• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam bab ini terdiri dari simpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2010), merupakan hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata).

b. Tingkat pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkatan pengetahuan, yaitu :

1) Tahu (know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa seseorang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan.

2) Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu tentang objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang obyek yang diketahui tersebut.

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai sudah sampai pada tingkatan analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis merupakan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis

9

adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini

dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu:

1) Tingkat pendidikan

Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku postif yang meningkat serta pendidikan yang tinggi akan berpengaruh pada penerimaan hal-hal baru dan dapat menyesuaikan diri dengan hal yang baru tersebut.

2) Pengalaman

Sesuatu yang pernah dialami seseorng akan menambah pengetahuan dan dapat menjadi sumber pengetahuan yang bersifat informal.

3) Informasi

Informasi yang diperoleh melalui kenyatan (melihat dan mendengar sendiri), serta melalui surat kabar, radio, TV dapat menambah pengetahuan agar lebih luas.

4) Budaya

Budaya yang ada dalam masyarakat dan kondisi politik juga mempengaruhi terhadap tingkat pengetahuan seseorang.

5) Pekerjaan

Pekerjaan berhubungan dengan sosial ekonomi seseorang. Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang akan menambah tingkat pengetahuan.

d. Cara memperoleh pengetahuan

Menurut Notoadmojo 2003, ada berbagai macam memperoleh pengetahuan, antara lain:

1) Cara tradisional

Cara tradisional di pakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukan metode penemuan secara sistematis dan logis.

Cara memperoleh pengetahuan antara lain: a) Cara coba salah (trial and error)

Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan maungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.

11

b) Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-pimpinan masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri.

c) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.

2) Cara modern

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau disebut metodologi penelitian (research metodelogi). Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah yang lebih sistematis dan logis.

2. Nifas

a. Pengertian nifas

1) Menurut Saifuddin (2002), Nifas atau puerperium dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali

seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung kira-kira selama 6 minggu.

2) Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim sampai 6 minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain-lain sebagainya yang berkaitan saat melahirkan (Suharni, dkk, 2008).

3) Masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha, 2009)

b. Klasifikasi masa nifas

Menurut Bahiyatun (2009), masa nifas dibagi 3 periode, yaitu:

1. Puerperium dini

Puerperium dini adalah kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan

berdiri dan berjalan. 2. Puerperium intermedial

Puerperium intermedial adalah kepulihan menyeluruh alat-alat

genetalia yang lamanya 6-8 minggu. 3. Remote puerperium

Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan

13

c. Perubahan fisiologi pada masa nifas

Menurut Saleha, (2009) perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas adalah:

1) Uterus

Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi posisi fudus uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilikus dan simfisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengkerut, sehingga dalam dua mingggu telah turun masuk ke dalam rongga pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari luar. Involusi uterus melibatkan pengreorganisasi dan pengguguran desidu serta penglupasan situs plasenta, sebagaimana diperlihatkan dengan pengurangan dalam ukuran dan berat serta oleh warna dan jumlah lochea.

Tabel 2.1 TFU dan berat uterus menurut masa involusio

Involusio TFU Berat Uterus

Bayi lahir Setinggi pusar, 2 jari di bawah pusat 1.000 gr 1 minggu Pertengahan pusat simfisis 750 gr 2 minggu Tidak teraba di atas simfisis 500 gr

4 minggu Normal 50 gr

8 minggu Normal, sebelum hamil 30 gr Sumber: Saleha, (2009)

2) Lochea

Cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas. Macam-macam lochea adalah:

a) Lochea rubra (cruenta)

Berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, set-set desidu, verniks caseosa, lanugo, dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan, keluar selama 2-3 hari post partum.

b) Lochea sangulenta

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir yang keluar pada pada hari ke 3-7 pasca persalinan.

c) Lochea serosa

Cairan kuning, tidak berdarah lagi, keluar pada hari ke 7-14 pasca persalinan.

d) Lochea alba

Cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit dan sel-sel desidua, keluar pada hari ke 14 sampai 2 minggu berikutnya. 3) Perubahan laktasi

Proses pengembangan jaringan penghasilan ASI dalam payudara di capai dalam kehamilan dengan adanya rangsangan pada jaringan kelenjar serta saluran payudara oleh hormon-hormon plasenta yaitu hormon estrogen, progesteron, dan hormon

laktogenik plasenta.

