• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION BERBANTUAN ALAT PERAGA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION BERBANTUAN ALAT PERAGA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA"

Copied!
187
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION BERBANTUAN ALAT PERAGA TERHADAP HASIL

BELAJAR MATEMATIKA SISWA

Skripsi

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Oleh:

Nama : Tuti Alawiyah NIM : (2012830010)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017

(2)

i

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA Skripsi Februari 2017

Tuti Alawiyah (2012830010)

PENGARUH MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION BERBANTUAN ALAT PERAGA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

xvi + 79 hal, 11 tabel, 4 gambar, 23 lampiran ABSTRAK

Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh adanya hasil belajar matematika siswa yang masih rendah, sehingga penulis tergerak untuk melakukan penelitian dengan menggunakan model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga yang diharapkan mampu menjadi solusi untuk mempengaruhi hasil belajar matematika siswa menjadi lebih baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa pada materi matriks. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 47 Jakarta, tahun ajaran 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Akutansi yang berjumlah 106 siswa dengan sampel kelas X. AK 1 berjumlah 36 siswa sebagai kelas eksperimen dan X. AK 3 berjumlah 34 siswa sebagai kelas kontrol. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen. Hasil analisis uji instrumen diperoleh bahwa data valid dan reliabel serta sampel berdistribusi normal dan homogen. Hipotesis penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hail belajar matematika siswa kelas X SMK Negeri 47 Jakarta.

Hal ini terbukti dari hasil perhitungan uji t yaitu thitung =2, 253 dan 1, 997

tabel

t = dengan taraf signifikansi 5%

(

=0.05

)

, maka thitungttabel . Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa kelas X SMK Negeri 47 Jakarta.

Kata kunci : Model Student Teams Achievement Division, Alat Peraga, Hasil Belajar Matematika Siswa.

Daftar Pustaka 22 (2006-2015)

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

(6)

v

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta kepada umatnya yang selalu melaksanakan ajarannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa” ini tepat pada waktunya.

Skripsi ini sengaja penulis ajukan sebagai salah satu syarat dalam syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penulisan skripsi ini tentu masih banyak kekurangan dan kelemahannya, untuk itu penulis ingin menyampaikan permohonan kritik dan saran dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini tidak mungkin dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan yang baik ini penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Dr.Hj.Herwina Bahar, M.A., Selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiya Jakarta, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti studi di fakultas ini.

2. Ibu Ismah, M.Si., Selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang telah memberikan dorongan dan arahan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

3. Ibu Arlin Astriyani, M.Pd., Selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan bimbingan dan mengarahkan penulis dengan penuh kesabaran, kecermatan dan totalitas kepada penullis.

4. Ibu Wiji Kusrini M.Pd., Selaku Kepala Sekolah dan Ibu Nurdiana S.Pd. Selaku Wali Kelas X sekaligus Guru Matematika SMK Negeri 47 Jakarta yang telah mengizinkan, membimbing dan membantu penulis melakukan penelitian di sekolah ini.

(8)

vii

5. Teristimewa untuk Ayahanda Asli Rajab dan Ibunda Yeyet Haryati selaku orang tua penulis yang telah memberikan kasih sayang, serta mendoakan kesuksesan dan kelancaran setiap aktifitas anak- anaknya.

6. Adik-adikku (Abdullah Zaid Haritsah, Fathimah Az-Zahra, Muhammad Ad-Dzahabi Alfariqi, Abdurrahman Hakim, Zulfa Az- Zahra) yang telah menghibur dan memberi semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Sahabat-sahabatku (Imas, uya, zindy) yang tak kenal pamrih membantu, mendukung, memberi motivasi dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Semua teman-temanku kelas AMK angkatan 2012 yang selalu semangat menyelesaikan skripsi.

9. Semua pihak yang tidak dapat dituliskan satu-persatu, yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam rangka penyusunan skripsi ini.

Akhirnya dengan segala ketulusan hati yang bersih dan ikhlas, penulis berdoa semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang membaca, dan memberikan kontribusi bagi kualitas pendidikan di masa depan, serta amal baik yang telah mereka berikan mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Jakarta, Februari 2017

Tuti Alawiyah

(9)

viii

(10)

ix

PERSEMBAHAN

skripsi ini ku persembahkan untuk ABI, UMI, dan ADIK-ADIKku tercinta.

Tak lupa juga teman-teman AMK 2012 seperjuangan yang telah membantu

penyelesaian skripsi ini.

(11)

x

MOTTO

Sesungguhnya

setelah kesulitan itu ada kemudahan.

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain .

(QS. Al-Insyirah: 6 - 7)

(12)

xi

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

FAKTA INTEGRITAS ... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH ... vi

PERSEMBAHAN... vii

MOTTO... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR... xv

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang Masalah……… 1

B. Identifikasi Masalah……….. 4

C. Batasan Masalah ... 4

D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan penelitian ... 5

F. Manfaat Penelitian ... 6

G. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. Kajian Teori ... 10

B. Kerangka Berpikir ... 38

C. Hipotesis Penelitian ... 40

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 41

A. Tempat dan Waktu penelitian... 41

B. Metode Penelitian ... 42

C. Variabel Penelitian ... 44

(13)

xii

D. Populasi dan Sampel ... 45

E. Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian ... 48

F. Teknik Pengumpulan Data ... 52

G. Teknik Analisis Data ... 54

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 60

A. Deskripsi Data ... 60

B. Hasil Analisis Data ... 64

C. Interprestasi Hasil Penelitian ... 78

BAB V. PENUTUP ... 82

A. Kesimpulan ... 82

B. Saran-saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 84

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 87

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Alokasi Waktu Penelitian... 37

Tabel 3.2 Desain Penelitian ... 38

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen ... 44

Tabel 4.1 Hasil Analisis Item Instrumen Hasil Belajar Matematika Siswa ... 58

Tabel 4.2 Nama-nama Siswa Kelas Eksperimen ... 59

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Menggunakan Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga ... 61

Tabel 4.4 Nama-nama Siswa Kelas Kontrol ... 63

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Menggunakan Model Konvensional (Kelas Kontrol) ... 64

