BAB IV. HASIL PENELITIAN
B. Penyajian dan Analisis Data.
1. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Latar belakang munculnya kebijakan Manajemen Barbasis Sekolah (MBS) memberikan pengaruh besar pada bagaimana MBS di terapkan, kemunculan yang tidak berasal dari inisiatif msyarakat, dan cenderung karena proyek dengan dana yang melimpah sangat mempengaruhi car pemerintah mengimplementasikannya di sekolah-sekolah.
Dalam penerapan manajmenen berbasis sekolah (MBS) pihak-pihak yang terkait adalah semua stekholder yang meliputi komponen-komponen
sekolah, akan tetapidalam hal ini penulis hanya membatasi 3 komponen saja dari 7 komponen-komponen MBS yang ada.
Peneliti melakukan intervew dengan kepala sekolah yang mengatakan: “Dengan adanya MBS sekolah dapat berkembang bersama-sama dengan stekholder yang ada, selain itu sekolah bisa mandiri dengan sistem otonomi sekolah itu sendiri”101
Sedangkan menurut waka kurikulum yang mengatakan bahwa:
“Manajemen Berbasis Sekolah diterapkan mulai dari bidang
administrasi, perangkat pembelajaran, buku kurikulum yang
menggunakan KTSP, struktur kurikulum dengan pembagian alokasi waktu dan mengajar yang semua itu diatur oleh sekolah”102
Sejalan dengan hal diatas, Drs. Nadhofah selaku guru Agama mengatakan:
“Sejak diterapkannya kurikulum KTSP, maka sejak saat itu ya...semua manajemen yang ada itu didominasi oleh sekolah yang menyangkut otonomi sekolah itu sendiri, jadi sekolah diberi hak penuh untuk mengatur sekolah sesuai dengan keadaan sekolahnya masing- masing”103
Jadi, dengan adanya manajemen berbasis sekolah (MBS) di SMPN 4 Kepanjen, sekolah dapat mengatur otonominya sendiri sesuai dengan keadaan sekolah itu sendiri
Manajemen pendidikan merupakan alternatif srategis untuk
meningkatakan kualitas pendidikan. Manajemen sekolah secara langsung akan
101
Drs. Sunarman Rokhiyanto, M. Si (Kepala SMPN 4 Kepanjen ) Intervew pada 30 Januari 2009. Jam: 09.00
102
Ratminingsih S. Pd. M. Si (Waka Kurikulum) Intervew pada 15 Januari 2009. Jam: 09.00
103
Drs. Nadhofah (Guru pendidikan Agama Islam) Intervew pada 15 Januari 2009. Jam: 08.30
mempengaruhi dan menentukan efektif tidaknya kurikulum, berbagai peralatan yang ada, alokasi waktu mengajar dan proses pembalajaran. Dengan demikian upaya peningkatan kualitas pendidikan harus di mualai dengan pembenahan manajemen sekolah, di samping peningakatan kualitas guru dan sumber belajar.104
Tujuan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di harapkan lebih mengarah dan terfokus pada peningkatan mutu yang merupakan agenda utama pendidikan dan dalam hal ini peneliti melakukan intervew dengan kepala sekolah, yang mengatakan:
“Adapun tujuan diterapkannya MBS seperti yang saya katakan tadi ya, yaitu dimana sekolah dapat mengatur otonominya sendiri, yaitu dengan bekerja sama dengan semua stekholder yang ada, agar nantinya sekolah dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya dengan mengedapankan visi dan misi sekolah.”105
Oleh karena itu dengan adanya penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ini, sekolah diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang dalam hal ini yakni pendidikan Agama Islam, dan tidak terlepas dari tanggung jawab semua stekholder yang ada di dalamnya.
Selanjutnya penulis akan menjelaskan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 4 Kepanjen secara terperinci yang meliputi 7 komponen. Namun dari 7 komponen tersebut penulis hanya membatasi 3 komponen saja, yaitu manajemen kurikulum dan program pengajaran, manajemen kesiswaan, dan manajemen sarana dan prasarana.
