• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS DESA BUDAYA KERTALANGU SEBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA DI KOTA DENPASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS DESA BUDAYA KERTALANGU SEBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA DI KOTA DENPASAR"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

DESA BUDAYA KERTALANGU SEBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA

DI KOTA DENPASAR

NI KETUT WIWIEK AGUSTINA

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2012 TESIS

(2)

DESA BUDAYA KERTALANGU SEBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA

DI KOTA DENPASAR

NI KETUT WIWIEK AGUSTINA NIM 0991061031

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI KAJIAN PARIWISATA PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

2012

DESA BUDAYA KERTALANGU SEBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA

DI KOTA DENPASAR

(3)

DESA BUDAYA KERTALANGU

SEBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA DI KOTA DENPASAR

Tesis Untuk Memperoleh Gelar Magister

Pada Program Magister, Program Studi Kajian Pariwisata, Program Pascasarjana Universitas Udayana

NI KETUT WIWIEK AGUSTINA NIM 0991061031

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI KAJIAN PARIWISATA PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

2012

(4)

Lembar Pengesahan

Tesis Ini Telah Disetujui Tanggal 10 Januari 2012

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. Nyoman Sirtha, SH., MS Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc NIP 194409291973021001 NIP 195302111982031001

Mengetahui

Ketua Program Studi Kajian Pariwisata, Direktur Program Pascasarjana Program Pascasarjana Universitas Udayana, Universitas Udayana,

Prof. Dr.Nyoman Sirtha, SH., MS Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, SP.S (K)

NIP 194409291973021001 NIP 195902151985102001

(5)

Penetapan Panitia Penguji Tesis

Tesis Ini Telah Diuji Pada Tanggal 18 Januari 2012

Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana, No : 117/ UN14.4/HK/2012 Tanggal 16 Januari 2012

Ketua : Prof. Dr. Nyoman Sirtha, SH., MS Sekretaris : Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc

Anggota :

1. Prof. Dr. Ir. Made Antara, MS 2. Dr. Ir. Syamsul Alam Paturusi, MSP 3. Dra. A.A Kartika Dewi, M.M

(6)
(7)

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/

Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung wara nugraha-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “ Desa Budaya Kertalangu Sebagai Usaha Daya Tarik Wisata di Kota Denpasar.” Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (K) selaku Rektor Universitas Udayana atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister di Universitas Udayana.

2. Prof. Dr. dr. A.A Raka Sudewi, SP (K) selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi karyasiswa Program Magister pada Program Pascasarjana Universitas Udayana.

3. Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH., MS selaku Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata sekaligus sebagai Pembimbing I, atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi karyasiswa serta atas segala perhatian, dorongan, saran dan kesabaran yang diberikan kepada penulis dalam membimbing penyusunan tesis ini.

4. Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc selaku Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali serta sebagai Pembimbing II, atas ijin dan kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menempuh pendidikan Strata 2, dan atas bimbingan, masukan, serta saran dalam penyempurnaan penyusunan tesis ini.

5. Seluruh jajaran Pimpinan dan Senat Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali atas ijin, kesempatan dan bantuan finansial yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menempuh pendidikan Strata 2.

(8)

6. Para dosen penguji, yaitu Prof. Dr. Ir. Made Antara, MS, Dr. Ir. Syamsul Alam Paturusi, MSP, dan Dra. A.A Kartika Dewi, M.M, yang telah memberikan banyak masukan, saran dan koreksi untuk menyempurnakan tesis ini.

7. Seluruh dosen pengajar dan staf administrasi pada Program Studi Magister Kajian Pariwisata.

8. Kepala Desa Kesiman Kertalangu, Bapak Ida Bagus Bima Putra, atas segala bantuan informasi, ijin dan kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di wilayah Desa Kesiman Kertalangu.

9. Pimpinan PT.Uber Sari, Bapak Dewa Ngurah Rai beserta seluruh manajemen dan staff selaku pengelola kawasan Desa Budaya Kertalangu atas segala bantuan, ijin, dan kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

9. Kedua orang tua, suami dan anak tercinta Julian, atas doa, dorongan, perhatian, bantuan dan semangat yang diberikan kepada penulis.

10. Seluruh rekan-rekan angkatan IX Program Studi Magister Kajian Pariwisata, serta berbagai pihak yang telah membantu penelitian serta penyusunan tesis ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, dan mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan penyusunan tesis ini.

Denpasar, Desember 2011

Penulis

(9)

ABSTRAK

DESA BUDAYA KERTALANGU

SEBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA DI KOTA DENPASAR

Kepariwisataan di Bali khususnya, telah memberikan pengaruh nyata yang besar terhadap perekonomian regional. Sektor pariwisata akan tetap menjadi sektor terdepan (leading sector) dalam pembangunan ekonomi daerah Bali di masa-masa mendatang. Untuk menyikapi hal tersebut maka Pemerintah Propinsi Bali melalui Dinas Pariwisata dan instansi terkait lainnya berupaya membenahi dan menata daya tarik wisata yang ada serta mengembangkan desa-desa yang memiliki potensi pariwisata, salah satunya adalah Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Berdasarkan kesepakatan bersama maka dibentuklah Desa Budaya Kertalangu yang diresmikan pada 22 Juni 2007.

Sebagai usaha daya tarik wisata yang relatif baru, Desa Budaya Kertalangu memiliki misi konservasi, edukasi dan eksistensi budaya Bali.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi dan keberadaan Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata yang relatif baru di Kota Denpasar dari perspektif wisatawan yang berkunjung khususnya mengenai motivasi dan persepsi mereka. Penelitian dilakukan di Desa Budaya Kertalangu pada bulan Oktober 2011, sebagai informan adalah Kepala Desa Kesiman Kertalangu, dan pengelola Desa Budaya Kertalangu beserta staf yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sebagai responden adalah 30 orang wisatawan asing dan nusantara, dimana pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling.

Hasil penelitian menunjukkan potensi budaya dan alamiah yang dimiliki Desa Budaya Kertalangu sangat besar dan masih banyak yang bisa dikembangkan. Potensi-potensi inilah sebagai motivasi yang mendorong wisatawan untuk berkunjung, dimana didominasi oleh motivasi fisik (physical motivators) yaitu sebanyak 30% responden. Sedangkan persepsi wisatawan yang mengunjungi Desa Budaya Kertalangu ditinjau dari variabel atraksi-atraksi, indikator yang memperoleh penilaian Sangat Baik (SB) adalah pemandangan alam dengan skor 5,0 pertanian dengan skor 4,4 dan aktivitas masyarakat dengan skor 4,3. Ditinjau dari variabel aksesibilitas, indikator-indikator yang memperoleh penilaian Baik (B) adalah lokasi obyek dan kondisi jalan menuju lokasi dengan skor 4,0. Berikutnya dari variabel amenitas/fasilitas-fasilitas, indikator jogging track dan kolam pancing mendapatkan penilaian persepsi Sangat Baik (SB) dengan skor 4,6 dan 4,4. Dari variabel terakhir organisasi kepariwisataan/ pengelola, indikator yang memperoleh penilaian persepsi baik (B) yaitu keamanan dengan skor 4,0. Berdasarkan hasil penelitian, keberadaan Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata secara keseluruhan mendapat penilaian persepsi yang baik, namun perlu segera ditindaklanjuti indikator-indikator yang dinilai buruk oleh para responden agar dapat meningkatkan penilaian persepsi dari para pengunjung serta dapat memberikan pengalaman wisata yang lebih berkesan.

Kata kunci: Potensi, Motivasi, Persepsi, Usaha Daya Tarik Wisata.

(10)

ABSTRACT

DESA BUDAYA KERTALANGU

AS A TOURIST ATTRACTION IN DENPASAR

Tourism especially in Bali, has given a real big influence into the regional economy. Tourism sector will remain as the leading sector for Bali’s economy for many years to come. In order to anticipate it, Bali provincial government through the tourism authority and other related divisions try to improve, and restructure the available tourist attractions, also develop new tourist attractions throughout the villages in Bali. One of those villages is Kesiman Kertalangu village, Denpasar Timur district, in Denpasar city. Based on a mutual agreement, Desa Budaya Kertalangu was officially opened on June 22nd, 2007. As a relatively new tourist attraction, Desa Budaya Kertalangu has a mission to bring conservation, education and Balinese cultural values.

