• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk bab terakhir ini berisikan kesimpulan dari permasalahan yang telah diteliti, serta saran untuk permasalahan tersebut.

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

A. Definisi Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum adalah pusat informasi yang menyediakan pengetahuan dan informasi siap akses bagi pemakainya. Di dalam buku Etika Kepustakawanan (2006, h.30) Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan dan sebagainya.

Definisi lain dari perpustakaan umum adalah pusat informasi yang menyediakan pengetahuan dan informasi siap akses bagi para pemakainya. Layanan perpustakaan umum disediakan dengan dasar kesamaan umur, ras, gender, agama, kebangsaan, bahasa, dan status sosial. Layanan dan materi khusus harus disediakan bagi pihak yang karena alasan tertentu tidak dapat menggunakan layanan dan materi biasa. Sebagai contoh pihak dengan bahasa minoritas, para penyandang cacat, orang sakit maupun narapidana. (Blasius, 2006, h. 159)

Perpustakaan umum sering diibaratkan sebagai Universitas Rakyat atau Universitas Masyarakat. Makasudnya adalah bahwa perpustakaan umum merupakan lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan berbagai informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, sebagai sumber

belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat. (Sutarno NS, 2006, h.32)

Perpustakaan-perpustakaan yang termasuk didalam kategori perpustakaan umum adalah:

1. Perpustakaan umum kabupaten/kota

2. Perpustakaan umum tingkat kecamatan

3. Perpustakaan desa/kelurahan

4. Perpustakaan cabang

5. Taman bacaan rakyat/taman bacaan masyarakat

6. Perpustakaan keliling merupakan peluasan layanan (ekstensi) dari perpustakaan umum kabupaten/kota.

B. Definisi Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota

Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota adalah perpustakaan yang lazimnya didirikan oleh pemerintah daerah (ada juga yang mula-mula dididrikan oleh pihak swasta, kemudian diserahan kepada pihak pemerintah) serta dikelola oleh pemerintah daerah. Dalam hal ini adalah pemerintah Kabupaten/Kota. Karena dikelola oleh pemerintah daerah, maka perangkat personalia, gedung, koleksi serta anggaran lainnya dimasukkan ke dalam

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). (Sulistyo-Basuki, 1993, h.9)

Untuk kebanyakan perpustakaan umum tingkat kabupaten/kota pada saat ini telah dipegang penuh kendalinya oleh pemerintah kabupaten/kota yang berwenang di wilayahnya.

C. Peran Perpustakaan Umum kabupaten Kota

Setiap perpustakaan yang dibangun akan mempunyai makna apabila dapat menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya. Peranan tersebut berhubungan dengan keberadaan, tugas dan fungsi perpustakaan. Peranan yang dapat dijalankan oleh perpustakaan antara lain:

1. Secara umum perpustakaan merupakan sumber informasi, pendidikan, penelitian, preservasi dan pelestarian khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat, murah, dan bermanfaat.

2. Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya. 3. Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjalin dan

mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai, dan antara penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat yang dilayani.

4. Perpustakaan dapat pula berperan sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca, dan budaya baca, melalui penyediaan berbagai bahan bacaan yang sesuai

dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu apabila tidak ada perpustakaan, atau perpustakaan ada yang kurang berperan dengan baik, mungkin anggota masyarakat yang baru belajar membaca, atau sedang membiasakan diri membaca, dan membutuhkan sumber bacaan, dapat berkurang secara perlahan-lahan dan hilang semangatnya. 5. Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator, dan

motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.

6. Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan agen kebudayaan umat manusia. Sebab berbagai penemuan, sejarah, pemikiran, dan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan pada masa yang lalu, yang direkam dalam bentuk tulisan atau bentuk tertentu yang disimpan di perpustakaan. Koleksi tersebut dapat dipelajari, diteliti, dikaji, dan dikembangkan oleh generasi sekarang, dan kemudian dipergunakan sebagai landasan penuntun untuk merencanakan masa depan yang lebih baik.

7. Perpustakaan berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggota masyarakat dan pengunjung perpustakaan. Mereka dapat belajar secara mandiri (otodidak), melakukan penelitian, menggali, memanfaatkan dan mengembangkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

8. Petugas perpustakaan dapat berperan sebagai pembimbing dan memberikan konsultasi kepada pemakai atau melakukan pendidikan

pemakai (users education), dan pembinaan serta menanamkan pemahaman tentang pentingnya perpustakaan bagi orang banyak.

