BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALIS
B. Penyajian Data dan Analis
Di dalam sebuah penelitian haruslah disertai dengan sebuah data penyajian di dalamnya. Sebab data penyajian inilah yang akan dikaji dan dianalisa, sehingga dari data yang sudah teranalisa akan menghasilkan kesimpulan dalam penelitian ini. Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini maka peneliti akan menyajikan beberapa hasil pengumpulan data yaitu hasil observasi yang telah dilakukan peneliti dan diperkuat dengan hasil wawancara.
Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara dengan beberapa informan yang telah peneliti lakukan dari beberapa kalangan seperti: Tokoh Masyarakat desa Giri sekitar, Sesepuh desa Giri, Guru MI, Pedagang, serta Pengunjung tradisi malam selawe dari kalangan orang tua sampai remaja yang ada di desa Giri maupun pengunjung dari luar daerah Gresik. Maka akan diuraikan terkait dengan Makna mengenai Tradisi Malam Selawe di desa Giri Kabupaten Gresik. Sebagaimana yang telah dirumuskan suatu fokus penelitian sebelumnya yaitu:
62MuhammirS.Pd, Diwawancara oleh Penulis, Gresik 02 Spetember 2022
1. Proses Pelaksanaan Tradisi Malam Selawe Di Desa Giri Kedaton, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.
Tradisi malam selawe pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan memiliki proses atau tata cara pelaksanaan yang hampir sama dengan tradisi Maleman pada akhir bulan Ramadhan pada umumnya, mulai dari berziarah ke makam para Wali, beri’tikaf di masjid hingga mendirikan sholat sunnah malam dan berdzikir di masjid. Begitu pula yang terjadi di desa Giri yang masih memegang erat tradisi malam selawe pada akhir Ramadhan yang bertepatan pada malam Lailatul Qadar. Namun ada sedikit perbedaan dengan kebanyakan daerah pada umunya yang melaksanakan tradisi Maleman di masjid sebelum pukul 00.00. Kebanyakan masyarakat desa Giri justru melaksanakan tradisi malam selawe di masjid pada pukul 00.00 atau jam 12 malam. Untuk lebih lengkapnya berikut adalah rangkaian dalam pelaksanaan tradisi malam selawe di desa Giri:
a. Tempat Pelaksanaan Tradisi Malam Selawe
Jika di tempat lain, tradisi Maleman pada malam Lailatul Qadar seperti tradisi malam selawe ini dilakukan secara berkelompok (beberapa keluarga atau rombongan jama’ah berkumpul di masjid atau berziarah ke makam sunan giri), namun kebanyakan masyarakat Giri melaksanakan tradisi ini secara individu di berbagai tempat yang mustajab seperti di masjid atau berziarah ke makam sunan giri. Artinya setiap individu di desa Giri akan melakukan tradisi malam selawe secara bergantian di masjid atau berziarah ke makam. Bahkan tak
sedikitpun dari mereka ada juga yang mampir ke pasar malam untuk sekedar membeli makan atau minum untuk bekal berbuka puasa dan bekal untuk sahur.63
Bukan tanpa alasan, menurut penuturan dari Pak Muhammad Jamaluddin, kejadian ini disebabkan karena banyak’nya pengunjung dan peziarah yang datang dari luar kota memenuhi masjid maupun memenuhi makam Sunan Giri. Mereka yang datang rata-rata rombongan berjama’ah dengan menggunakan kendaraan besar seperti bis maupun mobil. Jika melaksanakan tradisi malam selawe secara bereklompok (rombongan para jama’ah) biasanya mereka langsung menuju ke makam untuk berziarah terlebih dahulu di makam Sunan Giri dan bacaan yang dibaca otomatis akan meluas, tidak hanya ditujukan pada leluhur keluarga kita, melainkan juga kepada para leluhur para wali dan leluhur dari masing-masing keluarga yang hadir.
