• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

C. Penutup

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt. atas berkat taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, nabi akhir zaman yang telah membimbing umatnya kepada jalan kebenaran. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Akhirnya atas segala kekurangan yang ada pada penulis sangat berlapang dada untuk menerima kritik dan saran. Penulis juga menghimbau kepada para pembaca, untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 1997.

Amin, Samsul Munir. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah. 2009. Cet. 1. Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Surabaya: Kencana. 2008.

Bastoni, Hepi Andi. 365 Soal Jawab Sirah Nabawiyah. Bogor: Pustaka al-Bustan. 2014

Djamarah, Syaiful dan Zain Aswan. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2002.

http://anitadeka.wordpress.com/2013/07/15/hubungan-aqidah-ibadah-muamalah-dan-ahklak/ Diakses pada 24 April 2014 pukul 6:56 WIB

http://makalahzaki.blogspot.com/2011/07 /kebutuhan-manusia-terhadap-agama.html. Diakses pada Sabtu, 31 Mei 2014 pukul 10.00 WIB

http://mikowicaksono.blogspot.com/2012/11/aspek-aspek-ajaran-islam.html Diakses pada 31 Mei 2014 pukul 9:58 WIB.

Lubis, Satria Hadi. Menggairahkan Perjalanan Mentoring. Yogyakarta: Pro You. 2010.

Muhammad. Aspek Hukum dalam Muamalat. Yogyakarta: Graha ilmu. Cet. I. 2007.

Muhammad, Syafari Muhammad. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Bagi Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Jember. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2010. SKRIPSI

Muslicha, Lilis. Islam dan Dakwah. Bogor: Universitas Ibn Khaldun Bogor. 2013. MAKALAH PENGANTAR STUDI ISLAM.

Salih bin fauzan bin Abdullah Al Fauzan. Kitab Tauhid I. Jakarta: Yayasan Al-Sofwa. Cet: Ke-2. 2000.

Shaleh, Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kencana. 2004. Cet. Pertama.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Penerbit Alfabeta. 2012.

Taujih Ust. Herry. Acara Mentor Schooling tema “Urgensi Membina” di Masjid At-Tarbiyah. SMAN 6 Bogor. 2014

Tumanggo, Rusmin. Ilmu Jiwa Agama (The Psychology of Religion). Jakarta: Penerbit Kencana. 2014.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Mentoring Pertemuan Pertama

Isi materi Mentoring

Tanggal : Sabtu, 3 Mei 2014 Pukul : 13.00 – 15.30 WIB Tema : Amal Jama’i

Catatan Observasi:

Dari hasil observasi yang peneliti lakukan, ialah:

 Memasuki rumah Mentor, langsung diarahkan ke tempat biasanya dipakai untuk kegiatan Mentoring dan kami semua (peserta kelompok Mentoring) diperkenankan duduk. Peneliti duduk selama kurang lebih 10 menit untuk menunggu teman yang lainnya. Setelah teman yang lain datang, kegiatan Mentoring dimulai yang oleh MC.

 Selang beberapa lama, teman yang lain pun datang. Dengan membawa wajah capai tetapi semangat yang tersimpan dibaliknya terlihat sekali.

 Setelah pembukaan kegiatan Mentoring dibuka oleh MC, yaitu salam kemudian dilanjutkan dengan tilawah al-Qur’an dan jika semua sudah membacanya dlanjut dengan membaca terjemahannya.

 Kemudian, dilanjut dengan hafalan Qur’an. Tiap peserta kelompok Mentoring menyetor hafalannya kepada teman sekelompoknya.

Walaupun kami semua masih belum banyak hafalannya, tapi kami tetap semangat untuk berusaha mnghafal al-Qur’an.

Diantara kami, ada yang mengalami percepatan dalam hafalan Qur’annya. Oleh karena itu, kami semua semakin termotivasi untuk menghafal al-Qur’an.

 Usai setor-penyetoran hafalan, lanjut ke materi Mentoring. Kali ini materi Mentoring bertema “Amal Jama’I” oleh Mentor yaitu teh Ajeng.