Kemudian penurunan produksi hormon akan terjadi dengan cepat setelah plasenta dilahirkan. Hormon hipofise anterior yaitu

15

progesteron yang tinggi dalam darah kini di lepaskan. Prolaktin akan mengaktifkan sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI. Dalam waktu 1-2 hari setelah bayi di lahirkan, produksi ASI sudah dimulai (Saifuddin, 2002).

4) Sistem pencernaan

Seorang wanita dapat merasa lapar dan siap menyantap makanannya dua jam setelah persalinan. Mual dan muntah terjadi akibat produksi saliva meningkat. Pada ibu nifas terutama yang partus lama dan terlantar mudah terjadi ileus paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak adanya peristaltik usus. Penyebabnya adalah penekanan buah dada dalam kehamilan dan partus lama, sehingga membatasi gerak peristaltik usus, serta bisa juga terjadi karena pengaruh psikis takut BAB karena ada luka jahitan perinium.

5) Sistem endokrin

a) Hormon oksitosin

Oksitosin di sekresi dari kelenjar otak bagian belakang. Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI sekresi oksitosin. Hal tersebut membantu uterus kembali ke bentuk normal.

b) Hormon prolaktin

Berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi ASI. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi.

c) Hormon estrogen dan progesteron

Diperkirakan bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar

hormon antidiuretik yang meningkatkan volume darah. Hormon

progesteron mempengaruhi otot halus yang mempengaruhi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva, serta vagina.

6) Perubahan tanda-tanda vital a) Tekanan darah

Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi post partum akan menghilang dengan sendirinya.

b) Nadi

Pada masa nifas umumnya denyut nadi labil, sedangkan pernafasan akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali seperti keadaan semula.

c) Suhu

Setelah dua jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal.

17

7) Adaptasi psikis

a) Adaptasi psikis pada masa nifas adalah : (1) Taking in periode

Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.

(2) Taking hold periode

Merupakan periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif, hingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu.

(3) Letting go periode

Merupakan periode menerima tanggung jawab sebagai “seorang ibu” dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya, berlangsung lebih dari 10 hari.

b) Hal-hal yang harus dapat dipenuhi selama masa nifas, adalah (1) Fisik

Istirahat, makan-makanan bergizi, sering menghirup udara segar, dan lingkungan yang bersih.

(2) Psikologi

Stres setelah persalinan dapat segera disetabilkan dengan dukungan dari keluarga yang menunjukkan rasa simpsti, mengakui, dan menghargai ibu.

(3) Sosial

Menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi anaknya, menanggapi dan memerhatikan kebahagian ibu, serta menghibur bila ibu terlihat sedih.

3. Fisiologi Laktasi

Menurut Farrer (2001), pemberian ASI bergantung pada empat macam proses, yaitu:

a. Proses pengembangan jaringan penghasil ASI dalam payudara. Proses ini di capai dalam kehamilan dengan adanya rangsangan pada jaringan kelenjar serta saluran payudara oleh hormon-hormon plasenta yaitu hormon estrogen, progesteron, dan hormon laktogenik plasenta.

b. Proses yang memicu produksi ASI setelah melahirkan

Penurunan produkai hormon akan terjadi dengan cepat setelah plasenta dilahirkan. Hormon hipofise anterior yaitu prolaktin yang terjadi

19

dihambat oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi dalam darah, kini dilepaskan. Prolaktin akan mengaktifkan sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI. Dalam waktu 1-2 hari setelah bayi dilahirkan produksi ASI sudah dimulai.

c. Proses untuk mempertahankan produksi ASI

Produksi ini tergantung pada oksitosin yang dilepaskan dari kelenjar

hipofise posterior sebagai reaksi terhadap pengisapan putting. Oksitosin

mempengaruhi sel-sel mioepitelial yang mengelilingi alveoli mammae sehingga alveoli tersebut berkontraksi dan mengeluarkan air susu yang sudah disekresikan oleh kelenjar mammae.

