• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.8 Penyajian Hasil Analisis Data

Hasil analisis data dalam penelitian ini akan disajikan secara formal (dalam bentuk tabel) dan secara informal (dalam bentuk naratif). Hasil analisis mengenai persepsi wisatawan terhadap produk Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar disajikan dalam bentuk tabel yang didukung oleh penjelasan-penjelasan secara formal dan informal.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi dan Obyek Penelitian 4.1.1 Kondisi Geografis Desa Kesiman Kertalangu

Desa Kesiman Kertalangu terletak ± 15 km ke arah timur dari jantung Kota Denpasar. Desa Kesiman Kertalangu berada dalam posisi yang sangat strategis, karena terletak diantara pusat pariwisata Sanur dengan Kabupatan Gianyar, dan berada pada jalur transportasi ekonomi produktif (Jalan By Pass Ngurah Rai), dengan batas wilayah di sebelah utara Desa Penatih Dangin Puri, di sebelah selatan Samudra Indonesia, di sebelah timur Kabupaten Gianyar, dan di sebelah barat Desa Kesiman Petilan.

Desa Kesiman Kertalangu merupakan bagian dari wilayah Kota Denpasar yang terletak di antara 08°35¨31´ - 08°44¨49´ Lintang Selatan dan 115°10¨23´- 115°16¨27´ Bujur Timur. Ditinjau dari topografi keadaan medan Desa Kesiman Kertalangu merupakan wilayah dataran rendah yang mempunyai ketinggian 0-25 m di atas permukaan laut, dengan temperatur suhu udara rata-rata 32° C, dengan curah hujan berkisar antara 1430 mm per tahun, serta mengalami dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau (Profil Desa Kesiman Kertalangu, 2007).

Desa Kesiman Kertalangu adalah merupakan desa yang paling selatan di wilayah Kecamatan Denpasar Timur, yang diapit oleh dua sungai besar yaitu: Sungai Ayung dan Sungai Palirang. Pada desa ini juga terdapat/ dialiri oleh sungai kecil yaitu sungai (Telabah). Jadi desa ini juga merupakan daerah pinggiran pantai (Pantai Biaung) yang merupakan muara dari aliran sungai yang ada dan membawa arti penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat petani. Irigasi untuk lahan pertanian di wilayah ini dikelola oleh subak yaitu Subak Padanggalak (Pendataan Potensi Desa Wisata, 2011).

Luas wilayah Desa Kesiman Kertalangu adalah 405 hektar, dengan komposisi pemanfaatan lahan untuk sawah irigasi ½ teknis 112 hektar, tanah sawah untuk pengembangan Desa Budaya Kertalangu seluas 80 hektar, tanah kering tegal/ ladang 20 hektar, pemukiman penduduk 230, 84 hektar, tanah fasilitas umum dalam bentuk lapangan seluas 3 hektar, perkantoran pemerintah 3 hektar, dan lainnya 1 hektar (Pendataan Potensi Desa Wisata, 2011).

4.1.2 Kondisi Demografis Desa Kesiman Kertalangu

Jumlah penduduk Desa Kesiman Kertalangu pada tahun 2010 tercatat sebanyak 10.870 orang, bila dilihat dari komposisi jenis kelamin jumlah penduduk laki-laki adalah sebanyak 5.741 orang, dan jumlah penduduk perempuan adalah sebanyak 5.129 orang. Sedangkan ditinjau dari komposisi jumlah penduduk usia

produktif yaitu yang berumur 15 sampai 54 tahun terdapat sebanyak 7.521 orang, yang terdiri dari 3.957 orang berjenis kelamin laki-laki, dan 3.545 orang berjenis kelamin perempuan. Jumlah penduduk usia non produktif yang terdapat di Desa Kesiman Kertalangu berumur 55 sampai 59 tahun dan 0 sampai 14 tahun adalah sebanyak 3.349 orang, yang terdiri dari penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 1.784 orang, dan penduduk berjenis kelamin perempuan sebanyak 1.584 orang. Desa Kesiman Kertalangu tergolong cukup padat, hal ini ditinjau dari pengamatan tingkat kepadatan penduduk dimana pada tahun 2010 jumlah penduduk sebesar 10.870 orang serta luas lahan/ wilayah seluas 405 hektar, maka tingkat kepadatannya adalah sebesar 26, 83 % (Pendataan Potensi Desa Wisata, 2011).