Tabel 4.6 Perbedaan hasil belajar matematika siswa antara kelas eksperimen dan kelas control ... 65

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 67

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan uji Normalitas Kelas Kontrol ... 68

Tabel 4.9 Hasil Perhitungan uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 69

Tabel 4.10 Hasil perhitungan uji homogenitas ... 69

Tabel 4.11 Hasil perhitungan uji hipotesis hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen dan kelas control ... 70

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Bagan Kerangka Berpikir ... 34 Gambar 2 Grafik Statistik Perbedaan hasil belajar matematika siswa

antara kelas eksperimen dan kelas control...149 Gambar 3 Proses Pembelajaran Di Kelas Eksperimen dan Kontrol...151

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 RPP Kelas Eksperimen ... 80

Lampiran 2 RPP Kelas Kontrol ... 93

Lampiran 3 Soal Instrumen Tes BentukBentuk Uraian (Uji Validitas)...108

Lampiran 4 Soal Instrumen Penelitian Tes Bentuk Bentuk Uraian...110

Lampiran 5 Tabel Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar Matematika Materi Matriks (Uji Validitas)...112

Lampiran 6 Lembar Observasi Kemampuan Guru Mengelola Penerapan Model Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga...120

Lampiran 7 Lembar Observasi Siswa...124

Lampiran 8 Hasil Uji Vadilitas Instrumen...126

Lampiran 9 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen...127

Lampiran 10 Perhitungan Uji Validitas dan Uji Reliabilitas...128

Lampiran 11 Hasil Posttest Kelas Eksperimen...131

Lampiran 12 Hasil Posttest Kelas Kontrol...132

Lampiran 13 Perhitungan Statistik Kelas Eksperimen...133

Lampiran 14 Perhitungan Statistik Kelas Kontrol...137

Lampiran 15 Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen...141

Lampiran 16 Perhitungan Uji Normalitas Kelas Kontrol...143

Lampiran 17 Perhitungan Uji Homogenitas...145

Lampiran 18 Perhitungan dan Pengujian Uji Hipotesis...147

Lampiran 18 Dokumentasi...151

(17)

xvi

Lampiran19 Kartu Konsultasi Bimbingan Skripsi...153

Lampiran 20 Kartu Menyaksikan Nonton Sidang ...154

Lampiran 21 Lembar Uji Referensi...155

Lampiran 22 Riwayat Hidup Penulis...157

Lampiran 23 Surat-surat...158

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari serta sangat penting untuk diajarkan sejak dini karena pendidikan merupakan kebutuhan yang mutlak yang harus di penuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil menciptakan individu yang berpikir kritis dengan tingkat kemampuan yang sangat tinggi pula.

Belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupan meningkat.

Orang yang memiliki ilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT sesuai dengan Q.S Almujadalah ayat 11 berikut:

Artinya: “hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:

“Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “ Berdillah kamu”, maka berdilah, niscaya Allah meninggikan orang- orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu

(19)

2

pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS. Almujadilah: 11)

Matematika merupakan ilmu eksak yang sangat berguna di segala aspek kehidupan manusia. Saat ini, matematika dijadikan sebagai mata pelajaran yang wajib di pelajari di sekolah sejak jejang SD sampai SMA bahkan perguruan tinggi. Dengan diwajibkannya mata pelajaran ini, maka siswa dituntut untuk dapat memahami materi- materi yang terdapat di standar kurikulum negara indonesia sesuai jenjang pendidikannya masing-masing.

Berdasarkan wawancara guru mata pelajaran di sekolah matematika mata pelajaran yang sulit dipahami maupun dimengerti oleh banyak siswa, serta kurang tertarik dan merasa tidak bisa dalam pelajaran matematika sehingga hasil belajar matematika siswa masih sangat bervariasi. Bervariasinya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu bersumber dari siswa, guru, fasilitas dan lingkungan.

Faktor dari siswa yaitu kurang mandiri dan kerja sama dalam tim yang dimulai dari kesadaran, kemauan, keinginan dan usaha dari siswa sehingga tampil percaya diri tanpa mengandalkan orang lain.

Faktor dari guru yaitu model pembelajaran guru kurang inovatif dan variatif dalam mengajarkan materi. Faktor dari fasilitas belajar yaitu kelengkapan fasilitas belajar yang mempengaruhi hasil belajar siswa.

Faktor dari lingkungan yaitu kurang optimalnya interaksi antara siswa dan guru maupun siswa dengan siswa.

(20)

3

Hampir semua guru dalam mengajar menggunakan metode ceramah. Metode ceramah memang tidak bisa dihilangkan, tetapi semua guru dituntut untuk mengembangkan kreativitasnya dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang relatif banyak melibatkan keaktifan siswa dan menciptakan inovasi sehingga pembelajaran berlangsung menyenangkan.

Penelitian terhadap model pembelajaran Student Teams Achievement Division ini didukung pula oleh penelitian sebelumnya, diantaranya Wulandari dan Sukirno (2012: 135) meneliti tentang penerapan model Cooperative Learning Tipe Student Teams Achievement Division berbantu media monopoli dalam peningkatan aktivitas belajar. Hasilnya penerapan Student Teams Achievement Division meningkatkan aktivitas belajar siswa. Penelitian ini juga didukung oleh Handayani (2014: 125) yang meneliti tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division berbantuan media gambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasilnya dengan penerapan Student Teams Achievement Division membuat semua kelompok berhasil memahami dan menyelesaikan tugas.

Penelitian tentang penggunaan alat peraga terhadap hasil belajar juga telah dilakukan oleh Sumiaty (2009: 1) tentang penggunaan alat peraga tiga dimensi dalam meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan geometri bangun ruang. Hasilnya penggunaan alat peraga meningkatkan hasil belajar siswa.

(21)

4

Berdasarkan pada beberapa permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, identifikasi masalahnya adalah sebagai berikut:

1. Rendahnya hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika

2. Siswa kurang aktif dalam mengikuti mata pelajaran matematika karena kurangnya kemandirian dan kepercayaan diri siswa

3. Model pembelajaran guru kurang inovatif dan variatif dalam mengajarkan materi matematika kepada siswa

4. Keterbatasan fasilitas sumber belajar dan alat peraga sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa

5. Kurang optimalnya interaksi antara siswa dan guru maupun siswa dengan siswa

C. Batasan Masalah

Agar penelitian yang dilakukan ini tidak terlalu meluas dan lebih terarahkan maka penulis hanya membatasi penelitian ini pada:

1. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa.

2. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah materi matriks menggunakan alat peraga.

(22)

5

3. Fokus penelitian disini adalah untuk melihat hasil belajar matematika siswa.

4. Penelitian ini akan dilaksanakan di SMK Negeri 47 Jakarta, kelas X Akutansi semester ganjil tahun ajaran 2016.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan di atas maka rumusan masalahnya adalah:

1. Bagaimanakah penerapan model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa?

2. Apakah terdapat pengaruh model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan di atas, tujuan penelitian ini adalah:

1. Tujuan Umum

Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada peneliti tentang penerapan model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa.

2. Tujuan Khusus

(23)

6

a. Untuk mengetahui pengaruh model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa

b. Untuk mengetahui penerapan model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini terbagi dua, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis.

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan, serta dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu pendidikan dan menambah kajian ilmu pendidikan khsusnya ilmu pendidikan matematika untuk mengetahui pengaruh model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa.

b. Dapat dijadikan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis.

a. Bagi Siswa

Hasil penelitian diharapkan bermanfaat untuk siswa dalam mengikuti pelajaran matematika sehingga siswa dapat

(24)

7

memahami materi dan meningkatkan hasil belajarnya dengan baik.

b. Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi guru untuk melaksanakan model pembelajaran yang tepat dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

c. Bagi Sekolah.

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai masukan dan bahan pertimbangan kebijakan guna meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.

d. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan mampu membuat peneliti mengetahui pengaruh model Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga terhadap hasil belajar matematika siswa, sehingga menambah pengetahuan dan pengalaman.

G. Sistematika Penulisan.

Secara garis besar sistematika penulisan ini terdiri dari bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir:

1. Deskripsi Bagian Awal berisi tentang : Sampul Skripsi, Halaman Judul, Abstrak, Halaman Persetujuan dan Pengesahan, Motto, Halaman Kata Pengantar, Halaman Daftar Isi, Halaman Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran,

(25)

8

2. Deskripsi Bagian Utama berisi tentang : BAB I : Pendahuluan

Merupakan garis besar, arah tujuan, dan alasan penelitian yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian dan meliputi:

Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian (umum dan khusus), Manfaat Penelitian (teoritis dan Praktis), serta Sistematika Penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Memaparkan lebih jauh mengenai teori yang menjadi landasan penulis, yang meliputi : Kajian Teori, Kerangka Berpikir, Hipotesis Penelitian.

BAB III : Metodologi Penelitian

Menguraikan tentang : Tempat dan waktu Penelitian, Metode Penelitian, Variabel dan Definisi Operasional Variabel, Populasi dan Sampel (Teknik Sampling), Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis Data.

BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

Menguraikan tentang : Deskripsi Data, Hasil Analisis Data, Interprestasi Hasil Penelitian.

BAB V : Penutup

Menguraikan tentang : Kesimpulan, dan Saran-saran.

3. Deskripsi Bagian Akhir Berisi tentang : Daftar Pustaka, Lampiran- Lampiran, Riwayat Hidup.

(26)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Hasil Belajar Matematika a. Belajar

Belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan niat.

Menurut Baharuddin dan Wahyuni (2007: 12) belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Perubahan-perubahan tersebut, tentunya si pelaku juga akan terbantu dalam memecahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Belajar pada dasarnya berbicara tentang tingkahlaku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman yang berasal dari lingkungan. Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri siswa, maka proses belajar tersebut mengarah pada tercapainya tujuan dalam kurikulum. Belajar bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan dan pembentukan sikap siswa (Hardini dan Puspitasari, 2012: 4).

(27)

10

Skinner berpendapat bahwa belajar merupakan suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Dengan demikian, belajar merupakan seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab, individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Sehingga dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang (Dimyati dan Mudjiono, 2013: 9-11).

Berdasarkan pengertian-pengertian belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang untuk memperoleh proses perubahan tingkah laku seperti keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, tidak tahu menjadi tahu, yang tidak mengerti menjadi mengerti, yang tidak bisa menjadi bisa, belajar dapat dilakukan di manasaja, dengan siapa saja, dan tidak ada batas waktu.

b. Matematika

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sudah ada sejak taman kanak-kanak yang diajarkan secara

(28)

11

informal, sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Karena, matematika merupakan salah satu syarat kelulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, serta dengan belajar matematika membuat kita berfikir kritis, kreatif, dan aktif.

Menurut Sujono dalam Suhermi dan Seragih (2006: 4) matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik, matematika merupakan bagian pengetahuan manusia tentang bilangan dan kalkulasi, matematika membantu orang dalam menginterprestasikan secara tepat berbagai ide dan kesimpulan, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan, matematika berkenaan dengan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.

Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif (Hardini dan Puspitasari, 2012: 159)

matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi,

(29)

12

memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebutuhan akan aplikasi matematika saat ini dan masa depan tidak hanya untuk keperluan sehari- hari, tetapi untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, matematika perlu dikuasai dengan baik oleh siswa (Susanto, 2013: 185).

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang dijadikan syarat kelulusan di sekolah, serta ilmu logika yang bersifat abstrak yang di dalamnya bukan sekedar angka, simbol, rumus, gambar, tetapi juga tumbuh dan berakar dari dunia nyata yang harus kita ukur dan amati untuk dipecahkan masalahnya.

c. Hasil Belajar Matematika

Hasil merupakan tingkat keberhasilan atau penguasaan seseorang dalam proses setelah melakukan suatu kegiatan sehingga mendapatkan hasilnya . Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil”

dan “belajar”. Pengertian hasil (product) menunjukan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.

Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh

(30)

13

seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan (Purwanto, 2013: 44-45).

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilaku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, afektif, psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilku dalam domain-domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif, psikomotorik (Purwanto, 2013: 54).

Hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.

Menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono (2013: 11) hasil belajar berupa:

1) Informasi verbal merupakan kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemikiran informasi verbal memungkinkan individu berperan dalam kehidupan.

2) Keterampilan intelektual merupakan kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dalam lambang.

Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi, dan prinsip.

(31)

14

3) Strategi kognitif merupakan kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

4) Keterampilan motorik merupakan kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

5) Sikap merupakan kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.

Menurut Bloom dalam Suprijono (2014: 6-7) hasil belajar mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik.

1) Domain Kognitif. Domain kognitif adalah pengetahuan siswa dalam berpikir dan memahami pelajaran serta penerapan materi yang sudah dipelajari.

a) Knowledge (pengetahuan, ingatan) merupakan kemampuan seseorang untuk mengingat kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Knowledge ini merupakan proses berfikir yang paling rendah. Tetapi, tipe hasil belajar ini menjadi prasyarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Mengingat (menghafal) menjadi prasyarat bagi pemahaman.

Tes yang paling banyak dipakai untuk mengungkapkan pengetahuan yaitu tipe melengkapi, tipe

(32)

15

isian, dan tipe benar salah. Biasanya orang banyak memilih tipe benar salah karena lebih mudah menyusunnya.

b) Comprehension (pemahaman). Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Misalnya diantara ketiga gambar manakah yang merupakan trapesium siku-siku.

c) Application (penerapan). Untuk penerapan ini siswa dituntut memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam satu situasi baru dan menerapkan secara benar.

Misalnya untuk menyelesaikan soal matematika dengan menggunakan hukum assosiatif, komutatif, dan distributif.

d) Analysis (menguraikan, menentukan hubungan). Dalam tugas analisis ini siswa diminta untuk menganaisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atas konsep- konsep dasar. Misalnya siswa disuruh menerangkan apa sebab pada waktu mendung dan ada angin kencang tidak segera turun hujan.

e) Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru) merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur

(33)

16

secara logis sehingga menjelma menjadi suatu yang berstruktur atau berbentuk pola baru.

f) Evaluation (menilai) merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai, atau ide.

2) Domain Afektif. Domain afektif ini berkaitan dengan sikap dan nilai. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada siswa misalnya perhatian siswa terhadap mata pelajaran, disiplin disekolah ketika mengikuti pelajaran, motivasinya yang tinggi untuk mengetahui lebih banyak mengenai pelajaran yang diberikan oleh guru kepadanya, serta rasa hormat terhadap guru.

a) Receiving (sikap menerima atau memperhatikan) merupakan kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan dari luar yang datang kepada dirinya baik dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan sebagainya.

Receiving ini juga dapat disebut sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu obyek. Pada receiving ini siswa dibina agar mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada meeka dan mengaplikasikannya.

b) Responding (memberikan respons) merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu

(34)

17

dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara.

c) Valuing (menghargai) maksudnya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek sehingga apabila kegiatan tersebut tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa penyesalan.

Kaitannya dengan proses belajar

d) Organization (organisasi) ini berhubungan dengan menyatukan nilai-nilai yang berbeda, sehingga terbentuk nilai baru yang lebih universal yang membawa kepada perbaikan umum.

e) Characterization (karakterisasi) merupakan perpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

Karakterisasi ini merupakan tingkatan afektif tertinggi.

3) Domain Psikomotor. Domain Psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Misalnya seberapa terampil siswa dalam menyiapkan alat-alat.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku seseorang secara keseluruhan baik dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. sedangkan hasil belajar matematika merupakan tingkat keberhasilan atau penguasaan siswa terhadap mata

(35)

18

pelajaran matematika setelah menempuh proses pembelajaran yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil belajarnya.

Indikator hasil belajar matematika dalam penelitian ini , yaitu:

domain kognitif yaitu Pengetahuan, Pemahaman, Analisis).

2. Model Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga

a. Model Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Guru mengajar dan siswa belajar, kegiatan pembelajaran tersebut terkait dengan model pembelajaran. Menurut Joyce dan Weil dalam Rusman (2012:

133), model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain.

Menurut Suprijono (2009:46) berpendapat bahwa model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran, pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana konseptual dan sistematis untuk digunakan pada kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu yang berfungsi sebagai pedoman bagi para

(36)

19

perancang proses pembelajaran. Model pembelajaran juga dapat di pilih sesuai dengan tujuan pembelajaran.

b. Student Teams Achievement Division

Menurut Slavin (2015: 143) Student Teams Achievement Division terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, rekognisi tim. Lima komponen tersebut akan dijelaskan di bawah ini:

1. Presentasi Kelas. Materi dalam Student Teams Achievement Division pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.

2. Tim. Terdiri atas empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi utama tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar dan mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan atau materi lainnya seperti pembahasan permasalahn bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan

(37)

20

permasalahan apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.

Tim merupakan fitur yang paling penting dalam Student Teams Achievement Division karena ditiap poin yang ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan yang terbaik untuk tim, dan tim harus melakukan yang terbaik untuk membantu tiap anggotanya. Tim ini memberi dukungan kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu adalah untuk memberikan perhatian dan respek yang mutual sehingga menghasilkan hubungan antar kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa- siswa mainstream.

3. Kuis. Kuis ini di berikan setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, semua siswa mengerjakan kuis secara individual tidak boleh saling membantu sehingga setiap siswa mempunyai rasa tanggung jawab untuk memahami materinya.

4. Skor Kemajuan Individual. Memberikan kepada setiap siswa kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik daripada sebelumnya

5. Rekognisi Tim. Tim akan mendapat penghargaan apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Skor tim

(38)

21

siswadapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat mereka.

Menurut Slavin dalam Rusman (2012: 214) gagasan utama model Student Teams Achievement Division adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru.

Langkah-langkah pembelajaran model Student Teams Achievement Division dibagi menjadi enam langkah (Rusman, 2012: 215), yaitu:

1) Penyampaian Pembukaan, Tujuan dan Motivasi

Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.

2) Pembagian Kelompok

Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok tersebut terdiri dari 4-5 siswa memprioritaskan heterogenitas (campuran tidak memandang ras, prestasi, suku, jenis kelamin, dan sebagainya).