The research purpose is to know Desa Budaya Kertalangu potencies and its well being as a relatively new tourist attraction in Denpasar city, from the tourist’s perspectives, especially concerning their motivation and perception about Desa Budaya Kertalangu. The research was conducted in October 2011, the informants were the Head of Kesiman Kertalangu Village, the manager of Desa Budaya Kertalangu and several staffs taken as samples through purposive sampling method.

While the respondents were 30 foreign and domestic tourists taken as samples through accidental sampling method.

The result shows that Desa Budaya Kertalangu, has an abundant cultural and natural potencies which still require to be developed. These potencies act as the motivators encouraging the tourists to visit. The dominant motivator is physical ones, which 30% of the respondents claimed. While the tourists’ perception about Desa Budaya Kertalangu regarding attraction variables, indicates landscape/view, agriculture, and community activities as Very Good (VG) with 5,0, 4,4 and 4,3 score.

From the accessibility variable, indicators which get Good (G) perception scores of 4,0 are location and the road’s condition to location. Next, from the amenities/facilities variable, jogging track and fishing pond indicators get Very Good (VG) perception from the respondents with 4,6 and 4,4. And the last from tourist organization variable, security indicator gets a Good (G) perception from the respondents with 4,0 score. Based on the research, generally speaking, the existence of Desa Budaya Kertalangu as a tourist attraction gets a good perception, although

(11)

some indicators which get bad perception grades from the visitors require to be improved, and be able to deliver a more memorable tour experience.

Key words: Potencies, Motivators, Perception, Tourist Attraction.

(12)

RINGKASAN

Kepariwisataan telah memberikan pengaruh yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya perekonomian Bali, dimana pariwisata telah menjadi generator bagi pembangunan Bali, paling tidak dalam dua dasa warsa terakhir. Lebih lanjut dikatakan bahwa sektor pariwisata akan tetap menjadi sektor terdepan (leading sector) dalam pembangunan ekonomi daerah Bali di masa-masa mendatang. Walaupun kunjungan wisatawan ke Bali mengalami fluktuasi yang disebabkan oleh berbagai faktor, namun kondisinya terus mengalami peningkatan.

Untuk itu Pemerintah Propinsi Bali melalui Dinas Pariwisata dan instansi terkait lainnya, terus berupaya membenahi dan menata obyek-obyek dan daya tarik wisata yang ada serta mengembangkan desa-desa yang memiliki potensi pariwisata. Salah satu desa tersebut adalah Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar.

Berawal dari pertemuan intensif para tokoh masyarakat, kelian banjar adat, pemilik tanah, organisasi subak, beserta segenap aparat desa, maka terbentuklah Desa Budaya Kertalangu yang diresmikan pada 22 Juni 2007, yang membawa misi konservasi pertanian tradisional, edukasi pertanian dan budaya bali serta menjaga eksistensi budaya Bali ditengah era modernisasi saat ini. Ketersediaan tempat rekreasi, apalagi dikelola swasta, biasanya tidak gratis meski sekadar berkunjung.

Dari setiap pengunjung biasanya dipungut biaya karcis masuk. Namun, berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu hingga sejauh ini justru gratis. Mengenai biaya

(13)

pemeliharaan dan biaya operasional lainnya, pihak manajemen mengakui estimasi awal segala produk dari Kertalangu akan langsung laku hingga mancanegara, termasuk bisa cepat mendapatkan donatur yang peduli terhadap pelestarian budaya pertanian Bali. Namun, dalam perjalanannya ternyata belum membuahkan hasil seperti diharapkan (Kompas online edisi 6 Juni 2008, diakses tanggal 31 September 2009). Produk Desa Budaya Kertalangu hingga saat ini masih menjadi kendala, dimana seharusnya produk wisata mendapatkan persepsi yang baik dari wisatawan karena berkaitan dengan kesan yang didapatkan selama berada di daerah tujuan wisata. Hal ini sesuai dengan pendapat Suwantoro (1997: 48) yang menyatakan bahwa citra wisata dan kesan (image) perjalanan seorang wisatawan di suatu daerah pada hakikatnya tergantung pada produk wisata yang tersedia. Untuk itu dipandang perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang bertujuan untuk mengetahui potensi wisata yang dimiliki Desa Budaya Kertalangu, motivasi wisatawan untuk berkunjung serta bagaimana persepsi wisatawan terhadap produk Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar, karena belum pernah diadakan penelitian serupa di lokasi penelitian ini sebelumnya.

Penelitian dilakukan pada periode bulan Oktober 2011, dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, penyebaran angket/kuisioner serta dikombinasikan dengan studi dokumentasi. Untuk teknik pengambilan sampel sebanyak 5 orang informan kunci, dilakukan dengan teknik purposive sampling, dan untuk pengambilan sampel kuisioner adalah 30 orang responden yang dilakukan

(14)

dengan teknik accidental sampling. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori motivasi, teori persepsi, dan teori the tourist qualities of a destination.

Motivasi wisatawan untuk berkunjung dianalisis dengan menggunakan 4 variabel motivasi dari Mc.Intosh, yaitu: motivasi fisik (physical motivators), motivasi kebudayaan (cultural motivators), motivasi pribadi (interpersonal motivators), dan motivasi status dan prestise (status and prestige motivators). Sedangkan untuk menganalisis persepsi digunakan teori persepsi untuk mengetahui persepsi responden terhadap variabel-variabel produk wisata yang termasuk dalam teori the tourist qualities of a destination dari Burkart dan Medlik. Adapun variabel-variabel tersebut adalah atraksi-atraksi (attractions), aksesibilitas (accessibility), amenitas/ fasilitas- fasilitas (amenities/ facilities), serta organisasi wisatawan/ pengelola (tourist organization). Variabel-variabel persepsi ini lalu diukur dengan menggunakan Skala Likert untuk memperoleh skor masing-masing.

Berdasarkan hasil penelitian, observasi dan wawancara yang telah dilakukan, maka dapat diuraikan sebagai berikut; potensi yang dimiliki Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar, dibagi menjadi 2 kategori yaitu potensi budaya dan alamiah. Potensi budaya yang dimiliki Desa Budaya Kertalangu dapat kita lihat dari beberapa fasilitas penunjang serta produk wisata yang dikemas dalam bentuk program-program edukasi bagi para pengunjung untuk menambah wawasan mengenai budaya Bali, khususnya budaya masyarakat Desa Kesiman Kertalangu, seperti seni arsitektur yang digunakan dalam

(15)

pembangunan dan penataan fasilitas-fasilitas penunjang, pementasan seni tari-tarian seperti Tari Barong dan Kecak, Joged Bumbung, Legong dan Jegog yang dilaksanakan berdasarkan permintaan konsumen (based upon request), serta aktivitas-aktivitas budaya yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam bentuk ritual keagamaan yang dilakukan oleh krama subak, maupun aktivitas sehari-hari warga Desa Kesiman Kertalangu khususnya yang melakukan kegiatan bercocok tanam di persawahan serta program edukasi dalam Pesraman Budaya Bali, dimana pengunjung dapat belajar menari, belajar mejejahitan, belajar memasak, belajar melukis serta belajar menabuh. Seluruh potensi budaya ini memanfaatkan sumber daya manusia dari masyarakat setempat. Sementara potensi alamiah berupa pertanian dan bentang alam dapat dinikmati oleh pengunjung melalui berbagai aktivitas yang dikemas dalam produk-produk wisata yang berbentuk atraksi wisata maupun fasilitas yang melengkapinya, seperti jogging track, fasilitas outbound dan lahan edukasi pertanian, serta bale bengong (gazebo).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada periode Oktober 2011 terhadap 30 orang responden wisatawan asing dan nusantara yang berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu, diketahui terdapat beragam motivasi yang mendorong mereka untuk berkunjung, yaitu sebagai berikut; 9 orang (30%) menyatakan motivasi mereka untuk berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu adalah untuk berolahraga, 7 orang (23,3%) untuk refreshing/ penyegaran, 4 orang (13,4%) untuk relaksasi, 3 orang (10%) untuk melakukan interaksi sosial, 3 orang (10%) untuk berkumpul

(16)

dengan teman/ keluarga, 3 orang (10%) untuk melihat hal-hal yang berhubungan dengan kesenian, dan 1 orang (3,3%) untuk merasakan petualangan.

