• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberhasilan penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2016 ditentukan adanya faktor: 1) Perencanaan yang terprogram dengan baik, 2) Tenaga yang profesional dan 3) Adanya pengelolaan yang baik dan terkoordinir.

Diharapkan seluruh kegiatan yang telah dituangkan dalam program kerja/kegiatan masing-masing harap dijadikan pedoman/pegangan oleh seluruh pihak yang relevan agar apa yang menjadi tujuan dapat tercapai. Selain itu kerjasama antara pengelola dan unsur terkait dibina dengan baik agar pelaksanaan program setiap kegiatan dapat berjalan lancar.

Dengan mohon petunjuk dan bimbingan Allah SWT, marilah kita laksanakan tugas yang dibebankan kepada kita dengan sebaik-baiknya serta tulus dan ikhlas.

LAMPIRAN

Lampiran 2. Maskot OSN 2016

Gajah adalah hewan pintar yang berasal dari Sumatera. Berbalut kain tajung pinggang dan tanjak di atas kepala yang merupakan ciri khas Sumatera Selatan serta tampil dengan kacamata sambil memegang satu gelas kimia yang mencirikan ilmuan, dirasa tepat untuk dijadikan maskot dalam penyelenggaraan kegiatan OSN tahun 2016 di Sumatera Selatan

Lampiran 3. Janji Peserta dan Juri

JANJI PESERTA OSN

KAMI, PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL BERJANJI :

1. BERKOMPETISI DENGAN SPORTIF DAN SENANTIASA MENJUNJUNG TINGGI KEJUJURAN.

2. MENJAGA HUBUNGAN PERSAUDARAAN DIANTARA PESERTA OSN, DEMI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.

3. MEMATUHI SEGALA TATA TERTIB DAN PENILAIAN YANG TELAH DITETAPKAN OLEH PANITIA DAN JURI.

JANJI JURI OSN

KAMI, JURI OLIMPIADE SAINS NASIONAL BERJANJI:

1. MEMIMPIN PERLOMBAAN DENGAN PENUH

RASA TANGGUNG JAWAB, DENGAN

MENJUNJUNG TINGGI KEJUJURAN DAN SPORTIVITAS.

2. MENILAI PERLOMBAAN INl DENGAN ADIL DAN

TIDAK AKAN MEMIHAK KEPADA SIAPAPUN DEMI PENINGKATAN PRESTASI PENDIDIKAN INDONESIA.

Lampiran 4. Sekilas Sumatera Selatan

Provinsi Sumatera Selatan sejak berabad yang lalu dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya, pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi wilayah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang juga terkenal dengan kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Nusantara. Gaung dan pengaruhnya bahkan sampai ke Madagaskar di Benua Afrika. Sejak abad ke-13 sampai abad ke-14, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Majapahit. Selanjutnya wilayah ini pernah menjadi daerah tak bertuan dan bersarangnya bajak laut dari

Mancanegara terutama dari negeri china Pada awal abad ke-15 berdirilah Kesultanan Palembang yang berkuasa sampai datangnya Kolonialisme Barat, lalu disusul oleh Jepang. Ketika masih berjaya, kerajaan Sriwijaya juga menjadikan Palembang sebagai Kota Kerajaan. Sumber: sumselprov.go.id

A. Sejarah

Sumatera Selatan atau pulau Sumatera bagian selatan yang dikenal sebagai provinsi Sumatera Selatan didirikan pada tanggal 12 September 1950 yang awalnya mencakup daerah Jambi, Bengkulu, Lampung, dan kepulauan Bangka Belitung dan keempat wilayah yang terakhir disebutkan kemudian masing-masing menjadi wilayah provinsi tersendiri akan tetapi memiliki akar budaya bahasa dari keluarga yang sama yakni bahasa Austronesia proto

bahasa Melayu dengan

pembagian daerah bahasa dan

logat antara lain seperti

Palembang, Ogan, Komering, Musi, Lematang dan masih banyak bahasa lainnya.

Menurut sumber antropologi disebutkan bahwa asal usul manusia Sumatera bagian selatan dapat ditelusuri mulai dari zaman paleolitikum dengan adanya benda-benda zaman paleolitikum pada beberapa wilayah antara lain sekarang dikenal sebagai Kabupaten

Lahat, Kabupaten Sarolangun Bangko, Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Tanjung Karang yakni desa Bengamas lereng utara pergunungan Gumai, di dasar (cabang dari Sungai Musi) sungai Saling, sungai Kikim lalu di desa Tiangko Panjang (Gua Tiangko Panjang) dan desa Padang Bidu atau daerah Podok Salabe serta penemuan di Kalianda dan Kedaton dimana dapat ditemui tradisi yang berasal dari acheulean yang bermigrasi melalui sungai Mekong yang merupakan bagian dari bangsa Monk Khmer.