Pengertian Amal jama'i

Amal berarti bekerja, berbuat atau menghasilkan. Bagi seorang muslim, beramal berarti berbuat, mengerjakan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, umat dan agama. Karenanya bekerja menjadi kewajiban bagi setiap muslim.

Jama'i berasal dari kata jama'ah. Jama'ah adalah suatu perkumpulan orang-orang untuk mencapai hal-hal tertentu.Yang disebut dengan jama'ah sedikitnya terdiri dari dua orang. Sesuai dengan sabda Ra-sulullah SAW: "Barangsiapa yang ingin mendapatkan pahala berjama'ah maka shalatlah bersa-manya." [Dikeluarkan oleh Ahmad, Daraimi, Tirmizi, Hakim, Baihaqi dan Ibnu Hazm dari hadits Abu Sa'id Al-Khudri]. "Shalat berjama'ah itu lebih besar pahalanya 27 tingkat dari shalat sendirian." [Muttafaq 'Alaihi dari hadits Ibnu Umar].

'Amal Jama'i atau kerja bersama adalah kegiatan yang merupakan produk suatu keputusan jama'ah yang selaras dengan manhaj (sistem) yang telah ditentukan bersama, untuk mencapai tujuan tertentu.

Pentingnya 'Amal Jama'i

Manusia, sepanjang zaman, secara fitrah tidak dapat hidup sendirian. Ia selalu membutuhkan manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya. Lihat kisah:

• Fir'aun [26:34-37] • Ratu Balqis [27:32-33] • Nabi Musa AS [20:29-32] • Kaum kafir Makkah [8:30]

Bagi manusia muslim, Allah telah mengarahkan agar dalam melaksanakan aktifitasnya dengan beramal jama'i [61:4, 3:104].

Realitas yang ada juga mengharuskan bahwa kerja yang sukses harus dilakukan secara kolektif. Sebab tangan sebelah tidak bisa bertepuk. Lidi, jika hanya sebatang, tidak dapat membersihkan daun-daun di halaman.

Untuk menegakkan Islam di hati kaum muslimin, menghadapi ke-mungkaran yang terjadi dan melawan tipu daya musuh, diperlukan kerja jama'ah. Dari sini amal jama'i menjadi wajib.Karena kaidah ushul fiqh menyatakan: "Sesuatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengannya, maka ia adalah wajib". Selain itu, Islam bukan agama individu, melainkan agama satu umat, satu tanah air dan satu tubuh. Islam menyerukepada kesatuan kaum muslimin. Allah berfirman: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai." [3:103]

1. Aktifitas yang akan dijalankan harus bersumber dari keputusan atau persetujuan jama'ah.

2. Jama'ah yang dimaksud harus mempunyai visi dan misi, serta struktur organisasi yang tersusun rapi.

3. Setiap tindakan dan aktifitasnya harus sesuai dengan dasar dan strategi atau pendekatan yang telah digariskan oleh jama'ah.

4. Seluruh tindakannya harus bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama.

 Setelah materi selesai, kami semua dipersilahkan untuk bertanya jika ada yang kurang jelas.

 Kemudian, dilanjut dengan qadhaya (tanya kabar) dari tiap masing-masing peserta kelompok Mentoring. Sementara teman sedang qadhaya, yang lainnya mengisi form Mutaba’ah.

 Pertemuan kegiatan usai, kemudian dilanjut dengan penutupan oleh MC yaitu hamdalah, istighfar, Do’a Rabithah, penutup majelis, salam.

Lampiran 2. Mentoring Pertemuan Kedua

Isi materi Mentoring

Tanggal : Sabtu, 3 Mei 2014 Pukul : 14.00 – 16.30 WIB Tema : Wala’ Dan Bara’

Pengertian Wala' dan Bara'

Secara bahasa, Wala' berasal dari kata al-walayah yang artinya nasab, pertolongan pembebasan budak, sedangkan orangnya disebut al-Muwalat yang artinya orang yang menolong. Bara' berarti lepas atau bebas dan jauh dari.

Secara istilah wala' berarti pertolongan, kecintaan, pemuliaan, penghormatan, kesamaan dengan orang-orang yang dicintai baik secara zahir maupun batin (loyalitas) [2:257].