Sementara hasil pengolahan data persepsi 30 orang responden wisatawan asing dan nusantara sebagai sampel penelitian selama periode Oktober 2011 dengan menggunakan konversi data melalui Skala Likert adalah sebagai berikut: ditinjau dari variabel atraksi-atraksi yang menjadi produk wisata di Desa Budaya Kertalangu, indikator pemandangan alam, pertanian, dan aktivitas masyarakat memperoleh persepsi yang sangat baik (SB) dari para responden dengan skor 5,0, 4,4 dan 4,3.

Sedangkan yang memperoleh penilaian persepsi cukup (C) adalah indikator hiburan yaitu dengan skor sebesar 3,4. Berikutnya dari variabel aksesibilitas, indikator lokasi obyek dan kondisi jalan menuju lokasi mendapatkan penilaian persepsi baik (B) dengan skor masing-masing sebesar 4,0. Sedangkan untuk indikator jarak dari bandara dan transportasi menuju lokasi memperoleh penilaian persepsi cukup (C) dari para responden dengan jumlah skor masing-masing sebesar 3,4. Ditinjau dari variabel amenitas/fasilitas-fasilitas, indikator jogging track dan kolam pancing mendapatkan penilaian persepsi sangat baik (SB) dengan skor 4,6 dan 4,4. Sedangkan yang mendapatkan indikator dengan skortu 3,3 adalah indikator toilet dengan penilaian persepsi cukup (C). Variabel terakhir adalah organisasi kepariwisataan/ pengelola dimana indikator yang memperoleh penilaian persepsi baik (B) yaitu keamanan dengan skor tertinggi 4,0 sedangkan yang mendapatkan penilaian persepsi cukup (C) adalah indikator promosi dengan perolehan skor sebesar 3.2.

(17)

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa keberadaan Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar secara keseluruhan mendapatkan persepsi yang baik dari para pengunjung. Misi yang dibawa perlu dipertahankan dan penataan serta pengembangan produk-produk wisata yang ditawarkan Desa Budaya Kertalangu perlu ditingkatkan lagi di masa depan dengan memperhatikan indikator-indikator yang mendapat penilaian persepsi buruk dari para pengunjung. Untuk itu diperlukan kerjasama antara semua pihak yang terkait untuk sama-sama memajukan keberadaan Desa Budaya Kertalangu menjadi usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar.

(18)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ..……….. i

PRASYARAT GELAR ……… ii

LEMBAR PERSETUJUAN ………... iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ……… iv

UCAPAN TERIMAKASIH ……… v

ABSTRAK ……….. vii

ABSTRACT ……… viii

RINGKASAN ……… ix

DAFTAR ISI ……….. xiv

DAFTAR TABEL ……… xvii

DAFTAR GAMBAR ……….. xviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ……… 1

1.2 Rumusan Masalah ……….. 5

1.3 Tujuan Penelitian ……… 6

1.4 Manfaat Penelitian ………... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka ………. 8

2.2 Konsep ……… 11

2.2.1 Potensi Wisata ……… 11

2.2.2 Produk Wisata ….……… 12

2.2.3 Desa Wisata (Pariwisata Perdesaan) ……….. 14

2.2.4 Usaha Daya Tarik Wisata ……….. 16

2.3 Landasan Teori ………. 18

2.3.1 Teori Motivasi ….……….. 18

2.3.2 Teori Persepsi ………..……… 20

2.3.3 Teori The Tourist Qualities of a Destination ……… 23

(19)

2.4 Model Penelitian ……….. 25

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ………... 29

3.2 Lokasi Penelitian ……….. 29

3.3 Jenis dan Sumber Data ……… 31

3.4 Teknik Pengumpulan Data ………. 31

3.5 Teknik Pengambilan Sampel ………... 32

3.6 Identifikasi Variabel ……….. 34

3.7 Analisis Data ……..……… 36

3.8 Penyajian Hasil Analisis Data ……….. 37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi dan Obyek Penelitian ………... 39

4.1.1 Kondisi Geografis Desa Kesiman Kertalangu ……… 39

4.1.2 Kondisi Demografis Desa Kesiman Kertalangu ……… 40

4.1.3 Sejarah Berdirinya Usaha Daya Tarik Wisata Desa Budaya Kertalangu ……… 42

4.2 Karakteristik Responden ……… 45

4.2.1 Jenis Kelamin ……….. 46

4.2.2 Daerah Asal ………. 47

4.2.3 Tingkat Usia ……… 48

4.2.4 Pekerjaan ………. 48

4.2.5 Frekuensi Kunjungan ………. 50

4.2.6 Lama Tinggal (length of stay) ……….. 50

4.2.7 Lokasi Tinggal ………. 51

4.3 Potensi Desa Budaya Kertalangu Sebagai Usaha Daya Tarik Wisata di Kota Denpasar ……… 52

4.3.1 Potensi Budaya ……… 52

4.3.2 Potensi Alamiah ……….. 60

4.4 Motivasi Wisatawan Untuk Mengunjungi Desa Budaya Kertalangu Sebagai Usaha Daya Tarik Wisata di Kota Denpasar ………. 66

4.4.1 Motivasi-motivasi fisik (Physical motivators) ... 70

4.4.2 Motivasi-motivasi kebudayaan (Cultural motivators) ... 72

4.4.3 Motivasi-motivasi pribadi (Interpersonal motivators) ... 73

4.4.4 Motivasi-motivasi status dan prestise (Status and prestige motivators) ... 74

4.5 Persepsi Wisatawan Terhadap Produk Desa Budaya Kertalangu

(20)

Sebagai Salah Satu Usaha Daya Tarik Wisata di Kota Denpasar … 75 4.5.1 Persepsi Wisatawan Terhadap Atraksi-atraksi di

Desa Budaya Kertalangu ……….. 76 4.5.2 Persepsi Wisatawan Terhadap Aksesibilitas di

Desa Budaya Kertalangu ……….. 78 4.5.3 Persepsi Wisatawan Terhadap Amenitas/ Fasilitas-

Fasilitas di Desa Budaya Kertalangu ……… 79 4.5.4 Persepsi Wisatawan Terhadap Organisasi Kepariwisataan/

Pengelola di Desa Budaya Kertalangu ………. 81 BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ………... . 89 5.2 Saran ………... 92

DAFTAR PUSTAKA ……….. 89

LAMPIRAN

(21)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

3.1 Variabel penelitian dan indikatornya ………. 35

3.2 Skala Likert ……… 37

4.1 Komposisi Penduduk Desa Kesiman Kertalangu Menurut Mata Pencaharian ……… 42

4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ………. 46

4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Daerah Asal ……… 47

4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Usia ……….. 48

4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ..……… 49

4.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Frekuensi Kunjungan ..…… 50

4.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Tinggal ..……… 51

4.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Lokasi Tinggal ..………….. 52

4.9 Persepsi Wisatawan Terhadap Atraksi-atraksi di Desa Budaya Kertalangu ……… 77

4.10 Persepsi Wisatawan Terhadap Aksesibilitas di Desa Budaya Kertalangu ………. 78

4.11 Persepsi Wisatawan Terhadap Amenitas/ Fasilitas-fasilitas di Desa Budaya Kertalangu ……… 80

4.12 Persepsi Wisatawan Terhadap Organisasi Wisatawan/ Pengelola di Desa Budaya Kertalangu ……….. 82

(22)

AFTAR GAMBAR

No. Halaman

2.1 Model Penelitian ……….. 28 3.1 Peta Lokasi Penelitian ……….. 30 4.1 Seni arsitektur tradisional bali pada fasilitas penunjang

di Desa Budaya Kertalangu ……… 54 4.2 Pementasan Seni Tari Bali ……… 56 4.3 Paket edukasi belajar melukis di Desa Budaya Kertalangu …….. 58 4.4 Paket edukasi membuat kerajinan keramik dan kaca ………. 58 4.5 Paket edukasi belajar mejejahitan ……….. 59 4.6 Jogging Track di Desa Budaya Kertalangu ………. 62 4.7 Menunggang kuda pony di Desa Budaya Kertalangu ………….. 63 4.8 Aktivitas outbound di Desa Budaya Kertalangu ……….. 64 4.9 Bale bengong di Desa Budaya Kertalangu ……….. 65 4.10 Pemenuhan motivasi fisik dengan melakukan kegiatan olahraga

jogging yang merupakan produk wisata di Desa Budaya Kertalangu 71 4.11 Pemenuhan motivasi kebudayaan dengan melakukan aktivitas belajar

menari yang merupakan produk wisata di Desa Budaya Kertalangu 72 4.12 Pemenuhan motivasi pribadi dengan berkumpul bersama

teman dan keluarga sambil menikmati produk – produk wisata

yang ditawarkan Desa Budaya Kertalangu ………. 73 4.13 Pemenuhan motivasi karena status atau prestise dengan menyalurkan hobi memancing di kolam pancing Desa Budaya Kertalangu ….. 74

(23)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, kepariwisataan di Indonesia diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi; meningkatkan kesejahteraan rakyat;

menghapus kemiskinan; mengatasi pengangguran; melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya; memajukan kebudayaan; mengangkat citra bangsa; memupuk rasa cinta tanah air; memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa; dan mempererat persahabatan antar bangsa.

