• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebagai penutup dapat saya sampaikan bahwa, walaupun pada saat ini, umumnya pendekatan geokimia batuan lebih banyak digunakan untuk tujuan-tujuan keilmuan yang relatif sempit, seperti mengetahui komposisi kimia suatu batuan yang kemudian menjadi dasar untuk penamaan

batuan tersebut, namun sesungguhnya penggunaan pendekatan ini dari perspektif yang berbeda akan dapat memberikan hasil yang lebih luas dan bermanfaat. Diperlukan kajian-kajian dan analisis-analisis geokimia batuan dengan cara berfikir out of the box untuk mengungkap sejarah geologi dari bagian-bagian bumi ini dan sekaligus melahirkan konsep-konsep eksplorasi

mineral yang handal, efisien dan efektif untuk

memperbesar peluang dalam menemukan cadangan-cadangan mineral baru di tengah tantangan eksplorasi yang semakin rumit dan kompleks. Hampir semua cadangan yang terbentuk dan dikontrol oleh struktur geologi yang sederhana sudah ditemukan dan dieksploitasi. Yang tersisa adalah cadangan yang sulit untuk ditemukan dengan metode-metode konvensional. Oleh karena itu, sudah saatnya juga, sektor industri pertambangan untuk membuka diri lebih luas dan menjalin kemitraan yang saling menguntungkan dengan lembaga-lembaga riset, karena penggunaan konsep-konsep eksplorasi konvensional dapat dipastikan akan menuju kepada pemborosan sumber daya dan sangat besar kemungkinannya untuk berujung pada kegagalan dan kerugian. Sebaliknya, pengembangan

konsep eksplorasi di lembaga-lembaga riset dan

pengujiannya di lapangan dalam kegiatan eksplorasi yang

nyata melalui kemitraan dengan sektor industri

pertambangan, tidak diragukan lagi akan memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak, baik secara keilmuan maupun secara sosial ekonomi.

UCAPAN  TERIMA  KASIH  

Pada akhir pidato pengukuhan ini, maka perkenankanlah saya untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt., Tuhan penguasa langit dan bumi serta segala yang ada diantaranya, karena hanya dengan iradatNya lah pada hari ini, saya bisa berdiri di hadapan para hadirin sekalian untuk menyampaikan pidato orasi ini. Kemudian, saya ingin mempersembahkan ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sangat tinggi kepada kedua orang tua saya, kepada almarhum ayahanda saya yang tidak bisa lagi hadir disini, serta kepada ibunda saya, atas semua doa dan limpahan kasih sayang mereka yang tulus dan tak bertepi, yang dengan itu mereka telah membesarkan dan mengajarkan tentang nilai hidup dan kebaikan kepada saya, sehingga saya bisa sampai ke anak tangga yang terpenting pada hari ini. Rasa terima kasih yang dalam juga saya sampaikan kepada almarhum dan almarhumah

Bapak-Ibu mertua saya, yang banyak mengajarkan

kesederhanaan dan kesabaran kepada saya.

Ucapan terima kasih dan apresiasi yang tulus, juga saya haturkan kepada seluruh Pimpinan LIPI, terutama kepada Bapak Kepala LIPI, Prof. Dr. Lukman Hakim M.Sc., selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset, Prof Dr. Endang

Sukara, selaku Sekretaris Majelis, Prof. Dr. Jan

Sopaheluwakan, Prof. Dr. Hery Harjono dan Prof. Dr. Udi Hartono sebagai penilai naskah orasi, serta Kepala Pusbindiklat Peneliti LIPI dan seluruh anggota Majelis, atas segala

dorongan, bantuan dan kerjasamanya yang telah

memungkinkan saya untuk menyampaikan orasi pada hari ini. Perjalanan panjang ini tentu tidak akan bisa saya lalui, tanpa peran dan jasa para guru-guru saya, terutama kepada almarhum Prof. Dr. Rubini Soeria Atmadja, dan Prof. Made Emmy Suparka yang telah membimbing dan memotivasi saya dalam

menyelesaikan studi saya di Jurusan Geologi ITB. Untuk mereka, saya sampaikan terima kasih yang tulus.