Penjelasan lebih jauh definisi wala' dan bara', seperti yang dikatakan Syaikhul-Islam, Ibnu Taimiyyah: "Al-walayah kebalikan dari al-'Adawah. Asal pengertian dari al-Walayah adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan pengertian al-'Adawah adalah kebencian dan kejauhan. Al-wali artinya yang dekat".

Pentingnya Wala' dan Bara'

Wala' dan Bara' merupakan keharusan karena merupakan bukti kecintaan seorang mukmin kepada Allah. Syekh Hafizh al-Hikamy berkata, "Tanda kecintaan hamba kepada Rabbnya ialah: menda-hulukan apa yang dicintai-Nya, meskipun hawa nafsunya menentang, membenci apa yang

dibenci-Nya meskipun hawa nafsunya condong kepadanya, mengangkat orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai pemimpinnya, memusuhi orang yang memusuhi-Nya, mengikuti Rasulullah, meniti jejaknya dan menerima petunjuk-Nya". At-Thabrani meriwayatkan dalam al-Kabir, dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tali iman yang paling kuat adalah loyalitas terhadap pemimpin karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah pula". Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, menjelaskan perkataan Ibnu Abbas: "Perkataan Ibnu Abbas ra.: "Loyalitas pemimpin karena Allah", menjelaskan tentang keharusan kecintaan karena Allah yaitu loyalitas karena Allah pula. Hal ini merupakan isyarat bahwa sikap tersebut tidak hanya terbatas pada kecintaan semata, tetapi harus disertai loyalitas yang merupakan keharusan kecintaan. Loyalitas itu berupa tindakan memberi pertolongan, menghormati, memuliakan, selalu bersama orang-orang yang dicintai, zhahir dan bathin.Dan perkataannya: "Membenci karena Allah", menjelaskan keharusan kebencian karena Allah, yaitu berupa permusuhan. Maksudnya ialah memperlihatkan permusuhan, langsung berupa tindakan, seperti jihad menghadapi musuh-musuh Allah, melepaskan diri dari mereka, menjauhi mereka zhahir dan bathin. Sikap ini tidak hanya sekadar kebencian hati tetapi harus disertai pula dengan sikap-sikap yang harus dilakukan [61:4]".

Wala' dan bara' juga merupakan pengejawantahan dari kalimat Laa ilaha illallah. Kalimat ini merupakan penolakan terhadap segala bentuk ilah yang diikuti dengan mengukuhkan Allah saja sebagai satu-satunya ilah. Jika seseorang memulai dengan menegakkan Laa ilaha dalam dirinya maka akan tumbuh al-Bara'. Al-Bara' ditujukan kepada:

a. Arbaba, sesuatu yang dijadikan Tuhan [9:31]

b. Aaliha, tuhan-tuhan yang disembah selain Allah [25:3, 11:54] c. Andaada, tandingan-tandingan Allah [2:165]

d. Thogut, sesuatu yang melampaui batas [2:256].

Dengan membatalkan semua bentuk ilah dan mengecualikannya untuk Allah maka akan tumbuh al-Wala'. Al-Wala' diberikan kepada:

a. Allah [2:257, 22:78, 66:4] b. Islam [3:85, 5:3]

c. Rasul [3:31-33]

Lampiran 3. Mentoring Pertemuan Ketiga

Isi materi Mentoring

Tanggal : Sabtu, 3 Mei 2014 Pukul : 14.00 – 16.00 WIB

Tema : Persiapan Menghadapi Bulan Ramadhan

PERSIAPAN MENGHADAPI BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan yang insya Allah sebentar lagi akan kita masuki, adalah bulan yang sangat mulia, bulan tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat yang paling tinggi, paling mulia: derajat taqwa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat: 13).

Predikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu:

a. Persiapan Ruh dan Jasad

Dengan cara mengkondisikan diri agar pada bulan Sya'ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah terbiasa dengan berpuasa.

Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat, dan tubuh sudah terlatih berpuasa Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak phisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti: lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.

Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya'ban ini dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif. 'Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya". Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: "Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya'ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan". (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama' hadits, lihat Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).

Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya'ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: "Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya'ban ini? Beliau saw menjawab: "Itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul 'Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa". (HR An-Nasa-i). b. Persiapan Materi

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang

berpuasa, sekalipun Cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RadhiyaLlahu 'anhu.