104
Ade Irawan, dkk, Mendayagunakan Sekolah, Studi Kebijakan MBS di Jakarta, Indonesia corruption wats. Jakarta. 2004. hal : 113.
105
1. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran.
Dalam manajemen kurikulum dan program pengajaran ini adalah sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum yang sudah diterapkan oleh pemerintah namun tidak diperbolehkan untuk mengurangi isi kurikulum yang sudah berlaku secara nasional, hal ini sesuai dengan intervew dengan Waka Kurikulum yang mengatakan:
“Di dalam program penyusunan administrasi pembelajaran, yang terdiri dari perangkat pembelajaran harus sesuai dengan struktur isi kurikulum, oleh karena itu semua guru harus dapat mempersiapkan administrasi pembelajaran yang ditekankan harus lengkap, dan setiap guru mempersiapkan untuk membuat perangkat pembelajaran mulai dari membuat program tahunan, promes, silabus, RPP dll. Yang semua itu tidak terlepas dari kalender pendidikan yang sudah diberikan dan itu juga ketetapan dari pusat”.106
Jadi meskipun sekolah sudah dapat mengembangkan kurikulum dam programnya sendiri, namun kurikulum yang sudah dikembangkan di sekolah tidak boleh menyimpang jauh dari kurikulum pusat.
2. Manajemen kesiswaan.
Manajemen kesiswaan atau manajemen kemuridan (peserta didik) merupakan salah satu bidang operasional MBS yang ada di SMPN 4 Kepanjen. Manajmenen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan terdadap kegiatan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari sekolah. Dalam hal ini peneliti melakukan intervew dengan waka kesiswaan yang mengatakan bahwa:
“Dalam manajemen berbasis sekolah ini, saya sebagai waka kesiswaan bertugas untuk mempersiapkan Ketika ada penerimaan murid baru misalnya itu ya. Dan juga harus bertanggung jawab mengenai bimbingan serta pembinaan kedisiplinan siswa, selain itu
106
dalam kaitannya dengan pendidikan Islam, saya bersama dengan guru agama Islam mengadakan beberapa ekstrakulikuler keagamaan misalnya saja tartil, baca tulis al Qur’an, dll.”107
Berdasarkan hasil intervew diatas, bahwa dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di SMPN 4 Kepanjen pada bidang kesiswaan mempunyai tugas pokok diantaranya mempersiapkan saat penerimaan siswa baru, juga harus bertanggung jawab atas bimbingan dan pembinaan kedisiplinan, selain itu untuk meningkatkan mutu pendidikan agama Islam maka waka kesiswaan bekerja sama dengan guru agama Islam mengadakan ekstrakulikuler keagamaan yang nantinya dapat meningkatkan mutu pendidikan agama Islam.
3. Manajemen sarana dan prasarana.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan.
Hasil intervew dengan kepala sekolah, yang mengatakan:
“Secara umum dalam bidang akademis, setiap tahun di SMPN 4 Kepanjen dapat meluluskan siswa 100%, akan tetapi secara sarana prasarananya masih belum memadai”.108
Hasil intervew dengan bagian sarana dan prasarana yang mengatakan: “Diantaranya mempersiapkan sarana yang diperlukan misalkan saja menyediakan alat-alat dan media pengajaran untuk menunjang proses pendidikan khususnya proses belajar mengajar, juga menjaga segala prasarana yang ada demi menunjang jalannya proses pendidikan.”109
107
Dedik S. pd (Bagian Kesiswaan) Intervew pada 30 Januari 2009. Jam: 09.30
108
Drs. Sunarman Rokhiyanto, M. Si, Op Cit. Intervew pada 30 Januari 2009
109
Drs. Bambang. S. M, Sc (Bagian Sarana dan Prasarana) Intervew pada 30 Januari 2009. Jam: 10.00
Dalam proses pendidikan atau pengajaran, sarana dan prasarana merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam proses pendidikan atau pengajaran, karena dengan adanya sarana dan prasarana di SMPN 4 Kepanjen maka dapat menunjang terlaksananya kegiatan belajar mengajar.
