Menguraikan tentang : Kesimpulan, dan Saran-saran.
3. Deskripsi Bagian Akhir Berisi tentang : Daftar Pustaka, Lampiran-Lampiran, Riwayat Hidup.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Hasil Belajar Matematika a. Belajar
Belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan niat.
Menurut Baharuddin dan Wahyuni (2007: 12) belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Perubahan-perubahan tersebut, tentunya si pelaku juga akan terbantu dalam memecahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Belajar pada dasarnya berbicara tentang tingkahlaku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman yang berasal dari lingkungan. Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri siswa, maka proses belajar tersebut mengarah pada tercapainya tujuan dalam kurikulum. Belajar bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan dan pembentukan sikap siswa (Hardini dan Puspitasari, 2012: 4).
10
Skinner berpendapat bahwa belajar merupakan suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Dengan demikian, belajar merupakan seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab, individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Sehingga dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang (Dimyati dan Mudjiono, 2013: 9-11).
Berdasarkan pengertian-pengertian belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang untuk memperoleh proses perubahan tingkah laku seperti keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, tidak tahu menjadi tahu, yang tidak mengerti menjadi mengerti, yang tidak bisa menjadi bisa, belajar dapat dilakukan di manasaja, dengan siapa saja, dan tidak ada batas waktu.
b. Matematika
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sudah ada sejak taman kanak-kanak yang diajarkan secara
11
informal, sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Karena, matematika merupakan salah satu syarat kelulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, serta dengan belajar matematika membuat kita berfikir kritis, kreatif, dan aktif.
Menurut Sujono dalam Suhermi dan Seragih (2006: 4) matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik, matematika merupakan bagian pengetahuan manusia tentang bilangan dan kalkulasi, matematika membantu orang dalam menginterprestasikan secara tepat berbagai ide dan kesimpulan, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan, matematika berkenaan dengan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif (Hardini dan Puspitasari, 2012: 159)
matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi,
12
memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebutuhan akan aplikasi matematika saat ini dan masa depan tidak hanya untuk keperluan sehari- hari, tetapi untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, matematika perlu dikuasai dengan baik oleh siswa (Susanto, 2013: 185).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang dijadikan syarat kelulusan di sekolah, serta ilmu logika yang bersifat abstrak yang di dalamnya bukan sekedar angka, simbol, rumus, gambar, tetapi juga tumbuh dan berakar dari dunia nyata yang harus kita ukur dan amati untuk dipecahkan masalahnya.
c. Hasil Belajar Matematika
Hasil merupakan tingkat keberhasilan atau penguasaan seseorang dalam proses setelah melakukan suatu kegiatan sehingga mendapatkan hasilnya . Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil”
dan “belajar”. Pengertian hasil (product) menunjukan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.
Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh
13
seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan (Purwanto, 2013: 44-45).
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilaku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, afektif, psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilku dalam domain-domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif, psikomotorik (Purwanto, 2013: 54).
Hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.
Menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono (2013: 11) hasil belajar berupa:
1) Informasi verbal merupakan kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemikiran informasi verbal memungkinkan individu berperan dalam kehidupan.
2) Keterampilan intelektual merupakan kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dalam lambang.
Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi, dan prinsip.
14
3) Strategi kognitif merupakan kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
4) Keterampilan motorik merupakan kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5) Sikap merupakan kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.
Menurut Bloom dalam Suprijono (2014: 6-7) hasil belajar mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik.
1) Domain Kognitif. Domain kognitif adalah pengetahuan siswa dalam berpikir dan memahami pelajaran serta penerapan materi yang sudah dipelajari.
a) Knowledge (pengetahuan, ingatan) merupakan kemampuan seseorang untuk mengingat kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Knowledge ini merupakan proses berfikir yang paling rendah. Tetapi, tipe hasil belajar ini menjadi prasyarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Mengingat (menghafal) menjadi prasyarat bagi pemahaman.
Tes yang paling banyak dipakai untuk mengungkapkan pengetahuan yaitu tipe melengkapi, tipe
15
isian, dan tipe benar salah. Biasanya orang banyak memilih tipe benar salah karena lebih mudah menyusunnya.
b) Comprehension (pemahaman). Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Misalnya diantara ketiga gambar manakah yang merupakan trapesium siku-siku.
c) Application (penerapan). Untuk penerapan ini siswa dituntut memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam satu situasi baru dan menerapkan secara benar.