"Sungguh, Rasulullah saw saat bertemu dengan malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan". (HR Muttafaqun 'alaih).

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

c. Persiapan Fikri (Persepsi)

Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu:

1. Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2. Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan konkrit mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan.

Lampiran 4. Form Mutaba’ah

N

o Amalan

Bulan Mei

Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal 1 Pertemuan Kelompok

2 Terlambat Pertemuan Kelompok

3 Shalat Berjamaah di Masjid 4 Tilawah

5 Al-Ma’tsurat 6 Shaum Sunnah 7 Qiyamul Lail 8 Hafalan Qur’an

9 Membaca Kitab Riyadush Shalihin

10 Dhuha

11 Berita Nasional 12 Berita Internasional 13 Berita Dunia Islam

14 SKJ (Senam Kebugaran Jasmani)

15 Jalan Kaki 16 Lari

17 Renang

18 Permainan Olahraga Khusus 19 Ziarah

20 Tukar Hadiah

Lampiran 4. Muwashafat

Daftar 10 Muwashafat peserta Mentoring 1. Salimul 'Aqidah (Selamat Aqidahnya)

 Tidak meruqyah kecuali dengan al-Qur’an ma’tsur.  Tidak berhubungan dengan jin.

 Tidak meminta tolong kepada orang yang berlindung kepada jin.  Tidak meramal nasib dengan melihat telapak tangan.

 Tidak menghadiri majelis dukun dan peramal.

 Tidak meminta berkah dengan mengusap-usap kuburan.  Tidak meminta tolong kepada orang yang telah dikubur (mati).  Tidak bersumpah dengan selain Allah swt.

 Tidak tasua’um (merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu).

 Mengikhlaskan amal untuk Allah swt.  Mengimani rukun iman.

 Beriman kepada nikmat dan siksa kubur.

 Mensyukuri nikmat Allah saat mendapatkan nikmat.  Menjadikan setan sebagai musuh.

 Tidak mengikuti langkah-langkah setan.

 Menerima dan tunduk secara penuh kepada Allah swt dan tidak bertahkim kepada selain yang diturunkan-Nya.

2. Shahihul 'Ibadah (Benar Ibadahnya)  Tidak sungkan azan.

 Ihsan dalam thaharah.

 Bersemangat untuk shalat berjamaah di masjid.  Ihsan dalam shalat.

 Qiyamullail minimal sekali sepekan.  Membayar zakat.

 Berpuasa fardhu.

 Berpuasa sunnah minimal sehari dalam sebulan.  Niat melaksanakan haji.

 Komitmen dengan adab tilawah.  Khusyuk dalam membaca al-Qur’an.  Hafal satu juz al-Qur’an.

 Komitmen dengan wirid tilawah harian.  Berdoa pada waktu-waktu utama.

 Berniat pada setiap melakukan perbuatan.  Menjauhi dosa besar.

 Merutinkan zikir pagi hari.  Merutinkan zikir sore hari.

 Zikir kepada Allah swt. dalam setiap keadaan.  Memenuhi nazar.

 Menyebarluaskan salam.

 Menahan anggota tubuh dari segala yang haram.  Beriktikaf pada bulan Ramadhan, jika mungkin.  Mempergunakan siwak.

 Senantiasa menjaga kondisi thaharah jika mungkin. 3. Matiinul Khuluq (Tegar Ahlaqnya)

 Tidak takabbur.

 Tidak ima’ah (asalah ikut, tidak punya prinsip).  Tidak dusta.

 Tidak mencaci maki.  Tidak mengadu domba.  Tidak ghibah.

 Tidak mematikan omongan orang lain.  Tidak mencibir dengan isyarat apa pun.  Tidak menghina dan meremehkan orang lain.

 Tidak menjadikan orang buruk sebagai teman/sahabat.  Menyayangi yang kecil.

 Menghormati yang besar.  Memenuhi janji.

Birrul walidain (berbakti kepada orangtua).Ghadul bashar (menundukkan pandangan).  Menyimpan rahaia.

 Menutupi dosa orang lain.

