• Tidak ada hasil yang ditemukan

I I PENUTUP

Dalam dokumen RPJMD 2008-2013 RPJMD 2008 2013 (Halaman 106-200)

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

A. Pengelolaan Keuangan Daerah

Keuangan daerah Provinsi Jawa Tengah dikelola sesuai dengan ketentuan dalam UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Pemerintah No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 13 tahun 2006 jo. Permendagri No. 59 tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, serta peraturan perundang-undangan lain yang terkait.

Secara spesifik pengelolaan keuangan daerah Provinsi Jawa Tengah diatur dalam Peraturan Daerah No.1 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam peraturan daerah ini meliputi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, asas umum dan struktur APBD, penyusunan rancangan APBD, pelaksanaan APBD, perubahan APBD, pengelolaan kas, penatausahaan keuangan daerah, akuntansi keuangan daerah, pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, kerugian daerah, pengelolaan keuangan BUMD, pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah, serta sistem informasi keuangan daerah. Pedoman penatausahaan pelaksanaan APBD setiap tahun diatur tersendiri dalam peraturan gubernur yang biasanya ditetapkan pada akhir Desember sebagai pedoman pelaksanaan APBD yang dimulai awal Januari tahun berikutnya.

Asas umum pengelolaan keuangan daerah yang telah menjadi komitmen pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah adalah bahwa : “keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem terintegrasi, diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan Peraturan Daerah.”

APBD merupakan instrumen yang menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah. Agar APBD dapat disusun dan dilaksanakan dengan baik dan benar, maka landasan

96 administratif dalam pengelolaan anggaran daerah yang mengatur antara lain prosedur dan teknis penganggaran harus diikuti secara tertib dan taat azas.

Beberapa prinsip disiplin anggaran dalam penyusunan anggaran daerah, antara lain adalah: 1) pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja; 2) penganggaran pengeluaran harus didukung oleh kepastian penerimaan daerah dalam jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum tersedia atau tidak mencukupi anggarannya dalam APBD/ Perubahan APBD; 3) semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD dan dibukukan dalam rekening Kas Umum Daerah.

Aspek penting dalam penyusunan anggaran adalah penyelarasan kebijakan (policy), perencanaan (planning) dengan penganggaran (budget) antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah agar tidak tumpang tindih. Penyusunan APBD pada dasarnya bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan ekonomi makro dan sumber daya yang tersedia, mengalokasikan sumber daya secara tepat sesuai kebijakan pemerintah dan mempersiapkan kondisi bagi pelaksanaan pengelolaan anggaran secara baik.

Perubahan APBD dimungkinkan jika terjadi perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD, terdapat keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja, serta terjadi keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya dan harus digunakan untuk pembiayaan anggaran tahun berjalan. Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan, pemerintah daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban, berupa : 1) Laporan Realisasi Anggaran, 2) Neraca, 3) Laporan Arus Kas, dan 4) Catatan atas Laporan Keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan dan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

97

B. Penerimaan Daerah.

1. Pendapatan Asli Daerah;

Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami peningkatan. Proporsi PAD terhadap APBD Provinsi Jawa Tengah menunjukkan kecenderungan meningkat sebagaimana dalam tabel 6.1

Tabel 6.1

Jumlah PAD dan Proporsinya terhadap APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003 – 2008

No Tahun PAD ( Triliun Rp) APBD ( triliun Rp) Proporsi PAD thd APBD ( % ) 1 2003 1,467 2,452 59,83 2 2004 1,865 2,883 64,69 3 2005 2,490 3,526 70,62 4 2006 2,630 3,818 68,88 6 2007 2,932 4,363 67,20 7 2008 3,598 5,131 70,12

Keterangan: - TA. 2003-2007 merupakan angka realisasi APBD - TA. 2008 merupakan angka Perubahan APBD

Sumber: 1. Perda tentang Pertanggungjawaban PelaksanaanAPBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2003-2007