Dengan demikian, pembangunan kepariwisataan dapat dijadikan sarana untuk menciptakan kesadaran akan identitas nasional dan kebersamaan dalam keragaman.

Pembangunan kepariwisataan dikembangkan dengan pendekatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan yang berorientasi pada pengembangan wilayah, bertumpu kepada masyarakat, dan bersifat memberdayakan masyarakat yang mencakupi berbagai aspek, seperti sumber daya manusia, pemasaran, destinasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, keterkaitan lintas sektor, kerjasama antar negara, pemberdayaan usaha kecil, serta tanggung jawab

(24)

dalam pemanfaatan sumber kekayaan alam dan budaya (penjelasan UU No. 10 tahun 2009).

Kepariwisataan di Bali khususnya telah memberikan pengaruh nyata yang besar terhadap perekonomian regional. Hal ini diperkuat oleh kajian tim konsultan dari Bali. Management Project and Comprehensive Tourism Development Plan for Bali, (Erawan, 1993: 12) menyimpulkan bahwa pariwisata telah menjadi generator bagi pembangunan Bali, paling tidak dalam dua dasa warsa terakhir. Lebih lanjut dikatakan bahwa sektor pariwisata akan tetap menjadi sektor terdepan (leading sector) dalam pembangunan ekonomi daerah Bali di masa-masa mendatang.

Berdasarkan data Disparda Propinsi Bali tahun 2010, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mengalami fluktuasi, khususnya dalam 6 tahun terakhir dimana perkembangan kepariwisataan di Bali mengalami tahun-tahun yang sulit diakibatkan berbagai faktor eksternal maupun internal. Tahun 2004 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali adalah 1.458.309 orang atau meningkat sebanyak 46,85 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 993.029 orang.

Sedangkan tahun 2005, pariwisata Bali kembali dilanda bom 1 Oktober 2005 yang mengakibatkan jumlah kunjungan turun 4,93 % yaitu menjadi 1.386.449 orang.

Dampak bom di tahun 2005 masih berpengaruh terhadap jumlah kunjungan wisman ke Bali di tahun 2006 yang mengakibatkan penurunan lagi sebesar 9,10 % menjadi sebanyak 1.260.317 orang. Tanda ke arah pemulihan mulai terlihat di tahun

(25)

2007, ditandai dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisman ke Bali sebesar 31,10

% yaitu sebanyak 1.664.854 orang. Begitu juga di tahun 2008 menunjukkan pertumbuhan yang sangat progresif yaitu sebesar 1.968.892 orang atau meningkat sebesar 18,26 %. Selanjutnya di tahun 2009 data menunjukkan peningkatan kembali sebesar 13,26% dengan jumlah kunjungan wisman 2.229.945 orang. Peningkatan kunjungan wisman tersebut kembali berlanjut pada tahun 2010 dengan jumlah kunjungan sebanyak 2.493.058 orang atau meningkat sebesar 11,80%. Data historis menunjukkan bahwa tahun 2010 merupakan pencapaian jumlah kunjungan wisman terbanyak untuk Bali dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Untuk menyikapi hal tersebut maka Pemerintah Propinsi Bali melalui Dinas Pariwisata dan instansi terkait lainnya berupaya membenahi dan menata obyek-obyek dan daya tarik wisata yang ada serta mengembangkan desa-desa yang memiliki potensi pariwisata di seluruh kabupaten di Bali. Agar keberlangsungan pariwisata di Bali tetap terjaga, seluruh komponen pendukung dan pemangku kebijakan pariwisata diharapkan tetap menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan alam dan budaya sebagai modal dasar pariwisata Bali, sebagaimana telah ditetapkan dalam Perda No 3 tahun 1991 tentang pariwisata budaya yang diterapkan di Bali. Salah satu desa di Bali yang mengalami pengembangan untuk menjadi daya tarik wisata tersebut adalah Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar.

Berawal dari pertemuan intensif para tokoh masyarakat, kelian banjar adat, pemilik tanah, organisasi subak, beserta segenap aparat desa, dengan agenda

(26)

pembahasan: “bagaimana mempertahankan kawasan jalur hijau Desa Kesiman Kertalangu agar tetap hijau, namun memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar,” maka lahirlah gagasan untuk mengembangkan kawasan menjadi obyek wisata baru, dengan nama: “Desa Budaya Kertalangu”

(http://www.visitkertalangu.com diakses tanggal 10 Januari 2011).

Kawasan Desa Budaya Kertalangu berada di tengah lahan persawahan seluas 80 hektar yang terletak di kecamatan Denpasar Timur ini mengalami perkembangan yang cukup pesat sejak pertama kali diresmikan pada tanggal 22 Juni 2007 lalu. Saat ini Desa Budaya Kertalangu dikelola oleh pihak swasta yaitu PT.Uber Sari yang bekerjasama dengan desa dinas dan desa adat setempat. Ketersediaan tempat rekreasi, apalagi dikelola swasta, biasanya tidak gratis meski sekadar berkunjung.

Dari setiap pengunjung biasanya dipungut biaya karcis masuk. Namun, berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu hingga sejauh ini justru gratis. Mengenai biaya pemeliharaan dan biaya operasional lainnya, pihak manajemen mengakui estimasi awal segala produk dari Kertalangu akan langsung laku hingga mancanegara, termasuk bisa cepat mendapatkan donatur yang peduli terhadap pelestarian budaya pertanian Bali. Namun, dalam perjalanannya ternyata belum membuahkan hasil seperti diharapkan (Kompas online edisi 6 Juni 2008, diakses tanggal 31 September 2009).

Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan, produk Desa Budaya Kertalangu hingga saat ini masih menjadi kendala. Banyak atraksi dan fasilitas wisata

(27)

yang ditujukan untuk pengunjung kondisinya saat ini kurang baik, seperti lintasan lari (jogging track) yang sudah banyak berlubang di beberapa tempat, kondisi venue yang kurang terawat, sampah-sampah plastik yang banyak berserakan di sekitar parit dan kolam pancing, papan nama yang kurang terawat, papan pengumuman shuttle bus yang sudah rusak, kondisi taman yang kurang tertata, hingga keberadaan toilet di pinggir lintasan lari (jogging track) yang kondisinya cukup memprihatinkan karena tidak terurus dan bahkan telah ditumbuhi tanaman liar. Kendala produk Desa Budaya Kertalangu ini memerlukan penanganan lebih lanjut, dimana seharusnya produk wisata dipersepsikan dengan baik oleh wisatawan, karena berkaitan dengan kesan yang didapatkan selama berada di daerah tujuan wisata. Hal ini sesuai dengan pendapat Suwantoro (1997: 48) yang menyatakan bahwa citra wisata dan kesan (image) perjalanan seorang wisatawan di suatu daerah pada hakikatnya tergantung pada produk wisata yang tersedia. Untuk itu dipandang perlu melakukan suatu kajian mengenai persepsi wisatawan terhadap produk Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata yang relatif baru di Kota Denpasar

(28)

Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang, maka perumusan masalah sebagai dasar pengembangan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apa potensi yang dimiliki oleh Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar?

2. Apa motivasi wisatawan untuk berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu pilihan usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar?

3. Bagaimana persepsi wisatawan terhadap produk Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar?

(29)

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis keberadaan Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata yang relatif baru di Kota Denpasar dari perspektif wisatawan yang berkunjung.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui potensi Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar.