Misalnya untuk menyelesaikan soal matematika dengan menggunakan hukum assosiatif, komutatif, dan distributif.
d) Analysis (menguraikan, menentukan hubungan). Dalam tugas analisis ini siswa diminta untuk menganaisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar. Misalnya siswa disuruh menerangkan apa sebab pada waktu mendung dan ada angin kencang tidak segera turun hujan.
e) Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru) merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur
16
secara logis sehingga menjelma menjadi suatu yang berstruktur atau berbentuk pola baru.
f) Evaluation (menilai) merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai, atau ide.
2) Domain Afektif. Domain afektif ini berkaitan dengan sikap dan nilai. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada siswa misalnya perhatian siswa terhadap mata pelajaran, disiplin disekolah ketika mengikuti pelajaran, motivasinya yang tinggi untuk mengetahui lebih banyak mengenai pelajaran yang diberikan oleh guru kepadanya, serta rasa hormat terhadap guru.
a) Receiving (sikap menerima atau memperhatikan) merupakan kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan dari luar yang datang kepada dirinya baik dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan sebagainya.
Receiving ini juga dapat disebut sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu obyek. Pada receiving ini siswa dibina agar mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada meeka dan mengaplikasikannya.
b) Responding (memberikan respons) merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu
17
dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara.
c) Valuing (menghargai) maksudnya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek sehingga apabila kegiatan tersebut tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa penyesalan.
Kaitannya dengan proses belajar
d) Organization (organisasi) ini berhubungan dengan menyatukan nilai-nilai yang berbeda, sehingga terbentuk nilai baru yang lebih universal yang membawa kepada perbaikan umum.
e) Characterization (karakterisasi) merupakan perpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
Karakterisasi ini merupakan tingkatan afektif tertinggi.
3) Domain Psikomotor. Domain Psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Misalnya seberapa terampil siswa dalam menyiapkan alat-alat.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku seseorang secara keseluruhan baik dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. sedangkan hasil belajar matematika merupakan tingkat keberhasilan atau penguasaan siswa terhadap mata
18
pelajaran matematika setelah menempuh proses pembelajaran yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil belajarnya.
Indikator hasil belajar matematika dalam penelitian ini , yaitu:
domain kognitif yaitu Pengetahuan, Pemahaman, Analisis).
2. Model Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga
a. Model Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Guru mengajar dan siswa belajar, kegiatan pembelajaran tersebut terkait dengan model pembelajaran. Menurut Joyce dan Weil dalam Rusman (2012:
133), model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain.
Menurut Suprijono (2009:46) berpendapat bahwa model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran, pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana konseptual dan sistematis untuk digunakan pada kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu yang berfungsi sebagai pedoman bagi para
19
perancang proses pembelajaran. Model pembelajaran juga dapat di pilih sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Student Teams Achievement Division
Menurut Slavin (2015: 143) Student Teams Achievement Division terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, rekognisi tim. Lima komponen tersebut akan dijelaskan di bawah ini:
1. Presentasi Kelas. Materi dalam Student Teams Achievement Division pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.
2. Tim. Terdiri atas empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi utama tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar dan mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan atau materi lainnya seperti pembahasan permasalahn bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan
20
permasalahan apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.
Tim merupakan fitur yang paling penting dalam Student Teams Achievement Division karena ditiap poin yang ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan yang terbaik untuk tim, dan tim harus melakukan yang terbaik untuk membantu tiap anggotanya. Tim ini memberi dukungan kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu adalah untuk memberikan perhatian dan respek yang mutual sehingga menghasilkan hubungan antar kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa-siswa mainstream.
3. Kuis. Kuis ini di berikan setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, semua siswa mengerjakan kuis secara individual tidak boleh saling membantu sehingga setiap siswa mempunyai rasa tanggung jawab untuk memahami materinya.
4. Skor Kemajuan Individual. Memberikan kepada setiap siswa kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik daripada sebelumnya
5. Rekognisi Tim. Tim akan mendapat penghargaan apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Skor tim
21
siswadapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat mereka.
