suatu perbuatan.

Surveilans surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium merupakan proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data berbasis laboratorium yang selanjutnya ditelaah agar dapat menciptakan suatu kesimpulan.

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 b. Definisi Operasional

Jumlah surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dilaksanakan adalah jumlah laporan hasil kegiatan surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium baik analisis dampak kesehatan lingkungan, surveilans epidemiologi, kajian pengembangan pengujian dan kendali mutu laboratorium dalam 1 tahun.

c. Rumus/Cara Perhitungan Cara perhitungan :

d. Capaian Indikator

Capaian indikator ini sebesar 254,55 %. Capaian ini diperoleh dari target sebanyak 22 laporan dan realisasi sebanyak 56 laporan. Indikator ini dicapai melalui sub komponen :

 Surveilans Dinamika Penularan Malaria di lintas batas;

 Surveilans Prevalensi Mikrofilaria Pasca POPM Filariasis (Pre Tas);

 Survei Penyakit Zoonosis;

 Survei Penyakit Arbovirosis;

 Kajian penemuan kasus baru dan pemantauan pengobatan TB Paru di tempat khusus;

 Pengambilan dan pemeriksaan specimen surveilans lingkungan (ERAPO);

 Akreditasi laboratorium;

 Monitoring dan evaluasi penanganan limbah pada rumah sakit rujukan Covid-19;

 Pengelolaan limbah Covid-19;

 Kajian pemantauan bencana kabut asap di wilayah layanan;

 Surveilans Kualitas DAMIU di wilayah layanan;

 Pemantauan faktor risiko kesehatan lingkungan di kegiatan embarkasi haji;

 Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan;

 Analisis data laboratorium;

 Pengelolaan Limbah dan IPAL;

Untuk lebih jelasnya capaian dan lokasi kegiatan surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium kami uraikan sebagai berikut:

X= jumlah laporan hasil kegiatan surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium baik analisis dampak kesehatan lingkungan, surveilans epidemiologi, kajian pengembangan pengujian dan kendali mutu laboratorium pada tahun 2021

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Kegiatan Surveilans dinamika penularan malaria di lintas batas merupakan kegiatan yang bertujuan mengetahui proses terjadinya penularan malaria dan faktor-faktor risiko kejadian malaria di wilayah perbatasan. Pada tahun 2021, kegiatan ini dilaksanakan di 2 lokasi yaitu Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan, dimana kedua wilayah kabupaten ini saling berbatasan.

Kegiatan surveilans prevalensi mikrofilaria pasca POPM (Pemberian Obat Pencegahan Massal) Filariasis bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan POPM yang telah dilaksanakan. Pada tahun 2021, kegiatan ini dilaksanakan di 6 lokasi. Selengkapnya pada tabel berikut:

Tabel 3.2.

Survei Evaluasi Prevalensi Mikrofilaria Pasca POPM Tahun 2021

No Kegiatan Lokasi

1. Survei prevalensi mikrofilaria pasca POPM Filariasis

Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan 2. Survei prevalensi mikrofilaria pasca POPM

Filariasis

Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan 3. Survei prevalensi mikrofilaria pasca POPM

Filariasis

Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah 4. Survei prevalensi mikrofilaria pasca POPM

Filariasis

Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan 5. Survei prevalensi mikrofilaria pasca POPM

Filariasis

Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara

6. Survei prevalensi mikrofilaria pasca POPM Filariasis

Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara

Jumlah 6

Kegiatan kajian faktor risiko zoonosa tahun 2021 dilaksanakan di 2 lokasi.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang faktor risiko penyakit Leptospirosis terutama pada pasca bencana banjir. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.3.

Kajian Faktor Risiko Zoonosa Tahun 2021

No Kegiatan Lokasi

1. Surveilans Sentinel Tikus dan Deteksi Leptospirosis

Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan

2. Surveilans Faktor Risiko Zoonosis (Leptospirosis) Pasca Banjir

Desa Sungai Rangas Tengah Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan

Jumlah 2

Kegiatan survei penyakit arbovirosis dilaksanakan berupa monitoring dan evaluasi sentinel arbovirosis pada fasyankes di wilayah layanan. Kegiatan ini

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 bertujuan untuk mendapatkan informasi epidemiologi dan virologi penyakit arbovirosis sebagai dasar penentuan kebijakan dalam pengendalian penyakit tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan di 2 lokasi yaitu RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, Kalimantan Timur dan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Kegiatan kajian penemuan kasus baru TB Paru di tempat khusus tahun 2021 dilaksanakan di 1 lokasi yaitu di Lapas Kelas II B Pelaihari Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan kasus baru TB Paru dengan cara skrining dan wawancara terhadap penghuni Lapas tersebut.

Pengambilan dan pemeriksaan specimen surveilans lingkungan ERAPO berupa kegiatan surveilans dan monitoring polio lingkungan dengan melakukan pengambilan dan pengiriman sampel polio lingkungan. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak tahun 2018 sampai dengan tahun 2021 ini dan pengambilan sampel dilakukan di Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah Banjarmasin yang merupakan pengelola limbah komunal di Banjarmasin. Pengambilan dilakukan sebulan sekali selama 1 tahun. Kemudian sampel dikirim ke Laboratorium Polio Puslitbang Biomedis Teknologi Dasar Kesehatan Jakarta.

Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi BBTKLPP, salah satunya adalah laboratorium rujukan, akreditasi laboratorium merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dan sebagai jaminan mutu hasil pemeriksaan sampel. ISO 17025:2017 yang telah didapatkan oleh BBTKLPP Banjarbaru harus selalu dipelihara dan disurvei oleh Komite Akreditasi Nasional setiap tahunnya. Di tahun 2021 ini seharusnya merupakan surveilans akreditasi yang kedua setelah re akreditasi di tahun 2019, namun ditiadakan dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 yang cukup mengkhawatirkan. Selain itu Audit Internal juga dilakukan setiap tahunnya sebagai kegaitan evaluasi terhadap pengujian maupun pelayanan laboraotrium.

Pemeliharaan dan kalibrasi peralatan merupakan hal yang mutlak harus dilakukan oleh laboratorium guna menjamin validitas data yang dihasilkan. Selain itu pengolahan limbah juga menjadi hal yang penting agar tidak mencemari lingkungan. Uji banding dan uji profisiensi juga diperlukan untuk menjamin hasil pemeriksaan laboratorium telah sesuai standar. Kegiatan-kegiatan tersebut terangkum dalam satu laporan akreditasi laboratorium.

Pada tahun 2021 ini, dimana masih dalam masa pandemi Covid-19 ini, laboratorium BBTKLPP Banjarbaru ditunjuk sebagai salah satu laboratorium pemeriksa Covid-19 berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: HK.01.07/MENKES/214/2020. Selain itu berdasarkan Surat Edaran Menteri Keehatan Nomor: HK.02.01/MENKES/234/2020, BBTKLPP Banjarbaru ditunjuk sebagai laboratorium pembina bagi laboratorium pemeriksa

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Covid-19 di wilayah layanannya. Beberapa fasyankes yang mengajukan diri untuk dapat memeriksa Covid-19 meminta kepada BBTKLPP Banjarbaru untuk dikunjungi dan dilakukan penilaian terhadap kesiapan menjadi laboratorium pemeriksa Covid-19. Berikut adalah laboratorium yang telah dikunjungi oleh BBTKLPP Banjarbaru dalam rangka hal tersebut selama Tahun 2021:

Tabel 3.4.

Kunjungan Fasyankes dalam Persiapan Menjadi Laboratorium Rujukan Covid-19 Tahun 2021

No. Fasyankes Lokasi

1. Klinik Asy Syafii Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan

2. KTMC Puskesmas Sebamban 2 Angsana

Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

3. RS Nirwana Banjarbaru, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan

4. RS Siloam Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan

5. RS Syifa Medika Banjarbaru, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan

6. RSUD H. Damanhuri Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

Jumlah 6

Kegiatan pengelolaan limbah Covid-19 di BBTKLPP Banjarbaru bertujuan untuk melakukan identifikasi sumber, karakteristik limbah cair maupun padat medis yang dihasilkan pada kegiatan pemeriksaan specimen Covid-19, serta melakukan evaluasi pengelolaan limbah medis sesuai dengan peraturan MenLHK No.56 Tahun 2019 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penglolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Pengelolaan limbah medis maupun non medis hasil pemeriksaan laboratorium penting untuk memutuskan penyebaran penyakit menular. Evaluasi terhadap pengelolaan limbah ini dilaksanakan secara berkala yaitu per Triwulan sehingga di tahun 2021 ini dilaksanakan 4 kali.

