• Tidak ada hasil yang ditemukan

11

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Program

1. Pengertian Program

Secara etimologi, dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan Depertemen Pendidikan kebudayaan (1998), program adalah acara (seperti sebuah siaran, pengelolaan dan senagainya).1

Pengertian program adalah acara, sementara Kamus Webster International Volume 2 lebih merinci lagi, yakni : program adalah suatu jadwal (schedule) atau perencanaan untuk ditindak lanjuti dengan penyususnan “butir” siaran yang berlangsung sepanjang siaran itu berada di udara.2

Program adalah sederetan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh seorang atau kelompok organisasi, lembaga bahkan negara mempunyai suatu program, Suharsimi Arikunto mengemukakan program sebagai berikut; “program adalah sederetan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai suatu kegiatan tertentu.3

1

DEPDIKBUD, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), cet. Ke-1, h.702

2

RM. Soenarto, Programa Televisi dari penyusunan sampai pengaruh siaran, (Jakarta; FFTV-IKJ Press, 2007)cet. 1 h.1

3

Suharsimi Arikunto, Penuaian Program Pendidikan (Yogyakarta; Bina Aksara, 1998)h.1

Menurut bahasa program merupakan sebuah istilah yang digunakan sebagai bentuk cara menjalankan sebuah usaha atau kegiatan, dengan kata lain adalah sebuah rancangan yang disusun secara sistematis.

Sedangkan menurut buku Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ), bahwa pengertian program adalah pernyataan aktivitas-aktivitas atau langkah-langkah yang diperlukan untuk merealisasikan rencana yang telah ditetapkan di dalam jangka waktu tertentu (1 tahun). Program-program koperasi berkaitan dengan aktivitas penyediaan atau pengadaan barang untuk anggota, pemasaran produk-produk anggota, penyediaan dana dan jasa lainnya atau berbagai bentuk pelayanan lainnya.

Program kerja merupakan bagian dari perangkat lunak dalam menjalankan roda organisasi, dalam upayanya mencapai tujuan yang telah ditetapkan, karena itu merupakan sebuah kelaziman, program kerja dapat dijadikan sebagai tingkat penuntun, dasar pijakan dan landasan hukum dalam mengelola organisasi.4

Dalam pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa program merupakan suatu deretan rencana kegiatan untuk melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk merealisasikan keefektifan kegiatan tersebut.

2. Macam dan jenis program

Macam atau jenis program dapat beragam wujud, jika ditinjau dari berbagai aspek, sebagai berikut :

4

13

a. Dari segi tujuan, ada yang bertujuan yang mencari keuntungan, maka ukurannya adalah seberapa banyak program tersebut telah memberikan keuntungan, dan jika program tersebut bertujuan sukarela, maka ukuranya adalah seberapa banyak program tersebut bermanfaat bagi orang lain.

b. Dari segi jenis, ada program pendidikan, pemberdayaan, program koperasi, program kemasyarakatan dan sebagainya. Klasifikasi tergantung dari isi program yang bersangkutan.

c. Dari segi jangka waktu, ada program jangka pendek jangka menengah dan jangka panjang.

d. Dari segi keluasan,ada program sempit dan ada program sempit dan ada program luas.

e. Dari segi pelaksanaannya ada program kecil dan program besar.

f. Dari segi sifatnya, ada program penting dan ada program kurang penting.5

3. Tujuan Program

Tujuan program adlah sasaran atau maksud yang harus dicapai dalam proses kegiatan yang direncanakan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto sebagai berikut : tujuan program merupakan suatu yang pokok dan harus dijadikan pusat perhatian oleh evaluator, jika suatu program tidak mempunyai tujuan yang bermanfaat, maka program tersebut tidak perlu dilaksanakan.6