2. Perda tentang Perubahan APBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2008

PAD Jawa Tengah memiliki kontribusi yang besar terhadap struktur pendapatan. Struktur pendapatan Provinsi Jawa Tengah terdiri dari PAD, dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Proporsi pendapatan terbesar adalah pada dana perimbangan yang pada tahun 2008 sebesar 29,86% . Sementara PAD pada tahun 2008 menyumbang sebesar 70,12% dan pendapatan lain yang sah menyumbang 0,44% . Selama kurun waktu 2003 – 2008 struktur pendapatan tidak mengalami perubahan yang besar sebagaimana tabel 6.2

Tabel 6.2

Struktur Pendapatan

Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003 – 2008

No Tahun PAD ( Triliun Rp) Dana Perimbangan ( milyar Rp) Lain-lain Pendapatan yang sah (Milyar Rp) APBD ( triliun Rp) 1 2003 1,467 713,64 271,77 2,452 2 2004 1,865 789,08 229,13 2,883 3 2005 2,490 807,13 229,06 3,526 4 2006 2,630 1185,86 1,99 3,818 6 2007 2,932 1419,34 11,36 4,363 7 2008 3,598 1532,29 0,23 5,131

Keterangan: - TA. 2003-2007 merupakan angka realisasi APBD - TA. 2008 merupakan angka Perubahan APBD

Sumber: 1. Perda tentang Pertanggungjawaban PelaksanaanAPBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2003-2007

98 Sedangkan kontribusi pajak terhadap PAD cukup tinggi diatas 80% dan secara nominal mengalami pertumbuhan yang positif, seperti diperlihatkan oleh tabel 6.3.

Tabel 6.3

Kontribusi Pajak Terhadap PAD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003 – 2008

No Tahun Pajak ( Triliun Rp) PAD ( Triliun Rp) Kenaikan PAD ( % ) Kontribusi Pajak thd PAD ( % ) 1 2003 1,301 1,467 - 88,68 2 2004 1,602 1,865 27,13 85,89 3 2005 1,996 2,490 33,51 80,16 4 2006 2,106 2,630 5,62 80,07 6 2007 2,422 2,932 11,48 82,60 7 2008 2,942 3,598 22,71 81,76

Sumber: 1. Perda tentang Pertanggungjawaban PelaksanaanAPBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2003-2007

2. Perda tentang Perubahan APBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2008 (Data diolah)

2. Dana Perimbangan;

Proporsi dana perimbangan terhadap APBD Jawa Tengah relatif kecil, namun demikian dana perimbangan ini memiliki arti yang besar bagi Provinsi Jawa Tengah. Proporsi dana perimbangan dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 berkisar diantara angka 30% sepeti diperlihatkan oleh tabel 6.4.

Tabel 6.4

Jumlah Dana Perimbangan dan Proporsinya terhadap APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003 – 2008

No Tahun Dana Perimbangan ( trilyun Rp) APBD ( triliun Rp) Proporsi dana Perimbangan thd APBD ( % ) 1 2003 0,714 2,452 29,10 2 2004 0,789 2,883 27,37 3 2005 0,807 3,526 22,89 4 2006 1,186 3,818 31,06 6 2007 1,419 4,363 32,53 7 2008 1,532 5,131 29,86

Keterangan: - TA. 2003-2007 merupakan angka realisasi APBD - TA. 2008 merupakan angka Perubahan APBD

Sumber: 1. Perda tentang Pertanggungjawaban PelaksanaanAPBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2003-2007

99

3. Lain- lain Pendapatan yang Sah

Jenis lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup :

a. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan; b. Jasa Giro;

c. Pendapatan Bunga;

d. Penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah;

e. Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain dari akibat dari penjualan dan/ atau pengadaan barang dan/ atau jasa oleh daerah;

f. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;

g. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan; h. Pendapatan denda pajak;

i. Pendapatan denda retribusi;

j. Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan; k. Pendapatan dari pengembalian;

l. Fasilitas sosial dan fasilitas umum;

m. Pendapatan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

C. Belanja Daerah

Struktur belanja dalam APBD Provinsi Jawa Tengah terdiri dari Belanja Aparatur dan Belanja Pelayanan Publik pada struktur anggaran 2003 – 2006 (Kepmendagri 29 tahun 2002), sedangkan pada tahun anggaran 2007 – 2008 struktur belanja berubah menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung (Permendagri 13 tahun 2006). Pada tahun 2003 – 2006 proporsi belanja aparatur lebih sedikit dibandingkan dengan belanja pelayanan publik, sedangkan pada tahun 2007 dan 2008 proporsi belanja tidak langsung lebih besar daripada belanja langsung.

