Berisi kesimpulan serta saran sehubungan dengan adanya kemungkinan pengembangan sistem pada masa yang akan datang.
A II
GAMARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Singkat Perusahaan
Sejalan dengan perkembangan pembangunan di Indonesia dan persaingan bebas era globalisasi, dibutuhkan profesionalisme disegala bidang. Tenaga ahli yang berpendidikan, berpengalaman dan berketrampilan tinggi merupakan akar dari profesionalisme.
PT. Widya Cipta Tehnik, berlandaskan semangat profesionalisme, secara agresif dan pasti akan menempatkan diri sebagai yang terbaik dalam ervice dan teknologi di dalam market yang kami layani. Membangun dan membina hubungan secara mendalam antara pelanggan, pegawai dan pemasok serta mitra kerja, merupakan sumber kekuatan kami.
Dengan berprinsip selalu menjaga komitmen dengan mengedepankan Win-Win Solution dalam setiap mengerjakan proyek-proyeknya, sehingga PT. Widya Cipta Tehnik sampai saat ini tetap dipercaya oleh para pelanggan.
Demikian semoga dengan prospek dan peluang yang cerah dimasa mendatang, dapat kita lakukan kerjasama yang saling menguntungkan. Kemudian berdasarkan surat izin usaha perdagangan No. 503/7767.7A/435.6.11/2009 tanggal 15 Desember 2009 perusahaan PT. Widya Cipta Tehnik resmi terdaftar di Deperindag kota Surabaya. Adapun akta perusahaan dan serta akta perubahannya adalah :
1. CV. WIDYA CIPTA TEHNIK Akta NO. 6 tanggal 26 April 199 Notaris : VENNY TPISUPENI, SH
No. PN : W.10.UM.07.10.1-40/CV 199 tanggal 29 April 199 2. Akta Perubahan No.1 tanggal 2 Juni 2004
Notaris : YATININGSIH,SH,MH
3. Akta Pendirian PT : No. 47 tanggal 1 Juni 2004 Notaris : YATININGSIH,SH,MH
SK Kehakiman : C-06372 HT.01.01 TH 2005 Tanggal 10 Maret 2005
4. Akta Pemindahan Hak Saham Nomor. 53 Tanggal 21 Pebruari 2007 Tanggal 21 Pebruari 2007
Notaris : YATININGSIH, SH, MH
5. Akta Berita Acara Papat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT. WIDYA CIPTA TEHNIK
Nomor : 54 tanggal 21 Pebruari 2007 Notaris : YATININGSIH, SH, MH 6. Akta Perubahan Anggaran Dasar
PT. WIDYA CIPTA TEHNIK Nomor : 75 tanggal 24 Pebruari 2010 Notaris : YATININGSIH, SH, MH
2.2 Visi
Menempatkan perusahaan PT. Widya Cipta Tehnik sebagai yang terbaik dalam ervice dan teknologi di dalam market yang kami layani.
10
2.3 Misi
Berdasarkan semangat profesionalisme, secara agresif dan pasti akan menempatkan diri sebagai yang terbaik dalam pelayanan dan teknologi di dalam market yang kami layani. Membangun dan membina hubungan secara mendalam antara pelanggan, pegawai, dan pemasok serta mitra kerja, merupakan sumber kekuatan kami.
2.4 Tujuan
PT. Widya Cipta Tehnik adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang mechanical-electrical engineering dan contractor memiliki tujuan untuk tetap dipercaya oleh semua kliennya.
2.5 Makna Lambang PT. Widya Cipta Tehnik
Lambang PT. Widya Cipta Tehnik dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut :
Gambar 2.1 Lambang PT. Widya Cipta Tehnik
Lingkaran penuh bertuliskan WiTek berwarna biru dikelilingi lingkaran merah bertuliskan PT. Widya Cipta Tehnik Surabaya.
2.6 Pengertian Lambang
Warna biru tebal yang bertuliskan WiTek dengan corak yang tegas bermakna PT. Widya Cipta Tehnik adalah perusahaan yang selalu membangun mitra kerja yang baik antara owner, pegawai dan klien. Lambang WiTek yang dikelilingi lingkaran merah tebal bermakna PT. Widya Cipta Tehnik sebisa mungkin menjaga komitmen setiap pekerjaan yang dilimpahkan ke perusahaan ke perusahaan ini. Lingkaran merah tak terputus bertuliskan PT. Widya Cipta Tehnik Surabaya mengartikan bahwa perusahaan ini adalah organisasi perusahaan yang terbuka dalam inovasi teknologi masa depan.