9. Perpustakaan berperan dalam menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik semua hasi karya umat manusia yang tak ternilai harganya.

10.Perpustakaan dapat berperan sebagai ukuran (barometer) atas kemajuan masyarakat dilihat dari intensitas kunjungan dan pemakai perpustakaan. Sebab masyarakat yang sudah maju dapat ditandai dengan adanya perpustakaan yang sudah maju pula, sebaliknya masyarakat yang sedang berkembang biasanya belum memiliki perpustakaan yang memadai dan representatif.

11.Secara tidak langsung, perpustakaan yang berfungsi dan telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dapat ikut berperan dalam mengurangi dan mencegah kenakalan remaja seperti tawuran, penyalah gunaan obat-obatan terlarang, dan tindak indisipliner.

D. Tugas dan Fungsi Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota

1. Tugas Pokok Perpustakaan Umum

Tugas adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan atau dikerjakan. Tugas perpustakaan artinya suatu kewajiban yang telah ditetapkan untuk dilakukan di dalam perpustakaan. Setiap perpustakaan mempunyai tugas sebagaimana yang dibebankan oleh lembaga induk yang menaunginya. Perpustakaan umum yang berada pada tingkat kabupaten/kota mempunyai

tugas di bidang layanan informasi, pendidikan, rekreasi, preservasi dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat secara luas. (Sutarno NS, 2006, h.72)

2. Fungsi-fungsi Perpustakaan Umum

Pada prinsipnya sebuah perpustakaan mempunyai tiga kegiatan utama yaitu menghimpun, memelihara, dan memberdayakan semua koleksi bahan pustaka. Fungsi-fungsi sebuah perpustakaan menurut Pedoman Penyelengaraan Perpustakaan Umum sebagai berikut:

a. Pengadaan bahan pustaka, meliputi kegiatan: 1) Menghimpun/mengumpulkan 2) Membeli 3) Menerima sumbangan/bantuan 4) Tukar-menukar 5) Menggandakan 6) Menerbitkan 7) Kerjasama koleksi b. Pengolahan 1) Registrasi 2) Pengecapan 3) Katalogisasi 4) Klasifikasi

5) Pengetikan kartu buku 6) Pengetikan kartu katalog

7) Pembuatan nomor barcode (sistem komputer)

8) Pembuatan perlengkapan buku (label, slip buku, slip tanggal, sampul, dan lain-lain)

9) Pembuatan lembar kerja 10)Penjajaran kartu (file)

11) Penyusunan koleksi pada tempat tertentu (rak buku, majalah, koran, lemari/laci, dan lain-lain)

12)Pemasukan data (data entry) c. Layanan

1) Sirkulasi (peminjaman/pengembalian) 2) Keanggotaan

3) Referensi

4) Bimbingan dan penyuluhan pada pemakai 5) Layanan pembaca

6) Layanan unit perpustakaan keliling (perpustakaan umum)/layanan ekstensi

7) Penelitian

8) Layanan lain yang mungkin dilakukan 9) Pendidikan pemakai

d. Pemasyarakatan/sosialisasi meliputi: 1) Publikasi

2) Promosi

e. Kerjasama layanan antar perpustakaan mencakup kegiatan: 1) Pengolahan

2) Katalog induk

3) Pembinaan dan pengembangan profesi 4) Sistem jejaring/jaringan

f. Untuk perpustakaan tertentu dikembangkan fungsi: 1) Penyusunan dan penerbitan bibliograsi

2) Abstrak 3) Indeks

4) Kumpulan karangan ilmiah (makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain)

5) Artikel, kliping, dan lain-lain.

g. Pengembangan sumber daya manusia, mencakup: 1) Seminar, loka karya, pendidikan dan pelatihan 2) Program pendidikan formal

3) Keanggotaan organisasi profesi, dan lain-lain. h. Pembinaan dan pengembangan organisasi

1) Penelitian dan pengembangan

2) Pengelolaan/manajemen perpustakaan 3) Studi banding

4) Menjalin mitra kerja, dan lain-lain.

