5
BAB II TEORI DASAR
2.1 Prinsip kerja air conditioning system
Prinsip terjadinya suatu pendinginan didalam sistem air conditioning adalah penyerapan kalor oleh suatu zat pendingin dinamakan refigerant. Karena kalor dalam yang berada di sekeliling refigerant diserap, akibatnya refigerant akan menguap, sehingga temperatur udara akan bertambah dingin, hal ini dapat terjadi mengingat penguapan menggunakan kalor.
Di dalam suatu alat pendingin, kalor di serap oleh evaporator dan di buang ke kondensor. Uap refigerant yang berasal dari evaporator yang bertekanan dan bertemperatur rendah masuk kedalam kompresor melalui saluran hisap. Di kompresor, uap refigerant akan bertekanan dan ber suhu tinggi, jauh lebih tinggi di banding suhu udara di sekitar, Kemudian uap menuju kondensor. Di kondensor uap refigerant tersebut akan melepaskan kalor, sehingga berubah fasa dari uap menjadi cair (terkondensasi) dan selanjutnya refigerasi cair tersebut di kumpul di penampungan cairan refigerant.
Cairan refigerant bertekanan tinggi mengalir dari penampungan refigerant ke katup ekspansi. Keluar dari katup ekspansi , tekanan menjadi sangat berkurang dan akibatnya cairan refigerant ber suhu sangat rendah. Pada saat itu refigerant mulai menguap di evaporator, dan menyerap kalor untuk mendinginkan ruangan. Kemudian uap refigerant akan di hisap oleh kompresor dan demikian selanjutnya proses-proses tersebut berulang kembali.
2.2 Refigerant
Refigerant adalah media yang berbentuk senyawa yang di gunakan dalam siklus panas yang mengalami perubahan dari fasa cair ke gas atau
6
sebaliknya. Sejak di temukan sekitar 1800 , Refigerant ini sangat besar andilnya dalam terjadinya penipisan lapisan ozon, oleh sbebab itu penggunaan refigerant yang tidak ramah lingkungan (R12) sudah wajib digantikan dengan refigerant yang ramah lingkungan seperti R(134a).
Refigerant ini banyak di gunakan pada alat refigerator, freezer dan air conditioner (AC). Refigerant berfungsi sebagai fluida kerja untuk memindahkan panas ke lingkungan sekitar.
Jenis refigerant cukup banyak, salah satu yang digunakan dalam air conditioner adalah R 12. Akan tetapi, karena R 12 mengandung CFC yang besar andilnya dalam dampak penipisan lapisan ozon maka saat ini pemerintah mewajibkan menggunakan refigerant yang ramah lingkungan, yaitu R 134a pengganti R 12.
2.3 Komponen-komponen utama air conditioner (AC)
Dalam rangkaian nya, air conditioner (AC) terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan baik fungsi maupun sistem kerjanya. Agar air conditioner (AC) dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka komponen-komponen AC harus dalam keadaan baik pula.
Berikut ini adalah fungsi dan cara kerja dari komponen-komponen utama yang terdapat dalam sisterm air conditioner, diantaranya adalah :
2.3.1 Kompresor
Kompresor berfungsi untuk mensirkulasikan refigerant yang berbentuk gas agar tekanannya meningkat sehingga juga akan meningkatkan temperatur nya. Kompresor dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini.
7
2.3.2 Magnetic cluth
Magnetic clucth atau kopling magnet adalah suatu alat yang di pergunakan untuk melepas dan menghubungkan kompresor dengan putaran engine atau motor listrik.
Cara kerjanya ketika engine hidup pulley kompresor akan berputar sesuai dengan putaran engine. Dalam posisi swicth off , shaft kompresor tidak akan berputar, dan kompresor hanya akan berputar ketika swicth on hal ini di sebabkan oleh arus listrik yang mengalir ke stator coil akan mengubah stator coil menjadi medan magnet yang akan menarik preassure plate dan medan singgungannya akan bergesekan dan saling melekat dalam satu unit clucth assembly memutar kompresor. Magnetic clucth dapat kita lihat pada gambar 2.2 dibawah ini.