2.7 Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan sistem pengendali jalannya kegiatan dimana terdapat pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian pada organisasi tersebut, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.2 di bawah ini.
12
Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Widya Cipta Tehnik 2.8 Alur Kerja Organisasi
Setiap posisi pada perusahaan PT. Widya Cipta Tehnik memiliki deskripsinya masing-masing yang telah ditetapkan sesuai dengan jabatannya. Berikut adalah alur kerja organisasi perusahaan ini dari awal hingga akhir proses pengerjaan proyek.
1. Klien yang akan mengadakan tender akan mengirim surat undangan tender kepada sekretaris perusahaan.
2. Setelah surat diterima oleh sekretaris, maka setelah itu akan dilaporkan kepada direktur utama, bahwa klien tersebut mengadakan tender mengenai proyek tertentu yang diperlukan klien itu.
3. Direktur utama akan menunjuk beberapa pegawainya untuk menghadiri annwijzing (penjelasan mengenai tender). Biasanya direktur akan menunjuk dua pegawainya terdiri dari satu orang teknisi dan satu orang pendamping. Menghadiri annwijzing ini adalah syarat pertama dari keikutsertaan perusahaan dalam satu tender.
4. Kemudian pegawai yang ditunjuk oleh direktur utama akan melaporkan hasil dari annwijzing kepada direktur utama dan sekretaris.
5. Sekretaris menyusun surat penawaran didampingi bagian keuangan untuk menentukan daftar harga yang akan ditawarkan pada klien.
6. Surat penawaran diberikan kepada klien dan perusahaan tinggal menunggu pengumuman pemenang tender yang diadakan klien.
7. Jika perusahaan PT. Widya Cipta Tehnik diumumkan menang dalam tender tersebut. Direktur utama kembali menunjuk pegawai yang akan
mengerjakan proyek tersebut, selanjutnya tanggung jawab proyek akan diserahkan kepada koordinator proyek hingga proyek selesai dikerjakan. Selama proyek berjalan bagian keuangan mengawasi keuangan dan pajak.
2.9 Denah Lokasi
Lokasi PT. Widya Cipta Tehnik dapat dilihat pada Gambar 2.3 dibawah ini.
Gambar 2.3 Denah Lokasi
2.10 Pengalaman Kerja PT. Widya Cipta Tehnik
Perusahaan yang pernah menjadi klien dari PT. Widya Cipta Tehnik selama periode 2010 sampai 2014 dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini.
14
No CUSTOMER PEKERJAAN TAHUN
1 PG. Candi Baru, Sda Air Circuit Breakre (ACB)
4000A/65kA/3pole 2010
2 PG. Candi Baru, Sda Perbaikan Panel Turbin
Alternator Shinko 2010
3 PT. Natrust Paradigma Pekerjaan Mekanik &
Electrical Works 2010 4 Listrik Mandiri, jakarta 5+ JGS 620 N-L 2010 5 PT. Leewon Industrial Pemeliharaan Mesin Balancing 2010
6 PT. PN XIV Takalar Pekondisi Putaran High Grade
No. 2010
7 PG. Krebet Baru I Membuat Gambar Wiring
Panel 6kV 2010
PG. Krebet Baru I
Pengadaan dan Pemasangan Spray Nozzle Kapasitas Uap 30 t/j ke 45 t/j
2010
9 PG. Pejo Agung Baru Madiun
Perbaikan High Grade
Centrifugal ASEA 2010
10 PG. Krebet Baru II
Perbaikan Inverter
Telemecanique 75Kw ATV 71 Pemasangan Steam Trap, Trasmitter & Engineering
2010
