Penyakit blas dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan dan dapat mengakibatkan tanaman puso.
Penyakit blas yang terjadi saat fase vegetatif disebut blas daun (leaf blast), sedangkan saat fase generatif disebut blas leher (neck blast), karena selain menginfeksi daun juga pada leher malai padi. Gejala pada daun terlihat bercak-bercak berbentuk belah ketupat dengan ujung runcing, berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya mempunyai tepi
Pencegahan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman ru 121
coklat atau coklat kemerahan. Gejala pada malai terlihat adanya busuk pada ujung tangkai malai. Kondisi tangkai malai yang busuk menyebabkan tangkai mudah patah dan gabah menjadi hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat (Mukhlis dan Prayudi 2001).
Penyakit blas sering muncul pada musim tanam periode Oktober-Maret (Musim Hujan) terutama pada padi varietas unggul. Pada lokasi sawah rawa Desa Talio Hulu, serangan blas terutama pada persemaian tergolong tinggi (mencapai 60%). Kelembaban tanah (mikro) yang tinggi akibat terlalu rapatnya populasi tanaman pada persemaian mendorong cepatnya perkembangan serangan blas.
Pada pertanaman terutama fase vegetatif, serangan blas daun masih ada namun dengan intensitas yang rendah 1-5%.
Kondisi sawah yang tergenang, serangan blas tidak terlalu mengkhawatirkan, karena biasanya serangan semakin menurun seiring dengan bertambahnya umur pertanaman dan akan menghilang pada umur 2 bulan.
Pada fase generatif, serangan blas leher sudah mulai nampak terutama pada Ray 38 dan 39 yang sudah keluar malai, meskipun intensitas kerusakan kurang dari 1%.
Namun demikian, kerusakan yang disebabkan oleh blas ini bervariasi pada setiap lokasi. Akhir-akhir ini serangan penyakit blas leher menjadi tantangan yang lebih serius karena dapat menyebabkan puso dan banyak ditemukan pada berbagai varietas padi unggul.
Penyakit blas leher dapat menyebar melalui konidia yang terbawa angin. Konidia dibentuk dan dilepas bila kelembaban nisbi udara lebih tinggi dari 90%. Infeksi kebanyakan terjadi secara langsung dengan menembus kutikula. Permukaan atas daun dan daun-daun yang lebih muda lebih mudah diinfeksi.
Miselium dan konidium jamur penyebab blas ini dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman dan gabah.
122 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Kelebihan nitrogen dan kekurangan air akan menambah tingkat keparahan penyakit ini. Kedua faktor tersebut diduga menyebabkan kadar silikat tanaman rendah sehingga tanaman makin rentan. Kadar silikat menentukan ketebalan dan kekerasan dinding sel dalam jaringan tanaman sehingga mempengaruhi infeksi patogen. Lamanya pengembunan atau air hujan juga sangat menentukan kemudahan konidium menempel dan berkecambah pada permukaan daun dan selanjutnya menginfeksi jaringan tanaman. Periode basah lebih dari 5 jam merupakan kondisi yang sangat baik dan hanya memerlukan waktu 6-10 jam untuk konidium menginfeksi jaringan tanaman (Mukhlis et al. 1994).
Sumber: Dokumentasi Balittra
Gambar 49. Gejala Serangan Blas Daun (Atas) dan Blas Leher (Bawah)
Sumber: Dokumentasi Balittra
Gambar 50. Pemasangan Pagar Plastik dan Bubu (Kiri) serta Umpan Beracun (Kanan)
Pencegahan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman ru 123
Kondisi sawah rawa yang baru dibuka dan keterlibatan tim Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa pada kegiatan ini setelah persiapan lahan dan persemaian sudah dilakukan, sehingga cara-cara pengendalian sesuai dengan prinsip PHT belum bisa dilaksanakan secara utuh di sawah rawa Desa Talio Hulu.
Misalnya, pemilihan varietas tahan blas dan dosis pemupukan yang tepat untuk mengurangi serangan penyakit blas. Oleh karena itu, tindakan yang dilakukan sangat mengandalkan penggunaan pestisida kimia, yang seharusnya tindakan ini dilakukan terakhir setelah cara-cara lain tidak efektif.