5

Arukunto Suhersimi,”Penilaian Pendidikan”,Yogyakarta :Bina Aksara,1998.hal 2

6

Tujuan program dibagi menjadi dua bagian yaitu: tujuan umum dan khusus (obyektives). Tujuan umum biasanya menunjukan output dari program jangka panjang. Sedangkan tujuan khusus outputnya jangka pendek.7

4. Sistem dan Proses Penerapan Program

Dalam menentukan sasaran program yang dicapai dapat berjalan secara maksimal, diperlukannya sebuah system sebagai alat untuk mencapai tujuan. Adapun berbicara merupakan system,yang banyak digunakan orang untuk menggambarkan totalitas yang terdiri dari dari komponen-komponen yang saling berinteraksi dan bergerak menuju ke suatu tujuan tertentu.Adapun dalam system tersebut terdiri dari sub-sub system yang berdiri sendiri serta saling berkaitan.

Dalam pengertiannya, system merupakan suatu kesatuan dari beberapa subsystem atau elemen untuk mencapai tujuan.Dalam pengertian lainnya komponen-komponen atau subsistem yang saling berinteraksi,dimana masing-masing bagian tersebut dapat bekerja secara sendiri-sendiri (independen) atau bersama-sama serta saling berhubungan membentuk satu kesatuan sehingga tujuan atau sasaran system tersebut dapat tercapai secara keseluruhan.

Keterkaitan dalam pelaksanaannya program sangat berpengaruh pada pentingnya kualitas informasi yang digunakan untuk menyusun berbagai program kegiatan dalam bentuk informasi yang diperoleh, dengan cara menyimpan, memelihara menggunakan informasi tersebut.

7

15

Dalam mengimplementasikan sebuah kegiatan atau program, diperlukan metode yang alat penunjang jalannya sebuah kegiatan atau program diantaranya dikemukakan oleh Schendel dan Hofer, sebagai berikut: pertama, sruktur, termasuk, didalamnyasruktur fisik metode spesiliasi, metode departementalisasi, koordinasi, delegassi wewenang dan organisasi informal. Kedua, proses, meliputi system alokasi sumber daya, system informasi, system evaluasi dan pengukuran, system imbalan, prosedur pelaksanaan dan system promosi. Ketiga, berkenaan prilaku antar pribadi dalam organisasi, gaya kepemimpinan dan penggunaan kekuasaan. Proses pelaksanaan program. Tertuang dalam pelaksanaan satuan kegiatan diantarannya kegiatan pendukung merupakan ujung tompak kegiatan secara keseluruhan. Proses yang perlu ditempuh adalah:

a. Tahap perencanaan, program satuan layanan dan kegiatan pendukung direncanakan secara tertulis dengan memuat sasaran, tujuan, materi,metode, waktu, tempat dan rencana penilaian.

b. Tahap pelaksanaan, program tertulis satuan kegiatan (layanan atau pendukung) dilaksanakan sesuai dengan perencanaannya.

c. Tahap penilaian, hasil kegiatan diukur dengan hasil evaluasi

d. Tahap analisis hasil, hasil penilaian dianalisis untuk mengetahui asspek-aspek yang perrlu, mendapat perhatian lebih lanjut.

e. Tahap tindak lanjut, hasil kegiatan di tindaklanjuti berdasarkan hasil analisis yang dilakukan sebelumnya. Melalui layanan dan kegiatan pendukung yang relevan.8

8

5. Tujuan Program

Tujuan adalah sasaran atau maksud yang harus dicapai dalam proses pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto sebagai berikut : 9

Tujuan program merupakan suatu pokok dan harus dijadikan pusat perhatian oleh evaluator. Jika suatu program memiliki tujuan yang tidak bermanfaat, maka program tersebut perlu dilaksanakan . Tujuan program dibagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum biasanya menunjukkan output dari program jangka panjang, sedangkan tujuan khusus outputnya program jangka pendek.10

