• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Klaten di tahun yang bersangkutan. Selain keberhasilan-keberhasilan yang dicatat, bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Lampiran

Lampiran ini berisi resume/angka pencapaian Kabupaten Klaten dan 83 tabel data kesehatan yang terkait kesehatan yang responsif gender.

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 5

BAB II

GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI

Kabupaten Klaten terletak antara 1100 26 14– 1100 47 51 Bujur Timur dan 70 32 19 – 70 48 33 Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Klaten adalah 655,56 km2. Secara administratif, Kabupaten Klaten terbagi ke dalam 26 kecamatan, 391 Desa dan 10 Kelurahan.

Gambar 2.1

Peta Administrasi Kabupaten Klaten

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 6 Batas wilayah Kabupaten Klaten adalah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali.

 Sebelah Timur : Kabupaten Sukoharjo.

 Sebelah Selatan : Kabupaten Gunung Kidul (DIY).

 Sebelah Barat : Kabupaten Sleman (DIY).

Kabupaten Klaten mempunyai iklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau silih berganti sepanjang tahun, temperatur udara rata-rata antara 28°C-30°C.

Berdasarkan keadaan topografinya, Kabupaten Klaten terletak diantara Gunung Merapi dan Pegunungan Seribu yang terdiri dari wilayah lereng Gunung Merapi di bagian utara, wilayah datar di bagian tengah, dan wilayah berbukit di bagian selatan. Ditinjau dari ketinggiannya, wilayah Kabupaten Klaten terbagi dalam :

 Sebanyak 3,72 % terletak diantara ketinggian 0 – 100 m dari permukaan laut.

 Sebanyak 77,52 % terletak diantara ketinggian 100 – 500 m dari permukaan laut.

 Sebanyak 12,76 % terletak di antara ketinggian 500 – 1000 m

dari permukaan laut.

B. KEADAAN PENDUDUK

1. Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan data proyeksi dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten, jumlah penduduk Kabupaten Klaten tahun 2015 sebesar 1.158.787 jiwa, dengan luas wilayah 655,56 km2, jadi rata-rata kepadatan penduduk sebesar 1.768 jiwa untuk setiap km2.

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 7 2. Sex Ratio Penduduk

Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten, jumlah penduduk laki-laki sebesar 568.751 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 590.036 jiwa. Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Klaten Tahun 2015 sebesar 96,39. Jadi dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki, atau dari 100 wanita, hanya ada 96 laki-laki. Perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan di Kabupaten Klaten Tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut.

Gambar 2.2

Sex Ratio Penduduk di Kabupaten Klaten Tahun 2015

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 8 3. Struktur Penduduk Menurut Golongan Umur

Dalam pengetahuan tentang kependudukan, dikenal istilah karakteristik penduduk yang berpengaruh penting terhadap proses demografi dan tingkah laku sosial ekonomi penduduk. Karakteristik penduduk yang paling penting adalah umur dan jenis kelamin, atau sering juga disebut struktur umur dan jenis kelamin. Dalam pembahasan demografi, pengertian umur adalah umur pada saat ulang tahun terakhir.

Perkembangan struktur umur penduduk ditentukan oleh adanya perubahan kondisi sosial dan ekonomi serta norma-norma hidup masyarakat. Sebagai contoh, turunnya angka kelahiran (fertilitas) sebagai hasil upaya pemerintah melalui program Keluarga Berencana (KB) menyebabkan pertumbuhan penduduk pada kelompok anak-anak dapat dikendalikan. Membaiknya derajat kesehatan masyarakat seiring dengan membaiknya pelayanan kesehatan menyebabkan semakin tinggi nya angka harapan hidup. Di samping itu, globalisasi mempercepat pengaruh pada mobilitas penduduk baik yang bersifat permanen maupun sementara.

Indikator lainnya yang terkait distribusi penduduk menurut umur yang sering digunakan untuk mengetahui produktivitas penduduk adalah rasio beban tanggungan. Rasio beban tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara jumlah kelompok umur belum/tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan jumlah kelompok umur produktif (umur 15-64 tahun).