Provinsi Sumatera Selatan sejak berabad yang lalu dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya; pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi wilayah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang juga terkenal dengan kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Nusantara. Gaung dan pengaruhnya bahkan sampai ke Madagaskar di Benua Afrika. Sejak abad ke-13 sampai abad ke-14, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Majapahit. Selanjutnya wilayah ini pernah menjadi daerah tak bertuan dan bersarangnya bajak laut dari Mancanegara terutama dari negeri China.

Sumber: sumselprov.go.id

Sumatera Selatan terletak pada 10 sampai 40 Lintang Selatan dan 1020 sampai 1060 Bujur Timur. Sementara batas wilayah Sumatera selatan di sebelah utara dengan Provinsi Jambi, sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Bangka Belitung, sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Bengkulu. Sumatera Selatan memiliki wilayah seluas 87.017.41 km² (33,597.61 mil²).

C. Struktur Pemerintahan 1. Ibukota Provinsi

Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Palembang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan.

Sejarah Palembang yang pernah menjadi ibukota kerajaan bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara pada saat itu, Kerajaan Sriwijaya, yang mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9 juga membuat kota ini dikenal dengan julukan "Bumi Sriwijaya". Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota pada tanggal 16 Juni 682 Masehi, menjadikan kota Palembang sebagai kota tertua di

Indonesia. Di dunia Barat, kota Palembang juga dijuluki Venice of the East ("Venesia

dari Timur")

2. Periode Pemerintahan

PERIODE NAMA GUBERNUR 1945 1945 - 1952 1952 - 1954 1959 - 1963 1963 - 1966 1966 - 1967 1967 - 1978 1978 - 1988 1988 - 1998 1998 - 2003 2003 - 2008 2008 2008 - sekarang 1. A. K. Gani 2. M. Isa 3. Sumarno 4. Husen

5. Mochtar Prabu Mangkunegara 6. H. A. Bastari

7. Abu Yasid Bustomi 8. Ali Amin

9. Asnawi Mangku Alam 10. Sainan Sagiman

11. Letjen H.Ramli Hasan Basri 12. H. Rosihan Arsyad

13. Ir. Syahrial Oesman, MM 14. dr. H. Mahyuddin NS, SpOG 15. H. Alex Noerdin

Lampiran 5. Objek Wisata

1. Objek Wisata Jembatan Ampera Palembang

Jembatan Ampera merupakan jembatan kebanggaan masyarakat Palembang, Sumatera Selatan dan menjadi Trade Mark bagi kota Palembang. Keberadaan jembatan tersebut sangat penting untuk menghubungkan daerah ulu dan ilir sehingga transportasi menjadi lancar dan otomatis juga memperlancar kehidupan ekonomi. Jembatan Ampera merupakan hadiah Bung Karno bagi masyarakat Palembang yang dananya diambil dari dana pampasan perang Jepang (juga untuk membangun Monas, Jakarta). Dahulu jembatan ini sempat diberi nama Jembatan Bung Karno, tetapi beliau tidak setuju (supaya tidak ada kultus individu), maka nama Ampera lebih cocok sesuai dengan fungsinya sebagai Amanat Penderitaan Rakyat, yang pernah menjadi slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960-an. Struktur Jembatan Ampera

Panjang : 1.177 m (bagian tengah 71,90 m)

Lebar : 22 m

Tinggi : 11.5 m dari permukaan air

Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah

Jarak antara menara : 75 m

Berat : 944 ton

Pada awalnya, jembatan sepanjang 1.177 meter dengan lebar 22 meter ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

2. Benteng Kuto Besak

Berdiri kokoh di ketinggian 10 meter dimana dari sini Anda dapat menyaksikan

kapal-kapal berlalu-lalang di Sungai Musi. Benteng ini adalah kebanggaan masyarakat

Palembang karena merupakan benteng terbesar dan satu-satunya yang terbuat dari batu sebagai saksi perlawanan terhadap penjajah asing.