Langkah-langkah pembagian kelompok (Slavin, 2015: 149):

a) Memfotokopi Lembar Rangkuman Tim. Buatlah satu buah kopian dari lembar rangkuman tim untuk setiap siswa dalam kelas anda.

(39)

22

b) Susun Peringkat Siswa. Pada selembar kertas buatlah urutan peringkat siswa di kelas anda dari yang tertinggi sampai terendah.

c) Tentukan Berdasarkan Jumlah Tim. Tiap tim harus terdiri dari empat anggota jika memungkinkan.

d) Bagikan Siswa Kedalam Tim. Pembagian tim ini homogen.

e) Isilah lembar rangkuman tim. Isilah nama-nama siswa dari setiap tim dalam lembar rangkuman tim. Biarkan tempat menulis nama siswa kosong.

3) Presentasi dari Guru

Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam kelas guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.

4) Kegiatan Belajar dalam Tim (Kerja Tim)

(40)

23

Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekarja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari Student Teams Achievement Division.

5) Kuis (Evaluasi)

Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok.

Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan untuk bekarja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tesebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.

6) Penghargaan Prestasi Tim

Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100.

Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:

(41)

24 a) Menghitung Skor Individu

Menurut (Slavin, 2015: 159) untuk menghitung perkembangan skor individu dihitung sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 2.1 sebagai berikut:

Tabel 2.1

Penghitungan Perkembangan Skor Individu

Skor Tes Skor Perkembangan

Individu a. Lebih dari 10 poin di

bawah skor awal

5 b. 10 hingga 1 poin di

bawah skor awal

10 c. Skor awal sampai 10

poin di atas skor awal

20 d. Lebih dari 10 poin di

atas skor awal

30 e. Nilai sempurna (tidak

berdasarkan skor awal)

30

b) Menghitung Skor Kelompok

Menurut Rusman (2012: 216) Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok yaitu, dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu anggota kelompok dan membagi sejumlah anggota kelompok tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok sebagaimana dalam tabel di bawah ini.

(42)

25

Tabel 2.2

Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok No Rata-rata

Skor

Kualifikasi

1 0N5 Tim yang Kurang Baik (Not Team) 2 6N15 Tim yang Baik (Good Team)

3 16N20 Tim yang Baik Sekali (Great Team) 4 21N30 Tim yang Istimewa (Super Team) c) Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok

Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru).

Menurut Kurniasih dan Sani (2016: 22-23) mengungkapkan kelebihan dan kelemahan Student Teams Achievement Division, yaitu:

1) Kelebihan Student Teams Achievement Division

a) Karena dalam kelompok siswa dituntut aktif sehingga dengan model ini siswa dengan sendirinya akan percaya diri dan meningkatkan kecakapan individunya.

b) Interaksi sosial yang terbangun dalam kelompok, dengan sendirinya siswa belajar dalam bersosialisasi dengan lingkungannya (kelompok)

c) Dengan kelompok yang ada, siswa diajarkan untuk membangun komitmen dalam mengembangkan kelompoknya

(43)

26

d) Mengajarkan menghargai orang lain dan saling percaya e) Dalam kelompok siswa diajarkan untuk saling mengerti

dengan materi yang ada, sehingga siswa saling memberitahu dan mengurangi sifat kompetitif.

2) Kekurangan Student Teams Achievement Division

a) Karena tidak adanya kompetisi diantara anggota masing- masing kelompok, anak yang berprestasi bisa saja menurun semangatnya.

b) Jika guru tidak bisa mengarahkan siswa, maka siswa yang berprestasi bisa jadi lebih dominan dan tidak terkendali.

c) Di dalam kelompok siswa lebih cenderung mendiskusikan materi diluar pembelajaran.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Student Teams Achievement Division merupakan salah satu model pembelajaran yang di dalam nya terdapat kelompok-kelompok yang terdiri dari empat sampai lima orang siswa. Selain itu, Ciri terpenting Student Teams Achievement Division adalah kelompok atau tim.

c. Alat Peraga.

Alat peraga dalam pembelajaran matematika di sekolah sangatlah penting, utamanya dalam mengajarkan suatu konsep yang abstrak. Alat peraga matematika dapat diartikan sebagai

(44)

27

suatu perangkat benda konkrit yang dirancang, dibuat, dan disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan dan memahami konsep-konsep atau prinsip- prinsip dalam matematika (Annisah, 2014: 3).

Erman suherman mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran matematika sering menggunakan alat peraga, dengan menggunakan alat peraga (Annisah, 2014: 3-4), maka:

1) Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkrit dan lebih dapat dipahami dan dimengerti, serta dapat di tanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.

2) Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami.

3) Konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sebagai objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru menjadi bertambah banyak.

Alat peraga itu dapat berupa benda riil, gambarnya atau grafiknya.

Keuntungan alat peraga benda riil adalah benda-benda itu dapat dipindah-pindahkan (dimanipulasikan), sedangkan kelemahannya adalah tidak dapat disajikan dalam buku (tulisan), maka dari itu untuk bentik tulisannya kita buat gambarnya atau diagramnya, tetapi kelemahannya tidak dapat dimanipulasikan (Annisah, 2014: 4).

(45)

28

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa Alat peraga matematika merupakan suatu alat atau seperangkat benda nyata yang dirancang, dibuat, dan disusun secara sengaja untuk memudahkan guru menjelaskan pelajaran matematika.guru menggunakan alat peraga dalam mata pelajaran matematika agar materi yang akan disampaikan oleh guru tidak terlalu sulit atau abstrak, karena dengan adanya alat peraga siswa akan belajar lebih nyata.

Alat peraga dalam penelitian ini adalah TA-KU-TA Matriks.

Alat dan bahan serta pembuatannya sebagai berikut:

1) Alat dan bahan

Kalender, kardus, styrofoam, lem, doubletipe, penggaris, pena, cutter, gunting

2) Cara membuat alat:

Tahap 1.

a) Gunakan kalender untuk melapisi kardus berbentuk balok menggunakan lem dan gunakan sisi kalender yang berwarna putih polos.

b) Potong kardus bekas lainnya berbentuk lingkaran sebanyak 4 buah dan berbentuk persegi panjang sebanyak yang diperlukan.

c) Lepas kulit kardus yang berbentuk persegi panjang sehingga terbentuk gelombang kardus.