Dari segi ekonomi, mata pencaharian masyarakat Desa Kesiman Kertalangu cukup bervariasi, antara lain sebagai petani sebanyak 247 orang, serta sebagai buruh tani sebanyak 165 orang. Masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai buruh/

swasta/ pariwisata sebanyak 4.188 orang, dan sebagai Pegawai Negeri Sipil sebanyak 1.893 orang. Mata pencaharian yang lain adalah pengrajin sebanyak 89 orang, pedagang sebanyak 721 orang, peternak sebanyak 78 orang, montir sebanyak 86 orang, dan dokter sebanyak 54 orang. Sedangkan mata pencaharian sebagai nelayan kurang diminati warga sehingga tidak ada yang bermata pencaharian ini di Desa Kesiman Kertalangu. Adapun keterangan lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1

Komposisi Penduduk Desa Kesiman Kertalangu Menurut Mata Pencaharian

No. Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Jumlah (Orang)

Persentase (%)

1. Petani 247 0,023

2. Buruh tani 165 0,015

3. Buruh/ swasta/ pariwisata 4.188 0,39

4. Pegawai Negeri Sipil 1.893 0,17

5. Pengrajin 89 0,008

6. Pedagang 721 0,066

7. Peternak 78 0,007

8. Montir 86 0.008

9. Dokter 54 0,005

10. Nelayan 0 0

Sumber : Pendataan Potensi Desa Wisata, 2011

4.1.3 Sejarah Berdirinya Usaha Daya Tarik Wisata Desa Budaya Kertalangu

Usaha daya tarik wisata Desa Budaya Kertalangu berdiri di kawasan seluas 80 hektar yang termasuk dalam wilayah administratif Desa Kesiman Kertalangu. Sejarah berdirinya Desa Budaya Kertalangu seperti telah dipaparkan pada Bab 1, tidak lepas dari peranan para tokoh masyarakat Desa Kesiman Kertalangu yang mencetuskan gagasan pembentukan usaha daya tarik wisata ini. Berawal dari pertemuan intensif para tokoh masyarakat, kelian banjar adat, pemilik tanah, organisasi subak, beserta segenap aparat desa, dengan agenda pembahasan: “bagaimana mempertahankan kawasan jalur hijau Desa Kesiman Kertalangu agar tetap hijau, namun memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar,” maka lahirlah gagasan untuk mengembangkan kawasan menjadi usaha daya tarik wisata baru, dengan nama: “Desa Budaya Kertalangu” (http://www.visitkertalangu.com diakses tanggal 10 Januari 2011).

Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan Kepala Desa Kesiman Kertalangu, Ida Bagus Bima Putra, yang menyatakan bahwa berdirinya Desa Budaya Kertalangu berawal dari niat yang sederhana dari para tokoh masyarakat khususnya Bapak Dewa Ngurah Rai sebagai konseptor awal, untuk dapat mempertahankan jalur hijau di wilayah Desa Kesiman Kertalangu serta agar dapat memberikan nilai tambah perekonomian bagi para petani agar mereka tidak terdesak oleh kondisi modernisasi dan akhirnya menjual lahan sawah mereka. Ide konservasi ini lalu mendapat apresiasi

masyarakat serta Pemerintah Kota Denpasar dan akhirnya dicapai kesepakatan bersama untuk mendukung pendirian Desa Budaya Kertalangu.

Pendirian Desa Budaya Kertalangu mengalami proses perijinan yang cukup panjang dimulai dari permohonan rekomendasi pembuatan jogging track (lintasan lari santai) kepada Bapak Walikota Denpasar saat itu yaitu Bapak A.A Puspayoga, dan permohonan tersebut disetujui dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Walikota Denpasar dengan nomor SK.503/10272/TKB tertanggal 10 Oktober 2005. Hingga diresmikan menjadi usaha daya tarik wisata seperti saat ini pada tanggal 22 Juni 2007 langsung oleh Walikota Denpasar Bapak A.A Puspayoga. Penetapan Desa Kesiman Kertalangu Kecamatan Denpasar Timur sebagai desa budaya dikukuhkan dengan penerbitan Surat Keputusan Walikota Denpasar Nomor 25 Tahun 2008. Dalam surat keputusan tersebut menyebutkan mengenai pengembangan Desa Kertalangu sebagai desa budaya terdiri dari penyiapan sarana jalan setapak sebagai jogging track;

program pertanian sebagai atraksi wisata; penyediaan tempat wisata budaya dan pentas seni tradisional; sentra industri kerajinan rakyat; sarana kolam pancing dan pembibitan ikan (Mina Padi); program wisata kuliner dan masakan desa; dan fasilitas lain sebagai pendukung desa budaya.