Memahami komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan salah satu aspek yang penting khususnya dalam analisis kependudukan dan umumnya dalam perencanaan pembangunan. Misalnya potensi pertumbuhan penduduk ke depan dapat diperkirakan melalui pengamatan dari komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin ini. Perencanaan untuk penyediaan

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 9 pelayanan kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan dasar penduduk lainnya juga membutuhkan informasi mengenai komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin.

C. PEMBANGUNAN KESEHATAN KABUPATEN KLATEN

1. DASAR

Dasar Pembangunan Kesehatan adalah nilai kebenaran dan aturan pokok yang menjadi landasan pokok untuk berfikir dan bertindak dalam penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan. Dasar-dasar berikut ini merupakan landasan penyusunan Visi, Misi dan Strategi serta sebagai petunjuk pokok Pelaksanaan Pembangunan Kesehatan :

a. Perikemanusiaan

Setiap kegiatan, proyek, program kesehatan harus berlandaskan perikemanusian yang dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b. Pemberdayaan dan Kemandirian

Individu, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya bukan saja obyek tetapi sekaligus sebagai subyek kegiatan, proyek, program kesehatan. Segenap komponen bangsa bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Setiap kegiatan, proyek, program kesehatan harus mampu membangkitkan peran serta individu, keluarga, dan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap individu, keluarga dan masyarakat dapat menolong dirinya sendiri.

Dengan dasar ini setiap individu, keluarga dan masyarakat melalui kegiatan, proyek, program kesehatan difasilitasi agar mampu mengambil keputusan yang tepat ketika membutuhkan pelayanan kesehatan. Warga masyarakat harus mau saling tolong menolong

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 10 kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan agar dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Di lain pihak, fasilitas pelayanan kesehatan yang ada perlu terus diberdayakan agar mampu memberikan pertolongan kesehatan yang berkualitas, terjangkau, sesuai dengan norma, sosial budaya setempat serta tepat waktu.

c. Adil dan Merata

Setiap individu, keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan tepat waktu tidak boleh memandang perbedaan ras, golongan, agama dan status sosial ekonomi seorang individu , keluarga atau sekelompok masyarakat. Pembangunan kesehatan harus terus diimbangi dengan upaya-upaya pelayanan kesehatan yang bersifat rujukan, bersifat luar gedung maupun yang bersifat satelit pelayanan. Dengan demikian pembangunan kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk resiko tinggi yang merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian. Kelompok-kelompok penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan pertolongan karena selain lebih rentan terhadap penyakit juga kemampuan membayar mereka jauh lebih sedikit sehingga pembangunan kesehatan akan dapat meningkatkan derajat kesehatan dan menurunkan angka kesakitan dan kematian.

d. Pengutamaan dan Manfaat

Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dan atau kesehatan dalam kegiatan, proyek dan program kesehatan harus mengutamakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Kegiatan, proyek dan program kesehatan diselenggarakan agar

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 11 memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan, proyek dan program kesehatan diselenggarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan, proyek dan program kesehatan diselenggarakan dengan penuh tanggungjawab, sesuai dengan standar profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh dan kondisi spesifik daerah.

2. VISI

Pembangunan Kesehatan Klaten perlu dilakukan secara bersama-sama baik lintas sektoral maupun lintas program untuk mewujudkan Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten yang ingin dicapai oleh segenap komponen masyarakat, yaitu :

“Mewujudkan Klaten Sehat dan Sejahtera “.

3. M I S I

Untuk mewujudkan visi Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten tersebut maka terdapat misi yang mencerminkan peran, fungsi dan kewenangan yang diemban oleh seluruh jajaran organisasi kesehatan Kabupaten Klaten yang bertanggung jawab secara teknis terhadap pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan Kabupaten Klaten, yaitu:

a. Sebagai katalisator dan motivator pembangunan Kabupaten Klaten yang berwawasan kesehatan

b. Mendorong kemandirian masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat

c. Mempercepat terwujudnya sistem kesehatan daerah

d. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat secara paripurna, didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, sarana dan prasarana memadai

