• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini merupakan penutup, dimana pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan yang akan diringkas dari hasil penelitian pembahasan yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa saran.

28 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Perbankan

Sejak 1960-an, pengharaman riba (bunga atau rente) telah menjadi salah satu isu sentral yang paling banyak didiskusikan dikalangan cendikiawan muslim. Hal ini tentunya snagat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik masyarakat umum, gerakan reformis dan islamisasi ilmu pengetahuan dari tokoh muslim itu sendiri. Besarnya gerakan terhadap diskusi bunga yang dianggap sebagai riba menjadi sebuah gerakan besar untuk menciptakan sebuah model lembaga keuangn yang tentunya sesuai dengan prinsip islam.

Hal ini merupakan landasan sekaligus alas an mendasar untuk segera dibentuknya bank islam.

Di beberapa negara untuk menyebut bank yang beroperasi dengan prinsip syariah dikatakan sebagai bank islam (Islamic banking). Istilah itu digunakan misalnya untuk bank islam intetrnasional, Islamic Development Bank.

Islatilah islam dan syariah secara akademik berbeda, namun pengertian teknis secara khusus dalam hal perbankan keduanya sama. Akan tetapi, kedua istilah ini memberi peluang pada interprestasi yang berbeda dan mengurangi konsistensi dan keseinambungan bank islam seluruh dunia.14

Bank merupakan badan usaha yang meghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan dan bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf

14 Sumar’in, Konsep Kelembagaan Bank Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), Hlm 49

29 hidup rakyat. Menurut ensiklopedia islam, bank islam adalah lembaga keuanngn yang usahnya pokoknya memberikan krediit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syaiah islam.

Menurut UU No. 21 Tahun 2008 oasal 1 ayat (1) perbankan syraiah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Dalam pasal 1 ayat (7) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah disebut bahwa bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Dalam pasal 1 ayat (12), menyebutkan bahwa prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarakn oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.15

Prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan syariah menurut UU No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan, yaitu aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lain untuk menyimpan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lalinnya ayng dinyataka sesuai syariah, antara lain berdasrkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarakan prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jua-beli barang dengan memperoleh keuntungan

15Ibid., Hlm 50

30 (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan peindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain.

Berdasarkan beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa bank syariah adalah yang menjalankan operasionalnya berdasarkan prinsip-prinsip hukum islam, yang berpedoman pada fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional)16

Bank syariah dan konvensional sangat berbeda dari segi prinsip maupun produk-produk yang disediakannya.Bank syariah menganut prinsip bagi hasil dengan nasabahnya. Dari segi pembagian jenis produk-produk bank syariah sama seperti bank konvensional terbagi menjadi tiga jenis, yaitu penghimpun dana, penyaluran dana dan jasa perbankan.

1. Bentuk Usaha Yang Dijalankan Bank Syariah

Adapun bentuk usaha yang dijalankan oleh bank syariah itu sendiri meliputi:

a. Melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan investasi, antara lain:

b. Giro berdasarkan prinsip wadi’ah

c. Tabungan berdasarkan prinsip wadi;ah dan/atau mudhahrabah d. Deposito berjangka berdasarkan prinsipmudharabah

2. Prinsip Penyaluran Dana Pdan Bank Syariah a. Prinsip jual beli berdasarkan akad, antara lain:

1) Murabahah

16 Mardani, Hukum Bisnis Syraiah, (Jakarta: Kencana, 2014), Hlm 149

31 2) Istisna’

3) Salam

b. Prinsip bagi hasil berdasarkan akad, antara lain:

1) Mudharabah 2) Musyarakah

c. Prinsip sewa menyewa berdasarkan akad, antatra lain:

1) Ijarah

2) Ijarah muntahiyah bittamlik d. Prinsip pinjam meminam berdasarkan akad qard

3. Melakukan pemberian jasa pelayanan perbankan berdasarkan akad antara lain:

a. Wakalah b. Hawalah c. Kafalah d. Rahn17 B. Konsep Bagi Hasil

1. Pengertian Bagi Hasil

Bagi hasil adalah bentuk return (perolehan) kembalinya dari kontrak investasi, dari waktu ke waktu, tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu tergantung pada hasil usaha yang benar-benar terjadi.

