• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Saran DAFTAR PUSTAKA

PEMBAHASAN A. BATIK

1. Sejarah Batik

Menurut beberapa sumber, Batik (atau kata Batik), berasal dari Bahasa Jawa yaitu amba dan nitik. Amba artinya menulis, sedangkan nitik artinya memberi titik. Kata batik sendiri merujuk pada teknik pembuatan corak dengan menggunakan canting atau cap, dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak “malam” (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna.

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa - masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo danYogyakarta. Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja - raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke XVIII atau awal abad ke -XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke - XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam banyak daerah – daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah - daerah santri dan kemudian batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh – tokoh perdangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja - raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing – masing.

Lama - lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh -tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu,

tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jaman Majapahit Batik yang telah menjadi kebudayaan dikerajaan Majapahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokertodan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa - rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas - petugas

tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah tersebut.

Seni pewarnaan kain dengan pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukakannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke danWolof di Senegal. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata “Batik” berasal bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemudian diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan E.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikan kaya telah

mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri kekhususannya sendiri.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keraton Yogyakarta danSurakarta.

G.P. Rouffaerjuga melaporkan bahwa pola gringsingsudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur.Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Legendadalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintakan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke Indiaagar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayang kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir, serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam Literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleonmenduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar BelandaVan Rijekevorsel memberikan selembar batik yang di perolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan diExposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Semenjak industrialisasi dan globalisasi,yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan tektik tulisan tangan dengan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

Pendapat lain mengemukakan pendapat bahwa,Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga tektik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya dapat di pakai olrh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

2. Hari Batik Nasional

Pemilihan 2 Oktober berdasarkan keputusan UNESCOyaitu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan secara resmi mengakui batikIndonesiasebagai warisan budaya dunia. UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap mata budayaIndonesia.

Peringatan hari Batik Nasional Oktober 2012 ini telah memasuki tahun ketiga. Melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009, pemerintah menetapkan Hari Batik nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Penetapan Hari Batik Nasional tersebut sebagai usaha pemerintah untuk meningkatkan martabat bangsaIndonesia dan citra positif di forum internasional, serta keinginan pemerintah untuk menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaanIndonesia.

Selain itu Penerbitan Kepres No 33 Tahun 2009 yang menetapan hari Batik Nasional juga dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batikIndonesia. Sebagian besar batik diproduksi oleh industri kecil, sehingga dengan semakin sering

masyarakat memakai batik secara langsung dapat menghidupkan usaha kecil menengah.

Kebiasaan mengenakan batik merupakan salah satu upaya mempertahankan eksistensi batik di tanah air, sebagai warisan budaya dunia.

3. Perkembangan batik di Indonesia

Menguak Perkembangan Salah Satu Budaya Indonesia yang Diakui oleh Dunia. Bangsa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang terkenal akan kekayaan budaya dari masing – masing daerahnya. Setiap daerah yang terletak dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dapat memperlihatkan ciri khas dari masing – masing daerahnya baik dalam segi seni, budaya, ataupun sejarahnya.

Salah satu budaya yang mencirikan Indonesia adalah batik. Batik terkenal akan coraknya yang menarik, anggun, dan penuh dengan kreativitas dari pembuatnya. Adapun pembuatan batik ini di setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah lainnya. Seiring dengan perkembangan zaman menuju zaman modernisasi, batik dapat dimodifikasikan agar dapat selalu berkembang dan dapat mengikuti perkembangan zaman, sehingga batik dapat selalu dipakai dan tak lekang oleh waktu.

a. Awal Mula Batik

Batik secara bahasa adalah salah satu cara untuk membuat pakaian. Pembuatan batik mengacu pada teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam. Malam adalah lilin yang telah dipanaskan dengan kompor atau tungku dan malam tersebut akan dilukiskan ke kain dengan menggunakan canting. Canting ini bersifat seperti kuas untuk kain. Canting untuk membatik ini pertama kali ditemukan di Pulau Jawa dengan motif di canting tersebut.