Menurut Slavin dalam Rusman (2012: 214) gagasan utama model Student Teams Achievement Division adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru.
Langkah-langkah pembelajaran model Student Teams Achievement Division dibagi menjadi enam langkah (Rusman, 2012: 215), yaitu:
1) Penyampaian Pembukaan, Tujuan dan Motivasi
Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
2) Pembagian Kelompok
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok tersebut terdiri dari 4-5 siswa memprioritaskan heterogenitas (campuran tidak memandang ras, prestasi, suku, jenis kelamin, dan sebagainya).
Langkah-langkah pembagian kelompok (Slavin, 2015: 149):
a) Memfotokopi Lembar Rangkuman Tim. Buatlah satu buah kopian dari lembar rangkuman tim untuk setiap siswa dalam kelas anda.
22
b) Susun Peringkat Siswa. Pada selembar kertas buatlah urutan peringkat siswa di kelas anda dari yang tertinggi sampai terendah.
c) Tentukan Berdasarkan Jumlah Tim. Tiap tim harus terdiri dari empat anggota jika memungkinkan.
d) Bagikan Siswa Kedalam Tim. Pembagian tim ini homogen.
e) Isilah lembar rangkuman tim. Isilah nama-nama siswa dari setiap tim dalam lembar rangkuman tim. Biarkan tempat menulis nama siswa kosong.
3) Presentasi dari Guru
Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam kelas guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
4) Kegiatan Belajar dalam Tim (Kerja Tim)
23
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekarja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari Student Teams Achievement Division.
5) Kuis (Evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok.
Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan untuk bekarja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tesebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.
6) Penghargaan Prestasi Tim
Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100.
Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
24 a) Menghitung Skor Individu
Menurut (Slavin, 2015: 159) untuk menghitung perkembangan skor individu dihitung sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 2.1 sebagai berikut:
Tabel 2.1
Penghitungan Perkembangan Skor Individu
Skor Tes Skor Perkembangan
Individu
poin di atas skor awal
20
b) Menghitung Skor Kelompok
Menurut Rusman (2012: 216) Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok yaitu, dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu anggota kelompok dan membagi sejumlah anggota kelompok tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok sebagaimana dalam tabel di bawah ini.
25
Tabel 2.2
Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok No Rata-rata
Skor
Kualifikasi
1 0N5 Tim yang Kurang Baik (Not Team) 2 6N15 Tim yang Baik (Good Team)
3 16N20 Tim yang Baik Sekali (Great Team) 4 21N30 Tim yang Istimewa (Super Team) c) Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok
Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru).
Menurut Kurniasih dan Sani (2016: 22-23) mengungkapkan kelebihan dan kelemahan Student Teams Achievement Division, yaitu:
1) Kelebihan Student Teams Achievement Division
a) Karena dalam kelompok siswa dituntut aktif sehingga dengan model ini siswa dengan sendirinya akan percaya diri dan meningkatkan kecakapan individunya.
b) Interaksi sosial yang terbangun dalam kelompok, dengan sendirinya siswa belajar dalam bersosialisasi dengan lingkungannya (kelompok)
c) Dengan kelompok yang ada, siswa diajarkan untuk membangun komitmen dalam mengembangkan kelompoknya
26
d) Mengajarkan menghargai orang lain dan saling percaya e) Dalam kelompok siswa diajarkan untuk saling mengerti
dengan materi yang ada, sehingga siswa saling memberitahu dan mengurangi sifat kompetitif.
2) Kekurangan Student Teams Achievement Division
a) Karena tidak adanya kompetisi diantara anggota masing-masing kelompok, anak yang berprestasi bisa saja menurun semangatnya.
b) Jika guru tidak bisa mengarahkan siswa, maka siswa yang berprestasi bisa jadi lebih dominan dan tidak terkendali.
c) Di dalam kelompok siswa lebih cenderung mendiskusikan materi diluar pembelajaran.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Student Teams Achievement Division merupakan salah satu model pembelajaran yang di dalam nya terdapat kelompok-kelompok yang terdiri dari empat sampai lima orang siswa. Selain itu, Ciri terpenting Student Teams Achievement Division adalah kelompok atau tim.
c. Alat Peraga.
