BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan Penelitian
4.2.2 Penyajian Data
1. Merek Ponsel Cerdas Yang Digunakan
Dari temuan di lapangan diperoleh data tentang merek ponsel cerdas yang digunakan oleh para informan. Merek ponsel cerdas terbanyak yang digunakan informan adalah adalah iPhone yang digunakan oleh 2 orang (Wahyu dan Umar). Ketiga informan lain menggunakan merek yang berbeda, yaitu Aidil menggunakan merek Sony, Agung menggunakan merek Samsung, dan Ardian menggunakan merek Asus.
2. Jumlah Ponsel Cerdas Yang Digunakan
Hasil temuan observasi dan wawancara mendalam menunjukkan kesamaan data dalam kategori jumlah ponsel cerdas yang digunakan masing-masing informan. Kelima informan hanya menggunakan satu unit ponsel cerdas per orang. Tidak ditemukan informan yang menggunakan ponsel cerdas lebih dari satu unit, baik dari metode observasi ataupun metode wawancara mendalam.
3. Intensitas Penggunaan Ponsel Cerdas
Untuk intensitas dalam menggunakan ponsel cerdas, peneliti mencocokkan data yang ditemukan dalam observasi dan wawancara mendalam. Hasil temuan menunjukkan bahwa tiga informan (Wahyu, Umar, Agung) menggunakan ponsel cerdasnya dengan intensitas sering. Satu informan (Aidil) menggunakan ponsel cerdasnya dengan intensitas sangat sering. Informan terakhir (Ardian) menggunakan ponsel cerdas dengan intensitas tidak sering.
4. Durasi Penggunaan Ponsel Cerdas
Durasi atau lama penggunaan ponsel cerdas tiap informan cukup beragam. Peneliti membandingkan hasil temuan di observasi dan temuan dalam wawancara mendalam. Hasil menunjukkan bahwa informan dengan intensitas sering (Wahyu,
Umar, Agung) menggunakan ponsel cerdasnya selama kurang lebih 4-6 jam/hari. Untuk informan dengan penggunaan ponsel cerdas sangat sering (Aidil), durasi penggunaan dapat mencapai lebih dari 6 jam/hari. Untuk informan yang tidak terlalu sering menggunakan ponsel cerdas (Ardian), rata-rata hanya menggunakan ponsel cerdasnya selama 1-3 jam/hari
5. Alasan Membeli Ponsel Cerdas Dengan Merek Tertentu
Kelima informan memberikan alasan dalam memberi merek ponsel cerdas tertentu yang berbeda-beda. Informan 1 (Wahyu) menyatakan bahwa membeli merek ponsel iPhone 5 disebabkan karena gengsi sosial. Informan 2 (Aidil) mengatakan bahwa memilih ponsel cerdas dengan merek Sony Xperia Z1 karena tertarik dengan fitur ponsel tersebut. Informan 3 (Umar) mengakui membeli iPhone 5 miliknya karena ingin mengikuti teman-temannya yang sudah menggunakan merek tersebut sebelum dirinya. Sedangkan informan 4 dan 5 (Agung dan Ardian) memilih ponsel Samsung DUOS dan Asus Zenfone 2 karena faktor ekonomi masing-masing informan.
6. Tujuan Penggunaan Ponsel Cerdas
Untuk tujuan penggunaan ponsel cerdas, kebutuhaan akan media sosial, media komunikasi, dan sumber informasi menjadi jawaban dari kelima informan. Hanya empat orang informan (Wahyu, Aidil, Umar, Ardian) yang menjawab menggunakan ponsel cerdas untuk media hiburan. Sedangkan informan 2 (Aidil) menjawab ponsel cerdas digunakannya untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya.
7. Pemenuhan Kebutuhan Sosial Dengan Ponsel Cerdas
Kelima informan memiliki keragaman kebutuhan sosial yang harus dipenuhi melalui ponsel cerdas. Empat orang informan (Wahyu, Aidil, Agung,
Ardian) memiliki kebutuhan akses informasi umum setiap harinya. Hanya informan 3 (Umar) yang mengaku tidak membutuhkan akses informasi umum melalui ponsel cerdas.
Selain akses informasi umum, kebutuhan lainnya adalah akses informasi tentang kegemaran atau hobi. Empat informan (Wahyu, Aidil, Umar, Agung) membutuhkan pembaharuan atas informasi seputar kegemaran masing-masing. Wahyu membutuhkan akses informasi tentang motoGP. Aidil membutuhkan akses tentang informasi sepakbola secara umum. Umar membutuhkan informasi seputar klub sepakbola Manchester United, sedangkan Agung dengan informasi seputar skuter Vespa.