Setelah mereka berziarah, biasanya beberapa dari rombongan mereka ada yang pergi ke pasar malam untuk membeli bekal makan dan minum yang akan dibawa saat sahur nanti.64
Dan sebagian mereka ada yang langsung menuju ke masjid. Ada beberapa rombongan lainnya yang mengikuti tradisi malam selawe tak hanya sampai pukul 00.00, mereka setelah berziarah langsung pulang.
Berbeda dengan jika mereka melaksanakan tradisi malam selawe secara individu, biasanya masyarakat giri yang datang setelah melaksanakan
63 Muhammad Jamaludin, Diwawancarai oleh Penulis, Gresik 05 September 2022
64Muhammad Jamaluddin, Diwawancarai oleh Penulis, Gresik 05 Spetember 2022
sholat isya dan taraweh di masjid masing-masing rumah. Pertama kali tempat yang mereka kunjugi yaitu berziarah ke makam sunan giri dan bacaan yang dibaca pun sangat ringkas, kemudian mereka langsung pergi ke masjid untuk berik’tikaf di masjid sampai setelah sholat shubuh. mereka yang datang ke masjid sungguh sangat mengharapkan akan kemuliaan di malam Lailatul Qadar. inilah alasan lain dari pelaksanaan tradisi malam selawe yang mayoritas dilaksanakan secara individu di masjid.
Selain melaksanakan secara berkelompok dan individu, ada pula beberapa masyarakat yang melaksanakan tradisi malam selawe secara resmi kelompok. Artinya, jika tradisi malam selawe secara berkelompok dilakukan oleh beberapa rombongan para jama’ah dari berbagai daerah, tradisi malam selawe semi kelompok ini dilakukan oleh beberapa keluarga dari satu keturunan yang sama. Garis keturunannya biasanya hanya sebatas dua sampai tiga generasi (Ayah,Ibu, dan Anak). biasanya semi kelompok ini selain setelah berkunjung ke makam mereka langsung pergi ke pasar malam apalagi yang datang dengan membawa anak. karena setelah anak diajak orang tua’nya berziarah mereka pun langsung meminta untuk melihat-lihat permainan atau jajan terlebih dahulu di pasar malam. Kemudian mereka pergi ke masjid untuk berik’tikaf di masjid, tetapi yang biasanya membawa seorang anak mereka pergi ke masjid cuman sebentar tidak sampai setelah sholat shubuh. bahkan ada yang tidak pergi ke masjid
setelah berziarah kemudian pergi ke pasar malam setelah itu langsung pulang.65
b. Waktu Pelaksanaan
Tradisi malam selawe ini selalu dilakukan pada malam ke-25 Ramadhan yang bertepatan pada malam Lailatul Qadar. Sebenarnya di Giri ketika memasuki 10 malam terakhir di akhir bulan Ramadhan sudah penuh dipadati oleh para peziarah yang datang, tetapi puncaknya untuk tradisi malam selawe di Gresik ini dilakukan pada malam ke-25 di bulan Ramadhan dengan tujuan setelah berziarah ke makam Sunan Giri mereka naik ke atas untuk pergi ke masjid dan berik’tikaf dengan mengharap kemuliaan di malam Lailatul Qadar. Sebagian besar masyarakat desa Giri, melakukan tradisi malam selawe mulai dari setelah berbuka puasa (beberapa ada yang melaksanakan tradisi malam selawe pada jam berbuka puasa) hingga setelah melaksanakan sholat shubuh. Alasannya yaitu jika melaksanakan tradisi malam selawe di siang hari, mereka pada sibuk dengan urusan mereka masing-masing ada yang sibuk bekerja, masih sekolah, bahkan ada yang sibuk untuk memasak untuk menyiapkan menu buka puasa bersama keluarga. Jadi untuk mengantisipasinya, banyak masyarakat yang memilih melaksanakan tradisi malam selawe di malam hari (setelah berbuka
65Yahya, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 05 September 2022
puasa atau menjelang saat berbuka puasa) untuk mengharap kemuliaan di malam lailatulqadar.66
Alasan lainnya yaitu jika mereka melaksanakan tradisi malam selawe pada siang hari, mereka tidak bisa menikmati pasar malam yang memadati jalanan mulai dari parkiran makam Sunan Giri hingga sepanjang jalan raya Kebomas. Para pedagang berjejer saling menggelar dagangan mereka, mulai dari menjual makanan khas desa giri seperti: makanan khas kota Gresik seperti: nasi krawu, ikan bandeng otak-otak, pudak, jubung dan yang lain-lain. Tak hanya menjual makanan khas daerah giri maupun makanan khas kota gresik, tetapi ada yang menjual minuman dan juga pernak-pernik untuk menjelang lebaran hari raya idul fitri. Pasar malam ini hanya bisa dinikmati pada saat malam hari setelah maghrib sampai pada saat sahur.67
Meskipun begitu, tetap ada beberapa keluarga yang memilih untuk melaksanakan tradisi malam selawe pada siang hari. Mereka juga memiliki alasan-alasan tersendiri, mulai dari keluarga mereka nanti malam ada acara sehingga tidak bisa mengikuti tradisi malam selawe di malam hari, hingga terlalu banyaknya pengunjung dan peziarah yang datang di malam hari, mereka khawatir akan berdesakan dengan para jama’ah lainnya yang umumnya orang tua tidak bisa saling berdesakan karena sudah faktor usia.