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 12 4. TUJUAN DAN SASARAN

a. Tujuan

Tujuan pembangunan kesehatan di Kabupaten Klaten

adalah“Mewujudkan kualitas derajat kesehatan bagi masyarakat (Waras Oriented)”

b. Sasaran

1. Terwujudnya pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat terutama masyarakat miskin

2. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan masyarakat 3. Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat

5. STRATEGI DAN KEBIJAKAN

a. Strategi

1) Terlayaninya penanganan masyarakat miskin dalam upaya peningkat derajat kesehatan masyarakat

2) Peningkatan kualitas pelayanan tenaga kesehatan

3) Rehabilitasi sarana prasarana kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan administrasi kesehatan masyarakat

b. Kebijakan

1) Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan

pemberdayaan dan partisipasi masyarakat secara aktif mandiri 2) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dengan cara

meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat utamanya penduduk miskin dengan pelayanan kesehatan dasar yang mudah, murah dan terjangkau oleh masyarakat di Puskesmas dan jaringannya

3) Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dengan dukungan peningkatan manajemen, sarana prasarana, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 13 6. PROGRAM DAN KEGIATAN

a. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran

1) Penyediaan jasa surat menyurat

2) Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik 3) Penyediaan jasa administrasi keuangan

4) Penyediaan jasa kebersihan kantor

5) Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja 6) Penyediaan jasa alat tulis kantor

7) Penyediaan barang cetakan dan penggandaan

8) Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor

9) Penyediaan makanan dan minuman

10) Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah 11) Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke dalam daerah 12) Penyediaan jasa pengamanan kantor

13) Penyediaan jasa pengemudi kantor

b. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

1) Pembangunan gedung kantor 2) Pengadaan mebeleur

3) Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor

4) Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional 5) Pengadaan komputer

6) Pengadaan mobil vaksin

7) Pengadaan sanitarian kit dan field kit 8) Pengadaan body fat analyser

9) Pembangunan klinik laktasi Puskesmas Jogonalan I 10) Pengadaan peralatan dan perlengkapan kantor

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 14 c. Program Peningkatan Disiplin Aparatur

1) Pembinaan administrasi kepegawaian

d. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan

1) Fasilitasi administrasi keuangan, pengelolaan dan pelaporan asset daerah

e. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan 1) Pengadaan obat (DAK)

2) Pengelolaan manajemen obat 3) Pendampingan pengadaan obat

4) Pelayanan farmasi (SILPA DAK s/d 2014)

5) Pendampingan SILPA DAK s/d Pelayanan Farmasi

f. Program Upaya Kesehatan Masyarakat

1) Peningkatan kesehatan keluarga dan pendampingan polindes

2) Bintek balai pengobatan/RB dan lab. swasta 3) Penunjang Operasional PPPK

4) Penunjang operasional pelayanan ijin di bidang kesehatan 5) Akreditasi Puskesmas

6) Pemilihan Paramedis, Medis Teladan dan puskesmas berprestasi

7) Pembuatan Buku Profil Kesehatan

8) Peningkatan Operasional Laboratorium Kesehatan 9) Peningkatan manajemen puskesmas

10) Peningkatan Kinerja klinik 11) Pembuatan buku KIA

12) Sistem penanggulangan Gawat darurat Terpadu (SPGDT) 13) Penunjang Operasional Ambulance dan Mobil Jenazah

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 15 g. Program Pengawasan Obat dan Makanan

1) Pembinaan pengawasan obat dan makanan 2) Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah 3) Pengadaan Test Kit Keamanan Pangan

h. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan

Masyarakat

1) Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

2) Upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) 3) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

i. Program Perbaikan Gizi Masyarakat

1) Upaya perbaikan gizi keluarga

2) Pembinaan Kewaspadaan Pangan dan Gizi

3) Penunjang Operasional Penyaluran Bantuan Posyandu

j. Program Pengembangan Lingkungan Sehat

1) Peningkatan kesehatan lingkungan 2) Pengelolaan Limbah Medis B3

3) Pengadaan IPAL Puskesmas Rawat Inap dan Rawat Jalan Kab.Klaten ( Eks. 2POA)

k. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

1) Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)