Selain itu, kebutuhan akses aplikasi chatting semisal Line, Whatsapp, BBM dan akses media sosial seperti Instagram, Facebook, atau Twitter manjadi kebutuhan seluruh informan. Kelima informan menyatakan bahwa membutuhakn akses untuk menggunakan aplikasi chatting dan akses media sosial di ponsel cerdas.
Untuk kebutuhan bermain game di ponsel cerdas, hanya dua orang informan yaitu Umar dan Ardian yang mengaku menggunakan setiap hari. Umar memainkan Line‟s Get Rich dan Clash of Clans, sedangkan Ardian memainkan Clash of Clans saja. Ketiga informan lain mengaku tidak membutuhkan akses game online di ponsel cerdas mereka.
Hanya satu informan (Wahyu) yang membutuhkan aplikasi khusus untuk media hiburan selain permainan atau game. Wahyu menggunakan aplikasi karaoke bernama Smule yang dapat memutar musik sambil merekam suara pengguna aplikasi tersebut. Keempat informan lain tidak terlihat mempunyai kebutuhan khusus untuk media hiburan di ponsel cerdas masing-masing.
8. Ruang Lingkup Lingkungan Sosial
Ruang lingkup dalam lingkungan sosial setiap manusia berbeda-beda, karena karakteristik dan sifat alamiah sosial manusia juga berbeda-beda.
Termasuk juga dengan para informan dimana masing-masing memiliki lingkungan pergaulan yang berbeda-beda. Informan 1 (Wahyu) yang merupakan Brigadir Polisi di Dit Sabhara Kota Medan memiliki ikatan kelompok sosial dengan unit Sabhara Polda Sumut, komunitas pengguna aplikasi Smule, dan ikatan alumni SMA Negeri 1 Tebing Tinggi.
Untuk informan 2 (Aidil), tergabung dalam UKM Futsal USU, komunitas penggemar dan pemain konsol PS4, dan anggota klub futsal. Untuk informan 3 (Umar) yang merupakan mahasiswa co-ast di RS. Adam Malik Medan, tergabung dalam Perkumpulan Mahasiswa Kedokteran USU dan komunitas pemain game DOTA 2 Medan.
Informan 4 (Agung) memiliki lingkungan sosial didalam Perkumpulan Mahasiswa STIPAP Medan dan Komunitas Medan Skuter Independen(MESIN). Informan 5 (Ardian), ruang lingkup sosial yang menjadi lingkungan bagi informan adalah teman-teman alumni SMA Plus Sipirok Medan dan teman-teman sesama angkatan tahun 2012 di Departemen Ilmu Komunikasi USU.
9. Fungsi Ponsel Cerdas di Kelompok Sosial/Keluarga
Ponsel cerdas dalam kelompok sosial atau didalam keluarga mempunyai fungsi atau kelebihan tertentu. Kelima informan menajawab dengan sepakat bahwa fungsi ponsel cerdasd dalam kelompok sosial atau didalam keluarga adalah untuk mempermudah komunikasi dengan sesama anggota-anggota didalam kelompok sosial atau keluarga tersebut.
10. Hubungan Status Sosial Dengan Ponsel Cerdas
Informan menanyakan tentang korelasi antara gengsi sosial dan pemilihan ponsel cerdas tertentu. Empat informan yakni Wahyu, Umar, Agung, dan Ardian menyatakan bahwa masih terdapat hubungan antara ponsel cerdas yang digunakan dengan tingkat gengsi sosial penggunanya. Informan pertama dan ketiga menyatakan bahwa memilih menggunakan iPhone 5 karena turut dipengaruhi
oleh adanya gengsi dan status sosial di lingkungan atau kelompok sosialnya. Informan keempat dan kelima menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, faktor merek atau brand tertentu turut mempengaruhi gengsi dalam interaksi dengan sesama pengguna ponsel cerdas, walaupun tidak sebesar 2-3 tahun lalu.
Hanya informan kedua (Aidil) yang berpendapat sebaliknya. Pengguna Sony Xperia Z1 Compact ini berpendapat bahwa konsumen ponsel cerdas tidak lagi memikirkan soal gengsi atau kelas sosial dalam memilih ponsel cerdas. Informan kedua ini menyatakan bahwa tiga atau empat tahun lalu memang ada keterkaitan antara merek ponsel cerdas pabrikan Apple dan Samsung dengan gengsi sosial, namun sekarang calon pembeli ponsel cerdas sudah semakin selektif dalam menghabiskan uang untuk membeli ponsel cerdas. Pengguna ponsel cerdas lebih memilih fitur yang lebih baik dibandingkan membeli ponsel cerdas yang sudah memiliki brand equity di masyarakat, seperti Samsung dan Apple
11. Pulsa atau Kuota Paket Internet
Pengguna ponsel cerdas yang memanfaatkan fitur aplikasi berbasis daring (online) diharuskan berlangganan layanan paket internet. Layanan paket internet tentunya dibayar menggunakan pulsa dari ponsel. Peneliti menanyakan kepada kelima informan tentang preferensi pulsa atau paket internet untuk melihat keterkaitan makna ponsel cerdas dengan penggunanaya.