B. Pelatihan

1. Pengertian Pelatihan

Pelatihan adalah suatu pembinaan terhadap tenaga kerja disamping adanya upaya lain.pelatihan meruakan proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melaksanakan tugasnya. Pelatiahn juga merupakan upaya untuk mentransfer keterampilan dan pengetahuan kepada para peserta pelatihan sedemikian rupa sehingga para peserta menerima dan melakukan pelatihan pada saat melaksanakan pekerjaan.11

9

Arikunto Suharsimi,”Penilaian Pendidikan”Yogyakarta:Bina Aksara,1998 hal.35

10

Arikunto, Suharsimi “Penilaian Pendidikan”, Yogyakarta: Bina Aksara 1998 hal.45

11

Abdurahmat Fathoni,Organisasi dan Manajeman Sumber Daya Manusia, Jakarta : Rineka Cipta 2006, Cet ke 1 h.147

17

Pelatihan juga akan berhasil jika identifikasi kebuthab pelatihan dilakukan dengan benar. Pada dasarnya kebutuhan pelatihan itu adalah untuk memnuhi kekurangan pengetahuan, meningkatkan keterampilan atau sikap dengan masing-masing kadar kemampuannya. Yang dimaksud dengan pelatihan ialah “ Upaya mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia.12

Penggunaan istilah pelatihan (training) dikemukakan para ahli seperti D Ale Yorder yang dikutip oleh Mangkunegara, menggunakan istilah pelatihan untuk pegawai pelaksanaan dan pengawas, sedangkan Wekley dan Yukl lebih memperjelas mengenai penggunaan istilah pelatihan. Mereka berpendapat bahwa : “ Pelatihan merupakan istilah-istilah yang berhubungan dengan usaha-usaha bencana yang diselenggrakan untuk mencapai penguasaan skill, pengetahuan dan sikap-sikaop pegawai atau anggotya organisasi.13

Pelatihan merupakan wahana untuk membangun sumber daya manusia era globalisasi yang penuh dengan tantangan. Karena itu, kegiatan pelatihan tidak dapat diabaikan begitu saja terutama dalam memasuki era persaingan yang makin ketat, tajam, berat pada abad ini. Berkaitan dengan hal tersebut pelatihan merupakan salah satu cara untuk memberdayakan masyarakat.

12

Soekidjo Notatmojo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta : PT.Rineka Cipta, 2004, h.25

13

AA.Anwar Prabu Mangku Negara, Manajeman Sumber Daya Manusia Perusahaan

Menurut Oemar Hamalik, meliat dari segi operasional pelatihan diartikan sebagai suatu proses yang meliputi serangkaian tindakan (upaya)yang dilaksanakan secara sengaja dalam bentuk kepribadian kepada tenaga kerja oleh tenaga profesional kepelatihannya dalam satuan waktu yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerja peserta dalam bidang pekerjaan tertentu guna meningkatkan efektifitas dan produktifitas dalam suatu organisasi. 14

Gomes mendefinisikan pelatihan sebagai berikut: “setiap usaha untuk memperbaiki performasi pekerja ada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya, atau suatu pelatihan kerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya.

Pelatihan juga di definisikan sebagai kegiatan dari suatu proses pendidikan yang tujuannya untuk meningkatkan kemamouan dan keterampilan khusus seseorang atau kelompok.

Pelatihan juga dinyatakan sebagai proses belajar atau proses latihan yang memiliki tujuan yang jelas dan menggunakan beragam cara menyampaikan serta melibatkan keaktifan peserta. Pencapaian tujuan harus mengenai tiga aspek diantaranya adalah aspek perasaan, aspek tingkah laku, dan aspek pikiran.

14

Oemar Hamalik, Pengembangan Sumber Daya Manusia Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan Pendekatan Terpadu. (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2005) hal 10

19

2. Tujuan pelatihan

Tujuan dari pelatihan adalah suatu pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan dan attitude yang diharapkan dapat dicapai atau dikuasai oleh peserta pelatihan ketika pelatihan telah selesai.

