• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN,JUAL BELIONLINE DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN MENURUT HUKUM ISLAM

DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA

A. Perjanjian Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia

Secara etimologis perjanjian (yang dalam bahasa Arab diistilahkan

dengan Mu’ahadah Ittifa’, Akad) atau kontrak dapat diartikan sebagai: “Perjanjian atau peersetujuan adalah suatu perbuatan di mana seseorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap seseorang lain atau lebih” (Puspa,

1997:248).

Sedangkan Poerwadarminta dalam bukunya Kamus Umum Bahasa Indonesia memberikan definisi/pengertian perjanjian tersebut sebagai berikut:

“persetujuan (tertulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih

yang mana berjanji akan menaati apa yang tersebut di persetujuan itu.” (WJS.

Poerwadarminta, 2006:402).

Menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1313 perjanjian adalah, suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, perjanjian merupakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih untuk mendapatkan suatu kesepakatan/persetujuan baik secara lisan maupun tertulis.

Secara hukum Islam yang menjadi syarat sahnya suatu perjanjian adalah (Sabiq,1987 : 178-179) :

1. Tidak menyalahi hukum syari’at yang disepakati adanya

Maksudnya bahwa perjanjian yang diadakan oleh para pihak itu bukanlah perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau perbuatan

yang melawan hukum syari’ah, sebab perjanjian yang bertentangan

dengan ketentuan hukum syari’ah adalah tidak sah, dan dengan

sendirinya tidak ada kewajiban bagi masing-masing pihak untuk menepati atau melaksanakan perjanjian tersebut, atau dengan sendirinya perjanjian yang diadakan tersebut batal demi hukum.

2. Harus sama ridha dan ada pilihan

Maksudnya perjanjian yang diadakan oleh para pihak haruslah didasarkan kepada kesepakatan kedua belah pihak, yaitu masing-masing pihak ridha/rela akan isi perjanjian tersebut, atau dengan perkataan lain harus merupakan kehendak bebas masing-masing pihak. Serta tidak boleh ada paksaan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain, dengan sendirinya perjanjian yang diadakan tidak mempunyai kekuatan hukum apabila tidak didasarkan kepada kehendak bebas pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.

3. Harus jelas dan gamblang

Maksudnya apa yang diperjanjikan oleh para pihak harus terang tentang apa yang menjadi isi perjanjian, sehingga tidak mengakibatkan terjadinya kesalah pahaman diantara para pihak tentang apa yang telah mereka

perjanjikan dikemudian hari. Dan pada saat pelaksanaan/penerapan perjanjian masing-masing pihak yang mengadakan perjanjian atau yang mengikatkan diri dalam perjanjian haruslah mempunyai interpretasi yang sama tentang apa yang telah mereka perjanjiakan, baik terhadap isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh perjanjian itu.

Sedangkan menurut KUHP pasal 1320 untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat :

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Maksudnya ialah sepakatnya para pihak yang mengikatkan diri, artinya kedua belah pihak dalam suatu perjanjian harus mempunyai kemauan yang bebas untuk mengikatkan diri, dan kemauan itu harus dinyatakan dengan tegas atau secara diam. Dengan demikian, suatu perjanjian itu tidak sah apabila dibuat atau didasarkan kepad paksaan, penipuan atau kekhilafan.

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan maksudnya adalah adanya kecakapan untuk membuat suatu perjanjian. Menurut hukum, kecakapan termasuk kewenangan untuk melakukan tindakan hukum pada umumnya, dan menurut hukum setiap orang adalah cakap untuk membuat perjanjian kecuali orang-orang yang menurut undang-undang dinyatakan tidak cakap. Adapun orang-orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian adalah orang-orang yang belum dewasa, orang dibawah pengampuan. 3. Suatu hal tertentu yaitu, harus suat hal atau suatu barang yang cukup jelas

perjajian dan hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan saja yang dapat menjai pokok suatu perjanjian.