(46)

29

d) Buat sebuah roda menggunakan 2 buah lingkaran dan persegi panjang yang sudah dilepas kulitnya (dibutuhkan 2 buah roda).

e) Buat sebuah rantai yang akan menghubungkan kedua roda menggunakan persegi panjang yang sudah dilepas kulitnya.

f) Buatlah 2 buah tongkat menggunakan kardus untuk pemutar roda.

g) Lubangi lingkaran tepat ditengah dan masukkan tongkat pada lobang tersebut.

h) Buatlah lobang untuk menghubungkan kardus balok dengan 2 buah roda sehingga tongkat bisa diputar dan rodapun akan ikut berputar.

i) Buatlah sebuah persegi sebagai tempat matriks(matriks B) sebanyak 6 buah.

j) Rekatkan keenam persegi tersebut pada rantai roda.

k) Langkah selanjutnya, agar tongkat bisa mempertahankan roda tetap pada pertengahan.

Rekatkan dan gulung persegi panjang yang sudah dilepas kulitnya pada sisi tongkat sehingga tongkat bisa mempertahankan roda tetap di pertengahan.

l) Buat sebuah persegi pada bagian depan sebagai tempat munculnya Matriks, lubangi dengan rapi.

Tahap 2.

(47)

30

a) Buatlah kreasi menggunakan sterofom sehingga memiliki banyak angka yang menghasilkan matriks.

b) Buatlah bentuk 1 menggunakan styrofoam sebanyak 12 buah.

c) Begitu seterusnya, bentuk styrofoam sebanyak 12 buah dalam bentuk dan warna sesuai keinginan.

Tahap 3

a) Begitu seterusnya, bentuk sterofom sebanyak 12 buah dalam bentuk dan warna sesuai keinginan.

b) Potonglah kardus bekas lain yang masih rapi(ukuran besar) sehongga berbentuk persegi.

c) Lapisi kardus dengan kalender menggunakan lem d) Bentuk 2 penanda Matriks ([ ]) menggunakan kardus

kemudian dilapisi dengan kalender yang diberi lem e) Rekatkan penanda matriks sehingga menjadi sebuah

matriks yang masih kosong pada kardus tahap 3 ini f) Lubangi kardus menyesuaikan potongan pada kardus

balok

g) Rekatkan kardus tahap 3 ini pada kardus balok.

h) Rekatkan sepasang penanda matriks pada sisi lobang kardus yang menghubungkan dangan kardus balok.

i) Buatlah tempat untuk meletakkan hasil dari operasi Matriks

(48)

31 Tahap 4

Buat 2 persegi panjang yang berbeda kemudian dilapisi dengan kalender dan diberi penanda matriks. Hal ini untuk membuat hasil operasi matriks (untuk hasil penjumlahan/pengurangan dan perkalian Matriks).

Tahap 5

a) Rekatkan styrofoam yang sudah dibentuk pada kardus tahap 3 sehingga terdapat bentuk dan warna yang diinginkan (memiliki 3 bentuk angka) = Matriks A.

b) Untuk penjumlahan/pengurangan Matriks. Rekatkan styrofoam yang sudah dibentuk sesuai dg bentuk angka yang sama dengan Matriks A pada persegi rantai roda(tahap 1).

c) Untuk perkalian Matriks. Langkah pertama ialah merekatkan styrofoam sesuai dg baris 1 Matriks A dan direkatkan pada kolom Matriks B sesuai urutan baris 1 Matriks A(untuk persegi kedua). Langkah kedua dan ketiga (untuk persegi ketiga dan keempat) hampir sama dengan langkah pertama dan menyerupai bentuk pada baris kedua(persegi kedua) dan baris ketiga(persegi ketiga).

d) Rekatkan styrofoam pada kardus tahap 4 untuk hasil penjumlahan/pengurangan Matriks dan disesuaikan

(49)

32

dengan posisi matriks yang dilakukan operasi berlangsung sesuai dengan bentuk yang sama. Untuk perkalian matriks, rekatkan styrofoam sesuai dengan kaidah perkalian matriks.

3) Cara Permainan:

a) Sebelum melakukan operasi, terlebih dahulu mengenalkan matriks-matriks yang terdapat pada alat peraga ini, dimana terdapat 3 matriks, yaitu Matriks A, Matriks B, dan Matriks C.

b) Untuk melakukan operasi penjumlahan/ pengurangan pada alat peraga ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menggerakkan pemutar yang berada disisi samping searah jarum jam sehingga Matriks B menampilkan slide pertama.

c) Selanjutnya yaitu menyelesaikan operasi penjumlahan/pengurangan dengan cara menjumlahkan atau mengurangkan elemen-elemen pada matriks A yang memiliki bentuk yang sama pada matriks B.

d) Langkah selanjutnya yaitu meletakkan matriks C pada tempat yang sudah disediakan (di bawah matriks A dan matriks B). Matriks C merupakan hasil dari operasi penjumlahan/pengurangan dari matriks A dan matriks B.

(50)

33

d. Student Teams Achievement Division Berbantuan Alat Peraga.

Model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga merupakan suatu model yang melibatkan interaksi siswa di dalam model Student Teams Achievement Division terdapat kelompok-kelompok yang beranggota empat sampai lima siswa dan pembelajarannya didasarkan atas kerjasama kelompok dimana masing-masing individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan kelompok.

Model tersebut dibantu alat peraga untuk memudahkan proses pembelajaran. Guru menggunakan alat peraga di dalam model Student Teams Achievement Division, dan menampilkan alat tersebut sesuai dengan materi yang akan diajarkan. karena di dalam Student Teams Achievement Division terdapat kelompok-kelompok yang di dalamnya terdiri dari empat sampai lima siswa dan pembelajarannya didasarkan atas kerjasama kelompok dimana masing-masing individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan kelompok sehingga pembelajaran berjalan dengan menyenagkan.

Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga merupakan suatu model yang berbentuk kelompok empat sampai lima orang siswa yang dibantu dengan alat peraga untuk memudahkan kan proses pembelajaran. Guru menggunakan alat peraga di dalam model Student Teams

(51)

34

Achievement Division, dan menampilkan alat tersebut sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

Berdasarkan kesimpulan Student Teams Achievement Division yang telah dibaca dapun kelebihan dan kekurangan Student Teams Achievement Division, yaitu:

1) Kelebihan

a) Meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

b) Membuat siswa semangat dalam mempelajari materi yang disampaikan.

2) Kekurangan

a) Tidak semua siswa yang mengerti belajar matematika menggunakan alat peraga.

Langkah-langkah pembelajaran Student Teams Achievement Division ini didasarkan pada langkah-langkah kooperatif yang terdiri atas enam fase. Fase-fase tersebut di sajikan dalam tabel di bawah ini (Trianto, 2009: 70-71).

(52)

35

Tabel 2.3

Sintak Model Student Teams Achievement Division

Fase Kegiatan Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2

Menyajikan atau

menyampaikan informasi dengan berbantuan alat peraga

Menyajikan informasi atau materi pelajaran dengan berbantuan alat peraga. Pada tahap ini, siswa seharusnya diajarkan tentang apa yang akan mereka pelajari dan mengapa pelajaran tersebut penting.

Fase 3

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar.

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok- kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. Para anggota bekerja secara kelompok untuk menyelesaikan lembar kerja dan lembar jawaban yang telah disediakan oleh guru.

Fase 5

Tes (Evaluasi)

1. Individual. Siswa secara individual menyelesaikan kuis guru men-score kuis tersebut dan mencatat pemerolehan hasilnya saat itu serta hasil kuis pada pertemuan sebelumnya.

2. Kelompok. Masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6

Memberikan Penghargaan

Setiap tim mendapatkan

penghargaan bergantung pada nilai skor rata-rata tim.

(53)

36 B. Kerangka Berpikir

Proses pembelajaran memang tidak bisa dihilangkan, tetapi semua guru dituntut untuk mengembangkan kretivitasnya dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang relatif banyak melibatkan keaktifan siswa dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.

Sehingga, tidak membuat siswa kurang aktif dalam mengikuti mata pelajaran matematika karena kurangnya kemandirian dan kepercayaan diri siswa, rendahnya hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika, dan lain sebagainya. Oleh karena itu salah satu cara yang dapat digunakan dalam pembelajaran sehingga matematika terlihat lebih mudah dipahami dan menyenangkan adalah dengan penggunaan model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga.

Model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga merupakan salah satu model yang melibatkan interaksi siswa berbantuan alat peraga karena di dalam model Student Teams Achievement Division terdapat kelompok-kelompok yang di dalamnya terdiri dari empat sampai lima siswa dan pembelajarannya didasarkan atas kerjasama kelompok dimana masing-masing individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan kelompok sehingga pembelajaran berjalan dengan efektif dan menyenagkan.

Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga lebih efektif digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas karena mengajak siswa untuk lebih saling mengenal temannya, membantu

(54)

37

temannya, tanggung jawab terhadap tujuan kelompoknya, serta siswa lebih aktif, kreatif dalam pembelajaran di dalam kelas. Dengan demikian, diduga pembelajaran dengan model Student Teams Achievement Division berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa.

Model Penggunaan alat peraga dapat meningkatkan niat siswa untuk belajar dan memotivasi siswa untuk belajar yang selanjutnya, dari niat dan motivasi tersebut akan terbentuk hasil belajar.

Penggunaan alat peraga yang dirancang secara baik dapat mendukung proses belajar siswa dalam pembelajaran

Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(55)

38

Gambar 2.1 C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa.

(56)

39 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 47 Jakarta Kelompok Bisnis Manajemen yang beralamat di jalan Raya Condet Pejaten No.47, RT.2/RW.2, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510, Tlp/ Fax. 7995116/ 79182651. E- mail: [email protected] – Website: www.smk47jkt.sch.id.

Alasan peneliti memilih sekolah ini berdasarkan hasil observasi bahwa sekolah ini belum pernah dilakukan penelitian oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta dan belum pernah dilakukan penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti, serta letaknya yang strategis dan dekat dengan lingkungan masyarakat. Sekolah tersebut sudah terakreditasi A, dengan jumlah kelas terdiri dari 3 kelas untuk kelas X Akuntansi, 3 kelas untuk kelas XI Akuntansi, 3 kelas untuk kelas XII Akuntansi.

2. Waktu penelitian

Waktu yang dibutuhkan pada penelitian ini dimulai dari observasi sampai dengan penulisan laporan dilaksanakan pada awal bulan Februari 2016 sampai Februari 2017. Kegiatan ini

(57)

40

sampai dengan Februari 2017 dapat dilihat secara rinci pada tabel 3.1 sebagai berikut:

Tabel 3.1

Waktu penelitian No Bentuk kegiatan

Waktu Pelaksanaan

Feb Mar Okt Nov Des Jan Feb 1 Penetuan Topik Judul

2 Studi Pendahuluan 3 Penyusunan Proposal 4 Perijinan dan Subjek

Penelitian

5 Penyusunan Instrumen 6 Uji coba Instrumen 7 Pengumpulan Data 8 Pengelolaan Data 9 Penyusunan Laporan 10 Penyempurnaan Laporan 11 Penggandaan Laporan 12 Ujian

(58)

41 B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimen dengan dua kelas, karena menurut Sugiyono (2013, 114) quasi eksperimen merupakan desain yang mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.

Penelitian ini terdapat dua kelas yang akan dibandingkan dan diberikan perlakuan yang berbeda tanpa mengubah komposisi kelas tersebut. Kelas pertama adalah kelas eksperimen yang menggunakan Model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga, sedangkan kelas kedua adalah kelas kontrol yang yang tidak diberi perlakuan (model konvensional). Tetapi, pada akhir pembelajaran diberikan tes yang sama, kemudian dibandingkan hasil belajar matematikanya.

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Posttest Only Control Design. Desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (Sugiyono, 2013: 112).