listrik
12 PG. Krebet Baru I Penggantian Seat Diameter u/
control valve TCV merk Fisher 2010 13 PG. Krebet Baru I Electronic Pressure Transmitter 2010
14 PG. Krebet Baru I Pressure Controller c/w Panel
box 2010
15 PG. Krebet Baru I I/P Converter Untuk Instrument 2010
16 PG. PA Madiun Modifikasi Turbin Alternator
2300 Kw 2010
17 PG. Jatitujuh, cirebon Kalibrasi dan Program Ulang
Puteran HGC BMA 2010
1 PG. Jatitujuh, cirebon Module Electronic u/ DC Drive
High Grade 2010
19 PG. Jatitujuh, cirebon Potential Transformator
6kV/110V/50VA 2010
20 PG. Jatitujuh, cirebon Transformator PT 6KV,
2Phase,6400VA 2010
21 PG. Jatitujuh, cirebon Kalibrasi dan Penggantian
Spare part parameter 2010
22 Koperasi Induk Pegawai
PLN, Jakarta AVP untuk Mesin Nigata 2010
23 PT. PG. Pajawali I Unit
Krebet Baru II Pengadaan AC Motor 110Kw 2011 24 PT.PG. Pajawali I Unit Pemasangan PLC Untuk TA 2011
16
Krebet Baru I
25 PT. PG. Candi Baru Pemasangan Three Element 2011
26 PT.PN XIV (Persero) Unit
PG. Takalar Pemindahan Puteran HG No. 6 2011 27 PT. Madu Baru Perbaikan AVP Generator 2011
2 PT.PG. Pajawali II Unit PG. Jatitujuh
Kalibrasi dan Pemindahan
Spare Part 2011
29 PT.PN XIV (Persero) Unit
PG. Takalar Otomatisasi HGF 2011
30 PT.PG. Pajawali II Unit PG.
Subang Syncronoscop AVP 6kV 2011
31 PT.PN XIV (Persero) Unit
PG. Takalar Pengadaan Proximity 2011
32 PT.PN XIV (Persero) Unit
PG. Takalar Pengadaan Piston, Air Cylinder 2011
33 PT.PG. Pajawali II Unit PG.
Jatitujuh Module DC Drive & Control 2011
34 PT.PN XIV (Persero) Unit
PG. Takalar Inverter Altivar 71 110Kw 2011
35 PT.PG. Pajawali I Unit PG. Krebet Baru II
Perbaikan Inverter Activar
75Kw 2011
36 PG.Bone
Dioda, Proximity, Capacitor, Tahanan, Scr, Dioda,
Capacitor, Putaran Broad Bend
37 PT.PG.Candi Baru AVP Nishishiba Generator 2011
3 PT.PN XIV (Persero) Unit
PG. Camming Pengadaan Soft Panel 2011
39 PT.PG Pajawali I Unit PG.
Pejo Agung Baru Perbaikan PLC HGC ASEA I 2011
40 PT.PG. Pajawali I Unit PG.
Krebet Baru II Inverter Activar 71kW 160KW 2011
41 PT.PG. Pajawali I Unit
Krebet Baru II Activar 75kW 2011
42 PT.PG. Pajawali I Unit
Krebet Baru II Pengadaan AC Motor 2011
43 PT.PG.Candi Baru Pemasangan Three Element
KCC 2011
44 PT.PG. Pajawali I
Unit PG. Krebet BaruI Test GCB Low Voltage 2011
45 PT. Duta Sarana
Engineering AVP NTT 2011
46 PT. PG. Pajawali II Unit
PG. Jatitujuh Modul DC Drive 2011
47 PT.PG.Pajawali II Unit PG. Jatitujuh
Kalibrasi dan Penggantian
Spare Part 2011
4 PT. Duta Sarana Engineering
AVP Electronic untuk Generator HEEMAF Exciter 130V - 6,5 Amps
1
49 PT. PG. Pajawali II
Unit PG. Jatitujuh Module DC Driver HGC 6 2012
50 PT. Sakapatria Perkasa Unit PG. Krembung
Pengadaan, pembuatan, pemasangan &
Commissioning, pekerjaan kelistrikan untuk Turbine Alternator 4 MW
2012
51 PT.PG. Pajawali I Unit PG. Krebet Baru I
Pengadaan Modifikasi TA-1600Kw Frequency 60Hz menjadi 50Hz 2012 52 PT.PN X (Persero) Unit PG. Camming Pengadaan PLC Control HGF No. 1 2012 53 PT.PG Pajawali I Unit PG. Krebet Baru I