4. Suatu sebab yang halal yaitu, perjanjian tidak boleh bertentangn dengan undang-undang, ketentuan umum, moral dan kesusilaan.

B. Jual beli menurut Hukum Islam

Islam bukanlah agama yang ribet dan kaku.Ajarannya selalu berkembang dinamis mengikuti perkembangan zaman, ilmu dan tekhnologi, tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu. Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan pertukaran barang dengan persetujuan antara kedua belah pihak dalam suatu transaksi jual beli sebagai sesuatu yang halal atau dibolehkan, dan melarang mengambil benda orang lain tanpa persetujuan dan izin dari mereka.

Jual beli menunjukkan adanya dua perbuatan dalam satu peristiwa, yaitu satu pihak menjual dan dipihak yang lain membeli, maka dalam hal ini terjadilah peristiwa hukum jual beli. Adapun dasar hukum dari Al-Qur’an

antara lain:

1. Surah Al-Baqarah ayat 275



  

   

    

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

2. Surah An Nisa ayat 29



    



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Menurut pengertian Syari’at, yang dimaksud dengan jual beli adalah

pertukaran harta atas dasar saling rela, atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan (yaitu berupa alat tukar yang sah) (Lubis, 1994:33). Menurut H. Sulaiman Rasjid (1994:278)jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara yang tertentu (akad).

Dari uraian diatas terlihat bahwa dalam perjanjian jual beli itu terlibat dua pihak yang saling menukar atau melakukan pertukaran.Oleh karena perjanjian jual beli ini merupakan perbuatan hukum yang mempunyai konsekuensi terjadinya peralihan hak atas sesuatu barang dari pihak penjual kepada pihak pembeli, maka dengan sendirinya dalam perbuatan hukum ini haruslah dipenuhi rukun dan syarat sahnya jual beli.

Suatu transaksi jual beli dapat dikatakan sah apabila telah memenuhi rukun dan syarat yang telah ditentukan oleh hukum Islam.Lubis (1994:34) menyebutkan yang menjadi rukun dalam perbuatan hukum jual beli terdiri dari:

1. Adanya pihak penjual dan pihak pembeli 2. Adanya uang dan benda, dan

3. Adanya lafaz.

Dalam suatu perbuatan jual beli, ketiga rukun ini hendaklah dipenuhi, sebab andai kata salah satu rukun tidak terpenuhi, maka perbuatan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan jual beli (Lubis, 1994:34).

Sedangkan Syarat jual beli menurut Muslich (2010:186) ada empat syarat yang harus dipenuhi dalam akad jual beli, yaitu

1. Syarat in’iqad ( terjadinya akad); 2. Syarat sahnya akad jual beli;

3. Syarat kelangsungan jual beli (syarat nafadz) 4. Syarat mengikat (syarat luzum)

Berbeda dengan pandangan H Chairuman PasaribuSuhrawardi K Lubis (1994:34) menyatakan agar suatu jual beli yang dilakukan oleh pihak penjual dan pihak pembeli sah, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya yaitu:

1. Tentang subyeknya.

Bahwa kedua belah pihak yang melakukan perjanjian jual beli tersebut haruslah;

a. Berakal, agar dia tidak terkicuh, orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya.

Adapun yang dimaksud dengan berakal, yaitu dapat membedakan atau memilih mana yang terbaik bagi dirinya, dan apabila salah satu pihak tidak berakal maka jual beli yang diadakan tidak sah.

b. Dengan kehendaknya sendiri (bukan dipaksa).

Sedangkan yang dimaksud dengan kehendak sendiri, bahwa dalam melakukan perbuatan jual beli tersebut salah satu pihak tidak melakukan suatu tekanan atau paksaan kepada pihak lainnya, sehingga pihak yang lain tersebut melakukan perbuatan jual beli bukan lagi disebabkan kemauannya sendiri, tapi disebabkan adanya unsur paksaan,

jual beli yang dilakukan bukan atas dasar “kehendaknya sendiri” adalah tidak sah.

c. Keduanya tidak mubazir

Keadaan tidak mubazir, maksudnya para pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian jual beli tersebut bukanlah manusia yang boros (mubazir), sebab orang yang boros didalam hukum dikategorikan sebagai orang yang tidak cakap bertindak, maksudnya dia tidak dapat melakukan sendiri sesuatu perbuatan hukum walaupun kepentingan hukum itu menyangkut kepentingan sendiri.

d. Baligh.

