• Tidak ada hasil yang ditemukan

14 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Prestasi Belajar

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), prestasi belajar adalah penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Depdiknas, 2007: 895). Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan suatu puncak proses pembelajaran yang pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa juga menunjukkan kemampuannya dalam memecahkan tugas-tugas belajar atau mentansfer hasil belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 243).

Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belaja yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu (Fathurrohman dan Sulistyorini, 2012: 119). Prestasi belajar seseorang dapat dilihat secara nyata dengan adanya laporan hasil belajar yang berbentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang menjelaskannya. Dalam penilaian prestasi belajar, seseorang atau siswa harus mampu melampaui standar nilai minimal yang telah ditentukan, sehingga dapat dilihat sejauh mana pestasi belajar siswa.

Menurut pengertian secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebetuhan hidupnya. Perubahan-perubahan

15

tersebut akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku. Kemudian ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah sebagai berikut: 1. Perubahan yang terjadi secara sadar.

2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional. 3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.

4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. 5. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.

6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 1991: 2-4). Proses belajar siswa berpengaruh terhadap perilaku dan prestasi siswa dalam pembelajaran. Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dapat dilihat dari segi perubahan perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, tingkat prestasi siswa dapat dilihat dari tingkah lakunya yang menuju pada tingkah laku positif, terarah dan kontinu.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Pencapaian prestasi yang baik merupakan usaha yang tidak mudah, karena prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor (Fathurrohman dan Sulistyorini, 2012: 119), di antaranya adalah:

a. Faktor intern

1) Faktor jasmaniah

Faktor jasmaniah berkaitan erat dengan kondisi badan seseorang seperti kesehatan dan cacat tubuh. Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang

16

teganggu, selain itu juga orang tersebut akan cepat lelah yang menyebabkan kurangnya konsentrasi belajar. Cacat tubuh yang diderita seseorang juga dapat berpengaruh dalam proses belajarnya. Cacat tubuh adalah seseutu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu, jika hal ini terjadi, hendaklah siswa belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu untuk mengurangi pengaruh kecacatannya itu (Slameto, 1991: 56-57).

2) Faktor psikologis

Faktor psikologis seseoang juga berpengaruh terhadap proses belajar. Cakupan faktor psikologis di sini adalah:

a) Intelegensi, yaitu suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berfikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 245).

b) Perhatian, menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek atau sekumpulan objek. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka diusahakan bahan pelajaran selalu menarik perhaitian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.

c) Minat, yaitu kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberpa kegiatan. Kegiatan yang diminati

17

seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.

d) Bakat, yaitu kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu beruakan terealisasi menjadi kecapakan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.

e) Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai.

f) Kematangan, yaitu suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.

g) Kesiapan, yaitu kesedian untuk memberi respon atau beresaksi. Kesedian itu timbul dari diri seseorang dan juga berhubungan erat dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecapakan (Slameto, 1991: 57-61).

3) Faktor kelelahan

Kelelahan yang dapat mempengaruhi proses belajar siswa berupa kelelahan secara jasmani dan rohani. Kelelahan secara jasmani dapat dilihat dari kondisi tubuh yang lemah lunglai dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kebosanan dan kelesuan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Agar siswa dapat belajar dengan baik, perlulah diusahakan kondisi siswa agar tidak mengalami kelelahan (Slameto, 1991: 61-62).

18 b. Faktor ekstern

1) Fakto keluarga

Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.

2) Faktor sekolah

Aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan faktor ekstern belajar. Guru yang berpean sebagai pendidikan harus memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, khususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar. Kebangkitan belajar tersebut merupakan emansipasi diri siswa. Kemudian, untuk menunjang kebangkitan belajar siswa pihak sekolah juga harus menyediakan sarana dan prasaana yang menunjang dan baik (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 247-250).