Bagi hasil adalah sistem pembagian hasil usaha dimana pemilik modal bekerjasama dengan pengelola danauntuk melakukan kegiatan usaha.

17 Sumar’in. op.cit., Hlm 68

32 Apabila kegiatan usaha menghasilkan keuntungan maka dibagi bersama dan ketika mengalami kerugian ditanggung bersama pula.Sistem bagi hasil menjamin adanya keadilan dan tidak ada pihak yang tereksploitasi.18

Bagi hasil adalah suatu sistem pengolahan dana dalam perekonomian islam yakni pembagian hasil usaha antara pemilik modal dan pengelola.

Secara definiti, bagi hasil merupakan distribusi beberapa bagian laba kepada para pegawai dari suatu perusahaan, baik dalam bentuk bonus uang tunai tahunan yang didasarkan pada laba perolehan setiap tahun maupun dalam bentuk pembiayaan mingguan ataupun bulanan.19

2. Mekanisme Perhitungan Bagi Hasil

Dalam praktiknya, mekanisme perhitungan bagi hasil dapat didasarkan pada dua cara, yakni sebagai berikut:

1. Profit Sharing (Bagi Laba)

Perhitungan bagi laba menurut profit sharing adalah perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada laba dari pengelola dana, yaitu pendapatan usaha dikurangi dengan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan usaha tersebut.

2. Revenue Sharing (Bagi Pendapatan)

Perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada pendapatan dari pengelola dana, yaitu pendapatan usaha sebelum dikurangi degan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan usaha tersebut.

18 Atik Suharwati, NALISIS PENGARUH BAGI HASIL PELAYANAN DAN PROMOSI TERHADAP SIMPANAN DEPOSITO MUDHARABAH Studi Pada BMT Taruna Sejahtera Cabang Tuntang (Artikel Ilmiah : Prodi S1 Perbankan Syariah IAIN Salatiga, 2016), Hal 18

19Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, 2011), Hlm27

33 Aplikasi kedua dasar bagi hasil ini mempunyai kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Pada profit sharing, semua pihak yang terlibat dalam akad akan mendapatkan bagi hasil sesuai dengan laba yang diperoleh atau tidak mendapatkan laba, apabila pengelola dana mengalami kerugian yang normal.

Meskipun dalam profit sharing keadilan dapat diwujudkan, mungkin pemilik dana (investor) tidak seratus persen setuju dengan mekanisme tersebut, manakala pengelola dana menderita kerugian normal sehinga pemilik dana tidak akan mendapatkan bagi hasil, sedangkan dalam bank konvensional deposan akan selalu mendapatkan bunga walaupun bank mengalami kerugian.

Kalau di lihat dari aspek ekonomi saja maka profit sharing mempunyai kelemahan dibandingkan dengan prinsip bunga konvensional yang notabene diharamkan. Untuk mengurangi resiko ditolaknya calon investor yang akan menginvestasikan danaya maka pengelola dapat memberikan porposi bagi hasil lebih besar dibandingkan dengan porsi bagi hasil menurut revenue sharing.

Untuk mengatasi ketidak setujuan prinsip profit sharing karena kerugian bagi pemilik dana maka prinsip revenue sharing dapat diterapkan, yakni bagi hasil yang didistribusikan kepada pemilik dana didasarkan pada revenue pengelola tanpa dikurangi dengan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan. Dalam revenue sharing, kedua belah pihak akan selalu mendapatkan bagi hasil, karena bagi hasil dihitung dari

34 pendapatan pengelola dana. Sepanjang pengelola memperoleh revenue maka investor akan mendapatkan distribusi bagi hasil.