Persyaratan selanjutnya tentang subyek/orang yang

melakukan perbuatan hukum jual beli ini adalah “baligh” atau

dewasa. Dewasa dalam hukum Islam adalah apabila telah berumur 15 tahun, atau telah bermimpi (bagi anak laki-laki) dan haid(bagi anak perempuan), dengan demikian jual beli yang diadakan anak kecil adalah tidak sah.

Namun demikian bagi anak-anak yang sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, akan tetapi dia belum dewasa (belum mencapai umur 15 tahun dan belum bermimpi atau haid), menurut pendapat sebagian ulama bahwa anak tersebut diperbolehkan untuk melakukan

perbuatan jual beli, khususnya untuk barang-barang kecil dan tidak bernilai tinggi.

2. Tentang obyeknya.

Yang dimaksud dengan obyek jual beli disini adalah benda yang menjadi sebab terjadinya perjanjian jual beli.Benda yang dijadikan sebagai obyek jual beli ini haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Bersih barangnya

Adapun yang dimaksud dengan bersih barangnya, bahwa barang yang diperjualbelikan bukanlah benda yang dikualifikasikan sebagai benda najis, atau digolongkan sebagai benda yang diharamkan.

Namun demikian perlu diingatkan bahwa barang ini (barang yang mengandung najis, arak dan bangkai) boleh diperjualbelikan sebatas kegunaan barang tersebut bukan untuk dikonsumsi atau dijadikan sebagai bahan makanan.

Dari ketentuan diatas dapatlah disimpulkan bahwa atas barang-barang yang merupakan najis, arak dan bangkai dapat dijadikan sebagai objek jual beli, asalkan pemanfaatan barang-barang tersebut bukan untuk keperluan bahan makanan atau dikonsumsi.

b. Dapat dimanfaatkan

Pengertian barang yang dapat dimanfaatkan tentunya sangat relatif, sebab pada hakikatnya seluruh barang yang dijadikan sebagai obyek jual beli adalah merupakan barang yang dapat dimanfaatkan, seperti untuk dikonsumsi (seperti beras, buah-buahan, ikan, sayur mayur dan lain-lain), dinikmati keindahannya (seperti hiasan rumah, bunga-bungaan dan lain-lain), dinikmati suaranya (seperti radio, televisi dan lain-lain) serta dipergunakan untuk keperluan yang bermanfaat seperti membeli seekor anjing untuk berburu.

Dengan demikian timbul pertanyaan, apakah yang dijadikan standar/ukuran sesuatu barang itu dapat dikualifikasikan sebagi benda yang bermanfaat atau benda tidak bermanfaat.

c. Milik orang yang melakukan akad

Maksudnya, bahwa orang yang melakukukan perjanjian jual beli atas sesuatu barang adalah pemilik sah barang tersebut dan/atau telah mendapat izin dari pemilik sah barang tersebut.

Dengan demikian jual beli barang yang dilakukan oleh orang yang bukan pemilik atau berhak berdasarkan kuasa si pemilik, dipandang sebagai perjanjian jual beli yang

tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin atau kuasa dari istrinya, maka perbuatan itu tidak memenuhi syarat sahnya jual beli yang dilakukan oleh suami atas barang milik istrinya itu adalah batal.

d. Mampu menyerahkannya

Adapun yang dimaksud dengan mampu menyerahkan, bahwa pihak penjual (baik sebagai pemilik maupun sebagi kuasa) dapat menyerahkan barang yang dijadikan sebagai obyek jual beli sesuai dengan bentuk dan jumlah yang diperjanjikan pada waktu penyerahan barang kepada pihak pembeli.

Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat diserahkan kepada pembeli, misalnya ikan dalam laut, barang rampasan yang masih berada ditangan yang merampasnya, barang yang sedang dijaminkan, sebab semua itu mengandung tipu daya.

Dari uraian diatas dapat dikemukan bahwa wujud barang yang dijual itu harus nyata dan dapat diketahui jumlahnya (baik ukuran maupun besarnya).

e. Mengetahui

Apabila dalam suatu jual beli keadaan barang dan jumlah harganya tidak diketahui, maka perjanjian jual beli itu tidak sah.Sebab bisa jadi perjanjian tersebut mengandung

unsur penipuan.Mengetahui disini dapat diartikan secara lebih luas, yaitu melihat sendiri keadaan barang baik hitungan, takaran, timbangan atau kualitasnya.Sedangkan menyangkut pembayaran kedua belah pihak harus mengetahui tentang jumlah pembayaran maupun jangka waktu pembayaran. f. Barang yang diakadkan ada ditangan (dikuasai)

Menyangkut perjanjian jual beli atas sesuatu barang yang belum ditangan (tidak berada dalam penguasaan penjual) adalah dilarang sebab bisa jadi barang sudah rusak atau tidak dapat diserahkan sebagaimana telah diperjanjikan.

Adapun transaksi muamalah dalam hukum Islam dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Transaksi yang dilarang dalam Islam

Menurut H.E. Hassan Saleh (2008:383), adapun hal-hal yang dilarang dalam suatu transaksi jual beli, yaitu:

a) Jual beli yang mengandung tipuan.

b) Jual beli hewan yang masih berada dalam bibit jantan.

c) Jual beli hewan yang masih berada dalam perut induknya.

d) Jual beli tanah yang luasnya sejauh lemparan batu.

e) Jual beli buah-buahan yang masih berada ditangkainya dan belum layak dimakan.

f) Jual beli buah-buahan yang masih basah dengan yang telah kering.

g) Jual beli atau transaksi dalam bentuk penggunaan tanah dengan imbalan dari apa yang akan dihasilkan tanah tersebut. Transaksi seperti ini termasuk yang dilarang, karena belum jelas harganya.

h) Jual beli dengan harga tertentu, sedangkan barang yang menjadi objeknya merupakan sejumlah barang yang tidak jelas keberadaanya.

i) Jual beli (sewa) bibit hewan pejantan untuk dibiakkan.

j) Jual beli barang dengan cara menyentuh salah satu barang. Misalnya seorang pembeli membeli baju sebanyak satu lusin dengan motif yang sama, namun pembeli tersebut hanya memeriksa satu baju yang berada paling atas, sedangkan yang lainnya tidak diperiksa dan penjual tidak mengingatkan pembeli untuk memeriksa seluruh baju yang dibeli.

k) Jual beli barang dengan uang muka, tetapi jika transaksi tidak jadi, maka uang muka menjadi milik penjual.

l) Transaksi jual beli barang setelah pembeli menyongsong penjualnya sebelum penjual mengetahui harga pasar yang sesungguhnya.

m) Jual beli yang dilakukan orang-orang kota dengan orang-orang desa.Dalam arti menjadi calo. Dilarangnya hal ini karena ketidaktahuan pedagang dusun akan harga sesungguhnya n) Jual beli hewan ternak (betina) yang diikat susunya.

o) Jual beli barang yang ditumpuk, yang di luar tampak lebih bagus daripada yang di dalam.

p) Jual beli barang (bersifat pura-pura) yang setelah dilakukan transaksi harganya dinaikkan pembeli pertama, sehingga pembeli-pembeli lainnya membeli lebih mahal.

