• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

3.1. Penyajian Data

Pada bab ini akan dianalisis data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada para responden yang tersebar di 7 Kelurahan yang ada di Kecamatan Medan Amplas sebanyak 100 orang. Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kecamatan Medan Amplas yang berusia 40 tahun keatas. Data yang di analisis adalah identitas Responden, Pengetahuan dan tanggapan Responden terhadap kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh H.M. Soeharto, serta tanggapan Responden terhadap kepemimpinan H.M. Soeharto.

3.1.1. Identitas Responden

Identitas responden yang akan disajikan adalah identitas responden yang dapat dilihat dari tingkat usia dan pekerjaan responden.

Responden yang dilihat dari skripsi ini adalah masyarakat atau penduduk di Kecamatan Medan Amplas yang berusia 40 tahun keatas. Dari persebaran data yang didapat maka responden dikelompokkan menjadi lima kelompok usia yaitu responden yang berusia dari 40 – 44 tahun, 45 – 49 tahun, 50- 54 tahun, 55 – 59 tahun, dan kelompok yang terakhir yang berusia 60 tahun keatas.

Tabel III.1

Komposisi Responden Berdasarkan Usia

No Kelompok Usia Jumlah Persentase

1 40 – 44 tahun 14 14% 2 45 – 49 tahun 21 21% 3 50 – 54 tahun 26 26% 4 55 – 59 tahun 24 24% 5 60 tahun ke atas 15 15% Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner bulan Februari 2008

Dilihat dari data di atas yang paling yang paling banyak adalah responden pada kelompok yang berusia 50 sampai dengan 54 tahun dengan jumlah 26 orang atau 26%, sedangkan jumlah yang paling terkecil adalah responden pada kelompok 40 samapai dengan 44 tahun dengan jumlah 14 orang atau 14 %.

Tabel III.2

Komposisi Responden Berdasarkan Pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase

1 Pegawai Negeri Sipil 33 33%

2 Wiraswasta 20 20%

3 Karyawan Swasta 37 37%

4 Dan lain-lain 10 10%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Dalam penelitian ini perlu juga dilihat identitas responden, ternyata responden terdiri dari beberapa latar belakang pekerjaan yang berbeda. Ada yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Karyawan Swasta, Wiraswasta dan lain-lain. Dilihat dari data di atas responden yang bekerja sebagai karyawan

swasta adalah jumlah responden yang terbanyak dengan jumlah 37 orang atau 37%, sedangkan jumlah yang terkecil adalah 10 orang atau 10 % yang bekerja sebagai buruh, ibu rumah tangga dll.

Penelitian dalam skripsi ini dilakukan di Kecamatan Medan Amplas. Kecamatan Medan Amplas membawahi tujuh kelurahan. Dengan masing – masing kelurahan memiliki sampel yang diambil sebagai responden.

Tabel III.3

Komposisi Responden Berdasarkan Kelurahan

No Kelurahan Jumlah Persentase

1 Kelurahan Amplas 11 11%

2 Kelurahan Harjo Sari I 26 26%

3 Kelurahan Harjo Sari II 26 26%

4 Kelurahan Siterejo II 10 10%

5 Kelurahan Siterejo III 10 10%

6 Kelurahan Timbang Deli 15 15%

7 Kelurahan Bangun Mulia 2 2%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Responden yang ada dalam penelitian ini juga mewakili dari setiap kelurahan yang ada di Kecamatan Medan Amplas. Pembagian responden di tiap – tiap kelurahan didasarkan kepada besar atau kecilnya jumlah masyarakat yang berusia 40 tahun keatas.

3.2.1 Pengetahuan dan Tanggapan Responden Terhadap kebijakan – Kebijakan yang dibuat oleh H.M Soeharto.

Pada masa Orde baru, banyak kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh H.M. Soeharto dalam melaksanakan pembangunan, baik di bidang ekonomi,

sosial, politik, budaya, dan pertahanan keamanan, kebijakan – kebijakan yang dibuat adalah sebagai penentu keberhasilan pembangunan pada masa kepemimpinan H.M Soeharto.