66Putri Wulandari, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 10 September 2022
67Rizki Aulawiyah, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 10 September 2022
Menurut penuturan dari Bu Faizah selaku Guru MI Al-Hasani dan merupakan warga asli dusun Giri, mengatakan bahwa sewaktu beliau masih kecil, beliau diajak oleh keluarganya untuk mengikuti tradisi malam selawe. Beliau melihat saking banyaknya keluarga dan rombongan para peziarah yang datang untuk melaksanakan tradisi malam selawe secara individu maupun berkelompok. Banyak dari rombongan peziarah dan pengunjung yang datang rata-rata menggunakan kendaraan besar seperti: bis bahkan juga ada yang menggunakan kendaraan pribadi seperti: mobil maupun sepeda motor yang memadati parkiran makam sunan giri.68
Pada zaman dahulu, tradisi malam selawe dilakukan pada malam hari tepat pukul 00.00 atau jam 12 malam, mereka sudah pada berbondong-bondong memenuhi masjid untuk berik’tikaf dengan harapan mendapatkan kemuliaan di malam Lailatul Qadar. Tapi, seiring berkembangnya zaman dan sudah mulai semakin rame pengunjung maupun peziarah yang datang dari luar kota, muncullah para pedagang yang semula hanya berjualan di daerah makam Sunan Giri, kini bertambah berjualan di sepanjang jalan Kebomas guna untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung dan peziarah yang datang. Pada zaman sekarang sangat berbeda jauh dengan zaman dahulu yang melaksanakan tradisi malam selawe guna untuk mengharap kemuliaan pada malam Lailatul Qadar kini berganti menjadi tradisi malam selawe yang
68Faizah S.Pd, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 15 September 2022
dipadati oleh para pedagang dan para pengunjung yang datang hanya fokus pergi ke pasar malam dan melupakan tujuan utama mereka melaksanakan tradisi malam selawe.69
c. Berziarah Kubur
Pada umumnya tradisi malam selawe ini dilakukan pada malam hari pada jam 12 malam. Akan tetapi, ada sebagian dari mereka yang datang pada saat setelah berbuka puasa atau pada saat setelah melaksanakan sholat isya’ dan tarawehdirumah mereka masing-masing.