Pada saat ini umumnya tujuan pelatihan dibuat dalam standard kompetensi, karena biasanya pelatihan bertujuan untuk pemenuhan suatu kompetensi tertentu. Kadangkala suatu pelatihan disiapkan untuk pemenuhan suatu jenis

Tujuan pelatihan merupakan standard kualifikasi bagi pencapaian kemampuan atau kompetensi dari suatu proses pelatihan dan belajat-mengajar. Umumnya tujuan pelatihan dirumuskan dalam dua jenis; yaitu : Tujuan Umum (Goals) dan Tujuan Khusus (Objectives).

Ketika proses pelatihan selesai atau proses belajar mengajar berakhir, maka sebaiknya dilakukan post test dan evaluasi. Post test dilakukan dengan cara menguji kemampuan atau kompetensi yang diharapkan terhadap peserta pelatihan, sehingga dapat diketahui pencapaian atau perkembangannya akibat proses belajar-mengajar. Sedangkan evaluasi biasanya dilakukan untuk menilai seberapa jauh kesuaian anatara pelaksanaan proses pelatihan dengan rencana yang telah ditetapkan.

3. Rancangan pelatihan

Rancangan pelatihan (Training Design) adalah rancangan yang akan dijadikan pegangan, pedoman, atau acuan pada waktu melaksanakan

training, penyusunan rancangan pelatihan harus memperlihatkan pihak-pihak yang akan terlibat dalam pelatihan (peserta, penyelenggara, dan trainer) tujuan yang akan dicapai, materi yang akan diolah metode dan peralatan yang hendak dipakai, tempat pelaksanaan, jadwal kegiatan untuk setiap sesi ataupun secara keseluruhan.15

Berdasarkan penjabaran yang penulis paparkan, maka penulis menyimpulkan bahwa program pelatihan merupakan rencana kegiatan pelatihan yang dibuat oleh seseorang maupun kelompok, untuk menghasilkan sebuah tujuan program pelatihan tersebut.

C. Terapi dan Ruang Lingkupnya 1. Pengertian terapi dan terpais

Dalam kamus lengkap psikologi, terapi atau dalam bahasa Inggris diesbut dengan therapy adalah satu perlakuan atau pengobatan yang ditujukan kepada penyembuhan satu kondisi patologis. Sedangkan seseorang yang dilatih dalam pengobatan penyakit dan gangguan kejiwaan disebut dengan terapis atau dalam bahasa Inggris disebut therapist.16

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan penyakit.17 Adapun dalam bahasa Arab istilah terapi dapat

15

Agus M, Hardjana, Training SDM yang Efektif, (Yogyakarta : Kanisius, 2001) Cet, ke 1, hal, 35

16

JP. Chaplin, penerjemah Kartini Kartono, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta; Rajawali Press, 1981) cet. 1 h. 198

17

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Pusat Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi. h. 407

21

disamakan dengan kata-kata isytisyfa yang berasal dari kata “ syafa’-yasyfi’-syifa’” yang berarti menyembuhkan.18

MA. Subandi mengemukakan bahwa terapi merupakan proses formal interaksi antara dua pihak atau lebih yang satu adalah profesional penolong (terapis) dan yang lain adalah petolong (orang yang ditolong), dengan catatan bahwa interaksi itu menuju pada perubahan rasa, piker, perilaku dan kebiasaan yang ditimbulkan dengan adanya tindakan profesional terapis dengan latar ilmu perilaku dan teknik-teknik usaha yang dikembangkannya.19

2. Model-model terapi

Dr. Muhammad Solihin did dalam bukunya Terapi Sufistik menyebutkan ada enam model terapi yaitu:20

a. Terapi Client Centered. Terapi jenis ini menaruh kepercayaan dan meminta tanggung jawab yang lebih besar kepada klien dalam menanggulangi masalah-masalahnya.

