PEMANFAATAN KOLEKSI FIKSI DI
PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH KOTA
TANGERANG SELATAN
SkripsiDiajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP)
Oleh:
Intan Mayasari
Nim: 1110025000094
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
i Intan Mayasari
Pemanfaatan Koleksi Fiksi di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemetaan pemanfaatan terhadap koleksi fiksi, tujuan pemanfaatan koleksi fiksi, dan cara pemanfaatan koleksi fiksi. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan data dengan menyebarkan kuisioner (angket). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan yang berjumlah 1.008 orang. Sampel yang diambil 10% dari jumlah populasinya, yaitu 1.008 x 10% = 100,8 di bulatkan menjadi 101 orang/responden. Berkaitan dengan pemetaan pemanfaatan terhadap koleksi fiksi, bahwa koleksi fiksi yang dibaca di perpustakaan dalam sehari adalah satu buah buku, koleksi fiksi yang sering dibaca dan di pinjam di perpustakaan adalah novel, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk membaca satu cerita fiksi adalah satu hari. Kemudian mengenai tujuan utama pemanfaatan koleksi fiksi di Perpustakaan Umum Kota Tangerang Selatan, sebagian besar yaitu mengisi waktu. Alasan responden memilih untuk mengisi waktu adalah karena responden hampir setengahnya menyukai cerita fiksi. Adapun cara pemanfaatan koleksi fiksi di perpustakaan yaitu sebagian besar dengan cara meminjam. Alasan responden memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara meminjam dipilih adalah karena lebih nyaman membaca di rumah daripada di perpustakaan.
ii
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, karunia serta bimbinganNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Kuliah (Skripsi) ini dengan lancar dan tepat pada waktunya dengan judul “Pemanfaatan
Koleksi Fiksi dI Perpustakaan Umum Derah Kota Tangerang Selatan”.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Junjungan Nabi besar
Muhammad SAW.
Pada proses penulisan skripsi ini banyak hambatan yang dihadapi penulis
namun itu semua merupakan proses pembelajaran. Tersusunnya penulisan skripsi tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Pungki Purnomo, MLIS dan selaku Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan juga sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan pengarahan serta bersedia
meluangkan waktunya hingga penulisan skripsi ini selesai.
3. Bapak Mukmin Suprayogi, M.Si Sekretaris Jurusan Ilmu Perpustakaan
iii
Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada penulis.
5. Bapak Iip, Bapak Syahril dan Ibu Atik selaku staff perpustakaan yang telah banyak membantu penulis selama melakukan penelitian di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan.
6. Kedua orangtuaku Amir Mahmud dan Mamah tercinta Nurhayati, adikku Ahmad Zia Al-Haq terimakasih untuk setiap untaian doa, kasih sayang,
perhatian, dukungan, semangat, dan motivasi yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tanpa dorongan semangat dari
kalian skripsi ini tidak akan pernah ada.
7. Saudara-saudaraku yang tersayang Faisal Azhari, Khairul Insani, Intan Camelia Desie, Naufa Dea Imawati, dan Helmanita Kibtia, terimakasih
untuk semua dukungan dan doanya yang tak pernah henti.
8. Untuk Lutfan Zulwaqar, Intan Eka Saputri, Deuis Nur Afrianti, Maulidia
Putri, Annisa Haismaida dan Fatmala Dewi yang telah memberikan semangat dan dukungannya terhadap penulis hingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
9. Seluruh teman-teman Jurusan Ilmu Perpustakaan 2010, khususnya untuk sahabat-sahabatku Irmawati Azis, Nur Afidah, Gema Pertiwy Syafrianti
iv membantu menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
sempurna, namun penulis berusaha semampu dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki untuk menyusun penulisan skripsi dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu penulis mengharapkan partisipasi semua pihak untuk
memberikan kontribusi baik kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya penulisan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat dan
menambah wawasan bagi pembacanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jakarta, 22 Oktober 2014
v
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
DAFTAR GAMBAR ……….. x
DAFTAR TABEL ………. xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4
D. Metode Penelitian ... 5
1. Pendekatan Penelitian ... 5
2. Sumber Data ... 6
3. Populasi dan Sampel ... 6
4. Teknik Pengumpulan Data ... 7
vi
d. Wawancara………... 7
e. Kuesioner (Angket) ………. 8
5. Teknik Analisis Data ... 8
a. Editing………... 8
b. Tabulating………. 8
c. Perhitungan Data ……….. 9
E. Definisi Istilah ……….10
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II TINJAUAN LITERATUR A. Definisi Perpustakaan Umum………. 12
B. Definisi Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota ... 13
C. Peran Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota ... 14
D. Tugas dan Fungsi Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota... 16
E. Definisi Koleksi Fiksi dan Berbagai Jenis Koleksi Fiksi ... 22
F. Pemanfaatan Koleksi Fiksi ... 27
vii
KOTA TANGERANG SELATAN
A. Sejarah Singkat ... 31
B. Visi dan Misi ... 31
C. Struktur Organisasi ... 33
D. Sumber Daya Manusia ... 33
E. Koleksi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan ... 33
F. Jam Layanan Perpustakaan ... 34
G. Fasilitas Layanan Perpustakaan ... 35
H. Tata Tertib Perpustakaan ... 35
I. Data Pengunjung Perpustakaan………... 37 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian ... 38
B. Hasil Penelitian ... 39
C. Pembahasan ... 58
viii LAMPIRAN
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Pengajuan Proposal Skripsi
Lampiran 2 Surat Pengajuan Dosen Pembimbing Skripsi
Lampiran 3 Surat Izin Penelitian
x
Gambar 1 Struktur Organisasi 33
Gambar 2 Koleksi Fiksi yang di Baca di Perpustakaan Dalam Sehari 40 Gambar 3 Koleksi Fiksi yang Sering di Baca di Perpustakaan
Dalam Sehari 41
Gambar 4 Waktu yang di Butuhkan untuk Membaca Satu Cerita Fiksi 43
Gambar 5 Koleksi Fiksi yang Sering di Pinjam di Perpustakaan 44 Gambar 6 Alasan Utama Memanfaatkan Koleksi Fiksi 45
Gambar 7 Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk
Tujuan Mengisi Waktu 46
Gambar 8 Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk Tujuan Hiburan 48
Gambar 9 Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk Tujuan Hobi 49 Gambar 10 Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk
Tujuan Menambah Ilmu Pengetahuan 50 Gambar 11 Cara Utama Memanfaatkan Koleksi Fiksi 52 Gambar 12 Memanfaatkan Koleksi Fiksi dengan Cara Meminjam 53
Gambar 13 Memanfaatkan Koleksi Fiksi dengan Cara Membaca
di Tempat 54
Gambar 14 Memanfaatkan Koleksi Fiksi dengan Cara
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Data Koleksi 34
Tabel 2 Data Pengunjung 37
Tabel 3 Data Responden 39
1
A. Latar Belakang
Perpustakaan umum merupakan sumber belajar yang nyata bagi masyarakat. Tujuan dari perpustakaan umum adalah membina dan mendidik masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan memanfaatkan bahan
pustaka dengan baik agar mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan perpustakaan umum daerah yang koleksinya mendukung pelestarian hasil budaya daerah masing-masing dan memfasilitasi
terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Perpustakaan umum yang diselanggarakan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan mengembangkan sistem layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.( UU No.
43 tahun 2007 pasal 22 ayat 2 dan 3)
Perpustakaan umum menyediakan berbagai koleksi yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menambah pengetahuan. Koleksi yang
Umum, dinyatakan bahwa ”Koleksi perpustakaan umum mencakup bahan pustaka tercetak serta buku, majalah dan surat kabar, bahan pustaka terekam
dan elektronik seperti kaset, video, piringan (disk) dan lain-lain”.