1. Belanja tidak langsung, merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, meliputi:

a. Belanja pegawai dalam bentuk gaji dan tunjangan, tambahan penghasilan pegawai, penerimaan lainnya pimpinan dan Anggota DPRD serta Kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah dan biaya pemungutan pajak daerah.

100 b. Belanja bunga digunakan untuk pembayaran bunga atas pinjaman

Pemerintah Daerah kepada pihak lainnya.

c. Subsidi, digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/ lembaga tertentu agar harga jual produksi/ jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.

d. Belanja hibah, yaitu pemberian hibah untuk penyelenggaraan program dan kegiatan yang bersifat cross cutting issue.

e. Bantuan Sosial, yaitu bantuan sosial organisasi kemasyarakatan antara lain bantuan keagamaan, pendidikan, kemasyarakatan, pengadaan pangan dan bantuan partai politik.

f. Belanja Bagi Hasil, meliputi belanja bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kepada Kabupaten/ Kota.

g. Bantuan Keuangan yang bersifat umum maupun khusus kepada Kabupaten/ Kota.

h. Belanja tak terduga, untuk kegiatan yang sifatnya tidak bisa atau diharapkan tidak terulang.

2. Belanja Langsung, merupakan belanja yang dianggarkan terkait langsung dengan program dan kegiatan, meliputi :

a. Belanja Pegaw ai, Belanja Pegawai, untuk pengeluaran honorarium PNS, honorarium non PNS dan uang lembur

b. Belanja Barang dan Jasa, Belanja Barang dan Jasa, untuk pengeluaran bahan habis pakai, bahan material, jasa kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak dan penggandaan, sewa alat berat, sewa perlengkapan, sewa perlengkapan dan alat kantor, makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus, perjalanan dinas, bea siswa pendidikan PNS, kursus, pelatihan, sosialisasi dan bimbingan teknis perjalanan pindah tugas dan lain sebagainya.

c. Belanja Modal, untuk pengeluaran pengadaan tanah, alat-alat berat, alat- alat angkutan di darat bermotor, alat-alat angkutan darat tidak bermotor, alat-alat angkutan di air bermotor, alat-alat angkutan di air tidak bermotor, alat-alat bengkel, alat-alat pengolahan pertanian dan peternakan, peralatan kantor, perlengkapan kantor, komputer dan lain-lain.

101 Tabel 6.5

Struktur Belanja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003 – 2006 No Tahun Belanja Tdk Langsung ( Milyar Rp) Belanja Langsung ( Milyar Rp) Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan ( Milyar Rp) Belanja Tidak Tersangka/ Tak Terduga ( Milyar Rp) APBD ( Trilyun Rp) 1 2003 838,51 1.777,37 857,41 49,42 2,452 2 2004 820,82 776,35 923,61 51,77 2,883 3 2005 906,12 799,22 1.203,64 27,34 3,526 4 2006 762,42 209,07 1.135,31 26,38 3,818 5 2007 1.085,60 1.446,78 1.366,93 5,91 4,363 6 2008 1.883,73 1.988,05 1.768,42 20,00 5,131

Keterangan: - TA. 2003-2007 merupakan angka realisasi APBD - TA. 2008 merupakan angka Perubahan APBD

Sumber: 1. Perda tentang Pertanggungjawaban PelaksanaanAPBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2003-2007

2. Perda tentang Perubahan APBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2008

Proporsi belanja pegawai cukup besar terhadap total belanja. Pada tahun 2007 mencapai 25,43% , sedangkan pada tahun 2008 berdasarkan anggaran penetapan proporsinya sebesar 16,81% sebagaimana tabel 6.6