Sedangkan dalam strategi Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan yang dalam hal ini pendidikan Agama Islam, dimana Kepala sekolah sebagai figur kunci dalam mendorong perkembangan kemajuan sekolah, kepala sekolah tidak hanya meningkatkan tanggung jawab dan orientasinya dalam program-program sekolah, kurikulum dan keputusan personal, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan akuntabilitas keberhasilan siswa dan programnya. Kepala sekolah harus pandai dalam memimpin kelompok dan pendelegasian tugas dan wewenang.110
Dari hasil intervew dengan kepala sekolah, peneliti memperoleh beberapa strategi dan kebijakan dalam peningkatan mutu pendidikan agama Islam dengan pelaksanaan manajemen sebagai mana yang di sampaikan sebagai berikut:
“Kami berkoordinasi dulu ya bersama para staf, jadi program-program apa saja yang akan dilaksanakan, kemudian kami florkan bersama komite sekolah mengenai program-program MBS tersebut, jadi saling saring begitu ya, antara komite sekolah dan para staf-staf sekolah jadi untuk langkah-langkah kedepan itu bagaimana, lalu setelah itu kami sosialisasikan dengan lingkungan atau warga sekolah, dan harapan kami dengan program-program MBS tersebut diharapkan dapat memajukan sekolah baik itu dalam bidang akademis maupun sosial.”111
110
Nur Cholis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: PT. Gramedia Widia. Hal:
111
Selanjutnya Waka Kurikulum dan Program Pengajaran mengatakan: “Dalam hal ini ya, perangkat pembelajarannya harus dilengkapi, terutama RPPnya ya, karena titik tekannya disini, jadi jika RPPnya itu dibuat dengan sempurna penilaiannya juga baik, akan tetapi sebaliknya apabila RPPnya itu tidak baik maka penilaiannya juga tidak jelas.”112
Sedangkan Drs. Nadhofah selaku guru Pendidikan Agama Islam mengatakan:
“Berkaitan dengan KTSP maka diharapakan semua mata pelajaran termasuk PAI bisa mengacu kepada praktek-praktek dan mengacu pada nilai-nilai kehidupan sehari-hari, dan saya sendiri selaku guru agama islam mempunyai program yang alhamdulillah sudah terealisasi, yaitu program mata pelajaran terpadu, yang didalamnya melibatkan semua guru agama, guru sains, dan guru bahasa, jadi kami mengadakan kerja sama sehingga bisa efektif jadi satu bentuk karya dapat dinilai dari 3 sisi, baik dari agamanya, sains maupun bahasa.”113
Adapaun strategi yang dilaksanakan oleh SMPN 4 kepanjen sudah cukup baik, terbukti dengan adanya koordinasi yang matang antara kepala sekolah dengan para staf-staf, begitu juga dalam hal program pengajaran yang ditekankan harus lengkap semua perangkat pembelajaran, ditambah lagi dengan adanya program dari guru agama yang bekerja sama dengan guru Sains dan Bahasa untuk mengadakan program amata pelajaran terpadu, sehingga dengan adanya mata pelajaran terpadu tersebut diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan agama Islam.
112
Ratminingsih S. Pd. M. Si. Op Cit. Intervew pada 15 Januari 2009.
113
2. Faktor pendukung serta penghambat dalam menerapkan Manajemen Pendidikan Agama Islam (MBS).
Suatu program yang sudah dicanangkan tidak akan bisa berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung dan untuk merealisasikan MBS dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan agama Islam dengan baik dan sesuai dengan visi dan misi sekolah, maka secara tidak langsung memerlukan dukungan dari semua komponen yang ada, karena komponen yang ada di sekolah harus saling bekerja sama untu meningkatkan mutu pendidikan agama Islam.