Dibangun pada abad ke 17, Kuto Besak merupakan warisan Kesultanan Palembang Darussalam yang memerintah pada 1550-1823. Benteng ini memiliki panjang 288,75 m, lebar 183,75 m, tinggi 9,99 m dan tebal 1,99 m, berfungsi sebagai pos pertahanan. Lokasi Benteng ini baik secara politik dan geografis sangat strategis karena membentuk pulau sendiri, berbatasan dengan sungai musi di sebelah selatan, sungai sekanank di sebelah barat, sungai kapuran di sebelah utara dan sungai tengkuruk di sebelah timur.

Berdasarkan catatan sejarah di Balai Arkeologi Kota Palembang, benteng ini pendiriannya memakan waktu 17 tahun (1780-1797). Pembangunan Benteng Kuto Besak diprakarsai Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah 1724-1758. Konstruksinya dimulai pada 1780 selama era Sultan Mahmud Badaruddin. Benteng ini dimaksudkan sebagai sebuah istana yang dibangun untuk menggantikan Keraton Kuto Lamo Tua atau Benteng Kuto Lamo yang luasnya tidak cukup besar. Saat ini, Benteng Kuto Lamo digunakan sebagai Museum Sultan Mahmud Badarudin II. Benteng Kuto Besak akhirnya digunakan secara resmi sebagai pusat pemerintahan Kesultanan dari 21 Februari 1797.

Tahun 1821 benteng ini diserbu oleh tentara kolonial Belanda. Benteng Kuto Besak dirampas dan Sultan Mahmud Badaruddin II dibuang ke Maluku. Kejadian ini menandai akhir dari era Kesultanan Palembang. Tanda pendudukan Belanda terukir di Benteng Kuto Besak dengan ukir gaya kolonial.

Benteng Kuto Besak adalah refleksi dari masyarakat multi-etnis dari era Kesultanan Palembang Darussalam. Pengawasan konstruksi dipercayakan kepada seorang supervisor Cina, sementara para buruh bangunan asli Palembang dan Cina yang bekerja bergandengan tangan dalam keharmonisan. Keharmonisan ini juga salah satu warisan yang diturunkan sampai hari ini seperti digambarkan dalam banyak acara-acara di Kota Palembang seperti di Cap Go Meh dan Imlek (Tahun Baru Cina).

Setiap sudut benteng diperkuat dengan bastion. Bastion di sudut barat lebih besar dan mirip dengan benteng-benteng lain di Indonesia sementara bastion lainnya bentuknya arsitekturnya unik dan tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Gerbang utama, yang disebut Lawang Kuto, terletak di selatan menghadap ke Sungai Musi, sedangkan gerbang lainnya yang disebut Lawang borotan terletak di sebelah barat dan timur, meskipun gerbang barat saat ini satu-satunya yang masih berdiri.

3. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Berada di seberang Sungai Musi ini memiliki bentuk asli bangunan tidak berubah dari masa awal pendiriannya. Lokasinya di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2, Palembang.

Di museum ini Anda dapat menikmati sekitar 556 koleksi benda bersejarah, mulai dari bekas peninggalan kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang. Nama Sultan Mahmud Badaruddin II dijadikan nama museum ini untuk menghormati jasanya bagi kota Palembang.

Museum ini berdiri di atas bangunan Benteng Koto Lama (Kuto Tengkurokato Kuto Batu) dimana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) memerintah. Berdasarkan penyelidikan oleh tim arkeologis tahun 1988, diketahui bahwa pondasi Kuto Lama ditemukan di bawah balok kayu.

Benteng ini pernah habis dibakar oleh Belanda pada 17 Oktober 1823 atas perintah I.L. Van Seven House sebagai balas dendam kepada Sultan yang telah membakar Loji Aur Rive. Kemudian di atasnya dibangun gedung tempat tinggal Residen Belanda. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini dipakai sebagai markas Jepang dan dikembalikan ke penduduk Palembang ketika proklamasi tahun 1945. Museum ini direnovasi dan difungsikan sebagai markas Kodam II/Sriwijaya hingga akhirnya menjadi museum.

4. Masjid Agung Palembang

Merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748. Konon masjid ini merupakan bangunan masjid terbesar di Nusantara pada saat itu.

Masjid Agung Palembang pada mulanya disebut Masjid Sultan dan dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian pemakaian masjid ini dilakukan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748). Ukuran bangunan mesjid

waktu pertama dibangun semula seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf

Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.

Pada awal pembangunannya (1738-1748), sebagaimana masjid-masjid tua di Indonesia, Mesjid Sultan ini pada awalnya tidak mempunyai menara. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774) barulah dibangun menara yang letaknya agak terpisah di sebelah barat. Bentuk menaranya seperti pada menara bangunan kelenteng dengan bentuk atapnya berujung melengkung. Pada bagian luar badan menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi bagian badan.

Bentuk masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Agung, jauh berbeda tidak seperti yang kita lihat sekarang. Bentuk yang sekarang ini telah mengalami berkali-kali perombakan dan perluasan. Pada mulanya perbaikan dilakukan oleh pemerintah Belanda setelah terjadi perang besar tahun 1819 dan 1821. Setelah dilakukan perbaikan kemudian dilakukan penambahan/perluasan pada tahun 1893, 1916, 1950-an, 1970-an, dan terakhir pada tahun 1990-an. Pada pekerjaan renovasi dan pembangunan tahun 1970-an oleh Pertamina, dilakukan juga pembangunan menara sehingga mencapai bentuknya yang sekarang. Menara asli dengan atapnya yang bergaya Cina tidak dirobohkan.

Perluasan kedua kali pada tahun 1930. tahun 1952 dilakukan lagi perluasan oleh Yayasan Masjid Agung yang pada tahun 1966-1969 membangun tambahan lantai kedua sehingga luas mesjid sampai sekarang 5520 meter persegi dengan daya tampung 7.750.

Masjid Agung merupakan masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun itu terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan itu telah menjadi land mark kota hingga sekarang.

Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat kerajaan itu menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.

Lampiran 6. Informasi Hotel

NO. NAMA HOTEL ALAMAT NO. TELPON

1 Novotel Hotel Jl. R. Sukamto No. 8 A 0711 379777

2 Arya Duta Hotel Jl. Pom IX Kampus 0711 383838

3 Aston Hotel Jl. Basuki Rahmad 0711 383838

4 Sahid Imara Hotel Jl. Jend. Sudirman No.Iii A 0711 366066

5 The Jayakarta Daira Hotel Jl. Jend. Sudirman No.153 0711 365222

6 Arista Hotel Jl. Kapt. A. Rivai 0711 355000

7 Hotel Royal Asia Jl. Veteran No. 521 0711 365555

8 Hotel Sandjaya Jl. Kapt. A. Rivai No.5193 0711 362222

9 Hotel Swarna Dwipa Jl. Tasik No.2 0711 319332

10 Hotel Princess Jl. Kol. Iskandar 0711 313131

11 Hotel Lembang Jl. Kol. Atmo No.16 0711 365555

12 Hotel Classic Jl. Rajawali

13 Hotel Wisata Jl Letkol. Iskandar No.105 0711 352750

14 Hotel Budi Jl. Kol. Iskandar 0711 377878

15 Hotel Anugrah Jl. Jend. Sudirman 0711 312727

16 Hotel Paradise Jl. Kapt. A. Rivai 0711 357142

17 Hotel Raden Jl. Palembang - Betung 0711 384165

18 Hotel Akpari Jl. Kol. H. Burlian Km.5.5

19 Grand Duta Hotel Jl. Radial 0711 374873

20 Hotel Duta Jl.Kol. Iskandar 535

21 Hotel Bumi Asih Jl. Kapt. A. Rivai 36 0711 364349

22 Grand Zuri Hotel Jl. Rajawali No.8 0711 313800

23 Zuri Hotel Jl. Dr. M. Isa No. 988 0711 710800

Lampiran 7. Kuliner 1. Pempek

Pempek merupakan makanan khas Palembang yang paling populer dan sudah sangat terkenal di seluruh Indonesia. Bahan dasar utama dari pempek adalah dari daging ikan dan sagu. Tapi sekarang ini masyarakat Palembang sudah berhasil bagaimana

mengembangkan bahan dasar

pembuatan pempek tersebut menjadi beragam jenis pempek Isi dari pempek juga makin fariasi. Bermacam jenis makanan pempek yang sering di jual di pasaran seperti pempek kapal selam, pempek lenjer, pempek keriting, pempek adaan, pempek kulit, pempek tahu, pempek pistel, pempek udang, pempek lenggang, pempek panggang, pempek belah dan pempek otak - otak.

2. Tekwan

Nama makanan khas lainnya

dari Palembang adalah Tekwan. Tampilan masakan yang menyerupai

sup ikan ini pembuatannya

menggunakan bahan dasar dari daging ikan dan sagu kemudian dibentuk kecil - kecil hampir menyerupai bakso ikan.

Dalam penyajiannya Tekwan

ditambahkan dengan kaldu udang sebagai kuah, serta soun dan tak lupa jamur kuping sebagai pelengkap.