Pengertian batik yang kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan menggunakan teknik tertentu, termasuk dengan menggambarkan motif ataupun corak yang dapat menggambarkan ciri khas pada setiap batiknya. Secara etimologi, batik berasal dari gabungan dua kata yang berasal dari bahasa Jawa, yakni “amba” yang berarti menulis dan “titik” yang bermakna titik. Singkatan dari “amba” dan “titik” tersebut akhirnya membentuk sebuah kata yaitu Batik.

b. Proses Pembuatan Batik.

Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan yang menggunakan malam merupakan salah satu seni kuno. Penggunaan malam sebagai salah satu teknik pewarnaan ditemukan di Mesir dan mulai terkenal sejak abad ke-4 sebelum masehi. Pada saat itu corak dapat dilihat pada kain mumi yang dihias dengan menggunakan malam untuk menciptakan pola. Seperti yang sudah dijelaskan, pewarnaan batik menggunakan malam yang dilukiskan dengan menggunakan canting, setelah itu kita akan menunggu batik untuk kering. Setelah kering, batik akan diberi warna sesuai dengan keinginan.

Waktu yang diperlukan sebuah batik untuk kering berbeda-beda, contohnya saja batik tulis memerlukan waktu yang sangat lama untuk kering. Batik tulis memerlukan waktu dua hingga tiga bulan untuk kering, sedangkan untuk batik cap cukup memerlukan waktu dua sampai tiga hari untuk kering. c. Daerah Penyebaran Batik

Terdapat beberapa pemahaman tentang dari mana batik awalnya berasal. Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, menurut G.P Rouffaer berpendapat bahwa batik mulai dikenalkan dari India. Tetapi, menurut F.A Sutjipto, Ia percaya bahwa tradisi batik asli dari Toraja, Flores, Halmahera, ataupun Papua. Dalam literatur Eropa, teknik pembuatan batik ini diceritakan dalam History of Java. Di Asia, terknik seni rupa membuat pola di atas kain juga ditemukan di Tioongkok semasa dinasti T’ang dan juga di India serta Jepang. Di Afrika, seni ini juga dikenal di Nigeria. Di Indonesia sendiri, kesenian membatik dipercaya sudah mulai ada semenjak zaman Majapahit dan menjadi populer pada akhir abad ke 18 atau awal abad ke-19. Seluruh batik tersebut ditulis dan baru memulai batik cap saat tahun 1920-an.

d. Batik pada zaman dahulu

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni yang tinggi dan telah menjadi kebudayaan Indonesia sejak cukup lama, khususnya untuk suku Jawa.

Zaman dahulu, perempuan – perempuan jawa menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai sumber mata pencaharian. Pekerjaan menjadi seorang pembatik merupakan sebuah pekerjaan yang eksklusif.

Sampai pada akhirnya ditemukan batik cap dan memungkinkan seorang pria untuk melakukan pekerjaan ini. Namun, pada suatu daerah pesisir pekerjaan membatik ini lazim untuk para pria. Contohnya saja batik “Mega Mendung” yang memiliki corak maskulin. Pada awalnya, membatik merupakan sebuah kebiasaan yang turun menurun sehingga tidak jarang bahwa sebuah keluarga memiliki motif batik masing – masing. Tidak jarang juga, pada zaman dahulu motif batik menentukan status sosial seseorang. Bahkan ada beberapa motif yang hanya dipakai oleh keluarga Keraton.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia yang pada awalnya berasal dari Jawa. Batik Indonesia pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden kedua Indonesia yaitu Presiden Soeharto yang Ia pakai pada saat konferensi PBB.

e. Batik Modern

Seiring dengan masuknya budaya – budaya bangsa lain ke Indonesia, pembuatan batik memiliki corak dan warna yang beragam. Pada awalnya, batik hanya memiliki corak dan warna yang terbatas dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu.