Faktor lain dari sekolah yang mempengaruhi belajar yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

19 3) Faktor masyarakat

Lingkungan masyarakat merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar. Lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkambangan pribadi anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasan-kebiasan lingkungannya. Jika faktor masyarakat tersebut dirinci, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Kegiatan siswa dalam masyarakat yang menjadi bagian dalam hidupnya.

b) Mass media yang semakin berkembang. c) Teman bergaul yang semakin banyak.

d) Bentuk kehidupan masyarakatn (Fathurrohman dan Sulistyorini, 2012: 134-136).

2. Jenis-jenis Belajar

Belajar memiliki bermacam-macam kegiatan yang mempunyai corak berbeda antara satu dengan yang lainnya baik dalam aspek materi dan maetodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Kebergaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan hidup manusia yang juga bermacam-macam. Jenis-jenis belajar tersebut di antaranya:

a. Belajar abstrak

Belajar abstrak adalah belaja yang menggunakan cara berfikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan

20

pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata, misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.

b. Belajar keterampilan

Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik, yakni yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu, misalnya belajar musik, olahraga, musik, menari melukis dan sebagian materi bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

c. Belajar sosial

Belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik memecahkan masalah-masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok dan masyarakat.

d. Belajar pemecahan masalah

Belajar pemecahan masalah adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berfikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas. Menurur Lawson (1991), hampir semua bidang studi dapat dijadikan sarana belajar pemecahan masalah seperti matematika dan IPA.

21 e. Belajar rasional

Menurut Reber (1988), belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional atau sesuai dengan akal sehat. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini sangat erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah. f. Belajar kebiasaan

Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).

g. Belajar apresiasi

Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, musik dan sebagainya. h. Belajar pengetahuan

Menurut Reber (1998), belajar pengetahuan (studi) adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga tentu dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksperimen. Tujuan belajar

22

pengetahuan adalah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasa lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dalam pembelajaran bidang fisika mengenai gerak menurut hukum Newton I (Islamuddin, 2012: 169-173).

B. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization)

1. Metode Pembelajaran Kooperatif

Secara bahasa, kooperatif berasal dari kata cooperative yang berarti mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, yaitu dengan saling membantu satu sama lain sebagai sebuah tim. Dengan cooperative learning

(pembelajaran kooperatif), siswa dilatih untuk bekerja sama dengan temannya secara sinergis, integral, dan kombinatif. Melalui kerjasama, para siswa dapat menyerap kebijaksanaan orang lain sehingga siswa dapat belajar bertoleransi dan mengasihi teman-temannya.

Sejarah munculnya cooperative learning memang tidak mudah untuk dilacak. Namun demikian, pada tahun 1916 John Dewey menulis sebuah konsep pendidikan yang menyatakan bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat yang lebih besar dan berfungsi sebagai laboratorium untuk mempelajari kehidupan nyata.

Pada tahun 1954, Herbert Thelan mangungkapkan bahwa kelas merupakan laboratorium yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi. Cooperative learning merupakan suatu model pengajaran di mana siswa belajar dalm kelompok-kelompok kecil yang

23

memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu dalam memahami suatu bahan pelajaran (Asmani, 2016: 37-39).

2. Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization) a) Pengertian metode pembelajaran koopeatif tipe TAI

Pembelajaran kooperatif ini dikembangkan oleh Robert Slavin pada tahun 1984 yang merupakan sebuah program pedagogik yang berusaha mengadaptasikan pembelajaran dengan perbedaan individual siswa secara akademik. Pengembangan TAI dapat mendukung pratik-paktik ruang kelas, seperti pengelompokan siswa, pengelompokan kemampuan di dalam kelas, pengajaran terprogram, dan penagajaran berbasis komputer. Tujuan TAI adalah untuk meminimalisir pembelajan individual yang terbukti kurang efektif. Selain itu juga, ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan serta motivasi siswa dengan belajar kelompok (Huda, 2013: 200).

Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu, kegiatan pembelajarannya lebih digunakan untuk pemecahan masalah. Ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar matei pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individu dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan dibahas oleh anggota kelompok (Daryanto dan Rahardjo, 2012: 264).