Menurut Ibrahim Bafadal (2006, h.27) bahan pustaka ditinjau dari
isinya dapat dibagi ke dalam dua kelompok yaitu, (a) bahan-bahan pustaka yang isinya fiksi, atau buku-buku fiksi seperti, buku cerita anak-anak, cerpen, novel (b) bahan-bahan pustaka yang isinya disebut nonfiksi atau buku-buku
nonfiksi, seperti buku-buku rereferensi, biografi, ensiklopedi, majalah, dan surat kabar.
Koleksi fiksi adalah salah satu koleksi yang banyak diminati oleh para
pemustaka. Fiksi menceritakan kisah yang imajinatif yang biasanya menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia yang berinteraksi dengan
diri sendiri, lingkungan disekitarnya, dan Tuhan. Fiksi menurut Aiten Bernd dan Lewis dalam Burhan (2002, h.2) dapat diartikan sebagai prosa naratif
yang bersifat imajinatif namun biasanya masuk akal dan mengandung dramatisasi hubungan-hubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan
namun hal itu dilakukan sacara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukkan unsur hubungan dan penerangan terhadap
pengalaman kehidupan manusia.
menangis, bahagia, atau merasa bersemangat seolah-olah baru saja mendapatkan pencerahan. Pengaruh koleksi fiksi di perpustakaan umum
sangat menarik minta para pemustakanya. Karena banyak orang yang lebih senang membaca koleksi fiksi daripada koleksi non fiksi.
Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan memiliki koleksi berjumlah sekitar 20.000 eksemplar dengan berbagai macam jenis seperti ada koleksi fiksi, referensi, dan elektronik. Selama ini, perpustakaan di anggap
sebagai tempat yang sepi, gelap, tidak menyenangkan, dan tempat pemyimpanan buku atau sebagai gudang penyimpanan buku.
Sebagian besar koleksi yang banyak di pinjam di Perpustakaan Daerah
Kota Tangerang Selatan adalah koleksi fiksi, tetapi belum diketahui seberapa jauh koleksi-koleksi fiksi tersebut di manfaatkan oleh pemustakanya. Maka
penulisan skripsi ini berusaha untuk meneliti, apakah koleksi fiksi yang ada di Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan sudah dimanfaatkan dengan
baik.
Oleh karena itu, dalam hal ini penulis ingin membahas tentang
“Pemanfaatan Koleksi Fiksi di Perpustakaan Daerah Kota Tangerang
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar penelitian lebih terarah dan sesuai dengan masalah di atas, maka
penulis memberikan batasan masalah yang sesuai dengan topik yang akan diteliti. Pembahasan hanya dibatasi pada tentang pemanfaatan koleksi fiksi di
Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan.
Untuk memperjelas sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian dan sesuai dengan masalah yang akan diteliti, maka perlu membuat rumusan suatu
masalah. Perumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pemetaan pemanfaatan terhadap koleksi fiksi apa yang sering dibaca
oleh pemustaka di Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan? b. Mengapa pemustaka memanfaatan koleksi fiksi di Perpustakaan
Daerah Kota Tangerang Selatan?
c. Bagaimana cara pemanfaatan koleksi fiksi oleh pemustaka di Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian mengenai pemanfaatan koleksi fiksi di Perpustakaan Umum
Daerah Kota Tangerang Selatan ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui pemetaan pemanfaatan terhadap koleksi fiksi
apa yang banyak dibaca oleh pemustaka di Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan.
2. Untuk mengetahui mengapa pemustaka memanfaatan koleksi fiksi
3. Untuk mengetahui cara pemanfaatan koleksi fiksi oleh pemustaka
di Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan.
Dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
a. Memberikan masukan yang berguna bagi Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan dalam mendorong siswa memanfaatkan koleksi fiksi, dan sebagai masukan dalam hal pengembangan koleksi fiksi.
b. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis tentang pemanfaatan koleksi fiksi.
c. Skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat dan menambah wawasan baru
bagi pembaca.
D. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu gejala yang ada atau keadaan gejala apa adanya pada saat penelitian
dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif. Kuantitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap angka, baik angka
2. Sumber data
Sumber data yang digunakan sebagai berikut:
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari
responden yang ditemui langsung di lokasi penelitian yaitu dengan cara menyebarkan kuisioner kepada para pemustaka yang datang ke Perpustakan Umum Daerah Tangerang Selatan
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku atau
literatur-literatur, dokumen, dan artikel yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. (Koenjtraningrat, 1991, h.25)
3. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi seperti disebut Daergibson Siagan dan Sugiarto adalah
himpunan semua elemen yang menjadi pusat perhatian penelitian.(Ipah, 2006, h.45)
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Perpustakaan
Daerah Kota Tangerang Selatan yang berjumlah 1.008 orang. b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari hasil populasi. Berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto, yang menyatakan “jika populasi melebihi dari
100 orang, maka sampel dapat diambil 10%-15% atau 20%-25% atau
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka penulis mengambil sampel sebanyak 10% dari jumlah populasinya, yaitu 1.008 x 10% = 100,8
dibulatkan menjadi 101 orang. 4. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah:
a. Penelitian Pustaka (Library Research)
Dalam riset perpustakaan peneliti melakukannya dengan mempelajari buku-buku, literatur-literatur, dokumen dan artikel dengan maksud
untuk mendapatkan gambaran teoritis sesuai dengan masalah yang akan dibahas dalam skripsi
b. Penelitian Lapangan (Field Research)
Dalam penelitian ini ada beberapa cara yang penulis tempuh, antara lain:
c. Observasi
Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangankan
hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut ( jadi penulis terjun langsung ke lokasi penelitian untuk melakukan pengamatan secara
langsung. d. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh
memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Lexy J. Moleong, 2001, h.135)
e. Kuesioner (angket), yaitu dengan cara pengumpulan data berbentuk pengajuan pertanyaan tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan yang
sudah disipakan sebelumnya. (Anas, 1999, h.77) 5. Teknik Analisis Data
Setelah data diperoleh maka langkah selanjutnya adalah menganalisi data
melalui beberapa tahap, yaitu: a. Editing
Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai menghimpun data di lapangan.Editing data mengacu pada kegiatan persiapan data sebelum dianalis. Dalam proses editing ini, peneliti
melakukan pemeriksaan awal terhadap data, untuk meyakinkan agar data tersebut tidak mengandung kesalahan atau cacat. Peneliti melihat
dengan cermat apakah ada data kuisioner yang secara salah diisi oleh responden, ada halaman yang hilang dan poin-poin yang terlewatkan. (Prasetya, 1999,h.217)
b. Tabulating
Yaitu mentabulasikan atau memindahkan jawaban-jawaban
c. Perhitungan Data
Perhiutngan data merupakan suatu ptoses lanjutan dari proses
pengolahan data untuk melihat bagaimana menginterpretasikan data, kemudian menganalisis data dari hasil yang sudah ada pada tahap
hasil pengolahan data. Data-data yang diterima melalui kuesioner ini kemudian diolah dengan menggunakan teknik presentase dengan
menggunakan rumus:
X 100 %
Ket:
P : Angka persentase untuk setiap kategori
F : Frekuensi jawaban responden
N : jumlah responden . (Anas, 2005, h.43)
Adapun parameter untuk penafsiran nilai persentase adalah: 0 % = Tidak Satupun
1 – 25% = Sebagian Kecil 25 – 49% = Hampir Setengahnya 50% = Setengahnya
51 – 75% = Sebagian Besar 76 – 99% = Hampir Seluruhnya
E. Definisi Istilah
Pemanfaatan koleksi adalah suatu proses dari penggunaan koleksi yang ada.
Fiksi adalah karya tulis berupa karya rekaan atau imajinatif yang berdasarkan khayalan belaka.
Perpustakaan Umum adalah pusat informasi yang menyediakan
pengetahuan dan informasi siap akses bagi pemakainya.
F. Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
Pada bab ini berisi latar belakang, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, definisi istilah dan sistematika
penulisan. BAB II Tinjuan Literatur
Pada bab ini berisikan landasan teoritis yang berkaitan dengan masalah yang hendak diteliti, yaitu tentang perpustakaan umum dan lebih fokus pada pembahasan
mengenai pemanfaatan koleksi fiksi.
BAB III Tinjauan Umum Perpustakaan Daerah Kota Tangerang
Selatan
Untuk bab ini akan menggambarkan kondisi umum Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan mulai dari
sumber daya manusia, program-program dan data pengunjung.
BAB IV Hasil Penelitian
Bab ini berisi tentang pelaksanaan penelitian, hasil penelitian, dan analisa data
BAB V Penutup
Untuk bab terakhir ini berisikan kesimpulan dari
BAB II
TINJAUAN LITERATUR
A. Definisi Perpustakaan Umum
Perpustakaan umum adalah pusat informasi yang menyediakan pengetahuan dan informasi siap akses bagi pemakainya. Di dalam buku Etika Kepustakawanan (2006, h.30) Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang
melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan dan sebagainya.
Definisi lain dari perpustakaan umum adalah pusat informasi yang menyediakan pengetahuan dan informasi siap akses bagi para pemakainya. Layanan perpustakaan umum disediakan dengan dasar kesamaan umur, ras,
gender, agama, kebangsaan, bahasa, dan status sosial. Layanan dan materi khusus harus disediakan bagi pihak yang karena alasan tertentu tidak dapat
menggunakan layanan dan materi biasa. Sebagai contoh pihak dengan bahasa minoritas, para penyandang cacat, orang sakit maupun narapidana. (Blasius,
2006, h. 159)
Perpustakaan umum sering diibaratkan sebagai Universitas Rakyat atau Universitas Masyarakat. Makasudnya adalah bahwa perpustakaan umum
merupakan lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan berbagai informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, sebagai sumber
belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan bagi seluruh
lapisan masyarakat. (Sutarno NS, 2006, h.32)
Perpustakaan-perpustakaan yang termasuk didalam kategori perpustakaan umum adalah:
1. Perpustakaan umum kabupaten/kota
2. Perpustakaan umum tingkat kecamatan
3. Perpustakaan desa/kelurahan
4. Perpustakaan cabang
5. Taman bacaan rakyat/taman bacaan masyarakat
6. Perpustakaan keliling merupakan peluasan layanan (ekstensi) dari perpustakaan umum kabupaten/kota.
B. Definisi Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota
Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota adalah perpustakaan yang
lazimnya didirikan oleh pemerintah daerah (ada juga yang mula-mula dididrikan oleh pihak swasta, kemudian diserahan kepada pihak pemerintah) serta dikelola oleh pemerintah daerah. Dalam hal ini adalah pemerintah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). (Sulistyo-Basuki, 1993, h.9)
Untuk kebanyakan perpustakaan umum tingkat kabupaten/kota pada saat ini telah dipegang penuh kendalinya oleh pemerintah kabupaten/kota
yang berwenang di wilayahnya.
C. Peran Perpustakaan Umum kabupaten Kota
Setiap perpustakaan yang dibangun akan mempunyai makna apabila dapat menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya. Peranan tersebut
berhubungan dengan keberadaan, tugas dan fungsi perpustakaan. Peranan yang dapat dijalankan oleh perpustakaan antara lain:
1. Secara umum perpustakaan merupakan sumber informasi, pendidikan,
penelitian, preservasi dan pelestarian khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat, murah, dan bermanfaat.
2. Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya.
3. Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai, dan antara
penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat yang dilayani.
4. Perpustakaan dapat pula berperan sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca,
dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu apabila tidak ada perpustakaan, atau perpustakaan ada yang kurang berperan
dengan baik, mungkin anggota masyarakat yang baru belajar membaca, atau sedang membiasakan diri membaca, dan membutuhkan sumber
bacaan, dapat berkurang secara perlahan-lahan dan hilang semangatnya. 5. Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator, dan
motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.
6. Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan agen
kebudayaan umat manusia. Sebab berbagai penemuan, sejarah, pemikiran, dan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan pada masa yang lalu, yang direkam dalam bentuk tulisan atau bentuk tertentu yang disimpan di
perpustakaan. Koleksi tersebut dapat dipelajari, diteliti, dikaji, dan dikembangkan oleh generasi sekarang, dan kemudian dipergunakan
sebagai landasan penuntun untuk merencanakan masa depan yang lebih baik.
7. Perpustakaan berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi
anggota masyarakat dan pengunjung perpustakaan. Mereka dapat belajar secara mandiri (otodidak), melakukan penelitian, menggali,
memanfaatkan dan mengembangkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan.
8. Petugas perpustakaan dapat berperan sebagai pembimbing dan
pemakai (users education), dan pembinaan serta menanamkan pemahaman tentang pentingnya perpustakaan bagi orang banyak.
9. Perpustakaan berperan dalam menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik semua hasi karya umat
manusia yang tak ternilai harganya.
10.Perpustakaan dapat berperan sebagai ukuran (barometer) atas kemajuan masyarakat dilihat dari intensitas kunjungan dan pemakai perpustakaan.
Sebab masyarakat yang sudah maju dapat ditandai dengan adanya perpustakaan yang sudah maju pula, sebaliknya masyarakat yang sedang
berkembang biasanya belum memiliki perpustakaan yang memadai dan representatif.
11.Secara tidak langsung, perpustakaan yang berfungsi dan telah
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dapat ikut berperan dalam mengurangi dan mencegah kenakalan remaja seperti tawuran, penyalah
gunaan obat-obatan terlarang, dan tindak indisipliner.
D. Tugas dan Fungsi Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota
1. Tugas Pokok Perpustakaan Umum
Tugas adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan atau dikerjakan.
Tugas perpustakaan artinya suatu kewajiban yang telah ditetapkan untuk dilakukan di dalam perpustakaan. Setiap perpustakaan mempunyai tugas sebagaimana yang dibebankan oleh lembaga induk yang menaunginya.
tugas di bidang layanan informasi, pendidikan, rekreasi, preservasi dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat secara luas. (Sutarno
NS, 2006, h.72)
2. Fungsi-fungsi Perpustakaan Umum
Pada prinsipnya sebuah perpustakaan mempunyai tiga kegiatan utama yaitu menghimpun, memelihara, dan memberdayakan semua koleksi bahan pustaka. Fungsi-fungsi sebuah perpustakaan menurut Pedoman
Penyelengaraan Perpustakaan Umum sebagai berikut: a. Pengadaan bahan pustaka, meliputi kegiatan:
1) Menghimpun/mengumpulkan 2) Membeli
3) Menerima sumbangan/bantuan
4) Tukar-menukar 5) Menggandakan
6) Menerbitkan 7) Kerjasama koleksi b. Pengolahan
1) Registrasi 2) Pengecapan
3) Katalogisasi 4) Klasifikasi
5) Pengetikan kartu buku
7) Pembuatan nomor barcode (sistem komputer)
8) Pembuatan perlengkapan buku (label, slip buku, slip tanggal,
sampul, dan lain-lain) 9) Pembuatan lembar kerja
10)Penjajaran kartu (file)
11) Penyusunan koleksi pada tempat tertentu (rak buku, majalah, koran, lemari/laci, dan lain-lain)
12)Pemasukan data (data entry) c. Layanan
1) Sirkulasi (peminjaman/pengembalian) 2) Keanggotaan
3) Referensi
4) Bimbingan dan penyuluhan pada pemakai 5) Layanan pembaca
6) Layanan unit perpustakaan keliling (perpustakaan umum)/layanan ekstensi
7) Penelitian
8) Layanan lain yang mungkin dilakukan 9) Pendidikan pemakai
d. Pemasyarakatan/sosialisasi meliputi: 1) Publikasi
2) Promosi
e. Kerjasama layanan antar perpustakaan mencakup kegiatan: 1) Pengolahan
2) Katalog induk
3) Pembinaan dan pengembangan profesi
4) Sistem jejaring/jaringan
f. Untuk perpustakaan tertentu dikembangkan fungsi: 1) Penyusunan dan penerbitan bibliograsi
2) Abstrak 3) Indeks
4) Kumpulan karangan ilmiah (makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain)
5) Artikel, kliping, dan lain-lain.