Ditinjau dari sisi pemilik dana maka prinsip ini menguntungkan, karena selama pengelola mendapatkan revenue maka investor akan mendapatkan bagi hasilnya. Akan tetapi, bagi pengelola hal ini dapat memberikan risiko bahwa suatu periode tertentu pengelola akan mengalami kerugian, karena bagi hasil yang diterimanya lebih kecil dari beban usaha untuk mendapatkan revenue tersebut.Di sinilah ketidak adilan dapat dirasakan oleh pengelola dana karena risiko kerugian sementara pemilik dana terbebas dari risiko kerugian.

Jalan keluar yang dapat dijalankan adalah pengelola dana harus menerapkan prinsip prudent atau kehati-hatian, sehingga dengan revenue sharing risiko kerugian dapat ditekan sekecil mungkin agar investor tertarik menginvestasikan dananya pada usaha yang dikelola Bank Syariah.20

3. Produk Bagi hasil Dalam Bank Syariah

Dalam prinsip bagi hasil terdapat empat macam produk, yaitu : 1. Musyarakah

Musyarakah adalah salah satu produk bank syariah yang mana terdapat dua pihak atau lebih yang bekerja sama untuk mneingkatkan asset yang dimiliki bersama di mana seluruh pihak memadukan sumber daya yang mereka miliki baik yang berwujud

20 Slamet Wiyono, Cara Mudah Memahami Akuntansi Perbankan Syariah Berdasarkan PSAK dan PAPSI, (Jakarta: Grasindo, 2006), hlm. 57-58.

35 maupun yang tidak berwujud.dalam hal ini seluruh pihak yang bekerja sama memberikan kontribusi yang dimiliki baik itu dana, barang, skill, ataupun aset-aset lainnya. Yang menjadi ketentuan dalam musyarakah adalah pemilik modal berhak dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan pelaksana proyek.

2. Mudharabah

Mudharabah adalah kerjasama dua orang atau lebih di mana pemilik modal memberikan mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola dengan perjanjian pembagian keuntungan.

Perbedaan yang mendasar antara musyarakah dan mudharabah adalah kontribusi atas manajemen dan keuanganpada musyarakah diberikan dan dimiliki dua orang atau lebih, sedangkan pada mudharabah modal hanya dimiliki satu pihak saja21

Ada dua macam mudharabah, yaitu tidak terikat (mutlaqah) dan terikat (muqayyadah) tidak terbatas berarti bahwa sang pemilik modal tidak menetapkan persyaratan apapun seperti tempat, waktu dan metode dari kerja yang dilakukan. Lebih dari itu, orang yang mengelola modal dapat mencampurkan modal dengan hartanya sendiri selama kebiasaan setempat mengijinkannya.Sementara sebaliknya, jenis mudharabah yang kedua atau yang terbatas adalah ketika pengelola dibatasi oleh sejumlah persyaratan tertentu yang telah disetujui.Kontrak jenis ini memiliki tingkat fleksibilitas yang

21 Muhamad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015) Hlm 30

36 tinggi dalam hal terdapat banyak penyedia modal ataupun terdapat banyak pengelola.Hal ini yang membuat kontrak tersebut menjadi mudah diterapkan dalam berbagai perusahaan sekarang ini. Dengan demikian, jelas dapat dengan mudah dimengerti mengapa banyak pakar yang mendorong untuk melakukan kontrak sejenis ini sebagai produk unggulan/utama dalamperbanakn islam.22

Dalam prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai atau deposan bertindak sebagai pemilik modal sedangkan bank bertindak sebagai pemilik modal sedangkan bank bertindak sebagai pemilik modal sedangkan bank bertindak sebagai pengelola.Dana yang tersimpan kemudian oleh bank digunakan untuk melakukan pembiayaan, dalam hal ini apabila bank menggunkannya untuk pembiayaan mudharabah, maka bank bertangggung jawab atas kerugian yang mugkin terjadi.23

3. Al- Muzara’ah

Perngertian Al-muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Dalam dunia perbankan kasus ini di aplikasikan ntuk pembiayan bidang plantation atas dasar bagi hasil panen. Dapat disimpulakn bahwa pemilik lahan dalam hal ini menyediakan lahan, benih, dan pupuk.