Gambar 2.2 Magnetic clucth
2.3.3 Kondensor
Kondensor digunakan untuk memindahkan panas dari gas refrigerant menuju atmosfir dan mengubah gas refigerant menjadi cair. Refigerant dengan tekanan dan temperatur tinggi mengalir dari kompresor menuju kondensor, panas yang mengalir dari gas panas menuju udara dingin yang mengalir melalui koil kondensor. Refigerant dalam bentuk gas bertekanan tinggi menjadi dingin dan mengkondensasi menjadi cairan bertekanan tinggi. Cairan bertekanan tinggi mengalir dari kondensor menuju dryer. Kondensor dapat kita lihat pada gambar 2.3 dibawah ini.
8 Gambar 2.3 Kondensor
2.3.4 Expansion valve
Berfungsi untuk mengabutkan refigerant kedalam evaporator agar refigerant cair dan berubah menjadi gas. Expansion valve dapat kita lihat pada gambar 2.4 dibawah ini.
Gambar 2.4 Expansion valve
2.3.5 Evaporator
Evaporator berfungsi untuk mengubah cairan refigerant menjadi gas. Pada evaporator terjadi proses evaporasi, yaitu penguapan refigerant fasa cair menjadi uap. Evaporator merupakan alat penukar panas, yaitu mengubah refigerant yang semula berwujud cair berubah menjadi gas. Panas di sekitar ruang kabin diserap oleh evaporator saat melewati sirip-sirip pipanya sehingga saat keluar, udara berubah menjadi dingin. Proses sirkulasi udara dingin tersebut di bantu oleh blower. Evaporator dapat kita lihat pada gambar 2.5 dibawah ini.
9 Gambar 2.5 Evaporator
2.3.6 Receiver dryer
Receiver dryer berfungsi untuk tempat penyinpanan refigerant sementara setelah dicairkan oleh kondensor sebelum masuk kedalam katup ekspansi fungsi lainnya yaitu menyaring kotoran dalam sistem sirkulasi AC. Receiver dryer ditunjukan oleh gambar 2.6 dibawah ini.
Gambar 2.6 Receiver dryer 2.4 Komponen pendukung
2.4.1 Oli kompresor
Oli kompresor berfungsi untuk melumasi bagian-bagian kompresor yang bergesekan, sehingga mampu meredam panas dan melancarkan pergerakan bagian-bagian kompresor. Oli kompresor dapat kita lihat pada gambar 2.7 dibawah ini.
10
.
Gambar 2.7 Oli kompresor
2.4.2 Pipa refigerant
Pipa refigerant terbuat dari karet dan pipa logam yang tahan terhadap tekanan dan temperatur tinggi, serta tahan terhadap getaran. Bagian dalam pipa logam terbuat dari tembaga dan aluminium yang di proses dengan baik, sehingga lebih tahan terhadap unsur kimia. Demikian pula pipa karet yang terbuat berlapis-lapis agar kuat menahan kebocoran dan reaksi unsur kimia. Pipa refigerant dapat kita lihat pada gambar 2.8 dibawah ini.
Gambar 2.8 Pipa refigerant
2.4.3 Pulley dan Belt
Pulley berfungsi sebagai rumah belt. Pulley dan belt merupakan komponen penerus tenaga, yaitu meneruskan tenaga putar dari engine ke kompresor. Terdapat dua jenis belt yang dipakai, yaitu v-belt dan ribbed belt. Jenis ribbed belt memiliki kemampuan baik dalam meneruskan tenaga dan tidak mudah slip. Dibawah ini adalah gambar pulley dan belt.