g. Pengembangan sumber daya manusia, mencakup: 1) Seminar, loka karya, pendidikan dan pelatihan
2) Program pendidikan formal
3) Keanggotaan organisasi profesi, dan lain-lain. h. Pembinaan dan pengembangan organisasi
1) Penelitian dan pengembangan
2) Pengelolaan/manajemen perpustakaan
3) Studi banding
4) Menjalin mitra kerja, dan lain-lain.
i. Melakukan upaya preservasi koleksi antara lain:
2) Merawat bahan pustaka 3) Melakukan penyiangan
4) Melakukan fumigasi
5) Menjaga temperatur/suhu agar stabil
6) Mengatur ventilasi udara
7) Menjaga koleksi supaya tetap baik
8) Menjaga kebersihan perpustakaan, dan lain-lain.
j. Membuat peraturan tata tertib meliputi: 1) Jadwal layanan
2) Persyaratan anggota 3) Peminjaman/pengembalian 4) Penghargaan dan sanksi
5) Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pengunjung dalam perpustakaan
6) Suasana tertib di perpustakaan
k. Penerapan dan pemanfaatan teknologi informasi untuk: 1) Seleksi dan pengolahan koleksi
2) Pengolahan 3) Layanan
4) Penelusuran 5) Akses informasi 6) Jaringan
8) Promosi dan publikasi
9) Sosialisasi, promosi dan publikasi.
l. Menciptakan dan mengembangkan iklim di perpustakaan agar: 1) Masyarakat tahu tentang arti kegunaan, kegiatan perpustakaan
2) Masyarakat tertarik, berminat, tergugah untuk ke perpustakaan 3) Meningkatkan jumlah pengunjung dan anggota perpustakaan 4) Pengunjung merasakan dilayani dengan baik dan memuaskan
5) Merasa nyaman (betah/tahan) di perpustakaan 6) Ingin sering kembali ke perpustakaan
7) Merasa mendapat perhatian, bimbingan atau bantuan oleh petugas perpustakaan
8) Merasa mendapat sesuatu yang menyenangkan
9) Memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya.
Keberadaan, peran, tugas dan fungsi perpustakaan yang telah dilaksanakan tersebut dimaksudkan dan diarahkan untuk melayani masyarakat pemakai. Kegiatan layanan perpustakaan umumnya berbentuk
jasa dan bukan berupa barang. Berbagai jenis layanan yang diberikan perpustakaan umum antara lain layanan pendidikan, layanan informasi, dan
E. Definisi Koleksi Fiksi dan Berbagai Jenis Koleksi Fiksi
Kata fiksi berasal dari kata fictio (bahasa Latin) berarti bentukan atau
rekaan.Yakni karya tulis berupa karya rekaan atau imajinatif yang berdasarkan khayalan belaka. Oleh karena itu karya itu mampu menggugah
perasaan dan daya khayal untuk merasakan kegembiraan atau kesusahan. Cerita fiksi bebas menciptakan peristiwa khayalan untuk maksud tertentu misalnya untuk menyampaikan makna. (Lasa HS, 2009, h.82)
Menurut Efendi dalam Tresia dan Marlini (2013, h.494) ciri-ciri koleksi fiksi adalah:
1) Memiliki gagasan berupa ide yang akan diuraikan dalam cerita
2) Memiliki alur atau plot yakni peristiwa sehingga bergambar urutan kejadian
3) Penokohan yang merupakan pencitraan dari tokoh yang diceritakan
4) Latar (setting) yang menjelaskan mengenai dimensi ruang dan waktu serta
suasana dalam sebuah cerita
5) Sudut pandang kepenulisan, berupa posisi penulis dalam cerita, penulis bisa menjadi tokoh maupun yang menjelaskan cerita.
Berbagai jenis koleksi fiksi dalam buku Mendongeng dan Minat Baca (2008, h. 29) adalah:
a. Buku bacaan bergambar: untuk jenis bacaan ini, dalam bahasa inggris dipakai istilah picture book. Ada dua golongan besar buku jenis ini, yaitu yang menyuguhkan informasi disebut buku bacaan bergambar, dan yang
bergambar, jalan ceritanya berkesinambungan, sehingga gambar dan teks di seluruh buku selalu ada hubungannya. Sedangkan ada buku bacaan
bergambar karena lebih bersifat informasi dan tidak membentuk cerita, setiap halaman buku bisa berdiri sendiri. Maksudnya, tokoh atau
informasi bisa berlainan asal gambar dan teks pada halaman tersebut sesuai.
b. Komik: komik dan buku cerita bergambar sering dikacaukan. Meskipun
sama-sama bergambar, dari segi penyajiannya jelas sekali bedanya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada setiap halaman buku
komik, terdapat banyak gambar yang disusun vertikal dan horisontal, dengan balon-balon teks di dalamnya yang bisa terdiri dari berbagai bentuk untuk menunjukkan berbagai maksud. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) definisi komik adalah cerita bergambar (dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yang
umumnya mudah dicerna dan lucu. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa komik adalah cerita bergambar yang mempunyai ciri khas dalam percakapannya. Percakapannya menggunakan balon-balon
teks berbagai bentuk untuk menjelaskan cerita dari gambar tersebut.
c. Sastra tradisional: cerita-cerita yang termasuk dalam jenis sastra
tradisional adalah cerita rakyat yang meliputi legenda, mite dan dongeng. 1) Legenda: bersifat sekuler (keduniawiaan) dan peristiwanya terjadi pada
masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia yang kita
keagamaan, misalnya cerita tentang orang saleh seperti Wali Sanga,
Syech Siti Jenar, Ki Pandang Arang, dan lain-lain. Legenda setempat,
yaitu cerita yang berrhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, bentuk permukaan suatu tempat dan sebagainya. Misalnya cerita
tentang Gunung Tangkuban Perahu, Telaga Rawa Pening, kota kecil Kuningan, dan lain-lain. Legenda alam gaib, misalnya cerita tentang makhluk gaib, hantu, siluman, gejala-gejala alam yang gaib dan
sebagainya. Legenda perseorangan, misalnya mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap benar-benar ada, seperti cerita Panji, Jayaparna
(tokoh yang populer di Bali), si Pitung dari Betawi, dan sebagainya. 2) Mite: bercerita tentang dewa-dewi, asal usul dunia, asal usul manusia
dan sebagainya. Misalnya cerita tentang Dewi Sri, yang menurut cerita
mite jenazahnya mentis menjadi padi, sehingga Dewi Sri dipercaya sebagai dewi Padi dan kesuburan. Contoh lainnya adalah Ramayana,
Mahabarata, Perang Troya, cerita tentang Dewa Zeus, Dewi Venus, dan lain-lain
3) Dongeng: adalah cerita yamg khusus yaitu mengenai manusia atau
binatang. Ceritanya tidak dianggap benar-benar terjadi, walaupun ada banyak yang melukiskan kebenaran atau berisikan moral. Contohnya
adalah cerita Ande-Ande Lumut, Puteri Salju, Suwidak Loro dan sebagainya, sedangkan dongeng binatang yang paling terkenal adalah dongeng Sang Kancil. Suatu bentuk khusus dari dongeng binatang
moral, yakni ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan, misalnya cerita “Seorang Brahmana dan Anjing Hutan yang Tak Tahu
Membalas Budi”.