2) Pengendalian penyakit menular langsung dan penyakit tidak menular

3) Pengendalian penyakit bersumber binatang

l. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 16 2) Fasilitasi dan Intensifikasi Pendapatan

3) Pendampingan Persiapan BLUD Puskesmas

4) Penyusunan Naskah Akademis Raperda Penanggulangan HIV AIDS

5) Perencanaan Monitoring Evaluasi & Pelaporan Program Pelayanan Kesehatan

m. Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin

1) Pelayanan operasi katarak 2) Visum et repertum

3) Kemitraan Pelayanan Jasa Kesehatan Masyarakat Miskin (BPJS)

n. Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana danPrasarana Puskesmas / Puskesmas Pembantu dan Jaringannya

1) Pengadaan Mobil Ambulans Transport (DAK)

2) Pendampingan Pengadaan Mobil Ambulans Transport 3) Pengadaan Kendaraan Khusus Promosi Kesehatan (DAK) 4) Pendampingan Pengadaan Kendaraan Khusus Promosi

Kesehatan

5) Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan 6) Pelayanan Dasar (SILPA DAK s/d 2014)

7) Pendampingan SILPA DAK s/d 2014 Pelayanan Dasar 8) Penyusunan Master Plan dan DED Prototype Puskesmas

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 17

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Menurut UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, yang dimaksud dengan keadaan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Ada beberapa indikator yang digunakan dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, seperti angka kematian, angka kesakitan, dan angka status gizi. Banyak faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, baik faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, maupun faktor lain seperti ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan, dan faktor lainnya.

Gambaran masyarakat Kabupaten Klaten masa depan yang ingin dicapai segenap komponen masyarakat melalui pembangunan Kesehatan Kabupaten Klaten yaitu Klaten Sehat dan Sejahtera yang mandiri dan bertumpu pada potensi daerah. Terdapat beberapa keterkaitan dari beberapa aspek yang dapat mendukung meningkatnya kinerja yang dihubungkan dengan pencapaian pembangunan kesehatan, diantaranya : (1) Indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator indikator untuk mortalitas, morbiditas, dan status gizi, (2) Indikator hasil yang terdiri dari indikator - indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta (3) indikator proses dan masukan, yang terdiri dari indikator indikator untuk pelayanan kesehatan, sumberdaya kesehatan dan kontribusi sektor lain.

A. ANGKA KEMATIAN

Angka Kematian yang dimaksud adalah angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu yang dapat berupa penyakit atau sebab lainnya. Angka

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 18 kematian yang dibahas adalah Angka Kematian Ibu ( AKI ), Angka Kematian Bayi ( AKB ) dan Angka Kematian Balita ( AKABA ).

1. Angka Kematian Bayi ( AKB )

Angka Kematian Bayi/Infant Mortality Rate (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup dalam tahun yang sama. AKB merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat dan untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan. Hal tersebut dikarenakan usia bayi merupakan kondisi yang rentan baik terhadap kesakitan maupun kematian.

Angka kematian bayi menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB serta kondisi lingkungan sosial ekonomi. Apabila Angka Kematian Bayi di suatu wilayah tinggi, berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah.

Angka kematian bayi di Kabupaten Klaten pada tahun 2015 yaitu 12,94 per 1000 Kelahiran Hidup. Jumlah absolut kematian bayi adalah 220 dari 17.002 Kelahiran Hidup. Dari 220 kematian bayi di Kabupaten Klaten, sebanyak 121 kematian bayi berada pada rentan umur 0 – 6 hari (perinatal), 34 kematian bayi berada pada rentan umur 7 – 28 hari (neonatal) dan 65 kematian bayi berada pada rentan 29 hari – 11 bulan. Dari data pada Lampiran (Tabel 5), Angka Kematian Bayi tertinggi ada di Kecamatan Ngawen yaitu sejumlah 15 bayi.

Angka Kematian Bayi Kabupaten Klaten tahun 2011 – 2015 dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut.