3.2.2 Pengetahuan Responden Terhadap Kebijakan Soeharto dalam Melaksanakan Pembangunan.

Pengetahuan yang dimiliki juga merupakan faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. Dari data di bawah ini dapat dilihat bagaimana tingkat pengetahuan responden terhadap kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh H.M. Soeharto pada masa pemerintahannya

Tabel III.4

Pengetahuan Responden Terhadap Kebijakan – Kebijakan yang Dibuat Oleh H.M. Soeharto dalam Melaksanakan Pembangunan

No Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh H.M.Soeharto dalam melaksanakan

Pembangunan menurut responden

Jumlah Persentase

1 Keluarga Berencana (KB) 100 100%

2 ABRI Masuk Desa 100 100%

3 Posyandu 100 100%

4 Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita)

100 100%

5 Swasembada Pangan 83 83%

6 Koperasi Unit Desa (KUD) 60 60%

7 Membangun Transmigrasi 56 56%

8 Paket A (Pemberantasan Buta Huruf) 50 50%

9 Wajib Belajar Sembilan Tahun 43 43%

10 Gerakan Nasional Orang tua asuh (GN-Ortu Asuh)

25 25%

11 Satelit Palapa 12 12%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas dapat dilihat pengetahuan responden terhadap kebijakan- kebijakan H.M. Soeharto dalam melaksanakan pembangunan, dimana jumlah responden tidak sama dengan jumlah jawaban, dikarenakan setiap

responden memiliki pengetahuan yang berbeda mengenai kebijakan yang dibuat oleh H.M. Soeharto, kebijakan- kebijakan diatas seperti KB, ABRI masuk Desa, Posyandu, Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), Swasembada Pangan, Koprasi Unit Desa (KUD), membangun Transmigrasi, Paket A (pemberantasan Buta Huruf ), Wajib Belajar Sembilan Tahun, Gerakan Orang Tua Asuh (GN-Ortu Asuh ), serta satelit Palapa, dari sekian banyak kebijakan yang diketahui responden, kebijakan yang diketahui oleh seluruh responden adalah kebijakan Keluarga Berencana (KB), ABRI masuk Desa serta Posyandu mencapai 100%, sedangkan kebijakan yang paling sedikit diketahui oleh responden adalah kebijakan H.M Soeharto dalam membuat satelit palapa dengan jumlah 12 atau 12%. Dari hasil di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa responden cukup mengetahui mengenai kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh H.M. Soeharto dalam melaksanakan pembangunan.

3.2.3 Tanggapan Responden Terhadap Kebijakan H.M. Soeharto dalam Melaksanakan Pembangunan.

Selanjutnya masih berdasarkan tabel III.4 dapat dilihat mengenai tanggapan responden terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh H.M Soeharto, apakah kebijakan tersebut sudah dapat dikatakan baik atau belum. Tabel dibawah ini akan memberikan jawaban mengenai penilaian responden terhadap kebijakan yang telah dibuat oleh H.M Soeharto.

Tabel III.5

Tanggapan Responden Terhadap Kebijakan-Kebijakan Yang Dibuat Oleh H.M Soeharto Dalam Melaksanakan Pembangunan

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 92 92%

2 Belum Baik 8 8%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data penelitian pada tabel diatas , 92 orang atau 92 % yang menjawab kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh H.M. Soeharto sudah baik, dan hanya 8 orang atau 8 % saja responden yang menjawab kebijakan – kebijakan H.M Soeharto belum baik, peneliti menyimpulkan dari alasan – alasan yang diberikan oleh responden yang berpendapat bahwa kebijakan –kebijakan yang telah dibuat oleh H.M. Soeharto sudah baik adalah karena menurut responden, masyarakat merasakan sepenuhnya dari hasil kebijakan – kebijakan yang telah dibuat, diantaranya dari kebijakan Koperasi Unit Desa yang sangat membantu rakyat miskin, dan koperasi tersebut benar – benar turun ke lapangan, dengan memberikan bantuan secara langsung kepada rakyat, rakyat merasakan hasil pembangunan yang telah dibuat misalnya, rakyat tidak sulit untuk memperoleh segala keperluan kebutuhan hidup, selain itu kebijakan ABRI masuk desa yang menurut responden sangat membantu rakyat membangun jalan, tempat ibadah, bahkan tidak jarang ikut pula membantu warga membangun rumah – rumah penduduk, semuanya dilakukan dengan gotong –royong bersama masyarakat. Kebijakan lainnya yang sudah baik adalah pembangunan yang akan dan sedang