b. Terapi Realitas. Yaitu terapi jangka pendek yang berfokus pada saat sekarang, menekankan kekuatan pribadi dan pada dasarnya merupakan jalan agar para klien dapat belajar bertingkah laku yang lebih realistic sehingga dapat mencapai keberhasilan.

c. Terapi Relaksasi. Terapi ini diberikan kepada orang yang mudah disugesti. Terapi model ini pada umunya diulakukan oleh seorang

18

Ahmad Warsono Munawwir, kamus Al-Munawwir, Arab-Indonesia, (Yogyakarta, Pondok Peantren Al-Munawwir,1984)h. 782

19

MA. Subandi, Psikoterapi, (Yogyakarta;Pustaka Pelajar, 2001)cet ke-1, h. 9

20

terapis yang ahli dibidang hipnotis. Dengan terapi sugesti ini klien diarahkan untuk dapat melakukan rileksasi.

d. Terapi perilaku. Yaitu terapi yang bermaksud agar klien berubah baik sikap maupun perilakunya terhadap objek atau situasi yang menakutkan secara bertahap, klien dilatih dan dibimbing menghadapi objek atau situasi yang menimbulkan panic atau phobic. Pelatihan ini dilakukan berulang-ulang sampai pada akhirnya klien dapat melakukan tanpa dapat bantuan dari orang lain. Sudah tentu latihan perilaku ini didahului dengan pemberian psioterapi untuk memperkuat kepercayaan diri.

e. Terapi Keagamaan. Terapi keagamaan adalah terapi yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan keagamaan seperti menggunakan ayat-ayat suci Al-Quran, hadist Nabi dan pemikiran-pemikiran keislaman yang secara implicit mengundang terapi. Adapula yang menggunakan dzikir dan doa-doa tertentu yang pada intinya memohon kepada Allah agar diberi ketenangan hati. Dengan terapi jenis ini diharapkan seseorang dapat terbebas dari rasa cemas, tegang, depresi dan lain-lain. Sebagaimana dijelaskan pada firman Allah SWT pada QS.Asy-Syu’araa, 26:80











Artinya: Dan apabila Aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku, (QS. Asy-syuraa:80)

23

f. Terapi Holistik. Terapi holistic adalah terapi yang mencakup keseluruhan aspek manusia, dalam artian bahwa terapi dilakukan tidak hanya melalui obat-obatan semata, atau hanya ditujukan kepada aspek-aspek kejiwaan akan tetapi mencakup aspek-aspek-aspek-aspek lain seperti organobiology, psikologi, psikososial, psikoritual dan sebagainya. Sehingga klien dapat diobati secara menyeluruh. Pada intinya terapi holistic ini adalah bentuk terapi yang memandang keseluruhan aspek pada klien.

D. Pengobatan Alternatif

1. Pengertian Pengobatan Alternatif

Pengobatan alternative bukan barang langka lagi pada masa sekarang. Kita tidak hanya bisa menjumpai metode-metode pengobatan ini di desa-desa terpencil. Kini pengobatan alternative banyak ditemukan di berbagai kota besar dan juga kota kecil lainnya di Indonesia.

Pengobatan alternatif bermunculan pada saat masyarakat mulai memberikan perhatian yang lebih terhadap alterantif pengobatan yang biasanya hanya mengandalkan pihak-pihak rumah sakit (medis)dengan pengobatan modern. Bisa dikatakan juga, pengobatan alternatif merupakan pelengkap pengobatan kedokteran yang bersifat holistik.

Pengobatan alternative bermunculan pada saat masyarakat mulai memberikan perhatian yang lebih terhadap alternative pengobatan yang biasanya hanya mengandalkan pihak-pihak Rumah sakit (medis) dengan

pengobatan modern. Bisa dikatakan pengobatan alternative merupakan perlengkapan pengobatan kedokteran yang bersifat holistic. Sebagian kalangan menilai metode pengobatan alternative menyesatkan, ini disebabkan karena beberapa metodenya ada yang memiliki kesamaan.