2. Untuk mengetahui motivasi wisatawan yang berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar.

3. Untuk mengetahui persepsi wisatawan terhadap produk Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat, antara lain:

1. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu para pelaku pariwisata dan pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat dalam mengambil kebijakan yang dianggap perlu untuk

(30)

mengoptimalkan produk Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar.

2. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber referensi ilmu pengetahuan, khususnya menyangkut produk desa budaya untuk menunjang kegiatan pariwisata di Bali.

(31)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI,

DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka

Dalam sub bab ini diuraikan beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, khususnya tentang persepsi wisatawan. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan penelitian terdahulu sebagai pembanding dengan penelitian ini.

Sujana (2009) dalam tesisnya yang berjudul “Persepsi Wisatawan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Daya Tarik Wisata Tanah Lot - Tabanan Bali” memaparkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa dari 155 sampel persepsi diperoleh hasil persepsi wisatawan terhadap obyek wisata Tanah Lot secara umum adalah baik. Artinya bahwa baik wisatawan mancanegara maupun nusantara yang berkunjung ke Tanah Lot memiliki persepsi rata-rata yang sama yaitu baik. Hal ini dibuktikan dengan skor rata-rata variable 4,03 yang masuk dalam kategori baik pada Skala Likert. Kajian mengenai persepsi wisatawan menemukan adanya perbedaan persepsi antara wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara yang terletak pada urutan penilaian variabel ekstrim atas dan ekstrim bawah. Variabel yang dimaksud adalah :

(32)

a. Variabel persepsi ekstrim atas pada wisatawan nusantara secara berurutan yaitu; (1) pemandangan sunset, (2) tirtayatra, (3) keindahan, (4) fotografi, (5) keunikan pura, (6) keunikan arsitektur. Sedangkan variabel persepsi ekstrim atas pada wisatawan mancanegara secara berurutan yaitu; (1) tebing pantai, (2) pemandangan sunset, (3) ombak pantai, (4) fotografi, (5) tirtayatra, (6) keindahan.

b. Variabel ekstrim bawah pada wisatawan nusantara secara berurutan yaitu;

(26) kebersihan, (27) pertunjukan kesenian, (28) kue klepon, (29) jarak tempuh dari bandara, (30) toilet, (31) harga tiket. Sedangkan variabel persepsi ekstrim bawah pada wisatawan mancanegara secara berurutan yaitu, (26) kesejukan, (27) ular suci, (28) jarak tempuh dari bandara, (29) pasar seni, (30) harga tiket, (31) toilet.

Selanjutnya penelitian Kanca (2009) tentang “ Persepsi Wisatawan Mancanegara Terhadap Pelayanan Informasi Pada Tourist Information Center Dinas Pariwisata Kota Denpasar”, menyatakan bahwa dari hasil penelitian terhadap 85 sampel wisatawan mancanegara didapatkan persepsi wisatawan mancanegara terhadap pelayanan informasi pada TIC Dinas Pariwisata Kota Denpasar umumnya sudah memuaskan walaupun masih ada beberapa kendala seperti kendala bahasa, koordinasi antar dinas terkait belum begitu baik, serta pihak swasta yang berkompeten dalam bidang pariwisata belum berkoordinasi secara maksimal. Untuk

(33)

itu pihak Dinas Pariwisata Kota Denpasar telah berupaya mencari jalan keluar yang sebaik-baiknya untuk mengatasi permasalahan yang telah disebutkan di atas.

Penelitian mengenai persepsi konsumen juga telah dilakukan oleh Stevens dalam Suradnya dkk (2002: 2) yang membuktikan bahwa persepsi konsumen merupakan faktor paling menentukan keputusan yang diambil oleh wisatawan, seperti misalnya (1) pilihan terhadap daerah tujuan wisata yang akan dikunjunginya, (2) pilihan terhadap produk-produk wisata yang akan dinikmatinya selama melakukan perjalanan wisata dan (3) keputusannya mengenai apakah mereka akan kembali ke daerah tujuan wisata tersebut atau tidak. Berikutnya penelitian Putra (2009) tentang

“Persepsi Wisatawan Terhadap Pelayanan Hotel Melati di Kawasan Ubud Kabupaten Gianyar”, mendapatkan hasil dari 399 sampel wisatawan menunjukkan kepuasan atas pelayanan hotel melati di Kawasan Ubud,. Hasil ini didapatkan melalui uji analisis servqual dan analisis kepentingan kinerja, dimana indikator pelayanan hotel melati yang paling berpengaruh menurut penilaian wisatawan termasuk dalam kuadran 2 yaitu; realisasi janji, sikap simpati kepada tamu, jasa disampaikan dengan benar, jasa disampaikan sesuai waktu yang dijanjikan, sistem pencatatan yang akurat, karyawan yang siap membantu tamu, karyawan yang terpercaya, perasaan aman sewaktu bertransaksi, sikap sopan karyawan, dan karyawan yang berpengetahuan luas. Implikasi terhadap pelayanan hotel melati di Kawasan Ubud adalah dapat mempertahankan bahkan bisa meningkatkan kualitas pelayanannya, khususnya pada

(34)

indicator-indikator tersebut, sehingga kelangsungan usaha hotel melati bisa bertahan dan bersaing dengan hotel berbintang.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu tersebut adalah perbedaan obyek penelitian yaitu di Desa Budaya Kertalangu yang belum pernah diteliti sebelumnya, dan perbedaan lain terletak pada variabel dan indikator yang diteliti, yaitu penelitian-penelitian terdahulu lebih banyak menekankan persepsi wisatawan terhadap faktor pelayanan saja, sedangkan penelitian ini meneliti secara lebih menyeluruh yaitu mengenai produk daya tarik wisata yang didalamnya juga mencakup pelayanan.

2.2 Konsep

Agar tidak terjadi salah tafsir dalam penelitian ini, dipandang perlu menjelaskan batasan pengertian judul dengan mengedepankan beberapa istilah yang bersifat operasional. Konsep digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial.

Sumber bacaan yang relevan untuk mendukung penelitian ini sangat diperlukan sebagai sumber kritik agar nilai keilmuan penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan (credible) serta dapat diterima dan pantas (acceptable) sebagai karya ilmiah. Beberapa sumber kepustakaan yang relevan adalah sebagai berikut:

(35)

2.2.1. Potensi Wisata

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, potensi diartikan sebagai kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan (kekuatan;

kesanggupan; daya), sedangkan kata potensial berarti mempunyai potensi (kekuatan, kemampuan, kesanggupan); daya berkemampuan. Menurut Nyoman S. Pendit dalam buku Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana, menyebutkan bahwa potensi wisata adalah segala sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Potensi wisata dapat dibagi 2 yaitu :

1. Potensi Budaya

Merupakan potensi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, seperti adat-istiadat, mata pencarian, kesenian dan budaya.

2. Potensi Alamiah

Merupakan potensi yang ada di masyarakat, yang berupa potensi fisik dan geografi seperti alam.

Sedangkan Darmadjati (2001:128) mengemukakan bahwa yang dimaksud potensi wisata adalah segala hal dan keadaan baik nyata dan dapat diraba maupun yang tidak teraba, yang digarap, diatur dan disediakan sedemikian rupa sehingga dapat bermanfaat atau dimanfaatkan atau diwujudkan sebagai kemampuan, faktor dan unsur yang diperlukan atau menentukan bagi usaha dan pengembangan kepariwisataan, baik itu berupa suasana, kejadian, benda maupun layanan atau jasa-

(36)

jasa. Suatu kawasan wisata yang baik dan berhasil bila secara optimal didasarkan pada 4 (empat) aspek, yaitu: 1) mempertahankan kelestarian lingkungannya, 2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut, 3) menjamin kepuasan pengunjung, dan 4) meningkatkan keterpaduan dan unit pembangunan masyarakat di sekitar kawasan dan zone pengembangannya (Gunn, 1994:26).