Biasanya mereka yang datang sebelum jam 12 malam, mereka menyempatkan untuk berziarah kubur di makam Sunan Giri guna untuk mendo’akan para Wali dan memohon ampunan kepada Allah. Menurut penuturan dari Bapak Yon, selaku satpam yang menjaga di area makam Sunan Giri, beliau mengatakan bahwa pada saat bulan Ramadhan makam dipadati oleh para peziarah yang datang. Tak hanya pada bulan Ramadhan saja, pada bulan dan hari biasa pun makam selalu dipadati oleh para peziarah yang datang. Tetapi memang puncaknya pada memasuki 10 malam terakhir pada malam ke 25 dibulan Ramdhan yang bertepatan pada malam-malam ganjil yang disebut memiliki kemuliaan satu malam lebih baik dari pada seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar, menjadikan makam Sunan Giri pun semakin rame hingga saling berdesakan satu sama lain.70
69Faizah S.Pd, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 15 September 2022
70Bapak Yon, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 22 September 2022
Pada waktu COVID-19 kemarin makam Sunan Giri sempat ditutup demi menjaga kesehatan dan kenyaman satu sama lain dan atas perintah dari pemerintah untuk menghindari kerumunan. Namun Setelah 2 tahun lamanya ditutup makam Sunan Giri dibuka kembali dengan himbauan tetap menjaga jarak dan dibatasi peziarah yang datang hanya selama 15 menit untuk berziarah dengan kapasitas 50%.
Karena sangat banyaknya para peziarah yang antusias datang untuk bisa berdoa di depan makam Sunan Giri, mereka mengabaikan prokes yang ada. Bapak Yon sendiri mengaku bahwa beliau sangat bahagia sekaligus kuwalahan karena banyaknya peziarah yang datang.71
Menurut penuturan dari Bapak Yanto selaku juru kunci makam yang menjaga dan merawat makan Sunan Giri, beliau mengatakan bahwa tugas beliau tidak hanya menjaga dan merawat makam Sunan Giri saja, tetapi juga tau sejarah Sunan Giri mulai lahir hingga wafat dan beliau harus mampu menceritakan asal muasal Sunan Giri dan siapa saja yang di makamkan di daerah makam Sunan Giri kepada para peziarah yang ingin mengetahui seluk beluk sekaligus merawat dan menjaga keaslihan peninggalan Sunan Giri yang asli yaitu berupa Pusaka Keris dan Sajadah yang dipakai sholat, sementara untuk peninggalan Sunan Giri yang duplikatnya ada di museum yang terletak di Jl. Pahlawan Kota Gresik.72
71Bapak Yon, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 22 September 2022
72Bapak Yanto, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 22 September 2022
Pada saat tradisi malam selawe ada salah satu peziarah asal kota Gresik dusun Trate bernama ibu Dewi yang datang dengan bapak kepala kantor dan rekannya untuk berziarah di makam Sunan Giri. Pada saat berziarah mereka tak sengaja bertemu dengan bapak Yanto selaku juru kunci tersebut. ibu Dewi meminta izin untuk bisa melihat langsung makam Sunan Giri yang asli di dalam, kemudian setelah mereka diizinkan untuk melihat makam Sunan Giri ibu Dewi sangat kagum dan ingin tau cerita asal muasal Sunan Giri. Di tengah-tengah cerita, bapak Yanto selaku juru kunci tersebut menunjukkan peninggalan khas asli Sunan Giri yaitu berupa keris dan sajadah. Ibu Dewi sangat takjub akan kesempatan yang luar biasa diberikan oleh Allah kepada beliau untuk bisa melihat langsung makam Sunan Giri dan bisa memegang peninggalan khas asli Sunan Giri.73
d. Pasar Malam
Pada zaman dahulu tradisi malam selawe belum ada yang namanya pasar malam. Ada para pedagang biasa yang hanya menjual kebutuhan pokok bagi pengunjung atau peziarah yang datang seperti:
makanan dan minuman. Dan mereka berjualan di daerah makam Sunan Giri. Tapi seiring berkembangnya zaman semakin ramai pengunjung dan peziarah yang datang dari luar kota maka para pedagang pun juga ikut ramai berjualan hingga memenuhi sepanjang jalan Kebomas.