Informan pertama (Wahyu) memilih pulsa daripada paket internet. Hal ini dipengaruhi oleh pekerjaan informan yang setiap hari bertugas sebagai polisi. Untuk menghubungi atasannya, informan masih menggunakan panggilan telepon dan layanan SMS. Atas alasan itulah informan pertama lebih memilih pulsa daripada paket internet.
Sama halnya dengan informan pertama, informan kelima (Ardian) juga lebih memilih pulsa dengan alasan masih menggunakan panggilan telepon dan layanan SMS dengan teman dan orangtuanya. Hanya informan kedua, ketiga, dan keempat yang lebih memilih paket internet dengan alasan sudah jarang menggunakan panggilan berbayar atau SMS, dan lebih sering menggunakan
aplikasi chatting yang menawarkan layanan pesan dan panggilan telepon secara online.
12. Makna Ponsel Cerdas
Pengguna ponsel cerdas memaknai ponsel cerdas dengan sangat beragam, tergantung dengan tujuan penggunaan, alasan penggunaan, latar belakang kelompok sosial, dan profesi dari pengguna ponsel cerdas. Kelima informan menujukkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dalam memaknai ponsel cerdas yang digunakan masing-masing informan tersebut.
Kelima informan sepakat bahwa ponsel cerdas adalah media komunikasi, sumber informasi, dan media sosial bagi penggunanya. Kesemua informan menjelaskan kepada peneliti bagaimana cara mereka berinteraksi dengan kelompok sosialnya menggunakan ponsel cerdas dan bagaimana mendapat informasi terbaru tentang berbagai bidang melalui layar ponsel. Informan juga sepakat bahwa media komunikasi baru seperti aplikasi chatting Line, Whatsapp dan BBM adalah media komunikasi yang sudah sangat lumrah di masyarakat.
Dalam hal media hiburan, hanya empat informan (Wahyu, Aidil, Umar, Ardian) yang setuju dengan hal tersebut. Keempat informan ini menggunakan aplikasi hiburan seperti aplikasi game, aplikasi karaoke, dan aplikasi pemutar musik untuk menghibur diri. Informan 4 (Agung) tidak menyatakan bahwa ponsel cerdas adalah media hiburan, hal ini berdasarkan hasil observasi dimana informan 4 ini tidak pernah menggunakan aplikasi game atau aplikasi hiburan lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
Satu informan menjelaskan makna lain dari ponsel cerdas, yaitu media eksistensi diri. Informan ini adalah informan 2 (Aidil). Aidil menjelaskan bagaimana media sosial yang digunakannya seperti Path, Instagram, dan Snapchat menjadi ajang bagi dirinya untuk menunjukkan eksistensi diri di dunia maya. Selain untuk mendapatkan informasi dan ajang eksistensi diri, informan 2 ini juga menjelaskan bahwa media sosial juga berfungsi sebagai media untuk mencari lawan jenis (wanita)/
13. Frekuensi Menonton Film Spectre
Berapa kali atau frekuensi informan dalam menonton film Spectre menjadi pertanyaan peneliti kepada kelima informan. Dari wawancara mendalam didapat data bahwa empat informan (Wahyu, Aidil, Agung, Ardian) telah menonton Spectre sebanyak dua kali, dan satu informan (Umar) menonton sebanyak sekali. Alasan empat informan untuk menonton sebanyak lebih dari sekali adalah aksi laga dalam film Spectre yang cukup bagus dan alur cerita yang menarik.
14. Sadar/Tidak Sadar Tentang Penempatan Merek Xperia Z5 di Spectre Kelima informan mengaku sadar dan mengetahui tentang penempatan merek beberapa produk di film Spectre, termasuk produk Sony Xperia Z5. Akan tetapi, para informan tidak mengetahui nama atau tipe produk Sony yang diiklankan. Informan hanya mengetahui adanya produk ponsel cerdas dengan label SONY tertera di produk tersebut.