i. Melakukan upaya preservasi koleksi antara lain: 1) Memelihara bahan pustaka

2) Merawat bahan pustaka 3) Melakukan penyiangan 4) Melakukan fumigasi

5) Menjaga temperatur/suhu agar stabil 6) Mengatur ventilasi udara

7) Menjaga koleksi supaya tetap baik

8) Menjaga kebersihan perpustakaan, dan lain-lain. j. Membuat peraturan tata tertib meliputi:

1) Jadwal layanan 2) Persyaratan anggota 3) Peminjaman/pengembalian 4) Penghargaan dan sanksi

5) Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pengunjung dalam perpustakaan

6) Suasana tertib di perpustakaan

k. Penerapan dan pemanfaatan teknologi informasi untuk: 1) Seleksi dan pengolahan koleksi

2) Pengolahan 3) Layanan 4) Penelusuran 5) Akses informasi 6) Jaringan

8) Promosi dan publikasi

9) Sosialisasi, promosi dan publikasi.

l. Menciptakan dan mengembangkan iklim di perpustakaan agar: 1) Masyarakat tahu tentang arti kegunaan, kegiatan perpustakaan 2) Masyarakat tertarik, berminat, tergugah untuk ke perpustakaan 3) Meningkatkan jumlah pengunjung dan anggota perpustakaan 4) Pengunjung merasakan dilayani dengan baik dan memuaskan 5) Merasa nyaman (betah/tahan) di perpustakaan

6) Ingin sering kembali ke perpustakaan

7) Merasa mendapat perhatian, bimbingan atau bantuan oleh petugas perpustakaan

8) Merasa mendapat sesuatu yang menyenangkan 9) Memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya.

Keberadaan, peran, tugas dan fungsi perpustakaan yang telah dilaksanakan tersebut dimaksudkan dan diarahkan untuk melayani masyarakat pemakai. Kegiatan layanan perpustakaan umumnya berbentuk jasa dan bukan berupa barang. Berbagai jenis layanan yang diberikan perpustakaan umum antara lain layanan pendidikan, layanan informasi, dan layanan rekreatif.

E. Definisi Koleksi Fiksi dan Berbagai Jenis Koleksi Fiksi

Kata fiksi berasal dari kata fictio (bahasa Latin) berarti bentukan atau rekaan.Yakni karya tulis berupa karya rekaan atau imajinatif yang berdasarkan khayalan belaka. Oleh karena itu karya itu mampu menggugah perasaan dan daya khayal untuk merasakan kegembiraan atau kesusahan. Cerita fiksi bebas menciptakan peristiwa khayalan untuk maksud tertentu misalnya untuk menyampaikan makna. (Lasa HS, 2009, h.82)

Menurut Efendi dalam Tresia dan Marlini (2013, h.494) ciri-ciri koleksi fiksi adalah:

1) Memiliki gagasan berupa ide yang akan diuraikan dalam cerita

2) Memiliki alur atau plot yakni peristiwa sehingga bergambar urutan kejadian

3) Penokohan yang merupakan pencitraan dari tokoh yang diceritakan

4) Latar (setting) yang menjelaskan mengenai dimensi ruang dan waktu serta suasana dalam sebuah cerita

5) Sudut pandang kepenulisan, berupa posisi penulis dalam cerita, penulis bisa menjadi tokoh maupun yang menjelaskan cerita.

Berbagai jenis koleksi fiksi dalam buku Mendongeng dan Minat Baca (2008, h. 29) adalah:

a. Buku bacaan bergambar: untuk jenis bacaan ini, dalam bahasa inggris dipakai istilah picture book. Ada dua golongan besar buku jenis ini, yaitu yang menyuguhkan informasi disebut buku bacaan bergambar, dan yang lebih berupa cerita disebut buku cerita bergambar. Pada buku cerita

bergambar, jalan ceritanya berkesinambungan, sehingga gambar dan teks di seluruh buku selalu ada hubungannya. Sedangkan ada buku bacaan bergambar karena lebih bersifat informasi dan tidak membentuk cerita, setiap halaman buku bisa berdiri sendiri. Maksudnya, tokoh atau informasi bisa berlainan asal gambar dan teks pada halaman tersebut sesuai.

b. Komik: komik dan buku cerita bergambar sering dikacaukan. Meskipun sama-sama bergambar, dari segi penyajiannya jelas sekali bedanya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada setiap halaman buku komik, terdapat banyak gambar yang disusun vertikal dan horisontal, dengan balon-balon teks di dalamnya yang bisa terdiri dari berbagai bentuk untuk menunjukkan berbagai maksud. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) definisi komik adalah cerita bergambar (dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yang umumnya mudah dicerna dan lucu. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa komik adalah cerita bergambar yang mempunyai ciri khas dalam percakapannya. Percakapannya menggunakan balon-balon teks berbagai bentuk untuk menjelaskan cerita dari gambar tersebut.

c. Sastra tradisional: cerita-cerita yang termasuk dalam jenis sastra tradisional adalah cerita rakyat yang meliputi legenda, mite dan dongeng. 1) Legenda: bersifat sekuler (keduniawiaan) dan peristiwanya terjadi pada

masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia yang kita kenal sekarang. Ada 4 penggolongan legenda yaitu legenda

keagamaan, misalnya cerita tentang orang saleh seperti Wali Sanga, Syech Siti Jenar, Ki Pandang Arang, dan lain-lain. Legenda setempat, yaitu cerita yang berrhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, bentuk permukaan suatu tempat dan sebagainya. Misalnya cerita tentang Gunung Tangkuban Perahu, Telaga Rawa Pening, kota kecil Kuningan, dan lain-lain. Legenda alam gaib, misalnya cerita tentang makhluk gaib, hantu, siluman, gejala-gejala alam yang gaib dan sebagainya. Legenda perseorangan, misalnya mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap benar-benar ada, seperti cerita Panji, Jayaparna (tokoh yang populer di Bali), si Pitung dari Betawi, dan sebagainya. 2) Mite: bercerita tentang dewa-dewi, asal usul dunia, asal usul manusia

dan sebagainya. Misalnya cerita tentang Dewi Sri, yang menurut cerita mite jenazahnya mentis menjadi padi, sehingga Dewi Sri dipercaya sebagai dewi Padi dan kesuburan. Contoh lainnya adalah Ramayana, Mahabarata, Perang Troya, cerita tentang Dewa Zeus, Dewi Venus, dan lain-lain

3) Dongeng: adalah cerita yamg khusus yaitu mengenai manusia atau binatang. Ceritanya tidak dianggap benar-benar terjadi, walaupun ada banyak yang melukiskan kebenaran atau berisikan moral. Contohnya adalah cerita Ande-Ande Lumut, Puteri Salju, Suwidak Loro dan sebagainya, sedangkan dongeng binatang yang paling terkenal adalah dongeng Sang Kancil. Suatu bentuk khusus dari dongeng binatang adalah apa yang disebut dengan fabel yaitu cerita yang mengandung

moral, yakni ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan, misalnya cerita “Seorang Brahmana dan Anjing Hutan yang Tak Tahu Membalas Budi”.

d. Fantasi modern: cerita yang termmasuk fantasi modern adalah cerita yang ditulis oleh seorang pengarang. Cerita ini bisa berupa dongeng-dongeng modern yang banyak mengambil elemen-elemen cerita rakyat, misalnya karangan Hans Cristian Andersen, Sri Rejeki karangan Dwianto Setyawan. Menurut Riris K. Toha-Sarumpet (2010, h.27) terminologi ini merujuk pada sifatnya yang khayali dan bersumber dari imajinasi. Apa yang terjadi itu adalah hadirnya peri, dewa, naga, atau objek yang mempunyai kekuatan supranatural seperti keris, panci, cermin, sapu, cincin dan lain-lain dalam sebuah cerita.contohnya adalah segala yang ditulis oleh dua bersaudara Grimm, H. C. Andersen, Lewis Carrol, J.K Rowling serta para penulis lain. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa fantasi modern adalah sebuah cerita yang tidak benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, yang sesungguhnya tidak ada dan hanya sebuah cerita imajinasi dari pengarangnya

e. Fiksi realitas: semua hal dalam cerita semacam ini dapat dibayangkan terjadi pada kehidupan manusia yang nyata di dalam dunia fiksi kita, jadi ceritanya terjadi di dalam dunia yang mungkin, sebab pengarang menulis cerita yang realistis. Sedangkan menurut Riris K. Toha – Sarumpet (2010 h. 28) fiksi realistik atau cerita realistik penggambaran di dalamnya dapat mendekatkan mereka pada kehidupan yang nyata. Segala sesuatu yang

terjadi di dalam cerita realistik mungkin saja terjadi dalam kehidupan. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa fiksi realitas adalah sebuah cerita fiksi yang kejadian atau jalan ceritanya dapat terjadi di dalam kehidupan nyata. Contohnya adalah cerita Lima Sekawan di Pulau Harta (1998) karya Enid Blyton.

f. Fiksi sejarah: bercerita tentang rakyat biasa, di mana peristiwa sejarah menjadi latar belakang dan sumber inspirasi ceritanya. Contohnya adalah: “Rumah Kecil di Padang rumput” (Little House on the Praire).

g. Puisi: dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) puisi adalah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi irama, dan makna khusus.

h. Novel: berasal dari bahasa italia novella. Secara harfiah berarti sebuah barang baru yang kecil. Istilah novella mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris: novelette) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. (Burhan, 2002, h.10)

i. Fiksi gotik: fiksi ini lebih sering disebut “cerita horror”. Cerita ini banyak mengeksplorasi kematian, kebusukan (dalam artinya yang paling harfiah), benda atau keadaan menjijikkan, dan segala yang supranatural. Contohnya adalah cerita Frankenstein karya Mary Shelley. (Robert, 2007, h.122)

j. Fiksi romantis: menggambarkan hidup sebagai pergulatan antara emosi individu dengan kekuatan alam, termasuk juga emosi orang lain. Dari sudut pandang filsafat, romantis berarti menolak yang monoton, bodoh, mapan, dan segala produk artifisial dunia modern. Eskapisme romantis memiliki tujuan akhir yaitu mencari dan menciptakan jenis dunia baru yang mengagungkan alam, emosi, dan individualisme. Oleh karena itulah fiksi romantis kerap mengambil latar masa yang sudah lewat, tempat yang tidak biasa atau di luar jangkauan, atau wilayah rekaan yang lokasi sebenarnya tidak jelas. Contohnya adalah On The Road karya Kerourac, Wuthering Heights karya Emily Bronte.

Berbagai definisi jenis koleksi fiksi diatas digunakan sebagai acuan dalam menentukan jenis-jenis koleksi fiksi yang menjadi koleksi di perpustakaan yang akan diteliti dalam pemanfaatannya pada Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan.

F. Pemanfaatan Koleksi Fiksi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1998) pemanfaatan berasal dari kata dasar manfaat yang berarti guna, faedah. Adapaun memanfaatkan berarti membuat sesuatu menjadi berguna. Jadi, pemanfaatan adalah hal, cara, hasil kerja memanfaatkan.

Pemanfaatan koleksi adalah suatu proses dari penggunaan koleksi yang ada. Bagi perpustakaan, daftar pemanfaatan koleksi berpengaruh bagi rencana pengadaan bahan pustaka periode berikutnya. Pemanfaatan koleksi yang

bersumber dari pengguna akan kembali lagi kepada pengguna karena perpustakaan akan berupaya meningkatkan pelayanan terbaik bagi penggunanya.

Pada dasarnya pemanfaatan koleksi perpustakaan mencakup dua hal yaitu menggunakan koleksi dalam ruangan perpustakaan (in library use) dan meminjam koleksi dari bagian sirkulasi untuk digunakan di luar perpustakaan (out library use).

Cara memanfaatkan koleksi fiksi pada perpustakaan pada umumnya yaitu seperti berikut:

1. Meminjam

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) definisi meminjam adalah memakai barang (uang, dan sebagainya) orang lain untuk waktu tertentu (kalau sudah sampai waktunya harus dikembalikan). Biasanya pengguna melakukan peminjaman melalui meja sirkulasi perpustakaan setelah mendapatkan fiksi yang ia inginkan. Peminjaman buku fiksi memiliki batasan waktu yang ditentukan oleh masing-masing perpupstakaan. Dengan melakukan peminjaman, pengguna memiliki waktu lebih banyak untuk membaca fiksi yang ia pinjam. Fiksi tersebut dapat diperpanjang masa peminjamannya dan kemudian dikembalikan lagi ke meja sirkulasi.

2. Membaca di tempat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis(dengan melisankan atau hanya dihati). Membaca merupakan kegiatan yang dapat menambah ilu pengetahuan.Bagi pengguna yang memiliki waktu luang cenderung membaca di ruang baca perpustakaan.Pengguna dapat memilih beberapa buku untuk dibaca dan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Pada perpustakaan yang memiliki ruang baca yang nyaman, akanmenambah pengguna yang akan membaca fiksi di perpustakaan tanpa harus meminjam. Cara seperti ini dibatasi oleh jam layanan perpustakaan.

3. Mencatat informasi dari buku

Terkadang pengguna hanya melakukan pencatatan informasi yang ia dapat dari koleksi. Dengan cara seperti ini, pengguna mendapatkan informasi ringkas tentang berbagai masalah dari beberapa fiksi berbeda.

4. Memfotocopy

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) memfotocopy adalah membuat reproduksi dengan mesin fotokopi.Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer (2002, h. 425) makna dari memfotocopy adalah membuat salinan barang cetakan, atau barang tulisan lainnya dengan menggunakan mesin fotocopy.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa memfotocopy koleksi perpustakaan adalah membuat salinan dari suatu koleksi perpustakaan dengan menggunakan mesin fotocopy.

Dengan memfotocopy pengguna dapat memiliki sendiri informasi-informasi yang ia inginkan. Cara seperti ini biasanya dilakukan oleh pengguna yang memiliki waktu terbatas untuk ke perpustakaan.

G. Tujuan Memanfaatan Koleksi Fiksi

Koleksi fiksi dapat memenuhi kebutuhan pemustaka dalam bidang pendidikan dan hiburan. Keberhasilan perpustakaan dalam memberikan hiburan dan pendidikan tidak terlepas dari pemanfaatan koleksi fiksi yang baik dan benar. Dengan demikian, dalam menghimpun dan mengelola koleksi fiksi perlu penanganan yang serius dan pengetahuan teknis yang baik agar koleksi fiksi tersebut nantinya dapat dimannfaatkan untuk meningkatkan minat baca para pemustakanya karena di dalamnya terdapat unsur hiburan dan pendidikan.

BAB III

GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

A. Sejarah Singkat

Seiring diberlakukannya undang-undang tentang otonomi daerah, pemerintah kota Tangerang Selatan membentuk Perpustakaan umum daerah Kota Tangerang Selatan berdasarkan peraturan daerah Nomor 6 tahun 1999 dan surat keputusan walikota Tangerang Nomor 20 tahun 2001 tentang organisasi dan tata kerja perpustakaan umum daerah kota Tangerang. Berdasarkan hal tersebut, Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan resmi berdiri pada tanggal 17 Januari 2011.Perpustakaan ini terletak di Graha Mitra, Jl. Raya Siliwangi No.3 RT 01/RW 04 Pondok Benda Pamulang 15416.

B. Visi dan Misi

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan menetapkan visi dan misi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang.

Visi

Terwujudnya kantor perpustakaan daerah sebagai pusat layanan informasi menuju peningkatan mutu pendidikan masyarakat kota Tangerang Selatan yang cerdas, modern, dan religius.

Misi

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan perpustakaan 2. Meningkatkan kualitas sumber daya pengelolaan perpustakaan 3. Meningkatkan kualitas layanan serta pemasyarakatan perpustakaan 4. Meningkatkan pengembangan, pembinaan perpustakaan

5. Meningkatkan jaringan informasi dan kerjasama perpustakaan 6. Meningkatkan budaya baca masyarakat

C. Struktur Organisasi

Gambar 1

Struktur Organisasi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan

D. Sumber Daya Manusia

Jumlah pegawai yang ada di bagian Layanan Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang berjumlah 32 orang.Pengemudi berjumlah 8 orang untuk Perpustakaan Keliling.Karyawan dengan latar belakang pendidikan S1 berjumlah 23 orang dan Pramubakti berjumlah 1 orang.

E. Koleksi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan

Koleksi yang ada di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan sangat beragam. Semua koleksi diurutkan berdasarkan kelasnya masing-masing dengan berpedoman kepada DDC 21. Berikut adalah koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan:

Tabel 1 Data Koleksi

Kelas Eksemplar Kelas Eksemplar

000 1510 700 1314 100 1540 800 511 200 358 900 908 300 3202 Koleksi Referensi 136 400 441 Koleksi Fiksi 3220 500 1748 Total Koleksi 20.180 600 5292

Koleksi fiksi yang ada di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan berada di lantai 2. Koleksi ini berada dalam rak kelas 600

Dokumen terkait