2.2.2 Produk Wisata

Burkart dan Medlik (1976: 46) memberikan rumusan “tourist product”

sebagai berikut;

“In the narrow sense the tourist product consists of what the tourist buys. In a wider sense the tourist product is an amalgam of what he does at the destination and of services he uses to make it possible. Therefore, each destination has a particular product or products to offer”

Dikatakannya produk wisata dalam arti sempit meliputi apapun yang dibeli oleh wisatawan. Dalam arti luas, produk wisata adalah sebuah amalgam dari apa yang wisatawan lakukan di destinasi dan pelayanan yang digunakannya untuk membuatnya menjadi memungkinkan. Untuk itu, setiap destinasi memiliki sebuah produk khusus atau produk-produk yang ditawarkan.

Berikutnya Holloway, Humphreys dan Davidson (2009: 10), menyatakan karakteristik pertama yang harus diingat dari produk wisata adalah bahwa ia lebih

(37)

merupakan sebuah pelayanan daripada sebuah benda nyata. Sedangkan Muljadi (2009: 46) memaparkan definisi produk wisata sebagai suatu bentukan yang nyata dan tidak nyata, dalam suatu kesatuan rangkaian perjalanan yang hanya dapat dinikmati apabila seluruh rangkaian perjalanan tersebut dapat memberikan pengalaman yang baik bagi yang melakukan perjalanan tersebut. Pernyataan ini serupa dengan pendapat Suwantoro (1997: 47) yang memaparkan bahwa produk wisata bukanlah suatu produk yang nyata. Produk ini merupakan suatu rangkaian jasa yang tidak hanya mempunyai segi-segi yang bersifat ekonomis, tetapi juga yang bersifat sosial, psikologis dan alam, walaupun produk wisata sendiri sebagian besar dipengaruhi oleh tingkah laku ekonomi. Smith (1989:592), menyatakan bahwa produk wisata bagaimanapun juga tidak akan berhasil tanpa adanya konsumen yang memberikan penilaian setelah terlibat didalamnya. Konsepsi produk wisata dilihat dari sisi perencanaan, menurut Coltman (1989:2) dalam bukunya Tourism Marketing adalah gabungan dari tangible dan intangible yang menjadi satu komponen yang dikhususkan bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata untuk memperoleh kepuasan.

Jadi pada hakikatnya produk wisata dapat kita gambarkan sebagai suatu rangkaian jasa pelayanan dan produk yang sifatnya nyata maupun tidak nyata yang dapat dinikmati oleh wisatawan di destinasi wisata sebagai satu komponen yang mampu memberikan pengalaman bagi wisatawan tersebut serta memerlukan penilaian dari wisatawan sebagai konsumen yang terlibat di dalamnya.

(38)

2.2.3 Desa Wisata (Pariwisata Perdesaan)

Desa wisata dalam dekade terakhir ini telah menjadi wacana menarik dalam mencari alternatif dari pengembangan pariwisata konvensional. Desa wisata yang merupakan pengembangan dari rural tourism, farm tourism, atau village tourism, membawa visi dan misi yang jelas, sebagai remedy terhadap berbagai hambatan yang ada selama ini. Di sisi lain, pengembangan desa wisata ini menjadi alternatif sensitif, karena jika salah dalam perencanaan maupun pengelolaannya, dapat menimbulkan dampak buruk terhadap keberadaan desa pekraman dimana desa wisata itu dikembangkan (Pitana, 1999: 105).

Muljadi (2009: 27), menjelaskan desa wisata sebagai suatu produk wisata yang melibatkan anggota masyarakat desa dengan segala perangkat yang dimilikinya.

Desa wisata tidak hanya berpengaruh pada ekonominya, tetapi juga sekaligus dapat melestarikan lingkungan alam dan sosial budaya masyarakat terutama berkaitan dengan nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, kegotongroyongan, dan lain-lain.

Dengan demikian, kelestarian alam dan sosial budaya masyarakat akan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang melakukan perjalanan wisata.

Selanjutnya Inskeep memaparkan pariwisata perdesaan sebagai suatu bentuk pariwisata, dimana wisatawan tinggal di desa tersebut, kebanyakan masih tradisional dan jauh dari keramaian, wisatawan belajar mengenai budaya hidup dan tradisi masyarakat setempat dan sering terlibat dalam aktivitas masyarakat setempat.

(39)

Masyarakat setempat membangun, mengelola dan melayani sendiri pariwisata ini dan mendapatkan keuntungan langsung dari wisatawan. Salah satu contoh jenis pariwisata perdesaan ini telah dirancang di daerah Lower Casamance di Senegal. Tujuan program ini adalah untuk memperkenalkan secara langsung wisatawan dengan kehidupan tradisional desa, menyediakan interaksi spontan antara wisatawan dengan penduduk setempat, menghilangkan persepsi yang salah dari wisatawan mengenai lingkungan dan budaya setempat, meningkatkan rasa kebanggaan akan budaya dari penduduk setempat, serta menyediakan pekerjaan bagi generasi muda untuk mengurangi kecenderungan urbanisasi (Inskeep, 1991: 250).

Pariwisata perdesaan harus sesuai dengan keinginan masyarakat lokal dan tidak direncanakan secara sepihak, mendapat dukungan dari masyarakat setempat bukan individu atau kelompok tertentu. Inisiatif menggerakkan modal usaha, profesionalisme, pemasaran, citra yang jelas harus dikembangkan karena keinginan wisatawan adalah mencari hal yang spesial dan produk yang menarik (Page dan Getz, 1997). Jadi konsep desa wisata atau pariwisata perdesaan sebagai produk wisata harus melibatkan masyarakat desa setempat baik dalam pembangunan, pengelolaan maupun pelayanannya, agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat desa tersebut dan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap keberadaan desa pekraman dimana desa wisata itu dikembangkan.

Adapun Desa Budaya Kertalangu adalah merupakan salah satu bentuk penerapan dari konsep desa wisata, dimana penekanannya adalah pada pengenalan

(40)

seni budaya sesuai dengan misi yang dibawa yaitu konservasi, edukasi dan eksistensi budaya Bali di tengah kawasan perkotaan. Istilah Desa Budaya yang dipergunakan bukan merupakan suatu konsep desa dalam arti sesungguhnya, melainkan merupakan sebuah brand yang digunakan sebagai nama pengenal dalam tujuan menjadi suatu usaha daya tarik wisata.

2.2.4 Usaha Daya Tarik Wisata

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan usaha pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata. Sedangkan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.

Selanjutnya dalam bagian Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 14 Ayat (1) Huruf a, dijelaskan tentang usaha daya tarik wisata adalah usaha yang kegiatannya mengelola daya tarik wisata alam, daya tarik wisata budaya, dan daya tarik wisata buatan/ binaan manusia.

Daya tarik wisata yang baik sangat terkait dengan empat hal, yakni memiliki keunikan, orijinalitas, otentisitas, dan keragaman. Keunikan diartikan sebagai

(41)

kombinasi kelangkaan dan kekhasan yang melekat pada suatu daya tarik wisata.

Orijinalitas mencerminkan keaslian atau kemurnian, yakni seberapa jauh suatu produk tidak terkontaminasi atau tidak mengadopsi nilai yang berbeda dengan nilai aslinya. Otentisitas mengacu pada keaslian. Bedanya dengan orijinalitas, otentisitas lebih sering dikaitkan dengan tingkat keantikan atau eksotisme budaya sebagai daya tarik wisata. Otentisitas merupakan kategori nilai yang memadukan sifat alamiah, eksotis, dan bersahaja (Damanik dan Weber, 2006: 13).

Selanjutnya Ismayanti (2009: 147) memaparkan bahwa daya tarik wisata merupakan fokus utama penggerak pariwisata di sebuah destinasi. Dalam arti, daya tarik wisata sebagai penggerak utama yang memotivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Pengusahaan daya tarik wisata memiliki beberapa tujuan diantaranya; (a) memperoleh keuntungan baik dari segi ekonomi berupa devisa negara dan pertumbuhan ekonomi serta dari segi sosial berupa peningkatan kesejahteraan rakyat dan menghapuskan pemiskinan, (b) menghapuskan kemiskinan dengan pembukaan lapangan pekerjaan dan mengatasi pengangguran, (c) memenuhi kebutuhan rekreasi masyarakat, sekaligus mengangkat citra bangsa dan memperkukuh jati diri bangsa, memupuk rasa cinta tanah air melalui pengusahaan daya tarik dalam negeri, (d) melestarikan alam, lingkungan dan sumberdaya, sekaligus memajukan kebudayaan melalui pemasaran pariwisata, (e) mempererat persahabatan antar bangsa dengan memahamami nilai agama, adat istiadat dan kehidupan masyarakat.