Sumber: Dokumentasi Balittra
Gambar 51. Penyemprotan Pestisida Kimia pada Tanaman Terserang Hama dan Penyakit
Penggunaan pestisida kimia yang telah dilaksanakan sesuai rekomendasi mampu mengendalikan intensitas serangan hama dan penyakit di areal pesawahan. Khusus hama tikus, tindakan gropyokan dengan ratel, pengumpanan rodentisida, dan pemasangan pagar plastik dan perangkap bubu (TBS) mampu mengendalikan serangan. Tindakan pencegahan dan pengendalian OPT padi ditunjukkan pada Tabel 6.
124 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Tabel 6. Tindakan Pencegahan dan Pengendalian OPT Padi di Sawah Rawa
Umur 1-21 HST* Umur 22-35 HST Umur 36-90 HST
Tikus:
-Gropyokan dengan ratel - Rodentisida Brodifakum - TBS
Tikus:
- Rodentisida Brodifakum -TBS
Tikus:
- Rodentisida Brodifakum -TBS Gulma:
Herbisida etil pirazosulfuron Penggerek batang: :
Insektisida Karbofuran Penggerek batang: : Insektisida Karbofuran Perusak akar :
Insektisida Karbofuran Wereng coklat:
Insektisida Klorantraniliprol + tiametoksin
Wereng coklat:
Insektisida Fipronil
Penggerek batang: :
Insektisida Karbofuran Hama putih :
Insektisida Dimehipo Wereng hijau:
Insektisida pimetrozin Wereng coklat: Insektisida
Klorantraniliprol + tiametoksin
Hama putih palsu:
Insektisida Dimehipo Hama putih palsu:
Insektisida Dimehipo Wereng hijau:
Insektisida pimetrozin Wereng hijau:
Insektisida pimetrozin Hama walang sangit:
Insektisida
pimetrozin, Fipronil Hama putih :
Insektisida Dimehipo Ulat Grayak:
Insektisida Klorantraniliprol
Penyakit blas leher:
Fungisida
Propikonazol+trisikl azol dan
Difenokonazol+Azok sistrobin
Hama putih palsu: Insektisida
Dimehipo Penyakit blas daun:
Fungisida
Propikonazol+trisiklazol
Penyakit hawar pelepah daun:
Fungisida
Propikonazol+trisikl azol
Ulat Grayak:
Insektisida Klorantraniliprol Penyakit hawar pelepah daun: Fungisida
Propikonazol+trisiklazol
Penyakit bercak coklat: Fungisida Difenokonazol+Azok sistrobin
Penyakit blas daun: Fungisida
Propikonazol+trisiklazol Penyakit bercak coklat:
Fungisida
Difenokonazol+Azoksistro bin
Sumber: Balittra (2020) *HST=hari setelah tanam Keterangan Dosis Rekomendasi:
1. Ratel : 100 biji/ha 7. Pimetrozin : 500 gr/ha 2. Brodifakum : 5 kg/ha 8. Fipronil: 2 l/ha
3. Etil pirazosulfuron : 150 g/ha 9. Klorantraniliprol: 250 ml/ha 4. Karbofuran : 10 – 20 kg/ha 10. Propikonazol+trisiklazol: 2 l/ha 5. Difenokonazol+Azoksistrobin: 50 ml/ha 11. Dimehipo : 2 l/ha
6. Klorantraniliprol + tiametoksin: 500 ml/ha
Pencegahan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman ru 125
Pengendalian ulat grayak:
a. Pemantauan (monitoring). Pemantauan perlu dilakukan paling lama seminggu sekali. Pemantauan dan pengamatan secara dini ini dapat mendeteksi adanya serangan hama ulat grayak secara cepat, sehingga mudah mengendalikannya.
Ulat yang masih kecil (instar I sampai III) mempunyai kulit yang tipis dan lebih mudah mati dengan insektisida berupa racun kontak. Seperti bahan aktif: lamdasihalotrin, deltametrin, fipronil, betasiflutrin, alfasipermetrin dan lain-lain.
b. Pengendalian secara mekanik bisa dilakukan pada saat serangan masih rendah, yaitu mengambil ulat dan kepompong ulat grayak tersebut.
c. Dengan cara perendaman. Sawah diairi untuk merendam ulat grayak yang bersembunyi di dalam tanah agar sulit bernafas dan akhirnya mati.
d. Setelah perendaman, bisa juga dilakukan pemantauan pada malam harinya. Pada ulat grayak yang keluar, dan segera dilakukan penyemprotan dengan insektisida. Kalau ulatnya sudah besar biasanya sangat sulit dikendalikan dengan insektisida biasa, kecuali dengan insektisida yang bekerja sebagai racun perut yang kuat. Pengendalian ulat grayak juga dapat menggunakan insektisida biologis yang lebih ramah terhadap lingkungan (Bacillus thuringiensis).