73Aisyah Amini, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 22 September 2022
Menurut Ibu Puput Rahmadhani selaku pedagang yang berjualan di pasar malam, beliau mengatakan bahwa memang sangat berbeda jauh tradisi malam selawe saat ini dengan zaman dahulu. Zaman dahulu kota Gresik yang dikenal dengan sebutan kota santri kental akan keagamaannya. Tapi sekarang zaman sudah semakin berkembang dan modern. Rata-rata yang mengikuti tradisi malam selawe ini tak hanya dari kalangan orang dewasa, bahkan anak remaja dan anak kecil pun juga sangat antusias mengikuti tradisi malam selawe ini. Tetapi mereka mengikuti tradisi malam selawe bukan untuk tujuan mengharap malam kemuliaan di malam Lailatul Qadar, akan tetapi mereka lebih fokus untuk berjalan-jalan di pasar malam.
Menurut penuturan dari Ibu Ananda Dea selaku warga Giri yang waktu itu juga mengikuti tradisi malam selawe bersama keluarganya (suami dan anak). Ibu Ananda Dea dan sekeluarga datang pada pukul 09.00 malam saat setelah sholat isya’ dan sholat taraweh. Beliau mengatakan bahwa jalanan semakin malam semakin rame pengunjung.
sehingga ibu Dea dan sekeluarga terjebak macet dan harus rela antri berdesakan dengan pengunjung lain. Padahal rumah Ibu Ananda Dea dekat dengan makam karena saking banyaknya pengunjung sehingga ibu Dea harus sabar bergantian dengan pengunjung lain. Ibu Ananda Dea mengikuti tradisi malam selawe semata-mata untuk mengharapkan kemuliaan pada malam Lailatul Qadar. Mereka langsung bergegas menuju ke makam Sunan Giri untuk berziarah terlebih dahulu, setelah
berziarah ibu Dea dan sekeluarga langsung menuju ke masjid untuk berik’tikaf di sana. Ibu Dea juga mengajarkan kepada anaknya tentang nilai-nilai keagamaan, nilai keagamaan itu sangat penting untuk diajarkan kepada anak pada usia dini. Serta menuturkan bahwa adanya pasar malam ini, sedikit menganggu perjalanan untuk menuju ke makam tetapi juga bisa membawa dampak yang sangat bermanfaat bagi masyarakat desa Giri dan pengunjung lainnya, karena bisa saling memenuhi kebutuhan satu sama lain.74
Tambahan dari Ibu Rosyali Puteri selaku pedagang penjual makanan khas asli desa Giri yang berjualan di sepanjang jalan Kebomas, beliau mengatakan bahwa adanya pasar malam ini, sangat bermanfaat bagi beliau karena dapat menambah penghasilan keuangan.
Beliau menuturkan bahwa hasil penjualannya meningkat 50% dari hari-hari biasa sebelum adanya tradisi malam selawe. Tradisi malam selawe hanya dilakukan sehari semalam setiap setahun sekali. Setiap tradisi malam selawe datang Ibu Rosyali Puteri sangat antusias menyambut dengan memasak berbagai makanan khas Giri yang akan diperjualkan.
Beliau sangat bangga bila dagangannya dapat dikenal dan bisa dinikmati oleh semua orang.75
e. Beri’tikaf di Masjid
Selain berziarah ke makam Sunan Giri dan adanya pasar malam yang semakin memeriahkan rangkaian acara tradisi malam selawe. Ada
74Ibu Ananda Dea, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 25 September 2022
75Ibu Rosyali Puteri, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 25 September 2022
rangkaian yang menjadi tujuan utama adanya tradisi malam selawe, yaitu berik’tikaf di masjid. Menurut penuturan dari bapak Muhammir selaku sesepuh yang tahu sejarah tradisi malam selawe, beliau mengatakan bahwa adanya pembangunan masjid di samping makam Sunan Giri itu baru bisa dikatakan munculnya tradisi malam selawe.