 Memiliki ghirah (rasa cemburu) pada keluarganya.  Memiliki ghirah (rasa cemburu) pada agamanya.

4. Qadirun'Alal Kasbi (Mampu Memenuhi Kebutuhannya)  Menjauhi sumber penghasilan haram.

 Menjauhi riba.

 Menjauhi judi dengan segala macamnya.  Menjauhi tindak penipuan.

 Membayar zakat.

 Menabung, meskipun sedikit.

 Tidak menunda dalam melaksanakan hak orang lain.  Menjaga fasilitas umum.

5. Mutsaqaful Fikri (Luas Wawasan)  Baik dalam membaca dan menulis.

 Membaca satu juz tafsir al-Qur’an (juz 30).  Memerhatikan hukum-hukum tilawah.

 Menhapal separuh hadis arba’in an-Nawawiyah (1-20)  Menghapalkan 20 hadis pilihan Riyadush Shalihin.

 Mengkaji marhalah Makkiyah dan menguasai karakteristiknya.  Mengenal 10 shahabat yang dijamin masuk surge.

 Mengetahui hukum thaharah.  Mengetahui hukum shalat.  Mengetahui hukum puasa.

 Membaca sesuatu yang di luar spesialisasinya 4 jam setiap pecan.  Memperluas wawasan diri dengan sarana-sarana baru.

 Menyadari adanya peperangan zionisme terhadap Islam  Mengetahui ghazwul fikri.

 Mengetahui organisasi-organisasi terselubung.  Mengetahui bahaya pembatasan kelahiran.  Menjadi pendengan yang baik.

 Mengemukakan pendapatnya.

 Berpartisipasi dalam kerja-kerja jama’i.

 Tiak menerima suara-suara miring tentang jamaah. 6. Qawiyyul Jismi (Kuat Jasmani)

 Bersih badan.  Bersih pakaian.  Bersih tempat tinggal.

 Komitmen dengan adab makan dan minum sesuai dengan sunnah.  Tidak israf dalam melekan (jaga).

 Komitmen dengan olahraga 2 jam setiap pecan.  Bangun sebelum fajar.

 Memerhatikan tata car abaca yang sehat.  Mencabut diri dari merokok.

 Menghindari tempat-tempat kotor dan polusi.

 Menghindari tempat-tempat bencana (bila masih di luar area. 7. Mujahidu Linafsihi (Bersungguh Terhadap Dirinya)

 Menjauhi segala yang haram.

 Menjauhi tempat-tempat bermain yang haram.  Menjauhi tempat-tempat maksiat.

 Memperbaiki penampilannya (performennya).

 Tidak menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang menentang Islam.

9. Haritsun'Ala Waqtihi (Menjaga Waktunya)  Bangun pagi.

 Menghabiskan waktu untuk belajar.

10. Nafi'un Lighairihi (Bermanfaat Bagi Selainya)  Melaksanakan hak kedua orangtua.

 Ikut berpartisipasi dalam kegembiraan.  Membantu yang membutuhkan.

 Member petunjuk orang yang tersesat.  Menikah dengan pasangan yang sesuai.

CV (Curriculum Vitae)

Nama : Lilis Muslicha

Nama Panggilan : Lilis

TTL : Jakarta, 6 Maret 1994

Alamat : Nanggewer RT/RW 03/03 Kel. Nanggewer Kec. Cibinong Kab. Bogor

Status : Belum Menikah

No HP : 0856-9510-3455

Email : [email protected]

Orangtua : Ahmad Muslich Prasetyo dan Daryanti Anak ke- : 1 dari 2 bersaudara (kembar)

Riwayat Pendidikan : TK Uswatun Hasanah (1999-2000) SDN Cibuluh I Bogor (2000-2006) SMPN 8 Bogor (2006-2009) SMAN 6 Bogor (2009-2012)

Universitas Ibn Khaldun (2012-sekarang) Pengalaman Organisasi : Rohis Al-Hadistiyah

ILMA (Ikatan Alumni Muslim SMAN 6 Bogor) ISY (Ilma Super Youth)

Dalam dokumen Proses Pembelajaran dalam Perubahan Bela (Halaman 57-76)

Dokumen terkait