d. Fantasi modern: cerita yang termmasuk fantasi modern adalah cerita yang
ditulis oleh seorang pengarang. Cerita ini bisa berupa dongeng-dongeng modern yang banyak mengambil elemen-elemen cerita rakyat, misalnya karangan Hans Cristian Andersen, Sri Rejeki karangan Dwianto
Setyawan. Menurut Riris K. Toha-Sarumpet (2010, h.27) terminologi ini merujuk pada sifatnya yang khayali dan bersumber dari imajinasi. Apa
yang terjadi itu adalah hadirnya peri, dewa, naga, atau objek yang mempunyai kekuatan supranatural seperti keris, panci, cermin, sapu, cincin dan lain-lain dalam sebuah cerita.contohnya adalah segala yang
ditulis oleh dua bersaudara Grimm, H. C. Andersen, Lewis Carrol, J.K Rowling serta para penulis lain. Dari dua definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa fantasi modern adalah sebuah cerita yang tidak benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, yang sesungguhnya tidak ada dan hanya sebuah cerita imajinasi dari pengarangnya
e. Fiksi realitas: semua hal dalam cerita semacam ini dapat dibayangkan terjadi pada kehidupan manusia yang nyata di dalam dunia fiksi kita, jadi
ceritanya terjadi di dalam dunia yang mungkin, sebab pengarang menulis cerita yang realistis. Sedangkan menurut Riris K. Toha – Sarumpet (2010 h. 28) fiksi realistik atau cerita realistik penggambaran di dalamnya dapat
terjadi di dalam cerita realistik mungkin saja terjadi dalam kehidupan. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa fiksi realitas adalah
sebuah cerita fiksi yang kejadian atau jalan ceritanya dapat terjadi di dalam kehidupan nyata. Contohnya adalah cerita Lima Sekawan di Pulau Harta (1998) karya Enid Blyton.
f. Fiksi sejarah: bercerita tentang rakyat biasa, di mana peristiwa sejarah menjadi latar belakang dan sumber inspirasi ceritanya. Contohnya adalah: “Rumah Kecil di Padang rumput” (Little House on the Praire).
g. Puisi: dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam
Jaringan/Online) puisi adalah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan
bunyi irama, dan makna khusus.
h. Novel: berasal dari bahasa italia novella. Secara harfiah berarti sebuah
barang baru yang kecil. Istilah novella mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris: novelette) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun
juga tidak terlalu pendek. (Burhan, 2002, h.10)
i. Fiksi gotik: fiksi ini lebih sering disebut “cerita horror”. Cerita ini banyak
mengeksplorasi kematian, kebusukan (dalam artinya yang paling harfiah), benda atau keadaan menjijikkan, dan segala yang supranatural. Contohnya adalah cerita Frankenstein karya Mary Shelley. (Robert, 2007,
j. Fiksi romantis: menggambarkan hidup sebagai pergulatan antara emosi individu dengan kekuatan alam, termasuk juga emosi orang lain. Dari
sudut pandang filsafat, romantis berarti menolak yang monoton, bodoh, mapan, dan segala produk artifisial dunia modern. Eskapisme romantis
memiliki tujuan akhir yaitu mencari dan menciptakan jenis dunia baru yang mengagungkan alam, emosi, dan individualisme. Oleh karena itulah fiksi romantis kerap mengambil latar masa yang sudah lewat, tempat yang
tidak biasa atau di luar jangkauan, atau wilayah rekaan yang lokasi sebenarnya tidak jelas. Contohnya adalah On The Road karya Kerourac,
Wuthering Heights karya Emily Bronte.
Berbagai definisi jenis koleksi fiksi diatas digunakan sebagai acuan dalam menentukan jenis-jenis koleksi fiksi yang menjadi koleksi di perpustakaan
yang akan diteliti dalam pemanfaatannya pada Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan.
F. Pemanfaatan Koleksi Fiksi
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1998) pemanfaatan berasal dari
kata dasar manfaat yang berarti guna, faedah. Adapaun memanfaatkan berarti membuat sesuatu menjadi berguna. Jadi, pemanfaatan adalah hal, cara, hasil
kerja memanfaatkan.
Pemanfaatan koleksi adalah suatu proses dari penggunaan koleksi yang ada. Bagi perpustakaan, daftar pemanfaatan koleksi berpengaruh bagi rencana
bersumber dari pengguna akan kembali lagi kepada pengguna karena perpustakaan akan berupaya meningkatkan pelayanan terbaik bagi
penggunanya.
Pada dasarnya pemanfaatan koleksi perpustakaan mencakup dua hal yaitu menggunakan koleksi dalam ruangan perpustakaan (in library use) dan
meminjam koleksi dari bagian sirkulasi untuk digunakan di luar perpustakaan (out library use).
Cara memanfaatkan koleksi fiksi pada perpustakaan pada umumnya yaitu seperti berikut:
1. Meminjam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) definisi meminjam adalah memakai barang (uang, dan sebagainya) orang
lain untuk waktu tertentu (kalau sudah sampai waktunya harus dikembalikan). Biasanya pengguna melakukan peminjaman melalui meja
sirkulasi perpustakaan setelah mendapatkan fiksi yang ia inginkan. Peminjaman buku fiksi memiliki batasan waktu yang ditentukan oleh masing-masing perpupstakaan. Dengan melakukan peminjaman, pengguna
memiliki waktu lebih banyak untuk membaca fiksi yang ia pinjam. Fiksi tersebut dapat diperpanjang masa peminjamannya dan kemudian
2. Membaca di tempat
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online)
membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis(dengan melisankan atau hanya dihati). Membaca merupakan kegiatan yang dapat
menambah ilu pengetahuan.Bagi pengguna yang memiliki waktu luang cenderung membaca di ruang baca perpustakaan.Pengguna dapat memilih beberapa buku untuk dibaca dan menghabiskan waktunya di perpustakaan.
Pada perpustakaan yang memiliki ruang baca yang nyaman, akanmenambah pengguna yang akan membaca fiksi di perpustakaan tanpa
harus meminjam. Cara seperti ini dibatasi oleh jam layanan perpustakaan.
3. Mencatat informasi dari buku
Terkadang pengguna hanya melakukan pencatatan informasi yang ia dapat
dari koleksi. Dengan cara seperti ini, pengguna mendapatkan informasi ringkas tentang berbagai masalah dari beberapa fiksi berbeda.
4. Memfotocopy
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) memfotocopy adalah membuat reproduksi dengan mesin
fotokopi.Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer (2002, h. 425) makna dari memfotocopy adalah membuat salinan barang
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa memfotocopy koleksi perpustakaan adalah membuat salinan dari suatu koleksi perpustakaan
dengan menggunakan mesin fotocopy.
Dengan memfotocopy pengguna dapat memiliki sendiri
informasi-informasi yang ia inginkan. Cara seperti ini biasanya dilakukan oleh pengguna yang memiliki waktu terbatas untuk ke perpustakaan.
G. Tujuan Memanfaatan Koleksi Fiksi
Koleksi fiksi dapat memenuhi kebutuhan pemustaka dalam bidang pendidikan dan hiburan. Keberhasilan perpustakaan dalam memberikan hiburan dan pendidikan tidak terlepas dari pemanfaatan koleksi fiksi yang
baik dan benar. Dengan demikian, dalam menghimpun dan mengelola koleksi fiksi perlu penanganan yang serius dan pengetahuan teknis yang baik agar
koleksi fiksi tersebut nantinya dapat dimannfaatkan untuk meningkatkan minat baca para pemustakanya karena di dalamnya terdapat unsur hiburan
BAB III
GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH KOTA
TANGERANG SELATAN
A. Sejarah Singkat
Seiring diberlakukannya undang-undang tentang otonomi daerah, pemerintah kota Tangerang Selatan membentuk Perpustakaan umum daerah
Kota Tangerang Selatan berdasarkan peraturan daerah Nomor 6 tahun 1999 dan surat keputusan walikota Tangerang Nomor 20 tahun 2001 tentang
organisasi dan tata kerja perpustakaan umum daerah kota Tangerang. Berdasarkan hal tersebut, Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan resmi berdiri pada tanggal 17 Januari 2011.Perpustakaan ini terletak
di Graha Mitra, Jl. Raya Siliwangi No.3 RT 01/RW 04 Pondok Benda Pamulang 15416.