dilakukan pada masa H.M Soeharto sudah terencana melalui Repelita yang sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancarwalaupun pelaksanaan dilapangan belum optimal. Sedangkan responden yang menjawab belum baik, peneliti dapat menyimpulkan dari alasan – alasan responden tersebut karena pada kebijakan – kebijakan Soeharto yang bila ditinjau dari sistemnya sudah dapat dikatakan baik tetapi pelaksanaanya kurang optimal.

3.2.3. Pengetahuan Responden Terhadap Kebijakan Politik H.M.Soeharto Selain kebijakan –kebijakan yang dibuat dalam melaksanakan pembangunan, H.M. Soeharto juga membuat kebijakan – kebijakan Politik pada masa pemerintahannya, dari data di bawah ini dapat dilihat tingkat pengetahuan responden terhadap kebijakan – kebijakan politik yang dibuat oleh H.M Soeharto.

Tabel III.6

Pengetahuan Responden Terhadap Kebijakan - KebijakanYang Dibuat Oleh H.M. Soeharto Dalam Bidang Politik

No Kebijakan-kebijakan H.M.Soeharto dalam bidang politik menurut responden

Jumlah Persentase

1 Pemberantasan G30SPKI 100 100%

2 Pelaksanaan P4 100 100%

3 Dwi Fungsi ABRI 80 80%

4 Penyelenggaraan Pemilu 70 70%

5 Penyederhaan Partai 60 60%

6 Politik Bebas Aktif 18 18%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas dapat dilihat pengetahuan responden terhadap kebijakan yang dibuat oleh H.M. Soeharto dalam bidang Politik, dimana jumlah

responden tidak sama dengan jumlah jawaban, dikarenakan setiap responden memiliki pengetahuan yang berbeda mengenai kebijakan yang dibuat oleh H.M Soeharto. Dapat dilihat kebijakan yang paling banyak diketahui responden adalah Pemeberantasan G 30S PKI dan pelaksanaan P4 (Pedoman, penghayatan, Pengamalan, Pancasila) dengan jumlah keseluruhan responden atau 100%, sedangkan kebijakan yang jumlahnya paling sedikit adalah kebijakan politik bebas aktif yang hanya diketahui 18 orang atau 18%.

3.2.5 Tanggapan Responden Terhadap Kebijakan Politik H.M. Soeharto. Selanjutnya masih berdasarkan tabel III.6 dapat dilihat tanggapan responden terhadap kebijakan – kebijakan dalam bidang politik yang dibuat oleh H.M Soeharto. Apakah kebijakan tersebut sudah dapat dikatakan baik atau belum, tabel di bawah ini akan memberikan jawaban mengenai penilaian responden terhadap kebijakan yang dibuat oleh H.M Soeharto.

Tabel III.7

Tanggapan Responden Terhadap Kebijakan – Kebijakan Yang Dibuat Oleh H.M Soeharto Dalam Bidang Politik