Pembuatan Gambar Desain pengadaan dan Pemasangan commissioning Desuperheater Dg kapasitas uap 0T/jam Pengadaan DSH, T-Gauge, Diameter Pengadaan TCV, B y pass Pengadaan TE, Controller,
Steam
2012
Jatitujuh FB 0 dan Contact Point Contactor FB 0
55 PT.PG. Candi Baru Pengadaan ACB
2500A/100kA/3Pole 2012
56 PT.PN XIV (Persero) Unit PG. Pesantren Baru
Pengadaan, pembuatan /
pemasangan HGF 2012
57 PT. Duta Sarana Engineering
Jasa Pengetesan Pelay proteksi
dan AVP 2012
5
PT.PG.PAJAWALI I UNIT PG. PEJO AGUNG BAPU MADIUN
Pengadaan 2 (dua) Unit Panel Kapasitor
Bank 400 kVAP
2013
59 PT.PG.PAJAWALI I UNIT PG.KPEBET BAPU I
Pengadaan 3 (tiga) Unit Panel
Kapasitor Bank 300 kVAP 2013
60 PT.PG.PAJAWALI I UNIT PG.KPEBET BAPU II
Pengadaan 3 (tiga) Unit Panel
Kapasitor Bank 600 kVAP 2013
61 PT.PG.PAJAWALI II UNIT PG.JATITUJUH
Modifikasi 2 (dua) unit System Control Putaran HGC FCBC 411 2013 62 PT.PG.PAJAWALI II UNIT PG.KAPANGSUWWUNG
Maintenance Generator Sinkron
Barat & Timur 2013
63 PT.PG.PAJAWALI II
UNIT PG. TEPSANA Pelay Merk. Telemechanique 2013 64 PT.PG.PAJAWALI II Alternator I dan Panel Kontrol 2013
20
UNIT PG. SUBANG Power House
65 PT.PG.PAJAWALI II UNIT PG.JATITUJUH
Pengadaan & Penyempurnaan
System Syncronisasi 2013
66 PT.PG.PAJAWALI II UNIT PG. JATITUJUH
Perbaikan & Pergantian Spare
Part AVP 2013
67 PT.PG.PAJAWALI II
UNIT PG.JATITUJUH Kalibrasi meter-meter 2013
6 PT.PG.PAJAWALI I UNIT
PG.KPEBET BAPU II Labirin Bearing & Proximity 2013
69 PT.PG.PAJAWALI I UNIT PG.KPEBET BAPU I
Pekerjaan barang dan jasa Oil
Buffle 2013
70 PTPN X UNIT PG. TAKALAP
Pengadaan & Pemasangan Inverter dan
Sistem High Grade No. 2 dan No. 6
2013
71 PT.SAKAPATPIA PEPKASA
Pekerjaan Capacity
Optimization & Teknologi Upgradation at 3000 TCD (136 TCH For Tjoekir Sugar Mill)
2013
72
PT.PG. PAJAWALI I UNIT PG. KPEBET BAPU II
Pekerjaan Penambahan Daya PLN dari 65 KVA menjadi 210 KVA dan Jaringan Udara 20 KV
2013
PG. KPEBET BAPU I
74 PT.PG. PAJAWALI II UNIT PG. JATITUJUH
Modifikasi System Control
Puteran HGC FCB C 411 2013
75
PT.PG. PAJAWALI II UNIT PG.
SINDANGLAUT
Pewinding Stator Dan Potor
Elektrimotor Cane Cutter 2014
76 PT.PG. PAJAWALI II UNIT JATITUJUH
Modifikasi System Control
Puteran HGC FCB C 411 2014
77 PT.PN X UNIT PG. MEPITJAN
Pengadaan dan pemasangan Inverter & seluruh Instalasi Listrik Control System Gilingan IV 2014 7 PT.PG.PAJAWALI II UNIT PG. KAPANGSUWUNG
Pengadaan Control Valve Pemanas Dearator dengan TIC & PIC
2014
79 PT.PG.PAJAWALI I UNIT PG. KPEBET BAPU II
Power pack Pressure / Lubricating System (cooler,Pompa Oil dan Instalasi)
Untuk Turbin BFWP Ketel Yoshimie
2014
0
PT.PG.PAJAWALI I UNIT PG. KPEBET BAPU I DAN PG. KPEBET BAPU
Penggantian DC Drive menjadi
22
II
1 PT.PN XIV PG. TAKALA
Treatment minyak trafo dan penggantian seal inner yang aus trafo 6 KV
2014
Dalam pelaporan kerja praktek penulis kali ini, PT. Widya Cipta Tehnik sedang mengerjakan proyek pada PT.PN X UNIT PG. Tjoekir Jombang, berikut ini sekilas mengenai profil dari pabrik gula tjoekir yang berdomisili di Jombang.