22 Agus Triyanta, Hukum Perbankn Syariah, (Malang: Setara Press, 2016) Hlm 52

23 Muhamad, op.cit., Hlm 31

37 Sedangkan penggarap menyediakan keahlian, tenaga dan waktu.

Keuntungan diperolah dari hasil panen dengan imbalan yang telah disepakati.

4. Al-Musaqah

Pengertian al-musaqah merupakan bagian dari al-muzara’ah yaitu penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan dengan menggunakan dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap dperoleh dari persentase hasil panen pertanian. Jadi tetap dalam konteks adalah kerjasama pengolahan pertanian anatara pemilik lahan dan penggarap.24

C. Pengertian Deposito dan Deposito Syariah

1. Pengertian Deposito

Deposito (Time Deposit) merupakan salah satu tempat bagi nasabah untuk melakukan investasi dalam bentuk surat-surat berharga.Pemilik deposito disebut deposan. Kepada setiap deposan akan diberikan imbalan bunga atsa depositonya. Kepada setiap deposan akan diberikan imbalan bunga atas depositonya. Bagi bank, bunga yang diberikan kepada para deposan merupakan bunga yang tertinggi, juka dibandingkan dengan simpanan giro atau tabungan, sehingga deposito oleh sebagaian bank dianggap sebagai dana mahal.

Keuntungan bagi bank dengan menghimpun dana lewat deposito adalah uang yang tersimpan relative lebih lama, mengingat deposito

24 Kasmir, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Hlm 250

38 memiliki jangka waktu yang relatif panjang dan frekuensi penarikan juga jarang. Dengan demikian, bak dapat dengan leluasa untuk memnggunakan kembali dana tersebut untuk keperluan penyaluran kredit.

Pengertian deposito menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 adalah simpanan yang penrikannya hanhya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpanan dengan bank.Penarikan hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu maksudnya adalah jika nasabah deposan menyimpan uangnya untuk jangka waktu 3 bulan, maka uang tersebut baru dapat dicairkan setelah jangka waktu tersebut dan sering disebut tanggal jatuh tempo.

Sarana atau alat untuk menarik uang yang disimpan di deposito sangat tergantung dari jenis depositonya.Artinya setiap jenis deposito mengandung beberapa perbedaan sehingga diperlukan sarana yang berbeda pula.Sebagai contoh untuk deposito berjangka, penarikannya menggunakan bilyet deposito, sedangkan untuk sertifikat deposito menggunakan sertifikat deposito.Masing-masing deposito memiliki keunggulan tersendiri sehingga deposan dapat memilih sesuai selera mereka.25

2. Jenis-Jenis Deposito

Saat ini jenis-jenis deposito yang ditawarkan oleh bank dan ada di masyarakat adalah :

a. Deposito Berjangka

25 Kasmir, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Hlm 102

39 Deposito berjangka merupkan salah satu bentuk simpanan yang jangka waktunya sudah ditentukan sebelumnya, umumnya 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Nasabah deposan boleh menentukan sendiri jangka waktu deposito, tentunya tergantung dari kepentinga deposan sendiri berapa lama waktu dana tersebut tidak terpakai, dan sebagai pertimbangan lain adalah suku bunga yang menarik.

b. Sertifikat Deposito

Sertifikat deposito sebenarnya sama dengan deposito di atas.

Hanya yang memebedakannya ada 2 hal, yaitu pada deposito pembayaran bunga dilakukan dibelakang (1 bulan kemudian), sedangkan sertifikat deposito pembayaran bunga di depan pada saat penempatan sertifikat deposito. Deposito bersifat atas nama artinya bahwa deposito hanya dapat dicairkan oleh namanya yang tertera pada bilyet deposito, sedangkan sertifakat deposito dasarnya atas unjuk, siapapun dapat menarik dananya.

c. Deposito On Call

Deposito On Call merupakan salah satu bentuk deposito yang sama seperti deposito di atas, tetapi Deposito On Calll ini mempunyai jangka waktu singkat (kurang dari satu bulan). Jenis deposito ini untuk menjembatani (bridging) seseorang atau

40 perusahaan yang mempunyai dana besar, ingin mendapatkan bunga besar tetapi waktu pengendapan kurang dari satu bulan.26 3. Deposito Syariah

Produk deposito karena memang di tujukan sebagai sarana investasi,maka dalam praktik perbankan syariah yang digunakan akad mudharabah. Memalaui akad mudaharabah ini pada awal perjanjian telah ditentukan barapa nisbah bagi hasil bagi pihak nasabah maupun bagi pihak banksyriah sendiri.