3. Otak - Otak

Makanan Otak-otak juga sangat

terkenal disamping Pempek.

Pembuatan otak otak menggunakan bahan dasar hampir mirip dengan bahan dasar pempek yang dicocol dengan kuah santan dan kemudian

bahan ini dibungkus dengan

menggunakan daun pisang, lalu dimasak dengan cara dipanggang di atas bara api. Makanan ini biasa di sajikan dan disantap dengan saus cabai / kacang.

4. Brengkes Tempoyak

Palembang bukan hanya punya kuliner pempek saja. Ada banyak lagi

kuliner-kuliner khas dari Kota

Palembang. Salah satunya adalah

kuliner bernama Brengkes

Tempoyak. Bagi Anda yang pernah merasakan makanan ini, mungkin Anda akan setuju bahwa rasanya sangat nikmat di lidah. Brengkes Tempoyak adalah bahasa Palembang yang berarti pepes durian yang sudah difermentasikan.

5. Mie Celor

Wisata kuliner khas Palembang selanjutnya adalah kuliner bernama Mie Celor, bukan mie telor, ya. Mungkin mie celor ini berarti mie rebus atau mie seduh, karena celor menurut bahasa Palembang berarti diseduh. Kuliner khas Palembang yang satu ini menjadi salah satu menu

terfavorit masyarakat Palembang untuk sarapan. Jadi di pagi hari yang masih dingin, Anda bisa menghangatkan tubuh Anda dengan sarapan mie seduh ini.

6. Pindang Patin

Pindang Patin Khas Palembang yang

merupakan salah satu resep

kegemaran masyarakat Palembang, Sumatera Selatan. Pindang Patin berbahan dasar ikan patin yang dimasak berkuah dengan bumbu rempah yang khas plus dengan irisan buah nanas yang membuat rasa pindang ikan patin ini segar dan lezat.