Kepada semua rekan-rekan peneliti di Puslit Geoteknologi, baik yang senior maupun yang yunior, terutama kepada Prof. Dr. Jan Sopaheluwakan M.Sc. yang telah membimbing, mengajak serta membukakan pintu bagi saya untuk memasuki dunia penelitian di LIPI. Kepada Prof. Dr. Suparka, Prof. Dr. Hery Harjono, Ir. Suwijanto, Prof. Dr. Wahyoe Hantoro dan Prof. Dr. Sapri Hadi Wisastra yang banyak memberikan perhatian dan kesempatan kepada saya untuk mengembangkan diri, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi.

Selanjutnya, kepada semua teman-teman peneliti di Puslit Geoteknologi, khususnya kepada Ir. Eko Tri Sumarnadi MT, Ir. Sudaryanto MT, Ir. Kamtono M.Si, Ir. Yugo Kumoro, Ir. Igna Hadi Suparyanto, Drs. Torus Parundian Harahap, Ir. Sunarya Wibowo MT, Prof. Dr. Robert Delinom, Dr. Haryadi Permana, Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo, Dr. Herryal Zulkarnaen, Ir. M. Ulum A. Gani M.Sc., Ir. Sri Indarto, Ir. Sudarsono, dan Ir. Iwan Setiawan MT serta para teknisi di laboratorium, saya sampaikan terima kasih atas kerjasama dan bantuannya dalam kegiatan penelitian selama ini.

Tak lupa ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Dr. Zainal Arifin, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi beserta jajarannya, Dr. Tri Widiyanto, Kepala Pusat Penelitian Limnologi beserta jajarannya serta Dr. Andika W. Pramono, Kepala Pusat Penelitian Metalurgi beserta jajarannya juga, atas semua kerjasama keilmuan yang produktif, yang memperluas wawasan saya sebagai peneliti.

Saya juga ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang dalam kepada semua teman-teman peneliti yang pernah

bergabung dalam Kelompok Kajian Konflik Pertambangan LIPI, atas kerjasama dan komitmennya yang tinggi dalam mengukuhkan eksistensi kelompok serta membangun jejaring yang kuat dengan semua stakeholder.

Akhirnya, saya ingin berbagi kebahagiaan dan menyampaikan rasa terima kasih saya yang tulus kepada isteri saya, Eliza Mery, anak-anak saya, Brian, Sarah dan Bram atas semua untaian doa yang mereka panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, atas semua kesabaran dan ketabahan yang mereka persembahkan dalam mendampingi saya melalui liku-liku kehidupan yang tidak mudah ini. Karena merekalah pada hari ini saya dapat berdiri disini.

Kepada semuanya, yang turut berperan dalam mengantarkan saya sampai pada kondisi hari ini, namun tidak dapat saya sebutkan satu per satu, dengan tulus saya ucapkan terima kasih.

Wa Allahu al-Muwafiq ila Aqwami at-Tariq

DAFTAR  PUSTAKA  

 

1

Dalrymple, G.B., 1991, The Age of the Earth, Stanford University Press, California, 492p.

2

Frisch, W., Meschede, M. and Blakey, R., 2011, Plate Tectonics: Continental Drift and Mountain Building, Springer Verlag, Heidelberg, 212p.

3

Skinner, B.J. and Porter, S.C., 1995, The Dinamic Earth, Wiley.

4

Maruyama, S., 1994, Plume tectonics, J. Geol. Soc. Japan, 100, 24–49.

5

Ishida, M., Maruyama, S., Suetsugu, D., Matsuzaka, S., and Eguchi, T., 1999, Superplume Project: Towards a new view of whole Earth dynamics, Earth Planets Space, 51(1), i–v.

6

Isozaki, Y., Kawahata, H., Minoshima, K., 2007, The Capitanian (Permian) Kamura cooling event: the

beginning of the Paleozoic-Mesozoic transition,

Palaeoworld, 16, 16-30.