11 Gambar 2.9 Pulley dan belt
2.4.4 Extra fan
Extra fan berfungsi untuk mensirkulasikan udara di dalam kabin dan di luar kabin. Blower terdapat di dalam kabin sedangkan extra fan terdapat di luar kabin yaitu di kondensor. Extra fan dapat dilihat pada gambar 2.10 dibawah ini.
Gambar 2.10 Extra fan
2.5 Komponen kelistrikan
2.5.1 Selector swicth (saklar)
Selector swicth yang digunakan dalam sistem AC pada umumnya adalah jenis Rotary swicth. Saklar ini digunakan untuk menghidupkan dan mematikan kompresor, serta memilih kecepatan blower evaporator. Selector swicth dapat kita lihat pada gambar 2.11 dibawah ini.
12 Gambar 2.11 selector swicth
2.5.2 Thermostat
Thermostat berfungsi untuk memberikan sinyal kondisi temperatur pada kabin secara otomatis. Didalam thermostat terdapat sensor yang mendeteksi suhu pada evaporator. Apabila thermostat rusak evaporator dapat membeku karena pemutus arus listrik tidak berfungsi. Selain mengatur, fungsi thermostat pada AC adalah untuk mengatur kerja kompresor. Thermostat dapat kita lihat pada gambar 2.12 dibawah ini.
Gambar 2.12Thermostat.
2.6 Troubleshooting
Troubleshooting adalah mencari masalah atau penyebab dari suatu kerusakan yang terjadi pada mesin, engine dan alat sesuai dengan prosedur troubleshooting yaitu Detection, Diagnostic, dan Repair. Prinsipnya hampir sama dengan perbaikan berdasarkan dengan permintaan yaitu sama
13
–sama terjadi tanpa terduga dan sama – sama mengupayakan untuk meningkatkan daya guna kecuali dalam hal waktu perbaikan.
Kalau perbaikan berdasarkan permintaan adalah perbaikan yang hanya akan dilaksanakan setelah ada permintaan untuk itu, sedangkan troubleshooting adalah perbaikan yang harus segera dilakukan tanpa menunda – nunda waktu lagi setelah terjadinya kerusakan (break down).
2.7 Kemampuan Troubleshooter
Dalam melakukan perbaikan, seorang troubleshooter harus memiliki kemampuan sebagai berikut :
1) Terampil dalam menggunakan dan dengan benar menginterprestasi naskah dari service manual, dan peralatan yang benar khususnya diagnostic tool.
2) Mengumpulkan informasi dasar dan spesifik dari literature yang tepat. 3) Memperkirakan waktu untuk memperbaiki kerusakan dengan
menganalisa permasalahan sebelum mengambil tindakan.
4) Dapat mengembangkan kemampuan untuk memahami langkah – langkah yang lebih berarti dalam melakukan perbaikan.
5) Mempunyai pengetahuan tentang prosedur dan hubungan sebab akibat terjadinya permasalahan.
6) Mempunyai kekuatan melihat kemampuan diri dalam melakukan prosedur troubleshooting.
7) Memiliki strategi dan rencana kerja yang baik.
8) Mampu melangkah menurut prosedur yang sistematis dan tidak menggunakan dugaan yang tak berdasar.
14
2.8 Prosedur Troubleshooting
Secara teknis, prosedur troubleshooting meliputi :
Gambar 2.14 prosedur troubleshooting
1) Detection
Mampu melakukan “Best Guesses (perkiraan terbaik)”, yaitu menentukan seperti apa masalah yang terjadi.
2) Diagnostic
Melakukan pengetesan terhadap “Guess (perkiraan)”, yaitu mencari hingga masalah ditemukan.
3) Repair
Melakukan perbaikan terhadap masalah atau kerusakan yang ditemukan, sehingga masalah tersebut tidak terulang lagi.
.