d. Proses sekresi ASI (refleks let down)

Proses ini terjadi karena refleks neurogenik yang menstimulasi pelepasan oksitosin, juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor yang murni dari kejiwaan, seperti mendengar tangis bayi, berpikir tentang bayinya, atau bahkan berpikir tentang pemberian ASI sendiri. Ibu yang menyusui akan mengalami refleks let down sekitar 30-60 menit setelah bayi mulai menyusu. Begitu produksi ASI sudah terjadi dengan baik, pengosongan

sakus alveolus mammae yang teratura akan mempertahakan produksi

4. Masalah-masalah Laktasi

Menurut (Saleha, 2009), masalah-masalah yang sering terjadi pada waktu menyusui adalah:

a. Puting lecet

Dapat disebabkan oleh karena teknik menyusui yang salah atau perawatan yang tidak betul pada payudara. Infeksi monilia dapat mengakibatkan lecet.

b. Payudara bengkak

Disebabkan karena pengeluaran ASI yang tidak lancar. c. Saluran susu tersumbat/ bendungan ASI

Disebabkan ASI yang terkumpul tidak segera dikeluarkan, sehingga menimbulkan sumbatan.

d. Mastitis

Suatu proses infeksi menyebabkan radang payudara. e. Abses payudara

Dapat terjadi sekunder pada mastitis atau payudara yang terinfeksi. 5. Bendungan Air Susu Ibu

a. Pengertian

1) Bendungan air susu ibu terjadi karena penyempitan laktiferin atau oleh kelenjar-kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu. Disebabkan oleh bendungan vena dan pembuluh getah bening. Hal ini semua merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi, namun pengeluarannya belum lancar.

21

Bila karena nyeri ibu tidak mau menyusui, keadaan ini akan berlanjut. ASI yang disekresi akan menumpuk sehingga payudara bertambah tegang, gelanggang susu menonjol, dan puting menjadi lebih datar. Bayi menjadi sulit menyusu (Sastrawinata, 2004).

2) Bendungan air susu ibu dikarenakan aliran vena dan limfatik tersebut, aliran susu jadi terhambat dan tertekan pada saluran air susu ibu dan alvioli meningkat, terjadi pada hari ketiga sampai kelima setelah melahirkan (Machfoedz, 2008).

b. Etiologi

Menurut Bobak (2004), bendungan air susu ibu disebabkan oleh: 1) Pengosongan payudara yang tidak baik.

2) Pemakaian BH yang terlalu ketat. 3) Posisi menyusui yang tidak benar. 4) Tekanan jari ibu pada waktu menyusui.

5) Kurangnya pengetahuan cara perawatan payudara dan cara pencegahan bendungan ASI.

c. Patofisiologi

Selama 24 jam hingga 48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi

lakteal, payudara mengalami distensia menjadi keras dan berbenjol.

Sekresi locteal terjadi pada 2-3 hari pertama setelah melahirkan. Jadi bendungan ASI terjadi 3-5 hari pertama setelah melahirkan. Keadaan ini sering menimbulkan rasa nyeri pada payudara dan kadang menimbulkan kenaikan suhu badan. Keadaan tersebut menggambarkan

adanya aliran darah vena normal yang berlebihan dan menggembungkan limfatik pada payudara yang merupakan prekusor

reguler untuk terjadinya laktasi (Machfoedz, 2008).

d. Tanda dan gejala

Menurut Machfoedz, (2008), ibu dengan bendungan ASI mempunyai tanda dan gejala sebagai berikut:

1) Payudara bengkak dan keras. 2) Payudara terasa sakit.

3) ASI tidak keluar.

4) Kadang menimbulkan kenaikan suhu badan. 5) Puting terasa kencang.