2.10.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT.PN X UNIT PG. Tjoekir Jombang Pabrik Gula Tjoekir didirikan oleh NV. KODY EN COSTEP VAN HOUSF TJOEKIP pada tahun 14 dan terus memproduksi gula sampai dengan perang dunia II. Pada tahun 1925 Pabrik Gula Tjoekir pernah mengalami rehabilitasi pabrik dalam rangka peningkatan kapasitas produksi dengan mengganti beberapa peralatan instalasi pabrik. Penyelenggaraan penanaman tebu di PG. Tjoekir tersebut dilaksanakan oleh Badan Penyelenggaraan Perusahaan Gula Negara (BPPGN) sampai penanaman tebu tahun 194.
Baru setelah terjadinya Aksi Trikora Irian Barat, PG. Tjoekir diambil alih oleh pemerintah dibawah suatu badan yaitu Perusahaan Perkebunan Negara Baru. Untuk koordinasi dari pabrik – pabrik atau perkebunan bekas milik Belanda di Jawa Timur, pada periode tahun 1959/1960 dibagi dalam pra unit dimana PG. Tjoekir termasuk bentuk pra unit diubah menjadi bentuk kesatuan – kesatuan dimana PG. Tjoekir termasuk dalam kesatuan Jawa Timur II. Kemudian terbentuklah BPUPPN Gula, setiap pabrik gula dijadikan Badan Hukum yang
berdiri sendiri dimana PG. Tjoekir berada di bawah pengawasan BPUPPN Gula Inspeksi Daerah VI yang berkedudukan di Jalan Jembatan Merah 3 – 5 Surabaya.
Dengan dikeluarkannya PP. No.13 Tahun 196, maka dibubarkanlah BPUPPN Gula / Karung Goni, BPUPPN Aneka Tanaman dan Tumbuhan dalam rangka penertiban, penyempurnaan, dan penyederhanaan aparatur pemerintah pada umumnya dan perusahaan gula pada umumnya. Dan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 196 , maka kedudukan PG. Tjoekir sebagai badan hukum bagi PG. Tjoekir beralih kepada Perusahaan Negara Perkebunan. Dalam hal ini PG. Tjoekir masuk dalam perusahaan No.XXII yang memiliki badan hukum dan berkedudukan di Jalan Jembatan Merah No. 3 – 5 Surabaya. Berdasarkan PPNo.23/Tahun 1973 terhitung mulai tanggal 1 Januari 1974 PNP XXII digabung dengan PNP XXI dengan bentuk Persero Terbatas, yaitu PT. Perkebunan XXI – XXII (Persero) yang berkedudukan di Jalan Jembatan 3 – 5 Surabaya. Pabrik Gula Tjoekir sebagai salah satu unit produksinya dan Badan Hukum berada pada Direksi PTP XXI – XXII (Persero).
Di tingkat pusat dengan SK. Menteri No.12 / Keputusan / Org / II /1973 perwakilan BKU PNP wilayah diubah menjadi inspeksi PN atau PT. Perkebunan BKU PNP Wilayah I sampai IV. Pabrik Gula Tjoekir dalam hal ini termasuk inspeksi wilayah IV, yaitu PT. Perkebunan XXI – XXII (Persero). Pada tahun 1994 berdasarkan SK. Menteri Keuangan No.16/KMK 016/1994 tanggal 2 Mei 1994, maka PTP XXI – XXII (Persero) menjadi grup PTP Jawa Tengah bersama – sama dengan PTP XV – XVI, PTP XVII, PTP XIX, dan PTP XXVII. Kemudian Peraturan Pemerintah PI No.15 tahun 1996 tentang peleburan Perusahaan Perseroan (Persero) PTP XXI – XXII, PTP XXVI, dan PTP XIX menjadi
24
Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perkebunan Nusantara X (Persero). Sampai sekarang PG. Tjoekir adalah salah satu Unit Pabrik Gula di lingkungan PTPN 10 yang mempunyai persentase laba tertinggi.