Selanjutnya mengenai persyaratan teknis pengembangan Desa Budaya Kertalangu ditetapkan perbandingan antara kawasan terbangun dengan ruang terbuka hijau diijinkan sebesar 10% dari luas areal yang dikembangkan yaitu seluas 80 hektar. Sedangkan mengenai persyaratan teknis bangunan penunjang kawasan dapat

dibangun dengan memperhatikan ketentuan teknis yang berlaku, tidak bertingkat serta tetap mencerminkan arsitektur tradisional Bali, dan untuk bangunan penunjang wisata jogging track dapat dibangun bangunan tempat berteduh pada tempat-tempat tertentu dengan ukuran 2 x 2 meter tanpa dinding. Mengenai daya tarik pertanian pada Desa Budaya Kertalangu, dalam surat keputusan walikota tersebut juga ditegaskan untuk tetap mempertahankan sistem Subak sebagai pola pengairan tradisional Bali.

Dari segi operasionalnya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa Kesiman Kertalangu Ida Bagus Bima Putra, saat ini Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik di Kota Denpasar secara keseluruhan berada dalam pengawasan tiga komponen utama, yaitu pihak masyarakat Desa Kesiman Kertalangu, Pemerintah Kota Denpasar, dan investor yang menanamkan modal dan membangun usaha di dalam kawasan Desa Budaya Kertalangu. Namun dari segi teknis pelaksanaan operasionalnya, pihak Desa Kesiman Kertalangu menyerahkan kepada investor dalam hal ini PT.Uber Sari beserta koleganya yaitu PT. Bali Multi Wisata untuk mengelola kawasan Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata. Sedangkan mengenai putusan apa pun yang menyangkut masalah pembangunan atau pengembangan kawasan haruslah seijin dari masyarakat Desa Kesiman Kertalangu sebagai pemilik lahan dan seijin Pemerintah Kota Denpasar sebagai penentu kebijakan yang berwenang.

Mengenai kepemilikan lahan sawah yang digunakan sebagai kawasan Desa Budaya Kertalangu adalah lahan milik masyarakat Desa Kesiman Kertalangu yang diikat dengan perjanjian sewa menyewa dengan PT.Uber Sari selaku pengelola kawasan. Adapun perjanjian yang disepakati adalah pengikatan sewa menyewa untuk jangka waktu yang bervariasi antara 5 sampai 30 tahun. Perolehan pendapatan yang didapat dari operasional Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata disepakati sebanyak 5% diterima oleh Desa Kesiman Kertalangu, sedangkan sisanya dipergunakan untuk biaya operasional dan lain-lain

4.2 Karakteristik Responden

Responden yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah wisatawan yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu selama durasi penelitian yaitu bulan Oktober 2011. Sampel penelitian ditentukan dengan metode accidental sampling, dan jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 orang. Adapun karakteristik wisatawan tersebut akan dipaparkan berdasarkan jenis kelamin, daerah asal, tingkat usia, pekerjaan, lama tinggal, frekuensi kunjungan, dan lokasi tinggal selama berada di Bali.

4.2.1 Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, dari 30 orang wisatawan baik asing maupun wisatawan nusantara sebagai responden, diperoleh data bahwa jumlah wisatawan yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu yang berjenis kelamin perempuan lebih dominan, yaitu sebanyak 18 orang (60%). Sedangkan wisatawan yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 12 orang (40%).

Perbandingan jumlah wisatawan sebagai responden yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu dari jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Responden

(Orang)

Persentase (%) Perempuan

Laki-laki

18 12

60 40

Jumlah 30 orang 100%

Sumber: Hasil penelitian 2011

4.2.2 Daerah Asal

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, dari 30 orang wisatawan baik asing maupun wisatawan nusantara sebagai responden, diperoleh data bahwa responden yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu berasal dari berbagai daerah, yaitu; Denpasar sebanyak 10 orang (33,3%), Surabaya sebanyak 3 orang (10%), Surakarta sebanyak 2 orang (6,7%), Jakarta sebanyak 2 orang (6,7%), Malang sebanyak 3 orang (10%), Bandung sebanyak 3 orang (10%), Gianyar sebanyak 2 orang (6,6%), Perancis sebanyak 1 orang (3,3%), Belanda sebanyak 2 orang (6,7%), Jerman sebanyak 2 orang (6,7%).