B. Visi dan Misi
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya Perpustakaan Umum Daerah
Kota Tangerang Selatan menetapkan visi dan misi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang.
Visi
Terwujudnya kantor perpustakaan daerah sebagai pusat layanan
informasi menuju peningkatan mutu pendidikan masyarakat kota Tangerang Selatan yang cerdas, modern, dan religius.
Misi
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan perpustakaan
2. Meningkatkan kualitas sumber daya pengelolaan perpustakaan 3. Meningkatkan kualitas layanan serta pemasyarakatan perpustakaan
4. Meningkatkan pengembangan, pembinaan perpustakaan 5. Meningkatkan jaringan informasi dan kerjasama perpustakaan 6. Meningkatkan budaya baca masyarakat
C. Struktur Organisasi
Gambar 1
Struktur Organisasi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan
D. Sumber Daya Manusia
Jumlah pegawai yang ada di bagian Layanan Perpustakaan Umum
Daerah Kota Tangerang berjumlah 32 orang.Pengemudi berjumlah 8 orang untuk Perpustakaan Keliling.Karyawan dengan latar belakang pendidikan S1 berjumlah 23 orang dan Pramubakti berjumlah 1 orang.
E. Koleksi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan
Koleksi yang ada di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan sangat beragam. Semua koleksi diurutkan berdasarkan kelasnya
Tabel 1 Data Koleksi
Kelas Eksemplar Kelas Eksemplar
000 1510 700 1314
Koleksi fiksi yang ada di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan berada di lantai 2. Koleksi ini berada dalam rak kelas 600
(Teknologi). Di dalam rak ini berisi khusus koleksi fiksi. Baik cerita fiksi yang berasal dari Indonesia maupun terjemahan. Pemberian nomor kelas
klasifikasi hanya terdapat pada beberapa buku saja, kebanyakan memakai kode F untuk menandakan bahwa buku tersabut adalah koleksi fiksi. Beberapa contoh koleksi fiksi yang ada di Perpustakaan Umum Kota
Tangerang Selatan adalah sastra tradisional yang berjudul Mahabarata karya Nyoman S. Pandit, Roro Mendut karya Ajip Rosidi, sastra tradisional asal
Jepang Totto Chan karya Tetsuko Kuroyanagi, fiksi realitas Mockingjay karya Suzanne Collins, dan komik yang berjudul Ngampus!!! karya Faza
Meonk
F. Jam Layanan Perpustakaan
Senin – Kamis : 07.30 - 16.00 WIB Jumat : 07.30 - 16.30 WIB
Sedangkan untuk pelayanan peminjaman dan pengembalian buku adalah: Senin – Kamis : 08.00 - 15.30 WIB
Jumat : 08.00 - 16.00 WIB ( Ruang Baca dan Referensi )
Senin – Kamis : 08.00 – 15.30 WIB
Jumat : 08.00 - 16.00 WIB
G. Fasilitas dan Layanan Perpustakaan
Fasilitas yang tersedia di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan adalah sebagai berikut:
Fasilitas Ruang baca dan ruang koleksi
Fasilitas Ruang Referensi
Fasilitas Ruang Internet, dengan aturan secara terpisah dari perpustakaan
H. Tata Tertib Perpustakaan
Aturan dan Ketentuan Pemakai Perpustakaan
A. Kewajiban Pengunjung
1. Memasuki perpustakaan dengan tertib melalui pintu yang telah
ditentukan.
2. Wajib mengisi daftar hadir melalui buku pengunjung, saat hadir di
3. Wajib menjaga sendiri barang bawaan dengan baik, segala kehilangan di dalam ruangan perpustakaan bukan menjadi tanggung jawab petugas
perpustakaan.
4. Pengunjung wajib bersepatu dan berpakaian rapi.
5. Turut menjaga kebersihan dan keberadaan fasilitas serta semua koleksi perpustakaan.
6. Turut menjaga ketenangan suasana perpustakaan (bagi yang membawa
HP harap suaranya dimatikan).
7. Bersikap sopan dan saling menghargai kepada petugas dan sesama
pengunjung perpustakaan.
B. Peraturan Peminjaman
1. Peminjam harus mempunyai Kartu Anggota Perpustakaan yang masih
berlaku.
2. Untuk kepentingan Peminjaman Pustaka, Kartu Anggota tidak boleh
dipinjamkan/ dipergunakan orang lain/ diwakilkan.
3. Anggota Perpustakaan berhak meminjam maksimal sebanyak 2(dua) eksemplar Pustaka Cetak dalam bentuk buku selama 1 (satu) minggu,
Majalah 1 (satu) eksemplar selama 1 (satu) minggu dan cd/dvd selama 2 (dua) hari.
4. Perpanjangan waktu peminjaman dapat dilakukan sebanyak 1 (satu) kali, dengan mengingat situasi dan kondisi.
5. Peminjam wajib mengembalikan Pustaka yang dipinjam tepat pada
6. Peminjam wajib menjaga agar Pustaka yang dipinjam tetap bersih dan utuh, tidak membuat coretan-coretan
7. Pustaka yang hilang atau rusak karena kelalaian peminjam, peminjam wajib mengganti dengan pustaka yang sama atau dengan uang seharga
pustaka yang berlaku terakhir.
8. Proses Peminjaman dan Pengembalian Pustaka dilakukan dengan Komputer, maka data yang diberlakukan/diakui adalah data dari
komputer.
I. Data Pengunjung Perpustakaan
Setiap orang, tua-muda, kaya-miskin, besar-kecil atau bagaimanapun perbedaannya bisa datang untuk memanfaatkan informasi yang dikelola oleh Perpustakaan Umum Kota Tangerang Selatan. Adapun jumlah pengunjung
perpustakaan pada tahun 2014 dari bulan Januari sampai bulan Mei adalah:
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Penulis melakukan penelitian di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan yang bertempat di Graha Mitra, Jl. Raya Siliwangi No.3 RT 01 RW 04 Pondok Benda Pamulang 15416. Penyebaran kuesioner
dilakukan tanggal 1 Agustus sampai 26 September 2014. Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner (angket).
Dalam penelitian ini populasi di ambil dari anggota perpustakaan yang berjumlah 1.008 orang. Adapun jumlah sampel adalah 1.008 x 10% = 100,8 dibulatkan menjadi 101 orang, maka sampelnya menjadi 101 responden.
Kuesioner yang telah disebarkan kepada 101 orang di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan kemudian dikembalikan kepada penulis
dengan jumlah yang sama yaitu 101 kuesioner (100%).
Berikut ini adalah tabel yang menerangkan tentang data responden yang telah mengisi kuesioner penelitian tentang pemanfaatan koleksi fiksi di
Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan.
Tabel 3 Data Responden No Jenis Kelamin Jumlah 1. Perempuan 65 orang 2. Laki-Laki 36 orang
Data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner selanjutnya diolah
secara manual dan dituangkan kedalam bentuk tabel. Dari jumlah kuesioner yang disebar dapat dilihat data yang akan diloah pada tabel berikut:
Tabel 4
Jumlah Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase
101 101 100% 0 0 101 100%
Dari tabel di atas, terlihat bahwa kuesioner yang disebar di
Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan sebanyak 101 kuesioner, dan kuesioner yang dikembalikan (100%)
B. Hasil Penelitian
Setelah kuesioner disebarkan kepada responden, penulis dapat
mengetahui hasil dari penelitian yang dilakukan. Pertanyaan yang terdapat didalam kuesioner sudah sesuai dengan tujuan dari penelitian yang penulis buat. Tujuan penelitian terdiri dari 3 tujuan, yakni untuk mengetahui
pemustaka, untuk mengetahui alasan pemustaka memanfaatkan koleksi fiksi,
untuk mengetahui cara pemanfaatan koleksi fiksi oleh para pemustaka.