6) Kulit payudara mengkilat meski tidak memerah. e. Penatalaksanaan

1) Menurut Saifuddin (2002), bagi ibu yang menyusui dengan gangguan bendungan air susu ibu maka dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a) Bayi tetap di susui agar mengurangi bengkak.

b) Setiap kali menyusui, payudara harus sampai kosong. c) Mengompres payudara di antara waktu menyusui. d) Menggunakan BH yang dapat menopang dengan enak.

e) ASI dapat di peras sesekali dengan tangan, frekuensi pengeluaran ASI lebih sering.

23

g) Mengompres payudara dengan air hangat sebelum di susukan. h) Memberitahu ibu bahwa dalam waktu sehari atau dua hari

keluhan akan reda.

i) Bila perlu berikan parasetamol 500 mg per oral tiar 4 jam. 2) Menurut WHO (2003), bila payudara ibu terjadi bendungan air

susu ibu dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a) Memperbaiki kenyutan pada payudara oleh bayinya.

b) Menyusui sesering mungkin dan selama bayi menghendaki tanpa batas.

c) Melakukan pemerasan ASI dengan menggunakan tangan atau pompa.

d) Memberitahu ibu dalam waktu sehari atau dua hari kondisi ibu akan sembuh.

f. Pencegahan

Menurut Saleha (2009), bendungan air susu ibu dapat dicegah dengan cara sebagai berikut:

1) Perawatan payudara pasca persalinan secara teratur, untuk menghindari terjadinya statis aliran ASI.

2) Posisi menyusui yang di ubah-ubah.

6. Perawatan Payudara a. Cara perawatan payudara

Setelah melahirkan atau pada ibu nifas, payudara perlu dirawat dengan cara di urut. Tindakan ini bisa memelihara kebersihan payudara, memperlancar keluarnya ASI, dan dapat mencegah masalah-masalah pada payudara. Pengurutan sebaiknya dilakukan setelah melahirkan sebayak 2 kali sehari. Agar hasilnya maksimal, dilakukan pengurutan secara sistematis dan teratur, disertai perawatan tubuh secara umum seperti cukup makan-makanan bergizi seimbang, menjaga hygiene dan cukup istirahat (Machfoedz, 2008).

Langkah-langkah pengurutan payudara adalah sebagai berikut: 1) Cuci tangan sebelum massase payudara.

2) Tuangkan minyak ke kedua telapak tangan secukupnya. 3) Lakukan friction

Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, lakukan gerakan gerakan kecil dengan dua atau tiga jari tangan kanan, mulai dari pangkal payudara dan berahir dengan gerakan spiral pada daerah putting susu, lakukan juga pada payudara kanan.

4) Selanjutnya lakukan gerakan memutar sambil menekan dari pangkal payudara dan berahir pada putting susu diseluruh bagian payudara, lakukan gerakan secara bergantian.

25

5) Lakukan massase

Letakkan kedua telapak tangan diantara dua payudara, urutlah dari tengah keatas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan keduanya dengan perlahan, lakukan gerakan ini 20-30 kali.

6) Sangga payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal payudara kearah putting susu, lakukan gerakan ini 20-30 kali, setelah itu letakkan satu tangan di sebelah atas dan satu lagi dibawah payudara, luncurkan kedua tangan secara bersamaan ke arah putting susu dengan cara memutar tangan, ulangi gerakan ini sampai payudara terkena urutan.

7) Pengompresan

Pengompresan menggunakan air hangat dan air dingin dengan 2 buah waslap.

Caranya: setelah pengurutan dilakukan, kompres kedua payudara dengan waslap hangat selama 2 menit, kemudian diganti dengan kompres dinggin selama 2 menit, kompres dilakukan 3 kali berturut-turut dan diakhiri dengan kompres hangat.

b. Teknik pengosongan payudara

Pengosongan payudara perludilakukan agar payudara tidak terasa penuh untuk mengurangi bendungan ASI serta memperlancar produksi ASI. Menurut Machfoedz (2008), pengosongan payudara atau pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan cara:

1) Pengeluaran ASI dengan tangan a) Tangan dicuci sampai bersih

b) Siapkan cangkir/ gelas bertutup yang telah dicuci dengan air mendidih.