Adapun perbandingannya dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3

4.2.3 Tingkat Usia

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, dari 30 orang wisatawan baik asing maupun wisatawan nusantara sebagai responden, diperoleh data bahwa bila ditinjau dari tingkat usia wisatawan diperoleh hasil wisatawan dari tingkat usia 15-29 tahun sebanyak 11 orang (36,6%), wisatawan dari tingkat usia 30-44 tahun sebanyak 9 orang (30%), tingkat usia 45-64 tahun sebanyak 8 orang (26,7%), dan wisatawan yang berusia diatas 65 tahun sebanyak 2 otang (6,7%). Perbandingan jumlah wisatawan sebagai responden yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu ditinjau dari tingkat usia dapat dilihat pada Tabel 4.4.

4.2.4 Pekerjaan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, dari 30 orang wisatawan baik asing maupun wisatawan nusantara sebagai responden, diperoleh data bahwa responden yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu berasal dari berbagai kalangan profesi. Adapun detailnya adalah sebagai berikut; jumlah responden yang memiliki pekerjaan sebagai pengusaha/ pebisnis sebanyak 5 orang (16,7%), guru/ dosen sebanyak 5 orang (16,7%), seniman/ artis sebanyak 2 orang (6,7%), dokter sebanyak 1 orang (3,3%) orang, pelajar/mahasiswa sebanyak 7 orang (23,3%), pegawai swasta sebanyak 7 orang (23,3%), pensiunan Pegawai Negeri Sipil 2 orang (6,7%), dan ibu rumah tangga sebanyak 1 orang (3,3%). Perbandingan responden yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu ditinjau dari jenis pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5

4.2.5 Frekuensi Kunjungan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, dari 30 orang wisatawan baik asing maupun wisatawan nusantara sebagai responden, diperoleh data bahwa dilihat dari frekuensi kunjungan responden ke Desa Budaya Kertalangu, sebanyak 9 orang (30%) menyatakan kunjungannya yang pertama kali, 14 orang (46,7%) telah berkunjung sebanyak 2 sampai 5 kali, dan sebanyak 7 orang (23,3%) telah berkunjung lebih dari 5 kali.

Adapun perbandingannya dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6

4.2.6 Lama Tinggal (length of stay)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, dari 30 orang wisatawan baik asing maupun wisatawan nusantara sebagai responden, diperoleh data bahwa bila ditinjau dari lama tinggal

wisatawan di Bali, diketahui bahwa dari 30 orang responden, 9 orang (30%) menyatakan lama tinggal mereka di Bali kurang dari 1 minggu, dan 21 orang menyatakan tinggal lebih dari 1 minggu (70%). Adapun perbandingannya dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7

Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Tinggal (length of stay) Lama Tinggal Jumlah Responden

(Orang)

Persentase (%) Kurang dari 1 minggu

Lebih dari 1 minggu

9 21

30 70

Jumlah 30 orang 100%

Sumber: Hasil penelitian 2011

4.2.7 Lokasi Tinggal

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, dari 30 orang wisatawan baik asing maupun wisatawan nusantara sebagai responden, diperoleh data bahwa bila ditinjau dari lokasi tinggal selama berada di Bali, maka diperoleh hasil sebagai berikut; 13 orang (43,3%) tinggal di kawasan Denpasar, 5 orang (16,7%) tinggal di kawasan Kuta, 4 orang (13,3%) tinggal di kawasan Nusa Dua, 6 orang (20%) tinggal di kawasan Sanur, dan 2 orang (6,7%) tinggal di kawasan Gianyar. Perbandingan responden yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu ditinjau dari lokasi tinggal selama berada di Bali, dapat dilihat

Potensi yang dimiliki Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar, dapat kita tinjau dari segala hal dan keadaan, baik nyata dan dapat diraba maupun yang tidak teraba, yang digarap, diatur dan disediakan sedemikian rupa sehingga dapat bermanfaat atau dimanfaatkan atau diwujudkan sebagai kemampuan. Hal ini sesuai dengan konsep yang diberikan oleh Damardjati yang kemudian dipertegas kembali menjadi dua garis besar sesuai dengan pendapat Pendit, menjadi potensi budaya dan potensi alamiah.

4.3.1 Potensi Budaya

Adapun potensi budaya yang terdapat di Desa Budaya Kertalangu dapat kita lihat dari beberapa fasilitas penunjang serta produk wisata yang dikemas dalam bentuk program-program edukasi bagi para pengunjung untuk menambah wawasan mengenai budaya Bali, khususnya budaya masyarakat Desa Kesiman Kertalangu.

Berdasarkan teori the tourist qualities of a destination oleh Burkart & Medlik, potensi budaya tersebut dapat dikategorikan dalam kategori atraksi-atraksi, berupa produk-produk wisata berikut.

a). Seni Arsitektur

Seni arsitektur yang digunakan dalam pembangunan dan penataan fasilitas-fasilitas penunjang menjadi salah satu bagian dari atraksi di Desa Budaya Kertalangu. Bangunan-bangunan yang tersedia baik dari segi desain maupun fungsinya, disesuaikan dengan ketentuan dalam Surat Keputusan Walikota Denpasar

Nomor 25 Tahun 2008 mengenai pengembangan Desa Budaya Kertalangu sebagai desa budaya. Hal ini tidak terlepas dari konsep awal yang telah disepakati bersama antara para tokoh masyarakat dan warga Desa Kesiman Kertalangu pada saat pendirian Desa Budaya Kertalangu, untuk tidak meninggalkan ciri khas arsitektur tradisional Bali yang menjadi salah satu penanda kebudayaan Bali yang krusial.

Bentuk potensi budaya yang telah digarap dalam seni arsitektur pada salah satu fasilitas penunjang di Desa Budaya Kertalangu dapat dilihat pada Gambar 4.1 dibawah ini.

Gambar 4.1 Seni arsitektur tradisional bali pada fasilitas penunjang di Desa Budaya Kertalangu

Sumber : dokumen pribadi (8/10/ 2011)

Arsitektur tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari jaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada lontar Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud. Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya (http://www.petra.ac.id/science/architecture/bali/bali.htm). Konsep dasar tersebut adalah:

Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga

Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cupu

Konsep proporsi dan skala manusia Konsep court, Open air

Konsep kejujuran bahan bangunan

Arsitektur tradisional Bali yang terdapat pada berbagai fasilitas penunjang di Desa Budaya Kertalangu seperti terlihat pada gambar 4.1, lebih banyak menggunakan konsep pavilion terbuka atau Open Air. Hal ini dipertegas dengan persyaratan

bangunan penunjang kawasan yang dibangun tidak bertingkat, mencerminkan arsitektur tradisional Bali, dan untuk bangunan penunjang wisata jogging track didirikan bangunan tempat berteduh pada tempat-tempat tertentu dengan ukuran 2 x 2 meter tanpa dinding.

b). Pementasan seni

Potensi budaya lainnya yang sudah digarap dan dikembangkan di Desa Budaya Kertalangu adalah pementasan seni dan acara hiburan. Adapun pementasan seni yang menjadi salah satu daya tarik atau atraksi wisata adalah berupa pementasan seni tari-tarian seperti Tari Barong dan Kecak, Joged Bumbung, Legong dan Jegog.

Pementasan seni tari-tarian ini merupakan suatu atraksi yang baru dikemas, sehingga sifatnya masih berdasarkan permintaan konsumen (based upon request). Menurut wawancara dengan Bapak Dewa Ngurah Rai pimpinan dari PT.Uber Sari selaku pengelola kawasan Desa Budaya Kertalangu, rencana awalnya adalah membuat pementasan seni tari-tarian ini menjadi sebuah acara reguler yang rutin dijadwalkan untuk dipertunjukkan pada wisatawan. Namun masih mengalami beberapa kendala sehingga belum dapat dilaksanakan secara reguler. Penari dan penabuh yang dipersiapkan untuk mendukung pementasan seni tari-tarian ini seluruhnya berasal dari warga Desa Kesiman Kertalangu yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Gambar 4.2 Pementasan seni tari Bali.

Sumber : Desa Budaya Kertalangu (2010).

c). Aktivitas Budaya

Berikutnya potensi budaya yang telah dikembangkan pengelola Desa Budaya Kertalangu adalah berupa aktivitas budaya baik yang dilakukan oleh warga masyarakat maupun yang ditujukan bagi pengunjung. Berbagai aktivitas budaya baik dalam bentuk ritual keagamaan yang dilakukan oleh krama subak, maupun aktivitas sehari-hari warga Desa Kesiman Kertalangu khususnya yang melakukan kegiatan bercocok tanam di persawahan, merupakan potensi budaya yang menjadi fokus utama sebagai daya tarik andalan Desa Budaya Kertalangu. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan pihak Kepala Desa Kesiman Kertalangu, Bapak Ida Bagus Bima Putra dan pihak pengelola dari PT.Uber Sari, Bapak Dewa Ngurah Rai, yang sepakat menyatakan bahwa berangkat dari tujuan awal pendirian Desa Budaya Kertalangu

adalah sebagai langkah konservasi lahan persawahan yang ada di wilayah Desa Kesiman Kertalangu agar tetap terpelihara dan dapat memberikan nilai tambah ekonomi khususnya bagi masyarakat lokal.