2. Transaksi jual beli yang sah, tetapi dilarang

Menurut H Sulaiman Rasjid (1994:284) mengenai jual beli yang tidak diizinkan oleh agama, diuraikan beberapa cara saja sebagai contoh perbandingan bagi yang lainnya. Yang menjadi pokok sebab timbulya larangan adalah: menyakiti si penjual dan pembeli atau orang lain; menyempitkan gerakan pasaran; merusak ketentraman umum.

a. Membeli barang dengan harga yang lebih mahal daripada harga pasar, sedangkan dia tidak menginginkan barang itu, tetapi semata-mata supaya orang lain tidak dapat membeli barang itu. b. Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih

dalam masa khiyar.

c. Mencegat orang-orang yang dating dari desa di luar kota, lalu membeli barangnya sebelum mereka sampai ke pasar dan sewaktu mereka belum mengetahui harga pasar.

d. Membeli barang untuk ditahan agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal, sedangkan masyarakat umum memerlukan

barang itu. Hal ini dilarang karena dapat merusak ketentraman umum.

e. Menjual suatu barang yang berguna, tetapi kemudian dijadikan alat maksiat oleh yang membelinya.

f. Jual beli yang disertai tipuan. Berarti dalam urusan jual beli itu ada tipuan, baik dari pihak pembeli maupun dari penjual, pada barang ataupun ukuran pada timbangannya.

3. Transaksi yang dibenarkan

Agar jual beli berlangsung secara sah, transaksi jual beli harus dilakukan dengan rukun dan syarat yang telah ditetapkan, adapun rukun dan syarat dalam jual beli menurut Dr. H. Ahmad Wardi Muslich (2010:180) adalah:

a. Penjual (Ba’i) b. Pembeli (Musytary)

c. Ijab Qabul (Shighat)

d. Barang atau jasa (Ma’qud alaih)

Sedangkan syarat-syarat bagi rukun jual beli tersebut harus dipenuhi karena jual beli dinyatakan sah apabila telah memenuhi syarat-syarat atas pelaku akad, barang yang diakadkan, atau tempat berakad.

Sedangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi berkenan dengan objek transaksi adalah:

b. Bermanfaat

c. Milik orang yang melakukan akad

d. Barang yang dijual harus diketahui secara jelas kualitas dan kuantitasnya.

C. Pengertian Jual Beli Online

Jual beli menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (2006:495) Jual beli sendiri adalah berdagang, berniaga, menjual dan membeli barang barang.Jual beli Online (E-commerce) adalah suatu aktivitas perniagaan seperti layaknya perniagaan pada umumnya, hanya saja para pihak yang bertransaksi tidak bertemu secara fisik akan tetapi secara elektronik melalui media Internet (Dewi, 2005:196).Dalam buku Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) jual beli online atau transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan computer, jaringan computer, dan/atau media elektronik lainnya.

Beragam pendapat dikemukakan oleh para pakar tekhnologi informasi dan praktisi bisnis dalam mendefinisikan jual beli online (e-commerce) diantaranya: David Boum mendefinisikan jual beli online merupakan satu set dinamis tekhnoligi, aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Sementara Amir Hartman mendefinisikan jual beli online sebagai suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronik yang memfokuskan diri pada

transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai media pertukaran barang atau jasa baik antara dua institusi (business to business)

maupun antar institusi dan konsumen langsung (business to consumer)

(Suhartono, 2010:229).

D. Perlindungan Konsumen Menurut Hukum Islam

Islam pada masa Rasulullah belum mengungkapkan pengaturan perlindungan konsumen secara empiris seperti saat ini.Walaupun penuh dengan keterbatasan teknologi pada saat itu, namun pengaturan perlindungan konsumen yang diajarkan Rasulullah sangat mendasar, sehingga pengaturan tersebut menjadi asal usul dari hukum perlindungan konsumen modern.

Seluruh ajaran Islam yang terkait dengan perdagangan dan perekonomian berorientasi pada perlindungan hak-hak pelaku usaha produsen dan konsumen.Karena Islam menghendaki adanya unsur keadilan, kejujuran, dan transparansi yang dilandasi nilai keimanan dalam praktik perdagangan dan peralihan hak.Untuk menghindari penipuan, maka pembeli diberikan beberapa hak dalam melakukan transaksi jual beli dengan tujuan untuk melindungi para konsumen yang dalam Islam dikenal dengan istilah khiyar.