Tabel 6.6

Proporsi Belanja Pegawai Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003 – 2006 No Tahun Belanja Pegaw ai ( Milyar Rp) Total Belanja ( triliun Rp) Persentase Belanja pegaw ai thd total belanja ( % ) 1 2007 992,94 3.905,22 25,43 2 2008 951,39 5.660,20 16,81 Keterangan: - TA. 2003-2007 merupakan angka realisasi APBD

- TA. 2008 merupakan angka Perubahan APBD

Sumber: 1. Perda tentang Pertanggungjawaban PelaksanaanAPBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2003-2007

2. Perda tentang Perubahan APBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2008

D. Pembiayaan Daerah

Pembiayaan daerah, semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan mencakup :

102 a. SiLPA tahun anggaran sebelumnya;

b. Pencairan dana cadangan;

c. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; d. Penerimaan pinjaman daerah;

e. Penerimaan kembali pemberian pinjaman; f. Penerimaan piutang daerah;

g. Penerimaan kembali penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah; dan h. Penerimaan kembali dana talangan.

Pengeluaran pembiayaan mencakup : a. Pembentukan dana cadangan;

b. Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah; c. Pembayaran pokok utang;

d. Pemberian pinjaman daerah; e. Pembayaran utang belanja; f. Pemberian dana talangan; dan g. SiLPA tahun berkenaan.

Pengelolaan dana APBN di provinsi dilakukan sesuai dengan ketentuan pengelolaan dana APBN. Dana APBN di provinsi berupa dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Penyerahan DI PA dilaksanakan setiap awal tahun anggaran oleh pemerintah pusat, selanjutnya pemerintah provinsi akan melaksanakan kegiatan tersebut dan selanjutnya dilaporkan kepada pemerintah pusat, setelah selesai dilaksanakan. Prinsip-prinsip pengelolaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang telah ditetapkan. Pelaporan dana dekonstrasi dan tugas pembantuan dilakukan oleh provinsi bersamaan penyusunan Laporan Keterangan Pertanggung jawaban Gubernur tahun berjalan.

Optimalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terutama yang bergerak dalam transaksi keuangan seperti Bank Jateng, Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR BKK) dan Perusahaan Daerah Badan Kredit Kecamatan (PD BKK) dapat didayagunakan untuk meningkatkan kinerja perekonomian regional Jawa Tengah. Melalui fungsinya sebagai lembaga intermediasi, kedua BUMD tersebut dapat lebih progresif menyalurkan pembiayaannya kepada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Hal ini dapat dilakukan secara optimal apabila lembaga tersebut mampu menyerap

103 dana masyarakat yang berlebihan dengan memberikan pelayanan yang optimal kepada para nasabah dan pada saat yang sama memperkuat permodalannya sehingga bank menjadi lebih sehat dan lebih mampu meningkatkan pembiayaannya untuk pengembangan usaha masyarakat.

E. Analisa Kemampuan Keuangan Daerah.

Prediksi Pendapatan Asli Daerah dalam kurun waktu 2009 – 2013 diasumsikan terjadi peningkatan rata-rata sebesar 3% . Sedangkan untuk pajak daerah diprediksi akan mengalami kenaikan secara bertahap rata-rata sebesar 2% pertahun, dengan asumsi kondisi perekonomian stabil. Namun apabila dilihat dari kontribusi pajak daerah terhadap PAD akan mengalami perlambatan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh adanya rencana potensi pendapatan pajak dan retribusi daerah yang sebagian diserahkan ke Kab/ Kota, antara lain : Pajak Air Bawah Tanah, Pajak Air Permukaan, dan Retribusi Tempat Pelelangan I kan (TPI ), dan Retribusi I jin Pengambilan Air Bawah Tanah. Prediksi PAD dan Pajak Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2013 dapat dilihat pada tabel 6.7

Tabel 6.7

Prediksi PAD dan Pajak Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 – 2013

No Tahun PAD ( Triliun Rp) Pajak Daerah ( Triliun Rp) Kontribusi Pajak Daerah terhadap PAD ( % ) 1 2009 3,625 2,955 81,52 2 2010 3,374 3,014 80,73 3 2011 3,846 3,074 79,94 4 2012 3,961 3,136 79,17 6 2013 4,078 3,199 78,40

104

BAB VI I

PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

Penyusunan Program Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2013 berdasarkan PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Kabupaten/ Kota; Permendagri No 13 Tahun 2006 jo Permendagri No. 59 tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; serta visi dan misi yang disampaikan oleh pasangan calon gubernur terpilih yang ditetapkan oleh KPU Provinsi Jawa Tengah tanggal 5 Juni 2008. Program-program pembangunan dalam RPJMD ini juga mengacu program nasional yang terdapat dalam RPJP Nasional (UU No. 17 Tahun 2007) dan RPJM Nasional (Perpres No. 7 Tahun 2004), dan tahapan pembangunan lima tahunan RPJPD Provinsi Jawa Tengah (Perda No. 3 Tahun 2008).

Selain peraturan perundangan di atas, program pembangunan dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2013 mendasarkan pada Perda No.21 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah; Peraturan Gubernur (Pergub) No. 82 Tahun 2007 tentang Program I ndikatif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 jo Pergub No. 30 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur (Pergub) No. 82 Tahun 2007 tentang Program I ndikatif Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009; serta Peraturan Gubernur No. 88 Tahun 2008 tentang Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana (RAD- PRB) Provinsi Jawa Tengah.

Program pembangunan dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2013 meliputi Program Kewenangan Urusan Wajib, Program Kewenangan Urusan Pilihan, Pelaksanaan Tugas Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, serta Pelaksanaan Tugas Umum Pemerintahan.

A. Kew enangan Urusan Wajib

Kelompok program kewenangan urusan wajib, meliputi 26 kewenangan urusan, rincian program masing-masing kewenangan urusan tersebut adalah sebagai berikut :

105

1. Kew enangan Urusan Wajib Pendidikan a. Permasalahan

1) Belum optimalnya pemerataan, akses dan mutu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) antara lain disebabkan:

a) Belum terbangunnya pemahaman masyarakat terhadap PAUD bagi pengembangan potensi anak (golden age).

b) Keterbatasan lembaga penyelenggara dan sarana prasarana PAUD.

c) Belum terpenuhinya rasio ideal pendidik PAUD berbanding dengan peserta didik.

2) Belum optimalnya pemerataan, akses dan mutu Pendidikan Dasar antara lain disebabkan oleh:

a) Belum terbangunnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dasar.

b) Belum terpenuhinya standar sarana prasarana minimal pendidikan dasar. c) Belum terpenuhinya rasio ideal pendidik Dikdas berbanding dengan peserta

didik.

d) Belum optimalnya pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

3) Belum optimalnya pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya saing Pendidikan Menengah yang disebabkan oleh:

a) Rendahnya kemampuan ekonomi sebagian masyarakat berdampak pada angka putus sekolah.

b) Belum terpenuhinya standar sarana prasarana minimal Pendidikan Menengah.

c) Belum terbangunnya links and match antara sekolah dengan dunia usaha dan industri.

d) Belum terpenuhinya rasio ideal pendidik Dikmen berbanding dengan peserta didik.

4) Belum optimalnya pemerataan, akses, mutu dan relevansi serta daya saing Pendidikan Non Formal dan I nformal yang disebabkan oleh:

a) Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap Pendidikan Non Formal. b) Kurangnya biaya untuk mengikuti Pendidikan Non Formal.

c) Belum terpenuhinya standar sarana prasarana minimal Pendidikan Non Formal.

106 5) Belum optimalnya pemerataan, akses, mutu dan relevansi Pendidikan Khusus

yang disebabkan oleh:

a) Rendahnya kesadaran masyarakat mendidik anak berkelainan khusus pada Satuan Pendidikan Khusus.

b) Tingginya indeks biaya Pendidikan Khusus.

c) Belum terpenuhinya standar sarana prasarana minimal Pendidikan Khusus. 6) Belum optimalnya kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dalam

melaksanakan tugas pokok dan fungsinya mengelola pembelajaran yang disebabkan oleh :

a) Belum meratanya persebaran pendidik dan tenaga kependidikan.

b) Sebagian pendidik belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan S-1/ D-4 c) Sebagian pendidik belum bersertifikat pendidik.

d) Keterbatasan aktivitas dan media pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan.

e) Upah, gaji, tunjangan dan penghasilan lain pendidik dan tenaga kependidikan Non PNS belum memenuhi kebutuhan hidup minimal.

f) Penghargaan dan perlindungan hukum bagi pendidik dan tenaga kependidikan belum sebanding dengan beban tugas profesi yang disandang.

7) Belum optimalnya tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik dalam penyelenggaraan pendidikan, yang disebabkan oleh:

a) Belum diterapkannya SMM I SO 9001-2001 pada Dinas Pendidikan dan Satuan Pendidikan Menengah.

b) Belum terpenuhinya standar pelaporan akuntabilitas Dinas Pendidikan. c) Belum optimalnya penerapan I nformation Communication Teknologi (I CT)

yang mendukung realisasi manajemen pendidikan yang transparan dan akuntabel.

d) Belum optimalnya pengendalian internal dalam pelaksanaan pembangunan pendidikan.

8) Belum optimalnya fasilitasi pengembangan Perguruan Tinggi serta belum optimalnya peran Pendidikan Tinggi dalam pembangunan daerah.

9) Masih rendahnya wawasan kebangsaan dan nasionalisme, kearifan lokal, kesetaraan gender dalam penyelenggaraan pendidikan.

107

b. Kebijakan

Kebijakan pembangunan pendidikan Provinsi Jawa Tengah diarahkan pada : 1) Meningkatkan pemerataan dan mutu serta perluasan akses penyelenggaraan

PAUD.

2) Meningkatkan pemerataan dan mutu serta perluasan akses penyelenggaraan Pendidikan Dasar.

3) Meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi dan daya saing serta perluasan akses penyelenggaraan Pendidikan Menengah.

4) Meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi dan daya saing serta perluasan akses penyelenggaraan Pendidikan Non Formal dan I nformal.

5) Meningkatkan pemerataan, mutu, dan relevansi serta perluasan akses penyelenggaraan Pendidikan Khusus.

6) Meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pada Pendidikan Formal dan Non Formal.

7) Meningkatkan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik dalam penyelenggaraan pendidikan.

8) Meningkatkan fasilitasi penyelengaraan Pendidikan Tinggi.

9) Meningkatkan wawasan kebangsaan, kearifan lokal dan kesetaraan gender dalam penyelenggaraan pendidikan.

c. Strategi

1) Memantapkan komitmen dan sinergitas pembangunan pendidikan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota.

2) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaaan pendidikan. 3) Membangun kemitraan dan kerjasama dengan stakeholder guna menjamin

relevansi dan daya saing pendidikan.

4) Meningkatkan kualitas aparatur pendidikan untuk mewujudkan tata kelola penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) di bidang pendidikan.

5) Pengembangan komoditas unggulan melalui pendidikan non formal.

6) Menumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat akan perubahan melalui pendidikan, kursus, pelatihan dan praktek langsung serta sekolah lapang. 7) Melaksanakan pelatihan/ kursus dan kunjungan/ studi lapangan, magang dan

108

d. Program

1) Pendidikan Anak Usia Dini. 2) Pendidikan Dasar.

3) Pendidikan Menengah.

4) Pendidikan Non Formal dan I nformal. 5) Pendidikan Khusus.

6) Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 7) Manajemen Pelayanan Pendidikan.

8) Fasilitasi Pendidikan Tinggi. 9) Pendidikan Berkelanjutan.

e. Sasaran

1) Meningkatnya pemerataan, akses dan mutu Pendidikan Anak Usia Dini. 2) Meningkatnya pemerataan, akses dan mutu Pendidikan Dasar.

3) Meningkatnya pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya saing Pendidikan Menengah.