Namun, batik pesisir menyerap berbagai pengaruh dari bangsa asing dari para pedagang asing dan pada akhirnya tentu saja budaya yang dibawa oleh para penjajah. Batik yang dahulu hanya berwarna cokelat atau warna tua, saat ini mulai berinovasi menjadi warna terang dan meniliki corak yang lebih berbentuk seperti gambar, contohnya saja seperti batik bercorak phoenix yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Akan tetapi batik tradisional tetap mempertahankan corak tradisionalnya yang khas.

Seiring dengan perkembangan zaman, batik bukan hanya dijadikan sebagai busana ataupun kain. Seperti yang telah banyak kita lihat, batik banyak yang dijadikan sebagai barang – barang lain. Contohnya saja seperti tas, tudung saji, taplak.

f. Pemakaian dan Pemasaran Batik

Batik yang telah berkembang sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang ini telah membuat perubahan mode baik pada masyarakat di daerah maupun masyarakat di perkotaan.

Masuknya budaya asing ke Indonesia tentu saja membawa beberapa dampak yan dapat membuat masyarakat Indonesia akan lupa tentang budaya. “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau” pepatah tersebut menggambarkan betul yang sering manusia lakukan. Dahulu kala, batik hanya dipakai oleh kalangan – kalangan bangsawan karena dinilai cukup mahal untuk membeli sebuah batik terutama batik tulis. Selain itu, dahulu batik hanya dipakai untuk acara – acara formal. Perbedaan yang mencolok terjadi menuju ke zaman yang semakin modern. Zaman sekarang, semua orang mulai menggunakan batik bahkan saat acara non – formal sekalipun. Hal ini dipengaruhi karena sudah mulai banyak batik cap yang harganya lebih miring, dan selain itu kebanggaan akan batik Indonesia sudah lebih terbentuk.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kalian baru akan merasakan sayang atau kehilangan sesuatu saat barang tersebut sudah tidak ada. Hal tersebut terjadi juga saat peristiwa batik Indonesia yang di-klaim oleh negara tetangga kita. Dan pada akhirnya batik Indonesia dipatenkan oleh Unites Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tanggal 2 Oktober 2009"

4. Batik sebagai Budaya Warisan Indonesia

Batik sebagai salah satu kekayan tradisi budaya kita memilki nilai-nilai yang dijunjung tingi masyarakatnya. Bahkan tidak berlebihan jika batik penulis katakan memilki nilai kesempurnan antara lain yang dikembangkan dari ahli estetika memberikan patokan sebagai berikut:

a. Sempurna dilhat dari sudut bobot gagasan, konsep, dan wawasanya b. Sempurna dilhat dari besarnya fungsi sebuah karya seni dalam kehidupan

manusia

c. Sempurna dilhat dari sudut nilai-nilai yang ditawarkan karya seni dan relevansinya bagi perkembangan kebudayan

d. Sempurna dilhat dari sudut kesesuaian karya seni dengan cita-cita kehidupan dan nilai-nilai kemanusian, kerohanian yang hendak ditegakan manusia

Pada zaman modern bobot dan keindahan karya seni juga sering diukur dari nilai pembaharuanya dan penyimpangan dari konvensi seni yang ada. Pembaruan dan penyimpangan dipandang sebagai satu cara seniman menyampaikan suara tentang perubahan yang berlangsung dalam masyarakat dan kebudayan pada zamanya

Sejalan dengan pemikiran itu, sekolah dapat mengembangakan batik untuk pembelajaran sesuai dengan kemampuan guru, sekolah dan peserta didik. Guru dapat mengembangkan batik dengan cara penyederhanan motif, warna, dan teknik sesuai dengan perkembangan peserta didik. Pengembangan batik untuk pembelajaran di sekolah seperti yang disampaikan Yusuf Efendy (200) Jika mengkaji budaya batik dari segi simbolisasi, dapat dilakukan dari 4 (empat) pendekatan :

a. Simbolisasi warna (pendekatan estetika warna dan teknologi).

b. Simbolisasi ragam hias (patern) termasuk mitos-mitosnya (pendekatan adat mitos dan latar foilosofinya).

c. Simbolisasi dari bahan kainya (pendekatan teknologi kenyamanan dan estetika bahan kain).

d. Simbolisasi pemakaian kain batik (pendekatan sosiologi, antropologi kekuasan, dan adat). Demikian juga penerapanya dalam pembelajaran di sekolah.