Bangunan masjid itu dibangun oleh cucu ke-4 Sunan Giri yaitu Sunan Prapen. Dan pada saat Sunan Giri telah wafat. Setelah Sunan Giri wafat, Sunan Prapen yang menggantikan Sunan Giri menjadi penerus penyebar Agama Islam di kota Gresik. Untuk menghargai dan mengenang jasa beliau Sunan Prapen membangunkan sebuah masjid di samping makam Sunan Giri, yang kini menjadi tempat tujuan utama adanya tradisi malam selawe. Sejak berdirinya masjid tersebut, banyak orang yang berbondong-bondong untuk berik’tikaf di masjid, seperti:
mendirikan sholat sunnah malam (sholat tasbih), berdzikir, menunaikan sholat wajib, hingga membaca Al-Qur’an. Setelah acara tradisi malam selawe selesai biasanya masjid tidak begitu ramai dipadati oleh peziarah, karena mayoritas mereka yang datang secara rombongan hanya untuk berziarah di makam Sunan Giri tidak menyempatkan untuk sholat di masjid. Tetapi ada sebagian rombongan yang ingin melaksanakan sholat jama’ah di masjid dan ingin tau asal usul bentuk dan sejarah berdirinya masjid.76
76MuhammirS.Pd, Diwawancari oleh Penulis, Gresik 02 September 2022
2. Makna Tradisi Malam Selawe Bagi Masyarakat Desa Giri Kedaton, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.
Tradisi malam selawe merupakan tradisi turun temurun yang diwariskan oleh cucu ke4 Sunan Giri yaitu Sunan Prapen. Salah satu masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi ini ialah masyarakat desa Giri, kecamatan Kebomas, kabupaten Gresik. Hampir seluruh masyarakat desa Giri melaksanakan tradisi malam selawe. Tak hanya dari masyarakat desa Giri saja, melainkan para pengunjung dan peziarah yang datang pun dari rombongan luar kota seperti: dari Banyuwangi, Jember, Lamongan, Jakarta, dan sebagainya. Bahkan tradisi ini sudah menjadi tradisi wajib yang harus dilaksanakan oleh masing-masing keluarga di setiap tahunnya, baik dilaksanakan secara berkelompok ataupun secara individu.
Untuk mempertahankan suatu tradisi agar dengan antusias yang besar, tentu membutuhkan dorongan yang kuat dari masing-masing pelaksanaannya. Dorongan ini bisa dilihat bagaimana masyarakat memaknai tradisi tersebut. begitu pula dalam tradisi malam selawe di desa giri, ada beberapa makna yang diungkapkan oleh masyarakat terkait tradisi ini.
Makna-makna tersebut ialah sebagaimana yang dijelaskan oleh masyarakat desa giri yaitu:
a. Bentuk Syukur
Sebagian besar masyarakat desa giri memaknai pelaksanaan tradisi malam selawe ini sebagai bentuk dari ungkapan rasa syukur kepada Allah karena telah diberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah
puasa selama awal bulan ramadhan hingga menjelang akhir bulan ramadhan. Tak hanya rasa syukur karena masih diberi kesempatan bisa bertemu pada bulan ramadhan, khususnya pada malam lailatulqadar, tetapi masyarakat desa giri juga memaknai tradisi malam selawe ini dengan bentuk ungkapan rasa syukur atas nikmat rezeki yang telah diberikan oleh Allah. menurut penuturan dari bapak sunardi selaku pedagang yang berjualan di pasar malam, beliau mengatakan bahwa sejak adanya tradisi malam selawe ini dapat meningkatkan ekonomi penjualan yang didaptkan. Pasalnya beliau yang berjualan makanan dan minuman setiap hari tanpa ada tradisi malam selawe pendapatan yang beliau dapat berkisar Rp.500.000 Rupiah. Tapi kini, sejak adanya tradisi malam selawe pendapatan beliau bertamabh 2 kali lipat. Beliau merasa sangat bersyukur atas nikmat rezeki yang telah didapat.77
Menurut ustadzmuhammir, mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah adalah satu hal yang harus senantiasa dilakukan oleh umat islam.78 Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh
َﺣ ﱠﺪ َﺛ َﻨ َﻫ ﺎ ُﺏﺍ ﱠﺪ ِﺑ ْﻦ ِﻟﺎ َﺧ ِﺪ َﻷﺍ ْﺯ ُﻱ ِﺩ َﻭ ، ْﻴ َﺒ َﺷ ِﺑ ُﻥﺎ ْﻦ ُﺮ َﻓ ْﻭ َﺥ َﺟ ، ِﻤ ًﻌ ْﻴ َﻋ ﺎ ُﺳ ْﻦ َﻠ ْﻴ َﻤ َﻥﺎ
ِﺑ ُﻤﻟﺍ ْﻦ ِﻐ َﺮ ْﻴ ِﺓ َﻭ – ﱠﻟﺍ ْﻔﻠ ِﻟ ُﻆ ْﻴ َﺒ َﺸ َﻥﺎ َﺣ – ﱠﺪ َﺛ َﻨ ُﺳ ﺎ َﻠ ْﻴ َﻤ َﺣ ، ُﻥﺎ ﱠﺪ َﺛ َﻨ َﺛ ﺎ ِﺑﺎ َﻋ ، ٌﺖ َﻋ ْﻦ ْﺒ ِﺪ
ﱠﺮﻟﺍ َﻤ ْﺣ ِﻦ ِﺑ ْﻦ ِﺑ َﺃ َﻟ ﻲ ْﻴ َﻠ َﻋ ،ﻰ َﺻ ْﻦ
َﻬ ْﻴ ٍﺐ َﻗ ، َﻝﺎ : َﻗ َﺭ َﻝﺎ ُﺳ ﻮ ِﷲ ُﻝ َﺻ َﷲ ﻲ َﻠ
َﻋ َﻠ ْﻴ َﻭ ِﻪ َﺳ َﻢ ﱠﻠ َﻋ" : َﺠ َِﻷ ﺎ ًﺒ ِﺮ ْﻣ ُﻤﻟﺍ ِﻣ ْﺆ ِﻦ ِﺇ ، ﱠﻥ ْﻣ َﺃ َﺮ ُﻩ ُﻛ ﱠﻠ ُﻪ َﺧ ٌﺮ ْﻴ َﻭ ، َﻟ ْﻴ َﺲ َﺫ َِﻷ َﻙﺍ َﺣ ٍﺪ
77Sunardi, Diwawancarai oleh Penulis, Gresik 26 September 2022
78MuhammirS.Pd, Diwawancarai oleh Penulis, Gresik 26 Spetember 2022
ِﺇ ِﻟ ﱠﻻ ُﻤ ْﻠ ِﻣ ْﺆ ِﻦ ِﺇ ، ْﻥ َﺻ َﺃ َﺑﺎ ْﺘ َﺳ ُﻪ ُءﺍ ﱠﺮ َﺷ َﺮ َﻜ َﻓ ، َﻜ َﻥﺎ َﺧ ًﺮ ْﻴ َﻟ ﺍ َﻭ ، ُﻪ ِﺇ ْﻥ َﺻ َﺃ َﺑﺎ ْﺘ ُﻪ
َﺿ ُءﺍ ﱠﺮ َﻓ ، َﻜ َﻥﺎ َﺧ ًﺮ ْﻴ َﻟ ﺍ ُﻪ
"
(ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ)
79Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid al- Azdy dan Syaiban bin Farrukh, semuanya dari sulaiman bin al-Mughirah – lafadz dari Syaiban – telah menceritakan kepada kami Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari ‘Abdirrahman bin Abi Layla, dari Shuhaib berkata: berkata Rasulullah SAW: seorang mukmin itu sungguh menakjubkan , karena setiap perkaranya itu baik, namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mukmin sejati. Jika ia mendapat kesenangan , ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.”
(HR.Muslim)
Hadits diatas dengan jelas memerintahkan umat islam untuk senantiasa bersyukur kepada Allah ketika mendapatkan kesenangan.
Termasuk kesenangan dan nikmat bisa menjalankan ibadah dibulan ramadhan dan rezeki yang didapat dibulan ramadhan. karena tidak ada yang tahu kapan umur seseorang akan meninggal didunia kecuali Allah.
maka sudah sepantasnya umat islam yang telah diberikan kesempatan
79Muslim bin alHajjaj, Terjemah Shahih Muslim, terj. Adib Bisri Musthofa dkk, 3 (Kuala Lumpur:VictoryAgencie, 1994), 1031