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 20 20%

2 Belum Baik 80 80%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioener Februari 2008

Berdasarkan data penelitian pada tabel diatas, hanya 20 orang atau 20 % yang menjawab kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh H.M Soeharto dalam bidang politik sudah baik, dan paling banyak reponden menjawab belum baik

dengan jumlah 80 orang atau 80 %. Dalam hal Peneliti menyimpulkan dari alasan –alasan yang diberikan oleh responden yang berpendapat kebijakan tersebut sudah baik adalah karena menurut reponden H.M Soeharto telah berhasil menumpas PKI dari Indonesia, selain itu adanya Pelaksanaan P4 dapat berguna bagi masyarakat sebagai penuntun dan pegangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi setiap warga negara, dan dengan adanya penyederhanaan partai, rakyat tidak dibingungkan dalam pilihan politiknya, sedangkan kebijakan – kebijakan politik menurut responden belum baik, dengan jumlah yang besar yaitu 80 %, peneliti dapat menyimpulkan dari alasan –alasan yang diberikan responden tersebut karena menurut responden kebijakan – kebijakan tersebut tidak mencerminkan demokrasi dalam hal ini dengan adanya penyederhanaan partai, rakyat tidak diberikan peluang secara bebas untuk betpartisipasi dalam politik, tidak bisa mendirikan partai selain tiga kekuatan sosial politik pada saat itu, yaitu Golkar, PPP ( Partai Persatuan Pembangunan ), serta PDI (Partai Demokrasi Indonesia), selain itu masyarakat tidak dapat menyalurkan aspirasinya secara langsung untuk memilih pemimpin bangsa, sehingga tidak terlaksananya demokrasi yang sehat.

Tabel III.8

Tanggapan Responden Terhadap Pengaturan Kepartaian Pada Masa Kepemimpinan H.M Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 18 18%

2 Belum Baik 82 82%

Jumlah 100 100%

Berdasarkan Tabel III.8, dapat dilihat bahwa hanya 18 orang atu 18 %, yang berpendapat pengaturan kepartaian sudah baik, yang paling banyak adalah responden yang berpedapat pengaturan kepartaian pada masa H.M Soeharto belum baik dengan jumlah 82 orang atau 82 %, dalam hal ini peneliti menyimpulkan dari alasan –alasan yang diberikan responden yang berpendapat pengaturan kepartaian sudah baik, karena menurut responden, masyarakat tidak dibingungkan dengan pilihan politik, dengan tiga partai saja masyarakat sudah dapat menyalurkan aspirasinya, sedangkan responden yang berpendapat pengaturan kepartaian pada masa H.M Soeharto belum baik dengan jumlah responden yang terbanyak, peneliti dapat menyimpulkan dari alasan- alasan responden tersebut karena membatasi peluang masyarakat dalam bidang politik, masyarakat tidak dapat berpartisipasi dengan membentuk sebuah partai, sehingga tidak mencerminkan demokrasi, dan dengan hanya tiga partai mengakibatkan Golkar selalu mendominasi hasil pemilu, serta dengan adanya Dwi Fungsi ABRI yakni sebagai alat pertahanan dan keamanan maupun sebagai kekuatan sosial politik akan menjurus kea rah dictator daan ABRI tidak menjalankan tugas sebenarnya secara optimal sebagai alat pertahanan dan keamanan.

Tabel III.9

Tanggapan Responden Terhadap Sistem Pemilu pada Masa Kepemimpinan H.M Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 18 18%

2 Belum Baik 82 82%

Jumlah 100 100%

Berdasarkan data diatas, bahwa hanya 18 orang atau 18 % yang berpendapat sistem Pemilu pada masa kepemimpinan H.M Soeharto sudah baik, sedangkan suara yang terbanyak adalah responden yang berpendapat sistem Pemilu pada masa H.M Soeharto belum baik dengan jumlah 82 orang atau 82 %, dalam hal ini peneliti menyimpulkan dari alasan- alasan yang diberikan oleh responden yang berpendapat sistem Pemilu pada masa H.M Soeharto sudah baik, karena menurut responden dengan sistem pemilu pada masa Orde Baru sudah menerapkan azas LUBER ( Langsung, Umum, Beba, dan Rahasia ) dan berlangsung secara tertib, sedangkan responden yang menjawab sistem Pemilu pada masa H.M Soeharto belum baik karena menurut responden, sistem Pemilu dengan memilih partai bukan dengan secara langsung memilih calon pemimpin kurang mencerminkan demokrasi yang sehat dan masyarakt tidak menyalurkan aspirasinya secara demokratis dan realistis.