1. Pemetaan Pemanfaatan Terhadap Koleksi Fiksi
Sesuai dengan tujuan pertama, yaitu pemetaan terhadap koleksi
fiksi, penulis ingin mengetahui beberapa hal, diantaranya: jumlah koleksi fiksi yang dibaca dalam sehari di perpustakaan, jenis koleksi fiksi yang sering dibaca, waktu yang dibutuhkan membaca cerita fiksi, dan koleksi
fiksi yang sering dipinjam.
Berikut ini hasil penelitian tentang jumlah koleksi fiksi yang dibaca
dalam sehari pada gambar di bawah ini.
Gambar 2
Koleksi Fiksi yang di Baca di Perpustakaan Dalam Sehari
Berdasarkan gambar di atas jumlah koleksi fiksi yang dibaca di perpustakaan dalam sehari sebagian besar adalah satu buku dengan
persentase 64.36%. Kemudian hampir setengahnya dua buku dengan persentase 24.75%, sebagian kecil tiga dan empat buku dengan
persentase 4.95% dan 3.96%, ada juga sebagian kecil yang tidak membaca buku dalam sehari di perpustakaan dengan persentase 1.98%.
Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah koleksi fiksi yang paling banyak dibaca dalam sehari di perpustakaan sebagian besar
adalah satu buku.
Gambar berikutnya akan dijelaskan jenis koleksi fiksi apa yang sering dibaca oleh responden di perpustakaan.
Gambar 3
Koleksi Fiksi yang Sering di Baca di Perpustakaan Dalam Sehari
Berdasarkan gambar di atas sebagian besar siswa dengan
persentase 58.42% menyatakan bahwa koleksi yang sering mereka baca di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan adalah novel.
Selanjutnya sebagian kecil dengan persentase 18.81% menyatakan bahwa koleksi yang sering mereka baca adalah cerita rakyat, dengan persentase
11.88% menyatakan bahwa koleksi yang sering mereka baca adalah komik. Dengan persentase 5.94% menyatakan yang sering mereka baca
adalah cerita fantasi, kemudian yang menyatakan fabel dan buku pengetahuan dengan persentase 1.98% dan yang menyatakan puisi
dengan persentase 0.99%.
Dengan demikian hasil dari gambar di atas dapat dikatakan, bahwa sebagian besar koleksi fiksi yang sering dibaca oleh responden ketika
berkunjung ke perpustakaan adalah novel dengan persentase 58.42%.
Gambar 4
Waktu yang di Butuhkan untuk Membaca Satu Cerita Fiksi
Melalui gambar di atas kita dapat melihat bahwa hampir
setengahnya responden membutuhkan waktu satu hari untuk dapat membaca satu koleksi fiksi dengan persentase 49.50%. Kemudian waktu
1 minggu dengan persentase 31.68%. sebagian kecil responden membutuhkan waktu selama 1 jam dengan persentase 12.87% dan 1
bulan dengan persentase 5.94%.
Dari data di atas memperlihatkan bahwa hampir setengahnya responden membutuhkan waktu untuk membaca satu koleksi fiksi selama
satu hari dengan persentase 49.50%.
Gambar berikutnya akan dijelaskan jenis koleksi fiksi apa yang
sering dipinjam responden
Satu jam 12.87%
Satu hari 49.50%
Satu minggu 31.68% Satu bulan,
Gambar 5
Koleksi Fiksi yang Sering di Pinjam di Perpustakaan
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar jenis
koleksi fiksi yang sering di pinjam adalah novel dengan persentase 57.43%. Sebagian kecil untuk jenis koleksi fiksi komik dengan
persentase 21.78%. Kemudian jenis koleksi fiksi cerita rakyat dengan persentase 11.88%, jenis koleksi fiksi cerita fantasi dengan persentase 5.94%. Lalu jenis koleksi fiksi buku pengetahuan dengan persentase
1.98% dan jenis koleksi fiksi puisi dengan persentase 0.99%.
Maka dari data di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
koleksi fiksi yang paling banyak di pinjam oleh responden adalah koleksi fiksi novel dengan persentase 57.43%.
2. Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi
Kemudian sesuai dengan tujuan kedua yaitu tujuan pemustaka
memanfaatkan koleksi fiksi, penulis ingin mengetahui hal-hal berikut ini: tujuan utama memanfaatkan koleksi fiksi, alasan memanfaatkan koleksi
fiksi untuk tujuan mengisi waktu, alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk tujuan hiburan, alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk tujuan hobi, alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk tujuan menambah ilmu
pengetahuan.
Gambar selanjutnya mengenai mengapa responden memanfaatkan
koleksi fiksi
Gambar 6
Alasan Utama Memanfaatkan Koleksi Fiksi
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa alasan utama responden memanfaatkan koleksi fiksi, hampir setengahnya dari responden
Mengisi waktu 39.60%
Hiburan 19.80% Hobi
14.86%
Menambah ilmu pengetahuan
mengatakan alasan utamanya memanfaatkan koleksi fiksi adalah mengisi waktu dengan persentase 39,60%. Kemudian menambah ilmu
pengetahuan dengan persentase 25,74%. Sebagian kecil memilih hiburan dengan persentase 19.80% dan sebagai hobi dengan persentase 14,86%.
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan dari jumlah 101 responden bahwa alasan utama memanfaatkan koleksi fiksi di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan hampir
setengahnya adalah mengisi waktu dengan persentase 39.60%.
Selanjutnya untuk mengetahui alasan memanfaatkan koleksi fiksi
untuk tujuan mengisi waktu, maka disajikan gambar berikut
Gambar 7
Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk Tujuan Mengisi Waktu
Dari gambar di atas yang membahas mengenai alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk mengisi waktu, hampir setengahnya
dari responden mengatakan alasan menyukai ceritai fiksi dengan hasil persentase 30.69%. Sebagian kecil lebih responden memilih alasan lebih
baik membaca daripada menonton tv dengan hasil persentase 24.76%. Untuk alasan tidak ada kegiatan lain dengan hasil persentase 23.76%.
Lalu alasan bosan dengan hasil persentase 20.79%.
Dari data di atas dapat disimpulkan dari jumlah 101 responden bahwa hampir setengahnya dari responden memilih alasan memanfaatkan
koleksi fiksi untuk mengisi waktu adalah menyukai cerita fiksi dengan persentase 30.69%.
Selanjutnya untuk mengetahui alasan memanfaatkan koleksi fiksi
Gambar 8
Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk Tujuan Hiburan
Dari gambar di atas yang membahas mengenai alasan
memanfaatkan koleksi fiksi untuk hiburan, hampir setengahnya dari responden mengatakan alasan menyukai cerita fiksi dengan hasil
persentase 34.66%. Alasan kedua adalah iseng-iseng ingin membaca koleksi fiksi dengah hasil persentase 31.68%. Untuk alasan ketiga adalah bosan dengan hiburan yang ada dengan hasil persentase 27.72% dan
alasan keempat sebagian kecil responden kurang menyukai buku yang bersifat ilmiah atau pelajaran dengan hasil persentase 5.94%.
Dari data di atas dapat disimpulkan dari jumlah 101 responden bahwa alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk tujuan hiburan hampir
Selanjutnya untuk mengetahui alasan memanfaatkan koleksi fiksi
untuk tujuan hobi, maka disajikan gambar berikut
Gambar 9
Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk Tujuan Hobi
Dari gambar di atas yang membahas mengenai alasan
memanfaatkan koleksi fiksi untuk hobi, sebagian besar responden mengatakan alasan sekedar mengisi waktu luang dengan hasil persentase 51.49%. Hampir setengahnya menyukai cerita fiksi dengah hasil
persentase 29.70%. Sebagian kecil responden memanfaatkan koleksi karena bosan menonton tv dengan hasil persentase 14.85%. Lalu ikut
komunitas tertentu dengan hasil persentase 3.96%.