7

Inoue, H., Fukao, Y., Tanabe, K., and Ogata, Y., 1990, Whole mantle P-wave travel time tomography, Phys. Earth Planet. Inter., 59, 294–328.

8

Le Maitre, R.W. (editor), A. Streckeisen, B. Zanettin, M. J. Le Bas, B. Bonin, P. Bateman, G. Bellieni, A. Dudek, S. Efremova, J. Keller, J. Lamere, P. A. Sabine, R. Schmid, H. Sorensen, and A. R. Woolley, 2002, Igneous Rocks: A Classification and Glossary of Terms, Recommendations of the International Union of Geological Sciences,

Subcommission of the Systematics of Igneous Rocks.

Cambridge University Press, ISBN 0-521-66215-X

9

Peccerillo, A. & Taylor, S. R., 1976, Geochemistry of Eocene calc-alkaline volcanic rocks from the Kastamonu area, Northern Turkey, Contributions to Mineralogy and Petrology, 58:63–81.

10

Le Bas, M. J., Le Maitre, R. W., Streckeisen, A. and Zanettin, B., 1986, A chemical classification of volcanic rocks based on the total alkali–silica diagram, Journal of Petrology, 27:745–750.

11

Le Bas, M.J & Streckeisen, A.L., 1991. The IUGS systematics of igneous rocks, J. Geol. Soc. London, 148:825-833.

12

Le Maitre, R.W., Bateman, P., Dudek, A., Keller, J., Lameyre, J.. Le Bas, M.J., Sabine, P.A., Schmid, R., Sorensen, H., Streckeisen, A., Woolley, A.R. & Zanettin, B., 1989, A Classification of Igneous Rocks and Glossary of terms: Recommendations of the International Union of Geological Sciences Subcommission on the Systematics of Igneous Rocks, Blackwell Scientific Publications, Oxford, U.K.

13

Wilson, M., 1989, Igneous Petrogenesis; A Global Tectonic Approach, Unwin Hyman Ltd., London, 466pp, ISBN 0-04-552024-0

14

Fitch TJ., 1972, Plate convergence, transcurrent faults and internal deformation adjacent to southeast Asia and the western Pacific, J. Geophys. Res., 77:4432–60.

15

Hamilton W., 1974, Earthquake map of the Indonesian region, USGS Misc. Invest. Ser. Map I-875C

16

Hamilton W., 1979, Tectonics of the Indonesian Region, U.S. Geol. Surv. Prof. Pap., 1078:345.

17

Simons, W.J.F., Socquet, A., Vigny, C., Ambrosius, B.A.C., Haji Abu, S., Promthong, Chaiwat, Subarya, C., Sarsito, D.A., Matheussen, S., Morgan, P., Spackman, W., 2007, A decade of GPS in Southeast Asia: resolving

Sundaland motion and boundaries, J.

Geophys.Res.,112,B06420.doi:10.1029/2005JB003868

18

McCaffrey, R., 2009, The Tectonic Framework of The Sumatran Subduction Zone, Annu. Rev. Earth Planet. Sci., 37:345–66

19

Sieh, K. & Natawidjaja, D., 2000, Neotectonics of the Sumatran Fault, Indonesia, Jour. Geophy. Res., 105, B12, 295-326

20

Metcalfe, I., 1990, Allochthonous terrane processes in Southeast Asia, Phil. Trans. Roy. Soc. London, A331, 625–640.

21

Metcalfe, I., 1996, Gondwanaland dispersion, Asian accretion and evolution of Eastern Tethys, Aust. J. Earth Sci., 43, 605–623.

22

Metcalfe, I., 1998, Palaeozoic and Mesozoic geological evolution of the SE Asian region: multidisciplinary constraints and implications for biogeography, In: Hall, R., Holloway, J.D. (Eds.), Biogeography and Geological Evolution of SE Asia, 25-41. Backhuys Publishers, Amsterdam, The Netherlands.

23

Metcalfe, I., 2002, Permian tectonic framework and palaeogeography of SE Asia, J. Asian Earth Sci., 20, 551– 566.