Alat peraga dalam pembelajaran matematika di sekolah sangatlah penting, utamanya dalam mengajarkan suatu konsep yang abstrak. Alat peraga matematika dapat diartikan sebagai
27
suatu perangkat benda konkrit yang dirancang, dibuat, dan disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan dan memahami konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika (Annisah, 2014: 3).
Erman suherman mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran matematika sering menggunakan alat peraga, dengan menggunakan alat peraga (Annisah, 2014: 3-4), maka:
1) Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkrit dan lebih dapat dipahami dan dimengerti, serta dapat di tanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.
2) Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami.
3) Konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sebagai objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru menjadi bertambah banyak.
Alat peraga itu dapat berupa benda riil, gambarnya atau grafiknya.
Keuntungan alat peraga benda riil adalah benda-benda itu dapat dipindah-pindahkan (dimanipulasikan), sedangkan kelemahannya adalah tidak dapat disajikan dalam buku (tulisan), maka dari itu untuk bentik tulisannya kita buat gambarnya atau diagramnya, tetapi kelemahannya tidak dapat dimanipulasikan (Annisah, 2014: 4).
28
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa Alat peraga matematika merupakan suatu alat atau seperangkat benda nyata yang dirancang, dibuat, dan disusun secara sengaja untuk memudahkan guru menjelaskan pelajaran matematika.guru menggunakan alat peraga dalam mata pelajaran matematika agar materi yang akan disampaikan oleh guru tidak terlalu sulit atau abstrak, karena dengan adanya alat peraga siswa akan belajar lebih nyata.
Alat peraga dalam penelitian ini adalah TA-KU-TA Matriks.
Alat dan bahan serta pembuatannya sebagai berikut:
1) Alat dan bahan
Kalender, kardus, styrofoam, lem, doubletipe, penggaris, pena, cutter, gunting
2) Cara membuat alat:
Tahap 1.
a) Gunakan kalender untuk melapisi kardus berbentuk balok menggunakan lem dan gunakan sisi kalender yang berwarna putih polos.
b) Potong kardus bekas lainnya berbentuk lingkaran sebanyak 4 buah dan berbentuk persegi panjang sebanyak yang diperlukan.
c) Lepas kulit kardus yang berbentuk persegi panjang sehingga terbentuk gelombang kardus.
29
d) Buat sebuah roda menggunakan 2 buah lingkaran dan persegi panjang yang sudah dilepas kulitnya (dibutuhkan 2 buah roda).
e) Buat sebuah rantai yang akan menghubungkan kedua roda menggunakan persegi panjang yang sudah dilepas kulitnya.
f) Buatlah 2 buah tongkat menggunakan kardus untuk pemutar roda.
g) Lubangi lingkaran tepat ditengah dan masukkan tongkat pada lobang tersebut.
h) Buatlah lobang untuk menghubungkan kardus balok dengan 2 buah roda sehingga tongkat bisa diputar dan rodapun akan ikut berputar.
i) Buatlah sebuah persegi sebagai tempat matriks(matriks B) sebanyak 6 buah.
j) Rekatkan keenam persegi tersebut pada rantai roda.
k) Langkah selanjutnya, agar tongkat bisa mempertahankan roda tetap pada pertengahan.
Rekatkan dan gulung persegi panjang yang sudah dilepas kulitnya pada sisi tongkat sehingga tongkat bisa mempertahankan roda tetap di pertengahan.
l) Buat sebuah persegi pada bagian depan sebagai tempat munculnya Matriks, lubangi dengan rapi.
Tahap 2.
30
a) Buatlah kreasi menggunakan sterofom sehingga memiliki banyak angka yang menghasilkan matriks.
b) Buatlah bentuk 1 menggunakan styrofoam sebanyak 12 buah.
c) Begitu seterusnya, bentuk styrofoam sebanyak 12 buah dalam bentuk dan warna sesuai keinginan.
Tahap 3
a) Begitu seterusnya, bentuk sterofom sebanyak 12 buah dalam bentuk dan warna sesuai keinginan.
b) Potonglah kardus bekas lain yang masih rapi(ukuran
b) Potonglah kardus bekas lain yang masih rapi(ukuran