Dari data di atas dapat disimpulkan dari jumlah 101 responden bahwa sebagian besar responden memilih alasan memanfaatkan koleksi
fiksi untuk tujuan hobi adalah sekedar mengisi waktu luang dengan
persentase 51.49%.
Selanjutnya untuk mengetahui alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk tujuan menambah ilmu pengetahuan, maka disajikan gambar
berikut
Gambar 10
Alasan Memanfaatkan Koleksi Fiksi untuk Tujuan Menambah Ilmu Pengetahuan
Dari gambar di atas yang membahas mengenai alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk tujuan menambah ilmu pengetahuan,
hampir setengahnya dari responden mengatakan alasan menyukai cerita fiksi dengan hasil persentase 48.52%. Kemudian sebagian kecil
masing-masing dengan hasil persentase 19.80%. Lalu ikut komunitas
tertentu dengan hasil persentase 3.96%.
Dari data di atas dapat disimpulkan dari jumlah 101 responden bahwa alasan memanfaatkan koleksi fiksi untuk tujuan menambah ilmu
pengetahuan hampir setengahnya adalah menyukai cerita fiksi dengan persentase 48.52%.
Tabel berikutnya akan dijelaskan cara memanfaatkan koleksi fiksi
di perpustakaan dapat dilihat gmbar selanjutnya.
3. Cara Memanfaatkan Koleksi Fiksi
Selanjutnya pada tujuan ketiga yaitu cara pemanfaatan koleksi, penulis ingin mengetahui beberapa hal terkait tujuan ketiga, diantaranya: cara utama memanfaatkan koleksi fiksi, kenapa memanfaatkan koleksi
fiksi dengan cara memninjam, kenapa memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara membaca ditempat, kenapa memanfaatkan koleksi fiksi
dengan cara mencatat informasi dari buku, kenapa memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara memfotokopi, dan perkembangan koleksi di
perpustakan apakah sudah up to date atau masih kuno.
Gambar 11
Cara Utama Memanfaatkan Koleksi Fiksi
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
dengan persentase 63.37% yang memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara utama meminjam. Kemudian sebagian kecil responden dengan persentase
21.78% yang memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara utama membaca ditempat. Lalu dengan persentase 8.91% yang memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara utama mencatat informasi dari buku dan dengan
persentase 5.94% yang memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara utama memfotokopi.
Dapat disimpulkan dari data tersebut, bahwa sebagian besar cara utama memanfaatkan koleksi fiksi yang paling banyak digunakan oleh
Selanjutnya untuk mengetahui memanfaatkan koleksi fiksi dengan
cara meminjam, maka disajikan gambar berikut
Gambar 12
Memanfaatkan Koleksi Fiksi dengan Cara Meminjam
Dari gambar di atas yang membahas mengenai memanfaatkan
koleksi fiksi dengan cara meminjam, sebagian besar dari responden mengatakan lebih nyaman membaca dirumah dengan hasil persentase 51.49%. Kemudian sebaian kecil memilih tidak ada waktu membaca di
perpustakaan dan tidak ada koleksi fiksi di rumah masing-masing dengan hasil persentase 17.82%. Lalu agar bisa dibaca dimana saja dengan hasil
persentase 12.87%.
Dapat disimpulkan dari data tersebut, bahwa memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara meminjam sebagian besar dipilih oleh responden yaitu
Selanjutnya untuk mengetahui memanfaatkan koleksi fiksi dengan
cara membaca di tempat, maka disajikan gambar berikut
Gambar 13
Memanfaatkan Koleksi Fiksi dengan Cara Membaca di Tempat
Dari gambar di atas yang membahas mengenai memanfaatkan
koleksi fiksi dengan cara membaca di tempat, sebagian besar dari responden mengatakan mengindari kerusakan koleksi fiksi dengan hasil persentase 55.45%. Kemudian sebagian kecil membaca di perpustakaan
terasa nyaman dengan hasil persentase 22.77%. Lalu tidak ada koleksi fiksi di rumah dengan hasil persentase 11.88% dan malas untuk membaca
di tempat lain selain di perpustakaan dengan hasil persentase 9.90%.
responden yaitu menghindari kerusakan koleksi fiksi dengan persentase
55.45%.
Selanjutnya untuk mengetahui memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara mencatat informasi dari buku, maka disajikan gambar berikut
Gambar 14
Memanfaatkan Koleksi Fiksi dengan Cara Mencatat Informasi dari Buku
Dari gambar di atas yang membahas mengenai memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara mencatat informasi dari buku, hampir
setengahnya dari responden mengatakan agar selalu mengingat apa saja yang penting dari buku tersebut dengan hasil persentase 49.51%.
Kemudian untuk tugas sekolah atau kuliah dengan hasil persentase 28.71%. Lalu sebagian kecil memilih koleksi fiksi tersebut tidak bisa di pinjam dengan hasil persentase 12.87% dan tidak bisa meminjam buku di
perpustakaan dengan hasil persentase 8.91%.
Dapat disimpulkan dari data tersebut, bahwa memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara mencatat informasi dari buku hampir setengahnya
dipilih oleh responden adalah agar selalu mengingat apa saja yang penting dari buku tersebut dengan persentase 49.51%.
Selanjutnya untuk mengetahui memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara memfotokopi, maka disajikan gambar berikut
Gambar 15
Memanfaatkan Koleksi Fiksi dengan Cara Menfotokopi
Dari gambar di atas yang membahas mengenai memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara memfotokopi, hampir setengahnya dari
responden mengatakan untuk kebutuhan tugas karena pada halaman tertentu terdapat apa yang dicari dengan hasil persentase 49.51%. Kemudian sebagian kecil responden memilih koleksi fiksi tersebut tidak
dimana saja dan kapan saja dengan hasil persentase 16.83% dan tidak ada
waktu untuk membaca di perpustakaan dengan hasil persentase 13.86%.
Dapat disimpulkan dari data tersebut, bahwa memanfaatkan koleksi fiksi dengan cara memfotokpi sebagian besar dipilih oleh responden yaitu
untuk kebutuhan tugas karena pada halaman tertentu terdapat apa yang dicari dengan persentase 49.51%.
Gambar berikutnya akan memperlihatkan bagaimana
perkembangan koleksi fiksi di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan
Gambar 16
Perkembangan Koleksi Fiksi di Perpustakaan
Berdasarkan pada pendapat responden mengenai perkembangan
koleksi fiksi di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan, Sangat up to date
11.88%
Up to date 52.48% Kurang up to date
34.65% Sangat tidak up to
maka dapat dilihat bahwa sebagian besar responden dengan hasil persentase 52.48% menyatakan perkembangan koleksi fiksi d
perpustakaan sudah up to date. Kemudian hampir setengahnya dari responden dengan hasil persentase 34,65% menyatakan perkembangan
koleksi fiksi kurang up to date. Lalu sebagian kecil responden dengan hasil persentase 11.88% menyatakan perkembangan koleksi fiksi sangat up to date dan dengan hasil persentase 0.99% menyatakan perkembangan
fiksi di perpustakaan sangat tidak up to date.
Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan
koleksi fiksi di Perpustakaan Umum Daerah Kota Tangerang Selatan sebagian besar respondennya menyatakan perkembangan koleksi fiksi up to date sebanyak 52.48%. Hampir setengah responden menyatakan
perkembangan koleksi fiksi kurang up to date 34,65%. Sebagian kecil responden menyatakan perkembangan koleksi fiksi sangat up date
11.88% dan hanya 0.99% yang menyatakan koleksi fiksi di perpustakaan sangat tidak up to date.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemetaan pemanfaatan terhadap koleksi fiksi yang banyak di baca oleh responden, dapat diketahui bahwa
koleksi fiksi yang dibaca dalam dalam satu hari di perpustakaan adalah satu buah buku. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca satu cerita fiksi adalah satu hari. Lalu koleksi fiksi yang sering dipinjam di perpustakaan adalah