Pengendalian hama penggerek batang:
a. Penanaman serentak dalam areal yang luas agar tanaman padi pada kondisi fase yang sama sehingga dapat menekan perkembangan dan penyebaran hama di lapangan.
b. Pengambilan kelompok telur penggerek batang baik di persemaian maupun pertanaman.
126 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
c. Pengunaan light trap untuk menangkap ngengat (1 light trap untuk luas 50 ha).
d. Pemanfaatan musuh alami (predator, parasitoid, dan pathogen).
e. Konservasi musuh alami dengan menghindari penggunaan insektisida spektrum luas.
f. Aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman.
g. Pada persemaian, penggunaan insektisida butiran (bahan aktif karbofuran) dapat dilakukan jika di sekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen.
h. Pada pertanaman fase vegetatif, insektisida butiran (bahan aktif karbofuran) diberikan dengan dosis 20 kg/ha.
Sedangkan fase generatif disemprot dengan insektisida cair (bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo).
i. Sebagai tindakan preventif, pemantauan fluktuasi populasi penggerek batang padi perlu dilakukan secara rutin melalui penggunaan light trap.
Pengendalian hama tikus:
a. Sanitasi lingkungan dengan pembersihan gulma.
b. Pengaturan pola tanam, waktu tanam dan waktu panen.
c. Melakukan gropyokan secara massal dan rutin;
menggunakan perangkap; memburu tikus dengan bantuan anjing, senapan angin dan lain-lain; menggunakan alat penyembur api; menggenangi lubang tikus dengan air, lumpur dan lain-lain.
d. Mengkonservasi dan memanfaatkan predator maupun patogen spesifik.
e. Melakukan fumigasi/pengemposan, memberikan umpan beracun, menggunakan zat penolak dan penarik serta senyawa pemandul.
Pencegahan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman ru 127
f. Menggunakan pagar plastik dan perangkap bubu (TBS)
• TBS diperiksa setiap pagi dan tikus yang tertangkap ditenggelamkan dalam air ± 10 menit bersama bubu perangkapnya.
• Hewan bukan sasaran (katak, kadal, ular, ikan, burung dan lain-lain) yang ikut tertangkap dilepaskan kembali.
• Perangkap bubu yang telah dimasuki tikus/hewan lain segera dicuci agar tikus yang berikutnya tetap mau masuk perangkap.
• Pagar plastik selalu diperiksa dan bila berlubang segera diperbaiki.
• Bagian bawah pagar plastik diusahakan selalu terendam.
• Gulma di sekitar parit selalu dibersihkan, karena gulma dapat dimanfaatkan tikus untuk memanjat dan masuk ke dalam petak TBS.
Pengendalian Penyakit Blas:
a. Penggunaan varietas padi tahan blas. Cara ini merupakan cara pengendalian penyakit blas yang dianggap paling efektif, murah, dan ramah lingkungan. Beberapa varietas padi yang tahan blas seperti Inpari 34 Salin Agritan, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8, dan lain-lain. Selain itu, sangat dianjurkan melakukan pergiliran varietas dengan varietas unggul lokal yang umumnya tahan terhadap penyakit blas. Menanam beberapa varietas yang berbeda tingkat ketahanannya pada satu areal dapat memperlambat terjadinya ras baru patogen dan patahnya ketahanan suatu varietas, karena tekanan seleksi terhadap patogen berkurang.
b. Penanaman benih sehat. Patogen penyebab penyakit blas dapat terbawa benih (seed borne pathogen), maka tidak dianjurkan menggunakan benih yang berasal dari daerah
128 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
endemis penyakit blas. Perlakuan/pengobatan benih dapat dilakukan dengan fungisida sistemik (trisiklazole) dengan dosis 3-5 g/kilogram benih. Perendaman benih (soaking) atau pelapisan benih (coating) dengan fungisida anjuran perlu dilakukan sebagai tindakan preventif awal. Perlakuan benih seperti yang telah dibahas di Bab 4. Cara aplikasi fungisida pada benih dengan mencampurkan fungsida sesuai dosis anjuran dengan benih basah tersebut dan diaduk merata, kemudian benih dikering anginkan sampai siap disemaikan.