24

Metcalfe, I., 2006, Palaeozoic and Mesozoic tectonic evolution and palaeogeography of East Asian crustal fragments: the Korean Peninsula in context, Gondwana Res., 9, 24–46.

25

Metcalfe, I., 2011, Tectonic framework and Phanerozoic evolution of Sundaland, Gondwana Res., 19, 3-21.

26

Honza, E., and Fujioka, K., 2004, Formation of arcs and backarc basins inferred from the tectonic evolution of Southeast Asia since the Late Cretaceous, Tectonophysics, 384:23-53.

27

Honza, E., 1991, The Tertiary arc chain in the Western Pacific, Tectonophysics, 187: 285–303.

28

Hall, R., 1997, Cenozoic plate tectonic reconstruction of SE Asia, in Fraser, A.J., Matthews, S.J. & Murphy, R.W. (eds), Petroleum geology of Southeast Asia, Geol. Soc. of London Spec. Publ., 126:11-23.

29

Hall, R. 2002, Cenozoic geological and plate tectonic evolution of SE Asia and the SW Pacific: computer-based reconstructions, model and animations, Journal of Asian Earth Sciences, 20: 353–434.

30

Hall, R., and C. K. Morley, 2004, Sundaland basins, in Continent-ocean interactions within the East Asian marginal seas in P. Clift, P. Wang, W. Kuhnt, and D. E. Hayes, eds. American Geophysical Union, Geophysical Monograph, 149: 55–85.

31

Fauzi, McCaffrey, R., Wark, D., Sunaryo and Haryadi, Y.P., 1996, Lateral variation in slab orientation beneath Toba Caldera, northern Sumatra, Geophy. Res. Letter, 23:443-446.

32

Zulkarnain, Iskandar, 2007a, Variasi Geokimia Batuan Volkanik Daerah Bengkulu di Sabuk Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera dan Implikasi Tektoniknya, JTM, vol. XIV, No.2, 89-102.

33

Zulkarnain, Iskandar, 2007b, Geochemical Character of Hulusimpang Formation Volcanics, Around Kota Agung Area and their Genetic Implication, JTM international edition, vol. XIV, no.3, 156-167.

34

Zulkarnain, Iskandar, 2008, Petrogenesis batuan volkanik daerah tambang emas Lebong Tandai, Provinsi Bengkulu, berdasarkan karakter geokimianya, Jurnal Geologi Indonesia, vol.3, no.2, 57-73

35

Page, B.G.N., Bennet, J.D., Cameron, N.R., Bridge, D.M., Jeffery, D.H., Keats, W., and Thaib, J., 1979, A review of the main structural and magmatic features of northern Sumatra, J. Geol. Soc. London, 136, 569-579.

36

Liu, C. S., J. R. Curray, and J. M. McDonald, 1983, New constraints on the tectonic evolution of the eastern Indian Ocean, Earth Planet. Sci. Lett., 65:331– 342.

37

Chesner, C.A., W.I. Rose., A., R. Drake., J.A. Westgate, 1991, Eruptive history of Earth’s largest quaternary (Toba, Indonesia) clarified, Geology, 19:200-203

38

Neumann van Padang M, 1951, Indonesia: Catalog of Active Volcanoes of the World and Solfatara Fields, Rome: IAVCEI, 1: 1-271.

39

Zulkarnain, I. and Ryanto, A.M., 1993, Mineralisasi Emas di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Laporan Penelitian Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.

40

epithermal di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Prosiding Geoteknologi LIPI.

41

Zulkarnain, Iskandar, 2009, Geochemical Signature of Mesozoic Volcanic and Granitic Rocks in Madina Regency Area, North Sumatera, Indonesia, and its Tectonic Implication, Jurnal Geologi Indonesia, vol.4, no. 2, 117-131.

42

Zulkarnain, Iskandar, 2011, Geochemical Evidence of Island-Arc Origin for Sumatera Island; A New Perspective based on Volcanic Rocks in Lampung Province, Indonesia, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 6, No. 4, 213-225.