Pengobatan alternative merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan modern (pelayanan kedokteran standar) dan dipergunakan sebagai alternative atau pelengkap pengobatan kedokteran modern tersebut.

Pengobatan alternative merupakan metode pengobatan yang menggunakan pendekatan diluar medis. Dalam pengobatan alternative, segala memungkinkan dan pengobatan yang dimasukkan kedalam tubuh seperti penggunaan obat-obat alami, jamu-jamuan, rempah, herbal alami hingga pengobatan dari luar tubuh seperti menggunakan media dan alat tertentu. 21

2. Jenis-Jenis pengobatan alternatif

Pengobatan alternatif dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: a. Terapi pikiran dan spiritual, seperti:

- Dreamwork - Hipnoterapy - Psikoterapi - Psikoanalitik 21

Gagas Ulung, Tempat pengobatan Alternatif Paling Dicari, PT. Gramedia

25 - Terapi Cahaya - Terapi Humanistis - Terapi Keluarga - Terapi Kelompok - Terapi Kognitif - Terapi Musik - Terapi - Suara - Terapi Seni - Terapi Warna - Visualisasi

b. Terapi fisik antara lain: - Aromaterapi - Hidroterapi - Osteopati

- Teknik Relaksasi - Zero Balancing

c. Terapi energi di antaranya:

- Akupunktur, cara pengobatan dengan perangsangan titik akupunktur di permukaan tubuh.

- Akupresur, cara pengobatan dengan penekanan.

- Meditasi, metode penguasaan pikiran untuk mencapai harmoni dalam hidup. Manfaatnya: Mengontrol tekanan darah jadi stabil,

meningkatkan asupan oksigen, menstabilkan detak jantung dan pernapasan, mengatasi stres.

- Qigong Refleksiologi, perangsangan tenaga penyembuhan tubuh melalui pijatan kaki. Manfaatnya: mengobati sistem urin, reumatik, metabolisme dan sistem pencernaan, sistem syaraf dan sistem tulang, sistem kekebalan tubuh, sistem reproduksi, sistem pernapasan, sistem panca indera, dan lain-lain.

- Terapi Polaritas, terapi yang berhubungan kuat dengan sistem kesehatan tubuh lainnya yang meliputi: diet, peregangan, sentuhan dan manipulasi, serta sikap mental.

- T'ai chi, pengobatan melalui gerakan bela diri untuk memperoleh keseimbangan tubuh dan jiwa manusia.

- Prana, pengobatan dengan tenaga prana (sumber tenaga prana: matahari, udara, dan bumi). Prinsipnya membersihkan dan memberikan energi pada tubuh bioplasmik dengan energi prana. - Yoga, sistem kesehatan yang holistik dari India. Melalui yoga,

manusia akan lebih baik mengenali dirinya, mengenali jiwanya, dan mengenali pikirannya.22

22

27

BAB III

GAMBARAN UMUM BENGKEL ROHANI CIPUTAT

A. Sejarah dan Profil Bengkel Rohani

Kata “bengkel” berarti setiap pasien yang datang ke bengkel rohani pelu disehatkan. Mungkin ada “onderdil”-nya yang sudah mulai usang atau keropos, dan lain-lain. Pada prinsipnya semua manusia rawan terkena penyakit, dan apabila seseorang sudah terkena penyakit harus segera disehatkan kembali melalui satu institusi penyembuhasn dan pemeliharaan kesehatan bernama Bengkel Rohani.