c. Cara tanam. Sistem jajar legowo atau jarak tanam yang tidak terlalu rapat merupakan salah satu cara untuk menekan serangan penyakit blas. Sistem ini akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi tanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi serta menghindarkan terjadinya gesekan antardaun dan penularan dari satu tanaman ke tanaman lain.
d. Pemupukan. Pemupukan terutama nitrogen berkorelasi positif dengan tingkat serangan penyakit blas. Semakin tinggi dosis nitrogen yang diberikan maka tanaman semakin rentan terhadap serangan penyakit blas. Sebaliknya pupuk kalium berkorelasi negatif dengan tingkat serangan penyakit blas, artinya pupuk kalium dapat menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan. Oleh karena itu, perlunya penggunaan pupuk nitrogen dan kalium secara berimbang.
e. Aplikasi fungisida. Mengingat ketahanan varietas terhadap penyakit blas biasanya tidak berlangsung lama maka perlu didukung dengan cara pengendalian lain. Fungisida merupakan salah satu cara pengendalian yang sangat mudah dan cepat dalam mengatasi penyakit blas, namun penggunaannya harus secara rasional terutama memperhitungkan jenis, dosis, dan waktu aplikasi yang tepat karena dapat berdampak terhadap manusia dan lingkungan. Perlakuan benih dengan fungisida biasanya
Pencegahan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman ru 129
efektif hanya 6 minggu dan selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan tanaman. Penyemprotan fungisida untuk menekan serangan blas leher dilakukan pada saat anakan maksimum dan awal berbunga (heading 5%). Fungisida berbahan aktif propikonazol+triziklzol, kasugamycin, isoprotionalane, benomyl mancozeb, dan thiophanate methyl dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit blas.
f. Sanitasi lingkungan. Sanitasi dengan membersihkan gulma dan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi penyakit blas perlu dilakukan mengingat patogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman.
g. Pemberian kompos jerami. Penambahan bahan organik untuk penyehatan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan jerami sisa panen. Jerami sisa panen yang dimanfaatkan kembali ke lahan perlu dikomposkan lebih dulu, agar miselia dan spora jamur mati.
Gulma atau tumbuhan penganggu menjadi salah satu faktor pembatas produksi padi sawah di lahan rawa pasang surut. Gulma tumbuh diantara tanaman yang diusahakan (tanaman pokok/padi), menjadi saingan utama tanaman terhadap keperluan unsur hara, dapat menurunkan hasil panen sehingga menimbulkan kerugian bagi petani (Simatupang et al. 2015).
Gulma dikenal sebagai organisme pengganggu tanaman, artinya dapat menimbulkan kerugian apabila dibiarkan tumbuh bersama-sama tanaman budi daya. Namun demikian ada beberapa manfaat gulma diantaranya adalah: (1) biomassa gulma sebagai bahan organik in-situ dan pemanfaatannya sudah diterapkan oleh petani secara tradisional yang merupakan kearifan lokal (Anwarhan 1989; Indrayati dan Simatupang 2002), (2) gulma rawa seperti purun tikus (Eleocharis dulcis) dan Bura-
130 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
bura (Panicum repens) tempat berassosiasinya serangga, dan ekstrak purun tikus dapat digunakan sebagai bahan baku pestisida nabati (Asikin et al. 2001; 2005), dan (3) gulma sebagai biofilter, dimana gulma Purun tikus dan Bulu babi (Eleocharis retyroflaxa) mampu menyerap besi dan memperbaiki kualitas air lahan rawa pasang surut (Indrayati et al. 2008; Indrayati 2011).
Karakteristik gulma di sawah rawa pasang surut, antara lain: (1) didominasi jenis gulma golongan rumput dan golongan teki, di tanah sulfat masam berkembang biak umumnya melalui biji kecuali golongan teki berkembang biak melalui bagian vegetatifnya seperti umbi atau stolon dan sedikit golongan gulma berdaun lebar dijumpai, (2) tumbuhnya sangat cepat dan subur terutama apabila kondisi tanah dalam keadaan lembab sampai macak-macak, dan (3) pertumbuhan gulma umumnya lebih cepat dibanding dengan pertumbuhan padi terutama apabila padi di tanam secara Tabela (Simatupang et al. 2015). Gulma-gulma yang berkembang biak dengan biji dapat dilakukan pengendalian secara dini dengan melakukan penyemprotan menggunakan hebisida jenis pra tumbuh (pre emergence), dan cara menggenangi sawah untuk menghambat pertumbuhan biji-biji gulma setelah selesai pengolahan tanah, cara ini cukup efektif.
Kerugian akibat persaingan antara tanaman padi dengan gulma terutama terhadap keperluan unsur hara mengakibatkan penurunan hasil padi yang sangat signifikan. Pengalaman di sawah rawa pasang surut sulfat masam, akibat persaingan gulma pada berbagai keadaan dan musim mengakibatkan penurunan hasil padi yang signifikan dan bervariasi yakni berkisar antara 50-75% (Simatupang et al. 2015). Oleh karena itu, gulma perlu dan harus dikendalikan agar tidak menjadi saingan bagi tanaman budi daya.
Fase yang perlu diperhatikan pada tanaman padi, adalah pada fase vegatatif awal sampai dengan fase primordia hendaknya areal tanam padi hendaknya bersih atau bebas dari gulma sehingga tidak terjadi persaingan antara tanaman padi dengan
Pencegahan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman ru 131
gulma khususnya terhadap keperluan unsur hara, atau kalaupun gulma masih ditemukan diantara tanaman padi setidak-tidaknya tidak melebihi ambang batas toleransi tanaman padi terhadap kehadiran gulma. Berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman, pengendalian gulma sudah harus dilakukan apabila tingkat penutupan gulma sudah mencapai < 25%, artinya bahwa ambang batas toleransi tanaman padi terhadap kehadiran gulma pada fase pertumbuhan vegetatif adalah pada penutupan gulma < 25%
(Simatupang et al. 2015).
Kegiatan monitoring dan pengendalian secara dini terbukti sangat efektif untuk menekan serangan hama dan penyakit. Sebagai contoh pada persemaian yang sebelumnya tidak dilakukan monitoring atau pengamatan, serangan ulat grayak diketahui setelah adanya gejala kerusakan tanaman mencapai 60%. Pada persemaian berikutnya, monitoring dilakukan dan tindakan pengendalian segera dilakukan setelah terlihat adanya serangan ulat grayak yang tidak melebihi 5%. Serangan hama tikus menunjukkan gejala yang sangat rendah, hal ini terjadi karena adanya tindakan gropyokan dan pengumpanan beracun sebelum penanaman, disamping pemasangan pagar plastik untuk menghindari masuknya tikus migrasi.
Mengingat lokasi Desa Talio merupakan endemik serangan blas, maka penggunaan varietas tahan blas mutlak dilakukan.
Pemilihan varietas tahan blas terutama berdasarkan pengalaman penampilan varietas yang sebelumnya ditanam diareal sekitarnya.
Hal ini dilakukan, karena jamur penyebab penyakit blas mempunyai beragam ras yang kemampuannya berbeda dalam menyerang tanaman. Oleh karena itu, varietas yang tahan di suatu daerah, belum tentu tahan pada daerah lain. Sehubungan dengan ini, beberapa varietas yang ditanam di lokasi, seperti Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8, dan Inpari 42 dapat menjadi acuan untuk pemilihan varietas pada musim berikutnya.
132 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Strategi pengendalian hama dan penyakit yang dianggap paling efektif dan efisien serta ramah lingkungan adalah melalui pendekatan PHT. PHT sendiri adalah suatu konsep pengendalian populasi atau tingkat serangan hama dengan memadukan berbagai cara pengendalian dalam satu kesatuan agar kerusakan tanaman dan kerugian secara ekonomis serta kerusakan lingkungan dan ekosistem dapat dicegah (Sosromarsono et al.
1977).
Prinsip dasar sistem pengendalian hama terpadu ini dapat mendorong penerapan PHT secara nasional, sehingga dapat mencerminkan konsep pengendalian hama dan penyakit yang berwawasan lingkungan untuk program pembangunan berkelanjutan (Untung 1996). Empat prinsip dasar PHT tersebut adalah:
1. Budi daya tanaman sehat. Daya tahan terhadap serangan