(59)

42 Tabel 3.2

Desain Penelitian Posttest Only Control Design.

Keterangan:

R : proses pemilihan subjek secara acak (random)

Eksperimen : Menggunakan model Student Teams

Achievement Division berbantuan alat peraga

Kontrol : Menggunakan model pembelajaran Konvensional P : Perlakuan pada kelas eksperimen yang

Menggunakan model Student Teams Achievement

Division berbantuan alat peraga

O1 : Hasil belajar matematika dengan model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga

Kelas Perlakuan (Pengukuran)

Tes Kemampuan Akhir

Eksperimen (R) P O1

Kontrol (R) - O2

(60)

43

O2 : Hasil belajar matematika dengan pembelajaran Konvensional.

C. Variabel dan Definisi Operasional Variabel 1. Variabel

Menurut Hatch dan Farhady (dalam Sugiyono, 2013: 60) secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek lain. Kidder dalam Sugiyono (2013:

61) menyatakan bahwa variabel merupakan suatu kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya. Variabel merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013: 61).

Variabel bebas (independen) merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (dependen) (Sugiyono,2013: 61). Variabel bebas dari penelitian ini adalah model Student Teams Achievement Division berbantuan alat peraga (X1). Sedangkan, Variabel terikat (dependen) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono,2013: 61).

Variabel terikat dari penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa (Y1).

(61)

44 2. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel hasil belajar matematika ini merupakan merupakan tingkat keberhasilan atau penguasaan siswa terhadap mata pelajaran matematika setelah menempuh proses pembelajaran yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil belajarnya.

STAD berbantuan alat peraga merupakan suatu model yang berbentuk kelompok empat sampai lima orang siswa yang dibantu dengan alat peraga untuk memudahkan kan proses pembelajaran.

Guru menggunakan alat peraga di dalam model STAD, dan menampilkan alat tersebut sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

D. Populasi dan Sampel (Teknik Sampling)

Penelitian ini memerlukan beberapa data. Untuk mencapai data yang diinginkan dan tidak menyimpang dari tujuan penelitian.

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan subjek atau objek yang menjadi sasaran penelitian yang mempunyai karakteristik tertentu (Sundayana, 2014: 15). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Akutansi SMK Negeri 47 Jakarta yang berjumlah tiga kelas dengan jumlah 106 siswa.

(62)

45 2. Sampel

Sampel merupakan sejumlah (tidak semua) hal yang diobservasi/ diteliti yang relevan dengan masalah penelitian, dan tentunya subjek atau objek tersebut mempunyai karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sundayana, 2014: 15). Sampel dalam penelitian ini penulis memilih dua kelas dari tiga kelas secara acak untuk dijadikan sampel, dengan asumsi bahwa ketiga kelas memiliki karakteristik yang homogen. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X Akutansi 1 (36 siswa) sebagai kelas eksperimen, dan X Akutansi 3 (34 siswa) sebagai kelas kontrol.

3. Teknik Pengambilan Sampel (Teknik Sampling)

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sempel, untuk menentukan sampel yang akan di gunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang di gunakan (Sugiyono, 2013: 118).

Bentuk teknik Probability Sampling. Menurut Sugiyono (2013:

120) Probability Sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memberi peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. dalam penelitian ini peneliti menggunakan probability sampling yaitu Cluster Random Sampling. Menurut Sugiyono (2013: 83) metode Cluster Random Sampling yaitu suatu metode yang digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas.

(63)

46

Tujuannya adalah ingin mendapatkan dua kelas sampel yang seimbang terhadap hasil belajar matematika sebelum penelitian dilaksanakan.

Pada penelitian ini, Sampel yang ingin diteliti adalah kelas X Akutansi 1 (36 siswa) sebagai kelas eksperimen, dan X Akutansi 3 (34 siswa) sebagai kelas kontrol.

E. Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian Tabel 3.3

Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar

N o

Indikator

Nomor Soal

Jml Soa

l Indikator Pembelajaran Indikator Hasil

Belajar Ranah Kognitif 1 Mengamati:

Membaca mengenai pengertian matriks, contoh-contoh masalah nyata yang disajikan dalam bentuk matriks, dan operasi

sederhana matriks.

Pengetahuan

1a, 1b,

2a 3

Pemahaman Analisis

2

Menanya:

Membuat pertanyaan mengenai pengertian matriks, contoh-contoh masalah nyata yang disajikan dalam bentuk matriks, dan operasi sederhana matriks.

Pengetahuan

2b, 3a,

3b 3

Pemahaman Analisis 3 Mengeksplorasi:

Menentukan unsu-unsur yang terdapat pada pengertian matriks, contoh-contoh masalah nyata yang disajikan dalam bentuk matriks,

Pengetahuan

4a, 4b,

5a 3

Pemahaman Analisis

Gambar

Gambar 2.1  C.  Hipotesis Penelitian
Gambar 4.3  Hasil Kelas eksperimen
Tabel Pedoman Penskoran  Tes Hasil Belajar Matematika Materi  Matriks (Uji Validitas)
Tabel Perhitungan Uji Validitas Butir Soal no 2b
+3

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

INTERVENTIONS Downstream Upstream Disease Prevention Communication strategies Health Education & empowerment Community & Health Development Infrastructure & system

PARTISIPAN SISWA DALAM MENGIKUTI MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Proses penerbitan Surat Paksa sesuai dengan SOP Tata Cara Penerbitan dan Pemberitahuan Surat Paksa Nomor KPP40-0011 Tanggal 21 Juni 2013, dimulai dengan perintah

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (3) dan Pasal 19 ayat (1) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Perparkiran, Pengelolaan tempat

Hasil uji statistik menyimpulkan bahwa ada kontribusi fungsi sosial keluarga terhadap perilaku remaja merokok p=0,000, dengan nilai OR=3,7 , artinya keluarga

Pada saat pengguna melakukan verifikasi pada alat sidik jari, maka mesin sidik jari tersebut akan memeriksa apakah sidik jari yang baru saja discan cocok dengan salah satu sidik

[r]

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dalam register bidang teknik bangunan di masyarakat Bandung Selatan berkode bahasa daerah; memiliki karakteristik lingual yang