43

Zulkarnain, Iskandar, 2012, New Geochemical Data of Island-Arc Origin for Sumatera: The Bengkulu Case, RISET Geologi dan Pertambangan, Vol. 22, No. 1, 11-23.

44

Zulkarnain, Iskandar, New Geochemical Data of Volcanic Rocks from Painan Area, West Sumatera as Evidence for New Perspective of Sumatera Tectonic History, in preparation submitted to Jurnal Geologi Indonesia.

45

Zulkarnain, I., Indarto, S., Sudarsono, Kuswandi, Trisuksmono, J., 2003, Genesa dan Potensi Emas dan Logam Dasar di Sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Barat, Laporan Penelitian, Puslit Geoteknologi LIPI, Bandung.

46

Zulkarnain, I., Indarto, S., Sudarsono, Setiawan, I., Kuswandi, 2004, Genesa dan Potensi Mineralisasi Emas dan Logam Dasar di Sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan; Kasus Daerah Kabupaten Rejang, Lebong dan Sekitarnya, Provinsi Bengkulu, Laporan Penelitian, Puslit Geoteknologi LIPI, Bandung.

47

Zulkarnain, I., Indarto, S., Sudarsono, Setiawan, I., Kuswandi, 2005, Genesa dan Potensi Mineralisasi Emas dan Logam Dasar di Sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan; Kasus Daerah Kabupaten Mandailing Natal dan Sekitarnya, Propinsi Sumatera Utara, Laporan Penelitian, Puslit Geoteknologi LIPI, Bandung.

48

Zulkarnain, I., Indarto, S., Sudarsono, Setiawan, I., 2006a, Pengembangan Konsep Eksplorasi Mineralisasi Emas dan Logam Dasar Berdasarkan Karakter Geokimia Batuan Volkanik dan Plutonik di Sayap Barat Pegunungan Bukit

Barisan, Sumatera, Laporan Penelitian, Puslit

Geoteknologi LIPI, Bandung.

49

Zulkarnain, I., Indarto, S., Sudarsono, Setiawan, I., Kuswandi, 2006b, Karakter Geokimia Batuan Volkanik Pembawa Mineralisasi Di Sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan Sumatera, Kasus: Daerah Painan Dan Sekitarnya, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Laporan Penelitian, Puslit Geoteknologi LIPI, Bandung.

50

Zulkarnain, I., Sopaheluwakan, J., Miyazaki, K., Wakita, K., 1995, Elements transfer during basalt metamorphism; the case of Bantimala Eclogite, Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, (1) : 42-55

51

Miyazaki, K., Zulkarnain, I., Sopaheluwakan, J., Wakita, K., 1996, Pressure-temperature conditions and retrograde paths of eclogites, garnet-glaucophane rocks and schists from South Sulawesi, Indonesia, Journal Metamohic of Geology, 14: 549-563

52

Wakita, K., Miyazaki, K., Zulkarnain, I., Sopaheluwakan, J., Sanyoto, P., 1998, Tectonic implications of new age data for Meratus Complex of South Kalimantan,

Indonesia, The Island Arc, 7: 202-222

53

Zulkarnain, Iskandar, 1999, Cretaceous Tectonic Events of the Bantimala Area, South Sulawesi, Indonesia; Evidence from Rock Chemistry, Jurnal Teknologi Mineral, 6 (2) :

54

Miyazaki, K., Zulkarnain, I., Sopaheluwakan, J., Wakita, K., 1996, Pressure-temperature conditions and retrograde paths of eclogites, garnet-glaucophane rocks and schists from South Sulawesi, Indonesia, Journal Metamohic of Geology, 14: 549-563

LAMPIRAN  GAMBAR  

 

 

 

 Gambar  1.  Lapisan  pembentuk  bumi  dengan  bagian  terluarnya  adalah  material   padat   yang   disebut   dengan   lithosphere   dan   mencakup   kerak   samudera  dan  benua  (Skinner  &  Potter,  1995).