Kata “Rohani” berarti dalam proses penyembuhan dan penyehatan, maka rohani atau jiwanya yang terlebih dahulu harus ditanda tangani karena di antara bagian-bagian tubuh lainnya ia paling berpengaruh. Mulai dari keyakinan dan tawakal orang yang bersangkutan kepada Allah Swt, saat menghadapi penyakit, penyadaran kebiasaan hidup sehat yang Islami, keyakinan memilih cara pengobatan yang syar’I (sesuai syariat Islam), dan sebagainya. Setelah itu, barulah ditangani kesehatan fisik atau medisnya untuk kesembuhan atau kesehatan.1

Bengkel Rohani yang beralamat di Jl. Ir. H. Juanda No. 2A, Ciputat Tanggerang ini didirikan oleh Ustadz Abu Aqila pada 6 Juli melayani pengobatan dan terapi kesehatan yang menyeluruh secara Islami, baik jasmani maupun rohani. Dan sampai saat ini Bengkel Rohani sudah mempunyai

1

beberapa tempat praktik yaitu Ciputat, Bekasi, Serang, Cideng, Buaran, Koja, Pekayon, Bogor, Depok, Cikarang dan tanggerang.

Sejarah dengan kejadian yang dialami oleh Ustadz Abu Aqila pada tahun 1997 dimana istrinya mengalami sakit aneh yang tidak kunjung sembuh, padahal berbagai metode pengobatan telah dicoba untuk menyembuhkan, namun tak satupun berhasil mendeteksi penyakit istrinya.

Ditengah deraan rasa putus asa Ustadz Abu Aqila disarankan dan diantarkan olah Abu Syihan (kakak) untuk menemui KH. Kasaman Sudja’I seorang tabib yang khusus menangani penyakit dengan metode Islam. Pertemuan tersebut membawa titik terang tentang penyakit istrinya yang akhirnya diketahui terkena sihir dari golongan jin.

Berangkat dari peristiwa tersebut Ustadz Abu Aqila tertarik mendalami terapi ruqyah. Ia tidak ingin kasus serupa menimpa orang lain. Ia rela meninggalkan posisinya sebagai Direktur di Perusahaan Kontraktor dan Interior. Ia sempat mempelajari terapi ruqyah selama 4 (empat) bulan sebelum KH. Kasaman Sudja’I wafat.

Diawal kiprahnya banyak masyarakat yang mencemoohnya, menurut mereka menjadi praktisi ruqyah sama halnya dengan dukun atau paranormal, tapi beliau tidak bergeming dengan tanggapan tersebut. Setelah itu beliau juga belajar tentang ilmu bekam serta ilmu system aliran darah dan syaraf dalam tubuh manusia dari berbagai sumber. Menurutnya orang terkena gangguan jin akan mengalami penegangan pada pembuluh darah.

29

Begitu banyak pasien yang datang kerumah beliau di Perumnas III, Jl. Ternate Raya bahkan beliau banyak menerima panggilan untuk mengobati pasien di luar kota yang akhirnya membuat beliau kewalahan untuk mengatasinya. Untuk menanggulangi masalah tersebut dan dapat melayani masyarakat dengan baik maka pada tahun 2002 ia mendirikan Klinik Syariah Bengkel Rohani dengan merekrut tenaga peruqyah dan pembekaman yang detraining terlebih dahulu.

Seiring berjalannya waktu sampai tahun 2010 ini kini Bengkel Rohani sudah berkembang lebih baik dan sudah memiliki 11 (sebelas) cabang. Target pada tahun 2010 ini akan mendirikan cabang menjadi 20 (dua puluh) cabang yang tersebar di JABODETABEK. Dengan kondisi tersebut Ustadz Abu Aqila bisa disebut sebagai pelopor pengobatan Thibun Nabawi (pengobatan Islam) di Indonesia.

Bengkel Rohani yang didirikan oleh Ustadz Abu Aqila pada tahun 2002 adalah merupakan pengobatan thibun nabawi yang pertama berdiri di Indonesia. Sudah banyak membantu pasien-pasien yang sedang sakit dengan metode konsultasi, ruqyah, refleksi, akupuntur dan bekam serta obat-obatan herbal yang sangat bermanfaat sekali bagi pasien tersebut.

Dokumen terkait