Gambar 2.4 Logo PT. PN X UNIT PG. Tjoekir Jombang
2.10.2. Visi dan Misi PT.PN X UNIT PG. Tjoekir Jombang 1. Visi
Menjadi perusahaan agri bisnis berbasis perkebunan yang terkemuka di Indonesia, yang tumbuh dan berkembang bersama mitra
2. Misi
a. Berkomitmen menghasilkan produk berbasis bahan baku tebu dan tembakau yang berdaya saing tinggi untuk pasar domestik dan internasional.
b. Mendedikasikan layanan Pumah Sakit kepada masyarakat umum dan perkebunan untuk hidup sehat.
c. Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan nilai – nilai perusahaan bagi kepuasan stakeholder melalui kepemimpinan, inovasi dan kerjasama tim serta organisasi yang efektif.
5 A III
TEORI PENUNJANG
3.1 PROSES PEMUATAN GULA DARI NIRA TEU
Proses pembuatan gula menggunakan proses sulfitasi alkhalis continue. Produknya adalah gula jenis SHS (uperior Hooft uiker) 1-A dengan hasil samping berupa tetes dan ampas. Adapun tahapan produksi dan tujuan dari tiap tahap meliputi :
a. Pemerahan Nira (Stasiun gilingan)
Tujuannya untuk memerah nira sebanyak-banyaknya dan menekan kehilangan gula dalam ampas seminimal mungkin. Terjadi pemisahan antara ampas dengan nira pada batang tebu. Tebu di terima di crane yard untuk didaftarkan dan ditimbang dan selanjutnya di proses.
b. Pemurnian (Stasiun pemurnian)
Untuk menghilangkan atau membuang bahan baku bukan gula yang terdapat pada nira mentah semaksimal mungkin tanpa menimbulkan banyak kerugian berupa kerusakan maupun kehilangan sukrosa, dalam proses penapis hampa dilkukan pemisahan antara blotong dan fitrat (nira tapis).
3.2 Perawatan
Perawatan mempunyai peranan yang sangat penting dan menentukan dalam kegiatan produksi dari suatu perusahaan yang menyangkut kelancaran atau kemacetan produksi, kelambatan dan volume produksi serta efisiensi berproduksi (Baroto, 000). Peranan kegiatan perawatan tidak hanya untuk menjaga agar perusahaan dapat tetap bekerja dan dapat berproduksi, serta dapat memenuhi permintaan langganan tepat pada waktunya, akan tetapi menjaga agar perusahaan dapat bekerja secara efisien dengan mengurangi kemacetan- kemacetan menjadi sekecil mungkin (Assauri, 1980). Pabrik Gula XYZ adalah perusahaan yang menghasilkan produk utama berupa Gula. Proses produksi yang berlangsung di perusahaaan adalah proses yang kontinyu dan beroperasi selama 4 jam selama kurang lebih 15 hari nonstop. Proses produksi berlangsung dengan melewati 5 (lima) stasiun kerja yaitu 1) Stasiun Gilingan, ) Stasiun Pemurnian, 3) Stasiun Penguapan, 4) Stasiun kristalisasi dan 5) Stasiun Puteran. Sistem perawatan yang ada saat ini adalah kebijaksanaan perawatan dengan dua alternatif kebijaksanaan, yaitu Perawatan Korektif pada masa giling, dan Overhaul pada masa non giling. Dari data statistik kerusakan pada masa lalu yang tertinggi adalah Stasiun Puteran yaitu sebesar 54%. Dampak terjadinya kerusakan mesin antara lain: 1) terjadi downtime, ) alur produksi menjadi terhambat dan 3) waktu produksi menjadi bertambah panjang. Mesin yang ada di Stasiun Puteran adalah Mesin HGF (High Grade Fugal) yang berfungsi untuk menghasilkan gula SHS (Super High Sugar) dan Mesin LGF (Low Grade Fugal) yang berfungsi untuk menghasilkan gula D1 dan D. Adapun prosentase kerusakan pada mesin HGF dan LGF selama masa giling 00x adalah 64,5% mesin HGF dan 35,5% pada mesin LGF.