Tabel III.10

Tanggapan Responden Terhadap Kinerja Lembaga-Lembaga Politik Pada Masa kepemimpinan H.M Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 22 22%

2 Belum Baik 78 78%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas, responden yang berpendapat kinerja lembaga – lembaga politik pada masa Kepemimpinan H.M. Soeharto sudah baik berjumlah 22 orang atau 22 %, sedangkan responden yang berpendapat kinerja lembaga – lembaga politik tersebut belum baik berjumlah 78 orang atau 78 %. Dalam hal ini,

peneliti dapat menyimpulkan dari alasan – alasan yang di berikan responden yang berpendapat kinerja lembaga-lembaga politik tersebut sudah baik, karena menurut responden kebijakan – kebijakan yang telah dibuat oleh lembaga – lembaga politik dapat dikatakan cukup berhasil, Sedangkan responden yang berpendapat kinerja lembaga-lembaga politik tersebut belum baik karena menurut responden, lembaga – lembaga politik tersebut di bawah kekuasaan H.M. Soeharto sebagai presiden, sehingga semua keputusan berada di bawah Presiden, padalah seharusnya lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, memiliki kedudukan yang sama dalam pemerintahan tanpa ada kekuasaan yang dominant dari salah satu lembaga.

Tabel III.11

Tanggapan Responden Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat Pada Masa Kepemimpinan H.M Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 16 16%

2 Belum Baik 84 84%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas, bahwa hanya 16 orang atau 16 % yang berpendapat partispasi politik masyarakat pada masa kepemimpinan H.M Soeharto, sedangkan suara yang paling banyak adalah pendapat yang mengatakan partisipasi politik masyarakat pada masa kepemimpinan H.M. Soeharto belum baik, dengan jumlah 84 orang atau 84 %, dalam hal ini, penulis dapat menyimpulkan dari alasan –alasan yang diberikan responden,

yang berpendapat partisipasi politik masyarakat sudah baik pada masa kepemimpinan H.M Soeharto karena menurut responden, masyarakat diberikan hak aktif untuk berpartisipasi politik melalui penyelenggaraan Pemilihan Umum ( Pemilu ), dan masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan menjadi anggota salah satu partai politik yang telah ditetapkan pada masa orde baru, sedangkan responden yang berpendapat partisipasi politik pada masa kepemimpinan H.M Soeharto belum baik, karena menurut responden, masyarakat tidak diberikan kebebasan dalam berpartisipasi dapat dilihat dariI kebijakan pemerintah melakukan penyederhanaan partai, sehingga masyarakat tidak dapat berpartisipasi untuk membentuk suatu partai, selain itu tidak ada kebebasan partsisipasi politik untuk mendirikan Ormas atau LSM, jika ingin mendirikan Ormas atau LSM harus sesuai dengan keinginan pemerintah, serta seluruh pegawai negeri di Indonesia diwajibkan memilih Golkar dalam Pemilu

Tabel III. 12

Tanggapan Responden Terhadap Peluang Masyarakat Dalam Menyuarakan Aspirasinya Pada Kepemimpinan H.M. Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 16 16%

2 Belum Baik 84 84%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas, responden yang berpendapat peluang masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya pada kepemimpinan H.M. Soeharto sudah baik hanya berjumlah 16 orang atau 16 %, sedangkan suara yang paling banyak adalah responden yang berpendapat peluang masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya

pada masa kepemimpinan Soeharto belum baik dengan jumlah 84 orang atau 84%, dalam hal ini peneliti dapat menyimpulkan dari alasan –alasan yang diberikan responden terhadap peluang masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya yaitu yang berpendapat peluang masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya sudah baik karena menurut responden masyarakat diberikan kesempatan untuk menyuarakan aspirasinya dengan ikut serta berpartisipasi melalui Pemilihan Umum, sedangkan responden yang berpendapat bahwa pada kepemimpinan H.M Soeharto, peluang masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya belum baik alasannya karena menurut responden, masyarakat diberi tekanan - tekanan untuk tidak menyuarakan aspirasinya, apalagi untuk mengkritik pemerintahan Orde baru, jika masyarakat menyuarakan aspirasinya yang bertentangan dengan pemerintah, maka masyarakat tersebut mendapatkan hukuman baik melalui proses pengadilan ataupun tanpa proses pengadilan. Maka dalam hal ini masyarakat hanya bisa menyetujui setiap kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Tabel III.13