15. Tahu/Tidak Tahu Tentang Merek Produk yang beriklan di Film Spectre Pengetahuan kelima informan yang sadar tentang proses penempatan merek produk ponsel cerdas berlabel „SONY” di film Spectre tidak diikuti dengan pengetahuan tentang nama atau tipe dari produk pondel cerdas tersebut. Kelima informan mengaku tidak tahu tentang merek dari ponsel cerdas yang bernama Sony Xperia Z5 tersebut disebabkan tidak ada penjelasan didalam adegan film dan tidak adanya keinginan informan untuk mencari lebih jauh tentang produk yang diiklankan di film Spectre tersebut.
16. Persepsi Tentang Sony Xperia Z5 yang diiklankan di Film Spectre
Persepsi yang dihasilkan oleh kelima informan tentang Sony Xperia Z5 setelah menonton film Spectre dibagi menjadi dua garis besar, yaitu persepsi positif dan persepsi negatif. Informan yang menghasilkan persepsi positif adalah informan 4 (Agung).
Agung menjelaskan bahwa untuk menjadi produk pendamping dari James Bond haruslah memiliki standar dan kualifikasi yang baik, sehingga dapat mendukung karakter dari James Bond. Informan keempat ini beranggapan bahwa tidak sembarang produk, apalagi produk ponsel, dapat menjadi rekan dari tokoh agen 007 tersebut. Dengan lulusnya Sony Xperia Z5 menjadi partner dari James Bond, informan berasumsi bahwa produk Sony ini memiliki kualitas dan spesifikasi yang baik
Keempat informan lain (Wahyu, Aidil, Umar, Ardian) mengungkapkan persepsi negatif yang beragam. Wahyu (informan 1) mengungkapkan rasa tidak percaya dengan produk Sony Xperia Z5. Alasan ini diungkapkan karena adanya kerangka pengetahuan (frame of reference) dan bidang pengalaman (field of experience) informan bahwa perangkat yang digunakan oleh James Bond kebanyakan fiktif. Maksudnya adalah perangkat tersebut tidak pernah ada dan hanya efek komputer untuk merekayasa adegan agar lebih menarik untuk penonton.
Informan kedua (Aidil) menjelaskan bahwa ponsel cerdas akan semakin canggih dari waktu ke waktu, sehingga tidak ada hal yang spesial dari Sony Xperia Z5, walaupun diiklankan di film sekelas James Bond.
Informan ketiga (Umar) mengaku tidak ada persepsi khusus yang timbul tentang Sony Xperia Z5 setelah menonton film Spectre. Umar berpendapat bahwa untuk film aksi laga James Bond, sudah sepantasnya agen Inggris itu memiliki perangkat ponsel yang canggih dan mutakhir, sehingga tidak ada hal yang spesial yang ditampilkan dari tayangan Xperia Z5 di film ini.
Informan kelima (Ardian) malah menjelaskan bahwa film James Bond memang memiliki tradisi untuk menggunakan produk-produk canggih dan mutakhir. Seri-seri dalam film James Bond, termasuk film Spectre sudah sewajarnya menggunakan produk-produk terbaik sebagai pendamping tokoh utama, mulai dari mobil, jam tangan, sampai makanan dan minuman. Jadi Ardian menjelaskan tidak ada hal istimewa dan spesial dalam penayangan penempatan produk Sony Xperia Z5 di film Spectre.
17. Persepsi Tentang Ponsel Cerdas Informan Setelah Melihat Film Spectre Setelah kelima informan memaparkan persepsi masing-masing tentang produk Sony Xperia Z5 di film Spectre, para informan kemudian memaparkan persepsi tentang produk ponsel cerdas yang digunakan masing-masing setelah menonton film James Bond Spectre.
Informan 1 (Wahyu) dan informan 3 (Umar) yang menggunakan iPhone 5 mengaku merasa ponsel cerdas miliknya masih mengungguli produk Sony Xperia Z5. Lain halnya dengan informan 4 (Agung) dan informan 5 (Ardian) yang tersadar akan perkembangan teknologi ponsel cerdas yang semakin pesat dan cepat setelah melihat Sony Xperia Z5 di adegan film Spectre. Malah, Agung merasa sudah saatnya untuk mengganti ponsel cerdas miliknya (Samsung Galaxy DUOS) dengan ponsel baru, karena merasa sudah sangat ketinggalan jaman.
Informan 2 (Aidil) menjelaskan bahwa persepsi yang dihasilkan tentang produk ponsel cerdasnya (Sony Xperia Z1 Compact) adalah rasa bangga karena produk ponsel dari Sony digunakan oleh karakter sekelas James Bond. Informan ini sendiri adalah salah satu penggemar film dan karakter dari James Bond. Persepsi positif yaitu kebanggaan informan ini juga dilatarbelakangi oleh kesamaan antara produsen produk ponsel cerdas milik informan dan Xperia Z5, yaitu perusahaan Sony. Informan kedua ini menyatakan bahwa adanya kesamaan ini turut menambah rasa bangga tersebut.