4) Meningkatnya pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya saing Pendidikan Non Formal dan I nformal.

5) Meningkatnya pemerataan, akses, mutu, dan relevansi Pendidikan Khusus. 6) Meningkatnya kinerja pendidik dan tenaga kependidikan.

7) Meningkatnya tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik dalam penyelenggaraan pendidikan.

8) Terwujudnya fasilitasi pengembangan Pendidikan Tinggi serta peningkatan peran Perguruan Tinggi dalam pembangunan daerah.

9) Meningkatnya wawasan kebangsaan, kearifan lokal dan kesetaraan gender dalam penyelengaran pendidikan.

f. I ndikator Capaian

1) Rasio jumlah pendidik dengan Peserta Didik PAUD (1:20). a) APK PAUD 65% .

b) 70 % sarana Prasarana PAUD layak.

c) Rasio jumllah pendidik dengan peserta didik PAUD (1:20). d) Dokumen tentang Pedoman Pengelolaan PAUD.

109 2) Program Pendidikan Dasar, dengan indikator :

a) APM-SD/ MI 98% .

b) APK Wajar DikDas 98% .

c) Nilai rata-rata Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) mencapai 7,0 untuk tingkat SD/ MI dan Ujian Nasional SMP/ MTs sebesar 6,78.

d) Angka Naik Kelas SD/ MI 98% .

e) Angka Putus Sekolah SD/ MI 0,12% dan SMP/ MTs 0,22% . f) Angka lulus SD/ MI 98% dan SMP/ MTs 93% .

g) 90% ruang kelas SD dan SMP sesuai standar. h) 568 SD memiliki laboratorium I PA dan komputer.

i) 30% SMP memiliki laboratorium I PA, Bahasa, komputer (I CT). j) 35% SD dan 80% SMP memiliki perpustakaan.

k) 100% SD/ MI dan SMP/ MTs terakreditasi.

l) 100% SD dan SMP Melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

m) 100% SD dan SMP Melaksanakan Pembinaan Kesiswaan dengan Baik. n) Setiap Kabupaten/ Kota memiliki minimal 1 (satu) Rintisan Sekolah Bertaraf

I nternasional (RSBI ) SD.

o) Setiap Kabupaten/ Kota memiliki minimal 1 (satu) Rintisan Sekolah Bertaraf I nternasional (RSBI ) SMP.

3) Program Pendidikan Menengah, dengan indikator : a) APK SMA/ SMK/ MA 70% .

b) Rasio siswa SMK : SMA = 70 : 30.

c) 40% Ruang Kelas SMA/ SMK sesuai standar. d) Angka Putus Sekolah SMA/ SMK/ MA 0,7% . e) 90% SMA/ SMK memiliki Perpustakaan. f) 75% SMA/ SMK memiliki Laboratorium.

g) Setiap Kabupaten/ Kota terdapat 1 (satu) Rintisan Sekolah Bertaraf I nternasional (RSBI) SMA.

h) Setiap Kabupaten/ Kota terdapat 1 (satu) Rintisan Sekolah Bertaraf I nternasional (RSBI) SMK.

i) 50% SMA/ SMK menerapkan ICT Based Learning. j) Nilai rata-rata Ujian Nasional SMA/ SMK sebesar 7,1. k) 50% SMK memiliki Bengkel.

110 l) 30 Mata Pelajaran SMK memiliki Buku Teks Layak menurut Badan Standar

Nasional Pendidikan (BSNP).

m) 100% SMA/ SMK menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). n) 100% SMA/ SMK/ MA terakreditasi.

o) 50% SMA/ SMK melaksanakan MBS dengan baik. p) 59 SMA menerapkan ISO 9001-2000.

q) 122 SMK menerapkan ISO 9001-2000.

r) 100% SMA/ SMK melaksanakan Pembinaan Kesiswaan dengan Baik. 4). Program Pendidikan Non Formal dan I nformal, dengan indikator :

Dalam dokumen RPJMD 2008-2013 RPJMD 2008 2013 (Halaman 106-200)

Dokumen terkait