Detection
Diagnostic
15
BAB III METODOLOGI
3.1 Metode pengumpulan data
Untuk mendapatkan data yang akurat dan informasi yang relevan maka dalam penyusunan tugas akhir ini, Penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
3.1.1 Studi kepustakaan
Studi Kepustakaan merupakan metode pengumpulan data dengan cara mempelajari buku-buku pendukung yang berhubungan dengan penulisan tugas akhir ini. Dan menggunakan media internet untuk mendapatkan data-data yang berhubungan dengan penulisan tugas akhir.
3.1.2 Metode wawancara
Suatu metode pengumpulan data lewat wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang lebih mengetahui dan mempunyai pengetahuan yang lebih luas tentang masalah yang terjadi. Dan dengan cara konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk mencari informasi serta mengevaluasi ulang mengenai teori.
3.1.3 Observasi
Suatu metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung ke alat simulasi air conditioner.
3.2 Langkah – langkah Troubleshooting
Dalam melakukan troubleshooting seorang troubleshooter harus mampu melakukan sesuai langkah – langkah yang telah ditentukan, dan troubleshoting itu sendiri mempunyai delapan langkah yang harus di ikuti yaitu :
16
2) Tentukan problem dengan mencatat.
3) Periksa komponen air conditioning system secara visual. 4) Tuliskan semua kemungkinan penyebab.
5) Lakukan test dan mencatat hasilnya. 6) Temukan akar masalah
7) Perbaiki kerusakan.
8) Analisa mengapa problem terjadi.
3.2.1 Yakinkan problem benar – benar terjadi
Dengan menghimpun dan mengumpulkan informasi serta mendengarkan keluhan tentang apa yang terjadi dan apa yang dilakukan saat timbul problem. Sebelum problem terjadi, apakah alat tersebut beropersi dengan baik atau tidak beroperasi sama sekali.
Menghimpun dan mengumpulkan informasiagar bisa menafsirkan bagaimana alat ini beroperasi saat pertama kali dihudupkan dan mengetahui apa saja yang dilakukan pada alat tesebut serta saat timbul problem dan langkah apa saja yang dilakukan.
3.2.2 Tentukan problem dengan mencatat
Menyusun dan mencatat semua informasi dan menafsirkan kemungkinan problem yang terjadi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kerja alat tesebut dan untuk mengetahui kondisi geografis saat alat tersebut beroperasi.
3.2.3 Periksa komponen air conditioner secara visual
Sebelum melakukan pengecekan terhadap komponen air conditioner secara visual, kumpulkan kembali informasi tambahan yang diperlukan.Setelah itu lakukan pemeriksaan sistem dan komponen sistem secara visual.
Melakukan pemeriksaan komponen air conditionersecara visual bertujuan untuk melihat kondisi sistem dan komponen sistem apakah
17
masih dalam kondisi kelayakan untuk digunakan. Hal – halyang dilihat dan diperhatikan adalah seperti kebocoran, kondisi masih bagus atau tidaknya komponen, dan lain sebagainya. Melakukan pengecekan visual bertujuan untuk mempermudah dalam menemukan penyebab permasalahan (kerusakan).
3.2.4 Tuliskan semua kemungkinan penyebab
Identifikasi kemungkinan kerusakan dan identifikasi sebanyak mungkin penyebab problem yang diketahui.Bila problem tidak memiliki penyebab yang jelas, persempit problem menjadi subsistem dan coba lagi untuk mengidentifikasi penyebab tersebut .Jika problem masih belum bisa ditemukan, maka kumpulkan kembali informasi sebanyak mungkin.
Menuliskan semua kemungkinan penyebab kerusakan bertujuan untuk mempermudah dalam menemukan penyebab problem yang sedang terjadi.
3.2.5 Lakukan Test dan Mencatat Hasilnya
Lakukan pengetesan pada sistem yang dicurigai mengalami masalah serta kemungkinan–kemungkinan komponen yang rusak.Kumpulkan informasi tambahan untuk kemungkinan– kemungkinan kerusakan, variasikan pengujian suatu komponen dalam waktu yang bersamaan untuk menguji kemungkinan penyebab bila tidak terbiasa dengan sistem atau komponen tersebut.