Gambar 2. Konsep plumes tectonic yang menggambarkan bahwa kerak benua (supercontinent Pangea) dan kerak samudera mengambang di atas material mantel (mantle) yang menjadi dinamis karena adanya intrusi material super plumes yang naik dari zona batas antara inti bumi dan mantel bumi (CMB) (Isozaki et al., 2007)

 

 

Gambar   3.   Fenomena   yang   terjadi   bila   tumbukan   berlangsung   antara   kerak   samudera-­‐kerak   samudera,   kerak   samudera-­‐kerak   benua   dan   kerak   benua-­‐kerak   benua   (diunduh   dari:   http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/understanding.html#anchor15 039288l)

Gambar   4.   Pulau   Sumatera   sebagai   daratan   yang   membentuk   Blok   Paparan   Sunda   yang   bagian   selatannya   dibatasi   oleh   zona   penunjaman   tempat   Lempeng   Australia   menunjam   ke   bawah   Paparan   Sunda   (dari  Simons  et  al.,  2007).  

60   m m /t h   57   m m /t h   52   m m /t h  

Gambar   5.   Zona   subduksi   di   sisi   barat   Pulau   Sumatera   yang   menghasilkan   Palung   Sunda   akibat   gerakan   Lempeng   India-­‐Australia   ke   utara   (McCaffrey,  2009).  (Kecepatan  Lempeng  Samudera  Hindia  dari  Sieh   dan  Natawidjaja,  2000)

Gambar  6.  Paparan  Sunda  yang  dibentuk  oleh  sejumlah  blok  benua  berukuran   besar   (China   Selatan,   Indochina,   Malaya   Timur,   Sibumasu,   Burma   Barat,   Sumatera   Barat,   Borneo   Barat   Daya)   dan   yang   berukuran   kecil  (dalam  angka)  (Metcalfe,  2011).  

0.1$ 1$ 10$ 100$

Sr# K# Rb#Ba#Th###Ta##Nb#Ce## P# Zr# Hf#Sm#Ti# Y# Yb#

RO C K /MO RB # TS803#A# UK801#B# UK802#B# Wilson#ACM# UK803#A# Eastern#Volcanic# 0.1$ 1$ 10$ 100$

Sr# K# Rb#Ba#Th###Ta##Nb#Ce## P# Zr# Hf#Sm#Ti# Y# Yb#

RO C K /MO RB # KT8O1A# KPG#01# LK801#B# Wilson#IAB# Western#Volcanic#

Gambar  7.  Diagram  laba-­‐laba  unsur  jejak  terpilih  dari  batuan  volkanik   di  wilayah  Bengkulu  yang  menunjukkan  karakter  kontinen   di  sisi  timur  dan  busur  kepulauan  di  sisi  barat  (Zulkarnain,   2012).  ACM=Active  Continental  Margin;  IAB=  Island  Arc   basalt.  (Wilson  IAB=  Island  Arc  Basalt  menurut  Wilson,   1995)

ACM  

Gambar  8.  Hasil  plot  batuan  volkanik  di  daerah  Lampung  yang  menunjukkan   bahwa  bagian  barat  Pulau  Sumatera  menunjukkan  karakter  busur   kepulauan,   sedangkan   bagian   timurnya   lebih   bersifat   kontinen   (Zulkarnain,  2011).  WPVZ=Within  Plate  Volcanic  Zone  

Gambar   9.   Hasil   plot   batuan   volkanik   daerah   Bengkulu   yang   menunjukkan   bahwa  bagian  barat  Pulau  Sumatera  dicirikan  oleh  karakter  busur   kepulauan,   sedangkan   bagian   timur   bersifat   kontinen  

!

!" !#" !##" !###" La Ce Pr Nd Sm Eu Gd Tb Dy Ho Er Tm Yb Lu Rock/Chondrite $%&"'" ()*!+" ,-./*-0."1-234" ,-./*-0."1-234"

Gambar   10.   Hasil   plot   unsur   REE   batuan   volkanik   dari   daerah   Madina   (Muara   Sipongi   dan   Kota   Nopan)   yang   menunjukkan   karakter   yang   sama   dengan   batuan   volkanik  yang  terbentuk  di  lingkungan  cekungan  busur   belakang   atau   back-­‐arc   basin   (Zulkarnain,   2009).   KNP=Kotanopan;   MS=Muara   Sipongi.   (Data   back-­‐arc   basin  diambil  dari  Wilson,  1995)