7
Untuk mengantisipasi kerusakan mesin, perusahaan dapat menerapkan perawatan preventif. Perawatan preventif adalah kegiatan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan yang tidak terduga, dan menemukan kondisi atau keadaan yang dapat menyebabkan fasilitas produksi mengalami kerusakan, pada waktu digunakan dalam proses produksi (Baroto, 000). Dengan perawatan preventif dapat dimungkinkan untuk mengurangi frekuensi breakdown dan mengurangi kemacetan produksi akibat mesin yang rusak. Untuk itu, penelitian ditujukan untuk merancang metode penyusunan jadwal perawatan preventif di Stasiun Puteran Pabrik Gula dengan mengambil kasus Mesin HGF.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian di awali dengan menentukan variable penelitian agar variable apa saja yang perlu dihitung, sehingga tujuan dari penelitian dapat tercapai. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:
a) Penentuan komponen kritis
Komponen yang mempunyai pengaruh besar terhadap satu kesatuan system. Pada langkah ini penentuan komponen kritis pada HGF WS dan HGF Zagitter ditentukan dengan berfokus pada dua komponen yaitu dua komponen yang mempunyai frekuensi kerusakan terbanyak.
b) Pengambilan data berdasar komponen kritis
Pada langkah ini dilakukan pengambilan data ulang berdasarkan komponen kritis yang telah ditentukan pada langkah sebelumnya. Data ini berupa data waktu kerusakan komponen kritis , dan data interval kerusakan.
c) Menguji kecocokan distribusi.
Langkah ini dilakukan pengujian hipotesis apakah pola distribusi kerusakan sesuai dengan dugaan, bila tidak sesuai maka kembali pada langkah sebelumnya, yaitu pendugaan hipotesis distribusi waktu kerusakan. Bila uji hipotesis sesuai dengan dugaan, maka di lanjutkan dengan langkah selanjutnya.
d) Analisis keandalan
Pada langkah ini dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan keaandalan sesuai dengan pola distribusi data. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperoleh waktu yang tepat untuk melakukan perawatan.
.
e) Menyusun jadwal perawatan
Peyusunan jadwal perawatan preverentif termasuk penggantian dilakukan dengan berpatokan pada nilai MTTF dan batas minimal dari nilai keandalan sesuai dengan SII (Standar Industri Indonesia) yaitu 70%.
9
3.4 Pola Distribusi Probabilitas
1. Kepadatan Probabilitas
merupakan segolongan fungsi yang sering digunakan dalam teori statistika untuk menjelaskan perilaku suatu distribusi probabilitas teoretis. Suatu fungsi memenuhi kriteria sebagai fkp apabila (1) nilainya selalu positif untuk setiap titik absis dan () fungsi primitifnya merupakan distribusi probabilitas. Ini berarti bahwa suatu fkp berharga non-negatif untuk semua nilai absis dan hasil integral (tertentu)nya yang merentang dari −∞ menuju +∞ sama dengan satu. Selain disebut sebagai fungsi kepekatan probabilitas, pustaka-pustaka juga menyebutnya sebagai fungsi kepekatan peluang atau fungsi kerapatan probabilitas
2. Distribusi komulatif
Menurut Walpole dan Myers (1995: 60) Fungsi distribusi kumulatif atauprobabilitas kumulatif sering disebut fungsi distribusi saja. Fungsi distribusi variabel acak kontinu X yang dinotasikan F(x) = P(X ≤ x) untuk semua bilangan riil x
3. Keandalan
Andal dalam KBBI memiliki arti. Pertama, andal berarti dapat dipercaya. Kedua, andal juga dapat berarti memberikan hasil yang sama
pada percobaan yang berulang. Keandalan suatu produk dapat dijabarkan sebagai nilai probabilitas komponen-komponen yang menyusun
produk tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya dalam jangka waktu tertentu. Keandalan suatu produk selayak sebuah probabilitas yang bernilai 0-1. terdapat faktor yang menentukan keandalan suatu mesin, yaitu : fungsi mesin, keadaan tertentu (batasan mesin), dan masa pakai mesin tersebut. Fungsi mesin adalah factor utama yang menentukan keandalan suatu mesin. Suatu mesin dapat dikatakan andal apabila mesin tersebut bias melakukan kerja sesuai fungsi mesin itu sendiri. Sebaliknya, apabila mesin tersebut tidak bias menjalankan fungsi sebagaimana mestinya, mesin tersebut bias dikatakan tidak andal (tidak bias diandalkan) Keadaan tertentu atau yang sering disebut sebagai batasan mesin adalah keadaan dimana mesin dapat bekerja secara optimal