Lampiran 8. Daftar Peserta OSN 2016

DAFTAR PESERTA OLIMPIADE SAINS TINGKAT NASIONAL TAHUN 2016

JENJANG SD

Bidang Lomba: Matematika

No NAMA SEKOLAH PROPINSI

1 Khaif Al Fansyuri SDN 1 Bireuen Aceh

2 Muhammad Fariza SDN Kampong Badar Aceh

3 T. Fadhlan SDS Al-Alaq Aceh

4 Yasmin Yumna SD Sukma Bangsa Bireuen Aceh

5 Ken Fikarda SDN 67 Percontohan Banda

Aceh

Aceh

6 M. Daffa Fadhli SDN 5 Langsa Aceh

7 Hendy Sutono SD Sutomo 1 Medan Sumatera utara

8 Clarissa Halim SD Sultan Hasanuddin A.

Kenopan

Sumatera utara

9 Jessy Mazuki SD Sutomo 1 Medan Sumatera utara

10 Hans J.B.W. Silitonga SD Kristen Kalam Kudus Sumatera utara

11 Abin Teguh SDN 104212 Patumbak Sumatera utara

12 Raja Moses SD St. Yosep Sidikalang Sumatera utara

13 Hasanul Fikri SD Islam Raudhatul Jannah Sumatera Barat

14 Kanya Hafsah Kamilah SDIT Andalas Cendikia Sumatera Barat

15 Adyatma Hafidz SD Al Ishlah Sumatera Barat

16 Rafif Farras SD Islam Raudhatul Jannah Sumatera Barat

17 Marsaa Dwi Anita Zahra SD Negeri 01 Barung-Barung

Belantai

Sumatera Barat

18 Nadil Ulum Annafis SDN 03 Kampung Jawa Sumatera Barat

19 Vannes Wijaya SDS Darma Yudha Riau

20 M. Anfasa Prana Karil SDS YPP Perawang Riau

21 Ryan Justyn SDS Darma Yudha Riau

22 Arista Nidia Putri SDS YPP Perawang Riau

23 Fernando Lawrence SDS Witama Nasional Plus Riau

24 Mariana SDS YPP Perawang Riau

25 Fernando Christian SD Al-Kaffah Kepulauan Riau

26 Muhammad Ibadi Ilmi SD Muhammadiyah Plus Kepulauan Riau

27 Vincent Rocky Simanjuntak SDS Kristen Sion Kepulauan Riau

28 Vincent Ferdinand SDK Kalam Kudus 2 Batam Kepulauan Riau

29 Jolin SD Maitreyawira Kepulauan Riau

31 Aditya Satya Putra Kumbara SDN 17 Tanjungpandan Bangka Belitung

32 Nadhirah SDN 12 Manggar Bangka Belitung

33 Aisyah Nadita Aulia Nisa SDN 51 Tanjungpandan Bangka Belitung

34 Farezki SDN 15 Kelapa Bangka Belitung

35 Olivia Aditya SD Muhammadiyah Bangka Belitung

36 Muhammad Fauzan SDN 10 Pangkalpinang Bangka Belitung

37 Tita Larasati Tjoa SD Unggul Sakti Jambi

38 Filbert Naldo Wijaya SD Xaverius 1 Jambi

39 Wahyu Firmansyah SDN 57/X Tanjab Timur Jambi

40 Arryan Naufal Putra SDN 157/V Kuala Tungkal Jambi

41 Assalwa Saskia SDN 213/VIII Tebo Jambi

42 Marva Ghevirani SDN 5/V Kuala Tungkal Jambi

43 Nicholas Eric Syuhendra SD Ignatius Global School Sumatera Selatan

44 Daniel Mangaraja SD Paramount Sumatera Selatan

45 Yuan Komah SD IPEKA Sumatera Selatan

46 Vincent SDS IT Tunas Cendikia Sumatera Selatan

47 M. Fadhlurrahman Rizqullah SDN 35 Percontohan Lahat Sumatera Selatan

48 Muhammad Nabil Hadi Putra SDIT Al-Istiqomah Sumatera Selatan

49 Nayla Dwi Anjani SDN 05 Kota Benmgkulu Bengkulu

50 Owen Evandez SDN Pelita Kasih Bengkulu

51 Deo Arengga Rahman SDN 02 Lebong Utara Bengkulu

52 Aisyah Nur Afifah SD IT Al-Qalam Bengkulu

53 Satriaji Ilham Azhar Rr SDIT Darul Fikri Bengkulu

54 Nur Khafifah Parawansyah SD IT Insan Kamil Bengkulu

55 Audra Aurora Izzani SDN 2 Rawa Laut Lampung

56 Muhammad Abdul Aziz Al Ghifary

SDN I Way Kanan Lampung

57 Najwan Sheva Susanto SDN 1 Metro Pusat Lampung

58 Muhammad Aulia Rahman SDN I Banding Agung Lampung

59 Adzra Zalfa Hisanah SD Al-Kautsar Lampung

60 R. Ramadita Nandiwardhana SDN I Way Urang Lampung

61 Timotius Andersen SD Santa Laurensia Banten

62 Rafael Kristoforus Yanto SDK Penabur Gading Serpong Banten

63 M. Fathan Azzahran SDN Cipocok Jaya 1 Banten

64 Galih Nur Rizqy SDI Al-Azhar 10 Serang Banten

65 Nathan Wijaya SD Santa Ursula BSD Banten

66 Nurul Kamaliyah SDN Cikupa IV Banten

67 Jeanice Eliana Setyono SDK 6 Penabur DKI Jakarta

68 Darren Darwis SDK 6 Penabur DKI Jakarta

69 Devryl Luvian SDS Kristen 2 Penabur DKI Jakarta

70 David Shane Goh SDK Penabur DKI Jakarta

71 Madeline Yensia A. SDK 4 Penabur DKI Jakarta

73 Sandy Kristian W SD Kristen Plus Jawa Barat

74 Azfa Radhiyya hakim SD Islam Al-Fauzien Jawa Barat

75 Muhammad Suryadeva SD Islam Al-Azhar 3 Jawa Barat

76 Yomori Achiza SD Muhammadiyah 7 Jawa Barat

77 Muh. Riyan Rajab Setiawan SDN Karangampel Kidul I Jawa Barat

78 Darren Rafael SD Santa Maria Jawa Barat

79 Axel Giovanni Hartanto SD Pangudi Luhur II Timotius Jawa Tengah

80 Jerome Jodie Hartanto SDK Tri Tunggal Jawa Tengah

81 Aristo Budiman SD Kanisius Keprabon 02 Jawa Tengah

82 Faiq Pramatya Murdiyanto SD Al Islam 2 Jamsaren Jawa Tengah

83 Alifa Nabila Putri SD Negeri Ungaran 01 Jawa Tengah

84 Fransisca Aurelia Giovanny S.

SD Marsudirini Semarang Jawa Tengah

Dalam dokumen Panduan Umum Olimpiade Sains Nasional 2016 (Halaman 37-96)

Dokumen terkait