1" 10" 100" La Ce Pr Nd Sm Eu Gd Tb Dy Ho Er Tm Yb Lu R oc k/C hondr ite PS&19F" PS&30" SD&06A" BJ&01C"  

Gambar   12.   Pola   unsur-­‐unsur   REE   pada   batuan   basal   dan   dasit   yang   tidak   membawa   mineralisasi   (barren  type),   tidak   menunjukkan   adanya   pola   deplesi   pada   unsur-­‐unsur   HREE   (Zulkarnain,   2009).   MS=Muara  Sipongi,  PYB=  Panyabungan.  

Gambar  11.  Pola  deplesi  unsur-­‐unsur  HREE  pada  batuan  andesit  dan  dasit   sebagai   penciri   pada   batuan   volkanik   yang   membawa   mineralisasi   (Zulkarnain,   2003).   BJ=Bonjol,   SD=   Simpang   Dingin,  PS=Pasaman

DAFTAR  KARYA  TULIS  ILMIAH  

JURNAL

1. Zulkarnain, Iskandar, 1991, Lingkungan fisika-kimia zona alterasi endapan tembaga porfiri pada endapan tembaga di Daerah Saar-Nahe, Jerman; Sebuah studi

kasus, Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, 1

(2) : 22-31.

2. Wakita, K., Munasri, Sopaheluwakan, J. and

Zulkarnain, I., 1994, Early Cretaceous tectonic events implied in the time-lag between the age of the radiolarian chert and its metamorphic basement in the

Bantimala area, South Sulawesi, Indonesia, The Island

Arc, 3: 90-102.

3. Zulkarnain, I., Sopaheluwakan, J., Miyazaki, K., Wakita, K., 1995, Elements transfer during basalt

metamorphism; the case of Bantimala Eclogite, Jurnal

RISET Geologi dan Pertambangan, (1) : 42-55 4. Miyazaki, K., Zulkarnain, I., Sopaheluwakan, J.,

Wakita, K., 1996, Pressure-temperature conditions and retrograde paths of eclogites, garnet-glaucophane

rocks and schists from South Sulawesi, Indonesia,

Journal Metamohic of Geology, 14: 549-563

5. Wakita, K., Sopaheluwakan, J., Miyazaki, K.,

Zulkarnain, I., Munasri, 1996, Tectonic evolution of

the Bantimala Complex, South Sulawesi, Indonesia, in

Tectonic Evolution of Southeast Asia. Geological Society Special PublicationNo.106: 353-364

6. Miyazaki, K., Sopaheluwakan, J., Zulkarnain, I., Wakita, K, 1998, A jadeite-quartz-glaucophane rock

from Karangsambung, Central Java, Indonesia, The

Island Arc, 7: 223-230

Sopaheluwakan, J., Sanyoto, P., 1998, Tectonic implications of new age data for Meratus Complex of

South Kalimantan, Indonesia, The Island Arc, 7:

202-222

8. Zulkarnain, Iskandar, 1999, Cretaceous Tectonic Events of the Bantimala Area, South Sulawesi,

Indonesia; Evidence from Rock Chemistry, Jurnal

Teknologi Mineral, 6 (2) :

9. Zulkarnain, Iskandar, 2001, Rock Chemistry of Quaternary Volcanics around Manado and Siau Island,

North Sulawesi, Jurnal Teknologi Mineral, 8 (1) :

37-52

10.Elburg, M.A., van Bergen, M., Hogeweff, J., Foden, J., Vroon, P., Zulkarnain, I., Nasution, A., 2002.