24

b) Manfaat Pembelajaran kooperatif tipe TAI

Menurut Slavin, ada beberapa manfaat dari pembelajaran kooperatif tipe TAI ini, di antaranya:

1) Meminimalisir keterlibatan guru dalam pemeriksaan dan pengelolaan rutin.

2) Melibatkan guru untuk mengajar kelompok-kelompok kecil yang heterogen.

3) Memudahkan siswa untuk melaksanakanya karena teknik operasional yang cukup sederhana.

4) Memotivasi siswa untuk mempelajari materi-materi yang diberikan dengan cepat dan akurat.

5) Memungkinkan siswa untuk bekerja dengan siswa siswa lain yang berbeda sehingga tercipta sikap positif di antara mereka (Huda, 2013: 200).

c) Langkah-langkah pelaksanaan metode kooperatif tipe TAI

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut:

1) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari meteri pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru. 2) Guru memberikan kuis kepada individual kepada siswa untuk

mendapatkan skor dasar atau skor awal.

3) Guru membentuk beberapa kelompok yang setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah). Bahkan bila perlu

25

anggota kelompok terdiri dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan gender.

4) Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompoknya.

5) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.

6) Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.

7) Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya atau terkini (Daryanto dan Raharjo, 2012: 247).

C. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam adalah sebuah mata pelajaran yang dilaksanakan pendidik dalam mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam secara keseluruhan terliput dalam lingkup al-Quran dan al-Hadits, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah, dan sejarah sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan

26

Allah SWT., diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungan (Majid, 2012: 13)

Pembelajaran pendidikan agama Islam di Indonesia sudah diajarkan kepada siswa sejak menginjakkan kaki di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengingat pembelajaran agama sangat penting bagi manusia yang beragama. Walaupun begitu, namun pengetahuan tentang agama tentu sudah diperkenalkan oleh kedua orang tua siswa sejak mereka masih bayi atau bahkan masih di dalam kandungan dengan cara memperdengarkan ayat suci al-Quran. Dengan adanya pembelajaran pendidikan agama Islam diharapkan dapat meperluas wawasan dan dapat manamkan keimanan dan nilai-nilai agama kepada siswa secara nyata. 2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Menurut Kurikulum PAI (2002), Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan memupuk pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Majid, 2012: 16).

Tujuan pendidikan agama Islam tersebut merupakan turunan dari tujuan pendidikan nasional, suatu rumusan dalam UUSPN (UU No. 20 tahun 2003), yang berbunyi: “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

27

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”( Majid, 2012: 16-17).

3. Karakteristik Pendidikan Agama Islam

Dalam Munjin (2009: 9), menurut PUSKUR Depdiknas, tujuan PAI adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya kepada Allah SWT., serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Visi PAI di sekolah umum adalah terbentuknya sosok anak didik yang memiliki karakter, watak dan kepribadian dengan landasan iman dan ketakwaan serta nilai-nilai akhlak atau budi pekerti yang kukuh, yang tercermin dalam keseluruhan sikap dan perilaku sehari-hari untuk selanjutnya memberikan corak bagi pembentukan watak bangsa.

Misi PAI dalam Djamas (2000: 7) adalah sebagai berikut:

a) Melaksanakan pendidikan agama sebagai bagian integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah.

b) Menyelenggaakan pendidikan agama di sekolah dengan mengintegrasikan aspek pengajaran, pengamalan serta aspek pengalaman bahwa kegiatan belajar mengajar di depan kelas diikuti dengan pembiasaan pengamalan ibadah bersama di sekolah.

c) Melakukan upaya bersama bersama guru agama dan kepala sekolah serta seluruh unsur pendukung pendidikan di sekolah untuk

28

mewujudkan budaya sekolah (school culture) yang dijiwai oleh suasana dan disiplin keagamaan yang tinggi yang tercernin dari aktualisasi nilai dan norma keagamaan dalam keseluruhan interaksi antar unsur pendidikan di sekolah dan di luar sekolah.

d) Melakukan penguatan posisi dan peran guru agama di sekolah secara terus-menerus baik sebagai pendidik maupun sebagai pembimbing dan penasehat, komunikator serta penggerak bagi terciptanya suasana dan disiplin keagamaan di sekolah.