Aktivitas budaya yang dilakukan masyarakat lokal di lahan persawahan dapat disaksikan sebagai atraksi yang menyenangkan bagi para pengunjung tanpa dipungut biaya apapun. Sedangkan untuk aktivitas budaya yang dapat diikuti oleh para pengunjung sebagai partisipan, dikemas dalam bentuk paket-paket program edukasi maupun workshop demonstration. Aktivitas yang termasuk dalam paket-paket program edukasi tersebut antara lain; belajar membuat kerajinan tangan berupa keramik, gerabah, lilin, kaca, lampu dan sabun aromatherapy, belajar melukis, belajar menanam padi, dan menggiring bebek. Beberapa contoh aktivitas budaya tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.3, Gambar 4.4, dan Gambar 4.5.

Gambar 4.3 Paket edukasi belajar melukis di Desa Budaya Kertalangu.

Sumber : Desa Budaya Kertalangu (2010).

Gambar 4.4 Paket edukasi belajar membuat kerajinan keramik dan kaca di Desa Budaya Kertalangu.

Sumber : Desa Budaya Kertalangu (2010).

Aktivitas budaya lainnya yang termasuk dalam program edukasi adalah Pesraman Budaya Bali, dimana pengunjung dapat belajar menari, belajar mejejahitan, belajar memasak, belajar melukis serta belajar menabuh. Seluruh aktivitas budaya ini dipandu oleh para masyarakat setempat sebagai instruktur.

Gambar 4.5 Paket edukasi belajar mejejahitan di Desa Budaya Kertalangu.

Sumber : Desa Budaya Kertalangu (2010).

Dari keseluruhan potensi budaya yang telah digarap di atas, semuanya telah dikemas dalam bentuk produk wisata atau program-program edukasi yang memiliki nilai budaya maupun ekonomis, khususnya untuk menambah pendapatan masyarakat

desa setempat. Namun ada beberapa kendala dalam pelaksanaannya secara reguler, sehingga saat ini hanya dapat diselenggarakan sesuai dengan permintaan. Dari hasil wawancara dengan pengelola Desa Budaya Kertalangu, Bapak Dewa Ngurah Rai, mengungkapkan:

“Potensi budaya yang dimiliki Desa Budaya Kertalangu sesungguhnya sangat besar, namun ada beberapa kendala yang kita hadapi. Misalnya untuk kegiatan pertunjukan seni dan lain-lain, belum berjalan sebagaimana mestinya (secara reguler), karena terkendala pasar dan tempat yang kurang representatif.”

Selanjutnya beliau juga menambahkan mengenai tujuan awal pendirian Desa Budaya Kertalangu sebagai berikut:

“Tujuan kita membuat Desa Budaya (ini) adalah berawal dari pemikiran sederhana yaitu dari cita-cita melakukan konservasi budaya Bali di tengah-tengah Kota Denpasar.”

4.3.2 Potensi Alamiah

Desa Budaya Kertalangu memiliki potensi alamiah yang menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi para pengunjungnya. Adapun definisi konsep dari potensi alamiah tersebut adalah potensi yang ada di masyarakat, yang berupa potensi fisik dan geografi seperti alam. Potensi alamiah yang sangat jelas terlihat dan menjadi andalan dalam pengemasan produk wisata di Desa Budaya Kertalangu, adalah pertanian dan bentang alam. Pengunjung dapat menikmati potensi alamiah berupa pertanian dan bentang alam dalam berbagai aktivitas yang dikemas dalam produk-produk wisata yang berbentuk atraksi wisata maupun fasilitas yang melengkapinya,

seperti jogging track, fasilitas outbound dan lahan edukasi pertanian, serta bale bengong (gazebo).

a). Jogging Track dan menunggang kuda pony.

Potensi alamiah yang merupakan andalan dari Desa Budaya Kertalangu berupa pertanian dan bentang alam seluas 80 hektar, dimanfaatkan untuk berbagai

Potensi alamiah yang merupakan andalan dari Desa Budaya Kertalangu berupa pertanian dan bentang alam seluas 80 hektar, dimanfaatkan untuk berbagai

Dokumen terkait