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 19

Gambar 3.1

Angka Kematian Bayi Kabupaten Klaten Tahun 2011-2015

Sumber : Seksi Kesga Bidang Kesmas

Grafik pada Gambar 3.1 menunjukkan adanya kenaikan Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2015 sebesar 1,85 jika dibandingkan AKB tahun 2014. Bila dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDG’s) ke-4 Tahun 2015 sebesar 17 per 1000 Kelahiran Hidup, maka AKB di Kabupaten Klaten masih dibawah target.

Dengan naiknya jumlah kematian bayi di Kabupaten Klaten, seluruh puskesmas di Kabupaten Klaten diwajibkan untuk melakukan studi kasus atau pembahasan kasus kematian bayi tingkat puskesmas. Selain itu, dilakukan juga pengkajian dan pembahasan kasus kematian bayi di tingkat kabupaten. Akan tetapi, kematian bayi di Kabupaten Klaten belum semuanya dapat dilakukan pengkajian kasus.

Dari 220 kasus kematian bayi, 100 kematian bayi disebabkan oleh Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR ), 27 kematian disebabkan oleh asfiksia, 38 kematian disebabkan oleh kelainan kongenital, 8 kematian disebabkan karena pneumonia, 6 kematian disebabkan

9,4 10,8 8,5 11,09 12,94 0 2 4 6 8 10 12 14 2011 2012 2013 2014 2015

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 20 diare, 4 kematian disebabkan sepsis, 3 kematian disebabkan oleh DSS dan 33 kematian disebabkan lain - lain. Penyebab lain – lain diantaranya adalah trauma, aspirasi ASI, Aspirasi Susu Formula, Illeus, Perdarahan Otak dan asma.

2. Angka Kematian Anak Balita dan Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Anak Balita adalah jumlah kematian anak usia 12 – 59 bulan yang dinyatakan per 1.000 Kelahiran Hidup dalam kurun waktu satu tahun. Sedangkan Angka Kematian Balita adalah jumlah anak berumur < 5 Tahun (0 – 59 bulan) yang dinyatakan per 1.000 Kelahiran Hidup dalam kurun waktu satu tahun. Angka ini merepresentasikan resiko terjadinya kematian pada fase antara kelahiran hingga sebelum anak berusia 5 tahun. AKABA juga menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita, tingkat

pelayanan KIA/Posyandu, tingkat keberhasilan program

KIA/posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.

Angka Kematian Anak Balita di Kabupaten Klaten Tahun 2015 sebesar 3,0 per 1000 Kelahiran Hidup, dimana terdapat 51 kematian balita dari jumlah populasi balita sebanyak 71.147. Bila dibandingkan dengan target Millenium Development Goals ( MDGs ) ke-4 Tahun 2015 sebesar 23 per 1.000 Kelahiran hidup, maka AKABA di Kabupaten Klaten sudah melampaui target. Sedangkan Angka Kematian Balita di Kabupaten Klaten Tahun 2015 sebesar 15,94 per 1.000 Kelahiran hidup, dimana secara absolut sejumlah 271 kematian balita. Dari data pada Lampiran (Tabel 5), Angka Kematian Balita tertinggi ada di Kecamatan Ngawen yaitu sejumlah 19 balita.

Angka Kematian Anak Balita di Kabupaten Klaten tahun 2011 – 2015 dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut.

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 21

Gambar 3.2

Angka Kematian Anak Balita Kabupaten Klaten 2011 - 2015

Sumber : Seksi Kesga Bidang Kesmas

Grafik pada gambar 3.2 menunjukkan angka kematian anak balita meningkat dari tahun 2014 sebesar 0,8 menjadi 3,0 pada tahun 2015. Penyebab kematian balita antara lain 2 kematian disebabkan diare, 1 kematian disebabkan pneumonia, 12 kematian disebabkan demam berdarah dengue dan 36 kematian disebabkan lain – lain seperti tenggelam, cerebal palsy, HIV, leukimia, kanker otak dan kecelakaan.

3. Angka Kematian Ibu ( AKI )

Kematian Ibu adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan, dan masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan.