Tanggapan Responden Terhadap Stabilitas Politik Pada Masa Kepemimpinan H.M. Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 84 84%

2 Belum Baik 16 16%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Bedasarkan data diatas, responden yang berpendapat stabilitas politik pada masa kepemimpinan H.M. Soeharto sudah baik dengan jumlah 84 atau 84 %, dan

responden yang berpendapat stabilitas politik pada masa kepemimpinan H.M Soeharto belum baik degan jumlah 16 orang atau 16%, dalam hal ini peneliti menyimpulkan dari alasan –alasan yang diberikan responden terhadap stabilitas politik pada masa kepemimpinan H.M Soeharto adalah responden yang mengatakan baik stabilitas politiknya karena menurut responden pada mas Soeharto tidak terjadi kerusuhan –kerusuhan seperti demonstrasi baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun mahasiswa karena pada masa itu masyarakat tidak diberikan peluang untuk menyuarakan aspirasinya. Selain itu pada masa kepemimpinan H.M Soeharto hanya terbentuknya tiga kekuatan sosial politik yaitu PPP, PDI, dan GOLKAR, pemerintah lebih mudah mengatur kondisi politik di Indonesia untuk mencapai stabilitas politik. Sedangkan responden yang berpendapat bahwa stabilitas politik pada masa Soeharto belum baik karena menurut responden, adanya dominasi Golkar dalam Politik Indonesia, dengan memiliki hak yang istimewa, sehingga menciptakan ketimpangan politik.

Tabel III.14

Tanggapan Responden Terhadap Kebijakan Politik Yang Telah Dibuat oleh H.M Soeharto, Sudah Mencerminkan Demokrasi yang sehat atau Belum.

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 16 16%

2 Belum Baik 84 84%

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas, responden yang berpendapat bahwa kebijakan politik yang telah dibuat oleh H.M Soeharto sudah mencerminkan demokrasi yang sehat, hanya berjumlah 16 orang atau 16 %, sedangkan responden yang

berpendapat bahwa kebijakan politik yang dibuat oleh H.M. Soeharto belum mencerminkan demokrasi yang sehat berjumlah 84 orang atau 84 %, dalam hal ini peneliti dapat mengambil kesimpulan dari alasan –alasan yang diberikan responden terhadap pencerminan kebijakan politik pada msa kepemimpinan H.M Soeharto. Responden yang berpendapat bahwa kebijakan politik pada masa H.M. Soeharto sudah mencerminkan Demokrasi yang sehat karena menurut responden, pemerintah sudah H.M Soeharto sudah menyelenggarakan Pemilu dimana masyarakat ikut serta berpartisipasi dalam bidang politik, dan dengan adanya tiga kekuatan sosio politik yang dibentuk pada masa itu dapat membawakan keinginan rakyat sehingga menciptakan demokrasi yang sehat, sedangkan responden yang berpendapat bahwa kebijakan politik pada masa Soeharto belum mencerminkan demokrasi yang sehat, karena menurut responden, Pemerintah tidak memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan menyuarakan aspirasinya secara demokrasi, rakyat hanya mengikuti sesuai dengan keinginan pemerintah, hal ini dapat dilihat dengan danya penyederhanaan partai yang pada saat masa kepemimpinan H.M Soeharto hanya terbentuk tiga kekuatan sosial politik yaitu Golkar, PDI, PPP, masyarakat tidak boleh mendirikan partai lain, masyarakat tidak memiliki kebebasan yang nyata untuk meyuarakan aspirasinya. Semua kebijakan sesuai dengan keinginan Pemerintah.