Khiyar adalah hak yang diberikan kepada pihak-pihak yang melakukan transaksi untuk meneruskan atau membatalkannya (Saleh, 2008:386). Fungsi

khiyarmenurut Syara’ adalah agar kedua orang yang berjual beli dapat memikirkan dampak positif negatif masing-masing dengan pandangan ke depan, supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari yang disebabkan

merasa tertipu atau tidak adanya kecocokan dalam membeli barang yang telah dipilih (Sahrani, 2011:76).Khiyar ada empat macam, yaitu:

1. Hak pilih di lokasi (Khiyar majlis)

Khiyar majlisadalah hak pilih untuk melanjutkan atau membatalkan transaksi (Saleh, 2008:386). Habislah Khiyar majlis

apabila, Keduanya memilih akan memeruskan akad. Jika salah seorang dari keduanya memilih akan meneruskan akad, habislah

khiyar dari pihaknya, tetapi hak yang lain masih tetap. Dan apabila keduanya terpisah dari tempat jual beli. Artinya berpisah ialah menurut kebiasaan.Apabila kebiasaan telah menghukum bahwa keadaan keduanya sudah berpisah, tetaplah jual beli antara keduanya.

Kalau kebiasaan mengatakan belum berpisah, masih terbukalah pintu khiyar antara keduanya. Kalau keduanya berselisih seumpamanya seorang mengatakan sudah berpisah, sedangkan yang lain mengatakan belum, yang mengatakan belum hendak dan dibenarkan dengan sumpahnya, karena yang asal belum berpisah (Rasjid, 1994:286).

2. Hak pilih dalam persyaratan (Khiyar syarath)

Khiyar syaraht adalah suatu bentuk khiyar di mana para pihak yang melakukan akad jual beli memberikan persyaratan bahwa dalam waktu tertentu mereka berdua atau salah satunya

boleh memilih antara meneruskan jual beli atau membatalkannya (Muslich, 2010:226).

Khiyar syarath boleh dilakukan dalam segala macam jual beli, kecuali barang yang wajib diterima di tempat jual beli, seperti barang-barang riba. Masa khiyar syarath paling lama hanya tiga hari tiga malam terhitung dari waktu akad. Barang yang terjual itu sewaktu dalam masa khiyar kepunyaan orang yang mensyaratkan

khiyar, kalau yang khiyar hanya salah seorang dari mereka. Tetapi kalau kedua-duanya mensyaratkan khiyar, makabarang itu tidak dipunyai oleh seorangpun dari keduanya.

Jika jual beli sudah tetap akan diteruskan, barulah diketahui bahwa barang itu kepunyaan pembeli mulai dari masa akad. Tetapi kalau jual beli tidak diteruskan, barang itu tetap kepunyaan si penjual.Untuk meneruskan jual beli atau tidaknya, hendaklah dengan lafaz yang jelas menunjukkan terus atau tidaknya jual beli. 3. Hak pilih karena cacat barang (Khiyar ‘aib)

Khiyar ‘aib adalah suatu bentuk khiyar untuk meneruskan atau membatalkan jual beli, karena adanya cacat pada barang yang dibeli, meskipun tidak disyaratkan khiyar (Muslich, 2010:232).

Artinya si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya apabila pada barang itu terdapat suatu cacat yang mengurangi kualitas barang itu, atau mengurangi harganya, sedangkan biasanya barang yang seperti itu baik dan sewaktu akad

cacatnya itu sudah ada, tetapi si pembeli tidak tahu atau terjadi sesudah akad, yaitu sebelum diterimanya (Rasjid, 1994:287). 4. Hak pilih melihat (Khiyar ru’yah)

Khiyar ru’yah adalah Khiyar atau pilihan untuk

Dokumen terkait