1,2 0,8 0,9 0,8 3 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 2011 2012 2013 2014 2015

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 22 Di Kabupaten Klaten, kematian ibu yang lebih tepat digunakan adalah jumlah dan belum menggunakan angka, serta tidak menggunakan denoiminatir 100.000. Hal ini disebakan jumlah kelahiran hidup di Kabupaten Klaten belum mencapai 100.000 kelahiran.

Angka Kematian Ibu ( AKI ) menggambarkan permasalahan status ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu nifas. Untuk lebih mengetahui tingkat perkembangan jumlah kematian ibu dari tahun 2011 sampai dengan 2015 dapat dilihat dari grafik berikut :

Gambar 3.3

Angka Kematian Ibu Kabupaten Klaten Tahun 2011 - 2015

Sumber : Seksi Kesga Bidang Kesmas

Angka Kematian Ibu dipengaruhi oleh kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pendidikan/pengetahuan ibu, status gizi dan pelayanan kesehatan. Untuk tahun 2015, Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 15 / 17.002 X 100.000 = 88,22/100.000 Kelahiran Hidup, dan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan AKI pada Tahun 2014 yaitu sebesar 115,7/100.000 Kelahiran Hidup.

54,5 102,2 118,4 115,7 88,22 0 20 40 60 80 100 120 140 2011 2012 2013 2014 2015

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 23 Kejadian kematian ibu sejumlah 15 terdiri dari 2 kematian ibu hamil dan 13 kematian ibu nifas. Grafik tentang proporsi kematian ibu dapat dilihat dari gambar 3.4 berikut ini :

Gambar 3.4

Proporsi Kematian Ibu di Kabupaten Klaten Tahun 2015

Sumber : Seksi Kesga Bidang Kesmas

Dari 15 kematian ibu penyebabnya antara lain 5 kematian disebabkan oleh perdarahan, 3 kematian disebabkan oleh pre eklamsi, 4 kematian disebabkan oleh gangguan sistem peredaran darah (jantung, stroke) dan 3 kematian disebabkan oleh lain – lain (ileus dan kanker).

B. ANGKA KESAKITAN

Angka kesakitan atau morbiditas adalah angka yang menunjukkan keadaan sakit, baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Angka kesakitan menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Angka kesakitan juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.

13,33% 0%

86,67%

Kematian Ibu Hamil Kematian Ibu Bersalin Kematian Ibu Nifas

___________________________________________________________________ Profil Kesehatan Kabupaten Klaten Tahun 2015 | 24 1. Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Pada bulan Mei 2012, World Health Assembly (WHA) mendeklarasikan bahwa eradikasi polio adalah salah satu isu kedaruratan kesehatan masyarakat dan perlu disusun suatu strategi menuju eradikasi polio (Polio Endgame Strategy).

Indonesia telah berhasil menerima sertifikat bebas polio bersama dengan negara anggota WHO di SEAR pada bulan Maret 2014.

Untuk mempertahankan keberhasilan tersebut dan untuk

melaksanakan strategi menuju eradikasi polio di dunia, Indonesia melakukan beberapa rangkaian kegiatan yaitu PIN Polio, penggantian vaccine tOPV ke bOPV dan introduksi Inactivated Polio Vaccine (IPV). Pada akhir tahun 2020 diharapkan penyakit polio telah berhasil dihapus dari seluruh dunia.

Surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP) bertujuan untuk memantau adanya penyebaran virus polio liar di suatu wilayah sehingga upaya-upaya pemberantasannya menjadi terfokus dan efisien. Sasaran utama surveilans AFP adalah kelompok rentan terhadap penyakit poliomielitis yaitu anak usia < 15 tahun.

Prosedur pelacakan kasus AFP adalah sbb :

1. Melakukan pemeriksaan lapangan terhadap kasus AFP yang dilaporkan

2. Mengambil segera specimen tinja penderita dari setiap AFP yang dilacak

3. Melakukan kunjungan ulang 60 hari sejak terjadi kelumpuhan 4. Menjelaskan kepada orangtua pentingnya rehabilitasi medis untuk

mengurangi kerusakan otot dan kecacatan lebih lanjut

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN KABUPATEN KLATEN TAHUN 2015 (Halaman 16-134)

Dokumen terkait