3.2.6 Tanggapan Masyarakat Terhadap Kepemimpinan H.M. Soeharto Tabel III.15

Tanggapan Responden Terhadap Tipe Kepemimpinan H.M. Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Otoriter 100 100%

2 Demokrasi - -

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas, seluruh responden berpendapat bahwa kepemimpinan H.M. Soeharto adalah kepemimpinan yang otoriter, dalam hal ini peneliti dapat menyimpulkan dari alasan – alasan yang diberikan oleh seluruh responden, karena menurut responden, H.M Soeharto adalah seorang pemimpin yang memiliki egoisme yang sangat besar, dengan melihat peranannya sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan negara dan bangsa Indonesia, dalam hal ini H.M. Soeharto melakukan pembenaran segala cara yang ditempuh untuk pencapain tujuan dan yang paling terpenting segala cara akan dailakukan untuk mempertahankan kekuasaan , sikap otoriter yang dimiliki oleh Soeharto membentuk suatu kebijakan tanpa melihat kepentingan atau kebutuhan rakyat Indonesia, segala sesuatu hal terbentuk sesuai dengan keinginan Soeharto. Realita dari otoritarian H.M. Soeharto adalah pembungkaman aspirasi rakyat secara total oleh pemerintah, jika terjadi gejolak di masyarakat, pemerintah langsung mengambil langkah tegas dengan cara proses hukum atau tanpa proses hukum.

Tabel III.16

Tanggapan Responden Terhadap Komitmen yang Kuat pada Demokrasi Pada Kepemimpinan H.M. Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik - -

2 Belum Baik 100 100

Jumlah 100 100%

Sumber : Kuesioner Februari 2008

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa seluruh responden berpendapat bahwa Kepemimpinan H.M. Soeharto belum memiliki komitmen yang kuat pada demokrasi, walaupun dalam kepemimpinan H.M. Soeharto telah membentuk demokrasi pancasila, selain itu dalam kepemimpinan H.M. Soeharto juga melaksanakan penyelenggaraan Pemilu dan membentuk tiga kekuatan sosio politik yaitu Golkar, PPP, PDI, hal ini sudah menunjukkan bahwa dalam kepemimpinan H.M. Soeharto sudah terbentuk suatu demokrasi, tetapi dalam kenyataannya kepemimpinan H.M Soeharto belum memiliki komitmen yang kuat pada demokrasi, hal ini dilihat dari kepemimpinan Soeharto dalam pelaksanaan kepemimpinannya di dominasi dengan sistem otoriter, salah satunya adalah dalam mengambil keputusan untuk menghasilkan kebijakan sepenuhnya berada ditangan H.M. Soeharto.

Tabel III.17

Tanggapan Responden Terhadap Rasa Aman dan Status Kepada Masyarakat Pada Masa Kepemimpinan H.M. Soeharto

No Menurut Responden Jumlah Persentase

1 Sudah Baik 92 92%

2 Belum Baik 8 8%

Jumlah 100 100%

Berdasarkan data diatas, responden yang sudah merasa aman pada masa H.M Soeharto berjumlah 92 orang atau 92 %, sedangkan responden yang berpendapat pada masa H.M. belum memberikan rasa aman dengan jumlah 8 orang atau 8 %, dalam hal ini, peneliti dapat menyimpulkan dari alasan –alasan yang di berikan oleh responden, responden yang berpendapat sudah memberikan rasa aman karena menurut responden, kepemimpinan H.M. Soeharto telah menciptakan rasa aman dan tentram bagi masyarakat,dan pada mas kepemimpinan H.M Soeharto sudah memberikan status yang jelas kepada masing – masing anggota masyarakat, tidak pernah terjadi keributan bahkan kerusuhan besar- besaran, premanisme tidak berkembang, tidak ada kriminalitas yang memuncak,

Dokumen terkait