Selain itu, kegiatan monitoring dan evaluasi penanganan limbah pada rumah sakit/laboratorium rujukan Covid-19 juga perlu dilaksanakan. Pada tahun 2021 dilaksanakan di 15 rumah sakit/laboratorium. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengelolaan limbah B3 khususnya limbah infeksius covid-19 (padat dan cair) di laboratorium pemeriksa Covid-covid-19. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Tabel 3.5.

Monitoring dan Evaluasi Penanganan Limbah pada Rumah Sakit/Laboratorium Rujukan Covid-19 Tahun 2021

No. Fasyankes Lokasi

1. Balai Litbangkes Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

2. RSUD dr. H. Mochammad Anshari Saleh

Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan

3. RSUD Ulin Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan

4. Klinik Tirta Medical Center Angsana

Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

5. RSUD Hadji Boejasin Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan

6. Borneo Citra Medika Pelaihari, Kab Tanah Laut, Kalimantan Selatan 7. RS Bhayangkara Tk III Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan

Selatan

8. RSU Pertamina Tanjung Tanjung, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan 9. Klinik Tirta Medical Center Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan

Selatan

10. RSUD Pambalah Batung Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan

11. RSUD Sultan Sariansyah Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan

12. RSU Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin

Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan

13. RS Tk. II DR. R. Soeharsono Banjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan

14. RSUD Datu Sanggul Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan 15. RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya, Kalimantan Tengah

Jumlah 15

Pelaksanaan kegiatan kajian pemantauan bencana kabut asap bertujuan sebagai sistem kewaspadaan dini untuk memperoleh data kuantitatif kualitas udara (PM10, gas NO2, SO2, CO, Ozon) termasuk juga pengukuran parameter fisik seperti kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin dan arah angin. Pada tahun 2021, kegiatan ini dilaksanakan di 1 lokasi yaitu di Wilayah Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Kegiatan surveilans kualitas Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) bertujuan untuk memperoleh data kualitas air minum DAMIU di wilayah layanan. Pada tahun 2021, kegiatan ini dilaksanakan di 3 lokasi. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Tabel 3.6.

Kajian Surveilans Kualitas Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) Tahun 2021

No Kegiatan Lokasi

1. Kegiatan Surveilans Kualitas Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU)

Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan

2. Kegiatan Surveilans Kualitas Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU)

Kabupaten Paser, Kalimantan Timur

3. Kegiatan Surveilans Kualitas Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU)

Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah

Jumlah 3

Pemantauan faktor risiko kesehatan lingkungan di kegiatan Pra-embarkasi haji dilaksanakan sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap KLB pada saat aktivitas matra. Pada tahun 2021 direncanakan ibadah haji akan dilaksanakan sehingga perlu dilakukan kegiatan Pra-embarkasi haji, meskipun pada kenyataannya dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 maka haji ditiadakan. Kegiatan Pra-embarkasi haji dilaksanakan di 2 lokasi yaitu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan Balikapapan, Kalimantan Timur.

Kegiatan analisis risiko kesehatan lingkungan dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang kualitas udara serta potensi risiko terhadap kesehatan masyarakat di dekat pertambangan. Kegiatan ini dilaksanakan di 1 lokasi yaitu di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan analisis data laboratorium berupa pengelolaan data-data yang ada di BBTKLPP Banjarbaru agar dijadikan informasi yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak terkait. Kegiatan ini dilaksanakan secara terus-menerus sepanjang tahun dan hasilnya dituangkan dalam laporan. Pada tahun 2021 ini didapatkan 4 laporan Analisis Data Laboratorium yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.7.

Analisis Data Laboratorium Tahun 2021

No Kegiatan Jumlah

1. Pengolahan Data Kualitas Air Minum di Provinsi Kalimantan

Selatan Semester I Tahun 2021 1

2. Pengolahan Data Kualitas Air Minum di Wilayah Layanan

BBTKLPP Banjarbaru Semester II Tahun 2021 1

3. Pengolahan Data Kualitas Air Bersih di Provinsi Kalimantan

Selatan Semester I Tahun 2021 1

4. Pengolahan Data Kualitas Air Bersih di Wilayah Layanan

BBTKLPP Banjarbaru Semester II Tahun 2021 1

Total 4

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Sebagai salah satu institusi yang menyediakan jasa pemeriksaan laboratorium, sangat dimungkinkan kegiatannya memberikan dampak pada lingkungannya sehingga pengelolaan IPAL mutlak harus dilakukan. Untuk itu perlu ada upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL) untuk mengidentifikasi dan menguraikan pokok-pokok kegiatan terutama yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup dan PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan serta dokumen UKL-UPL Usaha/Kegiatan. Kegiatan UKL-UPL ini dilaksanakan secara berkala yaitu per semester. Selain itu perlu juga dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan limbah dan IPAL. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.8.

Pengelolaan Limbah pada BBTKLPP Banjarbaru Tahun 2021

No Kegiatan Jumlah

1. Pengelolaan Limbah pada BBTKLPP Banjarbaru Tahun 2021 1 2. Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Tahun 2021 (per

Semester) 2

3. Pelaporan UKL-UPL BBTKLPP BanjarbaruTahun 2021 (per

Semester) 2

Total 5

1) Perbandingan Target dan Realisasi Tahun 2021

Target kinerja untuk indikator Jumlah surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dilaksanakan sebanyak 22 laporan. Realisasi untuk indikator ini sebanyak 56 laporan. Capaian untuk indikator ini sebesar 254,55 %.

Perbandingan antara target dan realisasi indikator ini dapat dilihat pada grafik berikut ini :

22

56

0 10 20 30 40 50 60

Target Realisasi

Grafik 3.1.

Target dan Realisasi Jumlah Surveilans Faktor Risiko dan Penyakit Berbasis Laboratorium yang Dilaksanakan Tahun 2021

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 2) Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2017 s/d 2020

Untuk target indikator jumlah surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dilaksanakan pada tahun 2017 sebanyak 31 laporan, tahun 2018 sebanyak 32 laporan, tahun 2019 sebanyak 34 laporan, tahun 2020 sebanyak 28 laporan dan tahun 2021 sebanyak 22 laporan. Secara target dari tahun 2017 – 2019 mengalami peningkatan sedangkan di tahun 2020 mengalami penurunan dan di tahun 2021 mengalami penurunan lagi. Hal ini dikarenakan kondisi pandemic Covid-19 sehingga beberapa kegiatan berkaitan dengan masyarakat secara langsung ditiadakan. Untuk lebih jelasnya perbandingan capaian tersebut dapat dilihat pada grafik berikut :

3) Perbandingan Capaian Kinerja dengan Target Kinerja dalam RAK BBTKLPP Banjarbaru 2020 – 2024

Target kinerja untuk indikator jumlah surveilans faktor risiko dan penyakit berbasis laboratorium yang dilaksanakan dalam RAK BBTKLPP Banjarbaru 2020 – 2024 untuk tahun 2021 sebanyak 38 laporan, realisasinya 56 laporan.

Berikut perbandingan target dan realisasi untuk indikator ini :

31 32 34 28 22

Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 Grafik 3.2.

Capaian Indikator Jumlah Surveilans Faktor Risiko dan Penyakit Berbasis Laboratorium yang Dilaksanakan Tahun 2017 – 2021

TARGET REALISASI CAPAIAN

Tahun 2020 Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023 Tahun 2024 Grafik 3.3.

Capaian Indikator Jumlah Surveilans Faktor Risiko dan Penyakit Berbasis Laboratorium yang Dilaksanakan

Dibandingkan dengan RAK Tahun 2020 – 2024

TARGET REALISASI CAPAIAN

Laporan Kinerja BBTKLPP Banjarbaru 2021 Target untuk indikator ini, yang tertuang dalam perjanjian kinerja lebih kecil dibandingkan dengan yang tertuang dalan RAK BBTKLPP Banjarbaru. Jika dijumlahkan target dalam RAK dari 2020 hingga 2021 sebanyak 66. Dilihat realisasi di tahun 2020 sebanyak 41 dan ditambah realisasi tahun 2021 sebanyak 56, maka didapatkan total 97 sehingga capaiannya sudah melebihi target. Sehingga dapat disimpulkan meskipun secara target kinerja tahun 2021 lebih kecil namun secara realisasi masih sesuai dengan RAK 2020-2024.

4) Perbandingan Realisasi Kinerja BBTKLPP Banjarbaru dengan Target

4) Perbandingan Realisasi Kinerja BBTKLPP Banjarbaru dengan Target

Dokumen terkait