c) Payudara dikompres dengan kain handuk yang hangat dan di massase dengan kedua telapak tangan dari pangkal ke arah

areolla mammae, ulangi pemijatan ini pada sekitar payudara

secara merata.

d) Dengan ibu jari disekitar aerolla mammae bagian atas dan jari telunjuk pada sisi yang lain, lalu daerah payudara di tekan kearah dada.

e) Daerah aerolla mammae diperas dengan ibu jari dan jari telunjuk, jangan memijat/ menekan puting karena dapat menyebabkan rasa nyeri/ lecet.

f) Ulang tekan-peras-lepas-tekan-peras-lepas, pada mulanya ASI tidak keluar, setelah beberapa kali maka ASI akan keluar.

g) Gerakan ini diulang pada sekitar areola mammae dari semua sisi, agar yakin bahwa ASI telah diperas dari semua segmen payudara.

2) Pengeluaran ASI dengan pompa

Bila payudara terbendung dan puting terasa nyeri, maka akan lebih baik bila ASI dikeluarkan dengan pompa payudara. Pompa dapat digunakan bila ASI benar-benar sudah penuh, tetapi pada

27

payudara yang lunak akan lebih sukar. Cara pengeluaran ASI dengan pompa payudara:

a) Tekan bola karet untuk mengeluarkan udara.

b) Ujung leher tabung di letakkan pada payudara dengann puting susu tepat di tengah dan tabung benar-benar melekat pada kulit.

c) Bola karet dilepas, sehingga puting susu dan areola mammae tertarik kedalam.

d) Tekan dan lepas beberapa kali, sehingga ASI akan keluar dan terkumpul pada lekukan penampung pada sisi tabung.

e) Setelah selesai dipakai atau akan dipakai, maka alat harus dicuci bersih karenanya bila memungkinkan lebih baik pengeluaran ASI dengan menggunakan tangan.

c. Ruang lingkup menyusui 1) Posisi menyusui bayi

Menurut Purwanti (2004), ada beberapa macam posisi menyusui bayi, adalah:

a) Bayi harus dapat memesukan seluruh putting susu sampai daerah areola mammae ke dalam mulutnya sehingga bayi dapat menggunakan rahang untuk menekan daerah dibelakang putting susu, daerah ini merupakan kantong penyimpanan ASI.

b) Ibu dapat mengambil posisi duduk

Punggung ibu bersandar, kaki dapat diangkat dan diluruskan kedepan sejajar dengan bokong, atau kebawah tetapi harus diberi penyangga (jangan menggantung). Bayi tidur dipangkuan ibu dengan di alasi batal sehingga posisi perut ibu bersentuhan atau berhadapan dengan perut bayi. Leher bayi harus dalam posisi tidak terpelintir. Sebaiknya ibu berhati-hati karena pada saat menyusui, bayi tidak dalam keadaan terlentang atau di bedong.

c) Posisi menyusui yang lain adalah ibu tidur miring dengan batal agak tinggi dan lengan tangan menopang kepala bayi, posisi perut bayi dan perut ibu sama dengan posisi waktu duduk. Siku bayi harus lurus sejajar dengan telinga bayi bila ditarik garis lurus.

d) Bila mengambil posisi telungkup diatas meja, bayi ditidurkan dan kepala bayi mengarah ke payudara ibu. Posisi ini akan menguntungkan bagi bayi kembar karena kedua bayi memperoleh kesempatan yang sama tanpa harus dibedakan. e) Segera setelah persalinan posisi menyusui yang baik untuk bayi

adalah ditelungkupkan diperut ibu sehingga proses penghangatan untuk bayi dan sekaligus bayi dapat menghisap puting susu.

29

2) Waktu menyusui bayi

Menurut Purwanti (2004), waktu menyusu bayi adalah:

a) Menyusui bayi tidak perlu dijadwalkan, bila bayi membutuhkan atau menangis, ibu harus segera memberi ASI. b) Bila bayi puas menyusu, bayi akan tertidur pulas.

c) Ketika bayi bayi tertidur dalam keadaan masih menyusu, untuk

Dokumen terkait