Penerapan Manajeman Berbasis Sekolah (MBS) akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung oleh SDM yang profesional untuk mengoperasikan sekolah.
Intervew dengan kepala sekolah yang mengatakan:
“Harus ada kerja sama begitu ya.. antara para staf-staf dan semua pihak sekolah dan juga masyarakat (wali murid) sehingga program-program yang sudah dicanangkan bisa tercapai seperti apa yang diharapkan.”114
Senada dengan hal diatas, Bu Nadhofah mengatakan:
“Adanya kerjama antara kepala sekolah dan semua pihak sekolah, kerena kadang program-program yang sudah dicanangkan tidak sesuai dengan realitas yang ada di lapangan, jadi dengan adanya kerjasama yang baik maka semua program yang sudah di canangkan bisa tercapai dengan baik juga selain itu juga terbentur dengan siswa yang banyak maka hal itu juga dapat mengahambat terlaksananya MBS.”115
114
Drs. Sunarman Rokhiyanto, M. Si, Op Cit. Intervew pada 30 Januari 2009
115
Jadi dengan adanya kerjasama antara kepala sekolah, para staf juga semua pihak sekolah semua program-program yang telah dicanangkan bisa terealisasi dengan baik yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan di SMPN 4 Kepanjen yang dalam hal ini mutu Pendidikan Agama Islam. Sebaliknya apabila tidak ada kerja sama yang baik antara kepala sekolah dan semua pihak-pihak yang terkait termasuk masyarakat maka apa yang sudah dicanangkan tidak akan sesuai dengan apa yang sudah diharapkan
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Dalam penelitian ini, pengumpulan data diawali dengan
menghubungkan bagian administrasi SMPN 4 Kepanjen, kemudian menemui kepala sekolah SMPN 4 Kepanjen untuk mendapatkan perizinan dalam penelitian, setelah mendapatkan izin, peneliti segera melaksanakan penelitian.
Berhubung sekolah masih diadakan ujian semester, jadi proses penelitian ditunda sampai minggu depan. Setelah ujian selesai, seminggu kemudian peneliti datang ke sekolah untuk memulai proses penelitian, akan tetapi ada sedikit hambatan, dikarenakan guru-guru yang telah ditunjuk oleh peneliti sebagai informan masih sibuk merekap nilai ujian semester, oleh karna itu, untuk proses wawancara tidak dapat dilaksanakan pada saat itu, dan peneliti hanya memperoleh data dari dokumen sekolah yang meliputi, sejarah berdirinya sekolah, visi dan misi, tujuan sekolah, keadaan guru dan sekolah, dll. Setelah beberapa hari kemudian, barulah peneliti dapat melaksanakan wawancara dengan pihak-pihak terkait. Selaku informan, yakni proses wawancara dimulai dari pendidik selaku guru agama, waka kurikulum, Kesiswaan, dan bagian sarana prasarana serta kepada kepala SMPN 4 Kepanjen.
Setelah peneliti memperoleh data-data dari dokumentasi, wawancara, juga proses observasi, maka peneliti mulai merekap data-data yang telah diperoleh dan menganalisis data-data tersebut, dari analisis data, peneliti dapat
mengetahui bagaimana penerapan MBS dan strategi MBS di SMPN 4 Kepanjen, juga beberapa Faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kepanjen.
1. Penerapan dan strategi Manajemen Berbasis Sekolah.
Dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu didukung kemampuan manajerial para kepala sekolah. Sekolah perlu berkembang baik dari tahun ketahun. Karena itu hubungan baik antar guru perlu diciptakan agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan mengenangkan. Demikian halnya penataan penampilan fisik dan manjemen sekolah perlu dibina agar sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang dapat menumbuhkan kreatifitas, disiplin, dan semangat belajar peserta didik.