Geochemical trends across an arc-continent collision zone: magma sources and slab-wedge transfer

processes below the Pantar Strait volcanoes, Indonesia,

Geochimica et Cosmochimica Acta, 66 (15): 2771-2789

11.Zulkarnain, Iskandar, 2002, Geochemical Signatures of Volcanic Rock from Sangihe Island, North Sulawesi,

Indonesia, Buletin Geologi, 34 (1) : 21-33

12.Zulkarnain, Iskandar, 2003, Petrographic Evidence for Magma Mixing Beneath the Krakatau Volcano and Its Implication for Eruption Magnitude and Its

Mechanism, Jurnal Riset Geologi dan

Pertambangan, 14 (1) : 1-11

13.Zulkarnain, Iskandar, 2003, Quartz Chloritoid Rock

from Bobaris Range, South Kalimantan, Indonesia,

Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, 13 (1) : 14.Zulkarnain, I., Indarto, S., Sudarsono and Setiawan, I.,

2005, Geochemical Signatures of Vaolcanic Rocks related to Gold Mineralization: A Case of Volcanic

Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, 16 (1) : 15.Setiawan, I., Zulkarnain, I., Indarto, S., and

Sudarsono, 2005, Alterasi dan Mineralisasi di sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan: Kasus Daerah Kota Agung dan Sekitarnya Kabupaten Tanggamus –

Provinsi Lampung, Jurnal RISET Geologi dan

Pertambangan, 16 (1) :

16.Zulkarnain, Iskandar, 2007, Variasi Geokimia

Batuan Volkanik Daerah Bengkulu di Sabuk

Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera dan Implikasi

Tektoniknya, Jurnal Teknologi Mineral (ITB), 14 (2)

: 89-102

17.Zulkarnain, Iskandar, 2007, Geochemical Character of Hulusimpang Formation Volcanic around Kota

Agung Area and Their Genetic Implication, Jurnal

Teknologi Mineral (ITB) international edition, 14 (3) : 156-167

18.Zulkarnain, Iskandar, 2008, Petrogenesis batuan volkanik daerah tambang emas Lebong Tandai,

Provinsi Bengkulu, berdasarkan karakter geokimianya,

Jurnal Geologi Indonesia, 3 (2) : 57-73

19.Zulkarnain, Iskandar, 2009, Geochemical Signature of Mesozoic Volcanic and Granitic Rocks in Madina Regency Area, North Sumatera, Indonesia, and its

Tectonic Implication, Jurnal Geologi Indonesia, 4 (2)

: 117-131

20.Zulkarnain, Iskandar, 2011, Geochemical Evidence of Island-Arc Origin for Sumatera Island; A New Perspective based on Volcanic Rocks in Lampung

Province, Indonesia, Jurnal Geologi Indonesia, 6 (4)

:213-225

21.Zulkarnain, Iskandar, 2012, New Geochemical Data

of Island-Arc Origin for Sumatera; The Bengkulu Case,

No.1:11-23

BUKU (Penulis dan Editor)

22.Zulkarnain, I., Pudjiastuti, T.N., dan Karomah, U.,

2003, Potensi Konflik di Kawasan Pertambangan:

Kasus Pertambangan Emas di Pongkor dan Cikotok,

Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 171 hal.

23.Zulkarnain, I., Pudjiastuti, T.N., A. Saidi and Y.

Mulyaningsih, 2004, Konflik di Kawasan

Pertambangan Batubara di Kalimantan Selatan:

Menuju Penyusunan Solusi Awal, Jakarta, Lembaga

Ilmu Pengetahuan Indonesia, 301 hal.

24.Zulkarnain, I., Erman, E., and Pudjiastuti, T.N., 2005,

Potensi Konflik Konflik di Kawasan Pertambangan Timah Bangka Belitung: Persoalan dan Alternatif

Solusi, Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan

Indonesia, 193 hal.

25.Zulkarnain, I., and Pudjiastuti, T.N., 2006, Panduan

Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan

Pertambangan, Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan

Indonesia, 89 hal.

26.Zulkarnain, I., Pudjiastuti, T.N., Sumarnadi E.T., and

Rosita Sari, B., 2007, Dinamika dan Peran

Pertambangan Rakyat di Indonesia, Jakarta, Lembaga

Ilmu Pengetahuan Indonesia, 323 hal.

Dalam dokumen ORASI PENGUKUHAN PROFESOR RISET BIDANG G (Halaman 31-75)

Dokumen terkait