Batik merupakan salah satu kekayaan warisan budaya bangsa yang patut dilestarikan. Namun, seiring dengan berkembangnya tren mode, seringkali batik hanya dipakai sebagai salah satu busana pelengkap. Padahal, berpakaian batik semestinya dapat dilakukan sebagai wujud konkret mempertahankan karakter bangsa. Polemik pun muncul ketika batik diakui sebagai milik negara lain, Malaysia. batik diakui sebagai milik negara tetangga, pemerintah Indonesia pun mendaftarkan Batik ke dalam jajaran daftar representatif budaya tak benda warisan manusia UNESCO atau Representative List of Intangible Cultural Heritage-UNESCO.

Untuk mendapat pengakuan refresentatif sebagai warisan budaya, proses yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia terbilang cukup panjang. Berawal pada 3 September 2008 dengan proses Nominasi Batik Indonesia ke UNESCO,

yang kemudian diterima secara resmi oleh UNESCO pada 9 Januari 2009 untuk diproses lebih lanjut.

Lalu, tahap selanjutnya ialah pengujian tertutup oleh UNESCO di Paris pada tanggal 11 hingga 14 Mei 2009. Dan puncaknya, pada (2/10/2009) diakhiri dengan UNESCO akan mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia yang akan dilaksanakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Sebelumnya, wayang Indonesia pada tahun 2003 ditetapkan UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Wirisan Manusia sedangkan keris ditetapkan pada tahun 2005. Selain batik, selanjutnya yang juga sedang menungu giliran untuk dikukuhkan adalah "Best Practice". Diklat Budaya Batik Indonesia dan karya budaya berupa angklung Indonesia yang sudah dinominasikan pada 26 Agustus 2009 lalu. (nsa)

5. Cara Membuat Batik

Teknik batik dapat dibagi menjadi tiga tahap, yakni persiapan, pembatikan, dan proses penyelesaian. Proses persiapan meliputi: mengukur dan menggunting, merendam(ngetel), memberi kanji (nganji), menjemur kain, dan memukul kain dengan pemukul kayu (ngemplong), serta pemindahan rancangan ragam hias ke atas kain. Proses selanjutnya adalah pembatikan, yakni melumuri permukaan kain yang telah digambar dengan lilin atau malam, serta mewarnai kain. Proses terakhir adalah penyelesaian yakni pelepasan lilin dari kain.

Pada saat proses persiapan kain diukur dan digunting terlebih dahulu, kemudian dijahit bagian tepi kiri dan kanannya. Setelah itu, kain direndam dalam larutan minyak jarak atau minyak kemiri dan londo merang(larutan yang diperoleh dari hasil pembakaran merang). Lalu larutan tersebut diberi air, kemudian disaring. Air saringannya digunakan untuk merendam kain selama semalam. Setelah itu kain dijemur pada siang hari. Proses ini diulang selama 8 hari. Setelah itu kain diberi tajin, yaitu cairan kental yang muncul pada saat memasak nasi atau ketan. Ada pula yang menggunakan bubur tepung ketan sebagai bahan kanji. Hal ini diperlukan agar kain mudah dibatik dan serat kain terlindung dari sengatan malam yang sangat panas. Setelah kain dikanji dan dikeringkan dengan sinar matahari, kain dipukul-pukul agar pori-porinya

terbuka, sehingga warna dapat meresap secara maksimal. Proses ini dalam bahasa Jawa disebut kemplong. Sebelum dibatik, permukaan kain diberi pola corak terrlabih dahulu. Pola corak dipindahkan melalui penggambaran dengan

Dokumen terkait