(42)

2.3 Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan beberapa teori-teori yang relevan dalam menganalisis persepsi wisatawan terhadap Desa Budaya Kertalangu sebagai usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar, adapun teori-teori yang digunakan adalah teori persepsi, teori motivasi dan teori the tourist qualities of a destination.

2.3.1 Teori Motivasi

Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan pariwisata, karena motivasi merupakan trigger dari proses perjalanan wisata, walaupun motivasi ini acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri (Sharpley, 1994: Wahab, 1975 dalam Pitana dan Gayatri 2005: 58).

Secara intrinsik motivasi terbentuk karena adanya kebutuhan (need) dari diri manusia itu sendiri. Teori motivasi yang dikembangkan Abraham Maslow (1943) pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, kelima tingkatan kebutuhan dimaksud meliputi kebutuhan (1) fisik (physiological needs), (2) rasa aman (security needs), (3) sosial (social needs), (4) penghargaan/ pengakuan (esteem needs), dan (5) mewujudkan jati diri (self actualization needs). Jika kebutuhan paling dasar yaitu kebutuhan fisik sudah terpenuhi, maka manusia akan mencari kebutuhan pada tingkat berikutnya dan seterusnya. Secara ekstrinsik motivasi terbentuk jika ada pengaruh dari luar seperti

(43)

norma sosial, pengaruh keluarga, dan situasi kerja. Situasi kerja yang monoton membuat seseorang mengalami kebosanan, sehingga menimbulkan suatu keinginan untuk melepaskan diri dari rutinitas tersebut (Pitana, 2004: 59).

Mengacu pada teori hierarki kebutuhan Maslow, Mc. Intosh (1972: 52) mengelompokkan motivasi-motivasi dasar yang mendorong wisatawan melakukan perjalanan dapat dikelompokkan menjadi empat kategori sebagai berikut:

1. Physical motivators (motivasi-motivasi yang bersifat fisik), meliputi yang berhubungan dengan istirahat fisik (relaksasi), kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai, dan sebagainya, termasuk motivasi yang berhubungan langsung dengan kesehatan jasmani seseorang. Alasan-alasan tambahan seperti perintah atau rekomendasi dokter dan penggunaan spa-spa kesehatan, permandian untuk penyembuhan, pemeriksaan medis dan aktivitas perawatan kesehatan yang serupa. Keseluruhan motivasi-motivasi ini memiliki satu kesamaan yaitu pengurangan ketegangan melalui aktivitas- aktivitas yang berhubungan dengan faktor-faktor fisik.

2. Cultural motivators (motivasi-motivasi kebudayaan), diidentifikasikan dengan keinginan wisatawan untuk mengetahui tentang music, seni, sejarah, tari-tarian, lukisan-lukisan, agama dan aktivitas-aktivitas budaya dari negara- negara lain.

3. Interpersonal motivators (motivasi-motivasi yang bersifat pribadi), yang mencakup keinginan untuk bertemu dengan orang-orang baru, mengunjungi

(44)

teman dan keluarga, pelarian dari rutinitas hidup yang membosankan, atau untuk membangun pertemanan-pertemanan baru dan seterusnya.

4. Status and prestige motivators (motivasi karena status atau prestise), yaitu motivasi-motivasi yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kepercayaan diri dan pengembangan pribadi. Dalam kategori ini adalah perjalanan- perjalanan yang berkaitan dengan bisnis, menghadiri konvensi, belajar, pemenuhan hobi-hobi dan pendidikan, seringkali ketertarikan pekerjaan atau profesi. Motivasi-motivasi seperti keinginan untuk diakui, perhatian, penghargaan dan reputasi yang baik dapat diraih dengan melakukan perjalanan.

Menurut Kabanoff dan Ryan dalam Williams (2003: 13), motivasi orang melakukan perjalanan ke suatu destinasi untuk liburan adalah; (a) keinginan untuk menghindar dari rutinitas, (b) mencari manfaat relaksasi dan kesehatan (penyembuhan), (c) rangsangan mental/ rasa enjoy, (d) menguatkan ikatan keluarga, (e) prestise/ status, (f) interaksi sosial, (g) kesempatan mendapat pengetahuan (educational), (h) memperoleh tantangan baru. Teori motivasi ini digunakan untuk menjawab pokok permasalahan mengenai motivasi wisatawan untuk memilih mengunjungi Desa Budaya Kertalangu sebagai daya tarik wisata.

(45)

2.3.2 Teori Persepsi

Definisi persepsi menurut Assael (1994: 720) dalam Suradnya dkk (2002: 2), diartikan sebagai “the process by which people select, organize, and interpret sensory stimuli into a meaningful and coherent picture” atau dengan kata lain “the way consumers view an object (e.g., their mental picture of a brand or the traits they attribute to the brand”. Dengan demikian, persepsi seseorang akan sangat tergantung kepada masing-masing individu dalam menyeleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimulus yang mempengaruhi inderanya ke dalam gambaran yang nyata. Atau dengan kata lain persepsi bersifat subyektif, dalam arti bahwa wisatawan yang berbeda dihadapkan kepada stimulus yang sama, besar kemungkinan keputusan yang diambilnya akan berbeda pula.

Pendapat ini serupa dengan pendapat Robbins dan Judge (2008: 175), yang mendefinisikan persepsi sebagai proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Namun, apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa berbeda dari realitas objektif. Walaupun seharusnya tidak perlu ada, perbedaan tersebut sering timbul. Sejumlah faktor berperanan dalam membentuk bahkan terkadang mengubah persepsi, antara lain adalah; (a) faktor yang terletak dalam diri pembentuk persepsi, (b) faktor dalam diri objek atau target yang diartikan, dan (c) faktor situasi dimana persepsi tersebut dibuat.

(46)

Schiffman-Kanuk dalam Widjaja (2009: 32) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses dimana individu menyeleksi, mengorganisasi, dan menerjemahkan stimulasi menjadi sebuah arti. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Rangkuti (2002: 33) yang mengemukakan bahwa persepsi pelanggan didefinisikan sebagai suatu proses dimana individu memilih, mengorganisasikan serta mengartikan stimulus yang diterima melalui inderanya menjadi suatu makna. Meskipun demikian makna dari proses persepsi tersebut juga dipengaruhi pengalaman masa lalu individu yang bersangkutan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Rangkuti (2003) diantaranya sebagai berikut:

1. Faktor Eksternal

1) Concreteness, yaitu wujud atau gagasan yang abstrak yang sulit dipersepsikan dibandingkan secara obyektif.

2) Novelty atau hal yang baru, biasanya lebih menarik untuk dipersepsikan dibandingkan dengan hal-hal yang lama.

3) Velocity atau percepatan misalnya gerak yang cepat untuk menstimulasi munculnya persepsi lebih effektif dibandingkan dengan gerakan yang lambat.

4) Conditional Stimuli, stimulus yang dikondisikan seperti bel pintu, deringan telpon dan lain lain.

(47)

2. Faktor Internal

1) Motivation, misalnya merasa lelah menstimulasi untuk berespon terhadap istirahat.

2) Interest, hal-hal yang menarik lebih diperhatikan daripada yang tidak menarik.

3) Needs, kebutuhan akan hal-hal tertentu akan menjadi pusat perhatian.

4) Assumptions juga mempengaruhi persepsi sesuai dengan pengalaman melihat, merasakan dan lain-lain.

Jadi konsep persepsi dapat diartikan sebagai proses individu untuk menginterpretasikan stimulus yang diterima oleh indera untuk diberi makna atau arti secara subyektif dimana proses ini dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri dan dari luar individu tersebut.

2.3.3 Teori The Tourist Qualities of A Destination

Burkart dan Medlik (1976: 44) memaparkan unit geografis yang dikunjungi oleh wisatawan adalah sebagai berikut:

“the geographical unit visited by a tourist may be a self-contained centre, a village, or a town or a city, a district, or a region, an island, a country or a continent. This geographical unit may be described as the tourist destination.

How important any geographical unit is as a tourist destination, or how important it is potentially, is determined by three prime factors: attractions, accessibility, and amenities which may be termed as the tourist qualities of a destination. The attractions may be site attractions (for example, climatic, scenic,

(48)

historical) or event attractions (for example congresses, exhibition and sporting events), both of which exercise a gravitational influence on non-residents.

Accessibility is a function of distance from centres of population, which constitute tourist markets, and of external transport and communications, which enable a destination to be reached. Amenities at the destination comprise accommodation, catering, entertainment, as well as internal transport and communications, which enable the tourist to move round during his stay. It is clear that amenities contribute much to many established resorts as tourist destinations, in contrast to areas which lack in particular adequate accommodations for visitors. What the three qualities are and in what measure they are present in a particular place determines not only its importance but also its likely success as a tourist destination. But in order to maximize the opportunities from tourism, a tourist destination must also have a tourist organization, in order to provide the framework in which tourism can operate to develop the tourist product and to promote it in appropriate tourist markets. In that sense, organization constitutes a fourth factor which determines the importance and success of a destination.”

Dari kutipan diatas dapat diartikan bahwa unit geografis yang dikunjungi oleh wisatawan bisa berbentuk sebuah resort yang berdiri sendiri, sebuah desa, atau sebuah kota, sebuah wilayah, atau sebuah kawasan, sebuah pulau, sebuah negara atau sebuah benua. Unit geografis ini dapat dideskripsikan sebagai destinasi wisatawan.

Selanjutnya Burkart dan Medlik (1976: 44) mengemukakan bahwa seberapa penting unit geografis sebagai sebuah destinasi wisatawan, atau seberapa penting ia secara potensial, ditentukan oleh tiga faktor-faktor utama: atraksi-atraksi, aksesibilitas, dan fasilitas-fasilitas yang dapat diterminologikan sebagai kualitas-kualitas wisatawan terhadap sebuah destinasi.

Atraksi-atraksi dapat berbentuk atraksi-atraksi situs (contohnya kongres- kongres, pameran dan acara-acara olahraga), yang keduanya memiliki sebuah pengaruh gravitasional pada orang-orang yang bukan penduduk. Selanjutnya dapat

(49)

diartikan aksesibilitas adalah sebuah fungsi dari jarak antara pusat-pusat populasi, yang membentuk pasar-pasar wisatawan, dan dari transportasi eksternal dan komunikasi-komunikasi, yang memungkinkan sebuah destinasi untuk dijangkau.

Sedangkan fasilitas-fasilitas di destinasi mencakup akomodasi, catering, hiburan, dan juga transportasi internal dan komunikasi-komunikasi, yang memungkinkan wisatawan untuk berkeliling selama ia tinggal. Jelas bahwa fasilitas-fasilitas menyumbang banyak pada banyak resor-resor yang terkenal sebagai destinasi wisatawan, kebalikannya pada area-area yang kurang dalam penyediaan akomodasi- akomodasi tertentu bagi pengunjung.

Poin keempat dapat diartikan sebagai berikut; apa saja ketiga kualitas-kualitas tersebut dan seberapa ukuran yang mereka presentasikan di sebuah tempat tertentu menentukan bukan saja hanya tingkat kepentingannya tetapi juga tingkat kesuksesan sebuah destinasi wisatawan. Tetapi dengan tujuan untuk memaksimalkan peluang- peluang dari pariwisata, sebuah destinasi wisatawan harus juga memiliki sebuah organisasi kepariwisataan, dengan tujuan untuk menyediakan kerangka kerja dimana pariwisata dapat beroperasi untuk mengembangkan produk wisata dan untuk mempromosikannya dalam pasar-pasar wisatawan yang sesuai. Sesuai dengan pemikiran tersebut, organisasi membentuk sebuah faktor yang keempat yang menentukan tingkat kepentingan dan kesuksesan dari sebuah destinasi.

(50)

2.4 Model Penelitian

Untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini, maka diperlukan suatu kerangka konsep berpikir atau model penelitian. Penelitian ini diawali dengan pariwisata Bali yang mengalami fluktuasi karena berbagai peristiwa dan faktor internal maupun eksternal. Pemerintah terus berusaha menggiatkan kegiatan pariwisata hingga menyentuh desa-desa adat di Bali, salah satunya adalah Desa Adat Kertalangu yang terletak di Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar dengan nama Desa Budaya Kertalangu.

Sebagai salah satu usaha daya tarik wisata yang relatif baru di Kota Denpasar, Desa Budaya Kertalangu memiliki produk-produk wisata yang telah ditawarkan dan dinikmati oleh para pengunjung selama ini. Pihak manajemen mengakui estimasi awal segala produk dari Kertalangu akan langsung laku hingga mancanegara, termasuk bisa cepat mendapatkan donatur yang peduli terhadap pelestarian budaya pertanian Bali. Namun, dalam perjalanannya ternyata belum membuahkan hasil seperti diharapkan. Produk Desa Budaya Kertalangu hingga saat ini masih menjadi kendala. Banyak atraksi-atraksi dan fasilitas wisata yang ditujukan untuk wisatawan kondisinya saat ini kurang baik dan kurang terawat.

Dari pemikiran itu maka dirumuskan permasalahan untuk yaitu pertama-tama dengan meneliti bagaimana potensi Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata yang relatif baru di Kota Denpasar, lalu bagaimana keberadaan

(51)

produk Desa Budaya Kertalangu bila dilihat dari perspektif wisatawan yang berkunjung, khususnya apa motivasi wisatawan untuk berkunjung ke Desa Budaya Kertalangu, serta bagaimana persepsi wisatawan terhadap produk Desa Budaya Kertalangu sebagai salah satu usaha daya tarik wisata di Kota Denpasar. Agar tidak terjadi kesalahan tafsir maka dipergunakan sumber yang relevan sebagai batasan konsep yang jelas mengenai potensi wisata, produk wisata, desa wisata, serta usaha daya tarik wisata.

Untuk menjawab permasalahan diatas, digunakan teori persepsi, teori motivasi dan teori The Tourist Qualities of a Destination. Penentuan sampel penelitian sebagai responden, dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu penentuan responden secara sengaja yang benar-benar memiliki kompetensi dan kaitan dalam penelitian ini. Sedangkan untuk responden wisatawan, digunakan metode accidental sampling, yaitu teknik atau metode penarikan sampel secara kebetulan. Data yang diperoleh akan dikonversi dengan menggunakan Skala Likert dengan berpedoman pada teori-teori yang digunakan, untuk mendapatkan hasil pembahasan.

Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dan saran untuk menangani permasalahan yang ada, serta dapat mendukung pengembangan produk wisata Desa Budaya Kertalangu di masa yang akan datang. Berdasarkan model penelitian diatas maka digambarkan pada Gambar 2.1:

Gambar

Gambar 2.1  Model Penelitian Desa Budaya Kertalangu Sebagai Usaha Daya Tarik Wisata di Kota  Denpasar
Gambar 3.1: Peta Lokasi Penelitian
Tabel 3.2  Skala Likert
Gambar 4.2  Pementasan seni tari Bali.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diharapkan dengan strategi advokasi komunikasi program dari customer relations management di Riamiranda dapat berjalan dengan lancar agar masyarakat Indonesia bisa

Pada alat ini menggunakan sensor LDR sebagai pendeteksi intensitas cahaya matahari, motor servo sebagai penggerak panel surya menuju kearah intensitas cahaya maksimal,

pemberdayaan tenaga administrasi di MTs Al-Fathimiyah Telukjambe Timur Karawang dilakukan dengan pemberian wewenang dan tugas kepada tenaga administrasi sekolah melalui

Pelaksanaan PUMP-P2HP belum dapat dikatakan efektif dan memberikan dampak positif yang signifikan karena tidak memberikan multiflier effect bagi usaha pengolah dan

Modal sosial tunanetra adalah segala sesuatu hal yang berkaitan dengan kerja sama dan jaringan yang mampu dibangun para tunanetra di dalam masyarakat atau suatu ruang

Pengaruh back massage dengan aromaterapi lavender terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi di desa Kedungasri kecamatan Ringinarum.. Jurnal Ilmu

Perlakuan umur 3, 4 dan 5 minggu pada seluruh dosis juga nyata meningkatkan seluruh komponen hasil tanaman kecuali perlakuan umur 4 minggu 10 t/ha tidak

Dalam kesenian Upacara Adat Labuh Saji tersebut digelar acara prosesi seni di dalamnya terdapat unsur pendukung, yakni unsur tari dalam kesenian Labuh Saji