Deposito adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah dengan bank. Transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul mall) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.

Ketentuan depostito pada perbankan syariah telah diataur dalam fatwa DSN, sebagai berikut:

Pertama: Deposito ada dua jenis;

a. Deposito yang tidak dibenarkan secara syriah, yaitu deposito yang berdasarkan perhitungan bunga.

b. Deposito yang dibenarkan, yaitu deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah.

26 Maryanto Supriyono, buku pintar perbankan, (Yogyakarta: ANDI, 2011), Hlm 29

41 Kedua:Ketentuan Umum Deposito berdasarkan Mudharabah:

a. Dalam tarnsaksi ini nasabah bertindak sebagai sahibul mal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.

b. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.

c. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan ppiutang.

d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan ditunangkan dalam akad pembukaan rekening.

e. Bank sebagai mudharib mneutup biaya operasional depositi dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

f. Bank tidak diperkenankan untuk mangurangi nisbah keuntungan

nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.27

Fitur dan mekanisme deposito syariah :

a. Bank bertindak sebagai pengelola dana (mudharib) dan nasabah bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal).

27 Mardani, Hukum Bisnis Syraiah, (Jakarta: Kencana, 2014), Hlm 159

42 b. Pengelolaan dana oleh bank dapat dilakukan sesuai

batasan-batasan yang diterapkan oleh pemilik dana (mudharabah muqayyadah) atau dilakukan dengan tanpa batasan-batasan dari pemilik dana (mudharabah mutlaqah).

c. Dalam akad mudharabah muqayyadah harus dinyatakan secara jelas syrat-syarat dan batasn tertentu yang ditentukan oleh nasabah.

d. Pembagian keuntungan dinyatakan dalam bentuk nisbah yang disepakati.

e. Penarikan dana oleh nasabah hanya dapat dilakukan sesuai waktu yang disepakati

f. Bank dapat membebankan kepada nasabah biaya administrasi berupa biaya-biaya yang terkait langsung dengan biaya pengelolaan rekeninng antara lain biaya materai, cetak laporan transaksi dan saldo rekening, pembukaan dan penutupan rekening.

g. Bank tidak diperbolehkan magurangi bagian keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah yang bersangkutan.

Tujuan atau Manfaat Deposito Syariah

a. Bagi bank sumber pendnaan bank baik dalam rupiah maupun valuta asing dengan jangka waktu tertentu yang lebih lama dan fluktuasi dana yang relative rendah.

43 b. Bagi nasabah alternatif investasi yang memebrikan

keuntungan dalam bentuk bagi hasil.28 C. Teori Promosi

1. Pengertian Promosi

Promosi merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar mereka dapat menjadi kenal akan produk yang ditawarkan dan menjadi senang lalu membeli produk tersebut. Pada bagian promosi peran komunikasi menjadi penting karena komunikasi merupakan pertukaran informasi antar pembeli dan penjual, pertukaran informasi sangat penting bagi peningkatan hubungan pemasaran, hal ini karena informasi akan memberikan kesadaran dan pengertian diantara pembeli dan penjual, uang pada akhirnya akan memberikan kepuasan dan hubungan saling menguntungkan29

Maka dari pengertian diatas dapat disimpulkan promosi pada bank merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bank untuk mempromosikan atau memasarkan produk yang mereka miliki sehingga akan menimbulkan sebuah tindakan dari nasabah yaitu berupa ketertarikan nasabah untuk menggunakan produk bank tersebut oleh karena itu komunikasi yang baik sangat dibutuhkan dalam melakukan promosi.

Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk

28 Muhamad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: Rjawali Pers, 2014) Hlm 38

29Atanasius Hardian Permana Yogiarto, Pengaruh Bagi Hasil, Promosi, Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Keputusan Penggunaan Jasa Perbankan Syariah Tabungan Mudharabah (Studi Kasus Pada Nasabah Bank Muamalat Pekalongan, (Artikel Ilmiah:

Prodi Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta, 2015), Hlm 26

44 jasa.Kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara perusahaan dan konsumen, melainkan juga sebagai alat yang memengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan .keinginan dan kebutuhannya.30

2. Strategi Promosi

Strategi promosi hendaknya mencakup siapa, apa, kapan dan dimana.

Penentuan sasaran promosi ini sangat penting pertama karena tidak semua usaha dapat memenuhi semua keinginan orang dan tidak semua perusahaan memiliki dana tak terbatas untuk keperluan promosi, maka itu promosi harus diarahkan ke pasar sasaran.

1. Siapa

Semakin baik melakukan identifikasi siapa di dalam pasar sasaran, majalah dan surat kabar apa yang mereka baca, saluran televisi mana yang mereka tonton, dan stasiun radio mana yang mereka dan mempengaruhi perilaku mereka.

2. Apa

Menyangkut pesan yang harus dikomunikasikan kepada pasar sasaran. Strategi promosi itu harus didasari pada:

a. Siapa yang ingin anda pengaruhi

b. Apakah yang anda tawarkan lebih baik, dari pesaing usaha anda

30 ibid., Hlm 178

45 c. Apa yang perlu dikomunikasikan agar menjadikan mereka

sebagai pelanggan perusahaan.

Jika semua orang menawarkan bistik, maka perusahaan anda harus menawarkan bistik yang sedang mengepul. Perusahaan harus tahu apa yang dihargai pasar sasarn. Startegi itu hendaknya selalu selaras.

Perusahaan ingin agar orang mempelajari usahanya, apa yang ditawarkan, dimana lokasinya, dan kapan dibukanya. Iklan pembukaan usaha hendaknya diikuti iklan pengingat.Perusahaan anda perlu berada dalam benak pasar sasaran dan membuat mereka sadar bahwa perusahaan anda menambah sebuah merek baru, menawarkan jasa baru, atau mengadakan obral khusus.

3. Kapan

Promosi usaha dapat dibagi kedalam empat kegiatan yaitu:

a. Promosi Pra Pembukaan

Sangat penting untuk menimbulkan minat pelangggan sebelum usaha tersebut membuka pintunya.Tujuannya agar pasar sasaran menjadi penasaran terhadap pembukaan usaha baru itu. Cotohnya iklan yang menggoda yaitu iklan “citra handbody lotion” pada awal launching-nya tahun 1986, memasang iklan di Harian Kompas dengan tampilan sebagian-sebagian dari keseluruhan kemasannya, sampai tiga bulan baru ditampilkan secara utuh, banyak orang bertanya-tanya dengan

46 dengan penasaran apa maksud iklan itu, bagaimana tidak menggoda karena di pasang pada lembar pertama.

b. Promosi Pembukaan

Ini sangat penting karena semakin cepat produk/jasa dapat diterima pasar akan semakin besar kesanggupan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial.

c. Promosi Terus Menerus

Pelanggan yang sudah ada perlu terus diingatkan terus akan perkembangan usaha sekarang. Tujuannya agar pelanggan potensial dapat mengetahui usaha berikut selubeluknya.Promosi yang terus menerus ini diperlukan supaya usaha yang dibuka ini tetap berada didalam benak

Pelanggan yang sudah ada perlu terus diingatkan terus akan perkembangan usaha sekarang. Tujuannya agar pelanggan potensial dapat mengetahui usaha berikut selubeluknya.Promosi yang terus menerus ini diperlukan supaya usaha yang dibuka ini tetap berada didalam benak

Dokumen terkait