18. Persepsi Tentang Ponsel Cerdas Lain Setelah Melihat Film Spectre
Setelah persepsi terhadap ponsel cerdas yang dimiliki masing-masing, informan memaparkan persepsi tentang ponsel cerdas lain (selain produk Sony Xperia Z5 dan produk yang digunakan informan) setelah menonton film Spectre. Informan 1 (Wahyu), informan 2 (Aidil), dan informan 5 (Ardian) menjelaskan bahwa setiap ponsel cerdas memiliki keunggulan masing-masing, sehingga tidak dapat dijustifikasi bahwa ponsel cerdas Sony Xperia Z5 atau produk yang digunakan masing-masing informan adalah yang tercanggih. Ketiga informan ini sepakat bahwa teknologi juga semakin berkembang dalam hitungan hari, bukan
hitungan tahun layaknya masa lalu.
Informan 3 (Umar) menyampaikan persepsi yang lebih umum, yaitu telah terjadi peningkatan mutu dan kualitas dari setiap ponsel cerdas. Informan ini akhirnya menyadari bahwa merek-merek yang berbasis Android sudah selayaknya tidak dipandang sebelah mata, seperti yang sering terjadi oleh kebanyakan orang dimana masih menyepelekan ponsel cerdas berbasis Android.
Informan 4 (Agung) menjelaskan dengan menonton adegan dari penempatan merek Sony Xperia Z5 di film Spectre, dirinya semakin sadar bahwa semakin banyak produk ponsel cerdas yang memiliki kualitas dan kecanggihan lebih baik. Informan ini memaparkan bahwa produk ponsel cerdas yang lebih canggih ini mungkin saja tidak diketahui banyak orang karena tidak melakukan aktifitas iklan yang masif, layaknya produk Sony Xperia Z5 yang beriklan di film James Bond.
19. Adanya Usaha Untuk Mencari Lebih Jauh Tentang Sony Xperia Z5 Setelah Menonton Film Spectre
Setelah melihat tayangan yang memuat adegan iklan penempatan merek Sony Xperia Z5 di film Spectre, peneliti menanyakan apakah informan berusaha mencari lebih jauh tentang produk Sony ini atau tidak. Hasilnya, hanya satu informan, yaitu informan 2 (Aidil) yang mencari produk ponsel cerdas berlabel SONY yang dilihatnya di film Spectre dengan mesin pencari Google. Hasil yang ditemukan oleh Aidil pada akhirnya tidak valid, dan informan ini sampai selesai wawancara mendalam tidak mengetahui jenis dan tipe dari ponsel cerdas SONY yang dilihatnya saat menonton Spectre.
Keempat informan lain (Wahyu, Umar, Agung, Ardian) mengaku tidak berusaha untuk mencari informasi lebih jauh tentang produk SONY yang mereka lihat di film Spectre. Keempat informan hanya berhenti sampai tahapan menonton saja, dan tidak tergerak untuk mencari informasi tentang produk ponsel cerdas SONY tipe apa yang digunakan James Bond saat berlaga di film Spectre tersebut.
20. Pengaruh Karakter James Bond Yang Menggunakan Sony Xperia Z5 di Film Spectre Terhadap Identitas Diri Informan
Informan ditanya tentang pengaruh karakter James Bond yang menggunakan produk Sony Xperia Z5 di film Spectre terhadap identitas diri informan. Empat informan (Wahyu, Umar, Agung, Ardian) mengaku tidak terpengaruh oleh James Bond yang menggunakan Xperia Z5. Informan juga mengaku tidak ada muncul rasa minat atau ketertarikan dengan produk Xperia Z5 walaupun penggunaanya diperankan oleh James Bond dan kolega-koleganya
Hanya informan 2 (Aidil) yang terpengaruh dengan karakter James Bond, walaupun tidak banyak pengaruh yang muncul. Informan kedua ini sebelumnya sudah mengaku bahwa James Bond adalah karakter yang memang dikaguminya karena gaya khas bicara James Bond yang dapat menaklukkan setiap wanita. Walaupun demikian, informan kedua ini tidak mendapatkan rasa minat atau ketertarikan terhadap Sony Xperia Z5, karena informan beralasan bahwa Bond sendiri sudah identik dengan barang canggih, sehingga produk apapun yang digunakan agen 007 akan sendirinya menjadi hebat dan luar biasa di mata penggemar setia James Bond.