Dari hasil penelitian, penulis dapat mengatakan bahwa penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 4 Kepanjen cukup baik hal ini terbukti dari hasil interview dengan kepala sekolah dan waka kurikulum yang mengatakan bahwa dengan adanya penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di lingkungan SMPN 4 Kepanjen maka sekolah dapat mengatur otonominya sendiri sehingga sekolah bisa mandiri sesuai dengan kemampuannya, mulai dari bidang administrasi, perangkat pembelajaran, buku kurikulum yang menggunakan KTSP, struktur kurikulum dengan pembagian alokasi waktu, mengajar ,dll yang semua itu diatur oleh sekolah dengan mengedepankan visi dan misi sekolah.
Untuk menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah secara efektif dan efisien maka kepala sekolah SMPN 4 Kepanjen bersama-sama dengan semua stekholder yang ada melakukan kerja sama yang baik agar nantinya sekolah dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya dengan mengedapankan visi dan misi sekolah. Dengan adanya kerjasama dengan orang tua misalkan dalam bentuk pembuatan kantin sekolah, kepala sekolah juga sering melakukan koordinasi dengan wali murid untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Selain itu, dalam rangka menerapkan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien maka guru juga harus berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Yang dalam hal ini adalah guru pendidikan agama Islam yang merupakan figur dalam pembentukan moral peserta didik. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran.
Sedangkan untuk strategi dalam menerapkan MBS di SMPN 4 Kepanjen maka kepala sekolah bersama dengan staf-staf yang terkait merencanakan program-program apa saja yang akan di canangkan kemudian di florkan dengan komite sekolah dan setelah itu disosialisasikan dengan semua pihak sekolah. Selain itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan agama Islam, maka semua guru agama di SMPN 4 Kepanjen bekerja sama dengan guru Sains, dan guru bahasa untuk mengadakan mata pelajaran terpadu, diharapkan dengan adanya mata pelajaran terpadu tersebut dapat meningkatkan mutu pendidikan agama Islam.
Oleh karena itu, dengan adanya penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) ini, diharapkan sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan yang dalam hal ini yakni pendidikan Agama Islam, dan tidak terlepas dari tanggung jawab semua stekholder yang ada di dalamnya.
Selanjutnya penulis akan menjelaskan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 4 Kepanjen secara terperinci yang meliputi 7 komponen. Namun dari 7 komponen tersebut penulis hanya membatasi 3 komponen saja, yaitu manajemen kurikulum dan program pengajaran, manajemen kesiswaan, dan manajemen sarana dan prasarana.
1. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran.
Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian dari MBS. Manajemen kurikulum dan program pengajaran mencakup kegiatan perencanaan, dan penilaian kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu level sekolah yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran.
Dalam manajemen kurikulum dan program pengajaran di SMPN 4 Kepanjen, sekolah diberi kewenangan untuk mengembangkan kurikulum yang sudah diterapkan oleh pemerintah namun tidak diperbolehkan untuk mengurangi isi kurikulum yang sudah berlaku secara nasional. Di dalam program penyusunan administrasi pembelajaran, yang terdiri dari perangkat pembelajaran harus sesuai dengan struktur isi kurikulum, oleh karena itu
semua guru SMPN 4 Kepanjen harus dapat mempersiapkan administrasi pembelajaran yang ditekankan harus lengkap, dan setiap guru mempersiapkan untuk membuat perangkat pembelajaran mulai dari membuat program tahunan, promes, silabus, RPP dll. Yang semua itu tidak terlepas dari kalender pendidikan yang sudah diberikan dan semua itu juga ketetapan dari pusat. 2. Manajemen kesiswaan.
Dalam manajemen Kesiswaan di SMPN 4 Kepanjen, mempunyai beberapa tugas pokok diantaranya mempersiapkan saat penerimaan siswa baru, bagian kesiswan juga harus bertanggung jawab atas bimbingan dan pembinaan kedisiplinan, agar kegiatan pembelajaran di SMPN 4 kepanjen dapat berjalan lancar, tertib dan teratur serta mencapai tujuan pendidikan sekolah.