4. Fungsi Pengajaran Agama Islam

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya yang pertama kali menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah adalah orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tigkat perkembangannya.

b. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki bakat khusus di bidang agama agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.

c. Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kelemahan dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

29

d. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan peserta didik atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dan menghambat perkembangan dirinya menuju manusia Indonesia seutuhnya.

e. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

f. Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

g. Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional (Thoha dan Abdul Mu’ti, 1998: 181-182)

5. Pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam

Dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada sekolah menengah dapat menggunakan beberapa pendekatan di bawah ini:

a. Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. b. Pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan kepada

peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya.

c. Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam menyakini, memahami, dan mengahyati ajaran agamanya.

d. Pendekatan rasional, yaitu usaha untuk memberikan perasaan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama.

30

e. Pendekatan fungsional, yaitu usaha menyajikan ajaran agama Islam dengan menekankan kepada kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya (Thoha dan Abdul Mu’ti, 1998: 182-183).

6. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:

a. Hubungan manusia dengan Allah.

b. Hubungan manusia dengan sesama manusia. c. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

d. Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya

Adapun ruang lingkup bahan pelajaran pendidikan agama Islam meliputi tujuh unsur pokok, di antaranya keimanan, ibadah, al-Qur’an, akhlak, muamalah, syari’ah dam tarikh. Pada tingkat Sekolah dasar penekanan diberikan kepada empat unsur pokok yaitu keimanan, ibadah, al-Qur’an dan akhlak. Dan pada tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas meliputi keempat unsur di atas diberi ditambahan yaitu muamalah dan syari’ah. Unsur pokok tarikh diberikan seimbang pada setiap satuan pendidikan (Thoha dan Abdul Mu’ti, 1998: 183).

31 D. Materi PAI Kelas VIII

1. Binatang Halal dan Haram a. Binatang Halal

Binatang halal adalah binatang yang diperbolehkan untuk dikonsumsi menurut syariat Islam sesuai denga firman Allah SWT:



































Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa

yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh

yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)

Status halal pada hewan telah ditentukan dalam al-Quran dan Hadits Rasulullah SAW. Oleh karena itu, manusia tidak diperbolehkan menghalalkan hewan yang secara nyata dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Macam-macam binatang halal sebagai berikut:

1) Binatang air

Semua binatang yang hidupnya di laut atau di air adalah halal untuk dimakan, baik yang ditangkap maupun yang ditemukan dalam keadaan mati (bangkai), kecuali binatang yang mengandung racun dan berbahaya bagi kehidupan manusia. Halalnya bintang laut ini berdasakan firman Allah SWT. berikut:

32











































Artinya: “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang

berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS. al-Maidah: 96).

2) Binatang darat

Binatang yang hidup di darat ada yang halal dan ada yang tidak halal. Binatang yang halal adalah unta, sapi, kerbau, kambing dan kuda, begitu juga segala binatang yang baik seperti firman Allah SWT:

...















...

Artinya:”...Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu...”(QS. al-Maidah: 1).

Pada dasarnya semua hewan yang hidup di darat seperti ayam, itik, kambing, kerbau, sapi, dan lain-lain halal dikonsumsi oleh manusia sepanjang tidak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a) Tidak menjijikan, tidak kotor

b) Tidak membahayakan bagi pemakannya c) Tidak mempunyai taring yang kuat

يعَا عَ يلصو ينلص يا يلص ييِّضبِ نَّع عَ ينْ عَ ينع يا يضر يعَ عَ نْيْ عَ هُ يضبِ عَ ينْ عَ

يي:

ييِّلهُك

يبِا عَ يِّل عَ ينْ بِ ي بٍا عَ ي بِ

ي,

يٌم عَ عَحيهُنعَصعَكعَأعَف

)

يي

يٌلبِصنْلهُ يهُا عَ عَ

33

Artinya: “Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi

Dokumen terkait