Bila pengujian memakan waktu lama atau mahal, cobalah untuk melakukan test untuk menyingkirkan beberapa kemungkinan penyebab sekaligus setiap kali melakukan test, jangan pernah berasumsi bahwa semua parts yang baru selalu beroperasi dengan baik.Kurangi jumlah kemungkinan penyebab dengan pendekatan yang sitematis.Simulasikan problem, dan test komponen atau sistem yang dicurigai.
18
Catat semua hasil test, dan penyetelan yang dilakukan serta patuhi peraturan keselamatan kerja saat melakukan pengujian.
Melakukan test serta mencatat hasil pengetesan bertujuan untuk mengetahui kerja sistem,apakah sistem pada alat tersebut bekerja sesuai standar operasinya dan memudahkan untuk menganalisa kerusakan yang terdapat pada sistem.
3.2.6 Temukan akar masalah
Persempit penyebab terjadinya masalah dengan melakukan pengetesan sistem dan menganalisa kemungkinan penyebab masalah serta tentukan akar penyebab masalah yang terjadi.
3.2.7 Perbaiki kerusakan
Lakukan prosedur yang dilakukan untuk memperbaiki/ menghilangkan problem pada alat simulasi dan catalah hasil pengujian, parts yang diganti dan penyetelan yang dilakukan serta patuhi aturan – aturankeselamatan kerja selama melakukan proses perbaikan.
Memperbaiki kerusakan merupakan hasil dari langkah – langkah diatas. Memperbaiki kerusakan bertujuan supaya alat simulasi dapat beroperasi kembali sesuai dengan standar operasi kerjanya dan memastikan problem atau kerusakan sudah teratasi.
3.2.8 Analisa mengapa problem terjadi
Catat dan periksa setiap problem atau kerusakan yang didapat dengan beberapa pengujian sistem dan komponen sistem. Bila kerusakan masih muncul setelah melakukan perbaikan dan penyetelan (atau muncul problem baru) lakukan prosedur troubleshooting lagi.
Menganalisa mengapaproblem bisa terjadi merupakan tahap akhir dari langkah troubleshooting, karena bertujuan untuk menemukan penyebab kerusakan sistem dan komponen sistem tersebut serta
19
memberikan solusi cara perawatan, pencegahan agar problem serupa tidak terjadi lagi.
Troubleshooting mempunyai uraian dan tahapan – tahapan yang harus di ikuti, tabel dibawah ini merupakan uraian dan tahapan – tahapan yang telah di rekomendasikan. Dapat kita lihat pada tabel 2.1.
STEP I. Uraian II. Tahap
1
2
Yakinkan Problem benar – benar terjadi
Tentukan Problem dengan mancatat
Tahap pendefinisian Problem T ROUB L E S HO OT E R M AI N JOB 3 4 5 6
Periksa air conditioner secaravisual
Catat kemungkinan penyebab kerusakan
Periksa air conditionersecara operasional
Temukan root cause (penyebab)/ part terkait (tentukan berdasarkan logika dengan fakta yang ada, hindari dugaan yang tak berdasar)
Tahap evaluasi Problem
7 Benahi Problem / perbaiki kerusakan Penyempitan masalah
*
8 Analisa kerusakan : mengapa Problem bisa terjadi
Analisa kerusakan
( untuk mencegah Problem terulang)
*
20
Dari langkah – langkah troubleshooting pada tabel (2.1), kita juga bisa membuat berupa diagram alir troubleshooting, yaitu :
Mulai Mengumpulkan Informasi Dapatkan Problem MenerjemahkanInform asi
Membuat Daftar Kemungkinan Penyebab Problem Interpretasi Informasi Mendapatkan Informasi Dapatkan Evaluasi Apakah Hipotesa Benar Akhir Tidak Ya
21
Gambar 3.1 Diagram alir troubleshooting
Dari diagram alir di atas langkah–langkah troubleshooting dapat di uraikan sebagai berikut: di mulai dengan mengumpulkan semua informasi, data–data serta keluhan mengenai alat simulasi air conditioner. Setelah informasi tersebut terkumpul, terjemahkan informasi yang didapat tadi. Dari hasil terjemahan itu, maka akan mendapat masalah yang terjadi. Dari masalah tersebut maka akan dapat dibuat daftar kemungkinan penyebab terjadinya masalah dari alat simulasi Apabila kemunngkinan penyebab terlalu sulit untuk di dapatkan, maka harus mengulang mengumpulkan informasi lagi.
Setelah daftar kemungkinan penyebab terjadinya masalah dapat dibuat, maka kita akan mendapatkan informasi yang lebih pasti. Kemudian lakukan interpretasi terhadap informasi tersebut. Interpretasi ini bertujuan untuk lebih menguatkan pengertian dari informasi yang didapat tersebut sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan penafsiran dapat di perkecil. Dari hasil interpretasi ini kemudian lakukan evaluasi hasil dari evaluasi ini akan didapatkan hipotesa dari informasi tersebut. Apabila tidak didapatkan maka harus kembali ke tahapan mendapatkan informasi. Hipotesa ini merupakan jawaban sementara dari masalah yang terjadi. Apabila hipotesa tidak di dapatkan maka harus kembali informasi yang didapatkan sebelumnya. Namun, apabila hipotesa tersebut benar maka lanjutkan untuk proses perbaikan alat simulasi air conditioner yang mengalami masalah tersebut.
22
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Alat simulasi air conditioning system
Gambar 4.1 Alat simulasi air conditioning system
Alat simulasi air conditioning system adalah sebuah alat peraga yang digunakan untuk mensimulasikan cara kerja dan komponen-komponen dari air conditioning system . komponen-komponen dari alat ini terdiri dari kompresor sanden 507, kondensor , evaporator, expansion valve, extra fan dan motor listrik 3 HP singel phase sebagai penggerak kompresor dengan menggunakan v-belt. Alat ini terangkai secara sederhana dengan menggunakan stand untuk dudukan komponen nya seperti yang ditunjukan pada gambar diatas.
23
4.2 langkah – Langkah Troubleshooting
Untuk mampu menyelesaikan troubleshooting seorang troubleshooter harus mampu melakukan pekerjaan troubleshooting sesuai langkah – langkah troubleshooting antara lain:
4.2.1 Yakinkan Problem Benar – Benar Terjadi
Untuk meyakinkan bahwa permasalahan tersebut benar- benar terjadi kita dapat menentukan masalah dengan cara menghimpun dan mengumpulkan informasi berdasarkan keluhan ada pun pertanyaan mendasar yang dilakukan untuk mendapatakan informasi antara lain:
-Apa yang terjadi?
Pada saat alat simulasi di operasikan suhu pada evaporator tidak dingin.
-Apa yang anda lakukan saat problem terjadi?
Mematikan air conditioner lalu memeriksa dan mencoba menghidupkan lagi.
-Apakah sebelum terjadi problem air conditioner bekerja dengan baik?
Sebelum terjadinya problem, air conditioner bekerja dengan baik. -Kapan terakhir kali air conditioner di hidupkan?
Air conditioner di hidupkan kurang lebih 2 bulan yang lalu.
4.2.2 Mencatat semua kemungkinan penyebab terjadi problem
Mengumpulkan dan menulis seluruh informasi yang ada untuk mempermudah troubleshooter dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada air conditioner. Adapun beberapa informasi yang perlu di kumpulkan terhadap masalah yang terjadi pada alat simulasi air conditioning system ini antara lain:
24
1) Mencatat fakta yang terjadi.
Evaporator tidak dapat menghasilkan suhu dingin saat air conditionier di hidupkan.
2) Kondisi opersi air conditioner.
-kondisi tempat air conditioning digunakan
Air conditioner digunakan di ruangan tertutup.
-Apakah kerusakan yang sama pernah terjadi sebelumnya?
Tidak, kerusakan ini belum pernah terjadi sebelumnya.
-Sebelum menghidupkanair conditioner apakah tindakan pengecekan selalu dilakukan?
Tidak selalu dilakukan pengecekan.
4.2.3 Periksa air conditioner secara visual
Melakukan pemeriksaan secara visual bertujuan untuk mengetahui kondisi system dan komponen system apakah masih dalam kondisi layak digunakan atau layak beroperasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pemeriksaan yaitu seperti kebocoran, keretekan, korosi dan kerusakan fisik lainnya. Pada permasalahan ini kita hanya memeriksa komponen-komponen air conditioner secara visual.
-Pengecekan magnetic clucth secara visual.
25
Setelah melakukkan pengecekan magnetic clucth secara visual ditemukan beberapa kabel telah dipotong dan disambung, lalu dililit kembali dengan plaster hitam dan lakban kertas. Sedangkan pemeriksaan bagian bagian yang lain tidak menemukan masalah atau tidak ditemukan keanehan maka dilanjutkan ke langkah selanjutnya.
4.2.4 Menuliskan kemungkinan penyebab kerusakan.
Menuliskan kemungkinan penyebab kerusakan bertujuan untuk mempermudah dalam menemukan penyebab problem yang sedang terjadi. Identifikasi kemungkinan kerusakan penyebab problem yang terjadi berdasarkan informasi dan data yang telah dari pengetesan serta dari data – data pemeriksaan secara visual.
Maka dapat ditulisakan kemungkinan kemungkinan penyebab kerusakan antara lain:
1.Magnetic clucth rusak.
Kemungkinan apabila magnetic clucth rusak maka kompresor tidak dapat mensirkulasikan refigeran ke seluruh sistem dan komponen dari air conditioner dikarenakan preassure plate tidak dapat engage ke pulley kompresor.
2.Kompresor rusak
Jika kemungkinan kompresor yang mengalami masalah atau kebocoran maka kompresor tidak dapat membut aliran dengan baik sehingga tekanan yang di butuhkan tidak tercapai juga dapat membuat komponen air conditioner tidak dapat bekerja dengan baik seperti suhu evaporator tidak dingin jika tekanan refigeran rendah.
3.Kebocoran pada pipa dan hose.
kebocoran pipa dan hose dapat mengakibatkan penurunan tekanan gas refigeran sehingga evaporator suhu yang dihasilkan evaporator tidak dingin atau kurang optimal.
26
4.Kebocoran seal
Pada kompresor terdapat seal. Seal ini adalah pelapis yang berupa karet. Jika seal ini mengalami keretakan atau robek maka akan timbul kebocoran. Efeknya, tekanan pada kompresor untuk mensirkulasikan refigeran ke sistem air conditioner menjadi lemah sehingga suhu pada evaporator tidak dingin.
4.2.5 Lakukan pengetesan dan catat hasilnya
Setelah menuliskan kemungkinaan penyebeb terjadi kerusakan lanjutkan kelangkah selanjutnya yaitu dengan melakukan test pada bagian bagian air conditioner di antaranya:
1. Test pressure
Pada langkah pengetesan pressure test atau pengecekan tekanan dilakukan menggunakan manifold gauge didapatkan hasil pressure 10 psi sedangkan spesifikasi pressure refigeran 50 psi, dari pengetesan tekanan ini telah di temukan masalah yakni kurangnya pressure refigeran dalam sistem sehingga suhu yang dihasilkan evaporator tidak dingin.
2. Pengetesan magnetic clucth
Pengetesan magnetic clucth dilakukan dengan cara menghidupkan swicth pada evaporator dan melihat apakah preassure plate engage ke pulley kompresor. Hasil pengetesan menunjukan magnetic clucth dalam