Selain itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan agama Islam maka waka kesiswaan bekerja sama dengan guru agama Islam mengadakan ekstrakulikuler keagamaan sehingga mutu pendidikan agama Islam dapat ditingkatkan. Adapun ekstrakulikuler yang ada di SMPN 4 Kepanjen misalkan saat bulan ramadhan ada kegiatan pondok ramadhan, baca tulis al Qur’an, kaligrafi, dan setiap malam jum’at legi di SMPN 4 Kepenjen selalu diadakan baca yasin bersama, kemudian ada juga hadrah (terbangan), dan samrohan. Sehingga dengan adanya kegiatan keagamaan tersebut siswa SMPN 4 Kepenjen memiliki kedisiplinan dalam beragama terutama kedisiplinan dalam melaksanakan ibadah. Juga dengan adanya kegiatan keagamaan tersebut diharapkan para peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual saja akan tetapi memiliki akhlak yang mulia.
3. Manajemen sarana dan prasarana.
Dari hasil intervew dengan kepala SMPN 4 Kepenjen, bahwa secara sarana dan prasarana masih kurang memadai, akan tetapi bagian sarana dan prasarana telah mengupayakan perbaikan dan pembaharuan sarana dan prasarana di SMP negeri 4 kepanjen, sehingga dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah juga fasilitas yang mendukung bagi terlaksananya proses KBM di sekolah, Dan dengan upaya tersebut dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan.
Oleh karena itu, dengan adanya manajemen sarana dan prasarana yang baik, diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid yang ada di sekolah.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat penerapan MBS.
Suatu program yang sudah dicanangkan tidak akan bisa berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung dan untuk merealisasikan MBS dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan agama Islam dengan baik dan sesuai dengan visi dan misi sekolah, maka secara tidak langsung memerlukan dukungan dari semua komponen yang ada, karena komponen yang ada di sekolah harus saling bekerja sama untuk meningkatkan mutu pendidikan agama Islam.
Penerapan Menejeman Berbasis Sekolah (MBS) akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung oleh SDM yang profesional untuk mengoperasikan sekolah.
Adanya kerjasama yang baik antara kepala sekolah, para staf juga semua pihak sekolah semua program-program yang telah dicanangkan bisa terealisasi dengan baik yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan di SMPN 4 Kepanjen yang dalam hal ini mutu Pendidikan Agama Islam. Sebaliknya apabila tidak ada kerja sama yang baik antara kepala sekolah dan semua pihak-pihak yang terkait termasuk masyarakat maka apa yang sudah dicanangkan tidak akan sesuai dengan apa yang sudah diharapkan. Oleh karena itu, dalam pengelolaan sekolah pada hakikatnya bukanlah merupakan kewenangan dan kewajiban kepala sekolah saja kan tetapi disini sekolah dalam pengelolaannya diharapkan bisa melibatkan stekholder yang ada. Karena melibatkan seluruh stekholder merupakan salah satu modal dasar guna mendukung terealisasikannya implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS) di SMPN 4 Kepanjen.
Adapun faktor pengahambat dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah di SMPN 4 Kepanjen adalah dari pihak peserta didik yang banyak dengan berbagai karakter, juga sarana dan prasarana yang kurang memadai di SMPN 4 Kepanjen. Oleh kerena itu, dalam mengatasi problematika peserta didik terutama mengenai masalah belajar yang dialami oleh siswa maka guru harus mendiagnosa kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Dari hasil diagnosis itu, guru bisa merancang pertolongan terhadap murid berupa
berbaikan belajar mengajar. Sedangkan untuk masalah sarana dan prasarana maka pihak sekolah dan masyarakat (wali murid) bekerja sama untuk membentuk donatur-donatur tetap guna biaya pendidikan, pembangunan sarana dan fasilitas, serta kelengkapan buku-buku yang semua itu merupakan faktor penting dalam pengembangan sekolah.
94 BAB VI PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan dari rumusan masalah dan keseluruhan hasil analisa, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: